Pembokat Muda Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Tamat

Cerita Sex Dewasa Pembokat Muda Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Pembokat Muda Part 3

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum sambil menatap matanya. Dan seperti yang kuharapkan, dia balik menatapku, ini artinya dia sudah mempunyai tekad dan keberanian untuk melakukan apapun saat ini. Ku lihat dia beberapa kali menelan ludah di tenggorokannya yang aku tahu pasti luar biasa kering sekarang. Aku yakin, libidonya benar benar sudah terpancing.

yawdah mba, aku mau tidur, besok harus berangkat pagi soalnya ada kerjaan yang musti di selesein pagi pagi, kalau isa aku ntar pulang setengah hari buat nganter mba belanja baju dan keperluan apapun yang mba butuhin

nggak usah ngerepotin dik, mba ngga ada duit, ini aja mau minjem ine buat balik ke rumah besok kalo ine sudah dateng

halah, emang perlengkapan cewe berapa sih? Kalo cuman CD ma BH aja aku masih kuat kok beliin kataku memotong

hihihimakasih dik, kalian sekeluarga baik banget

sudahlah mba, santai ajabtw, mba malam ni bobo di mana ya?

mana ajamba bisa kok

mmmkamar jagoan (anakku), jangan dia paling ga suka ada orang nyentuh kasurnya, soalnya kamar tamu masih belum di bersihin, mmm masa mau di kamar latri? Jangan ah, gini aja, mending mba tidur di kamar ku, aku tidur di sofa

jangan lah dik, masa tuan rumah malah tidur di luar, mba aja yang tidur di luar malam ini, baru besok kamarnya mba bersihin

jangan mba, pokoknya mba tidur di kamar ku aja, aku yang di luar kataku sedikit memaksa

iya deh, kalo gitu biar adil, kita tidur aja di kamar bareng usulnya. Lha ini yang aku tunggu, aku paling suka untuk menggiring perempuan agar seolah olah dia yang mengambil inisiatif. Dah ku bilang kan kalo aku penjahat?

eh? Apa gak bahaya tuh bobo bareng? tanyaku

enggak lah, bahaya apanya kalo bobo bareng, kalau melek bareng lha itu baru candanya.

OK, kalau mba maunya begitu lanjutku

Di kamar, kami mulai berbaring. Dia memunggungiku sedangkan aku menghadap ke arahnya. Aku tutupkan selimut ku, karena malam itu memang dingin, dan aku melihat dia meringkuk menahan dingin (di tambah, AC yang sengaja aku gedein dikit..hehehe).

makasih katanya setelah aku selimutin

yup kataku masih di luar selimut

kamu tidak dingin dik? tanyanya

lumayan, napa iq? jawabku polos

sini lah, masuk ke selimut katanya sambil masih memunggungiku

Aku segera masuk ke selimut, masih berusaha menjaga jarak. Damn, aku sebenarnya konak benar, tapi di dalam otak sehatku masih ada sisa sisa pertahanan untuk menjaga sisa sisa kehormatan wanita malang ini, kakak iparku yang sudah di zolimi oleh suaminya. Maka melawan segala dorongan libidoku aku menjaga jarak, walau sudah sama sama berada di dalam selimut. Sampai, mba yun sedikit membungkukkan lagi badannya. Sontak pantat kecil dia menyundul kontolku yang memang sudah sejak tadi berdiri tegak.

JDUG

oughh..! erangku pendek

eh, maaf katanya

ga papa, emang selimutnya agak sempit kok kilahku singkat, padahal selimutnya lebih dari lebar hehehe

iya katanya tidak kalah singkat, tetapi tanpa menggeser posisinya.

Jadinya posisi kami sangat rapat, punggung nya menempel di dadaku. Bisa ku rasakan detak jantungnya yang benar benar tidak normal. Seakan berpacu. Dan pantatnya lembut menempel di kontolku, dengan pembatas dua lembar kain tipis, dasternya dan boxerku.

