Penghianatan Sahabat Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 11

Start Penghianatan Sahabat Part 11 | Penghianatan Sahabat Part 11 Start

Pagi itu, Mila akhirnya menceritakan kepada Wulan apa yang sebenarnya terjadi. Pak Syamsul sebenarnya sempat meminjam uang kepada bank untuk mengembangkan bisnis. Untuk mendapatkan pinjaman tersebut, Pak Syamsul pun harus memberikan sertifikat rumah yang mereka tinggali tersebut kepada pihak bank sebagai jaminan.

Sebentar lagi, pinjaman tersebut akan jatuh tempo, dan Pak Syamsul harus membayar seluruh uang yang ia pinjam beserta bunganya. Mila sudah berkali-kali mengingatkan ayahnya untuk selalu membayar pinjaman tepat waktu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun Pak Syamsul sering mempunyai pendapat yang berbeda dengan anaknya tersebut. Saat ini, permintaan akan barang jualan Pak Syamsul tengah meningkat, terutama dari luar Pulau Jawa. Berkali-kali rekan bisnis Pak Syamsul di kota lain meminta tambahan barang untuk dijual. Pak Syamsul pun tergoda untuk mengambil seluruh peluang tersebut.

Uang yang seharusnya digunakan untuk melunasi pinjaman, akhirnya ia gunakan kembali untuk memproduksi barang, dan mengirimnya ke luar kota. Mitra bisnis Pak Syamsul yang ada di kota lain tersebut nantinya baru akan mengirim uang begitu barang tersebut mereka terima. Beberapa mitra yang lain bahkan baru mau membayar setelah berhasil menjual barang tersebut.

Berita tsunami yang baru saja muncul di televisi merupakan kabar buruk bagi Pak Syamsul dan Mila. Menurut perkiraan keduanya, kapal laut yang membawa kontainer berisi barang jualan mereka tengah berlayar ke Padang saat tsunami tersebut terjadi.

“Cepat telepon perusahaan logistik itu, Ayah. Pastikan barang kita aman,” teriak Mila kepada ayahnya.

“Iya, sabar. Ini juga Ayah sedang telepon,” ujar Pak Syamsul.

Beberapa menit kemudian, Pak Syamsul dan Mila pun mendapat kepastian bahwa kapal yang membawa barang mereka hanyut tersapu tsunami. Seluruh barang jualan mereka pun tidak bisa diselamatkan. Hilang sudah semua uang yang telah mereka gunakan sebagai modal.

Mila pun terdiam memendam amarah kepada ayahnya. Namun ia tidak tega melepaskan kemarahan tersebut karena ada Wulan yang sedang menginap di situ. Temannya tersebut pasti akan merasa sangat tidak nyaman apabila ia ribut dengan ayahnya.

Namun Wulan ternyata mengerti situasi yang sedang terjadi di hadapannya, dan memutuskan untuk pulang lebih cepat. “Mila, Pak Syamsul, Wulan pulang dulu yah. Takut nanti dicari Ayah,” ujar perempuan cantik tersebut sambil tersenyum.

“Kamu mau aku antar?” Tanya Mila.

“Gak usah, Mil. Kamu selesaikan saja dulu masalah kamu dan ayah. Jangan ragu untuk menghubungi aku apabila kalian butuh bantuan,” jawab Wulan dengan lembut, seolah berusaha menenangkan Mila dan Pak Syamsul yang sama-sama sedang dalam perasaan kecewa, marah, dan emosi.

Mila pun memeluk tubuh sahabatnya tersebut. Ia merasa sangat beruntung mempunyai sahabat sebaik Wulan. Setelah membereskan barang-barang yang ia bawa, Wulan pun langsung memesan transportasi online untuk kembali ke rumahnya.

