Penghianatan Sahabat Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 15

Start Penghianatan Sahabat Part 15 | Penghianatan Sahabat Part 15 Start

Hari pertama di Bali, Om Burhan langsung datang ke kantor salah satu rekan bisnisnya yang ada di kota tersebut. Mereka membahas perkembangan bisnis mereka berdua, serta bagaimana mereka bisa mendapat keuntungan yang besar di kemudian hari. Begitu bersemangatnya Om Burhan ketika berbicara bisnis, hingga ia tidak sadar sudah waktunya untuk makan siang. Ia pun memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran dengan rekan bisnisnya tersebut.

Saat memesan makanan, Om Burhan pun teringat Mila. “Sudah makan siang belum ya dia?” Gumam Om Burhan. Ia pun kemudian mengirimkan sebuah pesan lewat WhatsApp, mengingatkan sahabat karib anaknya tersebut agar tidak lupa makan siang.

Sejak istrinya meninggal, Om Burhan memang seperti kehilangan arah dalam hidup. Ia mencoba menyibukkan diri dalam bisnis, agar tidak terlalu memikirkan kehidupan pribadinya. Namun pria berusia 50an tahun tersebut tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa ia tak puas hanya dengan keberhasilan dalam bisnis, namun ia juga menginginkan kesuksesan dalam hal cinta dan pemuasan birahi.

Ia awalnya coba mengatasi masalah tersebut dengan cara melakukan hubungan badan dengan perempuan mana pun yang ia suka. Mulai dari Lisa yang sebenarnya merupakan salah satu rekan bisnisnya, beberapa rekan bisnis yang lain, hingga beberapa pelacur kelas atas yang sering ia sewa. Namun dari semua perempuan tersebut, tak peduli seberapa cantik mereka, pria tua tersebut tak kunjung meraih kepuasan secara batin. Ia pun sempat merasa pasrah, dan merasa bahwa ia tidak akan bisa menemukannya sampai meninggal nanti.

Semuanya berubah ketika ia kembali bertemu dengan Mila. Perempuan cantik yang merupakan sahabat baik anaknya tersebut jelas membuatnya bernafsu secara birahi karena tubuhnya yang indah dan payudaranya yang besar. Namun lebih dari itu Om Burhan juga merasakan sesuatu yang berbeda, seperti getaran aneh dalam hatinya. Perasaan seperti itu terakhir kali ia rasakan saat bertemu dengan Shinta, ibu dari Wulan. Itulah mengapa saat itu ia tega merebutnya dari Syamsul, sahabatnya sendiri.

Om Burhan pun berusaha mencari cara untuk mendekati Mila, namun tak kunjung mendapatkannya. Saat Wulan menceritakan tentang masalah yang tengah dihadapi oleh Mila, Om Burhan pun mendapat semacam titik terang. Ia berniat untuk menggunakan masalah tersebut sebagai cara untuk mendekati Mila. Ia merasa kesempatan ini merupakan momentum untuk memperbaiki kehidupannya. Ia ingin Mila menjadi perempuan terakhir yang ia jadikan pelabuhan hatinya.

Om Burhan pun langsung mengajak Lisa untuk bertemu di sebuah hotel. Pimpinan bank tersebut datang dengan pakaian yang lebih seksi dari biasanya. Ia berharap bisa mendapatkan kepuasan birahi yang luar biasa saat bertemu dengan Om Burhan. Namun akhirnya ia harus merasa kecewa.

“Lisa, aku ingin menghentikan hubungan kita,” ujar Om Burhan tegas.

“Kenapa, Om? Pelayanan Lisa sudah tidak memuaskan?” Tanya perempuan cantik tersebut.

“Tidak, Lisa. Aku hanya ingin berubah. Aku tidak ingin bermain perempuan lagi,” jawab Om Burhan.

Lisa pun hanya diam mendengar jawaban Om Burhan tersebut.

