Penghianatan Sahabat Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 24

Start Penghianatan Sahabat Part 24 | Penghianatan Sahabat Part 24 Start

Beberapa hari terakhir, Wulan merasakan beberapa kejadian aneh dalam hidupnya. Dalam hati, ia merasa seperti akan ada kejadian buruk yang menimpa dirinya. Namun ia berusaha menenangkan hati, karena ada ayahnya tercinta di sisinya.

Namun kemudian, ayahnya tersebut tiba-tiba mengatakan bahwa ia ingin liburan ke vila pribadinya di Bali. Wulan sebenarnya ingin ikut, namun ayahnya menolak.

“Ayah sedang ingin sendiri saja, Wulan,” ujar Om Burhan pada waktu itu. Wulan pun merelakan kepergian ayahnya, karena merasa ia masih bisa bermain dengan Mila, sahabatnya.

Namun Wulan kembali kaget, karena tiba-tiba Mila menghubungi dirinya lewat telepon. Hal tersebut memang terdengar biasa, namun Wulan bisa merasakan bahwa Mila menelepon bukan untuk menghubungi dirinya. Mila seperti mempunyai maksud lain yang ia tidak ketahui.

“Oh iya, ayah kamu lagi di rumah nggak, Wulan?” Tanya Mila.

“Ayah lagi ke vila pribadinya di Bali, Mil,” ujar Wulan lewat telepon pada waktu itu.

“Kapan?”

“Hari ini, barusan saja dia bilang ke aku.”

“Owh. Boleh tahu gak alamat vila pribadi ayah kamu di mana?” Tanya Mila.

“Hmm, kamu ngapain nanya itu?”

“Ehhh … Hmmm … Jadi gini … Errr … Kemarin Om Burhan mau minta sampel kain yang aku jual. Katanya mau ada bisnis apa gitu, dan butuh cepet. Makanya mau aku kirim ke sana agar cepat diterima,” jawab Mila.

Meski ragu dengan jawaban sahabatnya tersebut, Wulan akhirnya tetap memberikan alamat vila ayahnya yang ada di Bali. Setelah itu, pembicaraan mereka pun terputus.

Wulan berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang berkecamuk di kepalanya, dan berusaha fokus untuk menjalani hidupnya seperti biasa. Ia meyakinkan dirinya sendiri, bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.

Seperti hari ini, Wulan pun beraktivitas di bimbel seperti biasa. Aktivitas mengajar di kelas berjalan normal, tidak ada hal aneh apa pun yang terjadi. Wulan pun bernapas lega ketika jadwal mengajarnya telah selesai sekitar pukul tiga sore.

Karena tidak ada rencana lain, Wulan pun berpamitan kepada rekan-rekan kerjanya di bimbel, dan berjalan pulang ke rumah. Ia pun kembali menunggu angkot di tempat biasa ia menunggu, tepat di pinggir jalan.

Tempat tersebut terlihat sangat sepi, dan hanya ada seorang lelaki yang tengah bersandar di sebuah tiang listrik di belakang Wulan. Sekilas ia merasa seperti pernah melihat laki-laki tersebut, namun ia tidak bisa mengingat kapan dan di mana. Terlebih laki-laki tersebut terlihat mengenakan topi dan sedang membaca koran, sehingga Wulan tidak bisa melihat jelas wajahnya.

Dari kejauhan, terlihat sebuah mobil van putih yang sedang melaju ke arah tempat Wulan menunggu. Di belakangnya tidak terlihat angkot yang ditunggu Wulan. Perempuan cantik berkacamata tersebut pun kembali kecewa karena ia harus menunggu lebih lama lagi.

Alangkah terkejutnya Wulan ketika mobil van tersebut justru berhenti tepat di hadapannya. Perempuan cantik tersebut bingung, apakah mobil van itu ingin menjemput seseorang, ingin menanyakan alamat, atau apa?

Belum selesai rasa bingung di kepala Wulan, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang, dan sehelai handuk langsung menutupi mulut dan hidungnya. Ia menghirup bau gas yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Dalam sekejap, perempuan berparas cantik tersebut mulai memejamkan mata dan kehilangan kesadaran. Ia hanya bisa merasakan bahwa tubuhnya didorong ke depan, dan dibawa masuk ke dalam mobil van tersebut.

Perlahan, mata Wulan mulai terbuka. Ia bisa merasakan bahwa dirinya kini tengah terbaring di sebuah ruangan bercat putih. Sinar matahari masih bisa menerobos masuk dari balik jendela yang tertutup tirai berwarna gelap, tanda hari belum menyentuh malam. Namun perempuan muda tersebut tidak bisa mengetahui telah berapa lama ia kehilangan kesadaran sejak ia pulang dari tempat bimbel tadi siang.

“Akhirnya cewek cantik ini bangun juga, Bos,” terdengar suara seorang pria dari sudut ruangan tersebut.

