Penghianatan Sahabat Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part

Start Penghianatan Sahabat Part 2 | Penghianatan Sahabat Part 2 Start

“Iya, terus sayang. Enak banget kalau posisi kamu begitu, ahh …”

Di sebuah kamar hotel, terlihat seorang pria yang berusia sekitar 52 tahun tengah mendesah nikmat. Ia tengah dalam posisi terlentang di atas ranjang tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Sedangkan di atas tubuhnya yang sudah mulai gempal termakan usia, ada seorang wanita berusia sekitar 37 tahun yang sedang menunggangi kemaluannya, juga tanpa busana.

“Kamu memang tahu betul cara memuaskan aku, Lisa,” erang pria tersebut.

Perempuan cantik yang bernama Lisa itu hanya tersenyum dan terus menaik-turunkan pinggulnya di atas kemaluan sang pria tua. Remasan tangan pria tersebut pada sepasang payudaranya yang berukuran 34B membuat birahinya terus menanjak, hingga mendekati puncak.

Ketika Lisa telah hampir mencapai orgasmenya, sang pria tua berinisiatif intuk membalikkan badannya hingga posisinya kini di atas dan Lisa di bawah. Ia mengangkat kedua lutut Lisa hingga selangkangannya terbuka. Ia pun menekan kemaluannya ke dalam vagina Lisa sedalam mungkin.

Diperlakukan seperti itu, Lisa pun semakin tidak tahan. Tak lama kemudian, ia pun melepaskan orgasme pertamanya di hari itu. Tubuhnya pun lunglai seperti tak bertulang. Sang pria tua pun tidak ingin egois. Ia menghentikan genjotannya, membiarkan kemaluannya bersarang di dalam vagina Lisa, dan langsung memeluk tubuh Lisa dengan mesra.

Lisa pun balas memeluk tubuh pria tersebut. Ia elus-elus punggung pria tua yang kulitnya sudah mulai berkerut tersebut. Meski begitu, entah bagaimana pria tersebut masih terus bisa memuaskan birahinya yang seperti tidak tertahankan. “Kamu selalu bisa memuaskanku Om Burhan,” bisik Lisa di telinga pria yang ternyata adalah ayah dari Wulan tersebut.

Meski Lisa telah menikmati orgasme, namun penis Om Burhan sepertinya belum mencapai puncak. Kemaluan berukuran cukup besar tersebut masih tegak berdiri, menyimpan cairan sperma yang belum dilepaskan.

Sadar akan hal tersebut, Lisa yang sudah cukup beristirahat pun langsung menjepit kemaluan Om Burhan di antara kedua payudaranya. Ia terus menggesek-gesekkan buah dadanya sampai Om Burhan merasa keenakan. Beberapa menit kemudian, Om Burhan pun melepaskan air maninya.

Tanpa diperintah, Lisa langsung membersihkan sperma yang keluar tersebut dengan mulutnya. Ia menjilati setiap inci dari penis Om Burhan, hingga ke biji pelirnya. Setelah itu, ia pun langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Om Burhan masih merebahkan badan di ranjang ketika Lisa keluar dari kamar mandi. Tercium bau harum yang khas sekali dari tubuh Lisa. Meski hari masih siang, namun Lisa langsung mengenakan kembali kemeja putihnya yang cukup ketat, dan roknya yang berwarna biru tua.

“Kamu mau kembali lagi ke bank, Sayang?” Tanya Om Burhan.

Lisa memang seorang pimpinan di bank tempat Om Burhan biasa melakukan transaksi bisnis. Awalnya hubungan mereka memang hanya murni bisnis. Namun pesona dan gairah Om Burhan akhirnya bisa memaksa Lisa untuk takluk, dan kini perempuan cantik itu pun sering menjadi pemuas nafsu bagi Om Burhan yang sudah beberapa tahun hidup tanpa istri.

Lisa sendiri sebenarnya sudah mempunyai suami dan seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia pun telah mempunyai jabatan yang cukup penting di bank tempatnya bekerja. Namun semua hal itu tidak menyurutkan gairahnya yang sudah dibangkitkan oleh seorang pria tua bernama Burhan Djatmiko, yang merupakan duda beranak satu.