“Namun aku punya satu permintaan terakhir. Aku harap kamu bisa membantu aku,” ujar Om Burhan.

Om Burhan kemudian menceritakan tentang masalah yang dihadapi oleh Pak Syamsul, dan meminta Lisa untuk mencari tahu di mana kira-kira Pak Syamsul meminjam uang. Alangkah terkejutnya Om Burhan ketika Lisa mengatakan bahwa kemungkinan besar Pak Syamsul adalah salah satu nasabahnya. Lisa pun coba memeriksa dengan cara menelepon ke salah satu anak buahnya di kantor. Ia pun mendapat kepastian bahwa Pak Syamsul memang meminjam uang di kantor tempatnya bekerja.

Mendengar hal tersebut, Om Burhan pun sumringah. Ia pun menjelaskan bagaimana Lisa bisa membantu dirinya. Lisa pun menyanggupi.

“Tapi ada syaratnya, Om,” ujar Lisa.

“Apa syaratnya?”

“Om harus memuaskan aku hari ini. Anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan,” jawab Lisa dengan wajah binal.

Om Burhan pun menyanggupi, dan langsung mengecup bibir Lisa dalam-dalam. Pegawai bank tersebut pun langsung melucuti pakaian Om Burhan dan pakaiannya sendiri. Mereka pun menghabiskan hari dengan cara saling memompa birahi pasangan mereka masing-masing, untuk terakhir kalinya.

Perjalanan ke Bali bersama Mila sebenarnya adalah cara Om Burhan agar ia bisa mengetahui kepribadian Mila lebih lanjut, serta menunjukkan kepada perempuan muda tersebut bahwa ia mempunyai perhatian lebih kepadanya. Berbeda dengan apa yang dipikirkan Mila, Om Burhan sama sekali tidak berniat untuk melakukan hubungan seks dengan Mila. Ia bahkan sempat akan memesan dua kamar terpisah untuk mereka, namun karena hotel yang ia pesan sudah penuh, maka Om Burhan dan Mila pun harus tidur sekamar.

Tanpa terasa, makanan yang dipesan Om Burhan dan rekan bisnisnya di Bali telah sampai dan disajikan di meja. Mereka pun langsung menyantap makanan tersebut.

“Kamu pulang kapan, Burhan?” Ujar pria yang tengah duduk di hadapan Om Burhan.

“Hari minggu. Memang kenapa Jon?” Tanya Om Burhan kepada temannya yang bernama Joni tersebut.

“Bagaimana kalau kita makan malam di hari sabtu, nanti aku yang traktir?” Ujar Pak Joni sembari menyebutkan nama salah satu restoran mewah yang terkanal di Bali. Restoran tersebut merupakan restoran kelas atas yang biasanya didatangi oleh para pebisnis kaya dan pejabat.

“Oke, tapi boleh gak kalau aku aja seseorang bersamaku?” Tanya Om Burhan yang langsung berpikir untuk mengajak Mila.

“Boleh donk,” ujar Pak Joni.

Urusan bisnis Om Burhan akhirnya selesai ketika hari telah menjelang sore. Ia pun segera kembali ke hotel tempatnya menginap. Begitu masuk, ia mendengar suara keran air yang mengucur di kamar mandi. Sepertinya Mila sedang mandi sore di ruangan tersebut. Tanpa bersuara, Om Burhan langsung merebahkan tubuh di atas tempat tidur, menunggu Mila keluar.

Beberapa menit kemudian, tampak pintu kamar mandi terbuka dan Mila pun keluar dari dalamnya. Alangkah terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa Om Burhan telah kembali ke kamar dan tengah berbaring di atas ranjang. Pasalnya, ia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk saja. Handuk tersebut pun hanya bisa menutupi sebagian payudaranya saja. Ia pun sempat terdiam menatap Om Burhan, yang juga tengah menatap ke arah tubuhnya.

“Eh, Om sudah pulang,” ujar Mila.

