Pembokat Muda Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Tamat

Cerita Sex Dewasa Pembokat Muda Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Pembokat Muda Part 5

Kamipun memasuki jembatan yang menghubungkan tempat parkir dengan mall. Sepanjang jalan latri kelihatan riang. Seperti layaknya ABG aktif, dia ‘meloncat’ dari stand ke stand lain sambil memegang apapun yang berbau fashion dan pernak perniknya. Dan aku seperti om genit yang tolol mengikuti kemanapun arah langkahnya. Sesekali dia mengapit mesra tanganku sambil menunjukkan barang barang yang membuat dia tertarik.

Setiap kali pula aku menawarkan apakah dia mau membelinya, dan hampir setiap kali dia menolaknya, dia cuman mau windows shopping, katanya. Dan lucunya setiap kali ada orang memandang aneh kepada kami, karena (sumpah) ane emang nampak seperti om om genit yang baru nurutin keinginan ABG simpenannya, dia selalu (mungkin) dengan sengaja panggil aku ‘papa’ dengan keras. Mungkin latri mengira panggilan itu bisa mengaburkan pandangan negative mereka. Bisa aja ni anak. Seperti di salah satu boutique yang kita masukin.

“pah ini bagus ga?” kata latri dengan keras setelah dia memilih dan mencoba sebuah dress terusan dengan atasan model gombrong dan bawahan berupa rok mini yang ketat berwarna hijau gelap yang kontras dengan kulitnya yang putih

Aku tidak menjawab hanya tersenyum kalem sambil mengacungkan jempol

“putrinya pak?” tanya salah satu dari mereka, aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu

“udah besar ya? Padahal papanya masih muda gini” kata mbak itu semakin genit

“yah…aku bersyukur sekarang, do’a ku dijawab oleh Tuhan; kenakalan masa remajaku ternyata di ampuni oleh tuhan dengan mengirimkan malaikat cantik itu kepadaku” jawabku sedikit berteka teki

“ooo…terus mamanya? Eh, maaf lho pak, malah jadi nanya nanya, abis penasaran cii…hihihi…”

“pernah liat pernikahan usia dini bermasalah?” jawabku sambil meliriknya

“buuuuannyyaaaakk banget kalee pak, malah hampir semua…” jawabnya

“nah itulah yang terjadi” aku tersenyum lagi sambil mengangguk angguk ke arah latri ketika memberikan persetujuan atas baju lain yang sedang dia coba

“ooo…ic…mau dunk jadi mama nya…hihihi…” temennya ikut menimpali

Aku hanya tersenyum geli mendapati ‘sandiwara’ spontan kami di respon dengan sangat meyakinkan oleh orang orang itu. 20.30 kami duduk di restoran di meja yang memang sudah saya pesan sebelumnya. Beberapa tas belanjaan terpapar di samping kursi latri. Akhirnya belanja juga…

“makasih ya pah, malah jadi beli beliin latri yang macem macem…” katanya ketika pelayan yang mencatat pesanan kami berlalu

Aku hanya tersenyum memandang wajah dia. Entah apa yang ada di otakku

“iya, pemandangannya indah banget dari sini pah…kalau gak di ajak papah mana mungkin latri sampai ke tempat ini”

“iya, kadang papah kalau merenung suka ke sini sendirian, tempatnya adem dan inspiratif…”

“dan romantis…” timpalnya

“eh? Oya? Mnurut kamu gitu?” aku sedikit geli dengan kata itu

Latri hanya tersenyum.

***

Kami memasuki rumah pada jam 22.30. latri sedikit limbung di dukunganku karena mungkin sedikit mabok. Mabok? Yup, seperti kebiasaanku saat makan di laluna, aku pasti membuka wine untuk menemani tenderloin black pepper sauce yang ku pesan. Dan dia bersikeras untuk ngerasain wine. Sudah ku bilang itu mengandung alcohol, tapi dia maksa.

Setelah seteguk melewati tenggorokannya, dia bilang enak juga, ujung ujungnya kita open sampai dua botol. Buat anak yang (mungkin) seumur umur belum pernah minum alcohol, hasilnya ya teler. Fuih… emang badung ni anak!

Memasuki ruang tamu, aku tidak sabar menuntun langkahnya yang terhuyung, segera tubuh mungil itu aku gendong. Matanya yang setengah sadar, menatap manja kepadaku sambil tersenyum. Pikiranku mulai kacau. Entah kenapa dada kecil yang melengkung di boponganku dan sentuhan paha pada lenganku membuat libidoku terbakar. Kegilaanku tersulut, niatku untuk tidak sampai menidurinya karena sudah aku anggap anak sendiri aku khawatir akan segera pupus.

