Penghianatan Sahabat Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 19

Start Penghianatan Sahabat Part 19 | Penghianatan Sahabat Part 19 Start

Sepulangnya Mila dari Bali, ia semakin bimbang dengan perasaannya. Apa yang ia rasakan terhadap Om Burhan merupakan sesuatu yang spesial. Ayah dari Wulan tersebut telah membuka sisi kewanitaan Mila tanpa perlu menyetubuhi dirinya. Apakah ini yang dinamakan cinta? Atau ini hanya sekedar nafsu belaka?

Mila sadar bahwa ia masih mempunyai seorang pacar, yaitu Egi, yang sangat ia cintai. Mungkin apa yang ia rasakan terhadap Om Burhan disebabkan karena ia tengah jauh dari Egi, sehingga ia butuh pelampiasan seperti Om Burhan. Apabila ia kembali menjalin kasih dengan Egi, mungkin saja ia dengan cepat bisa melupakan pria tua tersebut.

Ia pun mengingat kata-kata Om Burhan ketika di Bali.

“Coba kamu sebagai perempuan lebih bersabar. Mungkin saja dia memang benar-benar sibuk. Setelah kondisi tenang dan dia bisa bertemu kamu lagi, ajak bicara dari hati ke hati tentang apa yang kamu rasakan,” ujar Om Burhan saat itu.

Mila pun memutuskan untuk menjadi pacar yang lebih penyayang dan lebih perhatian kepada Egi. Ia bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan pacarnya tersebut. “Baiklah, aku akan mulai menghubungi dia,” gumam Mila dalam hati.

Selama berhari-hari, Mila coba menghubungi pacarnya tersebut lewat WhatsApp. Terkadang meski telah dibaca, tidak kunjung ada balasan. Jika membalas pun, Egi hanya mengucapkan kata-kata singkat. Mila pun mencoba untuk menelepon secara langsung, Egi kadang tidak mengangkat.

Suatu hari akhirnya Egi mengangkat telepon Mila.

“Halo, sayang,” ujar Mila dengan nada suara ceria.

“Halo, apa kabar kamu?” Ujar Egi.

“Aku baik. Kamu bagaimana di kantor? Masih sibuk?”

“Ya, biasa lah. Bosku suka ada-ada saja kalau ngasih kerjaan. Kamu kenapa tiba-tiba telepon di jam kerja begini?”

“Aku kan pacar kamu, masa gak boleh telepon. Hee,” ujar Mila sambil tertawa.

“Ya, aku kan lagi kerja. Jadi kalau aku sibuk suka gak bisa angkat telepon,” ujar Egi.

“Kamu bisa ketemu gak hari ini? Atau besok?”

“Hmm, kayaknya gak bisa, selama seminggu ini aku harus kerja lembur di kantor.”

“Kalau gitu aku mampir ke kantor kamu aja ya, bawain makanan?”

“Gak usah, Mil. Bosku selalu beli makanan buat kita-kita kok kalau lembur, gak usah ngerepotin.”

“Oh, yaudah deh kalau begitu. See you,” ujar Mila kecewa.

“See you, sayang,” jawab Egi yang langsung menutup sambungan telepon.

Mila pun menjadi bingung, apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki hubungannya. Bila ia tidak melakukan apa-apa, ia yakin hubungannya dengan Egi akan terus seperti ini, atau bahkan memburuk. Setelah berpikir beberapa lama, ia pun memutuskan bahwa ia harus menjadi pasangan yang lebih aktif dari sekarang.

“Baiklah, aku akan mulai dengan mendatangi kostan Egi. Tapi aku nggak tahu di mana kost dia yang baru,” gumam Mila. Perempuan cantik tersebut akhirnya ingat dengan Irfan. Sahabat baik Egi itu pasti tahu di mana kostan Egi sekarang.

Ia pun langsung menghubungi Irfan untuk meminta bantuan mengantarkan dirinya ke kostan Egi. Mila mewanti-wanti Irfan agar tidak memberi tahu Egi terlebih dahulu bahwa dirinya akan datang. “Biar jadi kejutan,” ujar Mila. Irfan pun menyanggupi permintaan perempuan cantik tersebut.

