Pelarian Kisah Cintaku Part 46

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Cerita Dewasa Pelarian Kisah Cintaku Part 46

Cerita Dewasa Pelarian Kisah Cintaku Part 46

Chapter 46. TIDAK… Aku bukannya Tasya, aku adalah Annisa​

Cuplikan Chapter sebelumnya…

Sebelum berangkat ke rumah sakit, Adit sempat menghubungi ponsel Pramudya dan yang menerima teleponnya adalah Hartono suaminya Jelita. Dari percakapannya dengan kakak iparnya itu, Adit mendapat kabar bahwa Pramudya sedang dalam pemulihan pasca pingsan beberapa jam lalu, sekarang Beliau dirawat di ruang perawatan yang berada di lantai 2.

Adit kemudian menghubungi mama Sekar, memberitahukan ada om VirGhost yang ingin bertemu dengan Beliau. Mama Sekar bersedia menemui VirGhost di luar bukan di rumah sakit karena takut mengganggu ketenangan pasien. Dan sepakat bertemu di sebuah restoran yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah sakit.

Setelah hampir satu jam menyusuri jalanan yang padat dari arah Buah Batu ke RSB di daerah xxx akhirnya kedua mobil itu sampai juga di tempat yang dituju. Sesuai dengan kesepakatan di telepon, mama Sekar mengajak bertemunya di restoran AAA.

Dari dalam mobil sedan keluarlah laki-laki paruh baya yang diketahui bernama VirGhost, sedangkan di mobil yang lainnya keluarlah laki-laki muda bernama Aditya Febriansyah. Lalu keduanya melangkah masuk ke dalam restoran itu.

“Apa kabar mbakyu…?” sapa VirGhost ketika mereka sudah bertemu di dalam restoran itu.

“Alhamdulillah sehat-sehat, Mas. Gimana kabar mbakyu Ratna? Semoga selalu sehat juga.” sahut Sekar ramah dan balik bertanya kabar istri sahabat suaminya.

“Alhamdulillah Ratna sehat-sehat mbakyu.” jawab VirGhost.

Suasana seketika hening, ketiganya hanya diam. Ada sedikit ketegangan di antara Sekar dan VirGhost.
Terlihat dari ekspresi wajah Sekar yang tegas ketika berbicara mengenai bisnis. Sementara VirGhost terlihat panik, itu terpancar dari wajahnya walau ia berusaha untuk bersikap tenang menghadapi Sekar yang terkenal tegas dan tanpa kompromi.

“Maaf ya, Ma. Adit ikut pembicaraan ini.” Adit bersuara untuk menenangkan situasi yang mulai tegang. “Kan Adit juga anak menantu Mama.”

“Its ok. No problem, Dit.” Sekar sedikit memelankan suaranya dan nampak mulai menurunkan emosinya.

“Oiya, biar agak santai ngobrolnya kita sekalian aja pesan makanan.” ujar Adit lalu ia memanggil pelayan restoran untuk memesan beberapa makanan yang sudah mereka tulis di menu pesanan.

Setelah selesai makan siang bersama. Kemudian mereka bertiga memulai pembicaraan itu.

VirGhost lalu menceritakan semua kejadian yang telah terjadi beberapa bulan yang lalu saat ia dipercaya sebagai pelaksana tugas Presiden
Direktur sesuai penunjukan langsung dari Pramudya.
………..
………..
………..
………..
…………

Sekar yang mendengar penjelasan VirGhost dari awal ia bercerita seakan ingin memotong perkataan VirGhost namun selalu ditahannya karena ia malu terhadap Adit dan juga menahan emosinya supaya tensi darah tingginya tidak sampai membuatnya kembali mengalami stroke.

Namun pada saat ia mendengar bahwa perusahaan suaminya terancam diambil alih oleh Kuciah, Sekar tidak bisa lagi menahan amarah dan emosinya.

Tiba-tiba…

Sekar bangkit dan melempar gelas itu di hadapan VirGhost. Untung saja VirGhost masih bisa menghindar sehingga gelas itu tidak mengenainya dan meluncur deras pecah di lantai.

“ Praangg….”

@@@@@@​

“Apa ini yang dinamakan sahabat sejati? Begini balasanmu pada orang yang telah mengangkat derajatmu? Dikasih SUSU kau balas RACUN, puas kau jika melihat kami terpuruk. Kau tidak lebih baik dari pada merpati peliharaanku.” Sekar meluapkan amarahnya, jari telunjuknya menunjuk ke wajah VirGhost. Sorot matanya tajam menyiratkan kemarahan yang meledak-ledak.

“Jika pertemuan ini bukan atas inisiatif Adit. Udah gua gampar si VirGhost. Enak banget dia, mau lepas tanggung jawabnya.” Gerutu Sekar dalam hatinya.

Sementara itu, VirGhost hanya menundukkan kepala. Dia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

Adit yang sedari tadi berusaha untuk menjadi penengah sempat bingung untuk bersikap. Namun ia sadar jika masalah ini tidak segera ditengahi akan menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di restoran itu.

Dan benar saja apa yang ada dalam pikiran Adit. Dia melihat orang-orang yang berada di restoran ini sedang berbisik-bisik sambil melihat ke arah meja tempat mereka berada. Orang-orang itu sepertinya sedang membicarakan tentang pertengkaran yang barusan terjadi.
Bahkan seorang manajer restoran pun nampak bergegas menghampiri meja mereka. Pria paruh baya berpakaian setelan jas berwarna hitam kini sudah berada di hadapan Sekar, VirGhost dan Adit.

“Mohon maaf, Bapak dan Ibu! Kami tidak bermaksud untuk mencampuri urusan kalian. Tapi melihat kejadian ini kami mohon pengertiannya untuk tidak membuat keributan di restoran ini demi kenyamanan pengunjung yang lain. Jika Bapak dan Ibu tidak bisa mematuhi peraturan kami, persilahkan untuk segera menyelesaikan bill-nya dan meninggalkan restoran ini!” ujar manajer restoran itu dengan tegas.

“Hey, siapa suruh kamu ngomong?” Sekar menjawab dengan suara lantang. Amarahnya makin tersulut mendengar perkataan pria itu. “Restoran ini bisa saya beli sekarang juga. Siapa pemiliknya, bilang sama saya sekarang?”

Melihat kericuhan itu, Adit segera bangkit dan berusaha menenangkan Sekar. Sambil ia memberi kode pada pria berjas itu untuk tidak melayani perkataan Sekar dan segera menjauh dari sana.

“Ma, Minum dulu ya! Biar Mama tenang.” ucap Adit dengan suara lembut sambil menyerahkan gelas air minumnya pada Sekar disertai senyum yang ikhlas.

“Cara Adit ini persis seperti Mas Pram. Dia bisa membuatku tenang dan bisa kembali menurunkan emosiku yang meledak-ledak.” Gumam Sekar kagum.

Nampak Sekar seperti sedang bergumam dan dari bibirnya terucap kalimat yang sayup-sayup terdengar oleh Adit. “Astaghfirullahal adzim.” Terlihat Sekar menarik nafas panjang berkali-kali untuk kembali meredakan amarahnya yang meledak-ledak. Lalu ia meminum air yang diberikan oleh Adit hingga air di dalam gelas tersebut ludes tak bersisa.

