Pelarian Kisah Cintaku Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 6

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 6 | Pelarian Kisah Cintaku Part 6 Start

Cuplikan chapter sebelumnya…..

Aku didampingi Jelita dan Dewi safitri menantu ku, terpaksa pergi ke Mesjid Agung untuk membatalkan pernikahan Cinta dengan Fredy. Suamiku, Prima dan Hartono menantuku akan langsung ke lokasi akad nikah begitu selesai mencari informasi tadi dan ketemuan disana.

Saat sudah tiba di sana, semua tamu telah hadir di aula Mesjid Agung dengan dandanan yang menyilaukan mata. Yang perempuan mengenakan kebaya indah dengan perhiasan berlian yang berpendar.

Sementara yang lelaki mengenakan setelan jas berkilat. Upacara yang khismat dan sakral pun kini telah bergeser fungsinya sebagai ajang pamer kekayaan dan kekuasaan. Dengan berdandan paling seronok, semua tamu seperti berlomba mendapatkan perhatian. Mereka tidak mau kalah oleh pengantin yang akan bersanding.

Suamiku, Prima dan Hartono kemudian menemui kami di dalam mesjid, sempat terjadi perdebatan kecil antara aku dengan mas Pramudya suamiku tentang siapa yang akan mengumumkan berita buruk itu.

“Mama kan yang menginginkan pernikahan ini”, kilah mas Pramudya dengan ekspresi dingin.

“Mama yang memulai, mama juga yang harus mengakhiri”.

Aku dengan terpaksa menahan semua rasa malu, berdiri.

Semua orang yang ada di dalam Mesjid Agung tertuju semua kepada ku saat aku mulai mengucapkan kata perkata.

“Assalamualaikum, wr.wb. Mohon perhatian semua saya mewakili pihak mempelai wanita akan mengumumkan berita yang tidak baik untuk hadirin semua khususnya kepada calon mempelai pria dan calon besan kami, saya atas nama Cinta anak saya, meminta maaf kalau pernikahan ini dibatalkan karena ada sesuatu hal yang diluar batas kemampuan kami, semoga hadirin sekalian khususnya kepada calon besan dan calon mempelai pria bisa menerima dengan ikhlas, atas perhatian nya saya ucapkan terima kasih, wassalam”.

Sesaat setelah menyampaikan berita buruk itu tiba-tiba kepalaku pusing dan pandanganku mengabur seketika tubuh ku ambruk tak sadarkan diri.

“Mama…..”.

.

.

.

Pov 3rd

Terjadi kepanikan dan kehebohan ketika melihat mama Sekar tiba-tiba pingsan setelah selesai mengumumkan pembatalan pernikahan Cinta anaknya dengan Fredy Mulyadi.

“Mama”, teriak Pramudya panik.

Ia langsung berdiri mendekati istrinya yang untungnya pada saat mau jatuh sempat di pegangin terlebih dahulu oleh Jelita anak mereka.

“Ayo, Pa! Segera bawa mama ke rumah sakit saja sekarang!”, kata Prima yang juga terlihat panik saat itu.

Mereka segera membawa mama Sekar ke dalam mobil dan berencana untuk pergi ke rumah sakit.

Saat mobil sudah melaju menuju ke rumah sakit terdekat, mama Sekar sadar dan memegang tangan Pramudya suaminya.

“Pa, nggak usah ke rumah sakit, pulang ke rumah saja Pa. Mama tadi sengaja pura-pura pingsan karena tidak mau lama-lama. Mama malu melihat wajah-wajah kecewa, sinis dan seperti mencemooh mama di sana!”.

“Kamu serius, Ma. Kamu beneran tidak kenapa-kenapa?!”.

“Iya, Pa”.

“Prima, pulang ke rumah saja, mama tidak kenapa-kenapa nak?!”, perintah Pramudya pada putra sulungnya.

“Ok, Pa!”.

Lalu mobil itu mengambil jalur sebelah kiri yang mengarah ke rumah mereka diikuti oleh beberapa mobil dari rombongan keluarga mereka.

Sesampainya di rumah mereka, Jelita dan Dewi Safitri segera membawa mama Sekar ke kamar nya untuk istirahat.

“Ma, mama istirahat ya”, bujuk Jelita tulus.

“Percaya saja ma. Cinta baik-baik saja disana, Jelita yakin Ma, Cinta itu anak yang kuat. Dia pasti bisa menjaga dirinya di sana!”.

“Iya ma, bentar ya ma. Dewi ambil minuman buat mama!”.

Dewi Safitri meninggalkan kamar mama Sekar untuk mengambilkan minuman untuk mertuanya.

“Nak, apa mama begitu jahatnya pada Cinta hingga Cinta tidak menyukai cara mama mendidiknya”.

“Hmmm… Boleh Jelita ngasih pendapat, Ma”, sahut Jelita sopan dan hormat.

Mama sekar mengangguk.

“Cara mama mendidik dengan keras pada mas Prima dan saya mungkin menurut Cinta itu mengekang kebebasan nya, Ma. Cinta dulu pernah curhat ke Jelita soal masalah ini, dia merasa tertekan dengan semua aturan-aturan dari mama cuma Cintanya tidak berani ngomong langsung ke mama karena takut mama malah tambah marah. Kalo mas Prima dan saya sudah mengerti maksud dan niat mama itu demi kebaikan kami kan, tetapi Cinta malah sebaliknya ia berpendapat ia tidak bebas di rumah ini”.

Mama Sekar terdiam dan sepertinya mulai merenungkan perkataan Jelita anaknya, lalu sebutir air mata menetes di kedua sudut matanya.

“Mama jangan sedih dan nangis, Ma! Percaya sama Jelita suatu saat nanti Cinta pasti pulang ke rumah, Ma. Dan Jelita mohon mama bisa lebih lembut mendidik Cinta, sebenarnya Cinta itu juga sayang sama mama, mungkin karena rasa tertekannya itu yang membuatnya nekat kabur dari rumah”.

