Pembokat Muda Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Tamat

Cerita Sex Dewasa Pembokat Muda Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Pembokat Muda Part 4

Kembali ke mbak yuni, dia masih juga gemeteran setelah beberapa saat bersandar di dadaku. Dia sudah kering ku handuki, bahkan sudah ku pakaikan kimono istriku. Aku memangku dia di ranjang dalam posisi setengah duduk sambil memeluk tubuh gemetarnya. Tiba tiba, entah setan darimana yang merasukinya, dia berbalik menghadapku. Mengangkangiku, menyibak kimono kita dan mengarahkan kontol tegangku ke memeknya.

“eeeggghhhh…ayo dik, kalau gak di tuntaskan bisa bisa mba gemeteran terus…”

Aku memandang matanya sambil tersenyum, aku menduga duga, apakah dia terkena efek titik balik dari orgasme berkelanjutan (multiple orgasm). Ini hal langka, aku hanya membacanya di majalah pria. Dan tidak sekalipun dalam hidupku bermimpi dapat melihatnya.

Pantatnya turun sedikit demi sedikit pada saat mencoba melesakkan kontolku ke relung vaginanya. Dan seperti kemarin malam, mentok di titik 50-60% dari panjang kontolku. Mbak yun manatap mataku, aku tersenyum penuh arti.

“EH, tunggu dik, jang…ACHHHKKKG !!!”

Mbak yun tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena aku sudah mendahuluinya dengan sodokan kuat. Tubuh mungilnya terlempar ke atas, lalu terjatuh lagi dengan kontolku masih bersarang di memeknya. Kubiarkan dia mengambil nafas.

“oogghh…gedhe…banget…dik…”

“apanya yang gedhe mbak?” tanyaku berbisik

“punyamu…”

“apaku?”

“punyamu dik…”

“namanya apa mba?”

“oo…pen…penis…”

“aku lebih suka bahasa jawanya mba…namanya apa?”

“egh…kont…konthol…mu…dik…gedhe…banged…mbak…heh…mbak…suka…enak…”

Aku mengubah posisi, menelentangkannya, kedua kakinya kini mencuat ke atas, dengan lembut ku taruh di kedua pundakku. Lalu sambil menatap kedua matanya, aku bertanya lagi.

“namanya apa tadi mbak yun? Yang bahasa jawa?”

“ehh…kont…kontHOUGHHLLLGHHHKKKKKKKKK…KKKHHGGGG…EGHG…EGH…”

Sekali lagi sebelum dia menyelesaikan kata itu, aku sudah menderanya. Kali ini posisiku dominan banget, Man On Top. Kedua kakinya yang aku selempangkan ke pundakku membuka akses seluas dan sedalam dalamnya terhadap memeknya. Sodokankupun langsung aku mulai dengan RPM tinggi.

Kali ini bukan hanya menghentak, mbak yun benar benar menjerit. Puas menghentak dinding rahimnya, aku putar pantatku, diameter kontholku yang memang sudah menyesaki lorong memeknya memilin, menggesek tiap inci dari relung vaginanya. Jeritan itu berubah menjadi lolongan panjang. Hampir 20 menit aku menggoncang dunia sempit mbak yun dalam posisi itu ketika dorongan itu mulai mendekat.

Aku sudah mau sampai, ku percepat sodokanku. Mbak yun sudah tidak nampak sebagai wanita alim berjilbab lagi, dia mengerang, melolong dan menjeritkan kalimat kalimat kotor.

“AARGGHH..ANNJJJIINKK…ANJJJINKK…ENAGGGHHH…OOGGHH…DALLLEM BANGGEEDDD…KONNTHHOL…AAARRRGHH…ACH…ACH..ACH…ACH…AAA…MEMEKKUU…ACHH..NJJINKK…ENTOT AKU DIK…ENNNAGH…AARRGHHH…EEGGHH..NNNTOOT MEMEKKU DIKK…DIKKK…ANNNJIIINKKK…AGHKUU…KELUARRR…ANJJJINKKK…TERUUUUSSS…!!!!”

Spreiku sudah basah tak karuan rupa, cairan memek dia seakan tidak berhenti mengalir dari orgasme ke orgasme yang di dapatnya. Gencotanku ku percepat…RPM sangat tinggi…mbak yun melengking…dan sesaat sebelum aku menyemprotkan spermaku ke liang memeknya.