Setelah Wulan pergi, Mila dan ayahnya pun berusaha mencari solusi terbaik dengan kepala dingin. Mereka coba menghubungi mitra bisnis sang ayah yang berada di Padang, namun mereka mengaku tidak mempunyai uang saat ini. Tidak hanya barang yang dikirim Pak Syamsul, barang-barang lain yang mereka pesan pun banyak yang ikut hanyut ditelan tsunami. Kerugian mereka sudah tidak dapat dibayangkan lagi.

Pak Syamsul kemudian berusaha untuk menghubungi teman-teman terdekat dan keluarganya, namun hampir semuanya menolak dengan alasan sedang tidak punya uang. Kalaupun ada yang bersedia memberi uang, apa yang mereka miliki pun tidak cukup untuk membayar pinjaman ke bank. Pak Syamsul dan Mila pun mulai kehabisan akal.

“Oke, begini saja Mil. Besok kamu coba bicara baik-baik dengan pihak bank, minta tolong kepada mereka untuk memberikan keringanan. Bila gagal, kita coba cara terakhir dengan menjual toko, mobil, dan aset-aset kita untuk membayar pinjaman rersebut. Kalau perlu adik kamu berhenti kuliah saja dulu,” ujar Pak Syamsul pasrah.

“Mengapa harus Mila yang bicara dengan orang bank?” Ujar Mila ketus. Ia sebal dengan ayahnya yang seperti melepas tanggung jawab.

“Kamu kan lebih paham soal begini. Kamu pun pandai bernegoisasi. Kalau ayah yang maju, nanti ayah bisa kehabisan alasan.”

Itu alasan yang logis menurut Mila. “Baiklah. Tapi kalau berhasil, Ayah harus janji gak akan menentang Mila lagi dalam hal yang berbahaya seperti ini,” ujar Mila.

“Iya Mila, Ayah janji.”

Keesokan harinya, Mila pun berdandan sebaik mungkin sebelum pergi ke bank. Tak hanya itu, ia pun telah mempersiapkan sejuta alasan yang akan ia sampaikan kepada pegawai bank yang menerimanya nanti, tentang mengapa mereka harus memberi keringanan kepada Mila dan ayahnya. Sekitar pukul sebelas siang, ia pun sampai di bank tempat ayahnya mengajukan pinjaman.

Setelah bicara dengan customer service yang ada di lantai 1, Mila pun diarahkan untuk langsung menuju bagian administrasi kredit di lantai 3. “Nanti langsung saja bertemu dengan Bu Lisa,” ujar petugas tersebut dengan ramah.

Bank tersebut tampak tidak begitu ramai hari ini. Mila melewati lantai 2 yang ternyata merupakan tempat kerja Teller, yang bertugas menerima setoran dari nasabah dan memproses transaksi. Mila pun langsung naik satu lantai lagi, dan dengan mudah menemukan sebuah ruangan yang bertuliskan nama Lisa Utami.

“Selamat siang, Bu,” ujar Mila setelah mengetuk pintu ruangan tersebut.

“Siang, silakan masuk,” ujar Lisa. Perempuan berdarah Manado tersebut pun langsung mempersilakan Mila untuk duduk.

Dengan tenang, Mila pun menceritakan keperluannya. Ia berusaha jujur dan tidak menutupi apa-apa, mulai dari hutang ayahnya, tsunami yang terjadi di Padang, hingga maksud dan tujuan dia datang hari ini. Tak lupa Mila menjelaskan bagaimana rencana dia untuk membayar hutang tersebut di kemudian hari. Yang terpenting baginya adalah, bank jangan sampai menyita rumah yang telah ia tinggali sejak kecil itu.

“Saya berharap kebijakan Bu Lisa untuk menangguhkan waktu jatuh tempo pinjaman ayah saya selama beberapa waktu,” ujar Mila.

“Baik, saya terima permintaan kamu,” ujar Lisa. Mila pun kaget dengan jawaban itu. Ia tidak mengira semuanya akan berlangsung dengan sangat mudah dan cepat. Ia mencurigai ada sesuatu yang salah dari kata-kata perempuan tersebut. “Namun ada syaratnya,” lanjut Lisa.