“Boleh Adit bicara, Ma? Yuk kita ngobrolinnya dengan kepala dingin!” ujar Adit ketika dilihatnya Sekar udah mulai tenang dan kembali duduk di tempatnya.

Sekar menganggukkan kepalanya.

Adit pun mulai berbicara. “Ma, maaf kalo Adit lancang! Adit memposisikan diri sebagai anak menantu Mama. Adit tau Mama tidak terima dengan penjelasan dari om VirGhost. Mama pasti kecewa dan marah dengan kejadian ini, begitu pun dengan Adit. Adit kaget sekaligus kecewa dengan om VirGhost yang telah diberi kepercayaan penuh sama Papa tetapi tidak bisa menjaga kepercayaan Papa. Namun di sini kita mau mencari solusi untuk mengatasi masalah ini. Kita mesti bicara dengan kepala dingin. Kalo Mama percaya sama Adit, biar masalah ini Adit yang urus bersama-sama om VirGhost. Menurut keterangan om VirGhost, Kuciah itu ternyata adik kandungnya Iptu Rayxy. Mama ingat nggak dengan Iptu Rayxy?”

“Hmmm…!” Gumam Sekar berpikir sejenak lalu berkata. “Kanit Reskrim Polsek Depok yang jadi tersangka dalang kecelakaan Prima.”

“Iya, Ma.” Sahut Adit cepat lalu kembali melanjutkan perkataannya. “Menurur Adit, Kuciah ini punya motif balas dendam pada keluarga besar Pramudya karena menyebabkan kakaknya Iptu Rayxy di penjara. Caranya, dia akan mengambil alih perusahaan Papa dengan cara menjebak om VirGhost.”

Nampak Sekar terperanjat mendengar penjelasan Adit barusan. Ia seakan tak percaya orang kepercayaannya malah ingin menghancurkan perusahaan suaminya.

“Tapi Mama jangan emosi dulu! Perusahaan Papa secara hukum masih milik Papa, tidak semudah itu membalik nama sebuah perusahaan PT. (Persero). Tentunya harus melalui mekanisme RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Komisaris dan dewan direksi yang bisa memutuskan hal tersebut.” Adit kembali berbicara untuk menenangkan hati Sekar yang kini nampak sudah tenang.

“Iya, Dit. Maafin Mama ya tadi terbawa emosi! Mas VirGhost, maafin Sekar ya tadi telah kasar bicara sama kamu Mas.” Sekar berkata lirih dengan penuh penyesalan.

“Iya, Mbakyu ga pa-pa.” Sahut VirGhost. Terlihat wajahnya mulai bisa tersenyum kembali setelah melihat Sekar emosinya sudah mereda . “Aku juga minta maaf karena masalah ini membuat perusahaan Mas Pram jadi bermasalah. Tapi aku janji Mbakyu, untuk memperbaiki kesalahanku! Perusahaan Mas Pram aku pastikan akan kembali seperti sedia kala, tentunya dengan bantuan Adit. Dia punya rencana yang bagus untuk kembali merebut perusahaan dari tangan Kuciah dan menyeret Kuciah ke jeruji besi.”

Adit pun lalu menjelasakan rencananya pada Sekar, Sekar tampak tersenyum, dia kembali teringat sama sosok lelaki di hadapannya kini yang dulu pernah ia sepelekan.

Pov Sekar

Masih ada beberapa petugas dari kepolisian yang berjaga-jaga di rumah kami ketika mobil limousin itu memasuki halaman rumah. Beberapa orang yang berkerumun di ruang tamu serentak menghambur keluar ketika melihat mobil limousin itu datang. Seorang pemuda pun turun dari mobil limousin itu.

Aku saat itu mengenakan gaun malam sudah berdiri di beranda dengan membelalak mata. Tatapan mataku tajam seakan sedang meneliti dan menginterogasi tanpa senyuman.

“Kau yang melarikan anak saya, Cinta!” Aku langsung menyambut pemuda itu dengan makian. “Kau yang membawa kabur anakku.”

Pemuda itu hanya diam, ia terlihat sedang menghela nafas mencoba bersabar dan menahan emosinya sambil berusaha untuk tetap tersenyum ramah.

Seketika datang suamiku, ia muncul tergopoh-gopoh dari dalam rumah untuk meleraiku.

“Biarkan dia masuk dulu, Ma.” Ucap suamiku dengan suara lembut. “Masa begitu cara kita menyambut tamu?”

Lalu suamiku, Mas Pram menoleh ramah sambil tersenyum kepada pemuda itu. “Ayo, masuk…! Silahkan!”

Pemuda itu mengangguk sopan.

Mas Pram langsung menghampirinya, menggamitnya untuk memasuki rumah.

Aku membuntuti dari belakang dengan tidak sabar diikuti juga oleh Prima dan Jelita.

Salah satu petugas dari kepolisian pun ikut juga masuk ke dalam rumah.

“Ayo bilang! Di mana kau sembunyikan Cinta? Aku langsung memberondong dengan pertanyaan, padahal baru beberapa detik pemuda itu menempatkan pantatnya di sofa ruang tamu.

“Jangan begitu, Ma!” Sela Mas Pram menengahi. “Biarkan dia menjelaskan dulu. Dia yang bisa menjadi kunci penyelesaian masalah ini. Jangan-jangan dia justru hanya korban!’

Salah seorang petugas polisi segera mengambil tempat di antara mereka. Waspada jika sewaktu-waktu kehadirannya dibutuhkan dalam perundingan ini.

“Saya ingin mengabarkan bahwa Cinta baik-baik saja.” Ujar pemuda itu santun. Pemuda itu tidak merasa tersinggung sedikit pun meski aku memperlakukannya seperti kuman yang harus dibasmi.“Yang perlu saya luruskan adalah saya tidak membawa kabur Cinta. Tapi Cinta sendiri yang ingin melarikan diri dari rumah dan pernikahan ini.”

Petugas dari Polri berdehem memberi isyarat. “Tadi Ibu melaporkan bahwa putri Ibu diculik.” Tegurnya sambil menatap ke arahku.

Aku membetulkan sikap dudukku, berlagak tenang meskipun wajahku merah padam. “Apa bedanya?” jawabku tidak mau disalahkan. “Yang penting anak saya hilang! Seharusnya Bapak membantu saya menemukannya. Kok malah penculiknya yang menyerahkan diri?”

Maaf, Bu!” potong pemuda itu tegas. “Saya sama sekali tidak berniat menculik Cinta. Cinta yang meminta saya untuk membawanya pergi karena tidak mau dipaksa menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya.”

“Kau tidak tau apa-apa!” Dengusku jengkel. “Jangan ngomong sembarangan!”

“Saya justru menolongnya dari musibah yang akan menimpanya.” Jawab pemuda itu santai.

“Saya ingin kau kembalikan anak saya.” Desisku dengan ekspresi marah.