“AGH…!!” mbak yun tersentak ke belakang dengan keras lalu tiba tiba terdiam.

Apa boleh buat, aku terlanjur sampai di ujung, dengan membenamkan kontolku sedalam dalamnya, aku memuntahkan spermaku ke rahimnya.
CROOTT…CROTTT…CROTTT…CROTTTT…CROOTTTT…CROTTTTT…

Lemas, tapi aku langsung menepuk nepuk pipinya, sempet takut campur panik gitu…

“aaaa…hhhh…”

Ada desahan lirih dari mbak yuni…selamat ternyata dia tidak pingsan atau kenapa kenapa…
Akupun langsung tumbang diatas tubuhnya. Mbak yun dengan sisa sisa tenaganya mengangkat tangan dan memeluk punggungku. Tapi tak berapa lama tangan itu terkulai lemas lagi.

“hehehe…gila, mbak yun luar biasa, aku sampai lemas banget…” kataku tersenggal senggal.

“vaginaku…rasanya mau jebol…heheheh…” jawabnya, ternyata sopannya sudah balik.

“sakit?”

“enaaakk…”

Lalu kita tergelak bersama, malam itu kita tidak jadi belanja, melihat kondisi mbak yun yang tidak memungkinkan. Dia beneran lemes, sampai mau nonton TV aja minta gendong…manjanya ngalahin ABG. Belanjanya kita reschedule besok saja. Besok, aku juga berencana mengambil cuti, untuk “menemani” mbak ku tersayang.

***

LATRI

Aku masih menggenjot memek umy ketika BEL PINTU di rumahku berdenting. Sekertarisku yang dalam posisi terlentang itu terlonjak lonjak seirama dengan kayuhanku. Kakinya yang sebelumnya menjuntai juntai ke samping ranjangku kini terangkat angkat seiring meningkatnya RPM sodokanku. Tubuhnya yang chubby meliuk, tangannya mencengkeram dadaku dan teriakkannya gaduh. Memang Umy selalu berteriak teriak heboh ketika kami bersenggama.

Kamarin sore mbak yun harus kembali ke kotanya setelah mendapat kabar bahwa surat cerainya sudah turun dan ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani. Aku mengantarkannya ke pul travel dan memberinya uang saku yang cukup.

Sebelum dia berangkat, dengan mesra dia memagut bibirku dan membuatku berjanji untuk mengunjunginya suatu saat. Dan aku pun menawarkan padanya untuk tinggal di semarang dan mencoba mencari pekerjaan di sini. Mungkin dia bisa tinggal di rumahku sementara dia mencari pekerjaan. Bahkan aku berencana mengenalkan ke salah satu kolegaku untuk dapat di terima bekerja di perusahaan dia. Dia menyetujuinya sambil tersenyum penuh arti.

“OOOOHHHHH…PAAAAKKKKK…!!!”

Umy mengejang ngejang sementara maniku ku semprotkan semuanya ke relung vaginanya. Kontolku ku benamkan sedalam dalamnya. Sementara Umy langsung tergeletak lemas, aku masih menyodok nyodokkan penisku untuk menikmati sisa sisa orgasme yang masih menggelayut di ujung batang zakarku. Umy kembali tergoncang. Aku mengecup bibirnya dalam dalam.

“ada yang pencet bel” kataku di sela engahan.

“AGHH…”

Erangnya pelan saat aku mencabut senjataku dari liang memeknya. Sekilas kulihat spermaku meleleh keluar dari bibir vaginanya yang memerah setelah hampir setengah jam ku genjot tadi.

Pagi itu Umy, sekertarisku, memang kuminta datang ke rumah sambil membawakan materi rapat untuk nanti siang, karena aku bilang padanya bahwa hari itu aku akan berangkat siang, kemaren kelelahan ‘mengurusi’ kakak ipar ponakanku yang sedang dalam proses perceraian. Tentu aku tidak menjelaskan dengan detail maskud dari ‘mengurusi’ tersebut.

Umy datang sesaat setelah aku keluar dari kamar mandi. Karena aku tahu kalau yang datang dia, tanpa repot repot memakai baju aku langsung membukakan pintu. Tanpa di komando, dia mengikutiku ke kamar dan kita ngesex. Kita memang sering banget ngesex tak tahu tempat, kadang di kantor, di sela sela break rapat, di apartemen dia, di hotel, bahkan pernah di parkiran kantor.