“Iya, Nak. Kamu benar mama salah telah membuatnya seperti hidup dalam tahanan, padahal mama hanya takut dia salah dalam bergaul, tetapi justru menjadi dia semakin memberontak, terima kasih ya nak sudah menyadarkan mama, semoga saja Cinta tidak kenapa-kenapa diluar sana”.

“Nah ini baru mama Jelita yang kuat, smart dan cantik. Tidak usah takut untuk mengalah demi kebaikan kita semua, Ma. Hidup kita ini bukan soal bisnis ma, kalau itu Jelita angkat tangan deh sama mama, hihihi”.

Mama Sekar bisa tersenyum dengan candaan Jelita dengan berbicara lembut dan sopan.

Ternyata untuk menaklukan wanita bertangan besi seperti mama Sekar hanya satu bicara dengan lembut dan sopan tanpa bermaksud mengguruinya.

Dan hal itu ternyata dilakukan oleh Prima dan Jelita hingga mereka bisa tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang tulus dari mama Sekar.

.

.

.

Pov Adit

Namaku Aditya Febriansyah, usia 28 tahun. Anak bungsu dari pasangan suami istri, Rahadi Wahyu Gunawan dan Hanum Prawiradiraja. Kata sebagian orang aku mirip dengan aktor pemeran tokoh Habibie, Reza Rahardian, tetapi aku tetaplah aku dan tidak ingin disama-samakan dengan siapa pun.

Kakak lelaki sulung bernama Yudha Adi Pratama, berusia 35 tahun, saat ini sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang putra dan putri.

Kak Yudha dipercaya papa memimpin bisnis cargo dan gudang di bawah PT.RWG Cargo & Gudang (Persero) yang beroperasional di pelabuhan Tanjung Periok Surabaya.

Sementara, kakak perempuan ku bernama Annissa Putri berusia 32 tahun saat ini meneruskan pendidikan nya S3 di Amerika Serikat bersama suaminya mas chandra, mereka telah dikarunai seorang anak perempuan cantik bernama Felicia berusia 5 tahun.

Papa ku seorang konglemerat. Bisnis dan perusahaannya berada di Jakarta dan Surabaya.

PT. RWG Trans (Persero) bergerak di bidang transportasi meliputi ; taksi, bus pariwisata, bus antar kota antar provinsi jurusan Jakarta-Surabaya, mobil travel yang melayani semua kota di pulau serta jasa transportasi pengantin untuk kalangan atas.

PT. RWD Cargo & Gudang bergerak dibidang kargo dan pergudangan berlokasi di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Hotel RWD & Resto, hotel RWD & Resto sampai sekarang masih dikelola oleh papa dan mama, karena itu usaha pertama mereka dan sampai sekarang terus mereka pertahankan dan kelola.

Hotel berbitang 4 yang berada di kota Surabaya itu telah berdiri sejak 40 tahun yang lalu, merupakan peninggalan orang tua papa, yaitu kakek Gunawan Aditama Wijaya.

Dan usaha yang berkantor pusat di Jl. Cempaka baru No. 105 Jakarta Pusat (bukan alamat sebenarnya hanya karangan TS) sekarang ini yang dikelola dan dipimpin langsung oleh ku. Mengurusi jasa untuk transportasi pengantin untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, selain juga usaha bus pariwisata, bus AKAP jurusan Jakarta-Surabaya, termasuk juga menyediakan bus jemput antar untuk karyawan di wilayah JABODETABEK.

Bukan bermaksud membanggakan diri, aku merupakan salah satu lulusan terbaik di salah satu Universitas terkemuka di Indonesia yang berlokasi di Yogyakarta fakultas ekonomi jurusan Akuntansi.

Sejak lulus kuliah aku langsung ditunjuk papa untuk menjalankan bisnis nya di bidang transportasi.

PT. RWD Trans (Persero), awalnya sebelum aku yang mengurusi hanya menjalankan usaha transportasi bus-bus untuk keperluan pariwisata, bus AKAP dengan trayek Jakarta-Surabaya. Tetapi aku mulai mengembangkan sayap dengan menawarkan kepada perusahaan-perusahaan di wilayah JABODETABEK untuk perjanjian kerja, dengan menjadi penyedia jasa bus karyawan, antar jemput karyawan salah satu kontrak perjanjian kerja dengan hampir 30 perusahaan di wilayah JABODETABEK.

Selain itu aku juga membuka jasa penyewaan mobil bulanan bagi perusahaan yang mendatangkan tenaga asing.

Pelayanan yang ramah, profesional, dan tepat waktu menjadi kunci kesuksesan bisnis yang ku kelola saat ini. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang menjadi pelanggan kami.

Aku juga menambah puluhan unit bus dan mobil untuk kegiatan operasional perusahaan, dan salah satu peluang usaha baru saat itu, yaitu jasa layanan jemput antar pengantin atau penyewaan mobil pengantin. Lalu aku berinisiatif membeli beberapa unit limousin mewah yang nantinya diperuntukan menjadi mobil pengantin.

Di awal-awal, aku mengelola bisnis transportasi ini pastinya masih dibimbing langsung oleh papa, atau kurang lebih 6 bulan pertama papa membimbingku, mengajarkan semua ilmu yang ia kuasai, melatih insting bisnis ku, memprediksi tingkat resiko usaha dan lain-lain yang berkaitan langsung dengan bisnis transportasi yang ku kelola.

Akhirnya papa menyerahkan sepenuhnya bisnisnya ini kepadaku setelah melihat hasil kerjaku yang beliau nilai sangat luarbiasa.

Papa dan mama masih tetap berdomisili di Surabaya karena masih fokus ke bisnis hotel dan restoran mereka juga.