“Iya, Om. Lisa harus kembali ke Bank, gak enak nanti dicariin anak buah. Terima kasih ya Om sudah memuaskan Lisa, dengan kenikmatan yang jauh lebih memuaskan dibanding suami Lisa,” ujar perempuan keturunan Manado tersebut sembari mengecup bibir Om Burhan.

Pria tua tersebut pun membalasnya hingga mereka akhirnya beradu lidah. Tampak pemandangan yang kontras seorang perempuan yang masih di usia produktifnya, tengah menggali kepuasan dari seorang pria yang sebentar lagi memasuki usia pensiun. Beberapa menit kemudian, mereka pun mengakhiri adegan panas tersebut.

Selepas kepergian Lisa, Om Burhan pun bangkit dari tempat tidur dan menuangkan minuman keras yang ia bawa sebelumnya ke dalam cangkir kecil. Ia pun beranjak ke arah jendela, dan memandang keluar. Dari posisi kamar yang berada di lantai delapan tersebut, ia bisa melihat kondisi ibu kota yang perlahan tengah memasuki senja hari.

Ia teringat kembali pertemuannya dengan Mila kemarin siang. Ia tidak menyangka bahwa teman baik anaknya yang terakhir ia temui ketika masih memakai seragam putih abu-abu tersebut kini telah berubah menjadi perawan dengan tubuh yang ranum. Untung ia menyanggupi permintaan anaknya untuk mengantar ke mall. Awalnya ia sempat tidak mau dan meminta Wulan untuk berangkat sendiri dengan transportasi online.

Saat bertemu kemarin, Mila memang mengenakan semacam cardigan yang menutupi tubuh bagian atasnya. Namun ia juga mengenakan atasan berwarna hijau tua yang cukup ketat, hingga menampakkam bentuk payudaranya yang bulat. Jilbab yang sebagian ia sampirkan ke bahu pun seperti ingin menunjukkan keindahan dadanya tersebut. Pipinya yang tembam dan senyumnya yang manis pun membuat perempuan muda tersebut terlihat begitu menggemaskan di mata Om Burhan.

Dan yang paling membuat Om Burhan terkesan adalah bokong Mila yang sekal dan montok. Tanpa diketahui oleh Mila dan Wulan, Om Burhan tidak langsung pergi setelah mereka berpisah. Pria tua tersebut sempat berhenti sejenak untuk melihat keduanya dari belakang. Ia pun bisa bebas memperhatikan bentuk bokong Mila yang hanya tertutup celana jeans.

“Wulan, sekarang teman kamu Si Mila itu kerja di mana?” Tanya Om Burhan ketika Wulan telah pulang ke rumah.

“Dia sekarang bantu bisnis keluarganya, Yah. Jualan pakaian gitu,” jawab Wulan sambil tetap serius menonton televisi di ruang tamu.

“Owh. Dia sudah punya pacar?” Tanya Om Burhan lagi.

“Sudah, namanya Egi,” jawab Wulan. “Ayah ngapain sih nanya-nanya begitu?” Wulan yang mulai curiga kemudian menolehkan kepalanya untuk melihat ekspresi wajah sang ayah.

“Ya nanya aja. Habis kamu sampai usia segini belum punya pacar juga,” ujar Om Burhan meledek.

Wulan yang kesal pun langsung melemparkan bantal ke arah sang ayah.

Karena obrolan itu, Om Burhan pun mengetahui bahwa perempuan berusia 24 tahun tersebut telah mempunyai seorang pacar. Namun menurut pria tua tersebut, hal itu tentu bukan masalah. Lisa yang sudah mempunyai suami dan anak saja masih bisa ia taklukkan, apalagi anak bau kencur seperti Mila yang baru mempunyai seorang pacar.

Om Burhan pun membayangkan sahabat anaknya tersebut masuk ke kamar hotel yang tengah ia inapi. Dengan masih mengenakan pakaian lengkap dan jilbab panjang, ia membayangkan Mila naik ke atas pangkuannya dan mengizinkan tangannya yang sudah mulai keriput untuk meremas-remas payudara perempuan cantik tersebut yang begitu besar dan indah. Ia ingin perempuan muda berjilbab tersebut mendesah binal di atas pahanya, sambil memejamkan mata menahan birahi.

