Penghianatan Sahabat Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 17

Start Penghianatan Sahabat Part 17 | Penghianatan Sahabat Part 17 Start

Saat Mila dan Om Burhan tengah berada di Bali, Wulan justru sibuk menggoda dua orang pria yang dekat dengannya di Jakarta, yaitu Irfan dan Pak Syamsul. Saat ini ia memang hanya berani menggoda mereka lewat pesan singkat di WhatsApp. Namun ia juga tertarik untuk melakukan sesuatu yang lebih jauh dari itu di dunia nyata.

Keinginan untuk menggoda pria sebenarnya baru dimulai sejak setahun yang lalu. Saat masih di bangku sekolah menengah, wajah cantik Wulan sebenarnya sudah memancing banyak pria untuk mendekati dirinya. Namun pada saat itu, ia masih skeptis dengan hubungan pacaran. Terlebih ketika ibunya meninggal, ia pun seperti larut dalam kesedihan, dan tak ada waktu untuk memikirkan hubungan dengan lawan jenis. Perempuan berkaca mata tersebut memilih untuk fokus pada pendidikan.

Hal itu berlanjut saat ia menempuh jenjang perkuliahan. Wulan terus berusaha belajar untuk mendapatkan hasil terbaik, demi membuktikan kalau ia bisa berprestasi meski tanpa ibu yang mendampingi. Benar saja, ketika ia akhirnya berhasil lulus dengan nilai hampir sempurna, ia pun bisa merasa puas. Hal tersebut juga mendapat sambutan yang luar biasa menyenangkan dari sang ayah.

Saat bekerja, ia pun hampir selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Wulan sebenarnya bisa saja melamar ke perusahaan besar dan mendapatkan posisi tinggi. Namun ia akhirnya lebih memilih untuk mengajar di sebuah tempat bimbingan belajar, membina anak-anak SMA yang ingin masuk ke perguruan tinggi favorit. Ia melakukan itu karena memang suka dengan dunia pendidikan, dan senang berinteraksi dengan anak-anak remaja.

Namun menjadi pengajar merupakan sesuatu yang jauh dari kompetisi. Padahal, Wulan sangat menyukai kompetisi dan ketegangan. Itulah mengapa ia kemudian tertarik untuk menggoda para pria tersebut, baik yang muda dan tidak tampan seperti Irfan, hingga yang sudah berumur seperti Pak Syamsul. Ia seperti mendapat kepuasan dari ketegangan saat melakukan aktivitas tersebut. Hari ini, ia akan mulai dengan Irfan terlebih dahulu.

“Irfan, hari ini mau temani aku minum kopi gak?” Tanya Wulan pada suatu hari lewat WhatsApp.

Tak lama kemudian, Irfan pun membalas, “Bisa Wulan. Kapan? Di mana?”

Wulan pun tersenyum membaca balasan Irfan yang seperti sudah sangat tidak sabar. “Kamu temui aku di kedai kopi dekat tempat bimbel aku ya besok, pukul tujuh malam,” ketik Wulan sambil menuliskan nama kedai kopi favoritnya.

“Baik Wulan. Sampai ketemu.”

Keesokan harinya, Wulan sengaja menggunakan pakaian yang lebih ketat dari biasanya. Selain itu, ia juga mengenakan lipstik dengan warna yang menggoda. Tak hanya itu, ia pun melakukan sesuatu yang pernah ia lakukan sebelumnya ketika sedang beradu tantangan dengan Mila, yaitu tidak mengenakan bra untuk menopang payudaranya yang indah.

Benar saja, ketika mengajar di bimbel, beberapa rekan guru dan murid yang dia ajar seperti melihat sesuatu yang berbeda dari diri Wulan. Beberapa dari mereka hanya berani mencuri-curi pandang pada tubuh Wulan. Sedangkan beberapa yang lain ada yang berani bertanya mengapa Wulan seperti tampil berbeda hari itu, yang kemudian hanya dibalas Wulan dengan sebuah senyuman.

Ketika hari telah menjelang senja, Wulan pun langsung menuju kedai kopi favoritnya dan duduk di pojok kedai. Ia langsung memesan latte kesukaannya. Pada pukul tujuh kurang sepuluh menit, ia melihat Irfan masuk ke dalam kedai kopi tersebut dan duduk di hadapannya. Seperti pria-pria lain di bimbel, Irfan pun tampak terpana melihat perubahan tampilan Wulan. Ia memang baru dua kali bertemu langsung dengan Wulan, namun ia langsung bisa membedakan penampilan Wulan hari ini dengan penampilannya di hari-hari sebelumnya.