“Cinta tidak mau pulang, Bu.” Sahut pemuda itu sambil mengangkat bahunya. “Saya tidak menculiknya.”

Begini, Bu.” Potong petugas polisi itu dengan arif dan mencoba menengahi. “ Kami kira, kami sudah mulai memahami persoalan yang sebenarnya. Putri Ibu melarikan diri karena menolak dinikahkan dengan lelaki yang idak dicintainya.”

“Semua ini saya lakukan demi kebaikan dia sendiri, Pak.” Sahutku ngotot. “Saya minta Bapak menjemput anak saya sekarang juga.”

“Nah ini namanya pencidukan!” ujar petugas polisi itu menerangkan. “Padahal putri Ibu tidak melakukan kejahatan apa-apa. Justru Ibu telah melakukan pemaksaan dan pengancaman terhadap dirinya. Wajar kalau dia lari untuk menyelamatkan diri. Kami sebagai polisi bisa berbalik tugas dan justru akan melindungi putri Ibu untuk memastikan tidak ada lagi pemaksaan yang lain,”

“Saya ibunya..!” Erangku terguncang. “Bagaimana mungkin saya bisa menganiaya anak saya sendiri?”

Maaf, Bu!” Kata polisi itu bijak. “Memang yang Ibu lakukan tidak menyakiti secara fisik tetapi Ibu bisa dikenakan sanksi atas penganiayaan jiwa. Dan itu lebih berat ganjaran hukumannya.”

Lagi pula, Pak.” Tambah pemuda itu sambil menatap petugas polisi. “Bukankah anak berusia di atas delapan belas tahun sudah berhak menentukan sendiri jalan hidupnya? Orang tua sekali pun tidak berhak untuk mendikte.”

Aku serentak menoleh dengan dingin ke arah pemuda itu. “Siapa kau sebenarnya? Darimana kau paham mengenai hukum segala?”

“Saya hanya supir, Bu.” Jawab pemuda itu kalem. “Tapi apakah rakyat kecil seperti saya tidak punya hak untuk bicara? Apakah hukum hanya berpihak pada orang-orang kaya seperti Ibu?”

Berdasarkan perundingan secara kekeluargaan dengan pihak kepolisian, Mas Pram mencabut berkas laporan penculikan terhadap Cinta dan suamiku juga meminta maaf atas laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Aku merasa terpukul lalu segera bangkit meninggalkan ruangan setelah mengetahui keadaan ternyata berbalik menyerangku.
Click to expand…“Ma, Mama Sekar.” Seruan Adit membuat Sekar jadi tersadar dari lamunannya tentang peristiwa beberapa tahun silam.

Nampak Sekar sedang mengela nafas panjang sejenak, sebelum akhirnya ia bersuara. “Jujur, Dit. Mama bersyukur mendapatkan menantu sebaik kamu. Pantesan saja Cinta melunak hatinya karena hatimu penuh dengan ketulusan. Itu terlihat dari sorot matamu, sikap dan perkataanmu semuanya tidak dibuat-buat, semuanya tulus dari hati. Makasih ya, Dit. Kamu benar-benar membuat Mama bangga sekaligus menyadarkan Mama atas kesalahan Mama dalam mendidik Cinta.”

“Mama Sekar bukan sekedar mertua bagi Adit tetapi sudah Adit anggap seperti ibu kandung Adit sendiri. Adit akan selalu hormat dan sayang pada Mama, seperti sayang dan hormatnya Anak kepada Ibunya. Mama jangan sungkan-sungkan menegur dan menasehati Adit jika Adit salah baik dalam berbicara ataupun bersikap karena itu adalah bentuk kasih sayang Ibu pada anaknya!” Sebuah senyuman tulus dari bibir Adit sebagai ekspresi bahagia. Senyuman kebahagiaan karena perjuangannya selama ini untuk menyayangi Cinta dengan tulus dan penuh perhatian kini membuahkan hasilnya. Bahkan bisa melunakkan hati Mama Sekar yang terkenal keras dan tegas. Kini Adit bisa diterima secara baik oleh Sekar sebagai anak menantunya. Semua itu tak lepas dari petuah Pramudya yang memberikan nasehatnya pada Adit untuk bersikap tenang jika berbicara dengan Mama Sekar dan berbicara dengan lembut jika ingin membantah atau memberikan masukan.

Sekar pun nampak tersenyum bahagia, ia hanya menganggukkan kepalanya.

“Oiya, om VirGost. Adit harap Om mau melakukan semua rencana yang telah kita bicarakan tadi. Untuk sementara waktu, Om bekerja seperti biasanya. Jangan sampai Kuciah curiga pada Om VirGhost. Om VirGhost seola-olah menuruti apa saja kemauan Kuciah. Masalah keuangan perusahaan, Adit akan minta bantuan pihak bank xxx untuk sementara waktu memblokir rekening-rekening perusahaan Papa supaya uang perusahaan tidak bisa diambil alih oleh Kuciah. Adit rasa itu dulu yang bisa kita lakukan sekarang, nanti kita atur lagi apa rencana selanjutnya Om.”

“Iya, Dit. Om setuju dan akan mengikuti semua rencana kamu.” Sahut VirGhost.

Sekar juga ikut berbicara pada Adit dan VirGhost sebelum mereka mengakhiri pembicaraan itu. Sekar pun mempercayakan sepenuhnya masalah perusahaan Pramudya kepada Adit dan VirGhost. Sekar hanya berpesan supaya Adit berhati-hati terhadap Kuciah karena Kuciah bukan orang sembarangan. Kuciah terkenal lihay, licik dan nekat. Jangan sampai dia curiga dan menyerang balik.

Adit dan VirGhost mengiyakan perkataan Sekar untuk bersikap waspada dan hati-hati dengan Kuciah. Keduanya akan berusaha secepatnya menuntaskan permasalahan ini dengan sebaik mungkin.

Sebelum menuju ke kasir, Adit terlebih dulu menemui manajer restoran itu. Adit mewakili Sekar dan VirGhost meminta maaf atas keributan yang sempat terjadi beberapa saat lalu pada sang manajer restoran. Manajer restoran itu menyambut baik niat baik Adit, dia pun memaafkan dan tidak memperpanjang masalah ini hanya saja meminta pembayaran ganti rugi sebuah gelas yang pecah tersebut. Adit pun menyetujui untuk membayar ganti rugi yang diminta oleh manajer restoran itu. Lalu segera pergi ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran dan ganti rugi itu.

Mereka bertiga keluar dari restoran itu, VirGhost kemudian pamit pada Sekar dan Adit untuk kembali ke Jakarta, dia bukannya tidak mau menemui Pramudya tetapi menghindari konflik baru dengan sahabatnya itu dan meminta disampaikan salamnya untuk sahabatnya itu.

Setelah mobil VirGhost berlalu, Adit berniat mengantarkan Mama Sekar ke RSB yang posisinya terletak di seberang jalan.

Saat sudah sampai di depan gerbang rumah sakit, tiba-tiba HP Adit berbunyi. Adit segera mengambil HP-nya, ternyata ada sebuah pesan WA yang masuk ke HP-nya.