“Ahh, Ayahnya Wulan … Puaskan Mila Om. Penis dan tubuh Om yang perkasa benar-benar membuat Mila ketagihan,” begitu desah Mila di dalam lamunan Om Burhan.

“Iya Mila, Om akan puaskan kamu sampai kamu gak akan bisa puas dengan penis lelaki lain,” jawab Om Burhan sambil mengelus-elus kepala pasangan khayalannya yang masih berbalut jilbab panjang.

Tanpa terasa, Imajinasi itu membuat kemaluan Om Burhan kembali berdiri tegak.

====================================================================================

Hari ini, kios pakaian milik Ayah Mila tidak begitu ramai seperti biasanya. Mungkin karena sudah jauh dari musim liburan, sehingga tidak banyak lagi orang yang mencari pakaian baru. Atau mungkin karena tanggal gajian yang sudah lama terlewati. Tidak ada yang tahu.

Karena itu, Ayah Mila pun tampak santai. Ketika hari menjelang siang, ia tampak melihat situasi di sekeliling kiosnya. Ketika dirasa sepi, ia pun mengambil smartphone dari kantong celananya dan memutar sebuah video. Ia memutarnya tanpa suara, karena video tersebut ternyata menampilkan adegan seks antara sepasang pria dan wanita yang begitu panas. Sekitar sepuluh menit terlewati, Ayah Mila merasa badannya kian menghangat. Lelaki berusia 50an tahun itu pun mulai mengelus-elus kemaluannya sendiri.

“Woyy, Bang Syamsul … Nonton apaan tuh.”

Ayah Mila yang bernama Syamsul itu pun kaget karena suara lantang yang tiba-tiba ia dengar. Ia sontak langsung menutup video yang tengah ia tonton dan mencari asal suara tersebut. Ternyata itu adalah suara Rojak, salah satu pegawainya di kios tersebut.

“Ah ternyata lo, Jak. Gangguin aja. Lagian gw cuma iseng nonton YouTube aja koq,” ujar Pak Syamsul sambil memasukkan kembali smartphone ke kantong celananya.

“Gak usah malu gitu napa Bang. Saya kan tahu Abang juga udah lama gak ditemenin cewek, wajar lah kalau nonton gituan,” ledek Rojak.

“Ngomong apa sih lo, Jak?”

“Apa perlu gw kasih tahu Mila kalau Bapaknya suka nonton bokep?” Ujar Rojak sambil mengedipkan mata ke arah Mila yang sedang melayani pengunjung di bagian depan toko.

“Jangan gitu dong, Jak,” gerutu Pak Syamsul.

“Makanya, santai aja kali Bang sama saya,” ujar Rojak sambil tersenyum meledek.

Pak Syamsul pun berusaha untuk menghindar dari Rojak dengan pergi ke bagian depan kios. Namun ia dihalangi oleh Rojak.

“Ngomong-ngomong, kalau Pak Syamsul butuh bantuan soal ‘itu’, bilang aja sama saya. Saya punya stok koq yang bisa bantu Pak Syamsul,” ujar Rojak dengan suara pelan seperti berbisik.

Pak Syamsul terdiam sejenak. Namun kemudian ia langsung melewati Rojak tanpa berkata sepatah kata pun.

“Kabarin ya Bang kalau butuh,” teriak Rojak.

Di depan kios, Pak Syamsul pun bertemu dengan Mila, anak sulungnya yang cantik jelita. Ia tampak baru selesai melayani seorang pelanggan.

“Mil, ayah pulang dulu ya.”

“Lho, kenapa Yah? Tumben,” tanya Mila heran.

“Gak kenapa-kenapa, cuma pengen istirahat aja. Lagian kios juga lagi sepi kan,” ujar Pak Syamsul sekenanya.

“Owh, yaudah. Hati-hati di jalan ya, Yah.”

Pak Syamsul pun langsung menuju parkiran dan memacu mobil Innova miliknya menuju rumah. Biasanya, jarak dari kios ke rumah hanya memakan waktu sekitar 45 menit.

