Pelarian Kisah Cintaku Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 5

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 5 | Pelarian Kisah Cintaku Part 5 Start

Pov Cinta

Sejak kejadian itu, kami sempat mengulangi nya lagi beberapa hari kemudian.

Hingga pada suatu pagi aku merasa kepala ku pusing, dan perut terasa mual dan terasa ingin muntah.

Aku segera ke kamar mandi yang letaknya berada di dalam kamar ku. Sempat terpikir apakah aku sedang kena flu, masuk angin atau karena kecapean sering pulang sore dan kelelahan kemaren saat di gauli Robi di kamarnya.

Tapi setelah mengalami hal itu beberapa hari, kalau tidak salah hitung sudah 3 hari berturut-turut aku mengalami hal yang sama, aku kepikiran untuk melakukan test pake test pack atau alat tes kehamilan yang ku beli di apotik dengan alasan testpack itu untuk mama ku.

Apalagi sejak aku kehilangan keperawanan ku, tamu bulanan ku belum datang hingga hari ini.

Aku kemudian membaca petunjuk pemakaian dan kemudian mengikuti nya untuk melakukan uji kehamilan.

Aku terperanjat dan mulut ku menganga kaget seperti sedang melihat hantu, saat aku melihat hasil di alat test itu menunjukkan tanda 2 garis.

Aku sempat panik dan kacau saat menyadari kini aku berbadan dua, di dalam perut ku ada janin dari benih Robi, lalu untuk meyakinkan bahwa test itu benar atau tidak, aku pergi ke tempat dokter praktek dr. Retno Sri Ningsih, DSpK.

Dari pemeriksaan dr. Retno dan hasil laboratorium disimpulkan aku positif hamil, dan hasil laboratprium pun mengatakan kehamilan ku sudah memasuki 3 minggu.

Dari pulang tempat praktek dr. Retno, aku langsung mengabari Robi via telpon untuk ketemuan di rumah nya, karena ada hal penting yang ingin ku kabarkan kepadanya.

Robi menyambut ku sangat gembira saat aku sudah sampai di rumahnya dan menyuruhku duduk di sofa sambil menonton TV kabel yang saat ini sedang ditontonnya.

Setelah aku merasa tenang, kemudian aku beranikan diri untuk memulai omongan.

“Robi sayang…! Apakah kamu benar-benar mencintai dan menyayangi aku?”.

Robi menganggukkan kepala.

“Jelas Cinta sayang, aku sangat mencintai dan meyayangi kamu, jangan pernah lagi meragukan Cintaku padamu”.

“Kalau kamu benar sayang dan cinta kepada ku, apakah kabar ini akan membuat mu senang dan bahagia?”, tanya ku sekali lagi.

“Bentar-bentar, kamu sedang bawa kabar apa, Cinta sayang?”.

“Aku hamil, Robi! Dan ini hasil laboratorium hasil pemeriksaan nya pagi tadi”, jawab ku sambil menyerahkan hasil lab itu pada Robi.

Robi membaca hasil lab itu sesaat, lalu ia berdiri di dekat tembok itu.

“Bodoh….! Bodoh…! Kamu bodoh sekali, Robi”, teriaknya memaki dirinya sendiri sambil ia membentur-benturkan kepalanya di tembok.

Aku yang melihatnya melakukan itu segera bangkit dan memeluknya dari belakang sambil menangis, padahal aku berharap melihat Robi akan terkejut gembira mendengar berita ini, lalu memeluk dan menciumku.

“Sudah jangan seperti itu, Rob. Aku tidak mau kamu jadi celaka dan sakit, kita mesti cari jalan keluar yang baik bukan malah mendiamkan masalah ini berlarut-larut”.

Robi menghentikan perbuatannya lalu ia kembali duduk di sofa dengan wajah yang tegang.

Aku menyusulnya dan duduk disampingnya sambil menyenderkan kepala ku di bahunya.

Lama kami berdua terdiam dengan pikiran masing-masing, mungkin adalah 15 sampai 20 menit kami diam membisu.

Lalu sesaat kemudian ia bangkit menjauhi ku dan pindah duduk di karpet di depan televisi.

“Kita masih terlalu muda untuk menikah”, dengus Robi cuek, sambil memasang kabel play station. “Belum siap secara mental. Pernikahan kan tidak semudah pacaran begini. Kita belum cukup dewasa untuk menghadapi persoalan rumah tangga”.

“Aku belum bekerja”, tambah Robi cuek, ia lebih asyik berkonsentrasi pada permainan play stationnya. “Mau aku kasih makan apa anak kita nanti?”.

“Kenapa tidak kau pikirkan waktu itu?”, protes ku ketus.

“Aku tidak menyangka akan begini hasilnya….”, sahut Robi sambil melengos.

“Jangan mau enaknya saja dong!”.

“Lho, kamu juga menikmati, kan?”.