Papa hanya datang ke Jakarta jika terjadi masalah yang gawat dan membutuhkan pengalaman puluhan tahun untuk mengambil keputusan, biasanya masalah pengelolaan keuangan dan kredit dengan fihak bank, tetapi hal semacam itu jarang terjadi karena fihak bank juga menaruh respek pada bisnis yang di jalankan ku.

Aku yang memegang pucuk pimpinan di PT. RWG Trans (Persero) yang hanya melalsanakan pekerjaan ku di meja kerja ku tidak menyangka akan terjun sendiri untuk menjadi supir.

Disaat fajar baru saja menyingsing tadi pagi.

Bambang tergopoh-gopoh datang ke rumah ku. Wajahnya terlihat kusut dan cemas.

Begitu aku muncul di ruang tamu, Bambang langsung bangkit dari kursi dengan bahu membungkuk.

“Maaf, mas Adit”, katanya takut-takut.

“Pagi-pagi saya sudah mengganggu”.

“Ada apa, pak Bambang?”, tanyaku sambil mengucek-ngucek mataku yang masih mengantuk.

“Istri saya, Mas…”, sahut pak Bambang terbata-bata.

“Istri saya sakit keras. Sekarang diopname di rumah sakit”.

Mataku yang masih sembab tiba-tiba langsung membelalak cemas.

Aku memang selalu memperhatikan kesejahteraan seluruh karyawanku, karena aku menyadari bahwa aset perusahaan yang terpenting adalah karyawan, bukan gedung atau barang, karena itu aku dihormati dan dicintai seluruh karyawanku.

“Bagaiman keadaanya, Pak?”, tanyaku prihatin. “Kritis?”.

“Saya ditelpon untuk segera pulang ke kampung pagi ini juga, Mas”, jawab pak Bambang lesu.

“Kalau tidak, mungkin saya tidak akan keburu bertemu dengan istri saya”.

“Kalau begitu, tunggu sebentar, Pak”, sela ku iba.

“Saya akan berikan ongkos pulang dan biaya rumah sakit untuk pak Bambang. Tidak usah pikirin cara mengembalikannya, itu bukan pinjaman perusahaan melainkan bantuan dari saya secara pribadi”.

Pak Bambang sampai membungkuk-bungkuk dengan hormat.

“Terima kasih, mas Adit…”, ucapnya terharu. “Terima kasih…”.

Aku berbalik melangkah menuju kamarku untuk mengambil uang di kamar.

Dan setelah mengambil uang sekitar 10 juta ku masukkan ke dalam amplop coklat dan uang 1 juta untuk ongkosnya pulang, lalu kembali menemui pak Bambang yang terlihat gelisah dan panik.

“Tenang ya pak, berdoa saja semoga istri bapak segera ditangani dengan baik oleh pihak rumah sakit di sana”, ucapku menenangkannya sambil menyerahkan uang itu kepadanya.

“Ini 1 juta untuk ongkos pulang dan amplop coklat ini untuk biaya rumah sakit, jika masih kurang bapak segera telpon saya ya pak, nanti saya usahakan bantu kekurangannya”.

Pak Bambang sampai menitikkan air mata menerima uang pemberian saya, bahkan sampai mencium buku tanganku.

“Terima kasih banyak, mas Adit”, ucapnya terharu setelah melepaskan tanganku.

“Mas Adit sangat perhatian pada kami, saya bersyukur mendapatkan pimpinan sekaligus majikan seperti mas Adit. Sekali lagi saya sangat berterima kasih”.

“Sudah pak Bambang jangan berlebihan menyanjungku, itu adalah hak pak Bambang setelah lebih dari 20 tahun kerja di perusahaan ini, dengan sangat baik, loyal dan jujur”, jawabku bijak.

“Tanpa bantuan dari semua karyawan perusahaan ini tidak kan maju dan berkembang pesat. Kalian adalah bagian daru perusahaan kesejahteraan kalian semua itu tanggung jawab perusahaan pak”.

“Iya mas Adit, makasih banyak mas. Tapi, Mas…”, ujar pak Bambang tidak enak.

“Sebetulnya masih ada lagi yang ingin saya sampaikan….”.

“Ya, Pak?”, kataku tenang. “Ada apa lagi?”.

“Pagi ini saya tidak mungkin bertugas untuk mengantarkan pengantin, Mas…”.

“Oh”, sejenak aku berpikir.

“Itu masalah gampang, bapak pulang saja ke kampung. Tidak usah pikirkan apa-apa. Biar saya yang menyelesaikan semuanya”.

“Baiklah pak, kalau begitu saya pamit, mau segera pulang ke kampung, terima kasih, mas Adit”.

.

.

.

Satu jam kemudian, aku baru menyadari bahwa persoalanku ini ternyata tidak semudah yang ku perkirakan.

Dimana aku bisa memperoleh supir pengganti? Pagi-pagi begini dan hari minggu pula.

Semua supir bus sudah berangkat mengantar tur wisata ke luar kota. Lagi pula tidak sembarang supir diperbolehkan membawa limousin, harus melalui pelatihan khusus terlebih dahulu karena menjadi supir mobil pengantin bukan hanya mengantar dan menjemput.

Ada etiket dan sikap yang harus diajarkan.

Bagaimana cara menyapa, membukakan pintu, dan dimana mobil harus berhenti. Mereka bahkan diberikan seragam khusus berupa setelan jas dan tuksedo, lengkap dengan sarung tangan.

Pihak penyewa rela membayar mahal karena mendapatkan pelayanan first class dari perusahaan kami.

Percuma aku menghubungi satu persatu supir limousin melalui ponsel mereka.

Aku memang membekali mereka dengan alat komunikasi, sehingga mudah dikontak sewaktu-waktu diperlukan misalnya ada perubahan rencana dan jadwal. Hari itu semuanya sedang bersiap-siap untuk berangkat bertugas.

