Penghianatan Sahabat Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 18

Start Penghianatan Sahabat Part 18 | Penghianatan Sahabat Part 18 Start

Sepulang kerja, Egi tampak begitu bahagia. Ia terlihat mengendarai mobilnya tanpa sekali pun berhenti tersenyum. Pasalnya, ia tidak sendirian di mobil tersebut. Di sebelahnya ada seorang perempuan cantik yang lebih tua darinya, sedang asyik memainkan smartphone.

“Sebentar lagi sampai kok di kostan aku, Bu,” ujar Egi.

“Iya,” jawab Bu Anita tanpa menolehkan kepala ke arah Egi yang sedang menyetir. Ia tampak masih asyik membuka aplikasi media sosial di smartphone miliknya.

Benar kata Egi, beberapa menit kemudian mereka telah sampai di sebuah kostan eksklusif yang ditempati Egi. Mobil yang dikendarai Egi langsung parkir di tempat biasa. Setelah itu, mereka berdua pun langsung menuju kamar Egi yang berada di lantai dua.

“Sepi banget kostan kamu, Egi,” ujar Bu Anita melihat ke sekeliling. Kostan tersebut lebih mirip rumah mewah dengan beberapa kamar di lantai satu dan dua.

“Saya bilang juga apa, Bu. Aman lah kalau di kostan saya,” jawab Egi.

Sebelumnya di kantor, pasangan atasan dan bawahan tersebut tampak sudah tidak bisa menahan birahi mereka. Ketika jam kerja telah usai, mereka mencoba untuk mencari tempat sepi di sekitar gudang kantor untuk saling berciuman. Egi telah menggerayangi dan meremas payudara Bu Anita, sedangkan perempuan yang sudah mempunyai satu anak tersebut pun sudah mulai meremas-remas kemaluan Egi dari luar celana.

Namun mereka tetap merasa tak nyaman karena harus sangat berhati-hati. Di kantor tersebut masih ada beberapa pegawai yang sedang lembur, dan amat berbahaya apabila para pegawai tersebut mendengar suara desahan mereka berdua.

“Kita harus pindah Egi, tapi ke mana ya?” Tanya Bu Anita setengah berbisik.

Egi berpikir sejenak. “Ke kostan saya saja, Bu. Mau gak?”

“Memangnya aman?” Tanya Bu Anita.

“Aman, Bu. Serahkan saja sama aku,” jawab Egi.

Itulah mengapa mereka berdua kini berada di depan kamar kost Egi. Sang pemilik kamar langsung membuka kunci kamar dan mengizinkan Bu Anita untuk masuk. Kamar tersebut terlihat berantakan, layaknya kamar seorang pria single. Namun ranjang yang berada di sudut ruangan tersebut nampak begitu nyaman untuk ditiduri.

Egi yang sudah tidak sabar langsung menutup pintu, namun tidak sempat menguncinya. Setelah Bu Anita meletakkan tasnya di sebuah meja, pria muda tersebut langsung memeluk tubuh montok perempuan tersebut dari belakang, dan mencium lehernya yang terbuka. Tak lupa, tangan Egi pun langsung meremas payudara Bu Anita dari luar kemeja putihnya.

Diperlakukan seperti itu, birahi Bu Anita kembali bangkit. Gairah yang sudah lama tidak ia dapatkan dari sang suami, kini bisa ia dapatkan dari Egi. Meski ia kadang merasa kecewa karena penis Egi yang kecil dan daya tahan tubuhnya yang lemah, namun paling tidak Egi masih sanggup membuat ia orgasme dengan sentuhan di seluruh tubuhnya dan emutan kuat di vaginanya.

“Ahh, Egi,” desah Bu Anita yang kemudian membalikkan badan dan langsung mencium bibir Egi dengan liar. Bibirnya menari-nari di sela-sela kedua bibir Egi.

“Malam ini aku akan menikmati tubuh indahmu, atasanku yang binal,” bisik Egi penuh birahi.

Egi pun membalas ciuman Bu Anita, dan mengeluarkan lidahnya untuk beradu dengan lidah atasannya tersebut. Ia mendekap tubuh sintal perempuan cantik itu, yang langsung mengalungkan tangannya ke leher Egi. Tangan Egi perlahan turun ke bawah dan meremas-remas pantat Bu Anita yang hanya tertutup rok setengah lutut. Egi kemudian menarik ujung rok Bu Anita ke atas, dan langsung meremas pantat yang ada di baliknya.

Tak tahan diperlakukan seperti itu, Bu Anita langsung memaksa Egi untuk membuka kemejanya. Setelah kemeja tersebut terlepas dan jatuh ke lantai, Bu Anita pun menarik kaos dalam Egi ke atas, hingga Egi kini telanjang dada. Tak menunggu lama, perempuan cantik itu langsung menjilat-jilat dada pacar Mila tersebut dengan liar. Ia tidak tampak seperti seorang atasan, namun lebih mirip seperti seorang pelacur yang sedang melayani pelanggannya.

