Penghianatan Sahabat Part 26

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 26

Start Penghianatan Sahabat Part 26 | Penghianatan Sahabat Part 26 Start

Setelah mendengar kabar bahwa Pak Syamsul masuk rumah sakit, Om Burhan dan Mila pun segera kembali ke Jakarta. Mereka memutuskan untuk menunda kebersamaan mereka, karena keselamatan Pak Syamsul jelas lebih penting. Selain itu, Om Burhan pun mendengar nada suara yang berbeda saat menerima telepon dari Wulan. Karena itu, ia pun khawatir akan kondisi anaknya, dan penasaran bagaimana Wulan bisa mengetahui petaka yang menimpa Pak Syamsul.

Sesampainya mereka di rumah sakit, Wulan tengah duduk di sebuah bangku tunggu yang ada di depan ruangan tempat perawatan Pak Syamsul. Mila langsung menghambur memeluk tubuh sahabatnya tersebut.

“Bagaimana kondisi ayahku?” Tanya Mila langsung.

“Baik-baik saja, Mil. Lukanya telah ditutup, dan ia pun sudah mendapat transfusi darah. Untung saja bank darah di rumah sakit ini punya persediaan darah yang cocok dengan ayah kamu,” jawab Wulan.

“Aku mau masuk,” ujar Mila sambil menggandeng tangan Wulan.

“Hmm, ayah boleh tunggu di sini dulu? Aku mau bicara dengan Mila berdua saja,” ujar Wulan sambil menahan ayahnya yang juga ingin langsung masuk ke dalam ruangan perawatan.

Om Burhan tampak heran. Namun karena tidak ada alasan lain, ia pun menuruti keinginan anaknya tersebut, dan langsung duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Wulan. Kedua perempuan muda itu langsung masuk ke dalam ruangan perawatan.

Ruangan tersebut ternyata tidak hanya diisi oleh Pak Syamsul saja, melainkan dengan dua pasien lain juga. Namun ruangan tersebut tampak masih sepi, karena belum masuk jam besuk. Wulan dan Mila langsung menghampiri ranjang Pak Syamsul yang terletak di ujung ruangan. Ayah Mila tersebut tampak masih tertidur pulas.

Mila langsung memeluk ayahnya yang tengah berbaring, sebelum kemudian memandang Wulan. “Ayahku benar-benar tidak apa-apa kan, Wulan?” Tanya Mila dengan raut wajah khawatir. Ia tampak akan menangis sebentar lagi.

“Iya, benar. Kata dokter lukanya sudah dibersihkan dan ditutup. Setelah diperiksa, tidak ada organ vital yang rusak, sehingga ayah kamu sebenarnya hanya perlu proses pemulihan saja,” jawab Wulan.

“Adik aku sudah ke sini?”

“Sudah, tadi barusan dia pulang. Katanya mau beres-beres dulu, dan mungkin nanti akan ke sini lagi.”

Mila dan Wulan pun duduk di kursi yang terdapat di sisi ranjang tersebut. Mereka berdua sama-sama terdiam memandangi tubuh Pak Syamsul yang terbaring kaku. Hanya terlihat gerakan dadanya yang naik turun, tanda bahwa napas pria tua tersebut masih cukup teratur. Mila kemudian berbalik menghadap Wulan.

“Sekarang, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Mila dengan suara pelan, tidak ingin terdengar oleh pasien lain.

Wulan pun langsung menceritakan apa yang terjadi hingga menyebabkan Pak Syamsul terbaring di rumah sakit. Ia mulai dari apa yang ia alami saat pulang bimbel, hingga pengakuan Pak Syamsul setelah pisau Rojak menembus perutnya saat akan menyelamatkan Wulan.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Mila. Tapi aku punya keyakinan bahwa apa yang dikatakan ayahmu itu memang benar,” ujar Wulan.

“Dasar Rojak sialan, beraninya dia mengganggu kamu,” ujar Mila. “Tapi akhirnya dia ke mana?”

“Dia kabur setelah menusuk ayah kamu. Sepertinya dia takut ditangkap polisi karena kasus ini,” jawab Wulan.

“Tapi apakah benar kamu memang beberapa kali menggoda ayahku?” Tanya Mila langsung.

Wulan mengangguk. “Kamu tahu aku tidak bisa bohong sama kamu. Jujur aku pernah melakukan itu. Awalnya karena rasa penasaran, namun akhirnya aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika bersama dengan ayah kamu. Aku minta maaf kalau kamu menganggap ini sesuatu yang salah. Aku pun minta maaf kalau hal itu akhirnya menyebabkan semua kejadian buruk ini,” ujar Wulan.