0811-xxxx-xxx Mas Hartono
Dit, kalo mau besuk Papa, kamar VIP No. 1 lantai 2.
“Gimana menyampaikan berita ini ke Mama Sekar, ya?” Gumam Adit setelah membaca pesan WA dari kakak iparnya itu. “Adit takut Mama Sekar shock mendengar berita ini. Apa sebaiknya aku minta Jelita saja untuk memberitahukan pada Mamanya?”

Ekspresi Adit yang nampak bingung, terlihat oleh Sekar. Dia pun bertanya pada menantunya tersebut. “Ada masalah apa, Dit? Kok kamu terlihat bingung gitu?!”

“Hmmm…!” Adit terdengar bergumam sejenak, nampak ada kekhawatiran dari ekpresinya.

“Bilang saja sama Mama, nggak usah takut dan ragu, katakan saja!” Sambung Sekar yang melihat ada keraguan dari sikap Adit.

“Maafkan Adit sebelumnya, Ma. Bukan Adit, Mas Hartono dan Jelita mau merahasiakan ini dari Mama tetapi Mas Hartono berpesan, ‘jangan dulu menyampaikan berita ini kerena khawatir nanti Mama panik dan shock. Papa tadi sempat jatuh pingsan beberapa jam lalu namun kondisi Papa sudah membaik dan sudah sadar dari pingsannya. Saat ini Papa dirawat di kamar VIP No. 1 lantai 2, Ma.”

Sekilas ada ekspresi kaget dari Sekar saat mengetahui suaminya sempat pingsan namun setelah mendengar penjelasan Adit bahwa suaminya sudah sadar Sekar pun bisa bernafas lega. “Dasar kalian…! Kok masalah gini sampe sembunyiin dari Mama. Tapi Mama tau kalian niatnya baik dan pastinya memikirkan kesehatan Mama. Yaudah sekarang kamu temanin Mama jenguk Papa ya, Dit.”

“Iya, Ma.” Jawab Adit cepat.

Adit dan Sekar segera melangkah menuju tempat Pramudya dirawat.

@@@@@​

Lokasi : RSB xxx, Ruang Perawatan VIP No. 1 lantai 2

Seorang pria paruh baya kini tengah terbaring di sebuah ranjang perawatan rumah sakit bersalin tempat Cinta melahirkan. Di dalam ruangan itu juga terdapat sepasang suami istri yang sejak awal selalu setia menemani pria paruh baya itu. Ya sepasang suami istri itu adalah Hartono dan Jelita, keduanya terlihat sudah bisa tersenyum lega melihat keadaan pria paruh baya itu yang sudah mulai membaik setelah sempat jatuh pingsan dan masuk ruang IGD beberapa jam lalu.

Ya, pria paruh baya itu tak lain adalah Pramudya. Dia terlihat sedang tertidur setelah tadi sempat diperiksa oleh dokter. Dokter memberikan beberapa resep obat melalui susternya. Menurut keterangan dokter yang menanganinya, kondisi Pramudya sudah membaik dan hanya perlu istirahat untuk memulihkan kembali kondisi fisiknya seperti sedia kala.

“Sayang. Papa mau WA Adit dulu.” Hartono memberitahukan pada Jelita. “Mau beritahu dia kalo Papa Pramudya sudah dipindahkan ke ruangan ini.”

“Iya, Pa.” Jawab Jelita singkat.

Lalu Hartono segera menulis pesan WA kepada Adit.

“Pa, makasih ya.” Jelita tersenyum pada suaminya setelah suaminya selesai mengirimkan pesan WA kepada Adit. “Kalo tidak ada Papa saat itu, Jelita nggak tau gimana nasib Papa?”

“Nggak perlu berterima kasih seperti itu, Ma.” Hartono balas tersenyum pada istrinya. “Orang tua Mama adalah orang tua Papa juga. Mumpung mereka masih ada di dunia ini, tugas kita sebagai anak-anak mereka adalah membahagiakan mereka.”

“Iya, Pa.” Sahut Jelita singkat. Dari raut wajahnya terpancar kebahagiaan karena mendapatkan suami yang baik dan bijaksana. Hartono bukan saja mencintai Jelita, tetapi juga menyayangi keluarganya seperti layaknya keluarganya sendiri.

“Oiya Pa. Kita makan dulu ya!” Jelita segera membuka kantong kresek berwarna putih lalu mengeluarkan dua bungkus nasi Padang. Satu bungkus nasi Padang, ia serahkan kepada suaminya dan satu bungkus lainnya untuknya lalu keduanya pun mulai makan. Setelah mereka selesai makan, Jelita segera membereskannya dan membuangnya ke kotak sampah yang berada di ruangan itu.

15 menit kemudian…

Sekar dan Adit telah sampai dan masuk ke ruangan tempat Pramudya dirawat.

Begitu melihat kedatangan Sekar, Jelita segera menyambut dan memeluk mamanya, keduanya pun saling cipika-cipiki. Sedangkan Hartono menyambut kedatangan Adit dan keduanya berpelukan sejenak. Mereka berempat terlihat kompak sebagai satu keluarga besar Pramudya.

“Kalian berdua sudah makan?” Sekar bertanya pada Jelita dan suaminya.

“Sudah, Ma.” Jawab Jelita mewakili. “Kami baru saja selesai makan.”

Sekar pun melangkah menuju ranjang di temani Jelita dan segera ia mengambil posisi duduk di samping kanan suaminya, Jelita ikut duduk mendampingi mamanya. Pramudya nampak masih tertidur pulas akibat obat yang diberikan oleh suster tadi. Melihat suaminya terbaring membuat mata Sekar berkaca-kaca, dia memengang tangan Pramudya lalu menciumnya dengan penuh cinta kasih. Jelita memeluk mamanya supaya tenang dan tidak bersedih.

Adit dan Hartono sempat meminta ijin pada Sekar untuk keluar sebentar dan hanya dijawab Sekar dengan anggukan kepala. Setelah mereka berada di luar ruangan dan duduk di kursi panjang di koridor tersebut, Adit mulai menceritakan permasalahan yang menimpa Mertua mereka (Pramudya) hingga membuatnya shock. Adit lalu melanjutkan dengan menjelaskan rencana-rencananya untuk mengembalikan perusahaan Pramudya tentunya dengan bantuan om VirGhost. Hartono mendengarkan sepenuhnya penjelasan Adit dan ikut menyetujui semua rencana-rencananya itu.

Setelah berbincang-bincang selama 30 menit, Adit dan Hartono kembali masuk ke ruangan tempat Pramudya dirawat. Adit pun pamit kepada Sekar, Jelita dan Hartono. Dan sebelum pamit pulang Adit sempat mencium tangan Pramudya sambil berkata, “Pa, Adit pulang dulu ya. Cepat sembuh, Pa. Cinta dan Valentina pasti kangen sama Papa dan kakeknya.”

Dua jam kemudian…

Pramudya terlihat mulai membuka matanya, ia sudah bangun dari tidurnya. Sejenak Pramudya memandang se-antero ruangan itu dan begitu ia melihat ke samping kanan nampak ia tersenyum bahagia melihat Sekar yang memandangnya penuh cinta.