Egi pun tak tahan dan merasakan bahwa penisnya telah sangat tegang. Ia khawatir penisnya tersebut bisa langsung mengeluarkan sperma yang ada di dalamnya sewaktu-waktu. Ia kemudian mendorong Bu Anita hingga jatuh ke atas ranjang. Pinggang Bu Anita menempel di sisi tempat tidur, membuat paha dan kakinya yang mulus menjuntai ke lantai. Dengan posisi tersebut, payudara Bu Anita terlihat membusung ke atas.

Tanpa menunggu lama, Egi langsung berlutut di hadapan Bu Anita. Ia menarik rok Bu Anita yang berwarna merah muda hingga terlepas. Celana dalam perempuan tersebut yang berwarna krem pun juga ia lepas, hingga vagina indah Bu Anita bisa terlihat jelas. Pria tampan tersebut kemudian langsung mengarahkan mulutnya ke liang kemaluan Bu Anita, demi memuaskan pemiliknya.

Bu Anita yang sangat suka diperlakukan seperti itu pun tidak bisa berhenti mendesah. “Ahhh, pintar sekali kamu Egi. Ibu suka dengan permainan lidah kamu di memek Ibu, ngghhh …”

Kini Egi terlihat seperti seorang gigolo yang sedang berusaha memuaskan perempuan yang menyewanya. Wajahnya yang tampan dan dadanya yang terbuka membuat syahwat Bu Anita terus naik. Tangan Bu Anita tampak menekan kepala Egi agar mengulum kemaluannya lebih kencang.

Selangkangan Bu Anita makin terbuka lebar begitu ia mengangkat kakinya hingga berada di atas ranjang. Egi pun terlihat semakin rakus mengulum vagina Bu Anita yang berbau khas. Liang kemaluan yang sudah mengeluarkan satu anak tersebut tampak sudah basah dengan cairan cinta. Egi pun menemukan klitoris Bu Anita yang merupakan salah satu titik sensitif perempuan tersebut. Klitoris itu kemudian dia emut kuat-kuat, membuat pemiliknya langsung meregangkan tubuh ke atas, tanda birahinya kian memuncak.

Sekitar lima belas menit kemudian, Egi masih berada di posisi yang sama. Tangannya telah masuk ke balik kemeja lengan pendek Bu Anita, dan meremas-remas payudara perempuan tersebut yang masih tertutup bra. Diperlakukan seperti itu oleh pria segagah Egi, Bu Anita semakin kuat mengeluarkan desahan.

“Ahhh, terus sayang … aku mau semprot wajah kamu dengan cairan cinta aku,” ujar Bu Anita setengah berteriak. Egi menjadi semakin semangat dibuatnya. Ia menelan seluruh kemaluan perempuan tersebut kuat-kuat, dan mencolok lubangnya dengan lidahnya yang hangat.

Bu Anita tidak lagi bisa menahan birahi, dan orgasme hebat pun melanda tubuhnya.

“Aaaaaaahhhhhh,” lenguh Bu Anita kencang. Tubuhnya pun lemas seperti tidak bertulang. Kepalanya mendongak ke atas, memandangi plafon kamar Egi yang berwarna putih. Matanya terpejam, tanda ia benar-benar menikmati sapuan syahwat yang tengah melanda dirinya. Di bawahnya, terlihat Egi melahap cairan cintanya dengan rakus, dan langsung menelannya.

Setelah beristirahat sebentar, Bu Anita pun menarik Egi untuk ikut naik ke atas ranjang dan menindih tubuhnya. Tangan Bu Anita kemudian sibuk melepas ikat pinggang dan celana panjang Egi. Celana dalam Egi pun langsung ia tarik ke bawah. Sedangkan tangan Egi juga sibuk melepas kancing kemeja Bu Anita dan bra yang ada di baliknya. Tak lama kemudian, kedua insan tersebut telah telanjang tanpa busana. Mereka saling menindih di atas ranjang berseprei putih yang biasa ditempati Egi.

Egi kemudian mengambil inisiatif untuk mengulum payudara Bu Anita yang terbuka. Ukurannya tidak sebesar milik Mila, pacarnya. Namun puting payudaranya berukuran lebih besar, karena Bu Anita telah mempunyai seorang anak yang harus ia beri susu. Lidah Egi melingkari puting payudara tersebut, lalu memutar menuju pangkal payudara Bu Anita. Perlakuan seperti itu membuat atasan Egi itu benar-benar melayang.