Wulan berusaha untuk menoleh dan melihat asal suara tersebut, namun ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Badannya terasa sangat lemah.

“Gak usah dipaksa, gue udah mastiin dosis obat bius yang pas sehingga kamu tidak akan bisa bergerak, tapi tetep bisa merasakan kenikmatan yang sebentar lagi akan kamu rasakan, hee,” ujar pria tersebut sambil tertawa.

Wulan pun bisa merasakan bahwa ia kini tengah berada dalam situasi yang sangat berbahaya. Ia ingin berteriak, namun hanya suara desahan pelan yang keluar dari mulutnya. Ia pun merasa panik, karena tidak pernah menyangka akan berada di situasi seperti ini sebelumnya.

Tiba-tiba pria yang berbicara tadi pun mendekat, hingga Wulan bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia tidak mengenal pria tersebut, namun ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Sedangkan orang yang disebut “bos” tidak terlihat sama sekali.

Pria tersebut kemudian duduk di ranjang tempat Wulan terbaring, lalu mulai mengelus-elus pipi perempuan muda tersebut dengan tangannya yang kasar. “Gak salah bos milih lo. Kulit lo bener-bener halus, tubuh lo juga seksi banget,” bisik pria tersebut di telinga Wulan yang masih tertutup jilbab berwarna merah. Rabaan tangannya kemudian beralih mengusap bibir Wulan yang ranum.

“Tolong jangan sakiti aku,” jawab Wulan lirih.

“Siapa yang mau sakitin kamu, cantik. Kami justru mau bikin kamu keenakan, hee,” ujar pria tersebut sambil tertawa.

Elusan tangan pria tersebut kemudian turun ke leher Wulan yang masih berbalut jilbab, lalu ke pundak dan dada perempuan tersebut yang masih mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih. Tangan pria tersebut kemudian menyusuri belahan payudara Wulan, hingga pemiliknya merasa kegelian. Ia juga meremas payudara tersebut secara pelan.

Setelah itu, tangan sang pria terus turun ke bawah mengelus perut, pinggang, dan pinggul Wulan, hingga ke selangkangannya yang masih tertutup rok berwarna merah. Seperti yang ia lakukan dengan payudara Wulan, pria tersebut pun kembali meremas lembut kemaluan Wulan yang masih tertutup rok dan celana dalam. Wulan kembali memejamkan mata dibuatnya. Cara pria tersebut memperlakukan dirinya benar-benar membuatnya bergairah.

Pria tersebut pun tersenyum, tangannya terus turun menyusuri paha dan betis Wulan. Ketika sampai di kakinya, pria tersebut pun melepaskan sepatu Wulan dan kaos kakinya, lalu melemparnya ke lantai. Telapak kaki Wulan yang putih pun terlihat jelas. Lelaki tersebut kemudian mulai mengelus-elus kaki perempuan tersebut.

“Indah sekali betis kamu, cantik,” ujar pria yang sepertinya berusia sekitar 40 tahun tersebut. Pria tersebut kemudian melepaskan kaos dan celana panjangnya, hingga hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam saja, senada dengan kulitnya yang gelap.

Wulan semakin tegang. Ia sangat ingin melepaskan diri dari situasi tersebut, namun ia tidak sanggup menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Ia begitu khawatir pria asing yang tidak dikenalnya tersebut akan melanjutkan ulahnya dan merenggut keperawanannya. Air mata pun mulai menetes di pipi Wulan, tanda bahwa ia begitu sedih dan marah atas apa yang terjadi pada dirinya.

Melihat hal tersebut, sang pria hanya tersenyum. Ia kemudian mengangkat rok panjang Wulan yang berwarna merah ke atas. Secara perlahan, paha dan betis Wulan yang mulus pun tersingkap di hadapannya. Ia baru berhenti ketika rok tersebut telah bergantung di pinggang Wulan. Tanpa menunggu lama, ia langsung menarik celana dalam Wulan yang berwarna krem ke bawah, hingga terlepas.

“Bersih banget memek kamu, manis,” kekeh pria tersebut sambil mengelus-elus kemaluan Wulan yang tidak berbulu. Wulan memang selalu menjaga kebersihan kemaluannya dengan mencukur bulunya secara rutin.

Pria tersebut kemudian mulai menjilat-jilat vagina Wulan dengan lidahnya, hingga pemiliknya merasa kegelian. Seperti tidak ingin cepat-cepat merasakan kenikmatan tubuh Wulan, pria tersebut pun menghentikan kulumannya pada kemaluan Wulan beberapa menit kemudian. Ia kemudian menindih tubuh Wulan, lalu mulai melepaskan kancing kemeja Wulan satu per satu, dari bawah hingga atas.