“Ha … Halo Wulan, apa kabar?” Tanya Irfan.

Wulan pun hanya tertawa. “Kamu masih kaku saja, hee.” Irfan kemudian ikut tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Di kedai kopi tersebut mereka pun menghabiskan waktu dengan mengobrol banyak hal, seperti barang-barang yang disukai Wulan, hingga hobi Irfan ketika tidak sedang bekerja di leasing. Irfan pun merasa beruntung bisa berkencan dengan dua sahabat yang sama-sama cantik secara berturut-turut. Awalnya dengan Mila, dan kini dengan Wulan. Ia merasa ada yang aneh dengan hal-hal yang serba kebetulan tersebut, namun ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa hal itu terjadi karena peruntungan cintanya yang kini telah berubah.

Satu jam kemudian, mereka pun seperti kehabisan bahan obrolan dan bersiap untuk pulang.

“Sudah malam, pulang yuk Irfan,” ujar Wulan.

“Ayo, Wulan.”

“Kamu mau nggak anterin aku ke rumah?” Tanya Wulan tiba-tiba.

“Mau Wulan, mau,” jawab Irfan bersemangat.

Sesampainya mereka di tempat parkir di depan kedai kopi, Wulan langsung naik membonceng di kursi belakang sepeda motor matic Irfan. Sepeda motor itu sebelumnya menjadi saksi bagaimana Mila menggoda pemiliknya. Dan kini sepeda motor tersebut menyaksikan hal serupa, meski dengan tokoh yang berbeda.

Perlahan, Wulan mulai merangkulkan tangannya di perut Irfan yang buncit. Perempuan tersebut pun seperti tak ragu untuk kemudian menempelkan tubuhnya ke tubuh Irfan. Irfan pun bisa merasakan bentuk payudara Wulan di punggungnya. Berbeda dengan Mila, payudara Wulan memang lebih kecil. Namun payudara Wulan terasa sangat berbeda, seperti tidak ada penghalang lagi di antara kulit mereka.

“Apa jangan-jangan Wulan saat ini tidak mengenakan bra?” Pikir Irfan dalam hati. Memikirkan hal tersebut, birahi Irfan pun naik. Tak terasa, kemaluannya pun mulai berdiri tegak. “Mimpi apa aku tadi malam,” gumam Irfan pelan.

“Eh, kenapa Irfan? Nggak apa-apa kan kalau aku peluk begini? Aku takut jatuh,” ujar Wulan.

“Ii…Iya nggak apa-apa koq Wulan,” ujar Irfan dengan sedikit gemetar. Dalam hati Wulan pun tertawa mendengar kata-kata Irfan tersebut.

Tanpa terasa, kebersamaan mereka harus berakhir sekitar tiga puluh menit kemudian, ketika keduanya telah sampai di rumah Wulan. Sepasang pria dan perempuan tersebut pun langsung turun dari motor.

“Terima kasih ya Irfan, sudah menemaniku hari ini,” ujar Wulan sambil mengedipkan mata dari balik kacamatanya.

“Sama-sama, Wulan,” ujar Irfan yang kemudian memberanikan diri untuk menyentuhkan tangannya ke kepala Wulan yang dibalut jilbab dan membelainya.

Merasa tidak dilarang, Irfan pun berinisiatif untuk melakukan sesuatu yang lebih jauh. Setelah melihat sekeliling dan suasana sepi, ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Wulan sambil memejamkan mata. Tinggal sedikit lagi, bibirnya akan bertemu dengan bibir Wulan. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan sebelumnya di mana ia tidak berani mencium bibir Mila dan hanya puas dengan keningnya saja.

Namun tak lama kemudian, bibir Irfan seperti menyentuh sesuatu, namun bukan bibir Wulan. Ketika membuka mata, ternyata Wulan sedang memandang tajam matanya dan menahan bibir Irfan dengan tiga jarinya.

“Hentikan, Irfan. Kita itu teman, bukan pacar. Jadi kamu jangan berbuat yang tidak-tidak,” ujar Wulan ketus dan kemudian langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah. Ia kembali meninggalkan seorang pria terbengong-bengong setelah ia goda. Wulan pun kembali tertawa dalam hati merayakan kemenangannya.