Bu Anita pun tidak mau kalah. Tangannya langsung menyambar penis Egi yang sudah tegang, lalu mengocoknya dari pangkal hingga ujung. Ia mengelus-elus kepala kontol Egi dengan jarinya yang lentik, membuat pemiliknya hampir tak kuat menahan dorongan gairah. Sesekali Bu Anita juga meremas biji pelir Egi, yang menggantung di sela-sela bulu kemaluannya yang lebat.

Agar bisa tetap bertahan, Egi pun menarik tangan Bu Anita dari penisnya dan mengangkatnya ke atas. Kedua tangan Egi menahan tangan Bu Anita di atas kepalanya sehingga ia tidak bisa bergerak. Kemudian ia menjilati ketiak atasannya tersebut yang sangat bersih dan tidak berbulu. Pemilik ketiak tersebut pun merasa kegelian, hingga mengeluarkan kembali desahan-desahan binal. “Ahhh, Egi … Nikmat sekali jilatan kamu.”

“Saya ingin coba posisi baru. Ibu mau nggak?” Bisik Egi di telinga perempuan berusia 35an tahun tersebut.

Bu Anita pun mengangguk. “Ibu mau kamu puaskan, sayang.”

“Sekarang Ibu berbalik dan menungging. Saya mau tusuk memek Ibu dari belakang,” ujar Egi.

Perempuan cantik tersebut pun menurut. Ia mengambil posisi menungging membelakangi Egi hingga pantatnya yang montok bisa terlihat dengan jelas. Payudaranya yang indah tampak menggantung ke bawah. Ia menahan tubuhnya dengan kedua tangannya yang berkulit putih mulus.

Sejenak Egi memandang kagum ke arah atasannya yang telah telanjang tanpa busana itu. Sehari-hari ia melihat Bu Anita sebagai sosok yang anggun dan berwibawa, namun malam ini perempuan cantik tersebut telah takluk pada kejantanan kontolnya. Ia bahkan rela ditunggangi oleh Egi yang merupakan bawahannya di kantor.

Egi langsung mengambil posisi di belakang atasannya tersebut. Ia mulai dengan menjilati liang pantat Bu Anita, membuat pemiliknya kegelian. Jilatan tersebut kemudian terus naik, menyusuri punggung Bu Anita dari bawah ke atas. Berbarengan dengan itu, Egi pun langsung memeluk tubuh sintal Bu Anita, dan menempatkan kontolnya di pintu memek atasannya tersebut.

Tangan Egi yang bebas langsung menyentuh payudara Bu Anita yang menggantung, lalu meremasnya perlahan. Sesekali ia menjepit dan memainkan puting payudara tersebut, hingga pemiliknya menjerit manja. Egi pun terus menggesek-gesekkan kemaluannya ke vagina Bu Anita dari belakang.

“Ayo masukin, Egi. Ibu udah gak tahan,” geram Bu anita penuh birahi.

Egi pun memenuhi permintaan atasannya tersebut dengan mendorong penisnya kuat-kuat ke dalam vagina Bu Anita. Layaknya seorang anjing pejantan, Egi menggagahi tubuh cantik Bu Anita yang ia kagumi. Perempuan tersebut kini hanya bisa pasrah mengikuti gerakan maju mundur Egi.

Keduanya mengeluarkan desahan yang makin lama makin kencang. Egi yang tak tahan beberapa kali menarik rambut Bu Anita yang tergerai, hingga kepalanya mendongak ke atas. Ia tampak merasa senang bisa menguasai tubuh indah Bu Anita dan memaksa atasannya tersebut untuk memasrahkan diri menerima hasratnya.

Namun seperti biasa, Egi tidak kuat bertahan lama dalam melakukan hubungan seks. Ia berusaha memperlama daya tahannya dengan memikirkan hal-hal lain, namun tidak juga berhasil. Goyangan pinggul Bu Anita menjepit kontolnya benar-benar membuat syahwatnya memuncak. Ia pun merasakan spermanya telah sampai di ujung penis.

“Bu Anitaa lontekuuuuuu …” terika Egi sambil memeluk erat tubuh Bu Anita dari belakang. Ia pun menyemprotkan spermanya di memek Bu Anita. Selama beberapa detik, ia menikmati denyut demi denyut sperma yang dikeluarkan oleh penisnya tersebut. Tubuh kedua insan tersebut pun langsung ambruk di atas ranjang.

Mata Egi dan Bu Anita pun saling bertatapan, namun mereka berdua tidak mengucapkan satu kata pun. Bibir mereka pun kembali bersatu.

“Braaakkk …”

Betapa kagetnya mereka ketika tiba-tiba pintu kamar mereka dibuka dari luar, dan mereka pun tidak lagi hanya berdua di kamar tersebut.

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 18 | Penghianatan Sahabat Part 18 – END

(Penghianatan Sahabat Part 17)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 19)