“Alhamdulillah, Papa sudah bangun.” Sekar langsung mencium pipi suaminya dan juga mencium tangannya.

“Maafin Papa ya, Ma. Papa pasti bikin kamu khawatir,” Terdengar Pramudya berbicara pelan pada Sekar.

“Jangan menyalahkan diri Papa.” Sekar mencoba menenangkan suaminya. ”Masalah perusahaan, Mas VirGhost dan Adit sudah janji akan menyelesaikannya secepatnya. Papa jangan banyak pikiran, ya.”

“Syukurlah kalo begitu, Ma.” Pramudya nampak mulai tenang. “Papa percaya dan yakin Adit bisa menyelesaikan masalah kita. Oiya, Ma. Gimana kabarnya Cinta dan Valentina Papa kangen sama cucu baru kita?”

“Nanti kita temui Cinta dan Valentina jika Papa sudah diijinkan oleh dokter.” Sekar menanggapi perkataan suaminya dengan senyuman. “Sabar ya, Pa.”

“Terima kasih sayang.” Pramudya kembali tersenyum. “Papa sayang sama Mama.”

Sekar, Jelita dan Hartono terlihat tersenyum bahagia melihat Pramudya sudah bangun dan memperlihatkan senyumannya.

Melihat mertuanya sudah bangun Hartono sempat berucap, “Ma, saya mau menemui dokter.” Sekar menganggukkan kepala. Hartono pun segera meninggalkan mereka untuk menemui dokter yang menangani Pramudya.

@@@@@​

Pov Roby

Sejak kejadian beberapa tahun lalu, aku diajak mama ke Massachusetts yang beribukota di Boston. Mama bekerja di sana sebagai konsulat RI. Selama berada di Boston, aku menjalani beberapa kali terapi pengobatan untuk mengembalikan kejantananku kembali. Namun hasilnya tidak begitu menggembirakan, kejantananku tetap tidak bisa ereksi seperti layaknya lelaki normal. Aku merasakan hidupku sudah tak berguna, hampir saja aku ingin mengakhiri hidupku dengan cara meloncat dari gedung apartemen tempat aku dan mama tinggal. Namun sebelum aku sempat meloncat tubuhku langsung dipeluk dengan erat oleh mama. Mama menangis sesegukan sambil memohon penuh iba supaya aku mundur dan mengurungkan niat ku itu.

Setelah kejadian itu, mama membawaku ke psikolog yang bernama dr. Nathalia Margaretha untuk membantu psikisku yang sempat down. Setelah menjalani beberapa kali terapis psikologi, berangsur-angsur rasa percaya diriku mulai bangkit kembali. Semua berkat perhatian mama dan juga kesabaran dr. Nathalia dalam memberikan terapis psikologi kepadaku.

Dua tahun kemudian, aku pindah ke negara bagian California yang beribukota Sacramento. Papa memberi kepercayaan padaku untuk mengelola, mengatur dan memimpin kantor cabang yang berada di Sacramento, California. Di sini negara bagian ini pula, aku mulai mendaftar kuliah di salah satu universitas yang memiliki salah satu klub basket di NBA yaitu, Sacramento King. Sekarang ini, aku kuliah di semester 3. Dan mulai berkenalan dengan seorang mahasiswi cantik bernama Cindy Brown, dia tercatat sebagai mahasiswi semester 5 di salah satu universitas, fakultas dan jurusan yang sama denganku.

Cindy nama panggilannya adalah wanita pribumi berambut pirang, berusia 22 tahun, memiliki tubuh yang langsing dengan tinggi 170 cm dan berat badan 58 kg, memiliki ukuran buah dada 36D. Aku mulai tertarik dengan Cindy karena orangnya sangat perhatian padaku. Kedekatan kami dimulai karena seringnya kami bertemu baik di kantin maupun di perpustakaan kampus kami.

Dan malam ini aku mengajak Cindy kencan, yaitu dengan mengajaknya makan malam atau dinner. Di acara itu, aku memberanikan diri menembak Cindy untuk menjadi kekasihku. Dan…. Cindy menjawab bahwa ia mau menerimaku menjadi kekasihnya, hingga malam ini kami resmi sebagai sepasangan kekasih. Kami berdua memutuskan untuk merayakan hari jadi kami di apartemenku.

Di apartemen Roby…

Sesampainya di apartemenku, aku mengajaknya untuk bersantai di sofa sambil menyalakan home theatre. Sengaja kuputar lagu endless love dari Lionel Ritchie dan Diana Ross supaya suasana menjadi lebih romantis. Aku lalu mengambil sebotol champagne dan dua buah gelas yang ada di lemari mini bar apartemenku. Kini kami berdua sudah berada di sofa. Sebotol champagne dan dua gelas yang sudah terisi champagne di atas meja.

Aku dan Cindy mengangkat gelas yang sudah berisi champagne lalu kami berdua mengucapkan secara bersamaan. “To celebrate our anniversary.” (Untuk merayakan hari jadi kita). Lalu kedua gelas kami beradu dan kami mulai meminum champagne itu hingga menyisakan setengah gelas saja.

“You are so beautiful, Cin.” (Kamu cantik banget, Cin) Aku mulai melancarkan rayuanku pada Cindy sambil mengelus pipinya.

“You’re also handsome, Roby.” (Kamu juga tampan, Roby) sahut Cindy tersipu malu.

Suasana terasa sangat romantis membuat kami berdua terhanyut dan ingin menghabiskan waktu berdua. “CUUUPPP” Aku langsung mencium bibir Cindy dan disambut Cindy dengan tak kalah menggairahkan. Kami pun mulai berciuman dengan panas. Lidahku mulai menari-nari di dalam mulut Cindy. Air liur kami bersatu dan saling bertukaran satu dengan lainnya. Aku mulai mencari lidah Cindy dan setelah dapat lidahnya, aku menghisapnya dengan kuat. Suara perpaduan lidah kami berdua menimbulkan suara. “Sluuurrrppp… Smooccchhh…”

Model gaun malam yang digunakan Cindy adalah gaun malam tanpa kerah dan hanya menggantung beberapa inci di atas buah dadanya dan malam itu Cindy tidak memakai Bra alias No Bra hingga puting susunya tercetak jelas di gaun malamnya tersebut.

Gairahku mulai naik, tanganku bergerak ke belakang punggung Cindy dan perlahan menarik turun resleting gaun malam itu. Gaun malam itu perlahan mulai merosot ke bawah dan meninggalkan tubuh si pemiliknya. Kini Cindy hanya menyisakan secarik kain berenda berwarna hitam yang menutupi area kewanitaannya.

Perlahan kedua tanganku sudah berada di atas gundukan bukit miliknya. Tanpa diperintah kedua tanganku sudah memegang kedua buah dada Cindy yang besar menggantung.

“Ah… Please, squeeze my breasts tighter Rob!” (Ah… Tolong, remas payudara gue lebih kencang Rob!) Rintih Cindy ketika kedua tanganku meremas kedua payudaranya. Namun belum sempat aku menuruti permintaan Cindy, terdengar suara deringan telepon yang cukup keras.

