Penghianatan Sahabat Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 14

Start Penghianatan Sahabat Part 14 | Penghianatan Sahabat Part 14 Start

Selama beberapa hari terakhir, Mila terus dilanda kegalauan. Ia masih bingung pilihan mana yang harus ia pilih, merelakan kehidupan keluarganya bangkrut, atau menuruti permintaan Om Burhan. Bila memilih pilihan pertama, ia khawatir ayahnya akan menjadi stres dan pendidikan adiknya pun menjadi bermasalah. Namun apabila memilih pilihan kedua, ada kemungkinan ia harus melepaskan keperawanannya pada pria tua bangka bernama Burhan.

Kegalauan Mila ini tidak dirasakan oleh ayahnya. Ketika Mila pulang dari bank, perempuan muda tersebut hanya mengatakan bahwa urusan pinjaman telah selesai, dan bank telah setuju untuk memundurkan waktu pembayaran pinjaman tersebut. Pak Syamsul pun bahagia mendengarnya. Ia langsung memeluk tubuh anaknya yang sintal. Ia tidak tahu bahwa ada syarat tambahan yang harus dipenuhi agar masalah pinjaman tersebut bisa selesai.

“Ayah bilang juga apa, kamu memang cocok banget dalam urusan negoisasi seperti ini,” ujar Pak Syamsul sambil tertawa.

Mila akhirnya berusaha untuk meminta saran dari orang-orang terdekatnya, namun ia bingung harus memulai dari siapa. Ia jelas tidak bisa membicarakan hal ini kepada keluarganya. Memang ada Wulan yang merupakan sahabat terbaiknya, namun apabila Mila menceritakan semuanya pada Wulan, perjanjian dengan Om Burhan pun menjadi batal.

“Ahh, Egi,” ujar Mila.

Mila pun berusaha menelepon Egi di malam hari, berharap pacarnya tersebut telah pulang dari kantor. Alangkah kecewa dirinya ketika mengetahui bahwa sang pacar masih sibuk bekerja hingga pukul sepuluh malam, dan terus menolak permintaannya untuk bertemu. Ia merasa benar-benar kesal kepada pacarnya tersebut.

Perempuan tersebut berusaha mengingat-ingat lagi siapa yang bisa ia hubungi. Mila pun berusaha untuk menelepon Irfan, namun setelah beberapa kali mencoba, teleponnya selalu masuk ke voice mail. Mila tidak tahu bahwa pada waktu yang sama Irfan sedang asyik mengobrol dengan sahabat baiknya, Wulan. Awalnya Irfan hanya menelepon untuk urusan leasing, namun lama kelamaan ia juga menelepon untuk urusan pribadi.

“Sepertinya aku memang harus memecahkan masalah ini sendiri,” ujar Mila dalam hati.

Ia pun coba mencari ide dengan cara menonton film-film yang berkisah tentang bagaimana seorang perempuan muda bisa menghindar dari jeratan bandot-bandot tua seperti The Firm, Angels & Demons, hingga membaca buku-buku Sidney Sheldon. Dari situ ia mendapat beberapa ide, mulai dari menggunakan obat tidur, membuat pria tua tersebut cepat orgasme sehingga mereka tidak sempat merusak keperawanannya, hingga mencabut nyawa pria tersebut.

Namun ada beberapa masalah terkait ide-ide itu. Soal obat tidur, Mila tidak tahu harus mendapatkannya di mana. Apalagi bila harus membunuh, kasihan nanti Wulan harus hidup tanpa ibu dan ayah. Ide kedua sepertinya menarik, karena Mila sendiri merasa sudah ahli dalam membuat pria orgasme, terutama dengan metode blowjob. Namun bagaimana kalau rangsangan Mila justru membuat Pak Burhan makin bersemangat untuk menggagahi dirinya.

Ia pun coba menemukan cara-cara yang lebih kreatif dan masuk akal untuk menghindar dari jeratan Om Burhan. Ia menuliskannya dalam aplikasi catatan di dalam smartphone miliknya, agar tidak lupa. Akhirnya ia pun memutuskan untuk tetap menemani Om Burhan pergi ke Bali, dan langsung menghubungi nomor yang diberikan Om Burhan kemarin.

“Om.”

“Halo, Mila. Apa kabar?” Tanya Om Burhan dari ujung telepon.

“Gak usah basa-basi Om,” ujar Mila ketus. “Aku sudah memutuskan, akan ikut Om ke Bali minggu depan.”

“Wah, Om senang mendengarnya. Om jadi nggak sabar ingin cepat bersenang-senang denganmu, hee,” ujar Om Burhan. “Kirim KTP kamu lewat WhatsApp ya, biar Om bisa langsung memesan tiketnya.”