“Lalu, kamu minta aku bagaimana?”, mataku melotot sewot.

Robi melepaskan tatapannya dari permainan di televisi. Ia menoleh menatapku, turun ke perutnya, lalu naik lagi memandangi wajahku penuh permohonan.

“Oh, tidak! Tidak mungkin!”, jeritku panik. “Jangan kamu suruh aku menggugurkan kandungan ini!”.

“Tapi hanya dengan begitu kita bisa menyelesaikan persoalan ini, Cinta”, kilah Robi kesal. “Sehingga tidak ada yang tahu apa yang terjadi dan kita tetap bisa pacaran seperti biasa, kuliah, nongkrong dan gaul…”.

“PLAAAAAKKKK…..”.

Cinta bangkit dari sofa, kemudian ia pergi meninggalkan Robi dengan rasa yang sangat kecewa, sambil membanting pintu ruang tamu dengan geram.

Dan dua minggu kemudian…

Sejak kejadian dua minggu lalu aku sekarang sudah di larang mama keluar rumah dan mesti segera mengajukan cuti kuliah jadi otomatis aktifitasku semakin terbatas dan selalu dalam pengawasan mama, karena mama memergokiku muntah-muntah beberapa hari di dalam kamar ku, dan ia sempat shock saat mengetahui diriku hamil.

Saat mama meminta ku mengajukan cuti kuliah selama aku hamil hingga melahirkan, saat itulah kugunakan kesempatan untuk mendatangi Robi di kediamannya.

Ku buang rasa gengsi dan harga diri demi memintanya dengan baik-baik supaya bertanggung jawab menikahiku.

Aku tidak ingin dinikahkan dengan lelaki pilihan mama yang tidak aku cintai sama sekali, ini jalan terakhirku berjuang mendapatkan Robi, sebelum benar-benar aku tidak bisa lagi bersama nya, bersama cintaku, dan bersama lelaki yang telah membuahiku.

Saat aku mengetuk pintu, tiba-tiba yang membukakan pintu Robi sendiri, ia sempat kaget dan terkejut atas kedatanganku dan segera menyuruhku masuk ke dalam.

“Eh? Cinta…..!”, pekik Robi sedikit kaget. “Ayo masuk!”.

Aku kemudian masuk ke dalam rumah yang sudah sering ku kunjungi hampir selama 3 tahun ini.

Dipersilahkannya aku duduk di sofa, lalu ia mulai membuka obrolannya.

“Gimana kabarmu dan janin dalam kandunganmu, Cin?”, tanya nya gugup. “Semoga baik-baik saja, ya?!”.

Aku hanya mengangguk, jujur saat ini aku sedikit bisa merasa nyaman atas sikapnya yang lembut.

“Maafin perkataan ku kemaren ya, Cin!”, ucapnya getir. Ia seakan menyesal telah memintaku menggugurkan anak kami. “Tidak seharusnya aku meminta mu menggugurkan janin yang kamu kandung”.

Aku masih saja diam dan hanya mendengarkan apa yang ingin dia katakan, sesekali ia berusaha untuk kembali mencumbuiku, tapi aku dengan halus menepiskan tangan nya pada saat ia ingin memelukku.

“Aku kangen sama kamu, Cin!”, katanya dengam suara berat. “Aku rindu kebersamaan kita dulu”.

Saat itu aku pun meleleh setelah mendengarkan perkataannya, apalagi ia mengatakannya sambil menitikkan air mata.

Aku yang juga sangat merindukannya langsung memeluknya. Aku ikut menangis, menangisi keadaan.

Sejujurnya aku pun juga merindukan Robi, kenangan-kenangan bersamanya selama tiga tahun ini sangat membekas dan tidak mungkin bisa kulupakan seumur hidupku.

Walaupun di hatiku ada sedikit goresan luka yang telah ia buat dua minggu lalu, saat ia belum siap menikahiku dan memintaku menggugurkan calon anak kami dalam kandunganku.

Tetapi entah kenapa, aku begitu lemah dan rapuh bila didekatnya, saat bibirnya sudah melumat bibirku aku malah membalasnya dengan tidak kalah panas.

Ciuman kami tidak ubahnya seperti ciuman orang yang telah begitu lama tidak ketemu dan setelah bertemu ingin saling berbagi kemesraan.

Hingga akhirnya…..

Aku tak berdaya saat ia menggendong tubuh ku dan membawaku ke kamarnya.

Pakaian sudah terlolosi dari tubuh kami masing-masing, ciuman dan cumbuan semakin meningkat ke percumbuan yang mengundang nafsu birahi.

Aku lupa dengan niat dan tujuan awalku untuk memintanya menikahiku, terbawa hanyut bisikan-bisikan iblis yang menjanjikan kenikmatan surga dunia yang seharusnya haram kami lakukan sebelum menikah.