Keesokan harinya, ia berniat melakukan sesuatu yang serupa kepada Pak Syamsul, ayah dari Mila. Ia pun mengirim WhatsApp kepada pria tua tersebut. “Om Syamsul besok di kios?” Ia pun langsung tidur setelah mengirim pesan tersebut.

Di pagi hari, Wulan memeriksa smartphone miliknya. Terlihat balasan dari Pak Syamsul. “Iya, Om besok di kios kok. Ada apa Wulan?”

Wulan pun membalas. “Sepertinya nanti Wulan mau main ke pusat perbelanjaan di sekitar kios. Nanti Wulan mampir sebentar ya ke kios.”

Seperti hari sebelumnya, Wulan kembali tampil spesial. Ia kembali mengenakan kaos yang cukup ketat, dan memakai sedikit make up. Ia sempat mengambil bra-nya ketika berpakaian, namun memutuskan untuk kembali tidak mengenakan bra di balik pakaian dan jilbabnya. Ketika hari menjelang siang, ia pun beranjak menuju kawasan sekitar kios Pak Syamsul.

Tak lama kemudian, Wulan pun sampai di tempat yang ia tuju. Terlihat Pak Syamsul telah berdiri di depan kios. Beberapa orang menganggap pria tua tersebut sedang menjaga kios, namun Wulan tahu bahwa ayah Mila tersebut sengaja berdiri di situ untuk menunggu dirinya. Wulan kemudian melemparkan senyum kepada Pak Syamsul, yang kemudian dibalas oleh pria tersebut.

Pak Syamsul sedikit terpana dengan kecantikan Wulan yang berbeda hari itu. Tak biasanya Wulan mengenakan kaos yang cukup ketat, sehingga bentuk tubuhnya yang indah jelas terlihat. Wajah perempuan muda tersebut pun tampak berkilau, lengkap dengan warna lipstik yang menggairahkan siapa pun yang melihat. Kacamata yang tergantung di atas hidung mancungnya pun membuat perempuan tersebut terlihat lebih anggun.

Wulan pun berjalan mendekati Pak Syamsul dengan perlahan. Namun ketika jarak mereka sudah dekat, Wulan pura-pura terjatuh hingga Pak Syamsul menangkapnya. Tubuh mereka pun seperti sedang berpelukan. Pak Syamsul kembali merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan saat mereka berdua saling bertabrakan di rumah Mila. Pak Syamsul yakin Wulan kembali tidak mengenakan bra hari itu.

“Kamu lagi gak pake beha ya, Wulan?” Tanya Pak Syamsul setengah berbisik.

“Iya, Om,” ujar Wulan di telinga Pak Syamsul. Perempuan tersebut pun kembali berdiri tegak. Tangannya menyenggol kemaluan Pak Syamsul yang sudah sedikit berdiri dengan sengaja.

“Sampai ketemu ya Om, aku mau keliling dulu,” ujar Wulan dengan nada suara yang normal. Ia kembali meninggalkan Pak Syamsul dengan rasa kentang yang teramat pahit. Pak Syamsul pun hanya bisa menikmati keindahan tubuh Wulan dari belakang, terutama pantatnya yang sintal.

Tanpa disadari oleh Pak Syamsul, ada seorang lelaki yang mendekatinya dari belakang. “Siapa cewek bahenol tadi, Bang?” Ujar lelaki tersebut tiba-tiba.

Pak Syamsul pun kaget dan membalikkan badan. Ternyata laki-laki itu adalah Rojak, anak buahnya. “Ternyata kamu Rojak, kirain siapa.”

“Cewek manis tadi siapa Bang?” Tanya Rojak lagi.

“Wulan, temannya Mila.”

“Owh, kirain pecun yang baru abang sewa dan belum abang bayar, hee,” ujar Rojak sambil tertawa.

“Heh, jangan sembarangan. Itu benar temannya Mila, jangan kurang ajar,” ujar Pak Syamsul sedikit kesal.

“Ya maaf Bang, habis dari tampilannya, kayaknya bisa dipake, hee. Saya sih yakin disenggol dikit juga klepek-klepek itu cewek,” ujar Rojak.

“Hushh, diam kamu,” ujar Pak Syamsul sambil berjalan melewatinya menuju bagian belakang kios. Namun dalam hati, ia memikirkan kata-kata Rojak. Benarkah Wulan merupakan tipe perempuan yang bisa dengan mudah ditaklukkan?

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 17 | Penghianatan Sahabat Part 17 – END

(Penghianatan Sahabat Part 16)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 18)