Mila pun langsung mengirim foto KTP miliknya, lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia bertanya-tanya apakah ini adalah keputusan yang tepat? Karena bila tidak, masa depannya akan menjadi taruhan.

“Ayah, lusa aku mau pergi ke Bali,” ujar Mila pada suatu malam kepada ayahnya.

“Lho, koq mendadak banget?”

“Sebenarnya sudah direncanakan sejak lama mau jalan-jalan ke sana, tapi baru sempat bilang sekarang,” jawab Mila beralasan.

“Sama siapa ke sana? Sama Egi ya?” Ujar Pak Syamsul sambil tersenyum.

“Nggak kok, sendiri aja. Egi lagi sibuk sama kerjaan di kantornya.”

“Oh, kamu berani ke sana sendiri? Gak mau ditemenin sama siapa gitu?”

“Gak apa-apa Ayah. Mila bisa kok ke sana sendiri,” ujar Mila sambil tersenyum. Ia tak mau membuat ayahnya khawatir, apalagi memberitahu bahwa ia ke sana untuk menemani seorang pria tua bernama Burhan Djatmiko.

Saat hari keberangkatan tiba, Wulan pun mengikuti arahan dari Om Burhan. Ia naik sebuah mobil transportasi online menuju Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Setelah itu, ia pun langsung menuju sebuah restoran yang disebutkan Om Burhan.

Hari itu Mila sengaja tampil begitu tertutup. Ia mengenakan baju atasan yang longgar dan jilbab yang menutupi dadanya yang besar. Namun ia tetap mengenakan celana jeans favoritnya yang cukup ketat membentuk kakinya yang indah. Pakaian itu sangat berbeda dengan apa yang ia kenakan ketika pergi ke mall bersama Irfan, karena saat itu Mila justru sengaja menggunakan pakaian yang bisa memancing birahi sahabat pacarnya tersebut.

“Semoga saja Om Burhan membatalkan niatnya untuk berbuat jahat padaku apabila melihat aku berpenampilan seperti ini,” ujar Mila dalam hati.

Beberapa saat kemudian, ia pun melihat Om Burhan yang sedang duduk menikmati makanan di salah satu restoran cepat saji yang ada di bandara tersebut. Makanannya tampak sudah habis setengah piring. Pria berusia 50an tahun tersebut pun tersenyum melihat kedatangan Mila.

“Ayo pesan makanan, Mil,” ujar Om Burhan begitu Mila duduk di kursi yang ada di hadapannya.

“Gak usah, Om. Mila nggak lapar,” ujar Mila ketus. Terlihat jelas dari raut wajah Mila bahwa sebenarnya ia tidak mau menemani Om Burhan untuk pergi ke Bali. Ia melakukan itu hanya karena terpaksa.

“Om tahu kamu gak suka dengan perjalanan ini. Tapi kamu harus menjaga kesehatan diri kamu sendiri. Kalau kamu pingsan karena kelaparan, nanti pasti Om yang akan menggendong tubuh seksi kamu itu,” ujar Om Burhan.

Dalam hati, Mila membenarkan ucapan Om Burhan tersebut. Bila ia tidak ingin disentuh oleh Om Burhan selama di Bali, ia tidak boleh menahan lapar yang nantinya justru bisa membuat dirinya pingsan. Bila ia pingsan, tentu Om Burhan akan leluasa menyentuh tubuhnya yang indah dengan alasan ingin menyelematkannya. Ia pun langsung memanggil pelayan dan memesan sebuah menu.

“Om suka kamu pakai baju begini, terlihat lebih menawan,” ujar Om Burhan.

Mila hanya diam, tidak menjawab. Ini adalah salah satu strategi Mila untuk menghindar dari Om Burhan. Bila Om Burhan tak suka, ia akan mengatakan bahwa perjanjian mereka adalah Mila hanya akan menemani Om Burhan di Bali, tidak ada syarat untuk terus berbicara selama perjalanan. Namun dalam hati Mila sebenarnya merasa sedikit berbunga-bunga dipuji seperti itu.

“Ini tiket kamu, jangan lupa siapkan KTP sebelum naik pesawat,” jelas Om Burhan sambil memberikan selembar tiket.

Mila cukup terkejut karena mereka nanti akan duduk di kelas bisnis, dengan pilihan maskapai yang termahal di Indonesia. Om Burhan sepertinya sangat royal untuk urusan kenyamanan seperti ini. Ia pun bisa membayangkan betapa asyiknya perjalanan ke Bali nanti. Sayang ia terbang tidak bersama pacarnya, Egi. Mila juga tidak terbang dengan sahabat baiknya, Wulan. Mila justru menikmati kenyamanan tersebut bersama pria tua mesum yang ada di hadapannya.