Perbuatan itu pun terulang lagi, kami berdua kembali mereguk kenikmatan, rayuan setan ternyata lebih dominan mengalahkan iman, dan akal sehatku.

Aku terkulai lemas setelah mendapatkan 3x orgasme, begitu pun juga dengan Robi yang tergolek kecapean di samping kanan ku, dengan peluh yang mengalir di tubuh kami masing-masing.

Setelah beberapa saat kemudian aku memberanikan diri memulai obrolan dan menyampaikan niat dan tujuanku menemuinya.

“Aku ingin pergi dari rumahku, Rob….! Bawalah aku pergi kemana pun yang kamu mau”, isak ku menangis. “Kupikir, dengan kehamilanku ini, aku akan bisa keluar dari rumahku, terbebas dari kekangan mamaku”.

“Aku tidak bisa membawamu kemana-mana, Cinta”, ucap Robi panik. “Karena….?”.

“Maksudmu apa, Robi?”, tanya ku kembali walau sakit aku mendengar omongannya barusan.

“Kita tidak mungkin menikah, Cinta”, desah Robi malas-malasan. “Aku nggak yakin dengan masa depanku. Aku takut…..”.

Ia kembali bangkit dari ranjang menjauh dari ku, lalu ia duduk meringkuk di sudut kamarnya sambil memeluk kakinya. Ia seperti ketakukan akan bayang-bayang yang menghantuinya selama ini.

Aku tak habis pikir mengapa selama ini pahlawan yang selalu menjaga dan melindungiku, yang selalu berdiri tegar untuk membelaku, kini justru terlihat seperti pesakitan yang lemah tak berdaya.

Aku segera memakai pakaian ku kembali, lalu mendekatinya.

“Ini terakhir kalinya aku menemuimu, dan jangan harap aku akan kembali padamu, Robi”, oceh ku sinis. “Bulan depan aku akan menikah dengan Fredy Mulyadi lelaki yang dipilih mama untuk menjadi suami dan ayah dari janin yang bukan dari benihnya, dia masih lebih baik daripada kamu yang seorang PECUNDANG”.

Aku segera keluar kamar nya dengan perasaan marah dan kecewa, saking kesalnya pintu kamar Robi ku banting dengan cukup keras.

————————————————————————————————————-

Aku tersadar dari lamunan ku saat ada ketukan dari luar kamar mandi, dan ada seruan dari nya.

Tok.. Tok… Tok…

“Mbak…! Mbak…! Kamu tidak apa-apa, di dalam sana?!”.

Aku segera menjawab supaya pemuda itu tidak curiga apa yang sedang kualami.

“Iya, aku baik-baik saja, maaf aku sedang BAB, perut ku mulas!”.

“Syukurlah mbak, juka kau tidak kenapa-kenapa? Kalau begitu aku pulang, ya!”.

“Tunggu…! Tunggu sebentar, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku dong!”, sahut ku cepat dan segera membuka pintu kamar mandi.

Ceklek…. Kriiiieeekkk…

Pemuda itu sejenak memandang ku, kali ini tatapan nya sudah tidak canggung dan seperti sedang meneliti aku, melihatku dari atas sampai bawah.

“Hei, kok malah bengong!”, cibir ku pada pemuda itu.

Ia garuk-garuk kepala dan berusaha menyembunyikan kekagetan nya.

“Eh, iya mbak. Kita belum kenalan ya sejak beberapa jam lalu. Aku Adit, dan mbak?”, pemuda itu memperkenalkan diri nya dengan sopan.

“Panggil Cinta saja mas!”.

“Yaudah mbak Cinta, aku mau pamit pulang, nggak enak nantinya kalau kita sekamar timbul fitnah nantinya”.

Adit segera berbalik badan dan ingin segera melangkah ke luar bungalo.

Aku yang takut kalau sampai nantinya Adit justru menyerahkan ku, pulang kembali ke rumah dan menjalani pernikahan yang tidak aku inginkan itu, aku mencoba mencegahnya dengan berucap.

“Tunggu, mas Adit! Tolong jangan pergi! Aku takut ditinggal sendirian di sini, please!”.

“Tapi, Cin!”.

“Please, mas Adit!”.

Aku lalu melangkah ke pembaringan dan duduk di atasnya, lalu aku menundukkan kepala.

Mas Adit pun berjalan mendekat dan ia ikut duduk di atas pembaringan mungkin ia tidak tega melihat keadaanku saat ini.

“Maaf ya, Cin! Aku sebetulnya tidak tega melihat keadaanmu saat ini, sepertinya kamu sedang punya masalah yang sangat berat ya”.

Aku terenyuh atas perhatiannya, dan tanpa sungkan aku menyenderkan kepalaku ke bahunya, entah kenapa aku merasa nyaman dan percaya padanya.

Adit seperti gugup dan grogi menyadari sikapku yang tiba-tiba lembut dan rapuh, ia membelai rambutku seperti berusaha untuk menenangkanku.