“Kring…”
“Kring…”
“Kring…”

“Damn it.” (Keparat) Gerutuku ketika mendengar suara dering telepon tersebut. “Wait a moment dear.” (Tunggu bentar sayang).

Aku segera bangkit dan melangkah menuju tempat telepon itu berada dan segera mengangkatnya.

“Ya hallo…”

“…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………” Suara orang dari ujung telepon sana berbicara.

“Iya, Pa. Roby sekarang sedang berada di apartemen. Tumben Papa, telepon Roby malam-malam begini. Memang ada masalah apa, Pa?”

“………………………………………………………………………” Suara dari ujung telepon sana menyahut dengan nada bicara terdengar sedih.

“Apaaaa?! Roby kaget ketika mendengar kabar buruk itu. “Perusahaan Papa bangkrut, kok bisa Pa?”

“………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………” Suara dari ujung telepon sana memberikan penjelasannya.

“Jadi apa rencana Papa salanjutnya?”

“……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….” Papa menjelaskan rencananya padaku.

“Maksud Papa. Papa mau menikahkan Roby dengan Gabriella putrinya Mr. Smith sahabat Papa itu.”

“……………………………………………………………………………………………………………………………………….” Kembali Papa membujukku supaya mau menuruti permintaannya demi kebangkitan kembali kejayaan kerajaan bisnis mereka.

“Yaudah Pa, kalo itu satu-satunya jalan supaya kita bisa bangkit kembali. Roby bersedia Pa, walaupun putrinya Mr. Smith itu…..”

“……………………………………”

“Iya, Pa. Roby baik-baik saja. Nanti Roby juga akan mengunjungi Mama di Boston City.

“……………………………………”

“Ok Pa, bye…!

Setelah aku menutup sambungan telepon itu, aku kembali menuju sofa dimana Cindy berada dengan tatapan heran melihat perubahan ekspresiku yang terlihat sedih.

“What’s up, Roby? How come it seems like you were shoked when talking on the phone earlier.” (Ada apa, Roby? Kok tadi sepertinya kamu kaget saat berbicara di telepon tadi). Cindy bertanya penuh kebingungan melihat ekspresiku.

“Only a small problem, Cin.” (Hanya masalah kecil, Cin) Aku berusaha menutupi permasalahan keluarga kami supaya tidak diketahui oleh Cindy. “You don’t need to worry. We just have fun tonight.” (Kamu tidak usah khawatir. Kita senang-senang saja malam ini). Sambil mulai membuka gesper dan perlahan celanaku mulai terbuka dan melorot turun ke bawah. Kulorotkan celana dalamku hingga bagian bawah tubuhku sudah telanjang bulat menyisakan hanya sebuah kemeja lengan panjang yang masih utuh di bagian atas tubuhku.

“Please suck my dick, Cin.“ (Tolong sepongin konti gue Cin). Ujarku sambil memegang kepala Cindy lalu kuarahkan ke kejantananku yang masih layu terkulai.

Cindy memegang kejantananku kemudian mulai menjilatinya. Ia sedikit kaget karena melihat kejantananku masih saja tertidur tanpa bereaksi sama sekali. Berbagai cara dilakukan Cindy untuk membuat kejantananku bangkit berdiri namun tetap saja kejantananku tak mau berdiri tegak.

Hingga membuat Cindy capek dan kecewa. Cindy terlihat kesal sampai berkata, “Why your dick? How come you can’t stand at all. Are you impotent?” (Kenapa dengan kontimu? Kok, tidak bisa berdiri sama sekali. Apakah kamu impoten?).

Mendengar perkataan Cindy barusan membuat emosiku naik. Mataku melotot tajam, nafasku menjadi berat, ekspresi wajahku menjadi merah tanpa senyum sedikitpun.

Melihat perubahan ekspresiku, Cindy mulai gelisah dan takut. Dia berusaha bangkit dan langsung menyambar gaun malamnya. Dia terburu-buru memakai gaun malamnya dan setelah dia berpakaian lalu ia melangkah menuju pintu.

“Oh Cindy, ternyata berniat kabur dari apartemenku.” Gumamku. Aku hanya tersenyum tipis, membiarkan saja Cindy menuju pintu keluar dan tidak sama sekali ingin mengejarnya malah aku melangkah ke tempat lain untuk mencari tali tambang di lemari kaca.

Cindy sudah berada persis di depan pintu keluar namun dia terlihat panik dan bingung karena pintu itu tidak bisa dibuka walau ia telah berulang-ulang kali menekan handle pintu itu.

“Hahaha…” Aku tertawa puas menertawakan Cindy yang makin terlihat ketakutan saat aku mulai mendekatinya sambil membawa tali tambang. “You won’t be able to escape from here because that the door has a pin and only I know the pin.” (Lo tidak akan bisa kabur dari sini karena pintu itu memiliki pin dan hanya gue yang tau pin-nya).

“Every body here. Please help me!” (Semua orang di sini. Tolong selamatkan saya!) Cindy menggedor-gedor pintu itu sambil berteriak minta tolong.

“Hahaha…” Tawaku semakin keras melihat Cindy nampak panik dan ketakutan. “You just scream loudly. No one will hear your voice because this apartement is soundproof.” (Lo teriak aja sekenceng-kencengnya. Tidak akan ada orang yang akan mendengarkan suaramu karena apartemen ini kedap suara).

Kutarik paksa tangannya layaknya seperti menyeret sapi. Sedikit ada perlawanan darinya dengan cara meronta-ronta sambil berteriak meminta tolong. Sekeras apapun ia berusaha melawan dan berontak namun tenaganya tidaklah sebanding dengan tenagaku.

“You bitch. You said I was impotent. I kill you.” (Dasar wanita jalang, lo bilang gue impoten. Gue bunuh lo).

“I’m sorry, Roby. I didn’t mean to make you angry. Please, don’t kill me! Hiksss….” (Maafin gue, Roby. Gue ga bermaksud membuatmu marah. Tolong, jangan bunuh gue! Hiksss) Cindy menangis, dia memohon dan meminta belas kasihanku.

Setelah sampai di ruang tengah tepatnya di ruang makan. Aku segera menelanjangi Cindy hingga tak ada secuil kain pun menempel di tubuhnya. Gaun malam dan cdnya tergeletak begitru saja di lantai. Lalu segera kududukkan Cindy di kursi jati tersebut. Kuikat tangan kanannya dilanjutkan dengan tangan kirinya ke sandaran kursi. Setelah ke dua tangannya terikat di sandaran kursi. Aku lalu membuka lebar kedua kakinya dan mengikat ke dua kakinya ke ujung kaki kursi kiri dan kanan.

Kutinggalkan sejenak Cindy yang sudah terikat dengan kuat di kursi jati itu sempat kulihat Cindy meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari ikatannya. Kulangkahkan kakiku menuju kamarku, mengambil sebuah kantong plastik putih lalu lalu membawanya untuk kembali menemui Cindy.

