Penghianatan Sahabat Part 29

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 29

Start Penghianatan Sahabat Part 29 | Penghianatan Sahabat Part 29 Start

Rumah Penuh Cinta​

Ketika Wulan tengah menaik turunkan tubuh indahnya di atas kemaluan Pak Syamsul di atas ranjang rumah sakit, Om Burhan dan Mila baru saja sampai di rumah yang mereka tuju. Hari telah gelap dan lingkungan perumahan tempat Om Burhan dan Wulan tinggal tampak telah begitu sepi. Om Burhan pun langsung memarkirkan mobilnya di dalam garasi, lalu mengunci pintu pagar.

Begitu masuk ke dalam rumah, ia melihat Mila tengah berada di depan kulkas, baru selesai menenggak air putih. Om Burhan pun mendekati perempuan muda tersebut dari belakang, lalu memeluknya mesra.

“Tubuh kamu wangi banget sih, Mil,” bisik Om Burhan di telinga Mila yang masih tertutup jilbab.

“Ahh, Om bisa aja. Belum apa-apa sudah main peluk,” jawab Mila.

“Bagaimana bisa tahan kalau punya pasangan seseksi kamu,” ujar Om Burhan sambil memasukkan tangannya ke balik jilbab Mila dan langsung meremas payudara perempuan muda tersebut.

Diperlakukan seperti itu, Mila hanya terdiam dan memejamkan mata. Ia menikmati betul setiap kali Om Burhan menekan payudaranya yang berukuran cukup besar, dan menghela nafas puas setiap kali Om Burhan mengendurkan tekanan. Lehernya yang masih tertutup jilbab pun tak luput dari kecupan-kecupan nakal dari pria tua tersebut.

Om Burhan tak puas meremas payudara Mila hanya dari balik pakaian. Ia pun melepas cardigan yang dikenakan Mila, dan menjatuhkannya ke lantai. Ia kemudian membalikkan tubuh Mila, lalu menggendong tubuh perempuan tersebut. Posisi mereka kini berhadapan, dengan kaki Mila yang indah melingkar di pinggul Om Burhan. Agar tidak terjatuh, Mila pun mengalungkan tangannya ke leher Om Burhan.

Pria tua tersebut membawa Mila ke sebuah meja makan dari kayu yang ada di dekat tempat mereka bercumbu, lalu mendudukkan Mila di atas meja. Om Burhan langsung mencumbu bibir indah Mila yang berada tepat di hadapannya. Bibir dan lidah mereka saling bertautan, seperti masih belum puas setelah menghabiskan malam bersama di Pulau Dewata.

Di sela-sela aktivitas tersebut, Om Burhan mencoba memasukkan tangannya ke balik kaos lengan panjang yang dikenakan Mila. Di dalam kaos tersebut, ia menyingkap bra yang dikenakan Mila, lalu memainkan puting payudara perempuan muda tersebut yang telah mengeras. Ia pun tak lupa meremas-remas kembali bukit kembar milik sahabat anaknya tersebut.

“Hmm, lembut sekali payudara kamu, Mila. Om suka sekali bantuknya,” ujar Om Burhan berusaha merangsang Mila.

“Mila juga suka bentuk punya Om yang ini,” jawab Mila sambil mengelus-elus penis Om Burhan dari luar celana panjangnya. Seperti sudah tak tahan, Mila langsung berusaha membuka ikat pinggang Om Burhan dengan kedua tangannya.

“Ini namanya apa, Mila?” Tanya Om Burhan sambil berbisik di telinga Mila.

“Malu om nyebutnya,” jawab Mila dengan nada suara rendah.

“Gak apa-apa, Sayang. Sebut aja.”

“Penis, Om,” jawab Mila sambil berbisik tepat di depan telinga Om Burhan.

“Salah, Mila. Kamu pasti tahu nama sebenarnya bagian tubuh Om yang sudah memuaskan kamu ini,” goda Om Burhan nakal.