“Aku memang bukan siapa-siapa mu? Dan juga tidak pantas mengetahui permasalahan mu. Tapi seenggaknya berusahalah tersenyum dan hadapilah masalahmu dengan tenang. Jangan kau lari dari masalah itu, Cin!”.

Begitulah kalimat berupa nasehat yang meluncur dari bibir nya yang membuatku tersadar. Tiba-tiba aku kembali menangis, perkataan nya sedikit banyak menyentuh perasaan ku, memang dalam hal ini aku perempuan lemah yang rapuh dalam menghadapi permasalahan ku, tetapi aku beruntung dipertemukan dengan pemuda itu yang sejak awal aku memperlakukannya kurang pantas dan tidak sopan dan memandangnya hanya sebagai seorang supir.

“Maafkan Cinta, mas Adit!”, lirih ku dalam kesedihan sambil melanjutkan ucapanku. “Tadi perlakuanku pada mas Adit agaknya melebihi batas dan tidak sopan. Mungkin karena aku sudah terbiasa hidup dalam lingkungan seperti itu. Dan…. Saat ini Cinta, sedang mendapat masalah yang berat”.

“Memangnya kamu sedang ada masalah apa, Cinta?”, tanyanya sopan sambil tersenyum ramah. “Kalau kamu nggak keberatan, ceritakan saja siapa tahu mas bisa memberikan solusi buat permasalahanmu!”.

“Maafkan Cinta, mas. Mungkin saat ini Cinta belum bisa menceritakan permasalahan yang terjadi pada mas Adit…”, sambung ku sembari menghela nafas agak panjang. “Tapi suatu hari nanti Cinta janji akan menceritakan semuanya kepada mas Adit. Saat ini Cinta belum siap jujur sama mas. Dan terima kasih karena mas sudah bisa membuatku kembali tenang. Aku mohon jangan tinggalkan Cinta, ya mas!”.

“Ya sudah kalau seperti itu, mas tidak akan memaksamu bercerita. Mas janji nggak akan meninggalkan mu! Sebaiknya kamu istirahat saja, supaya besok bisa segar kembali.”.

Aku mengiyakan perkataannya, aku berbaring di ranjang yang empuk itu dengan masih lengkap berpakaian sejak pagi tadi.

Mas Adit menghampiri ku di ranjang, sambil menyunggingkan senyumnya. Dia lalu memasangkan selimut dan merapikannya supaya aku bisa tidur dengan nyaman.

“Selamat tidur, Cinta! Semoga mimpi indah”.

Aku membalas senyumnya. Entah mengapa sikap dan perlakuannya yang lembut bisa melunakkan hatiku yang keras, yang ingin memberontak. Ternyata mas Adit orang yang baik dan bisa mengayomi dan menyejukkan ku.

“Terima kasih mas Adit!”, kataku sambil berusaha memejamkan mata.

.

.

.

Sementara itu di rumahnya Robi…..

Pov Robi

Aku sempat mondar-mandir di dalam kamar ku, hatiku gelisah dan merasa bersalah pada Cinta, kekasih ku.

Seharusnya aku sebagai lelaki mesti bersikap jantan bertanggung jawab atas perbuatanku yang telah membuatnya hamil, dan janin di kandungannya itu jelas dari benih ku sendiri.

Tapi rasa takut dan trauma melihat keretakan rumah tangga papa dan mama menyebabkan ku menjadi lelaki pengecut yang tidak bisa bersikap jantan.

Dan tamparan itu seakan menyadarkanku bahwa aku tidak ubahnya seperti bajingan, penjahat kelamin yang hanya mau enak saja dan berusaha lepas tanggung jawab kepada Cinta malah memintanya untuk menggugurkan janin di kandungan nya.

Aku membenci papa dan mama, kenapa aku mesti dilahirkan dari pernikahan mereka? walau mungkin secara materi aku bak seorang putra raja yang mempunyai semua fasilitas dan uang melimpah tetapi dalam hal kasih sayang aku sangat lah miskin.

Papa adalah pengusaha properti berskala internasional yang sering terbang dari satu negara ke negara lain untuk melakukan perjanjian bisnis.

Sementara mama adalah staf ahli kementerian luar negeri yang sering melawat ke berbagai penjuru dunia untuk ikut seminar dan study banding.

Persoalan pekerjaan itulah yang membuat keharmonisan rumah tangga papa dan mama itu sudah berlangsung lama mungkin hampir 20 tahun lalu sejak aku lahir dan berumur 1 tahun.

Pernikahan mereka sejujurnya telah berakhir, karena baik papa maupun mama memiliki pacar gelap masing-masing.

Tetapi demi status sosial dan kedudukan mereka di masyarakat, papa dan mama terpaksa mempertahankan pernikahan semu itu supaya tidak jadi pergunjingan orang.

Dengan mereka berlaku seperti itu yang merasa dampaknya tentu kami bertiga anak-anak mereka.