Memang akhir-akhir ini permintaan jasa mobil pengantin semakin membludak.

Aku sampai-sampai terpaksa harus menolak pesanan para penyewa jasa karena keterbatasan mobil limousin yang hanya berjumlah 5 unit.

Dan pada hari ini kesemuanya sudah full booking, cuma berbeda lokasi dan tempat saja, 4 mobil limousin lainnya sudah dipesan malah sebulan yang lalu oleh keluarga mempelai, jadi tidaklah mungkin meminta mereka memundurkan hari pernikahan.

Pesanan yang sudah disetujui tidak mungkin dibatalkan. Bukan karena sudah membayar uang muka, atau karena pesanan telah dilakukan minimal sebulan sebelumnya, tetapi karena pernikahan adalah peristiwa penting dan sakral. Semua detail telah direncanakan dengan matang sehingga kalau ada perubahan mendadak seluruh keluarga penyewa bisa mengamuk.

Dan kejadian yang menyimpang selalu dianggap sebagai firasat buruk. Pertanda bencana bagi pernikahan yang akan dilangsungkan. Begitulah biasa orang-orang yang masih percaya takhayul. Bukannya berdoa mohon keselamatan dan kelanggengan rumah tangga, mereka malah heboh meributkan masalah-masalah yang tidak masuk akal.

Tetapi terlepas dari masalah itu, aku tidak mungkin mengecewakan pelanggan perusahaanku karena bisa menimbulkan reputasi buruk bagi perusahaanku.

Aku ingat setelah membaca buku tentang pengusaha sukses di Amerika. sebelum berhasil memiliki restoran fast food terbesar dengan jaringan waralaba di seluruh dunia, si pengusaha juga terjun sendiri menjadi pelayan. Dengan begitu ia bisa tahu dari mulut pelanggannya langsung apa yang dibutuhkannya.

Jadi tidak ada salahnya bagiku untuk terjun langsung memahami bisnis yang dirintisnya dan bertemu dengan pelanggan, bukan? Lagi pula tidak ada pilihan lain.

PT.RWG Trans (Persero) perusahaan jasa dibidang transportasi yang memiliki 5 unit limousin first class, ratusan mobil bus karyawan, bahkan ratusan bus baik untuk pariwisata maupun untuk trayek Jakarta-Surabaya.

Belum lagi jumlah karyawan nya yang juga semakin banyak melebihi 200 orang yang berprofesi sebagai supir, 10 orang yang bertugas sebagai administrasi dan keuangan, 20 orang yang bertugas sebagai mekanik/montir untuk perawatan dan perbaikan mobil dan bus. 3 manajer (operasional, adminiatrasi dan kepegawaian serta keuangan) dan 2 kepala mekanik (mobil limousin dan travel serta bus) serta 1 orang sekretaris.

Meskipun sudah dipercaya papa sebagai Direktur PT.RWG Trans (Persero) aku sendiri tidak memiliki supir pribadi, aku justru lebih nyaman mengemudikan sendiri mobilku, lebih bebas bergerak ke mana-mana dan tidak terkesan seperti bos besar.

Aku lalu membuka lemari pakaianku, memilih setelan jas yang paling sederhana, kemudian aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa saat ini aku siap bertugas menjadi supir limousin, bukan seorang direktur.

Hal pertama yang sering ku tegaskan kepada seluruh supir limousin adalah dilarang menyalakan ponsel jika telah bertugas membawa mempelai, mereka harus memperlakukan sang pengantin betul-betul sebagai raja dan ratu sehari.

Dan aku sendiri tidak mau melanggar peraturan itu. Sejak aku memasuki halaman rumah mempelai wanita tadi pagi, aku segera mematikan ponselku.

.

.

.

Dan saat ini aku kembali sadar dari lamunan ku beberapa saat lalu, duduk bersender di sebuah sofa empuk sambil memperhatikan sesosok gadis cantik yang terbaring di ranjang dengan wajah yang menyiratkan kesedihan hatinya.

Sejenak aku memandangi Cinta, nama gadis yang ku ketahui sesaat lalu yang memang cantik dan sempurna secara fisik, entah mengapa aku seperti terhipnotis akan kecantikan alami yang dimilikinya.

“Kok aku jadi menyukai gadis sombong ini, sih! Padahal aku baru mengenalnya, dia tidak lebih cantik dari Tasya, tidak lebih seksi darinya tetapi mengapa hatiku berdebar dan gugup jika berada di dekatnya”, gumamku membatin.

Di depan Cinta aku terpaksa harus melanjutkan sandiwaraku sebagai supir dan tidak ingin memperlihatkan jati diriku sebenarnya.

Entah mengapa aku merasa tertantang untuk menundukkan dan menaklukkan Cinta.

Gadis itu begitu angkuh dengan menilai semua orang melalui kacamata kemewahan seakan alergi dengan kemiskinan.

Tetapi setelah melihat penderitaan dan kesedihannya justru aku terenyuh dan bersimpati pada masalah yang menimpanya.

“Ada masalah apa, Cin? Kenapa kamu sampai kabur dari pernikahan? Segitu kejamnya mamamu memperlakukan kamu hingga hidupmu seperti terkekang?!”, tanyaku dalam hati.

Tapi aku jadi teringat sesuatu, dan setelah memastikan Cinta sudah tertidur pulas.

Aku melangkah ke luar dari bungalo untuk membeli makanan serta pakaian buat Cinta dan segera menyalakan hp genggamku.

Barulah aku menyadari, pasti terjadi kekisruhan akibat masalah ini, pasti pihak keluarga Cinta sangat mencemaskan keadaannya, begitu juga kekisruhan di kantorku.

Begitu ponselku menyala kembali, banyak misscall, SMS yang menyerbu layar monitor hp genggamku. Dari sekretarisku, kantor dan nomor-nomor tidak kukenal.