Dengan hanya memakai kimono sembarangan aku bergegas kea rah pintu

“siapa?” tanyaku

“pah, ini aku Latri…” jawab suara dari luar

Eh? Latri?? Pintupun ku buka sambil kubenahi kimonoku yang serampangan.

“lho, gak menunggu rombongan yang dari mbak yun gedhe lat?”

“enggak pah, jadwal rombongan mama masih TIGA HARI lagi, latri udah bosen di kampung”

“ooo…yaudah masuk, bawaanmu mana?”

“cuman ini aja kok pah, kemaren juga latri gak bawa baju banyak waktu balik ke kampung, cuman ini ada oleh oleh dari emak” katanya sambil melangkah masuk

“weh, kok repot repot to lat…”

“ennggak kok pah, cuman sedikit…mmm…papah gak sendiri yah?” tanyanya dengan menyelidik

“enggak, ada bu Umy tuh di kamar”

“eh? Bu Umy? Di kamar? Kok di kamar pah?” tanyanya terkejut sedikit menyelidik

“eh…dia numpang ke kamar mandi, tadi dateng bawain berkas buat rapat nanti siang”

“oooo…” katanya masih (kelihatan) menyelidik sambil melihat badanku yang masih penuh keringat

“ya udah pah, latri permisi ke kamar dulu pah” lanjutnya

“ok” jawabku pendek “lat, ntar malem gak usah masak aja, kita makan di luar, papah paling pulang sebelum jam 6, mandi bentar trus kita keluar yah?”

“ya pah…” katanya sambil berjalan masuk ke kamarnya, di depan kamarku dia sempat berhenti dan melirik ke dalam, untung saja Umy sudah tidak tergolek telanjang di atas ranjangku dengan berlumuran lendir, kalau tidak…ya ga papa sih, sbenernya…

***

“lat…” panggilku sambil membuka pintu kamarnya

“ya pah…” sambil reflek menutupkan handuk ke badannya. Rupanya dia habis mandi dan sedang mau berganti baju.

“eh, maaf…” kataku sambil mencoba menutup pintu kamarnya lagi

“ah…gak apa kali pah…” jawabnya polos sambil tersenyum aneh

“eeh…gini, papah berangkat dulu, kamu istirahat aja dulu gak usah kerjain apa apa kan masi capek habis perjalanan, tadi pagi papah sudah bersihin rumah kok, cuman nanti akan ada orang anterin laundry, uangnya di meja telfon…eeemm, apa lagi ya? Eh, dan untuk makan siang, papa dari kemaren cuman beli roti, semua ada di kulkas, kamu makan aja…”

“ya pah…”

“kamu mau nitip apa kalau papah pulang nanti?” tanyaku lagi

“enggak pah, makasih…kan katanya mau keluar lagi”

“eh, iya ding…ya udah, baik baik ya di rumah”

Latri cuman tersenyum dan mengangguk. Sumpah man, gimana gitu. Sekilas terbayang adegan ciuman kita beberapa minggu yang lalu. Akupun mengerjap, memaksakan kesadaranku untuk segera kembali ke akal sehat, lalu berbalik. Beberapa langkah kemudian aku menegok dia.

Dia masih mematung di posisinya semula masih dengan hanya selembar handuk yang menutupi badannya sambil masih (juga) tersenyum, kali ini sedikit ada pancaran geli di matanya. Sialan memang anak 17 tahun ini. Dan sejak ciuman itu, aku selalu salting di depan dia. Brengsek, macem ABG aja aku nih!

***

Aku bergegas membuka pintu depan, jam tanganku sudah menunjukkan pukul 18.45, memang pertemuan itu memakan waktu sedikit lebih lama dari yang ku perkirakan. Tapi sebenernya SO WHAT? Kenapa hanya karena terlambat sedikit dari janji pulang sebelum jam 6 dengan pembantu kecilku, latri, aku jadi grasa grusuh gini? Macem abg janjian ama gebetan barunya aja.

Memasuki ruang tamu, kucoba untuk meraih kembali kendali diriku. Kupelankan langkahku, ku atur nafasku dan ku buat pembawaanku sekalem mungkin. Dan aku kembali melangkah.

Diruang tengah kulihat latri sudah rapih, duduk dengan manis dengan menonton tayangan sore. Aku berdehem, dengan ringan ku lihat dia menoleh.