Setiap ada kancing kemeja yang terlepas, Wulan merasakan gairahnya meningkat. Ia tidak bisa memungkiri bahwa apa yang dilakukan pria tersebut benar-benar membuat birahinya memuncak. Namun ia sebenarnya mengidamkan hal tersebut bisa ia rasakan dari pria yang ia cintai, bukan dari pria asing yang sama sekali tidak ia kenal, yang sebentar lagi akan memerkosa tubuhnya ini.

Saat kancing terakhir kemeja Wulan telah lepas, pria tersebut pun bisa melihat dengan jelas tubuh bagian atas termasuk payudara Wulan yang tertutup bra berwarna krem. Ia pun kemudian berusaha meloloskan lengan Wulan dari kemeja tersebut. Tanpa menunggu lama, bra perempuan cantik pun juga telah lepas dari posisinya semula.

“Montok banget toket kamu,” ujar pria tersebut yang langsung menjilat-jilat payudara Wulan. Perempuan muda tersebut pun hanya bisa memejamkan mata diperlakukan seperti itu. Ia telah merasa sangat terhina di hadapan pria yang sama sekali tidak ia kenal tersebut. Namun rasa hina tersebut kini telah berbalut birahi yang juga sulit untuk ditahan.

“Hentikan Pak, saya mohon ampun,” ujar Wulan setengah berteriak. Pria tersebut tampak tidak khawatir kalau teriakan Wulan akan terdengar ke luar.

“Coba katakan itu lagi nanti ketika kontolku tengah menyodok memek kamu ya cantik, hahaa. Akan aku buat kamu mohon-mohon ampun pada kontolku yang perkasa.”

Pria tersebut tidak menghentikan rabaan tangannya, justru malah membuatnya lebih intens. Ia kini telah membenamkan wajahnya di payudara Wulan, lalu mengemut puting muda perempuan tersebut. Ia juga sesekali memainkan puting tersebut dengan lidahnya dengan gerakan memutar, membuat Wulan menjadi menggelinjang. Setelah puas dengan payudara sebelah kiri, ia kemudian berganti ke payudara sebelah kanan. Pria tersebut pun tak lupa merangsang Wulan dengan menjilati belahan payudaranya yang terbuka.

Setelah puas menikmati payudara Wulan, pria tersebut kemudian melepaskan celana dalamnya, hingga penis besarnya keluar dari sarang. Wulan pun terkejut dengan ukuran penis tersebut yang cukup besar. Ia pun tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.

“Kenapa, cantik? Besar ya? Kamu mau?” Ujar pria tersebut sambil menyodorkan penisnya ke bibir Wulan.

Perempuan muda tersebut berusaha keras untuk menutup bibirnya, meski dalam hati ia juga ingin merasakan kenikmatan dari penis tersebut. Bau kemaluan tersebut yang sangat khas kembali memompa birahinya. Namun ia harus tetap melindungi tubuh dan harga dirinya di hadapan pria itu.

Sang pria tak kehabisan akal. Ia menyentuhkan penisnya ke pipi Wulan, lalu menggesek-gesekkannya. Ia melakukannya bergantian, di pipi kiri dan kanan. Makin lama, penis tersebut makin besar, sehingga menutupi sebagian besar pipi Wulan. Gerakan pria tersebut pun semakin intens, tidak hanya menggesek namun juga seperti menampar-nampar pipi Wulan yang mulus.

“Kamu gak pernah ya begitu dekat dengan kontol besar kayak punya saya,” ledek pria tersebut.

Makin lama, pria tersebut tampak semakin tidak tahan. Ia pun langsung memposisikan kontolnya di depan kemaluan Wulan. Ia gesek-gesekkan kontol besar tersebut, hingga Wulan tampak menggelinjang.

“Hentikan, paaak. Hentikaaaaann …” Teriak Wulan sekuat tenaga.

“Tenang cantik, nikmati saja kontol besarku ini,” ujar pria tersebut sambil mencium bibir Wulan. Tangannya yang bebas pun mulai membelai-belai kepala Wulan yang masih berbalut jilbab.

Wulan tampak telah begitu pasrah. Ia ingin pergi, namun tubuhnya tetap tidak bisa bergerak. Hingga akhirnya ia mendengar sebuah suara yang ia kenal.

“Hentikan Rojaaaaakkk.”

“Tunggu sebentar bos, saya dulu ya. Nanti setelah itu baru gantian.”

“Saya bilang hentikaaaannn!!” Ujar pria yang dipanggil bos tadi.

Pria yang tengah menindih Wulan tampak bergeming. Ia tetap di posisinya semula dan bersiap untuk melakukan penetrasi terhadap vagina Wulan yang masih perawan.

“Bruuukkk …” Terdengar suara benturan keras, dan pria yang menindih tubuh seksi Wulan tersebut seperti kehilangan kesadaran. Wulan pun langsung melihat sosok yang ia kenal.

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 24 | Penghianatan Sahabat Part 24 – END

(Penghianatan Sahabat Part 23)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 25)