Sepanjang perjalanan ke Bali, Mila terus mencoba untuk diam. Ia hanya mengeluarkan suara di depan para petugas penerbangan, termasuk kepada para pramugari yang menawarkan makanan dan minuman. Namun ia tidak tahan ketika Om Burhan terus memandangi wajahnya sambil tersenyum tanpa berhenti.

“Om kenapa sih melototin Mila terus? Malu tahu sama penumpang yang lain,” ujar Mila dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar banyak orang.

“Habis di samping Om ada bidadari cantik, tapi sayang mulutnya bisu,” ujar Om Burhan sambil tertawa.

“Gak lucu,” ujar Mila ketus. Meski di dalam hati ia tak bisa berbohong kalau ia merasa senang dipuji seperti itu. Pujian yang kini telah jarang muncul dari Egi, pacarnya.

Sesampainya mereka di Bali, hari telah menjelang sore. Om Burhan ternyata sudah menyewa mobil untuk mereka gunakan selama berada di Bali. Di bandara, seorang pria menemui mereka untuk menyerahkan kunci mobil tersebut. Pria tersebut pun berinisiatif untuk membawakan koper Om Burhan dan Mila. Mereka bertiga langsung berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil mobil.

Saat akan menyeberang, tiba-tiba Om Burhan menarik tubuh Mila hingga menghadap ke arahnya. Tangan kanan Om Burhan menggenggam pinggang Mila, sedangkan tangan kirinya menahan punggung perempuan cantik itu. Posisi mereka pun seperti pasangan yang sedang berpelukan. Mila kaget sekaligus marah. Ia merasa lelaki tua tersebut sepertinya telah mulai menjalankan aksinya untuk menikmati kehangatan tubuh Mila.

“Om apa-apaan sih ta …” Mila menghentikan ucapan marahnya ketika menyadari di belakangnya ada mobil yang lewat dengan laju yang kencang. Om Burhan pun langsung melepaskan kembali genggaman tangannya dari tubuh Mila.

“Maaf, Om cuma takut kamu ketabrak mobil tadi aja,” jawab Om Burhan yang langsung melanjutkan perjalanan menuju tempat parkir, meninggalkan Mila yang bingung harus mengatakan apa terkait kesalah pahaman tersebut.

Ketika mereka telah sampai di mobil, Om Burhan memberikan sejumlah tip untuk pria yang telah menyewakan mobil dan membantu membawakan barang tersebut. Ia kemudian langsung mengemudikan mobil tersebut keluar dari bandara.

“Kamu lapar kan? Kita makan dulu yuk sebelum ke hotel,” ujar Om Burhan.

“Iya Om,” jawab Mila singkat. Ia masih tidak enak dengan kejadian tadi, dan berusaha untuk hanya fokus memandang jalanan yang dipenuhi kendaraan berplat DK tersebut.

Mereka pun sampai di tempat yang dituju oleh Om Burhan. Tempat tersebut berada di tepi pantai, dengan kursi dan meja tamu yang berada di atas pasir, benar-benar dekat dengan bibir pantai. Tercium bau asap yang lezat hasil pembakaran hewan-hewan laut dari berbagai restoran yang berjejer di lokasi tersebut. Om Burhan pun mengajak Mila untuk masuk ke salah satu restoran dan duduk di meja yang paling dekat dengan laut.

“Kamu pernah ke sini?” Tanya Om Burhan.

“Belum, Om.”

“Ini namanya Jimbaran. Setiap ke Bali, Om selalu menyempatkan makan di sini,” ujar Om Burhan sambil tersenyum.

Mila pun memandang ke sekeliling. Tempat tersebut memang terlihat begitu indah, apalagi dengan matahari yang mulai terbenam di ufuk. Mila merasa seakan tengah berada di surga ketenangan. Dalam hati ia berterima kasih kepada Om Burhan yang sudah mengajaknya ke tempat ini.

“Om.”

“Iya, Mila.”

“Mila mau minta maaf soal tadi di bandara,” ujar Mila sambil menatap mata Om Burhan.

“Haa, sudah jangan dipikirkan. Asal jangan tiba-tiba tampar Om di tempat umum ya, bisa berurusan dengan polisi nanti kita,” jawab Om Burhan yang masih terus memasang senyum di bibirnya sejak berangkat dari Jakarta.

