Pelarian Kisah Cintaku Part 43

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 43

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 43 | Pelarian Kisah Cintaku Part 43 Start

Chapter 43. Namanya, ‘Cintya Annissa Valentina’​

Cuplikan chapter sebelumnya….

Lokasi : Apartemen Buah Batu No.101

.

.

.

“Terima kasih istriku. Mas sangat puas sekali. Kamu benar-benar bikin Mas bahagia. Mas sayang kamu, Dek.” Lalu sebuah kecupan penuh sayang mendarat di bibirku.

“Adek juga sayang kamu, Mas. Kebahagian kamu adalah kebahagianku, terima kasih telah membuat Adek jadi lebih baik dan terima kasih juga karena Mas mau membimbing dan memaafkan semua kesalahan Adek yang lampau.” Aku menyandarkan kepalaku ke dada bidangnya sambil mengelus-elus penuh kemanjaan.

Mas Adit mengelus rambutku dengan pelan, sesekali menciumi keningku. Lalu tak lama kami berdua pun terlelap.

@@@@@​

Pov 3rd

Jakarta, 24 November 2017….

Pagi itu, Anggoro, Nengsih, Dewi dan Akbar telah berpakaian rapi. Mereka berencana ingin menghadiri acara resepsi pernikahan anak kolega bisnis mereka.

“Kek, gendong!!!” Dengan manjanya, Akbar segera melompat ke pelukan Anggoro membuat Anggoro mau tidak mau menyambut cucunya tersebut ke dalam gendongannya.

“Waah… Udah berat gini, cucunya Kakek! Makin besar dan pinter.” ujar Anggoro saat menggendong Akbar. Terlihat senyumannya tulus pada cucunya tersebut.

“Akbar… Nanti di sana, jangan nakal, ya!” kata Dewi mengingatkan putranya supaya tidak nakal saat mereka menghadiri acara tersebut.

“Iya, Ma.” sahut Akbar cengengesan dan terus bergelayut manja di gendongan Anggoro.

Mereka pun melangkah ke luar rumah menuju mobil Toyota Alphard yang sudah terparkir di depan teras rumah. Mobil itu yang akan membawa mereka ke lokasi acara resepsi pernikahan putri Wahyudi Notonegoro yang bernama Bella Puspita Notonegoro.

“Silahkan masuk, Nyonya, Mbak!” seru sopir keluarga Anggoro pada Nengsih dan Dewi saat pintu mobil belakang itu telah terbuka.

“Iya, makasih Tedjo!” sahut Nengsih saat mulai melangkah masuk ke dalam mobil itu diikuti kemudian oleh Dewi.

“Kek. Akbal pengen duduk di depan, ya. Tapi, cendili. Kakek duduk sama Nenek dan Mama aja di belakang.” ujar Akbar berlagak mengatur dengan bergaya menuruti tingkah Anggoro saat bicara walaupun khas bicara anak-anak.

“Siap, Bos! Hehehe…” jawab Anggoro terkekeh melihat tingkah laku cucunya tersebut.

Akhirnya, mobil Toyota Alphard itu pun mulai melaju menuju ke tempat acara resepsi pernikahan. Sekitar 30 menit kemudian mobil itu pun sampai ke tempat acara resepsi pernikahan.

Lokasi : Balai Sarbini…

Mereka segera turun dari mobil Toyota Alphard setelah mobil itu diparkirkan oleh Tedjo supir keluarga Anggoro Adi Nugroho. Anggoro berjalan berdampingan dengan Nengsih, keduanya mengenakan pakaian yang bermotif sama. Sedangkan Dewi menggandeng Akbar yang tadinya sempat ingin minta digendong Anggoro. Namun, Dewi bisa membujuknya dengan lembut hingga akhirnya Akbar menuruti perkataan Mamanya.

“Itu Opa, Ma…!” teriak Akbar senang sambil menunjuk ke arah Pramudya yang baru saja keluar dari mobilnya. Pramudya datang ke acara resepsi ini hanya sendirian tidak di dampingi oleh Sekar yang sedang sakit.

Dewi, Anggoro dan Nengsih pun melihat ke arah Pramudya. Nampak Pramudya pun tersenyum saat melihat ke arah mereka.

“Opa…!” seru Akbar langsung berlarian ke arah Pramudya. Dan Pramudya pun meyambut Akbar cucunya dengan sangat senang.

“Cucu Opa, makin ganteng aja sekarang.” ujar Pramudya ketika Akbar sudah dalam gendongannya lalu dikecupnya kening cucu kesayangannya itu.

“Opa, Opa… Nanti Akbal, duduk sama Opa aja ya. Akbal kangen sama Opa.” oceh bocah itu dengan suara cadel khas bocah balita.

“Iya. Opa juga kangen sama Akbar. Yuk kita barengan sama Kakek, Nenek dan Mama!” ajak Pramudya lalu mulai melangkah mendekati Nengsih, Dewi dan Anggoro yang masih menunggu mereka.

“Gimana kabarmu, Mas Pram?” tanya Anggoro setelah mereka berdua selesai bersalaman.

“Alhamdulillah, Dek Anggoro. Mas sehat walafiat.” jawab Pramudya sumringah.

“Oiya, Mas. Gimana kondisinya, Mbakyu Sekar?” tanya Nengsih. “Maaf, kami belum sempat main ke rumah Mas!”

“Alhamdulillah, Dek Nengsih. Kondisi Sekar mulai menunjukkan perkembangan yang baik. Insya Allah akan sembuh setelah melakukan beberapa terapi lagi.” jawab Pramudya menjelaskan tentang kondisi Sekar.