Itulah mengapa pada malam itu Irfan dan Mila akhirnya sampai di depan kostan Egi. Sepanjang jalan, Irfan bisa merasakan bahwa Mila sangat berbeda dengan ketika mereka berkencan beberapa minggu lalu. Mila tidak lagi menyentuhkan payudaranya di punggung Irfan. Sepanjang perjalanan pun mereka hanya berbincang tentang Egi, Egi, dan Egi.

Meski kecewa, namun Irfan tetap melihat sisi positif dari apa yang terjadi padanya selama ini. Sejak jalan bareng dengan Mila, ia kemudian bisa berkenalan dengan Wulan, sahabatnya yang cantik. Biarlah Mila kembali ke Egi, yang penting dirinya harus bisa mendapatkan Wulan, pikir Irfan dalam hati. Lagipula, ia sudah sangat terbiasa dengan rasanya patah hati.

“Kok sepi banget sih kostan ini? Kamu yakin ini kostan Egi?” Tanya Mila setelah turun dari motor.

“Yakin lah. Itu mobil dia parkir di situ,” ujar Irfan sambil menunjuk sebuah mobil yang sedang parkir di ujung sebelah timur. “Egi kan memang sukanya kostan yang sepi dan mewah kayak gini.”

Mila akhirnya menyadari bahwa mobil yang ditunjuk Irfan memang benar mobil Egi. Ia tahu karena telah beberapa kali jalan-jalan dengan Egi menggunakan mobil itu. Mobil tersebut pun menjadi tempat Mila beberapa kali memberikan blowjob kepada kekasihnya tersebut. Pernah suatu hari Mila menghisap kemaluan Egi saat pemiliknya sedang mengendarai mobil. Untungnya mereka tidak sampai menabrak apa pun di perjalanan.

Irfan langsung berjalan menuju pintu masuk kostan yang lebih mirip dengan rumah mewah itu. Mila pun mengikuti dari belakang. Mereka kemudian langsung naik ke lantai dua, di mana kamar Egi berada.

Semakin dekat dengan kamar Egi, keduanya bisa mendengar suara yang aneh. Ketika keduanya tepat berada di depan kamar tersebut, suara aneh tersebut terdengar makin kencang. Mereka berdua tidak naif, dan tahu betul dari mana asal suara tersebut. Itu adalah suara desahan pria dan wanita yang sedang memacu birahi bersama.

Mila dan Irfan saling berpandangan. Irfan tampak khawatir dan berusaha menahan tubuh Mila agar tidak langsung masuk ke kamar tersebut. Sedangkan Mila tampak begitu sedih, dengan air mata mulai mengalir di kelopak matanya. Ia tidak mau apa yang ia pikirkan setelah mendengar suara desahan itu benar-benar menjadi kenyataan. Namun ia merasa harus membuktikannya dengan mata kepalanya sendiri.

Meski coba dicegah oleh Irfan, Mila tetap kukuh pada pendiriannya. Ia pun langsung membuka pintu kamar tersebut yang belum sempat dikunci oleh Egi. Alangkah kagetnya ia dengan pemandangan yang ia saksikan di hadapannya. Egi tengah memeluk seorang perempuan berusian 35an tahun dari belakang, di atas tempat tidur berseprei putih. Kemaluan Egi bahkan masih menancap di vagina perempuan tersebut.

“Irfan … Mila … Ngapain kalian di sini?” Teriak Egi yang kemudian langsung bangun dan melepaskan pelukannya dari tubuh Bu Anita. Kemaluannya pun langsung terlepas dari kemaluan perempuan itu. Bu Anita pun kaget akan kedatangan Mila dan Irfan, serta langsung menutupi tubuhnya yang terbuka dengan selimut.

“Dasar laki-laki bangsat,” ujar Mila sambil mendekati pacarnya yang tengah berbaring tanpa busana tersebut, lalu menampar pipinya. Dengan sesenggukan, Mila pun keluar dari kamar tersebut.

Tanpa memperdulikan Bu Anita, Egi langsung buru-buru mengenakan pakaiannya kembali, lalu menyusul Mila keluar. Di kamar tersebut pun tinggal ada Irfan, yang sedang bingung dengan apa yang terjadi. Namun keberadaan Bu Anita yang tengah tanpa busana membuah syahwatnya naik. Memandangi tubuh indah Bu Anita yang begitu montok, Irfan harus menahan birahinya kuat-kuat. Atasan Egi tersebut pun kemudian ikut mengenakan pakaiannya kembali.