Om Burhan kemudian berbalik menatap matahari yang tengah dalam proses terbenam. Semburat warna oranye memenuhi langit, seolah memanjakan mata para manusia yang sedang berkumpul di pantai tersebut. “Terima kasih Mila, sudah menemani Om ke sini,” ujar Om Burhan sambil tetap memandang ke arah matahari terbenam.

Hati Mila terasa hangat mendengar kata-kata tersebut. Ia merasa kata-kata itu memang tulus dari dalam hati Om Burhan.

Sekitar dua jam kemudian, Mila dan Om Burhan pun selesai menyantap berbagai makanan yang lezat, mulai dari kepiting, kerang, cumi, udang, hingga berbagai olahan sayur. Mereka pun menghabiskan dua kelapa muda untuk menghilangkan dahaga. Dengan perut yang sangat kenyang, mereka langsung kembali ke mobil dan bergerak menuju hotel.

Pak Burhan menghentikan mobilnya di sebuah hotel yang cukup mewah. Hotel tersebut mempunyai pintu masuk yang berkesan eksotis dan berada tepat di pinggir pantai. Pak Burhan pun langsung menuju resepsionis untuk mendapatkan kunci kamar.

Saat naik ke lift untuk menuju kamar, Mila tampak begitu tegang. Terlepas dari apa yang terjadi sebelumnya, momen ini adalah saat pembuktian apa sebenarnya niat Om Burhan mengajaknya ke sini. Ia melihat Om Burhan hanya membawa satu kunci hotel, tanda bahwa mereka akan tidur satu kamar malam ini.

Kamar mereka berdua ternyata berada cukup dekat dari lift. Om Burhan langsung membuka pintu kamar dan mempersilakan Mila untuk masuk. Perempuan cantik tersebut berusaha sangat hati-hati dan waspada ketika bergerak, khawatir Om Burhan secara tiba-tiba akan memeluknya dari belakang. Untungnya, Om Burhan tetap diam sampai Mila dan kopernya masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu.

Mila cukup terkejut ketika berada di dalam kamar, karena ternyata di kamar itu ada dua ranjang yang terpisah. Mila sebelumnya membayangkan dirinya dan Om Burhan akan tidur di atas sebuah ranjang bersama.

“Kamu gak masalah kan tidur satu kamar dengan Om?” Ujar Om Burhan tiba-tiba dari belakang Mila.

“Iya, nggak apa-apa Om.” Mila merutuki dirinya sendiri mengapa membalas seperti itu. Ia menyadari bahwa ini semua salah. Pergi ke Bali bersama Om Burhan adalah suatu kesalahan. Menginap satu kamar dengan Om Burhan lebih salah lagi. Namun ia tidak mengetahui apa jalan keluar dari semua kesalahan ini.

“Om mandi duluan yah,” ujar Om Burhan.

Pria tua tersebut langsung membuka koper miliknya di salah satu tempat tidur. Om Burhan mengeluarkan beberapa barang seperti peralatan mandi dan celana dalam pengganti. Mungkin itu artinya ia sudah langsung memilih tempat tidur itu, dan Mila pun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang lain.

Secara tiba-tiba, Om Burhan melepaskan bajunya satu per satu. Mulai dari kemeja hitamnya yang kemudian ia lempar ke atas ranjang. Setelah itu ia pun melepaskan kaos dalamnya yang berwarna putih, hingga ia kini telanjang dada. Mila pun bisa dengan jelas melihat bentuk tubuh Om Burhan yang tampak masih perkasa di usianya yang kian senja. Tubuh Om Burhan saat muda dulu jelas lebih bagus dibanding Irfan maupun Egi.

Om Burhan pun mulai melepaskan ikat pinggang, dan menurunkan resleting celana panjangnya. Ia kemudian melepaskan celana panjang tersebut dan melemparkannya lagi ke ranjang. Mila jadi bisa melihat betis dan paha Om Burhan yang berbulu cukup lebat. Ayah dari Wulan tersebut kini hanya mengenakan sebuah celana boxer.

Secara sekilas, Mila bisa melihat tonjolan di balik celana tersebut, dan menyadari bahwa Pak Burhan mempunyai karakter yang serupa dengan Irfan, lelaki berpenis besar. Selangkangan Mila pun langsung menghangat. Perasaan ini sebelumnya juga ia rasakan ketika melihat tonjolan di kemaluan Irfan. Untungnya, Om Burhan setelah itu langsung menuju kamar mandi dan menutup pintunya, sehingga syahwat Mila pun berhasil ditahan.

Beberapa menit kemudian, Om Burhan telah selesai dan keluar dari kamar mandi. Ia masih mengenakan celana boxer saja, dengan dada dan betis yang terbuka. Bau sabun pria yang terasa begitu jantan pun menyerbak ke seantero ruangan. Mila pun buru-buru masuk ke kamar mandi, agar tidak melihat Om Burhan saat mengenakan pakaian.