Toh itu sama sekali tidak bisa membatasi sensasi panas yang terasa di kulit kontolku, entah apa efeknya terhadap pantat kecilnya. Aku melingkarkan tanganku ke badannya yang sejak dari tadi aku tarik ke belakang punggungku sendiri

maaf mba, tanganku agak pegel kalau di belakang terus kataku

iya gak papa, malah anget bisiknya

Dengan posisi memeluknya dari belakang sepereti itu, otomatis lingkaran tanganku langsung mendarat di lokasi seputar dadanya. Libidoku tambah naik, meledak. Seakan benteng tipis pertahananku yang aku jaga mati matian tadi di labrak oleh peluru meriam super besar. Sekonyong konyong jebol, aku tahu pada titik ini, aku pasti sudah tidak akan bisa megontrol diriku lagi. oh, betapa brengseknya aku

Tanganku mulai merayap ke dadanya,menjamahnya dan meremasnya meremasnya. Sedangkan tiupan nafas panasku sengaja aku semburkan ke tengkuknya. Dan di bawah, kontol tegakku ku gesek gesekkan ke belahan pantat kecilnya. Tidak ada indikasi perlawanan dari mbak yun, aku kira dia mencoba pura pura tidur, atau pura pura tidak merespon kelakuanku.

Tapi sekilas, aku dengar desahan kecil. Didorong oleh semua factor, tanganku bergerak ke pinggulku sendiri, dan dengan gerakan cekatan seorang pejuang lendir, boxer ku sudah kulepaskan. Kini tinggal kontol telanjangku menempel pada bagian luar dasternya. Dan sekali gerak lagi, daster itu terangkat sampai di pangkal pinggangnya. Terasa ujung kontolku menempel langsung dengan daerah yang sudah luar biasa basah. Vagina mba yul!

Tanpa tunggu lama, tanganku kembali ke bukit kecil di dada mbak yun, sedangkan kontolku berusaha menerobos memeknya yang sudah terlewati dua orang anak itu. Walaupun memek itu kecil, tetapi daya elastisitas dan cairan licin yang sudah melumurinya sangat memudahkan kontolku untuk menerobos relungnya. Bleeeessss ku dengar mbak yun melenguh. Tetapi setengah jalan kontolku menyusuri lobang vagina lembutnya yang super basah itu DUK!

Mentok!

Apa ku bilang, relung vaginanya cetek! Wanita dengan relung seperti ini sangat jarang, mungkin 1000:1. Dan rasanya ngentotin wanita model gini mantiada duanya. Aku mendorong kontolku lagi. Kupaksakan. Aku merasakan dada mbak yun berhenti bergerak, dia menahan nafas. Aku paksakan lagi, dan lagi, dan lagi.

Kontolku melejat lejat liar memenuhi relung vaginanya, seakan kontolku mengobok obok semua relung vaginanya sampai batas yang terdalam. Aku tahan sumpalan kontolku di sana sejenak, lalu aku tarik mundur sedikit pantatku. Dan di saat dia melepaskan nafasnya. Sekuat Tenaga aku lesakkan lagi ke dalam.

HEGGGTTHH! sentaknya sepontan sambil menutupi mulutnya dengan tangannya sendiri.

Rangsangan itu begitu besar menerpa dadaku. Kenikmatan mentok di relung vaginanya, membayangkan letupan kebutuhan dan gairah seorang wanita menikah yang mungkin sudah berbulan bulan tidak terpenuhi membuatku begitu melayang, begitu terangsang.

Di tambah tingkah laku jaim yang di tunjukkan oleh kakak iparku itu, yang seakan tidak mau berterus terang kalau dia juga menikmati persetubuhan ini, membuatku semakin melayang. Ku tinggalkan dada mungil nya, kini tanganku mencengkeram erat pinggulnya, membantu hentakan gerakan pinggulku yang seperti kesetanan, bak piston dengan kekuatan penuh memompa relung vaginanya dari belakang. Sedangkan dia terlonjak lonjak seiring dengan ritme sodokanku.

JEDUK !! JEDUK !! JEDUK !! JEDUK !! JEDUK !! JEDUK !!

Aku terus memompa, dan dia kini membekapkan kedua tangannya ke mulutnya sendiri. Linu, nikmat, sensasional pokoknya sangat susah di gambarkan apa yang aku rasakan saat itu.