Bu Anita menyadari tatapan Irfan kepada dirinya. Setelah berpakaian lengkap, ia pun mendekati Irfan. “Kamu teman Egi?”

“Iya, Tante.”

“Nama kamu siapa?”

“Irfan.”

“Kamu ke sini bawa kendaraan?”

“Iya saya bawa motor, Tante.”

“Antar aku keluar, yuk. Aku nggak mau berurusan dengan masalah asmara anak ingusan seperti ini,” ujar Bu Anita. Irfan pun mengangguk.

Mila ternyata duduk di sebuah kursi yang ada di depan kamar Egi. Sang kekasih telah duduk di hadapannya, berusaha memberi penjelasan. Mereka bahkan tidak menyadari ketika Bu Anita dan Irfan pergi keluar.

“Aku bisa jelasin semuanya, sayang,” ujar Egi berusaha membujuk Mila.

“Jelasin apa? Jelasin betapa enaknya tubuh wanita tua itu? Hah!”

“Bukan begitu, aku mau jelasin kalau aku nggak ada apa-apa sama dia. Aku gak sayang sama dia. Aku cuma sayang sama kamu,” tutur Egi.

“Kalau kamu sayang sama aku, kenapa kamu malah ngentot sama dia,” ujar Mila dengan nada tinggi. Air mata tampak menetes di pipinya. Ia begitu kecewa kepada kekasih yang begitu ia cintai tersebut.

“Itu cuma … seks aja, Mil. Gak ada rasa cinta sama sekali.”

“Egi, kamu sudah dapat hampir semuanya ya dari aku. Cuma keperawanan aku aja yang belum aku kasih. Tapi kamu masih tega khianatin aku buat perempuan tua itu. Kamu tuh bajingan tahu nggak.”

“Iya, sayang. Aku minta maaf.”

“Jangan panggil aku sayang sayang, aku gak butuh kata-kata manis kamu,” ujar Mila ketus.

Egi coba mendekati tempat Mila duduk dan membelai kepala perempuan cantik tersebut yang masih berbalut jilbab. Namun tangan Egi itu ditepis oleh Mila.

“Aku kecewa sama kamu. Mulai sekarang kita putus,” ujar Mila tegas. Ia pun langsung berjalan keluar dari kostan tersebut meninggalkan Egi yang menyesali keputusannya.

Di luar, Mila tidak bisa menemukan Irfan. Motor yang mereka kendarai untuk datang ke kostan tersebut pun telah menghilang. “Dasar laki-laki. Nggak Egi nggak Irfan, semua sama-sama bajingannya,” gumam Mila kesal.

Mila kemudian berjalan keluar dan menyetop taksi yang kebetulan lewat.

“Ke mana, Non?”

“Jalan saja dulu, Pak,” ujar Mila. Taksi tersebut pun bergerak menembus jalanan ibu kota yang telah diselimuti malam.

Mila sendiri bingung ke mana ia harus pergi. Ia jelas tidak bisa pulang ke rumah dengan kondisi seperti ini. Satu-satunya orang yang mungkin bisa membantunya saat ini adalah Wulan. Namun sejujurnya ia butuh seseorang yang tidak hanya bisa mendengarkan ceritanya dan memberikan motivasi-motivasi kacangan. Ia butuh seseorang yang bisa memberikan solusi tepat atas masalah yang dihadapinya.

Mila pun teringat Om Burhan. Ia langsung mengirim WhatsApp ke ayah Wulan tersebut.

“Om Burhan lagi di mana? Aku mau ketemu.”

Tak lama kemudian, Om Burhan mengirim balasan. “Om ada di hotel XXX. Kamu ke sini saja.”

Mila pun membulatkan pikirannya. Ia ingin bersama Om Burhan malam ini. “Pak, kita ke hotel XXX yah,” ujar Mila pada sang supir taksi.

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 19 | Penghianatan Sahabat Part 19 – END

(Penghianatan Sahabat Part 18)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 20)