Belum sempat aku membacanya satu persatu pesan SMS itu, tiba-tiba papaku menelpon.

“Apa yang terjadi, Adit?”, tanya papaku bingung.

“Sejak tadi papa menelponmu, baru sekarang kau nyalakan ponselmu! Orang-orang kantormu sampai menelpon papa karena tidak tau harus ke mana mencarimu! Orang di rumahmu pun tidak ada yang tau kemana kau pergi!”.

“Pengantin wanitanya kabur karena tidak mau dinikahkan, Pa”, sahutku santai.

“Tidak mau menikah?”, ulang papa tidak percaya.

“Sementara banyak orang diluar sana yang tidak punya biaya untuk menikah?”.

“Gadis itu dipaksa kawin dengan pria yang tidak dicintainya”, sanggahku memberitahu permasalahannya pada papa.

“Wah, kok masih ada juga pelanggaran hak asasi oleh orangtua?”, timpal papa menanggapi.

“Pelajaran juga tuh untuk papa dan mama, hihihi”, sambarku tertawa kecil.

“Justru jangan-jangan papa dan mama terlalu memberikan kebebasan padamu, Nak”, keluh papa cemas.

“Jurusan kuliah kau pilih sendiri, mau jadi apa terserah kau sendiri. Makanya kau keenakan sampai sekarang belum menikah juga!”.

“Jangan terinspirasi untuk menjodohkan saya juga, Pa!”, protesku geli. “Bisa pecah perang dunia ketiga”.

“Lalu… Bagaimana kau bisa terlibat persoalan ini?”.

“Pak Bambang yang seharusnya bertugas mendadak berhalangan…. Istrinya sakit di kampung, Pa”.

“Dan kau yang mengambil alih tugasnya, hahaha?”, potong papa sambil tertawa lebar.

“Sehingga kau terseret ke dalam peristiwa larinya calon pengantin perempuan ini? Seorang pengusaha pesawat terbang memang harua mencoba sendiri pesawat yang akan dibelinya. Tapi kalau pesawatnya dibajak, apakah kau yakin bisa mendarat dengan selamat?”.

“Wah, saya bukan sedang membantu narapidana kabur lho, Pa. Hihihi”, selaku tertawa.

“Saya justru sedang menyelamatkan masa depan perempuan cantik yang tidak berdaya menghadapi kezaliman orangtuanya”.

“Sebaiknya kau temui saja orangtuanya, Dit”, kata papa risau.

“Jelaskan apa yang terjadi untuk membuka pikiran mereka. Mudah-mudahan mereka akan mengambil keputusan yang lebih baik”.

“Tenang saja, Pa”, sahutku menghiburnya.

“Aku akan membereskan masalah ini”.

“Kau yakin, Nak? Tidak perlu bantuan Papa?”.

“Aku tidak mau jadi generasi yang suka membawa-bawa jabatan orangtua!”.

“Papa tau selama ini kau memang selalu cekatan mengatasi semua masalah, Dit”, puji papa bangga.

“Jangan-jangan kau pun sudah tidak membutuhkan aku lagi sebagai papamu!”.

“Aku termasuk orang yang percaya bahwa keberhasilan generasi muda karena dukungan dan kolaborasi dengan generasi sebelumnya kok, hahahah”, jawabku terbahak-bahak.

“Jadi jangan khawatir, Pa. Tidak akan ada kudeta!”.

“Adit”, seru papa sebelum menutup sambungan telpon.

“Ya, Pa?”.

“Jangan terlalu jauh. Setelah menyerahkan gadis itu, kau harus segera menarik diri dari masalah ini. Jangan mencampuri urusan keluarga orang lain”.

“Tentu, Pa”, janjiku sungguh-sungguh.

“Setelah menemui orangtuanya, saya tidak mau lagi berurusan dengan mereka”.

.

.

.

Pukul 23.00 wib….di rumah orangtua Cinta…..

Pov 3rd

Adit terpaksa memutar arah, sebelum membeli pakaian dan makanan buat Cinta. Ia memutuskan untuk mendatangi dulu rumah orangtua Cinta.

Masih ada beberapa petugas dari Kepolisian yang berjaga-jaga di sana ketika mobil limousin yang ia kemudikan melintas masuk.

Beberapa orang yang berkerumun di ruang tamu serentak menghambur keluar ketika melihat mobil limousin itu datang.

Pemuda itu sudah menduganya, begitu dia melangkah turun dari mobil, seorang perempuan bergaun malam sudah berdiri di beranda dengan membelalak mata.

Tatapan matanya tajam seperti sedang meneliti dan menginterogasi tanpa terlihat senyum yang ramah.

“Kau yang melarikan anak saya, Cinta!”, mama Sekar langsung menyambut Adit dengan makian. “Kau yang membawa kabur anakku”.

Adit hanya diam, ia terlihat sedang menghela nafas mencoba bersabar dan menahan emosinya sambil berusaha untuk tetap tersenyum ramah.

Seketika Adit melihat seorang lelaki berpakaian rapi dan santai, terlihat raut mukanya yang sabar, dan bijaksana. Ia muncul tergopoh-gopoh dari dalam rumah untuk melerai istrinya.

“Biarkan dia masuk dulu, Ma”, ucap pria paruh baya itu menerangkan.

“Masa begitu cara kita menyambut tamu?”.

Lalu Pria paruh baya yang bernama Pramudya menoleh ramah sambil tersenyum kepada Adit.

“Ayo, masuk….! Silahkan!”.

Pemuda itu mengangguk sopan.

Pramudya langsung menghampirinya, menggamitnya untuk memasuki rumah.

Mama Sekar membuntuti dari belakang dengan tidak sabar diikuti juga oleh Prima, dan Jelita.

Salah satu petugas dari Kepolisian pun ikut juga masuk ke dalam rumah.