Setelah selesai mandi, Mila pun langsung mengenakan pakaian tidur yang telah ia bawa sebelumnya ke kamar mandi, yaitu sebuah kaos lengan panjang dan celana yang juga panjang. Keduanya sama-sama berwarna merah muda. Karena rambutnya masih basah karena baru diberi shampoo, Mila pun memutuskan untuk keluar tanpa mengenakan jilbab.

Di dalam kamar, Om Burhan sedang berdiri di depan televisi untuk memilih channel yang ingin ia tonton. Saat Mila ingin melewatinya dan menuju ke tempat tidurnya, telapak kaki Mila yang masih basah pun membuatnya sedikit terpeleset. Dengan sigap, Om Burhan langsung menangkap tubuhnya.

Perlahan, Om Burhan menarik wajah Mila agar mendekat ke arah wajahnya. Diperlakukan seperti itu, jantung Mila berdegup kencang. Dalam hati Mila ingin segera bergerak menjauh, namun jasadnya memilih untuk tetap bertahan di posisi tersebut. Kini ujung hidung mereka berdua telah bersentuhan, dengan hanya ada beberapa senti jarak memisahkan bibir Om Burhan dan bibir Mila.

“Selamat tidur, Mila cantik,” desis Om Burhan. Pria tua tersebut perlahan melepaskan tubuh Mila dan langsung beranjak ke tempat tidurnya untuk merebahkan tubuh. Mila pun melakukan hal yang sama di tempat tidurnya. Namun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia telah kehilangan kata-kata diperlakukan seperti itu oleh Om Burhan.

Beberapa menit kemudian, kedua insan yang sudah lelah tersebut pun tidur di ranjang mereka masing-masing.

Di pagi hari, Mila terbangun dengan kondisi yang sangat nyaman. Setelah perjalanan dengan pesawat dan makan malam di Jimbaran, menginap di hotel yang nyaman merupakan penutup hari yang sangat tepat. Namun ia langsung tersadar bahwa ia tidak sendirian berada di kamar hotel tersebut.

Mila langsung memeriksa pakaiannya, semua masih lengkap. Tidak ada tanda sudah dibuka oleh orang lain selain dirinya. Selimutnya pun masih berada di tempat yang seharusnya. Ia menoleh ke tempat tidur Om Burhan, sudah tidak ada orang di sana. Mila pun menghembuskan nafas lega. Ia mengambil smartphone untuk memeriksa jam, ternyata sudah jam tujuh pagi.

“Hoaaahhmm,” terdengar suara menguap dari mulut Mila. Begitu nyamannya tempat tidur tersebut, membuat ia tidak ingin pergi ke mana-mana. Namun ia langsung menyadari bahwa perutnya yang kosong perlu diisi, sehingga ia pun harus turun ke restoran di lantai bawah untuk sarapan.

Alangkah terkejutnya Mila begitu ia melihat ada beberapa piring makanan untuk sarapan di meja yang ada di kamar tersebut. Terlihat secarik kertas di atas piring-piring tersebut. Ia pun mengambil kertas tersebut dan membaca tulisan di atasnya.

“Selamat pagi, Mila. Maaf Om tidak membangunkan kamu, karena sepertinya kamu tidur sangat pulas. Ini sarapan untuk kamu, jadi kamu tidak perlu repot-repot ke bawah,” Mila tersenyum. Ia tidak bisa membantah bahwa apa yang dilakukan Om Burhan telah membuatnya tersanjung.

“Om ada pertemuan bisnis hari ini, jadi Om langsung berangkat. Silakan kalau kamu mau jalan-jalan keluar, kabari saja kalau kamu butuh bantuan. Ada sebuah amplop di meja, di dalamnya ada uang. Pakai saja uang tersebut untuk jalan-jalan dan makan. Sampai ketemu.”

Dengan cepat Mila bisa menemukan amplop tersebut. Di dalamnya terdapat lebih dari sepuluh lembar uang seratus ribuan, lebih dari cukup sebenarnya untuk biaya jalan-jalan dan makan untuk sehari. Mila kemudian bergerak ke arah jendela kamar, dan melihat sebuah pemandangan tepi pantai yang sangat indah. Dalam hati ia merasa sangat senang dengan pengalaman ini, tapi ia justru menjadi bingung.

“Apa yang sebenarnya diinginkan Om Burhan dari diriku,” gumamnya pelan.

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 14 | Penghianatan Sahabat Part 14 – END

(Penghianatan Sahabat Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 15)