Sepanjang perjalanan, Pak Syamsul terus terngiang dengan kata-kata Rojak. Ia tidak bisa berbohong bahwa dirinya memang butuh sentuhan wanita. Kehilangan istri membuatnya haus akan kebutuhan tersebut. Namun ia tidak berani untuk jujur kepada anak-anaknya tentang hal ini. Ia khawatir kedua anaknya akan protes bila ia berniat menikah lagi. Apakah menyewa wanita panggilan merupakan satu-satunya jalan keluar?

Di tengah jalan, Pak Syamsul melihat sesosok perempuan yang sepertinya ia kenal. Perempuan tersebut tengah berdiri di pinggir jalan, seperti sedang menunggu kendaraan. Pak Syamsul pun memperlambat laju mobilnya.

Semakin dekat, ia pun semakin yakin siapa perempuan yang sepertinya berusia sekitar 24 tahun tersebut. Perempuan tersebut terlihat sangat cantik dengan atasan bermotif bunga-bunga dan rok hitam panjang. Pak Syamsul pun menghentikan mobil tepat di depannya.

“Halo, mau ke mana Wulan?” Tanya Pak Syamsul setelah membuka kaca jendela mobilnya. Perempuan tersebut ternyata Wulan, teman baik anaknya.

“Oh, halo Om Syamsul. Ini baru mau pulang ke rumah dari ngajar bimbel. Dari tadi nungguin angkot gak ada yang lewat,” jawab Wulan yang langsung mengenali pengemudi mobil yang berhenti di hadapannya tersebut.

“Mau bareng Om aja?” Tanya Pak Syamsul. Lokasi rumah Wulan dan Mila memang searah, hanya berbeda komplek saja.

Terlihat Wulan berpikir sejenak sambil melihat ke arah jalanan, namun tidak kunjung ada angkot yang ia tunggu. Akhirnya Wulan pun mengambil keputusan. “Boleh deh, Om.”

Wulan pun langsung membuka pintu depan mobil Innova yang dikemudikan Pak Syamsul, dan duduk di samping kursi pengemudi. Ini bukan pertama kalinya ia naik ke mobil tersebut. Sebelumnya, Mila pernah menjemputnya untuk pergi ke berbagai tempat dengan mobil yang sama.

“Jadi sekarang sibuk ngajar bimbel ya, Wulan?” Tanya Pak Syamsul sambil mulai menjalankan mobilnya.

“Iya neh, Om. Di sekitar tempat tadi bimbelnya. Dari dulu memang aku suka ngajar dan ketemu sama anak-anak gitu,” ujar Wulan sambil sesekali melihat jalan di depannya dan sesekali memandang Pak Syamsul. Beberapa kali mata mereka pun saling bertemu.

“Kamu memang mirip dengan ibu kamu,” ujar Pak Syamsul sambil tersenyum.

“Hee, bisa aja Om,” jawab Wulan yang hanya tertawa mendengarnya.

Karena tidak tahu harus bagaimana, Wulan pun menghabiskan waktu sepanjang perjalanan dengan memeriksa WhatsApp atau Instagram di smartphone miliknya.

Sedangkan Pak Syamsul justru tidak bisa melepaskan matanya dari perempuan muda yang ada di sebelahnya tersebut. Beberapa kali bertemu dengan Wulan ketika perempuan tersebut mampir ke rumah untuk mengunjungi Mila, terus menerus membuat Pak Syamsul terpana akan kecantikannya. Bila tidak ingat bahwa Wulan adalah sahabat baik anaknya, dan usia mereka yang terpaut sangat jauh, mungkin Pak Syamsul sudah akan mendekatinya.

Tubuh Wulan memang tidak semontok anaknya sendiri. Payudara Wulan tidak terlalu besar, meski tetap terlihat menonjol di balik jilbab. Namun perempuan muda tersebut mempunyai kulit yang begitu putih dan halus, ditambah wajahnya yang cantik dengan hidung mancung dan bibir yang merah merekah. Pak Syamsul benar-benar tidak tahan dengan kondisi tersebut, dan membayangkan betapa manisnya bibir perempuan muda yang ada di sebelahnya itu bila bertemu dengan bibirnya.