“Mila suka kontol Om,” akhirnya Mila mengucapkan kata jorok tersebut dengan nada malu-malu. Namun ia mengucapkannya sambil tersenyum, yang dibalas oleh Om Burhan dengan senyuman puas.

Di saat yang sama ketika Mila mengucapkan kata itu, celana Om Burhan pun melorot ke bawah. Menampilkan tubuh bagian bawahnya yang masih kekar di usia senja, yang masih tertutup celana dalam. Mila pun langsung mengelus-elus penis Om Burhan dari luar celana dalam.

“Udah gede aja, Om,” desah Mila.

“Bagaimana gak gede, kalau berhadapan sama daun muda berjilbab kayak kamu,” jawab Om Burhan yang langsung menyosor bibir Mila dengan nafsu.

Puas bermain dengan bibir yang ranum tersebut, Om Burhan kemudian berusaha melepaskan celana panjang yang tengah dikenakan Mila. Perempuan muda tersebut pun hanya pasrah, bahkan cenderung bersemangat, ketika celananya ditanggalkan. Tak berapa lama kemudian, celana dalam Mila juga telah tergeletak di atas lantai ruang makan di rumah Om Burhan.

Tanpa diduga oleh Mila, Om Burhan kemudian berlutut di hadapannya, dan melebarkan kaki Mila agar selangkangannya terbuka. Setelah itu, Om Burhan mulai menggesek-gesekkan kepalanya ke selangkangan Mila tersebut. Om Burhan bahkan sampai mengeluarkan lidahnya untuk menyapu bibir kemaluan Mila, membuat pemiliknya mengeluarkan desahan binal.

“Ahhhhh, geli banget, Om,” ujar Mila sambil memejamkan mata. Tangannya kini tengah meremas-remas rambut dan kepala Om Burhan demi menahan birahi.

“Kamu suka gak memek kamu dijilatin begini?” Mila tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala. Keringat tampak mulai menetes di keningnya.

Om Burhan pun makin bersemangat. Ia julurkan lidahnya dan mulai masuk ke dalam liang kemaluan Mila, membuat pemiliknya tampak menggelinjang. Lidah itu kemudian bertemu dengan klitoris Mila, yang kemudian berusaha diemut oleh ayah dari Wulan tersebut.

Entah disadari atau tidak, Mila mulai memaju mundurkan selangkangannya ke kepala Om Burhan, tanda dia kini tengah dimabuk birahi. Kedua tangannya pun semakin kuat meremas dan menjambak kepala Om Burhan. Mila tampak tak tahan diperlakukan seperti itu. Sekitar lima menit kemudian, tubuh Mila menegang. Dan akhirnya, ia melepaskan orgasmenya yang pertama malam itu.

“Ahhhhh, nikmat sekali Om Burhan sayaaaaaang,” teriak Mila. Tubuhnya pun menjadi lemas seperti tak bertulang.

Om Burhan tersenyum, dan membiarkan Mila beristirahat sejenak. Ia kemudian kembali berdiri, dan memasukkan tangan kanannya ke dalam kaos lengan panjang yang dikenakan Mila. Ia pun langsung meremas-remas payudara Mila yang masih tertutup bra. Sedangkan tangan kirinya diarahkan ke kepala Mila, lalu mengelus-elusnya.

Ketika tenaganya mulai pulih, Mila mengarahkan tangannya ke selangkangan Om Burhan yang masih tertutup celana dalam. Ia berusaha menurunkan celana dalam berwarna hitam yang dikenakan Om Burhan, hingga penis perkasa pria tua tersebut langsung melesat keluar. Mila pun secara otomatis langsung mengocok penis tersebut dengan jemarinya yang lentik. Di saat yang sama, ia kembali merasa terangsang merasakan payudaranya diremas berulang-ulang oleh tangan Om Burhan.

“Ssssshhh … kocokan kamu lihai banget, Mil,” ujar Om Burhan sambil mendesis.

“Siapa dulu yang ngajarin?” Ujar Mila sambil mempercepat kocokannya pada penis Om Burhan.