EGH !! EGH !! EGH !! EGH !! EGH !! EGH !! EGH !! EGH !! Suara suara hentakan nafasnya terdengar seiring hujaman kontolku di vaginanya.

Masih dengan kedua tangannya membekap mulutnya sendiri, aku melihat lelehan air mata di pipinya, tapi tanpa isyarat penolakan sama sekali, entah mengapa hal itu malah semakin melambungkan gairahku. Hampir 20 menit aku menyentak sentakkan kontolku di relung vaginanya, dan entah berapa kali aku merasa ada siraman panas di sana.

Entah berapa kali dia mendapatkan orgasme, yang pasti giliranku hampir sampai. Aku hentakkan kuat kuat pinggulku, ku hujamkan dalam dalam kontolku di trelung vaginanya dan ku semburkan pejuhku kuat kuat di sana. Kurasakan dia juga mengejang dan menahan lenguhan

CROTT !! CROTT!!! CROOOTTCROTCROTT!!!

Entah berapa kali aku melejang, mengejang dan menyambur, diriringi lenguhan, akupun lemas di belakang tubuh mugil kakak iparku. Sengaja kontolku tidak aku lepas, aku peluk dia lagi erat erat dan ku pejamkan mataku. Malam itu aku ingin tertidur dengan kontol masih ada di dalam vagina mbak yun, kakak iparku yang mungil dan manis. Tak di sangka, dia juga memeluk erat tanganku dan ikut tertidur pula di pelukanku.

***

Aku terbangun dengan pemandangan samar sebuah wajah mungil yang menatapku lekat lekat.

“eerrgghhhmmmm…mbak yun, bikin kaget aja…” sapaku sambil mengolet dan berjuang membuka mata.

Mbak yun cuman tersenyum senyum, duduk bersimpuh di depanku sambil masih menatapku lekat lekat. Aku gulung majalah yang masih ada di tanganku lalu dengan canda ku pukulkan ke jidatnya. Dia tertawa.

Memang, setelah libidoku kalah telak dengan rasioku, alih alih menubruk tubuh seger yang dapat ku patikan akan menyambut entotanku dengan senang hati itu, tetapi aku malah menghidupkan TV dan membaca baca majalah sambil gelesotan di karpet dan bersandar di sofa tempat mbak yun tertidur.

Rupanya udara panas siang itu juga mampu menyihirku, lalu aku juga jadi tertidur dan mbak yun bangun duluan lalu ikutan menjeplok di depanku sambil melihatku seperti itu.

“orang lagi tidur kok diliatin kaya gitu, emang tontonan? Dasar mbak rese ah!” protesku lanjut.

“halah…GR, lagian sapa juga yang liatin kamu dik? Hihihi…” jawabnya

Aku menatapnya bersila dengan hotpants itu, semerta merta libidoku bangkit kembali. Semerta merta rasioku menenangkanku lagi. Kejadian brengsek macam apa pula ini?…
Ku lirik jam tanganku, jam 15.15. welah, ternyata aku tertidur cukup lama.

“maaf, tadi pas aku pulang, mbak masih bobo, mau tak bangunin tapi keliatannya pules banget, makanya tak tungguin aja, eh malah aku ikut ketiduran sampe sore gini…yaudah, ayo siap siap mba, kita ke toko cari keperluan mba…ke matahari aja kali ya, satu tempat komplet semua…” kataku lagi sambil berusaha bangun.

Mba yuni tidak menjawab, hanya ikutan bangun sambil masil menatap wajahku. Tatapan yang ku kenal secara pasti. Tatapan yang sama dengan wanita wanita yang berhasil ku pecundangi dengan rayuanku, tatapan seorang wanita yang tertakhlukkan. Tatapan seorang wanita yang…jatuh cinta…dan itu menakutkanku!!

Karena dia sama sekali bukan targetku dan tidak sedetikpun aku dapat membayangkan mbak yun falling in love dengan ku. It’s gonna be damned complicated kalo sampai terjadi. Tapi rasioku dengan jelas memaparkan alasan yang logis, apabila itu semua terjadi.