“Perasaan berbeda apa yang kamu rasakan?”

“Aku tidak tahu ini apa. Tapi yang pasti aku merasa nyaman berada di dekat ayah kamu. Terlebih lagi ketika ia menyelamatkan aku dari Rojak, seumur hidup aku pasti tidak akan bisa melupakannya,” jawab Wulan. “Aku harap kamu mau memaafkan aku.”

Mila hanya tersenyum dan langsung memeluk tubuh sahabatnya tersebut. “Aku senang kamu sudah jujur sama aku,” ujar Mila.

“Sekali sahabat, tetap sahabat kan?” Ujar Wulan sambil mengedipkan mata, begitu mereka berdua melepaskan pelukan mereka.

“Jadi itu alasannya mengapa kamu tidak mau Om Burhan ikut masuk? Kamu mau mengatakan itu padaku?” Tanya Mila.

“Hmm, sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan langsung pada kamu,” ujar Wulan.

“Apa?”

“Apa yang kamu lakukan bersama ayahku di Bali?” Tanya Wulan sambil tersenyum. Ia seperti sudah tahu jawabannya, namun tetap ingin mendengarkan Mila mengatakan hal tersebut secara langsung pada dirinya.

“Dari mana kamu tahu kalau aku bersama ayah kamu di Bali?”

“Ketika Om Syamsul masuk rumah sakit, aku coba menghubungi nomor kamu, tapi tidak aktif. Aku tahu ada sesuatu yang salah, karena kamu hampir tidak pernah menonaktifkan telepon. Kemudian aku menghubungi adik kamu agar datang ke sini. Dia mengatakan bahwa kamu beberapa hari yang lalu pergi sambil membawa koper, yang artinya kamu pergi ke luar kota. Dan setiap kamu mau pergi ke luar kota, kamu pasti kasih kabar ke aku. Tapi mengapa kali ini tidak?” Ujar Wulan panjang lebar.

“Kamu sudah cocok menjadi detektif,” potong Mila sambil tersenyum.

“Kemudian aku ingat kamu pernah menanyakan alamat vila ayahku di Bali. Akhirnya aku langsung menelepon ayahku, lalu menanyakan apakah dia sedang bersama kamu di sana. Dan ternyata benar.”

“Yup, dan sekarang aku di sini. Terima kasih ya sudah mengurus semuanya selama aku tidak ada ya, cantik,” ujar Mila.

“Sepertinya, sekarang giliran kamu yang harus cerita. Apa yang terjadi antara kamu dan ayahku?” Tanya Wulan. Ia tidak tampak kesal atau marah kepada sahabatnya, melainkan menunggu jawaban temannya dengan senyuman.

Mila kemudian menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Om Syamsul. Mulai dari perjalanan pertama mereka ke Bali, yang berawal dari kasus pinjaman ayahnya ke bank. Ia meninggalkan beberapa detail yang menurutnya tidak perlu diceritakan, namun cukup banyak hingga Wulan mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku tahu koq ketika ayah mengajak kamu ke Bali waktu itu. Sebelumnya kan dia izin dulu sama aku,” ujar Wulan.

“Lho, koq kamu gak cerita sama aku? Jahat kamu,” ujar Mila kesal.

“Untuk apa aku bilang. Ayahku bilang cuma mau bikin kamu senang, karena kamu sepertinya sedang stres banget karena kasus pinjaman itu. Aku hanya mengingatkan dia untuk menjaga kamu baik-baik,” ujar Wulan.

“Hmm, kamu tidak masalah dengan itu? Maksud aku, kamu tidak masalah aku jalan bareng sama ayah kamu?”

“Kenapa harus masalah. Ibuku sudah cukup lama meninggal, dan ayahku pun sudah lama sendirian. Aku merasakan hal yang berbeda dari ayahku sejak ia bertemu kamu di mall waktu itu. Dan aku ikut senang kalau ayahku menemukan sesuatu yang baru, yang membuat dia bahagia,” ujar Wulan.

Mila pun tersipu malu mendengar kata-kata tersebut.

“Lalu apa yang membuat kamu ingin menyusul ayahku ke Bali? Tentu bukan karena perjalanan pertama kalian itu, kan?” Tanya Wulan lagi.

Mila kemudian melanjutkan ceritanya dengan apa yang terjadi dengan dirinya dan Egi, serta bagaimana ia mencurahkan isi hatinya pada ayah Wulan, yang kemudian membuat dirinya luluh. Ia tentu tetap menyembunyikan cerita bagaimana ia bertindak begitu binal di hadapan ayah sahabatnya itu, karena ia sendiri merasa sangat malu akan hal tersebut.