“Ayo, bilang! Di mana kau sembunyikan Cinta?”, mama Sekar langsung memberondong dengan pertanyaan, padahal baru beberapa detik Pemuda itu menempelkan pantatnya di sofa ruang tamu.

“Jangan begitu, Ma”, sela Pramudya menengahi.

“Biarkan dia menjelaskan dulu. Dia yang bisa menjadi kunci penyelesaian masalah ini. Jangan-jangan dia justru hanya korban”.

Salah seorang petugas polisi segera mengambil tempat di antara mereka. Waspada jika sewaktu-waktu kehadirannya dibutuhkan dalam perundingan ini.

“Saya ingin mengabarkan bahwa Cinta baik-baik saja”, ujar Adit santun.

Ia tidak merasa tersinggung sedikit pun meski mama Sekar memperlakukannya seperti kuman yang harus dibasmi.

“Yang perlu saya luruskan adalah saya tidak membawa kabur Cinta. Tapi Cinta sendiri yang ingin melarikan diri dari rumah dan pernikahan ini”.

Petugas dari POLRI berdehem memberi isyarat.

“Tadi ibu melaporkan bahwa putri ibu diculik”, tegurnya sambil menatap mama Sekar.

Mama Sekar membetulkan sikap duduknya, berlagak tenang meskipun mukanya merah padam.

“Apa bedanya?”, balasnya tidak mau disalahkan.

“Yang penting, anak saya hilang! Seharusnya Bapak membantu saya menemukannya. Kok malah sampai penculiknya yang menyerahkan diri!”.

“Maaf, Bu”, potong Adit tegas.

“Saya sama sekali tidak berniat menculik Cinta. Cinta yang meminta saya untuk membawanya pergi, karena tidak mau dipaksa menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya”.

“Kau tidak tau apa-apa!”, dengus mama Sekar jengkel. “Jangan ngomong sembarangan!”.

“Saya justru menolongnya dari musibah yang akan menimpanya”, jawab Adit santai.

“Saya ingin kau kembalikan anak saya”, desis mama Sekar dengan ekspresi marah.

“Cinta tidak mau pulang, Bu”, sahut pemuda itu mengangkat bahu. “Saya tidak menculiknya”.

“Begini, Bu”, potong petugas polisi itu dengan Arif dan mencoba menengahi.

“Kami kira, kami sudah mulai memahami persoalan yang sebenarnya. Putri Ibu melarikan diri karena menolak dinikahkan dengan lelaki yang tidak dicintainya”.

“Semua ini saya lakukan demi kebaikan dia sendiri, Pak”, sahut mama Sekar ngotot.

“Saya minta Bapak menjemput anak saya sekarang juga”.

“Nah, itu namanya pencidukan”, ujar polisi menerangkan.

“Padahal putri Ibu tidak melakukan kejahatan apa-apa. Justru Ibu telah melakukan pemaksaan dan pengancaman terhadap dirinya. Wajar kalau dia lari untuk menyelamatkan diri. Kami sebagai polisi bisa berbalik tugas, dan justru akan melindungi putri Ibu untuk memastikan tidak ada lagi pemaksaan yang lain”.

“Saya ibunya”, erang mama Sekar terguncang. “Bagaimana mungkin saya bisa menganiaya anak saya sendiri!”.

“Maaf, Bu”, kata polisi bijak.

“Memang yang Ibu lakukan tidak menyakiti secara fisik, tetapi Ibu bisa dikarenakan sanksi atas penganiayaan jiwa. Dan itu lebih berat ganjaran hukumannya”.

“Lagi pula, Pak”, tambah Adit sambil menatap petugas polisi.

“Bukankah anak berusia di atas delapan belas tahun sudah berhak menentukan sendiri jalan hidupnya? Orangtua sekali pun tidak berhak untuk mendikte”.

Mama Sekar serentak menoleh dengan dingin kepada Adit.

“Siapa kau sebenarnya? Dari mana kau paham mengenai hukum segala?”.

“Saya hanya supir, Bu”, jawab Adit kalem.

“Tapi apakah rakyat kecil seperti saya tidak punya hak untuk bicara? Apakah hukum hanya berpihak pada orang-orang kaya seperti Ibu?”.

Berdasarkan perundingan secara kekeluargaan dengan pihak kepolisian, Pramudya mencabut berkas laporan penculikan terhadap Cinta. Ia juga meminta maaf atas laporan yang tidak sesuai kenyataan.

Mama Sekar terlihat demikian terpukul.

Ia segera bangkit meninggalkan ruangan setelah mengetahui keadaan ternyata berbalik menyerang dirinya.

Meskipun Adit terlihat sebagai pemuda baik-baik, petugas polisi tetap melakukan interogasi. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan silang, sampai akhirnya menyimpulkan bahwa Adit bersih dan tidak perlu dicurigai karena ia sama sekali tidak ikut merencanakan Pelarian Cinta.

Dengan perjanjian bahwa Cinta tidak akan dijemput, Adit memberitahukan di mana Cinta berada.

Adit juga memberikan nomor ponselnya, namun tatap menyembuyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan.

Melihat sikap Adit yang dapat dipercaya, Pramudya meminta Adit untuk menjaga Cinta sementara waktu.

Pramudya memutuskan untuk tidak menemui Cinta, memberi kesempatan pada putrinya untuk menenangkan diri lebih dulu.

Pramudya juga memberikan beberapa tumpuk lembaran uang seratus ribuan kepada Adit, sebagai pegangan jika Adit harus mengeluarkan biaya untuk Cinta, sehingga Adit tidak perlu mengeluarkan sepeserpun untuk menolong Cinta.

Refleks Adit ingin menolak.

Tapi ia cepat tersadar bahwa ia harus bersikap sebagai supir yang hidup sederhana.

Mau tidak mau ia menerima uang itu untuk menghindari kecurigaan Pramudya.

“Telepon saya jika Cinta memerlukan apa pun”, pesan Pramudya sebelum Adit berpamitan.