“You want to knwo how much I suffer?” (Lo ingin tau betapa menderitanya gue?) tanyaku dengan tatapan yang tajam. Cindy hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab, tubuhnya terus berontak dan meronta.

Aku lantas mengeluarkan sebuah suntikan yang masih kosong berukuran cukup besar dengan pipa yang menyerupai jarum suntuk dan satu botol berukuran sedang yang masih bersegel. Pipa itu biasanya digunakan untuk pasien yang mengalami kesulitan buang air besar. Sementara botol berukuran besar itu adalah cairan zat kimia yang bernama afrodisiak adalah zat kimia yang digunakan untuk merangsang daya seksual.

Segera kubuka segel botol itu dan kumasukkan pipa suntikan ke botol tersebut. Perlahan kutarik tuas suntikan hingga cairan dari dalam botol mulai berpindah ke dalam suntikan. “100 ml cukup untuk membuatnya menjadi wanita gila seks atau hyperseks.” Aku lalu menunjukkan suntikan itu pada Cindy.

“Gosh, Roby. Please let me go, don’t hurt me. Hiksss…!” (Ampun, Roby. Tolong lepaskan gue, jangan sakiti gue. Hiksss….!) Cindy menagis. Mengiba, memelas dan memohon belas kasihan supaya aku tidak menyakitinya.

Tanpa mempedulikan tangisannya, aku lalu mendekatkan pipa itu ke vaginanya dan menekan pipa itu sedalam mungkin hingga membutnya berteriak kesakitan. “Awwwww…!” Kemudian kupompa suntikan itu hingga cairan obat itu mulai keluar dan berpindah masuk ke dalam vagina Cindy.

“Hahaha….” Aku tertawa puas lalu pergi meninggalkan Cindy yang terus saja menangis meratapi nasibnya.

@@@@@​

Setelah mengunjungi Cinta, Annisa dan Imah keluar dari rumah sakit bersalin itu untuk selanjutnya kembali ke tempat usaha mereka. Keduanya pun segera menuju ke parkiran. Mobil BWM itu mulai bergerak meninggalkan area rumah sakit, Annisa dengan santai mengemudikan kendaraannya, ditemani oleh Imah yang duduk di samping kirinya. Sekitar 30 menit kemudian mobil itu telah memasuki area parkir gedung berlantai dua yang merupakan tempat usaha Annisa dan juga Cinta.

Mereka turun dari mobil dan segera melangkah masuk ke dalam gedung itu untuk kembali melanjutkan aktifitas pekerjaan mereka karena hari sudah agak siang.

“Dek Imah, nanti hari ini kamu urus semua orderan dari perusahaan C untuk besok.” Beritahu Annisa saat mereka akan berpisah ke tempat usahanya masing-masing. “Mereka pesan 200 box untuk peresmian kantor cabang baru.”

“Iya, Mbak.” Sahut Imah. “Tadi Yasmin memberitahukan soal ini via WA bahwa ada yang order 200 box dari perusahaan C dan sekarang sudah dikerjakan oleh Yasmin dan timnya sesuai arahanku tadi.”

“Yaudah kalo gitu Mbak naik ke atas dulu.”

“Iya, Mbak.” Sahut Imah.

Keduanya pun sempat cipika-cipiki terlebih dahulu, Annisa lantas menapaki tangga satu per satu menuju ke ruangan kerjanya. Sedangkan Imah melangkah ke ruangan kerjanya yang berada di lantai satu, ruang kerjanya tidak jauh dari tempatnya berdiri.

“Selamat siang Bu Imah.” Sapa seorang wanita cantik yang berada di ruangan itu setelah melihat Imah masuk ruangan.

“Selamat siang juga Bu Ayu.” Imah membalas sapaan wanita cantik itu. Wanita cantik yang berada di ruangan itu adalah Ayu Wulandari. Dia yang dipercaya oleh sebagai kepala divisi keuangan. Sementara posisi Cinta di restoran ini sebagai pemilik dan Imah sebagai manajer restoran. “Maaf saya terlambat karena tadi habis menjenguk Bu Cinta dulu.” Lalu Imah menaruh tas di atas meja kerjanya kemudian duduk di kursinya.

“Oiya Bu. Gimana kabarnya Bu Cinta dan bayinya?” tanya Ayu setelah mendengar alasan keterlambatan Imah masuk kantor.

“Alhamdulillah, Bu Ayu. Kondisi Bu Cinta dan bayi perempuannya sehat. Bu Cinta hanya butuh istirahat untuk memulihkan kondisinya pasca operasi cesar.” Imah menjelaskan keadaan Cinta dan bayinya pada Ayu.

“Alhamdulillah, ya Bu.” Ayu tersenyum senang mendengar berita baik itu. “Oiya, Bu Imah. Saya dan rekan-rekan mohon ijin nanti sore ingin membesuk Bu Cinta dan putrinya.”

“Tentu saja saya mengijinkan kalian jika ingin membesuk Bu Cinta dan putrinya, asalkan selesaikan terlebih dulu pekerjaan masing-masing.” Imah balas tersenyum. “Nanti sampaikan salam saya buat Bu Cinta jika kalian bertemu dengan Beliau.”

“Siap Bu.” Ayu nampak semangat sekali setelah memperoleh ijin dari Imah untuk membesuk Cinta dan putrinya nanti.

Setelah pembicaraan itu, suasana ruangan menjadi hening. Keduanya kembali ke aktifitas kerjaan masing-masing. Imah terlihat fokus melihat beberapa contoh menu masakan baru, dan sempat mencari informasinya juga di layar komputer di hadapannya. Tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya ketika tadi melihat Annisa yang naik tangga, hatinya menjadi tidak tenang karena kondisi Annisa yang sedang hamil. “Apa sebaiknya aku ngomong sama Mbak Annisa untuk sementara waktu ruangan kerjanya di ruangan sini saja. Bahaya jika naik turun tangga dalam kondisi hamil takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebaiknya aku ke ruangan Mbak Annisa sekarang untuk ngobrolin masalah ini.” gumam Imah lalu ia bergegas meninggalkan ruangan tersebut untuk menemui Annisa.

Sebelum pergi, Imah sempat berpesan pada Ayu. Dan mengatakan pada Ayu bahwa, ‘ia ke atas menemui Bu Annisa’.

Tok… Tok… Tok…

“Masuk!” Annisa menyahuti dari dalam ruangan.

Imah melangkah masuk setelah mendengar sahutan dari Annisa.

“Eh, Imah…!” Annisa tersenyum setelah melihat orang yang menemuinya. Ia pun berdiri dan melangkah menuju sofa.

Setelah keduanya duduk di sofa tersebut, Imah mulai membuka suaranya. “Mbak, kedatangan Imah ke sini ada yang mau Imah obrolin sama Mbak.” Huuuu…. Fiuh….” Terlihat Imah sejenak menghela nafas supaya perkataannya bisa dimergerti oleh Annisa.

Annisa tersenyum. “Katakan saja Dek, jangan sungkan dengan Mbak!”