“Iya,” jawab Om Burhan. Pria tua tersebut terpana melihat keindahan tubuh Mila yang hanya tertutup dengan selembar handuk. Ingin rasanya ia segera mendekap tubuh seksi tersebut dan merasakan ranumnya tubuh Mila. Namun ia cepat-cepat memalingkan tatapannya dan menyingkirkan imajinasi seksual tersebut. Ia tidak ingin membuat Mila takut kepadanya. “Siap-siap yuk, kita pergi makan malam.”

“Baik, Om,” ujar Mila. Ia pun segera menuju lemari untuk mengambil pakaiannya, lalu masuk kembali ke kamar mandi. Tadi pagi Mila memang telah memindahkan pakaian-pakaian yang ia bawa dari koper ke lemari.

Mereka berdua kemudian pergi ke sebuah restoran yang bernuansa romantis. Tempat tersebut terlihat sangat menyenangkan, terlebih dengan adanya musisi yang memang khusus disewa untuk menghibur para pengunjung restoran tersebut. Mila merasa senang, karena seumur hidup belum pernah ada pacarnya yang mengajak dirinya makan malam ke tempat seperti itu.

“Jadi, kamu pergi ke mana saja hari ini?” Tanya Om Burhan.

Mila pun menceritakan perjalanannya hari ini menyusuri Pantai Kuta, dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Sudah lama ia tidak berwisata ke pantai, karena itu kesempata ini tidak ia sia-siakan untuk menikmati udara khas tepi laut selama mungkin. Saat lapar, ia pun mampir ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di sekitar Pantai Kuta untuk mengisi perut.

Terlihat ketegangan yang dirasakan Mila ketika berangkat kini telah mencair. Perempuan muda tersebut mulai merasakan bahwa Om Burhan tidak berniat jahat, apalagi menggagahi dirinya dan merenggut keperawanannya. Apa yang dilakukan Om Burhan selama ini justru menunjukkan bahwa ia memang pria sejati yang menghargai kehormatan perempuan.

“Uang yang om berikan kurang nggak?”

“Nggak koq Om. Ini justru lebih dari cukup,” jawab Mila.

Mereka berdua pun terus berbincang tentang berbagai hal, mulai dari keindahan Bali hingga kepribadian mereka masing-masing. Sesekali mereka membahas tentang Wulan, namun tidak begitu lama karena Om Burhan seperti enggan membicarakan anaknya tersebut. Ia ingin obrolan mereka hanya seputar mereka berdua saja. Pembicaraan tersebut kemudian mulai masuk ke hubungan asmara mereka berdua.

“Kamu sudah punya pacar ya?” Tanya Om Burhan.

“Sudah, Om. Namanya Egi,” jawab Wulan singkat. Om Burhan pun menangkap ada sesuatu yang salah dari kata-kata Mila.

“Kamu sedang ada masalah ya dengan dia?” Tanya Om Burhan lagi.

Mila menghela nafas. “Kalau dibilang ada atau nggak, ya memang ada sih. Aku merasa dia sebagai pacar sudah tidak perhatian lagi sama aku,” jawab Wulan.

“Tidak perhatian bagaimana?”

“Setiap aku ajak ketemu, dia sering sibuk. Ketika aku telepon, dia seringkali hanya bicara sebentar dan kemudian memutuskan telepon dan beralasan ada urusan lain yang lebih penting. Pokoknya aku sama dia sudah tidak seperti pacaran lagi, Om,” jelas Mila.

“Saran Om, coba kamu sebagai perempuan lebih bersabar. Mungkin saja dia memang benar-benar sibuk. Setelah kondisi tenang dan dia bisa bertemu kamu lagi, ajak bicara dari hati ke hati tentang apa yang kamu rasakan. Apabila dia memang masih sayang sama kamu, pasti dia akan berubah,” ujar Om Burhan memberi nasihat.