Setelah Mila menyelesaikan ceritanya, keduanya pun mengeluarkan napas lega. Tanpa diperintah, keduanya sama-sama tersenyum sambil memandang mata sahabatnya.

“Sekarang, saatnya kita memanggil si tua bangka itu masuk, hee,” ujar Wulan meledek ayahnya sendiri. Ia kemudian berdiri dan beranjak keluar ruang perawatan untuk memanggil ayahnya.

Saat masuk, Om Burhan tampak tidak senang dengan kondisi ruang perawatan ayah Mila yang tergabung dengan pasien-pasien lain. Terlebih lagi ketika ia melihat kondisi Pak Syamsul yang sedang terkulai lemas di atas tempat tidur.

“Aneh sekali ada yang betah menginap di ruangan seperti ini. Setelah ini, Om pindahkan ayah kamu ke ruang VIP ya, Mila?” Ujar Om Burhan. Mila hanya terdiam dan mengangguk pelan.

“Duduk, Ayah. Mila dan Wulan mau cerita, dan kami juga mau dengar cerita Ayah,” ujar Wulan.

“Oke,” ujar Om Burhan.

“Tapi Ayah janji dulu, harus mendengarkan cerita Wulan sampai selesai sebelum berkomentar apa-apa.”

“Iya, ayah janji.”

Wulan kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya dan Pak Syamsul. Om Burhan jelas merasa emosi mendengar bagaimana Pak Syamsul berniat untuk mencelakai anaknya. Namun Wulan segera menurunkan emosi ayahnya tersebut dengan mengatakan bagaimana Pak Syamsul secara heroik telah menyelamatkan dirinya.

Namun tetap saja Om Burhan merasa kesal dengan ulah Pak Syamsul tersebut. Ia bahkan sampai berdiri dan hendak meninju tubuh ayah Mila yang masih tidak sadar, sebelum kemudian ditahan oleh Wulan.

“Hentikan, Ayah. Wulan mohon hentikan. Apa yang dilakukan oleh Om Syamsul adalah sebuah kesalahan, namun ia telah meminta maaf dan menebus kesalahannya,” ujar Wulan. “Dan Wulan pun merasakan sesuatu yang berbeda dengan Om Syamsul, dan Wulan tidak suka Ayah menyakiti Om Syamsul.”

“Sesuatu yang berbeda bagaimana?”

“Seperti yang Ayah alami dengan Mila.”

Om Burhan tampak terdiam sejenak, sebelum berkata, “maksud kamu?”

“Mila telah cerita semuanya. Sekarang Wulan mau Ayah cerita apa yang ayah rasakan kepada Mila. Kita buka semuanya di sini,” ujar Wulan.

Om Burhan pun seperti tidak bisa berkata apa-apa. Ia kemudian bercerita panjang lebar tentang apa yang ia rasakan, dan apa yang terjadi antara dia dengan Mila. Semuanya persis dengan apa yang dikatakan Mila, karena keduanya memang tidak berbohong sama sekali. Mereka hanya menyembunyikan hal-hal sensual yang telah mereka berdua lakukan.

Mereka tahu bahwa Wulan pun sadar bahwa Om Burhan dan Mila telah sama-sama melakukan hubungan seks. Namun mereka bertiga seperti sepakat untuk tidak membicarakannya secara terbuka. Wulan hanya tersenyum mendengar cerita ayahnya.

“Kamu tidak masalah kan dengan itu?” Tanya Om Burhan.

“Tidak. Wulan senang kalau Mila sudah bikin Ayah bahagia.”

“Terima kasih, Wulan.”

“Tapi Ayah juga tidak boleh egois, dan melarang Wulan membuat Om Syamsul bahagia,” ujar Wulan.

Om Burhan tidak bisa berkata apa-apa. “Semua terserah kamu, Wulan. Ayah hanya ingin kamu bahagia,” ujar Om Burhan.

Mereka bertiga pun saling melemparkan senyuman satu sama lain.

“Ya sudah, Ayah mau urus dulu biar Ayah Mila dipindah ke kelas VIP,” ujar Om Burhan sebelum kemudian beranjak pergi, meninggalkan Wulan dan Mila untuk bergosip satu sama lain.