“Syaratnya apa, Bu?”

Tiba-tiba Mila mendengar suara pintu ruangan di belakangnya dibuka dari luar. “Syaratnya adalah, kamu harus menemani saya selama seminggu ke Bali.”

Mila pun menoleh ke belakang. Ternyata suara tersebut berasal dari seorang pria yang sangat ia kenal. Pria berusia sekitar 50an tahun tersebut adalah ayah dari teman baiknya, yaitu Om Burhan.

“Apa maksud Om?” Tanya Mila heran.

“Sepertinya sudah jelas ya. Lisa akan menyetujui penangguhan waktu jatuh tempo pinjaman ayah kamu, asalkan kamu mau menemani Om pergi ke Bali minggu depan,” ujar Om Burhan sambil menutup kembali pintu ruangan. Pria tua tersebut kemudian berjalan ke belakang kursi Lisa dan menepuk pundak perempuan berusia sekitar 30an tahun tersebut. “Betul begitu kan, Lisa?”

“Iya, betul sekali Mila. Saya akan menyetujui permintaan kamu, asalkan kamu memenuhi permintaan Om Burhan,” ujar Lisa dengan tatapan tajam ke mata Mila.

“Om apa-apaan sih. Mau aku adukan perbuatan Om ini pada Wulan?” Ujar Mila yang kini sudah sangat marah pada Om Burhan. Ia tidak menyangka orang tua sahabatnya yang selama ini ia hormati sampai tega mempunyai niat untuk mengajak dirinya melakukan sesuatu yang tidak pantas. Ia yakin maksud dari ‘menemani’ yang dikatakan Om Burhan adalah ia harus melayani lelaki tua tersebut di ranjang dan menyerahkan keperawanannya yang berharga. Ia pun tidak sudi melakukannya

Om Burhan hanya tertawa mendengar kata-kata Mila. “Kamu adukan saja pada anak saya. Dengan begitu, perjanjian kita pun batal, dan Lisa akan langsung memerintahkan timnya untuk menyita rumah kamu. Apa itu yang kamu inginkan?” Ujar Om Burhan sambil tersenyum sinis.

Mila pun terdiam. Ia kini sadar akan posisinya yang sangat tidak baik. Ia harus memilih antara menyelematkan ayah dan keluarganya dari ancaman kebrangkutan, atau menyerahkan keperawanan kepada Om Burhan. Dua pilihan yang sama-sama sulit baginya. Ia coba memandang Bu Lisa untuk meminta bantuan, tapi pimpinan bank tersebut sepertinya sudah tunduk sekali kepada Om Burhan. Entah ada hubungan apa di antara keduanya.

Om Burhan pun mendekati tempat duduk Mila. Ia dekatkan wajahnya ke wajah Mila, hingga hanya terpaut beberapa senti. Mila pun bisa menghirup bau khas minuman keras dari nafas Om Burhan. Om Burhan bahkan berani menyentuhkan hidungnya ke pipi Mila.

“Ini nomor telepon Om. Kalau sampai Om berangkat kamu tidak juga membuat keputusan, maka kamu sudah tahu apa akibatnya,” bisik Om Burhan di telinga Mila sambil memberikan secarik kertas ke tangan kanan Mila. Perempuan muda tersebut pun bisa merasakan bagaimana tangan Om Burhan menggenggam erat telapak tangannya.

Belum selesai rasa kaget Mila, Om Burhan pun langsung berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut. Kini tinggal Mila yang duduk sendiri dengan pikiran yang campur aduk. Ia benar-benar bimbang, dan bingung harus mengambil pilihan yang mana. Mencoba berpikir positif, Mila pun mengambil nafas dalam-dalam, dan melepaskannya dalam satu kali hembusan.

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 11 | Penghianatan Sahabat Part 11 – END

(Penghianatan Sahabat Part 10)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 12)