“pah…” panggilnya

“iya …” jawabku, masih menggendongnya

“malam ini latri bobo di kamar papa ya?” pintanya menggoda

“kamu mabuk…” kataku pendek

“mabuk cinta…” desahnya sambil menggeliat mengeratkan pelukannya kepadaku

Eh?

Aku geleng geleng kepala, mengabulkan keinginnannya aku menggendongnya berbelok ke kamarku. Sesampainya di sana langsung aku rebahin ke ranjangku. Ranjang yang sudah menjadi saksi bisu kebejatanku dalam menggumuli wanita wanita selain istriku.

Tubuh mungil itu tergeletak pasrah di sprei putih dalam terangnya lampu kamar yang memang sengaja aku nyalain semua. Menghindari aura romantis apapun yang bakalan mematahkan niatku untuk menjaganya.

“kamu mabok lat…cepat tidur, biar besok tidak pusing kepala…” bisikku lirih

“iya pah…aku mabuk…aku mabuk cinta pah…cinta sama papah…aku sayang papah…peluk aku pah…please…” jawabnya sambil menggeliat lalu mencengkeram bahuku kuat kuat

Aku melepaskannya dengan lembut lalu beringsut sambil garuk garuk kepala. Setengah mati aku menahan libidoku untuk tidak segera menggumuli dia dan menyodokkan kontolku ke lobang memeknya yang pastinya masih sempit dan legit. Aku bertahan mati matian. Tapi…kenapa aku bertahan mati matian? Rasa sayang kah? Ini gila! Ini membuatku gila! Dan semua kegilaan ini…Arrrgh!!

Latri sudah mulai tenang, aku membelai kepalanya, dan menatapnya lekat lekat lalu aku (entah dorongan dari mana) mengecup keningnya. Dia tersenyum. Kali ini harus aku akui lagi man! Senyumannya emang manis…lalu kelopak matanya yang memang sudah sayu itu perlahan menutup, sedetik kemudian desisan nafas halus sudah terdengar dari hidungnya.

Dia tertidur. Aku geleng geleng, lalu tertawa sendiri. Keluar dari kamar aku menghampiri kulkas dan mengambil satu botol air dingin. Ku teguk sampai setangah sedangkan setangahnya lagi aku siramkan ke kepalaku.

***

Selimut itu ku benerin, karena aku masih merasa dingin dan belum ingin bangun. Di dalamnya aku masih menggeliat dengan enggan, bersiap untuk tidur lagi, ya karena aku tahu hari itu aku libur…sampai guyuran kesadaran itu menghampiriku. Aku terlonjak.

Siapa yang menyelimutiku? Seingatku semalam, setelah mati matian bertarung dengan libidoku sendiri, aku keluar untuk minum air dingin dan mengguyur kepalaku, lalu aku merebahkan diri di sofa. Yap ini sofa yang sama dengan semalam, hanya plus selimut. Aku tersenyum menyadari kemungkinannya. Latri.

“eh, papah sudah bangun?” suara latri terdengar

Ternyata dia sudah mandi dan mulai bersih bersih rumah. Itulah salah satu yang membuat kami sayang sama dia, latri ni di luar usianya yang masih seumur jagung, dia rajin dan bertanggung jawab. Bahkan pada saat kita menawarkan untuk melanjutkan SMA aja di kota ini, dia menolak, dia bilang dia ikut keluarga kita untuk kerja dan membantu kami, bukan untuk merepotkan.

Akhirnya kita sepakat untuk mengikutkan dia ke program home schooling. Dengan ijazah nantinya setara SMA. Karena kita semua sayang dia. Sayang dia…mmm, kukira baru baru ini kata itu memiliki arti tersembunyi antara aku dan dia…or is it cuman buatku? GILA!!!

“yap…papah mau mandi dulu…” ujarku singkat sambil melompat bangun dari sofa ruang tengah, tempat aku tertidur semalam. Ough…kepalaku pusing banget, kemungkinan besar hasil kolaborasi antara alcohol, dinginnya guyuran air es dan nahan libido semalem. Kombinasi yang sadis!