Om Burhan yakin dia akan cepat orgasme apabila terus diperlakukan seperti itu. Ia pun menahan tangan Mila, dan mulai menggesek-gesekkan penisnya ke vagina Mila. Secara otomatis, Mila pun langsung mengalungkan tangannya ke leher Om Burhan.

“Ayo entotin Mila, Om,” bisik Mila dengan nada suara yang binal. “Bikin Mila ketagihan terus dientot sama Om.”

Om Burhan yang juga memang sudah tidak sabar, langsung memasukkan penisnya yang besar ke dalam kemaluan Mila yang masih begitu sempit. Meski telah ia perawani sebelumnya, vagina Mila masih begitu nikmat ia rasakan.

“Memek kamu sempit banget, Mila. Enak banget rasanya memek perempuan muda kayak kamu, sayang,” ujar Om Burhan sambil menggenjot penisnya maju mundur di vagina Mila.

“Kontol Om juga enak banget, bikin Mila pengen dientot terus,” ujar Mila sambil menggigit bibir bawahnya. Kata-kata tersebut sebenarnya membuat dirinya merasa malu, namun di sisi lain juga sangat terangsang. Ia pun langsung mencumbu bibir Om Burhan, demi memuaskan birahinya.

Kedua insan tersebut tampak tengah begitu bersemangat memacu birahi mereka. Om Burhan yang hanya mengenakan polo shirt tampak tengah menggenjot perempuan muda di hadapannya yang tengah duduk di atas meja, dan hanya mengenakan kaos lengan panjang dan jilbab yang masih tersampir di kepala. Posisi tersebut sepertinya membuat Mila bisa benar-benar merasakan sodokan penis Om Burhan, yang menghujam hingga ke ujung vaginanya.

Om Burhan pun begitu bersemangat menggenjot kekasih mudanya tersebut. Tangannya terus aktif membelai-belai payudara Mila, baik dari dalam maupun luar kaosnya.

“Terus sodok memek aku, Om. Nikmat banget rasanya kontol Om, Ahhh …”

“Memek kamu juga enak banget jepitannya sayaaaang.”

Perlahan tapi pasti, Om Burhan terus mempercepat genjotan pinggulnya. Ia tampak sudah gemas ingin menuntaskan birahinya. Namun ternyata …

“Aaaaaaaaarrrrgggghhhhhh, aku keluar lagi Om Burhaaaaannn,” ternyata justru Mila yang kemudian menjemput orgasme keduanya malam itu. Tubuhnya kembali lunglai.

Om Burhan yang mengetahui hal tersebut, langsung memeluk erat tubuh pasangannya. Ia menghentikan genjotannya, namun tetap menanamkan penisnya di dalam vagina Mila yang hangat. Ia dekap erat tubuh Mila yang tengah menikmati semburan birahi dari dalam tubuhnya.

“Terima kasih ya, Om. Sudah sayang sama Mila.”

“Iya, Mila. Jangan pernah tinggalin Om ya,” ujar Om Burhan sambil mengecup kepala Mila.

Sepuluh menit kemudian, stamina Mila tampak sudah kembali pulih. Ia pun mendorong lembut Om Burhan agar penisnya keluar dari vagina Mila, lalu bangkit dari meja tersebut. Ia kemudian menggandeng Om Burhan menjauh dari meja makan tersebut.

Awalnya Om Burhan bingung, ke mana Mila akan membawanya. Ternyata mereka berdua kini tengah menuju ke taman terbuka di belakang rumah tersebut. Hawa dingin pun langsung menerpa mereka berdua.

“Kita mau ngapain di sini, Mila?” Tanya Om Burhan bingung. Penisnya tampak sudah sedikit mengendur setelah gagal mencapai puncak saat ia menyetubuhi Mila di atas meja makan tadi.

“Sudah, Om nikmati saja,” jawab Mila sambil tersenyum.

Mila kemudian menarik tangan Om Burhan, dan mendorong pria tua tersebut hingga terduduk di sebuah kursi yang ada di taman tersebut. Mila kemudian berdiri menghadap Om Burhan, dan mulai melepaskan kaos lengan panjangnya ke atas. Melihat pemandangan striptease tersebut, Om Burhan kembali naik birahinya.