“eh? Papah? maaf pah, latri gak mendengar mobil papah masuk ke halaman…jadi tidak bukain pintu…” katanya sambil bergegas bengkit dan mengulurkan tangannya untuk mengambil koper kerjaku.

“eh, ga papa lat, papa emang ga masuk halaman, mobil papa parkir di jalan…emm, maaf papah agak telat, soalnya tadi rapat…ee…”

“ya gak papa to pah, kan kerjaan papah lebih penting…” katanya sambil tersenyum

Aku hanya bisa membalas senyumannya sambil garuk garuk kepala… kemaren kakak iparku yang sok berperan sebagai istri yang manis, sekarang ada anak umur 17an yang sok mengerti aku, sok jadi seperti pacar yang pengertian. Panggilnya papah, tapi sikapnya GFE. Buset, what a life I had.

Geleng geleng kepala aku menggeloyor ke kamar, sekilas ku lirik latri yang berjalan kearah ruangan kerjaku untuk menaruh koperku di sana. Dia kulihat memakai kaos ketat lengan panjang berwarna pink muda dengan potongan leher sampai bahu, daleman you can see kuning tampak melintang di pundaknya, di padu dengan semcam balero jala jala putih yang agak gombrong sepaha.

Sedangkan di bawahnya dia memakai hotpants dari jeans hitam sebatas paha yang mempertontonkan kakinya yang jenjang dan putih khas remaja.

Rambutnya di sisir ke belakang dengan memakai japitan di tengah kepala dan sisanya di biarkan tergerai. Di telinganya dua anting berbentuk Winnie the pooh berwarna senada dengan kaosnya menempel dengan lucu, dan beberapa gelang warna warni menghiasi tangan tangan rampingnya, tidak lupa beberapa aksesoris kalung juga menjuntai dengan indah melewati dada kecilnya.

Sepatu flat standar yang dia pakai aku ingat betul, itu hadiah ulang tahun dari kami sekeluarga, sepatu keluaran zara ini memang sedikit agak mahal untuk hadiah kepada pembantu, tetapi sekali lagi latri sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Tidak ada istilah pembantu di keluarga kami, semuanya bekerja sama dalam hal mengurusi rumah.

Tak lama kemudian aku bergegas keluar dari kamar mandi, kulihat sebuah celana jeans dan T-Shirt hitam favoritku, dengan seperangkat pakaian dalam sudah ada di ranjangku yang sudah diganti spreinya. Sprei yang seingatku tadi pagi penuh dengan lelehan lendirku dan Umy yang aku genjot di sana.

Aku tersenyum simpul memikirkan betapa beruntungnya nasib bajingan seperti diriku. Sambil garuk garuk keapala aku pun memungut pakaian yang sudah di siapkan gadis kecilku itu. Ah, bahkan sampai berpakaianpun dengan halus latri berhasil mengaturku. Aku semakin geleng geleng kepala. What a life!

“sudah siap?” tanyaku saat kulihat latri dengan telaten duduk di ruang tangah, sedang TV sudah dia matiin.

“sudah pah” jawabnya. Aku semakin geleng geleng kepala. Prasaan jadi kaya mo ngedate…padahal cuman mau makan aja.

“latri mau makan apa?” tanyaku ketika mobil kita sudah mulai jalan

“apa aja deh pah” jawabnya yang duduk di sampingku

“papah ajak ke tempat yang special, namanya laluna, tempatnya asik dari sana bisa liat pemandangan simpang lima”

“wah, kedengarannya asik banget tuh pah” jawabnya, entah beneran ato tidak tetapi matanya kulihat berbinar semangat seiring dengan senyum lepasnya waktu mengatakan hal itu, sesuatu yang akan bikin cowo manapun akan berbesar hati karena merasa amat sangat di hargai pilihannya. Bisa aja nih anak!

Aku segera berbelok ke arah ruang parkir yang kosong, kamipun segera keluar dari mobil. Waktu menunjukkan pukul 19.15 saat aku lirik jam tanganku.

“latri sudah lapar banget atau mau jalan jalan dulu di mall?” tawarku pada gadis kecil yang sekarang berjalan sedikit menghimpit di sebelah kiriku.

“mmm…kalau papah ngasih pilihan jalan dulu, ya…jalan dulu lah pah…” jawabnya sambil tertawa renyah.

“so it is…” desahku

Bersambung