“pah…” panggilan latri menghentikan langkahku

Aku melirik lalu berbalik dan mengangkat alisku, isyarat kepadanya untuk melanjutkan perkataannya. Terlihat rambutnya yang sedikit berombak masih basah sehabis keramas, dia memakai kaos putih agak longgar berpotongan leher lebar dengan hotpants pantai yang longgar pula. Seger cuy…

“latri…minta maaf, kalau semalam…merepotkan…dan…berlaku tidak sopan…yang…mungkin bikin papah tidak berkenan…latri gak tau kenapa latri berani berlaku seperti itu…maafin ya pah…”

“mmm…enak aja minta maaf gitu aja…kamu harus di hukum…” kataku bercanda sambil senyam senyum dan mengangkat-angkat alis

Latri tersenyum, lalu sambil mengangkat-angkat alis juga menirukanku, dia bilang “latri siap di hukum apapun pah…”

“apapun? Hmm…ntar deh papah pikirin hukumannya…” Aku berbalik sambil jual mahal

Dari sudut mata kulihat dia tersenyum genit sambil menjulurkan lidah. Awas ya!

***

Aku membalik Koran sabtu itu dengan enggan sambil bertengger di kursi santai samping kolam koi belakang rumah, relax sehabis mandi pagi di hari libur yang tenang itu. Aku memakai celana kombor putih dan baju dalem santaiku. Aku cuek kalau celana gomborku tidak menampung juniorku dengan sempurna. Jadi mahluk tengil itu kubiarkan leluasa menerobos celah di kaki celanaku sambil mengintip matahari pagi. Junior juga kadang pengin berjemur hehehe

ini pah kopinya suara latri terdengar

yup taroh aja di situ kataku sambil melirik sedikit dan masih sedikit focus ke Koran.

Lirikan sekilas itu ternyata tidak sebanding dengan efeknya. Posisi latri yang membungkuk menaroh kopiku di meja pendek itu membuat bagian leher kaos longgar yang dia kenakan membuka cukup lebar untuk ku dapat melihat BH coklat mungil yang membungkus dada kecil imutnya. Semerta merta junior bangkit. Dan kebangkitannya yang mendadak itu tentunya menghasilkan gerakan yang mengundang perhatian, karena junior memutuskan untuk bangkit di luar celana, menerobos celah lobang kaki celana yang gombrong.

ah! latri sepontan sedikit terlonjak, sambil memalingkan muka ketika melihat proses itu.

halah kaya ga pernah liat punya papa aja kamu liat dua kali lho papa mergokin latri ngintip papa ama mama berhubungan di sofa ruang tengah aku membela diri tak kalah sepontan

eh iya, abis latri kaget eh, anu pah, soal ngintip itu latri minta maaf, waktu itu anu pah mama mendesah cukup kenceng jadi kedengeran latri jadi penasaran eh maaf kalau itu membuat mood papa jadi down saat ngegituin mamah jawabnya terbata bata

Aku garuk gruk kepala sambil menyimpan si otong kembali ke kandangnya. Kalau ku katakan, aku tambah terangsang waktu liat dia ngintip karena di dalam bayanganku dialah yang ku entot wedew

eh, jadi kamu penasaran, lalu cepet cepet ngambil dildo mamah buat masturbasi sambil ngintipin mamah papah ML? Mmm ada sesuatu yang bener-bener harus kamu klarifikasi! kataku dengan akting sok marah

Latri menunduk di depanku, mimik mukanya kelihatan takut, tapi aku tahu matanya masih lirak lirik ke juniorku, aku biarkan itu.

betulkan? desakku lebih lanjut, masih akting sok marah

iya pah, maaf itu memang mainan burung-burungannya mama latri lancang minjem, tapi sudah latri cuci dan balikin lagi kok tapi latri salah, latri mohon maaf pah jawabnya polos dan sepontan jujur. Satu lagi yang kami suka dari latri, dia jujur dan mau bertanggung jawab. Tidak seperti pembantu lain yang lebih suka ngeles.

maksud papa hrmm (dehem krn canggung) walau dildo itu ukurannya sedikit kecil, tapi kalau kamu masukkan semua ke vagina kamu itu bisa merobek selaput keperawananmu

Latri mendengus dan tersenyum malu malu sambil masih menunduk

emang latri udah gak perawan pah katanya kemudian dengan enteng.