Kami bertiga tumbuh dan berkembang mencari jawaban sendiri-sendiri, salah dan benar menurut pandangan dan kacamata kami sendiri-sendiri, sehingga kami bertiga hidup dalam persepsi yang salah.

Kakak laki-lakiku yang paling sulung, malah jarang pulang ke rumah. Profesinya sebagai disc jockey di diskotik membuatnya hidup bak kelelawar, pagi tidur dan malam kerja. Apalagi di tempatnya bekerja yang bersinggungan dengan dunia malam dan prostitusi sudah menjadi hal yang lumrah baginya.

Malah cewek-cewek malam bertebaran menawarkan kehangatannya untuk kakakku tanpa harus keluarkan uang, sehingga ia berpikiran untuk apa pulang ke rumah yang terasa sunyi dan hampa bak kuburan.

Kakak perempuanku nomor dua, malah menikah di usia muda dengan pria asing dan diboyong pindah ke luar negeri.

Awal aku mengenal Cinta adalah saat semester pertama, dia wanita cantik yang polos dan lugu yang menarik perhatian ku.

Awalnya aku menyukainya karena merasa debar-debar asmara pada pandangan pertama. Setelah jadian dengannya, aku semakin menyayanginya dan berusaha belajar untuk mencintainya dengan ketulusan hati.

Tetapi itu berubah seketika, karena sikap orang tuanya terutama mamanya yaitu tante Sekar yang meremehkan dan memandangku sebelah mata.

Mulai saat itu, aku dendam pada mamanya sehingga muncul di benakku keinginan untuk menaklukan dan mencicipi tubuhnya, bila perlu menjadikannya budak nafsuku saja.

Untuk melancarkan serangan itu, aku berpura-pura baik, menjadi pria yang romantis, dan bersikap jantan layaknya sangat menghormati dan menyanjung wanita.

Aku sengaja tidak memaksanya untuk menyerahkan keperawanannya. Tetapi aku sedikit demi sedikit menggiringnya untuk ke arah sana.

Tiap hari habis selesai perkuliahan aku sering mengajaknya ke rumahku yang selalu sepi dan bebas.

Aku sengaja mengajarinya bermesraan dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu, seperti pelukan mesra, ciuman mesra, sampai yang jauh melakukan petting atau oral seks.

Aku seakan ingin menggiringnya supaya ia terbiasa akan hal-hal tabu yang selama ini mamanya larang, karena aku mengingat pribahasa ALA BISA KARENA BIASA. Kalau nanti nya ia sudah terbiasa akan gampang bagiku untuk melakukan rencanaku tanpa harus memaksanya.

Karena memang rumahku ini selalu sepi dan hanya aku yang menghuninya jadi aku dengan bebas mengajaknya ke rumah tanpa ada gangguan dari siapa pun.

Punya banyak cara dan waktu untuk memperdayainya, tanpa takut ketahuan orang.

Dan kesempatan itu ada, untuk kesekian kali setelah sering ku ajak ke rumah dan kebetulan pada saat itu temanku punya obat perangsang yang sangat kuat.

Aku berpikir pada saat itu, “kenapa tidak dicoba saja pakai obat perangsang?”.

Kemudian aku menyusun rencana dengan sangat matang supaya hari itu aku bisa mendapatkan tubuhnya, kesucian serta jiwanya.

Supaya tidak menimbulkan kecurigaannya, aku mencampurkan obat itu di masakan yang sengaja ku masak.

Seolah aku sengaja memberikan dia surprise atas ultahnya saat itu. Ya, pada saat itu Cinta berulang-tahun yang ke-21.

Pasti dengan memasak makanan-makanan kesukaannya dari tanganku sendiri adalah salah satu kado spesial buatnya, lebih bermakna katanya dibandingkan dengan hadiah-hadiah yang mahal dan mewah.

Sengaja aku memberikan kejutan spesial itu di hari spesialnya supaya membuat hatinya melambung dan pastinya dia tidak akan mencurigaiku bahwa saat itu aku sudah memasang jerat.

Dan rencana hari itu berhasil. Aku bisa mencicipi tubuhnya bahkan kesuciannya ku ambil tanpa ada paksaan. Bahkan ia pun ikut menikmati persetubuhan itu sampai kami mengulanginya beberapa hari kemudian.

Tapi ternyata itulah awal bencanaku, kesalahan ku, kebodohan ku karena tidak memperhitungkan akibatnya.

Benih yang ku tanamkan ke dalam rahimnya, berubah menjadi janin karena pada saat yang bersamaan ternyata saat itu Cinta dalam keadaan subur.

Aku lupa dan terpedaya sendiri dengan kemesraan kami pada saat itu hingga aku menaburkan benih ku di rahimnya.

Sebulan kemudian….

Cinta datang menemuiku sambil membawa sebuah surat dalam ampop yang ternyata sebuah hasil tes laboratorium mengenai kehamilan nya yang memasuki usia tiga minggu.