Aku satu satunya orang yang mungkin dia anggap “baik” dalam tahun tahun belakangan ini, walau diakui atau tidak, semalem aku telah “memperkosanya”, hanya saja, perkosaan itu entah di anggap sebagai apa olehnya.

“oi! Haloo…! Ada orang di sana…??” godaku sambil melambai lambaikan tanganku di wajahnya.

“eh?”

“aku nanya, yang mau mandi mbak yun dulu aku aku dulu? Mendingan kita berangkat sorean, jadi waktuya bisa lega…” kataku lagi mengulang pertanyaanku.

“eeh, dik deni dulu juga ga papa deh…” jawabnya

“ato mandi barengan?” candaku

Dia hanya terkikik lalu mecubit pinggangku (lagi) “jangan nakal ah, aku kan kakak mu”

“hehehe…eh mba…anu…eee…semalem…aku minta maaf ya, aku bertindak sangat sangat kurang ajar kapada mba…eee…mohon mba sekali lagi memaafkan aku dan menyimpan kejadian itu di antara kita aja…ku mohon…” kataku terusterang mengungkapkan apa yang masih mengganjal di pikiranku.

Mbak yun kembali tersenyum, sebuah reaksi yang kurang bisa kuterka.

“ga papa dik, dik deni gak perlu minta maaf untuk itu…” jawabnya sambil tertunduk.

“sakit banget ya mbak? Aku liat mbak menangis pas tak gituin semalem, pastinya aku melukai mba banget ya? Aku mohon maaf banget ya mba…”

“iya ga papa, dah mbak bilang ga papa, toh mba juga bukan perawan, mba udah punya dua anak malah…jadi mba paham kebutuhan laki laki…hehehe…sebenrnya mba gak keberatan bantu dik deni melampiaskan…itu…maksudnya…kalau dik deni masih mau…mba…anu…juga gak keberatan…maksudnya…eh…anu…cuman…emang linu banget…abis…kegedean…” jawabnya terbata bata sambil tetap nunduk malu malu. Bikin tanbah gemes aja.

“tapi masa segitu sakitnya sampai bikin mba nagis”

“ooo…masalah nangis itu…anu…mba semalem agak kaget dan kacau…maaf kalau tangisan mba membuat dik deni merasa bersalah, maksudnya, dik deni gak usah merasa bersalah melakukan itu ke mba semalem…karena…mba juga…ee…anu…menikmatinya kok…”

“bener mba yun menikmatinya?”

Mbak yun tidak menjawab hanya ku lihat mukanya memerah, aku sih yakin bener dia menikmatinya, lenguhannya, orgasme nya yang berkali kali…dan toh sebelum ku sodokin kontolku di lobang memeknyapun, dia sudah basah banget…cuman, pengin aja denger dari mulut dia…hehehe…menjajaki sejauh mana wanita alim ini mampu ngomong jorok…

“iya…mbak menikmati, ee…malah mbak sampai…anu…berkali kali…”

Aku tersenyum geli, anyway, cukup segitu dulu kali ini, aku juga gak mau mendorongnya terlalu keras. Sambil menggeloyor aku menggandeng tangannya. Mbak yuni ngekor aja waktu ku bombing ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, aku melepaskan semua baju yang menempel di tubuhku hingga aku telanjang bulat. Aku dekati dia perlahan lahan.

Mbak yun semakin menunduk, bahkan dari jarak ini, dapat ku rasakan detak jantungnya yang berdetak kencang macam marching band. Ku sandarkan punggungnya ke tembok kamar mandiku, tepat di bawah shower, lalu aku mundur selangkah.

Dalam jarak ini, aku tahu dia dapat melihat setiap sudut dari lekuk tubuhku yang emang sangat ku jaga dengan rajin nge gym ini.

“kalo gitu, mba bantu aku ya, aku terangsang lagi tadi pas melihat mbak bobo…aku gak minta banyak kok mba, cuman liat tubuh mba aja sambil…masturbasi…”

Mbak yun diam. Aku mulai beratraksi, pelan pelan aku mengocok kontolku sambil pandanganku menjelajah tubuhnya. Ku buat pandanganku setajam mungkin hingga dia pasti merasa tertelanjangi dengan tatapan mataku ini. Aku masih terus mengocok kontolku yang sekarang sudah hampir 100% tegang masih dengan ritme pelan.