Dalam hati, Om Burhan mengutuk dirinya sendiri. Bukankah ia menginginkan Mila untuk jadi kekasihnya? Namun mengapa ia justru memberi nasihat kepada perempuan tersebut agar hubungannya dengan sang pacar jadi membaik?

“Terima kasih atas nasihatnya ya, Om,” ujar Mila. “Kalau Om sendiri, kenapa nggak cari pengganti Ibu Wulan?”

“Om ingin kamu yang menjadi pengganti beliau, Mila,” ujar Om Burhan dalam hati. Ia tentu tidak bisa mengatakan hal tersebut saat ini kepada perempuan muda tersebut. Masih terlalu cepat. Karena itu, ia hanya menjawab pertanyaan Mila dengan senyuman.

Setelah makan, mereka berdua pun kembali ke hotel. Sesampainya mereka di kamar, Mila langsung berganti pakaian dan tidur. Sedangkan Om Burhan, seperti biasa, hanya tidur dengan celana boxer saja. Lelaki tua tersebut tampak memandangi tubuh Mila yang sedang tidur di ranjang yang berbeda. Ia tampak tersenyum, sebelum kemudian memejamkan mata.

Di hari-hari berikutnya, Om Burhan tidak lagi mempunyai agenda untuk mengurus bisnis. Ia kemudian mengajak Mila untuk menghabiskan waktu dengan berkeliling Pulau Bali berdua. Mereka mendatangi berbagai lokasi wisata, bermain air dan bercanda di pantai, serta menghabiskan waktu untuk menyantap berbagai jenis kuliner khas bali.

Dari raut wajah mereka, keduanya tampak sama-sama menikmati kebersamaan tersebut. Hal ini terlihat jelas dari wajah Mila, yang sudah bisa tersenyum lepas. Ia mulai bisa menghilangkan kekhawatiran bahwa keperawanannya akan direbut oleh Om Burhan. Berbagai rencana yang sudah ia siapkan, mulai dari berpura-pura mendapat haidh, hingga membuat Om Burhan cepat mengeluarkan sperma dengan blow job pun seperti tidak berguna.

Sebaliknya, Mila mulai merasakan sesuatu yang berbeda dengan Om Burhan. Pria tua tersebut lebih tampak seperti ayahnya, yang suka memberi perhatian, kasih sayang, dan kehangatan. Lebih dari itu, Mila pun memandang Om Burhan sebagai sosok lelaki yang jantan, perkasa, dan menyenangkan. Cocok sekali untuk menjadi pasangan dalam berkencan dan bercinta di ranjang.

Pada hari kamis sore, mereka berdua akhirnya kelelahan berkeliling Bali, dan memilih untuk menghabiskan waktu dengan bersantai di pinggir pantai yang masih berada di kawasan hotel tempat mereka menginap. Om Burhan terlihat bersandar di sebuah bangku pantai sambil mengenakan kacamata hitam, dan memandang ke arah matahari yang mulai terbenam. Sedangkan Mila justru sibuk mengambil gambar matahari senja dengan smartphone miliknya.

“Bagaimana gambarnya? Bagus?” Tanya Om Burhan ketika Mila telah kembali dan duduk di kursi pantai yang ada di sebelahnya.

“Lumayan Om. Cukup baik untuk fotografer amatir seperti aku, hee” ujar Mila.

“Sering-sering latihan saja. Nanti juga bisa lebih baik,” ujar Om Burhan sambil tersenyum. Mereka berdua pun memandangi matahari yang tengah menuju terbenam.

“Om, Mila mau tanya,” ujar Mila tiba-tiba. Matanya kini menatap tajam Om Burhan.

“Tanya apa Mil?” Jawab Om Burhan sambil balas memandang perempuan cantik tersebut.

“Wanita seperti apa yang Om suka?”

“Hmm, wanita yang cantik tentunya. Selain itu dia juga mandiri, menyenangkan, enak diajak ngobrol, dan yang pasti harus sayang dengan anak Om,” tutur Om Burhan.