Bagaikan petir di siang hari, itulah ungkapan yang pas saat aku mengetahui kehamilan Cinta.

Aku dihadapkan dengan tiga pilihan yang sangat sulit. Pilihan pertama menikahinya dan bertanggungjawab dengan janin yang dikandungnya. Pilahan kedua meninggalkan tanggung jawab dengan menjadi lelaki pecundang. Dan pilihan ketiga atau terakhir tentu sangat bertentangan dengan agama dan kemanusiaan yaitu menggugurkan janin dalam kandungannya.

Dua pilihan terakhir itulah yang ada dalam pikiranku saat itu, dengan memberikan beberapa alasan dan penolakan supaya aku bisa lari dari tanggung jawab.

“Apa yang sudah ku putuskan harus bisa aku terima?!”, kata batinku saat ini.

Karena tidak ada kepastian dari pertanggung jawabanku, akhirnya Cinta terpaksa menuruti keinginan orangtuanya. ia rencananya akan dinikahkan dengan lelaki pilihan mamanya, itu ku ketahui pada saat terakhir ia datang ke rumahku sambil membawa surat undangan.

Barulah saat itu aku merasakan kehilangan. Kehilangan kekasihku Cinta, kehilangan orang yang beberapa tahun lalu sempat hadir mewarnai kesepian ku, dan bisa membangkitkan semangat ku.

Kini akan menikah dengan orang lain dan pupus sudah cerita cinta kami berdua.

Tapi saat hari pernikahannya aku sempat kaget saat papanya beserta kakak dan kakak iparnya datang didampingi petugas dari kepolisian mendatangi rumah ku.

Mereka menanyakan keberadaan Cinta karena mungkin mengira aku yang membawa kabur atau yang menyembunyikannya.

Cinta menghilang dan pergi dari rumahnya, kabur dari pernikahan yang dipersiapkan oleh tante sekar mamanya.

.

.

.

Suasana di rumah orangtua Cinta….

Pov Mama Sekar

Aku tertunduk lesu saat berada di meja makan, nafsu makan ku berkurang setelah mengalami beberapa kejadian selama 2 bulan ini.

Lamunanku melayang tentang kejadian 2 bulan lalu yang membuatku shock karena kehamilan Cinta putri bungsuku.


(lamunan)

“Memalukan, membuat aib!”, pekik ku mendidih.

Aku hilir-mudik di ruang tengah rumahku.

“Apa marah-marah itu bisa menyelesaikan persoalan ini, ma?”, suamiku nerusaha meredam suasana.

Cinta hanya duduk diam sambil menekan-nekan tombol remote control. Mengganti saluran televisi tanpa tahu mana yang harus ditontonnya.

“Siapa yang menghamilimu?”, tanyaku geram.

“Pacarnya”, sahut mas Pramudya cepat. “Siapa lagi?”.

“Mama tidak bertanya padamu, pa!”. Mataku membelalak gemas pada mas Pramudya. “Bukan papa yang hamil!’.

“Kenapa kita lebih mempersoalkan tentang siapa, bagaiman, mengapa, ma?”, sergah suamiku berusaha menenangkanku. “Semuanya sudah terjadi, mama berteriak-teriak sampai urat leher mama putus pun tidak akan mengubah keadaan. Cinta sudah terlanjur hamil. Lebih baik sekarang kita mencari jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan ini”.

“Baik, baik, pa”. Aku sambil mendekap kedua tangan di dadaku. “Aku akan segera menikahkan Cinta, pa”.

“Betul, ma?”, sahut Cinta antusias. Ia seketika menoleh ke arah aku dan papa nya. “Mama merestuiku menikah? Jadi aku bisa segera pindah dari rumah ini? Ikut suami?”.

“Matikan! Matikan semua yang bisa membawa berita dari luar ke rumah ini!”, bentakku gemas. Aku mengacungkan telunjuk ke pesawat televisi, radio dan telepon. “Otakmu sudah terlalu banyak mendapat hasutan! Mau jadi pemberontak! Pikiranmu sudah betul-betul sudah rusak!”.

“Bukan, ma”, sahut Cinta samhil tersenyum mencibir. “Justru rumah ini yang membuatku begini, semakin lama di sini, aku bisa semakin gila!”.

“Jadi maumu apa, Cin?”. pancingku tegas.

“Aku mau menemui Robi ma, kita harus datang ke rumahnya!”.

“Robi?”, alis ku naik sebelah. “Mahasiswa bau kencur itu?”.

“Tapi dia yang menghamiliku, ma?”.

“Tidak berarti dia bisa menjadi suamimu dan ayah anakmu! Anakmu harus berada ditangan yang tepat, agar dia tidak salah tumbuh!”.

“Lalu siapa yang sudi menikahi perempuan yang sedang hamil seperti aku?”, keluh Cinta lemas.