Mbak yun mulai bereaksi. Dia mulai mengangkat tangannya kearah kontolku. Aku menghentikan kocokan dan memberikan kesempatan untuk jari kecilnya yang mulai mendekati kontolku. Dia memegangnya, mengelusnya lembut lalu mulai meremasnya. Dan aku melenguh.

“gede…banget…” gumannya sambil terus mempermainkan kontolku

“mbak suka kontolku?” tanyaku menguji, sengaja aku gunakan kata kata yang hard core

“heheh…geli…mbayangin aja dah linu…”

“emang apa yang mba bayangin?” desakku

“heheh…eh…ya…mbayangin…melakukan hubungan suami istri kaya semalem…” jawabnya.

Hubungan suami istri??? Weleh, kata kata itu…semakin membuatku penasaran ingin membuat dia bicara kotor.

“mungkin linu karena…lorong vagina mba pendek, jadi langsung mentok ke dinding rahim…tapi dengan begitu malah…semua relung kewanitaan mba terjamah kan dengan penisku?” pancingku lagi

“eh..iya…kira kira begitu lah…mentok…”

“mba…”

“iya”

“aku boleh cium bibir mba?”

“eh?…boleh…” lalu dia langsung bengkit dan menyorongkan bibirnya ke bibirku sambil matanya setengah terpejam. Aku menahan kepalanya dengan kedua tanganku, menghentikan kecupannya sebelum sampai ke bibirku.

“eh? Kenapa?” tanyanya, nafasnya sudah semakin berat, aku tahu dia luar biasa terangsang sekarang, hanya sisa sisa kealimannya yang masih bisa membuatnya sedikit dapat jaim.

“bukan bibir yang itu” kataku sambil mengambil posisi jongkok

“bibir yang ini” lanjutku sambil mengelus pelan memeknya dari luar hotpants istriku yang dia kenakan.

“eh…maksudnya? Itu kan…anu…”

“ini kan juga bibirnya mba yun, bibir bawah, bibir vagina, boleh ya mba? aku ingin menciumnya…”

“eh…kalo…dik deni memang pengin beneran…mba…anu…eh, gimana ya dik, mba belum pernah…di cium…di situnya mba…”

“kalau mbak boleh, tolong bantu aku pelorotin celananya mba…” sergahku

Dengan ragu ragu mbak yun memelorotkan celananya, pelan. Rambut itu ku lihat tumbuh jarang jarang di bagian bawah pusar. Serining turunnya kolor hotpants yang dia tarik dengan tangannya, semakin ke bawah, rambut itu kelihatan semakin melebat…tetapi tidak juga lebat.

Lalu lobang itu mulai terlihat celahnya, dan tidak perlu waktu lama, vagina polos mbak yun sudah terdisplay di depan mataku. Berwarna coklat tua, bibir yang sudah pernah mengeluarkan dua orang orok itu terlihat berkilat karena lendir yang mulai membasahnya.

Aku memuaskan mataku memandang sorga dunia itu. Tak berapa lama, ada cairan yang menetes. Ough…ternyata mbak yun jenis cewe yang berlibido tinggi, dengan terangsang saja cairan vaginanya sudah menetes netes tidak karuan.

“dik…” desahnya memelas.

Aku tau apa yang mau dia katakana, sebelum dia berubah pikiran, bibirku sudah mendarat di atas lobang memeknya. Diapun melenguh tinggi dan secara reflek mencoba melengkungkan badannya ke belakang, menghindari sapuan bibirku di mulut memeknya.

“uuuuggghhhhttt…”

Tapi aku tidak kalah cepat, ku tahan pantatnya. Diapun terjajar ke belakang sampai punggungnya membentur tembok kamar mandi, tepat di posisi di mana aku menyandarkannya tadi. Gerakan mundur sudah tidak bisa dilakukannya. Aku mengangkangkannya dan menyelempangkan paha kanannya ke pundakku.