Keduanya pun terdiam sambil terus memandang mata pasangannya. Keduanya kini telah terduduk di kursi pantai mereka masing-masing, dan saling berhadapan. Kaki mereka telah sama-sama menjejak di pasir.

Om Burhan kemudian mengambil inisiatif untuk mendekati Mila, dan berlutut di hadapannya. Mila hanya diam, dan merasakan degupan jantungnya yang makin lama makin kencang. Om Burhan kemudian mengangkat tangan kanannya, dan membelai kepala Mila yang masih tertutup jilbab. Ia mengusap-usap sisi kiri kepala Mila, hingga ke telinganya. Belaian tersebut kemudian berpindah ke pipi Mila. Om Burhan pun bisa merasakan betapa halus kulit wajah perempuan muda tersebut.

Diperlakukan seperti itu, Mila hanya bisa memejamkan mata. Ia tidak sabar menunggu apa lagi yang akan dilakukan Om Burhan kepadanya. Suasana pantai yang indah dan matahari terbenam benar-benar membuatnya lupa akan status mereka berdua. Mila kemudian merasakan tangannya digenggam oleh Om Burhan, lalu disentuhkan ke bibir pria tua tersebut. Om Burhan mengecup punggung telapak tangannya.

Mila kemudian membuka mata, dan melihat Om Burhan tengah tersenyum di hadapannya. “Sudah malam, kita pergi makan malam, yuk,” ajak Om Burhan.

Pria tua tersebut tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mila. Perempuan cantik tersebut pun seperti tidak marah diperlakukan seperti itu. Mereka berdua pun kembali ke kamar untuk bersiap-siap makan malam sambil bergandengan tangan, seperti sepasang sejoli yang tengah dimabuk cinta.

Malam itu, mereka berdua tidur seperti biasa, di tempat tidur mereka masing-masing. Namun keesokan harinya, Mila kembali tidak melihat Om Burhan di ranjangnya. Sepertinya pria tersebut kembali harus menghadiri pertemuan bisnis hari ini.

“Hari ini aku harus ke mana ya?” Pikir Mila dalam hati. Ia kemudian memutuskan untuk menghabiskan hari dengan pergi ke spa dan tempat pijat. Semalam ia kembali diberikan uang oleh Om Burhan. Karena itu, tidak ada salahnya kalau dia menggunakan uang tersebut untuk membuat tubuhnya menjadi lebih cantik di hadapan Om Burhan. Mila pun mencoba mencari tempat pijat terbaik di Bali lewat internet, kemudian pergi ke sana.

Mila baru kembali ke hotel pada malam hari. Ketika masuk ke kamar, ia kembali tidak menemukan Om Burhan di sana. Namun ia melihat sesuatu yang berbeda di tempat tidurnya, yang kini dipenuhi dengan berbagai barang.

Saat mendekat, Mila akhirnya melihat sebuah atasan kebaya berwarna merah muda yang begitu cantik, lengkap dengan kain tradisional berwarna senada yang cocok untuk dijadikan bawahan. Tak hanya itu, ia juga melihat sepasang sepatu yang entah bagaimana memang pas di kakinya, serta sebuah kalung cantik yang harganya pasti cukup mahal. Ia pun merasa senang melihat barang-barang tersebut. Di sebelahnya, ada sebuah amplop yang berisi secarik kertas. Mila pun membaca isinya.

“Mila, besok kita berdua akan makan malam dengan rekan bisnis Om di sebuah restoran mewah. Om ingin kamu terlihat cantik dengan pakaian dan kalung ini. Sampai ketemu besok.”

Mila pun tidak bisa menutupi rasa senangnya. Ia pun langsung memeluk pakaian cantik tersebut dan menghirup baunya yang harum. Dalam hati, Mila tidak sabar untuk segera menyambut hari esok.

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 15 | Penghianatan Sahabat Part 15 – END

(Penghianatan Sahabat Part 14)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 16)