“Itulah ketololanmu!”, hardikku jengkel. “Kau lupa bahwa kau adalah anakku. Anak Sekar Rahayu Sukmawati, wanita pengusaha sukses di negeri ini. Semua lelaki sudi merangkak untuk melamar anakku. Jadi seharusnya kau tidak perlu menjerat laki-laki dengan cara hamil lebih dulu. Kau betul-betul bodoh!”.

Aku tidak henti-hentinya menginterogasi Cinta seperti hakim yang memaksa tersangka supaya mengaku. Aku mengorek-ngorek semua tentang Robi.

Cinta yang tertekan karena berada dibawah ancaman dari kekuasaan ku tidak bisa berbohong. Ia terpaksa menceritakan apa adanya. Tentang kepribadian Robi yang emosional dan labil, tentang krisis pernikahan orangtuanya, semuanya. Tidak ada yang ditutup-tutupi.

Aku akhirnya menarik kesimpulan bahwa Robi bukan pilihan yang tepat. Aku semakin yakin bahwa Robi tidak pantas menjadi suami Cinta, Cinta harua mendapatkan lelaki yang mapan dan dewasa.

Cinta langsung menolak mentah-mentah ketika mengetahui gagasan ku. Ia akan dijodohkan dengan manajer berprestasi yang juga anak dari relasi bisnisku. Lelaki lajang berusia awal 30 tahun.

“Tidak ada tawar-menawar untuk rencana ini!”, aku memperingatkan dengan tegas. “Kau tidak berhak menentang!”.

“Memangnya kapan aku pernah boleh berpendapat?”, sahut Cinta sambil menguap. “Sejak lahir kebebasanku sudah mama beli!”.

Disaat genting seperti ini, aku memang bisa diandalkan, aku selalu menguasai diri dengan baik. Pikiranku tetap logis tidak emosional walau omongan ku sedikit keras dan suka membentak. Meskipun seringkali keputusanku selalu mengabaikan perasaan.

“Cinta harus secepatnya menikah”, kataku tanpa mau dibantah. “Sebelum perutnya membuncit, sebelum seluruh dunia tahu aib yang telah dilakukannya! Aku tidak ingin keluarga kita menjadi bahan olok-olok!”.

Aku segera mempersiapkan semuanya. Bertemu dengan orangtua Fredy Mulyadi, menentukan tanggal, memesan mesjid untuk akad nikah, mencari gedung untuk resepsi, mencetak undangan, dan menyewa katering.

Semuanya aku rencanakan dengan terperinci. Aku memperhitungkan dengan tepat bahwa Cinta akan bersanding di pelaminan saat usia kehamilannya baru dua bulan, saat perutnya masih bisa disembunyikan dibalik kebaya pengantinnya.

“Kau akan menikah dengan Fredy”, perintahku tegas, seperti membacakan vonis hukuman kepada terdakwa. Aku berdiri di depan Cinta yang meringkuk ketakutan di pojok kamar. “Ambil cuti kuliah sampai kau melahirkan. Setelah itu kau bisa melanjutkan kuliah sampai lulus jadi sarjana, lalu berangkat ke Amerika untuk mengambil gelar master.

————————————————————————————————————-

“Ma…. Mama! Kok melamun saja, yuk makan ma, papa nggak mau jika kamu sampai sakit, ma”, bujuk suamiku dengan lembut. “Kamu masih kepikiran sama Cinta, ma?”.

Aku mengangguk kepala.

“Apa aku salah mendidik anak-anak kita dengan keras, pa?”, tanyaku pada suamiku.

“Menurut, mama sendiri?”, jawab suamiku menyindir. “Apakah sudah benar? Hanya naluri ibu yang bisa menjawabnya!”.

Mendengar penuturan suamiku membuat ku kembali teringat kejadian pagi tadi setelah diketahui Cinta kabur dari rumah.

“Cari sampai ketemu!”, pekik ku sengit.

Sudah satu jam berlalu, tapi tetap tidak tampak tanda-tanda Cinta akan kembali ke rumah, padahal akad nikah harus dilangsungkan satu jam lagi.

“Panggil polisi, lacak di mana sopirnya tinggal. Kejar sampai ke ujung dunia sekali pun”. Perintah ku tegas kepada semua yang ada di hadapan ku.

“Akan kami cari bu, nona Cinta,” sahut si satpam. “Kalo begitu saya pamit, Bu.”

Sesaat kemudian Parmin yang merupakan satpam yang menjaga kediaman kami pergi untuk mencari Cinta anakku.

Anak sulung, Prima dan dewi safitri istrinya sudah datang bersama Akbar Maulana Putra cucu pertama ku.

Mereka menyalami ku beserta mas Pramudya.

“Sabar, ma. Prima akan bantu cari Cinta, mama jangan marah-marah nanti malah mama jadi sakit”, ucap Prima mencoba menenangkan ku.