Imah melanjutkan perkataannya. “Begini Mbak. Ruangan kerja Mbak Annisa di sini (lantai dua) mesti naik turun tangga. Annisa kepikiran dengan kandungan Mbak bahaya naik turun tangga takut terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Jadi menurut Imah, sebaiknya Mbak Annisa untuk sementara waktu berkantornya di lantai bawah aja.”

Annisa mendengarkan perkataan Imah tanpa memotongnya.

“Bagaimana kalo untuk sementara waktu, kita tukeran saja ruang kerjanya Mbak? Restoran berkantor di ruangan ini, Biro perjalanan haji dan Umroh berkantor ruangan kami di lantai satu.”

Annisa tersenyum dan mengangguk pertanda setuju, Annisa mulai bersuara. “Kalo begitu nanti kita atur secepat mungkin Dek. Hari ini kita mulai berberes untuk pindahan kantor.”

“Siap, Mbak.” Imah tersenyum puas karena Mbak Annisa menyetujui permintaannya ini.

Beberapa saat kemudian mereka mulai berberes. Annisa segera membereskan semua dokumen-dokumen dibantu oleh sekretarisnya. Begitupun dengan Imah dan Ayu, mereka segera membereskan semua berkas-berkas, dokumen ke dalam kardus untuk segera dipindahkan ke ruangan kerjanya nanti di atas.

Dua jam kemudian mereka sudah berpindah ruangan, Imah dan Ayu kini sementara waktu menempati ruangan yang dulunya merupakan ruang kerjanya Annisa. Sedangkan Annisa sementara waktu menempati ruangan di lantai 1 yang pernah ditempati Imah dan Ayu.

@@@@@​

Pov Annisa

“Ini di mana?” tanyaku dalam hati sambil terus berjalan di kegelapan malam tanpa ada cahaya yang menerangi langkah kakiku. Aku terus saja melangkah, rasa takut mulai menghinggapi hati dan jiwaku.

“TIDAK… Aku tidak boleh takut dan menyerah. Ini demi anakku dan Mas Adit.” Aku berusaha meyakinkan diriku untuk kuat menghadapi kejadian ini.

Aku terus melangkah tanpa melihat ke kiri dan ke kanan, pandanganku lurus ke depan walau aku berjalan tanpa bisa melhat apapun di depanku. Akhirnya setelah melangkah agak jauh dari sana, aku bisa melihat sebuah cahaya yang terang. Aku pun mempercepat langkah kakiku menuju arah tersebut hingga makin lama semakin terlihat jelas tempat itu.

“Sungguh indah tempat ini. Tempat apakah ini?” Kembali aku bertanya dalam hati karena kagum melihat keindahan tempat ini.

Saat aku melangkah memasuki tempat ini, terdengar suara seorang wanita yang memanggil nama lamaku. “Tasya… Tasya… Kemarilah…!”

Ada kebimbangan yang kurasakan ketika itu. Aku bingung dan bertanya-tanya suara siapa itu yang memanggil nama yang telah aku kubur untuk selamanya. Karena nama itulah aku menjadi wanita jahat, arogan, kejam dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuanku.

Suara itu terus saja memanggil nama lamaku membuat aku menutup telinga. “TIDAK… Aku bukan Tasya, aku adalah Annisa. Siapa kamu…?”
Suara itu terus saja memanggil nama lamaku, membuat aku akhirnya mendekati asal suara itu.

Dan….

Ekspresi wajahku mendadak berubah menjadi kaget, setelah melihat wanita yang ada di hadapanku ini.

“Kaaammmuuu….” Suaraku terbata-bata.

“Iya, ini AKU.” Wanita itu menyahut. “Tentu kamu masih ingat AKU.” Wanita itu bergerak maju mendekatiku.

Melihat wanita itu sudah mulai mendekat, aku ingin mundur tetapi kakiku seakan terkunci tak bisa digerakkan. “Jangan mendekat!”

“Jangan takut, Tasya!” Wanita itu berhenti melangkah maju. “Aku mau minta bantuan kamu dan Mas Adit.”

“Kenapa mesti aku dan Mas Adit?” tanyaku heran. “Dan apa yang bisa kami bantu?”

“Kalian datang saja ke Surabaya. Kalian akan tau apa yang sedang terjadi.” Wanita itu memberitahu dan dari sudut matanya mulai keluar air mata.

Saat wanita itu akan pergi meninggalkanku, aku malah ingin mencegahnya. “Tunggu…”

Wanita itu hanya berhenti sejenak lalu berbalik badan sambil tersenyum padaku, sebelum pergi dia sempat berkata. “Nanti kita akan ketemu lagi, Tasya. Jaga dirimu dan bayi dalam kandunganmu.”

“Ayu…. Jangan pergi!” Aku memanggil namanya mencoba mencegahnya untuk tidak pergi.

Ayu terus saja berjalan, makin lama makin menjauh dan akhirnya menghilang dari penglihatanku.

Seketika tempat itu menjadi gelap gulita kembali. “Mas Adit….” Teriakku memanggil nama suamiku. Jujur aku sangat takut sekali.

Lalu tiba-tiba…

Tubuhku terasa seperti digoyang-goyang dan suara itu.

“Dek….”

“Itukan suara suamiku.” Aku bersorak senang dalam hati namun tetap saja aku tidak bisa melihat apapun di tempat ini.

“Dek, Dek…” Seketika tubuhku sempoyongan seperti merasakan adanya gempa bumi yang sangat hebat hingga akhirnya tubuhku masuk ke dalam jurang yang sangat dalam.

Buuuggghhh

Mataku mulai terbuka dan mendapati diriku berada di atas ranjang tidurku. “Mas Adit….!” Aku kaget setelah tidak mendapati suamiku di
ranjang.

“Di sini Dek!” Adit menyahuti sambil mengerang kesakitan. “Aduh…!”

Aku segera mendekati asal suara itu.

Dan tiba-tiba….

“Hahahah…” Aku tertawa terbahak-bahak.

Kulihat Mas Adit, tubuhnya dalam posisi terbalik dimana posisi kepalanya di bawah dan kakinya terangkat ke atas. Dia tidak bisa bergerak karena tempatnya begitu sempit.

Aku turun dari ranjang dan segera membantu suamiku supaya bisa berdiri kembali.

Mas Adit kini sudah duduk di atas ranjang. Dia lalu bercerita, bahwa tadi aku seperti orang kerasukan; mata terpejam, bicara sendiri dan memanggil nama Ayu dan juga nyebut nama dia.

Aku tertunduk malu kemudian menceritakan pada Mas Adit apa yang aku alami tadi.

Setelah mendengar ceritaku, Mas Adit langsung berkata. “Besok kita ke Surabaya Dek. Kita ke makam Ayu dan juga ke rumah Ibunya. Mungkin itu pesan Ayu untuk kita supaya kita berangkat ke Surabaya.”

Aku hanya menganggukkan kepala lalu menyenderkan tubuhku ke pelukannya.

“Makasih, Mas.” Aku lalu meraih dan menciumi tangannya. Mas Adit mengusap rambutku dengan lembut.

“Maafkan aku Ayu, karena perbuatanku dulu telah membuatmu terpisah dari orang yang kamu sayangi. Hiksss….”

Bersambung