Ia pun kembali terngiang dengan kata-kata Rojak sebelumnya. Apakah memang wajar dirinya yang sudah ditinggal istri selama dua tahun, kini seperti haus akan kenikmatan seksual, bahkan sampai berpikir yang tidak-tidak tentang perempuan muda yang merupakan teman baik anak gadisnya tersebut? Apakah ia harus cepat-cepat melepaskan birahinya kepada seorang wanita panggilan? Atau memang dirinya saja yang tidak normal, karena masih menuruti birahi di usianya yang sudah senja? Untuk saat ini, ia memutuskan untuk tidak mencari jawabannya, dan fokus menikmati keindahan tubuh perempuan cantik berjilbab hitam di sampingnya tersebut.

“Om kenapa dari tadi ngeliatin Wulan terus?” Teguran itu membuat Pak Syamsul kaget. Wulan ternyata menyadari kalau ia terus mencuri-curi pandang selama perjalanan.

“Oh, nggak apa-apa koq,” jawab Pak Syamsul yang bingung harus berkata apa. “Ayah kamu masih sering ke Australia, Wulan?” Ia pun berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Sekarang sudah sering di Jakarta koq, Om. Bisnis di Australia masih jalan, tapi sudah ada mitra bisnis yang ngurus, jadi Ayah sekarang bisa lebih sering di sini,” jawab Wulan sambil tersenyum manis dan membetulkan posisi kacamatanya, membuat Pak Syamsul semakin deg-degan.

“Bagus kalau begitu. Eh, kita sudah sampai neh,” ujar Pak Syamsul.

“Iyah, terima kasih ya Om sudah nganterin Wulan. Salam untuk Mila,” ujar Wulan. Sesaat kemudian perempuan cantik itu langsung mendekat ke arah Pak Syamsul dan menarik tangan kanannya.

Ayah Mila itu pun kaget. Namun ia menarik napas lega begitu Wulan ternyata hanya menyentuhkan tangan kanannya tersebut ke dahi. Ternyata Wulan hanya menyalami Pak Syamsul sebagai tanda hormat. Namun hal itu justru membuat Pak Syamsul bisa merasakan betapa halus kulitnya, dan birahinya pun langsung naik.

“Sampai jumpa, Om,” ujar Wulan sambil keluar dari mobil dan masuk ke rumah.

Pak Syamsul terus memperhatikan gerak-gerik Wulan dari balik jendela. Kini ia tidak perlu takut ketahuan, karena kaca mobilnya yang terlihat gelap dari luar. Ia pun bisa dengan leluasa memandangi kemolekan tubuh perempuan muda tersebut dari belakang. Tubuh langsingnya benar-benar ranum, terlebih ketika Pak Syamsul melihat goyangan pinggul Wulan. Ia pun bisa merasakan kemaluannya perlahan berdiri mendorong resleting celana panjangnya.

Namun Pak Syamsul cepat tersadar, dan langsung menjalankan mobilnya kembali begitu Wulan telah masuk ke dalam rumah.

Sesampainya Pak Syamsul di rumah, ternyata hanya ada Roni, anak bungsunya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Ia pun langsung menuju kamar tidurnya yang berada di dekat kamar mandi.

“Ayah kenapa senyum-senyum gitu,” ujar Roni tiba-tiba.

Pak Syamsul kaget. Entah bagaimana, anak laki-lakinya itu punya pengamatan yang sangat jeli seperti detektif. “Nggak ada apa-apa koq. Bisa saja kamu,” ujarnya sambil bergerak lebih cepat menuju kamar.

Di dalam kamar, Pak Syamsul langsung merebahkan diri di atas ranjang. Ia masih tak bisa menghilangkan bayangan wajah cantik Wulan dari pikirannya. Perlahan ia mengambil smartphone dari kantong celananya dan membuka aplikasi WhatsApp.

Ia mengirim pesan kepada seseorang yang ia kenal, “apa kabar sahabat?”

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 2 | Penghianatan Sahabat Part 2 – END

(Penghianatan Sahabat Part 1)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 3)