Lalu dengan mata berkaca-kaca, Pramudya berkata lirih.

“Tolong jaga dia baik-baik”.

.

.

.

Sesaat setelah kepergian pemuda itu, di ruang tamu masih duduk Prima, Jelita dan Pramudya, mereka bertiga sepertinya masih membicarakan sosok pemuda yang baru saja pamit beberapa menit lalu.

“Pa, prima curiga sama si supir tadi. Menurut penilaian Prima ada rahasia dari pria itu, entah apa ya. Coba papa simak kalimat nya tadi saat menjawab omongan mama, dia seperti bukan seorang supir, dari cara ngomongnya yang tenang dan pintar.”.

“Benar itu, Pa. Jelita juga merasakan sama seperti mas Prima, gimana kalo mas Prima cari tau informasi tentang pria itu, besok mas Prima datangin lagi ke tempat kerjanya. Nih tadi Jelita sengaja ambil photo dia tanpa dia sadari”.

Jelita kemudian menyerahkan ponselnya pada mas Prima kakaknya, foto hasil jepretan Jelita sangat bagus dan terlihat semua wajah pemuda itu.

“Nih, Pa. Coba papa lihat! Prima yakin orang ini pendidikannya minimal setingkat S-1. Iya Jelita, besok mas Prima selidiki siapa lelaki muda ini, supaya kita yakin kalau dia benar-benar pemuda baik dan tidak ada niat terselubung memanfaakan Cinta adik kita”.

“Sebentar rasa-rasanya papa nggak asing sama no. ponsel ini, coba nak kamu periksa no. hp ini, tadi kan ada no. hp yang dikasih satpam satu nomor sekretaris, satu no.hp pimpinannya”.

Kemudian Prima mengecek no. ponsel yang tadi pagi ia dapatkan dari satpam yang bertugas.

Prima mencocokkan no. hp itu dengan no. hp yang diberikan oleh satpam, dan tiba-tiba mulutnya menganga dan matanya terbelalak.

“Kenapa, Nak?”, tanya Pramudya ikut kaget melihat ekspresi Prima anaknya.

“Benar ternyata feeling ku, Pa!”, sahut Prima sambil menghela nafas sejenak.

“Pemuda tadi itu pemilik mobil limousin, Pa. Namanya Aditya Febriansyah, Direktur PT. RWG Trans (Persero). Ini lihat saja profil nya pa, tadi Prima iseng-iseng buka WA nya melalui no.ponsel ini”.

“Bentar, Mas. Ini kan pemuda tadi!”, timpal Jelita cepat sambil kembali menyerahkan hp nya yang tadi sempat dikembalikan Prima kakaknya”.

“Sekarang papa tenang nak, Cinta ditangan orang yang tepat, nanti kau temui dia baik-baik tolong suruh dia temuin papa dikantor papa ya nak”.

“Ok, Pa. Percayakan semua tugas ini pada Prima”.

.

.

.

Sementara itu di kamar bungalo….

Pov Cinta

“Mama……”. Teriak Cinta mengingau.

Dan aku terbangun dari tidur dengan nafas terengah-engah, kemudian memandangi sekeliling ruangan kamar bungalo ini, dan kaget ketika tidak menemukan Adit.

Lalu aku segera bangkit dari pembaringan, dengan tergesa-gesa, melangkah menuju kamar mandi berharap pemuda itu ada di sana.

Ceklek…..

Begitu pintu kamar mandi itu terbuka aku melongokkan kepala meneliti sekeliling ruangan kamar mandi yang ternyata pemuda itu tidak ditemukan.

Masih dalam keadaan jengkel dan panik, aku meraih pesawat telepon di sisi tempat tidur dan langsung memutar nomor telepon rumah Robi.

Ketika terdengar suara Robi di seberang sana, aku langsung menumpahkan keresahanku.

“Tolong aku, Robi”, ratapku sedih. “Keluarkan aku dari persoalan ini…”.

“Untuk apa kamu kabur, Cinta”, tanya Robi kuatir.

“Bagaimana kamu tau aku kabur?”, tanya ku curiga.

“Mereka mencari-carimu ke mana-mana. Bahkan aku dikira menyembunyikanmu di rumahku, jelas Robi kikuk.

“Katakan di mana kamu berada, Cinta”.

“Kamu mau menjemputku?”.

“Tentu saja”.

“Dan kamu mau menghadapi orangtuaku?”.

“Bukannya mereka malah berterima kasih kalau aku berhasil mengembalikanmu?”.

“Maksudku, untuk melamarku!”, desis ku geram.

“Tidak, aku belum siap”.

“Tapi aku hanya ingin kawin denganmu! bukan dengan lelaki itu!”, jeritku histeris.

“Aku hamil, Robi! Aku mengandung anakmu!”.

“Sudah kubilang, aku belum siap jadi suami dan ayah”, jelas Robi sedih.

“Kaulihat keadaan orangtuaku. Aku trauma dengan pernikahan. Aku tidak mau menikah jika hanya untuk bercerai”.

“Tapi aku hampir direbut dan dimiliki pria lain, Robi!”, pekik ku meradang.

“Kekasihmu sendiri akan dinikahi pria lain! Mengapa kamu hanya diam saja? Tidak sanggup berbuat apa-apa?”.

“Aku tidak mungkin membebaskanmu”, desah Robi kacau.

“Mamamu yang mengatur pernikahan ini. Dan bukan aku yang dipilih jadi suamimu, kan?”.

“Jadi kamu membiarkan ku direbut lelaki lain?”.

“Jika itu yang terbaik untukmu, aku merelakanmu, Cinta…”.

Aku membanting telepon dengan geram lalu menangis meraung-raung. Kalau lelaki yang kucintai, lelaki yang kuharapkan, malah rela menyerahkan ku pada Fredy, untung saja aku bisa kabur dari rumah dan menghindari pernikahan ini.