Malam harinya, setelah Pak Syamsul dipindahkan ke kamar kelas VIP, pria tua tersebut akhirnya tersadar. Ia bisa melihat bahwa dirinya kini telah dikelilingi oleh Wulan, Mila, dan Om Burhan. Ia sempat takut Om Burhan akan membunuh dirinya terkait apa yang telah ia lakukan kepada anaknya. Namun situasi di ruangan tersebut sepertinya sangat santai, tidak ada ketegangan sama sekali.

Pak Syamsul akhirnya menemukan jawabannya setelah mendengar cerita dari Mila. Ia kaget bahwa anaknya tersebut sampai menemani Om Burhan ke Bali karena kasus pinjaman tersebut. Ia merasa bersalah karena dirinya lah yang memaksa Mila untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun di sisi lain ia merasa kesal karena Om Burhan seperti sudah memanfaatkan anaknya.

Ia sempat merasa kesal, namun kembali tersadar bahwa apa yang ia lakukan kepada Wulan juga tidak kalah buruknya. Pak Syamsul melihat seperti ada sebuah keseimbangan di sini, keburukan terbalas dengan keburukan. Namun anehnya, ketiga orang di hadapannya tampak tidak merasa sedih atau marah. Mereka justru merasa bahagia. Ia pun memutuskan untuk menikmati kebahagiaan orang-orang yang ia sayang, yang berada di hadapannya.

“Ayah ikut bahagia kalau kamu bahagia, Mila,” ujar Pak Syamsul. Ketiga orang lain yang berada di kamar tersebut pun turut lega mendengar kata-kata itu.

“Terima kasih, Ayah,” ujar Mila sambil memeluk tubuh ayahnya.

“Ini sudah malam, kalian semua tidak pulang saja?” Tanya Pak Syamsul.

“Malam ini katanya Wulan mau jaga Ayah. Boleh gak Ayah?” Tanya Mila sambil tersenyum.

“Silakan saja kalau Wulan mau,” ujar Pak Syamsul.

“Kalau begitu, Mila pulang dulu ya, Ayah. Besok Mila ke sini lagi.”

“Iya Mila. Ayah sudah tidak apa-apa koq,” jawab Pak Syamsul. “Kamu pulang dengan Burhan kan?”

“Iya Ayah.”

“Burhan, bisa ke sini sebentar?”

Om Burhan pun menghampiri Pak Syamsul. “Ada apa Syamsul?”

“Terima kasih sudah memberikan kamar yang bagus ini untukku.”

“Ini bukan apa-apa, Syamsul. Kamu tidak usah berpikir yang aneh-aneh.”

“Jaga anakku baik-baik ya,” bisik Pak Syamsul di telinga Om Burhan.

“Kamu juga. Jaga anakku, ya,” balas Om Burhan.

Om Burhan dan Mila pun langsung keluar dari ruang perawatan kelas VIP tersebut. Di jalan menuju tempat parkir, di mana mobil Om Burhan berada, Mila berinisiatif untuk menggandeng tangan Om Burhan. Ia tidak peduli dengan tatapan banyak orang yang merasa aneh, mengapa pria tua seperti Om Burhan bisa menggandeng perempuan muda berjilbab yang berparas cantik seperti Mila.

Om Burhan hanya tersenyum saja menggenggam tangan halus Mila. “Paling mereka menganggap Mila adalah anakku,” pikir Om Burhan dalam hati.

Mereka berdua akhirnya sampai di dalam mobil. “Om lega semuanya berakhir baik-baik saja,” ujar Om Burhan setelah duduk di kursi pengemudi.

“Mila juga. Terima kasih ya Om atas bantuannya untuk ayah Mila,” ujar Mila.

“Tidak usah begitu, Mila. Sudah seharusnya Om bantu ayah kamu,” jawab Om Burhan.

Mila tidak membalasnya dengan kata-kata. Ia langsung menarik wajah Om Burhan dan mengecup bibirnya dengan lembut. Perlahan Om Burhan membalas dengan lebih liar, dan Mila pun tidak mau kalah dan turut memberikan balasan. Lidah mereka pun saling terkait di rongga mulut mereka.

Tangan Om Burhan yang bebas pun langsung meraba payudara Mila, bagian tubuh yang telah menjadi favoritnya selama beberapa hari terakhir. Diperlakukan seperti itu, Mila yang masih mengenakan jilbab pun mengeluarkan desahan.

“Hmmm, kamu mau menginap di rumah Om malam ini?” Tanya Om Burhan.

“Mau, Om,” desah Mila di telinga Om Burhan dengan nada suara yang binal.

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 26 | Penghianatan Sahabat Part 26 – END

(Penghianatan Sahabat Part 25)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 27)