Dengan begitu akses mulutku ke memeknya jadi terpampang luas. Memek itu terbentang pasrah beberapa cm dari hidungku. Tak kusangka memek mbak yun beraroma lain, seakan aku bisa mencium hormone kewanitaannya ikut mengalir bersama cairan memeknya.

Tanpa menunggu waktu lagi, aku mulai memproses memek yang menurut pengakuannya baru sekali “dicium” oleh bibir pria. Aku mengulum, menjilat, menyedot, menyeol nyeol itilnya dan menyodok nyodoknya dengan lidahku. Memek itu benar benar kunikmati. Dari ujung pusar di perutnya sampai lobang anusnya tidak luput dari garapanku.

Mbak yun mendesah, tersenggal sampai menjerit dan meliuk liuknkan tubuhnya menikmati setiap sensasi permainan lidahku. Berkali kali cairan vaginanya membanjir, berkali kali aku tau dia orgasme.

Tapi aku tak memberinya ruang untuk bernafas. Permainan silat lidahku terus menghajarnya sampai satu titik dia menjerit, terliuk ke belakang lalu ambruk ke samping. Dia mengalami orgasme yang ke sekian kalinya.

Mbak yun rubuh, mungkin kakinya sudah terlalu lemas untuk menopang badan mungilnnya. Aku merengkuhnya, meletakkannya di dalam pelukanku. Kita berdua duduk menjeplok di lantai. Badan lemasnya berlawanan 180′ dengan kontol tegakku. Masih di pelukanku, walau tersengal sengal mbak yuni sudah mulai tenang. Aku dengan sabar menunggunya sambil membelai belai rambutnya.

“mbak yun gak papa?” tanyaku

“heh..heh…heh…kamu…gila…dik…heh…tulangku…seperti…di…lolosi…semuanya…lemes…banget…rasanya…” jawabnya dengan tersengal sengal

“yang tadi…mbak yun juga menikmatinya?” godaku sambil tersenyum

“heh… eh…mbak gak bisa…mengungkapkan dengan kata…kata…baru sekali ini…mbak…heh…heh…”

“tapi mba, aku masih belum jadi…liat nih, si jonny masih berdiri tegak…”

Mbak yun, masih dengan gerakan lemas berusaha mengusap kontolku.

“waduh…dik…mbak bisa pingsan kalau kamu sodok sekarang…tadi aja, mbak entah berapa kali…”

“hehehe…ya udah, kalau gitu istirahat aja dulu…”

“dik…tadi…itunya mbak…maksudnya…cairan mbak kamu telen yach?…”

Aku cuman tersenyum nakal

“makasih banget ya dik…” lanjutnya

Eh? Sumpah, pernyataan ini aku gak mudheng maksudnya apa. Aku hanya tersenyum, mencium sekilas bibirnya lalu mengangkatnya berdiri. Kusiram tubuhnya dengan air hangat dari shower. Kusabuni setiap mili tubuhnya, lalu aku pun mengguyur tubuhku. Kita kali ini “mandi” beneran.

Sampai sehabis mandi pun aku handuki badannya, ku perlakukan dia bener bener istimewa, mungkin di pikirannya dia jadi ratu semalam…hehehe… Dan dia beneran masih gemeteran sampai aku selesai mengeringkan badannya dengan handuk dan mendudukannya di tepi ranjang. Lucu aja, mengingat mbak ku ini bukan perawan yang baru saja mengenal sex, dia sudah beranak dua.

Bicara tentang perawan, aku jadi teringat waktu memerawani Karin, anak seorang istri simpanan yang tinggal di rumahku yang kukontrakkan. Persis sama, Karin juga gemetar seperti itu selesai ku garap. Dan setelah beristirahat sebentar, dia malah yang mancing mancing minta tambah.

Waktu itu, keperawanan anak kelas dua SMP dijual Rp. 7,5jt oleh ibunya, walau akhirnya aku kasih Rp. 12,5 dan bonusnya…well…long term…Karin bahkan sampai menyatakan sayang padaku, iblis yang telah membeli keperawanannya, plus ibunya juga bisa ku sodok kapanpun. Bahkan waktu kenaikan kelas ke kelas 3, mereka ku ajak berlibur ke jogja, dan kita 3 some di kamar hotel. What a sin.