“Iya, nak. Makasih ya”.

Begitu pun dengan Jelita anak perempuan kedua ku yang juga sudah datang bersama suaminya Hartono Ruslan dan Dirly Syahputra Hartono anak mereka.

“Benar ma, mama tenang dulu. Serahin masalah ini pada mas Prima dan mas Har, mereka pasti bantu kok”, sahut Jelita menimpali.

“Kalian berdua memang anak yang baik dan patuh, beda dengan Cinta yang selalu berontak”.

“Dah ma! Sebaiknya mama tenangin dulu, baru kita pergi ke Mesjid Agung”, bujuk suamiku. “Kita batalin saja pernikahan ini, mungkin ini teguran buat kita ma”.

“Tapi ini kan bikin malu keluarga kita, pa!”, sanggah ku. “Mau ditaruh dimana muka mama?”.

Jelita langsung memeluk ku.

Semua teman Cinta segera dihubungi melalui telpon, namun percuma saja. Sebagian diantara mereka malah sudah berkumpul di Mesjid Agung untuk menyaksikan pernikahan Cinta.

Sebagian lagi sedang sibuk di salon mempersiapkan penampilan. Tidak ada yang tahu ke mana gerangan Cinta menghilang, meskipun aku mengiming-iming dengan imbalan yang menggiurkan karena menyangka mereka bersekongkol menyembunyikan Cinta.

Robi malah ikut terkejut saat mas Pramudya, Prima dan Hartono menantu ku bersama petugas kepolisian mendatangi rumahnya, ia memang sengaja tidak ingin menghadiri pernikahan Cinta karena merasa bersalah telah menjerumuskan Cinta, semua itu yang dikabarkan langsung kepada ku melalui sambungan telpon seluler.

Bersama petugas polisi, mas Pramudya, Prima dan Hartono juga melacak keberadaan supir limousin.

Mereka memeriksa kantor yang sekaligus menjadi pangkalan penyewaan transportasi. Tapi ternyata hari minggu kantor itu tutup dan hanya ada 2 orang satpam yang berhasil ditemui dan mereka pun tidak tahu apa-apa.

Mereka berusaha membantu dengan menghubungi sekretaris, juga menghubungi ponsel pimpinan perusahaan melalui dua nomor yang dicatat di pos satpam jika terjadi situasi genting dan mendesak, tapi hasilnya pun nihil. Sang sekretaris tidak tahu kemana atasannya pergi, semua itu mereka bertiga laporkan kepada ku.

Sementara itu aku hilir midik panik di ruang tamu rumah kami yang megah.

Aku didampingi Jelita dan Dewi safitri menantu ku, terpaksa pergi ke Mesjid Agung untuk membatalkan pernikahan Cinta dengan Fredy. Suamiku, Prima dan Hartono menantuku akan langsung ke lokasi akad nikah begitu selesai mencari informasi tadi dan ketemuan disana.

Saat sudah tiba di sana, semua tamu telah hadir di aula Mesjid Agung dengan dandanan yang menyilaukan mata. Yang perempuan mengenakan kebaya indah dengan perhiasan berlian yang berpendar.

Sementara yang lelaki mengenakan setelan jas berkilat. Upacara yang khismat dan sakral pun kini telah bergeser fungsinya sebagai ajang pamer kekayaan dan kekuasaan. Dengan berdandan paling seronok, semua tamu seperti berlomba mendapatkan perhatian. Mereka tidak mau kalah oleh pengantin yang akan bersanding.

Suamiku, Prima dan Hartono kemudian menemui kami di dalam mesjid, sempat terjadi perdebatan kecil antara aku dengan mas Pramudya suamiku tentang siapa yang akan mengumumkan berita buruk itu.

“Mama kan yang menginginkan pernikahan ini”, kilah mas Pramudya dengan ekspresi dingin. “Mama yang memulai, mama juga yang harus mengakhiri”.

Aku dengan terpaksa menahan semua rasa malu, berdiri.

Semua orang yang ada di dalam Mesjid Agung tertuju semua kepada ku saat aku mulai mengucapkan kata perkata.

“Assalamualaikum, wr.wb. Mohon perhatian semua saya mewakili pihak mempelai wanita akan mengumumkan berita yang tidak baik untuk hadirin semua khususnya kepada calon mempelai pria dan calon besan kami, saya atas nama Cinta anak saya, meminta maaf kalau pernikahan ini dibatalkan karena ada sesuatu hal yang diluar batas kemampuan kami, semoga hadirin sekalian khususnya kepada calon besan dan calon mempelai pria bisa menerima dengan ikhlas, atas perhatian nya saya ucapkan terima kasih, wassalam”.

Sesaat setelah menyampaikan berita buruk itu tiba-tiba kepalaku pusing dan pandanganku mengabur seketika tubuh ku ambruk tak sadarkan diri.

“Mama…..”.

Bersambung