itulah kenapa latri malu sekali dengan kata kata latri semalam ke papah, latri saat itu seperti mengingkari status latri sendiri yang cuman pembantu dari desa yang sudah mendapatkan kasih sayang sedemikan banyak dari keluarga ini malah masih mau lancang mengharapkan papah maafin, latri serakah dan lagi pula, latri juga tidak ada yang bisa di persembahkan ke papah, misalkan papah menghendaki eee maksud latri anu kan latri lanjutnya

ayolah lat, kamu tau kami menyayangimu, kami tidak pernah melihat back ground kamu eee kalau kamu tidak keberatan, papa pengin tau masa lalu kamu, kok sampai latri bilang sudah tidak perawan itu gimana? Coba coba dengan pacar kamu, atau padahal latri kan baru 17 tahun ujarku memotong ucapan terbata-batanya sambil menggeser posisi duduk dan menepuk nepuk bantalan kursi yang aku duduki, memberi isyarat kepada latri untuk duduk di situ, berbagi kursi

ehmm latri mulai ceritanya dengan senyuman kecut, dia mengikuti isyaratku dan mulai duduk di sebelahku, berbagi kursi
latri tidak perawan bukan karena coba coba dengan pacar pah, tapi karena bapak latri lanjutnya

hah!! Maksudnya? aku kurang mencerna penjelasannya

kamu di perkosa sama bapak kamu? aku masih mencari penjelasan, karena setahuku latri sudah yatim sejak beberapa tahun, kalau aku gak salah denger berita, ayahnya meninggal dalam kecelakaan KA. Tapi kalau ada pengalaman kekerasan sexual, mungkin dia termasuk anak yang kedepannya memerlukan perlakuan khusus, biar tidak terjadi trauma. Well, as I told you, kami sekeluarga menyayanginya.

bukan begitu pah latri emang sudah tidak perawan dari SMP karena keperawanan latri di jual sama bapak untuk menutup hutang judinya lanjutnya dengan getir lalu emak tau, emang emak tidak melaporkanya ke polisi, tapi emak langsung minta cerai ke bapak dan melarang bapak mendekati keluarga kami, bapak langsung pergi dan tak berapa lama kemudian kami dengar bapak menjadi korban kecelakaan kereta arah ke Jakarta

eh? Oya? serius aku terkejut, ternyata latri yang selalu ceria mempunyai masa lalu yang demikian tragis.

trus? Eh, maksud papa, pas kejadian itu kenapa kamu nurut aja? Kenapa tidak berontak? tanyaku lebih jauh.

saat di kamar dengan orang itu, latri marah, takut dan perasaan benci banget sama bapak, latri berontak, menagis dan mencoba lari, tapi dia mengancam akan membunuh latri dan ibu kalau latri tidak menurut latri lalu menurut karena ancaman itu kelihatannya tidak main main, dia preman dan rentenir yang cukup terkenal ganas di daerah kami dan katanya memiliki backing aparat lalu saat orang itu menelanjangi latri dan mulai menciumi latri, meraba raba serta menjilati dada larti, latri jadi eh, anehnya latri jadi tidak takut lagi, malah lebih ke gemetaran yang aneh, trus, malah anehnya latri jadi menurut karena tidak bisa menahan getaran itu lalu dia mulai kangkangin kaki latri dan berusaha masukin burungnya ke lubang latri lebih aneh lagi, latri tambah nurut aja, malah seperti penasaran gimana rasanya

eh? Oya? potongku singkat berusaha mencerna cerita latri

maksud latri eh tapi baru saja burung orang itu masuk sedikit ke lubang latri dia langsung ehm muncratin anu eh, lalu trus dia langsung selesai dan jadi malah langsung lemas jadinya latri malah jadi gemes maksudnya, penasaran gitu lalu latri tunggu kali aja dia mencoba lagi, tapi, dia malah langsung keluar kamar dan ngobrol sama bapak, tak lama kemudian latri di ajak pulang dan karena eh itu latri malah jadi ketagihan eh! Emm maksudnya penasaran lanjutnya terbata

Aku bengong

Padahal kalau pada saat itu benar benar tidak terjadi penetrasi, kemungkinan dia masih perawan

Tapi aku (entah kenapa) tidak mau mengutarakan kemungkinan itu, well paling enggak latri tidak trauma dan kalau dia tidak menngalami hal yang dia alami tersebut mugkin kejadian ini tidak akan pernah ada.