Aku betul-betul tidak tau harus bagaimana lagi. Barangkali mungkin seharusnya menuruti saja kemauan mama.

Ke mana aku harus mencari pertolongan? Aku tidak punya tempat berlindung, papa tidak bisa diharapkan. Dalam keluarga, ia cuma dipajang sebagai papa tapi tidak memiliki wibawa dan pengaruh, seluruh hidupnya telah digadaikan kepada mama.

Papa sendiri pernah menceritakan kepada

ku, mengapa ia tidak berani menentang mama dan menjadi papa yang lemah dan rapuh. Karena mama yang telah menyelamatkan keluarga dari ambang kehancuran. Dan papa bukan hanya berhutang budi, tapi juga berhutang nyawa.

Aku menangis pilu dan merasa sebatang kara. Apalagi si supir limousin pun menghilang entah kemana membuatku semakin panik dan putus asa.

Kemudian aku keluar dari bungalo itu, menuju ke meja resepsionis. Sang resepsionis yang tadi sempat sewot dan curiga kini lebih bersahabat, resepsionis itu dengan ramah menyapaku.

“Selamat malam, Bu”, sapa si resepsionis itu ramah.”Ada yang bisa kami bantu?”.

“Malam juga, mbak”, jawabku gelisah.

“Mbak boleh saya nanya ke mbak”.

“Silahkan, Bu. Mau tanya apa? Nanti saya jawab sesuai kemampuan saya”.

“Begini, Mbak?”, aku mulai bertanya.

“Apa tadi suami saya pergi dari sini, adakah ia meninggalkan sesuatu sama mbak. Soalnya tadi saya telpon ponselnya tidak aktif”.

“Tadi ia hanya menitipkan ini, Bu”, jawabnya sambil ia menyerahkan sebuah amplop surat padaku.

“Ok, Mbak.”, kataku sedikit mulai tenang.

“Terima kasih saya kembali lagi ke kamar”.

Aku balik kembali ke kamar, dan dengan semangat aku mulai membuka dan membaca surat itu.

to: Cinta

Mungkin sekarang kamu sedang kaget dan panik ya, saat tidak mendapati aku di sana.

Tapi kamu jangan panik Cinta jika kamu mendapati surat ini maka tersenyumlah, karena kamu akan terlihat semakin cantik bila tersenyum.

Aku lelaki yang selalu menepati janji dan akan kembali ke sana.

Kamu percaya kan?

“Tutup matamu pasti aku segera berada di sana”.

Si supir limousin,

Adit

Lamat-lamat aku mendengar pintu dibuka. Aku langsung menoleh ke arah pintu sambil menegakkan punggung, bersandar ke kepala tempat tidur. Mataku mengerjap-ngerjap melihat siapa yang datang.

Tampak Adit melangkah masuk dan tanganya menjinjing kantong-kantong plastik.

“Untuk apa kamu kembali?”, semprot ku kesal.

“Mengapa tidak kau tinggalkan saja aku sendiri di sini selamanya?”.

“Kau pasti lapar….?!”, sahut Adit tenang.

“Makan dulu….”.

Adit meletakkan kantong-kantong plastik di atas meja lalu ia mengeluarkan beberapa wadah berisi makanan dan menatanya.

“Kalau aku pulang”, sambung Adit dengan senyum dikulum.

“Polisi dan keluargamu akan menginterogasi ku. Kau sendiri yang bilang begitu. Jadi kemana lagi aku harus bersembunyi, kalau bukan di sini?”.

Dari kantong lain, Adit mengeluarkan beberapa helai pakaian, lalu memberikannya

kepada ku yang masih tertegun bengong mengawasinya.

Aku menerimannya dengan perasaan bingung bercampur haru.

“Aku juga membeli pakaian. Mudah-mudahan pas ukurannya denganmu dan jumlahnya cukup untuk selama kamu kabur. Mau berapa lama kamu bertahan di sini?”.

“Selama-lamanya”, sahutku lemah. Tapi kemudian aku cepat-cepat meralat.

“Tentu saja bukan menginap di sini selamanya. Maksudku, aku tidak akan pernah kembali ke rumah. Aku akan mencari pekerjaan, mengontrak rumah…”.

“Jangan pikirkan apa-apa dulu”, kata Adit menghibur.

“Ayo, makan dulu. Kamu pasti kelaparan sejak pagi belum makan, kan?”.

Aku beringsut dari tempat tidur. Berapa lama aku tertidur tadi? Baru sekarang aku merasakan betapa lapar perutnya.

Aku duduk di samping Adit dan menghadap meja makan.

Aku membantu Adit membuka bungkusan makanan. Masih hangat. Dari dalamnya menyeruak aroma bakmi goreng dan puyonghai yang lezat.

Mencium bau yang menyengat itu, perut ku langsung bergolak.

Tiba-tiba mualku kambuh lagi.

Sejak hamil, aku sensitif terhadap aroma.

Aku terhuyung-huyung menuju kamar mandi dan muntah-muntah lagi. Kali ini lebih hebat sampai aku merasa seluruh cairan di dalam tubuhku keluar semua.

Aku merasa lemas sekali.

Dengan sempoyongan aku melangkah keluar dari kamar mandi. Aku sama sekali tidak menyangka Adit telah menunggunya di depan pintu. Adit meraih lenganku, memapahku agar aku bisa melangkah seimbang, lalu mengulurkan handuk untuk menyeka mulutku.

Aku menengadah, tercengang mendapat perhatian sebesar itu dari pemuda yang baru satu hari kukenal. Perhatian yang bahkan tidak pernah diberikan Robi padaku!

Dan saat itu aku baru menyadari betapa tampannya Adit yang berdiri dihadapanku ini.

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 6  | Pelarian Kisah Cintaku Part 6 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 5)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 7)