Terlebih ketika Mila kemudian turut melepaskan kaitan bra warna merah muda yang ia kenakan, lalu melemparnya ke lantai. Perempuan bertubuh sintal tersebut kini tidak mengenakan sehelai pakaian pun, selain jilbab yang tersampir di kepala dan lehernya. Payudaranya yang indah tergantung bebas tanpa terlindungi oleh apapun.

Mila kemudian duduk di lantai, di hadapan Om Burhan. Perempuan muda tersebut kemudian mulai mengocok penis Om Burhan dan mengusap-usap testisnya. Birahi pria tua tersebut yang sempat turun, kini kembali naik.

Tak berhenti sampai situ, Mila yang kini telah telanjang pun mulai mengecup-ngecup kepala penis milik Om Burhan yang besar. Awalnya ia hanya menyentuhkan kepala penis tersebut ke bibirnya, namun lama kelamaan ia juga memasukkan batang penis Om Burhan ke dalam mulutnya yang hangat. Begitu besarnya ukuran penis Om Burhan, membuat mulut Mila kini penuh terisi dengan batang penis tersebut.

“Berikan aku blow job yang nikmat, sayang,” ujar Om Burhan sambil mengelus-elus jilbab Mila.

Mila tidak menjawab, namun membuktikannya langsung dengan perbuatan. Ia mengulum penis Om Burhan dengan kuat. Kepalanya maju mundur di hadapan penis Om Burhan, sambil memainkan lidahnya di kepala penis Om Burhan yang kini bersemayam di dalam mulutnya. Om Burhan tampak mendesah keenakan merasakan hal tersebut.

Puas menikmati penis Om Burhan dengan mulut, Mila pun mengeluarkan penis tersebut. Namun ia tidak berhenti. Mila kini mengangkat payudaranya, lalu menjepit penis Om Burhan yang sudah tegak berdiri di antara kedua payudaranya yang indah. Ia kemudian menekan payudaranya ke arah tengah, sehingga penis Om Burhan terjepit dengan kuat. Setelah itu, Mila pun mengocok penis tersebut dengan payudaranya, sambil memberikan lirikan mata yang binal ke arah Om Burhan.

“Ahhh, nikmat sekali Mila cantik,” desah Om Burhan.

Bila dibiarkan beberapa menit lagi, Om Burhan yakin bahwa ia akan segera menjemput orgasme. Namun kalau begitu, ia jadi tidak bisa memberi kepuasan kepada Mila. Om Burhan kemudian menarik tangan Mila agar berdiri, dan duduk di pangkuannya.

“Om mau memberikan kepuasan kepada kamu dahulu, Mila,” ujar Om Burhan.

“Om tahu kenapa Mila ajak Om ke taman sini?”

“Kenapa Mil?”

“Sejak dulu sering main ke rumah Wulan ini, Mila sudah ingin ngentot di sini, walau waktu itu belum tahu sama siapa. Tapi sekarang Mila sudah tahu, bahkan akan melakukannya sebentar lagi dengan orang yang Mila sayang,” bisik Mila di telinga Om Burhan, membuat pria tersebut menjadi begitu bergairah. “Daann …”

“Dan apa, Mila?”

“Dan kontolnya gede banget, Mila suka,” ujar Mila centil.

“Ahhh, kamu benar-benar perempuan idaman Om. Sudah cantik, seksi, bikin gemes juga. Sini naik ke atas Om ya,” ujar Om Burhan.

Mila pun mengerti. Ia langsung naik ke pangkuan Om Burhan, lalu memposisikan kemaluannya di hadapan penis pria tua tersebut. Mila kemudian menarik kaos Om Burhan hingga terlepas, lalu mulai menjilat-jilat dada Om Burhan yang bidang.

Tak lama kemudian, penis Om Burhan telah kembali masuk ke vagina Mila, membuat kedua insan berbeda usia tersebut kembali merasakan kenikmatan yang tiada tara. Secara otomatis, Mila pun mulai menaik turunkan tubuhnya di atas penis Om Burhan.