trus? tanyaku penasaran

ya walau latri penasaran, tapi latri tetap gak berani ngajak gituan sama laki laki pah, karena menjaga nama emak di kampung juga, lalu ada temen latri yang membawa film di HP tentang cewek yang main mainin miliknya sendiri katanya namanya masturbasi latri coba coba dan ternyata eh, makanya sejak saat itu latri jadi ketagihan eeee maksudnya keterusan anu masturbasi

oya? aku garuk garuk kepala, dia mengangguk. Seperti cerita fiksi aneh dari film bokep JAV murahan. But what the hell

trus, apa yang pernah kamu eghmm masukin? Maksudnya pas masturbasi gitu tanyaku lebih lanjut, setelah tahu dia tidak mengalami kekerasan sexual yang dapat membuatnya trauma, aku malah jadi penasaran bagian masturbasinya cuy maklum aku lelaki normal well, lelaki bejad tepatnya!

awanya ya cuman jari pah lalu akhir akhir ini latri menemukan mainan mamah

Aku garuk garuk kepala lagi, dan juniorku semakin ngaceng mendengar cerita itu

lat kataku sambil menelan ludah.

ya pah

kamu masih penasaran sama punya cowo yang asli? Gila! Aku sendiri tercekat ama kata kata yang barusan aku ucapin. ******! Bego! Tolol!

ah, papah malu ah

kalau papah minta latri pegang punya papah, latri mau gak? ujarku lebih lanjut.

Terlanjur basah man! Well, dalam hal ini terlanjur kentang! Anjriitt!!! Apa yang gw lakukan???

mau! mau banget pah! eh, anu ee maksudnya jangankan cuman disuruh megang punya papah, papah suruh latri megang bara api sekarang juga latri pegang pah! Jasa papah dan keluarga ini besar banget untuk latri bisa bales katanya sok diplomatis

Eh?

Latri mulai menggerakkan tangannya (awalnya sedikit canggung) untuk memegang kontolku

ough! Tangan kamu anget banget lat aku berkata sambil menikmati genggaman dia

ehhh kok gueedee bangedd sih pahh ? Latri kira mainan mamah udah gede burung rentenir yang dulu membeli latri lebih kecil lagi dari burung burungan mamah katanya sambil memegang kontolku dengan dua tangan, menyusuri figurnya dari pangkal ke ujung dan melakukan gerakan meremas remas gemas sedangkan matanya melotot melihat siluetnya yang tercetak di balik celana.

Aku hanya tersenyum, tanganku pun tidak diam saja, aku meraih ke depan dan sukses mendarat di dadanya. Aku membelainya pelan. Mungil imut kenyal sekaligus lembut benar benar khas dada ABG latri mendesah dan memandangku sayu. Tanganku bergerak ke samping tepat di ketiaknya. Dengan sekali sentakan latri ku angkat lalu ku dudukkan di pangkuanku. Kami berhadapan. Mata kami bertemu. Pandangannya tajam, menantang. Sedangkan aku kembali di landa keraguan.

Aku berada dalam posisi duduk sekarang. Kakiku menjuntai menapak lantai. Sedangkan latri berada di pangkuan pahaku dengan posisi kedua kaki mengangkang dan menghadap kearahku. Dalam posisi itu, selangkang kami memang belum saling menggesek, tapi jaraknya hanya hitungan centi.

Aku memeluk pinggulnya, sedangkan tangannya masih berusaha mengkucel kucel kontolku. Pandangannya lurus ke mataku. Anak 17 tahun ini membuatku grogi. Aneh

Beberapa lama aku cuman mematung, bimbang antara nafsu dan akal sehat, sampai latri meremas lagi senjataku dari luar celana. Kucengkeram erat pinggulnya. Kutarik maju sehingga posisi selangkangan kami saling menempel, walau barang kami masih ada di dalam celana masing masing.

Latri mendesah tertahan. Tanganku merambat naik ke punggung dia, kurasakan geronjal kecil, tali belakang BH dia. Tanganku terus naik, mengusap dan menggenggam tengkuknya. Lehernya yang kecil hampir muat ku genggam dengan sebelah tanganku.

Lalu tanganku bergerak maju, mengusap pipinya, bibirnya yang mungil namun merekah itu tak lepas dari sentuhan jari jariku. Latri mendesah, alih alih dia memejamkan mata, pandangannya malah lebih tajam menusuk mataku.

Ku usap rambut bagian belakang dari kepala kecilnya, tanganku bergerak ke dagunya dan perlahan kutrik ke depan untuk mendekatkan bibirnya ke bibirku. Dia belum juga menutup matanya. Sampai bibir kami bertemu dan desahan kecil itu kembali tersedengar dari mulutnya.

Dan kami berciuman.

Bersambung