“Nghhh, jepitan memek kamu bikin aku melayang, sayang,” ujar Om Burhan.

Mila pun makin bersemangat. Ia langsung mempraktikkan apa yang pernah ia lihat di sebuah video porno yang ia tonton. Mila mulai memutar-mutar pinggulnya, sehingga penis besar Om Burhan seperti menyentuh seluruh sudut ruang di dalam vagina Mila yang sempit. Awalnya searah jarum jam, kemudian ke arah sebaliknya. Gerakan tersebut sontak mengagetkan Om Burhan.

“Wahhh, belajar di mana kamu bisa empot-empot kontol Om kayak begini, Mila?” tanya Om Burhan.

“Hee, rahasia Om,” jawab Mila tanpa menghentikan gerakan sensualnya.

Om Burhan yang sudah dimabuk birahi kini menarik payudara Mila agar mendekat ke arahnya, dan langsung ia lahap. Ia jilat-jilat putingnya, lalu ia sedot payudara tersebut dengan kuat. Ia ingin melampiaskan birahinya yang tengah melayang hingga bisa kembali ke tubuh Mila yang seksi itu.

“Ahh, enak banget sedotan om di toket Mila, bikin geliiiiii,” ujar Mila setengah berteriak.

Mereka berdua terus memacu birahi hingga sekitar setengah jam dengan posisi Woman on Top seperti itu. Dinginnya udara malam nampak tidak mempengaruhi mereka. Gerakan tubuh mereka berdua sepertinya sudah cukup untuk menghangatkan suasana, hingga keduanya sampai bercucuran keringat.

Untung saja taman belakang di rumah Om Burhan begitu tertutup dari rumah-rumah lain yang ada di sebelahnya. Bila tidak, maka para tetangga akan bisa mendengar dengusan dan desahan birahi dari kedua insan yang tengah memadu nafsu tersebut.

“Goyang makin cepet ya Mila sayang, Om udah mau nyampe neh,” ujar Om Burhan.

“Iya, Om. Ahh … Sedot juga toket Mila dengan kenceng ya,” desah Mila.

Gerakan keduanya semakin cepat, hingga akhirnya tubuh keduanya menegang.

“Milaaaaaaaaaaaaaa …”

“Om Burhan sayaaaaaaaaaang …..”

Mereka berdua melepaskan cairan cinta mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Om Burhan lebih dahulu menyemburkan spermanya ke liang senggama Mila, yang kemudian memicu syaraf sensitif Mila untuk juga mencapai orgasme. Keduanya pun ambruk di atas kursi yang menjadi saksi pergumulan mereka berdua.

“Kamu masih minum pil kan?” Tanya Om Burhan.

“Masih koq, Om. Tenang saja,” jawab Mila sambil tersenyum.

Keduanya pun kembali berciuman, dengan penis Om Burhan masih bersemayam di dalam kemaluan Mila.

“Apa yah yang akan dikatakan Wulan kalau melihat kita berdua ngentot dengan liar seperti ini?” Tanya Om Burhan menggoda Mila.

“Mungkin dia akan horny juga, Om. Hee …” jawab Mila. “Tapi Om tahu kan kalau mungkin Wulan saat ini tengah ngentot sama ayah Mila?”

“Iya, Om tahu koq. Dan Om sudah ikhlas,” ujar Om Burhan sambil tersenyum manis. Ia pun mengelus pipi Mila yang begitu putih dan halus.

“Bagaimana ya kalau aku dan om, serta Wulan dan Ayah Mila, kumpul di satu tempat lalu kita ngentot bersama?” ujar Mila setengah bercanda.

Mereka berdua pun menertawakan ide aneh tersebut, dan keduanya kembali berpelukan dengan mesra.

END – Season 1

Bersambung ke Season 2 Part 1

END – Penghianatan Sahabat Part 29 | Penghianatan Sahabat Part 29 – END

(Penghianatan Sahabat Part 28)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Season 2 Part 1)