“Pa, Ma. Nanti pulangnya, Dewi ikut Papa Pram, ya.” ujar Dewi pada Anggoro. “Dewi kangen sama Mama Sekar.” Dijawab dengan anggukan kepala oleh Anggoro dan Nengsih.

“Asyikkk… Akbal bisa ketemu sama Oma.” seru Akbar kegirangan. Dia masih bergelayut manja dalam gendongan Pramudya.

Mereka pun masuk ke dalam gedung tersebut.

Akbar celingak-celinguk dalam gendongan Pramudya saat melihat banyaknya tamu undangan yang menghadiri acara resepsi pernikahan itu. Pramudya pun mengikuti Anggoro, Nengsih dan Dewi yang lebih dulu melangkah di depannya dan akhirnya mereka disambut oleh panitia yang menempatkan mereka di tamu VVIP acara itu sesuai dengan kartu undangan yang mereka bawa.

Anggoro Adi Nugroho aka Anggoro adalah pengusaha ternama di tanah air ini, memiliki berbagai jenis usaha yang sangat besar dan tersebar di semua kota di Indonesia. Beliau adalah termasuk jajaran orang-orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai 100 Trilyun Rupiah. Walau Anggoro adalah pengusaha sukses dan kaya raya, tetapi Beliau orangnya low profile, dermawan dan sayang pada keluarganya. Relasi bisnisnya luas dan banyak, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Hingga sangat wajarlah jika ia sangat disegani sekaligus dihormati di kalangan atas para konglemerat karena sikapnya itu yang selalu bersikap ramah, baik dan menjaga relasi dengan sangat baik.

“Pak Anggoro. Senang sekali saya bisa ketemu Bapak.” ucap laki-laki separuh baya yang terlihat gagah dan tampan dalam balutan setelan jas berwarna hitam sambil memeluk Anggoro dengan erat.

“Saya pun senang, bisa ketemu dengan Pak Sayyid.” jawab Anggoro sumringah setelah mereka melepas pelukan persahabatan. “Oiya, Pak Sayyid. Kenalin, ini Besan saya, ‘Pramudya Adi Pratama’. Mas Pram, ini loh Pak ‘Sayyid Usman Alatas’. Partner bisnis, Migas.”

Salah satu rekan bisnis Anggoro yang paling lama adalah Pak Sayyid. Beliau bernama lengkap Sayyid Usman Alatas. Pria paruh baya keturunan Arab-Indonesia. Dia adalah pengusaha ternama di bidang minyak dan gas bumi. Hubungan bisnis keduanya sudah terjalin erat hampir 10 tahun lebih. Bahkan kabar kecelakaan dan kematian putri dan menantunya pun diketahui oleh Sayyid Usman Alatas. Walau pada saat itu, Sayyid Usman Alatas sedang berada di luar Negeri. Namun, ia secara pribadi menelpon Anggoro secara langsung untuk menyampaikan rasa berduka citanya atas musibah yang dialami oleh putri dan menantunya itu beberapa bulan yang lalu. Dan meminta maaf karena tidak bisa menghadiri acara pemakaman Prima, menantu Anggoro karena saat itu ia sedang berada di luar negeri.

Dewi segera mengambil Akbar dari gendongan Pramudya setelah mendengar Papanya ingin memperkenalkan Mertuanya itu pada kolega bisnisnya.

“Akbar, ikut Mama bentar, ya! Opa mau ngobrol sama teman Kakek.” ujar Dewi lembut pada Akbar putra semata wayangnya.

“Sayyid Usman Alatas. Panggil Sayyid aja, Pak.” Laki-laki yang berwajah Arab itu mengulurkan tangannya pada Pramudya.

“Pramudya Adi Pratama, panggil Pram aja, Pak Sayyid.” Pramudya menyambut uluran tangan laki-laki itu dengan senyum ramahnya.

Lalu mereka bertiga mencari tempat duduk supaya bisa ngobrol santai, membiarkan Dewi, Nengsih dan Akbar yang duduk terpisah beberapa kursi dari mereka.

“Ma. Titip Akbar, ya.” kata Dewi dengan suara pelan. “Dewi mau ke toilet sebentar.”

“Iya, Nak.” jawab Nengsih cepat. “Sini Akbar ikut Nenek, ya! Nengsih pun mengambil Akbar ke dalam gendongannya.

.

.

.

Setelah sempat bertanya pada panitia di sana, di mana letak toiletnya, maka Dewi pun melangkah dengan terburu-buru karena sudah kebelet pipis menuju arah yang dikatakan panitia itu.

Sementara itu, dari arah berlawanan seorang laki-laki muda berwajah tampan sedang berjalan tanpa melihat ke depan sambil terus berbicara dengan seseorang melalui telpon seluler-nya.

Hingga akhinya, tabrakan itu tak terhindarkan.

Buugghhh…

“Aaahh…!” seru Dewi saat tubuhnya berbenturan dengan sosok lelaki itu.

Seketika tubuh Dewi oleng ke samping kiri, dan jatuh terduduk di lantai. Begitu pun dengan laki-laki itu yang juga kaget dan terjatuh tidak jauh dari Dewi. HP laki-laki itu terlempar dan jatuh terhempas ke lantai.

“Aduhhhh….!” Dengan ekspresi meringis kesakitan, Dewi memegangi lututnya yang sakit.

Sedangkan laki-laki itu, juga terduduk sejenak dan baru sadar bahwa ia habis menabrak seseorang dan seseorang itu adalah wanita itu. Lalu ia berusaha berdiri dan ingin membantu wanita yang ditabraknya itu yang masih terduduk di tempatnya.

“Maaaaf, Mbaaakkk…!” ucap laki-laki itu sedikit gugup setelah menghampiri Dewi. “Saya tadi tidak melihat Mbak, karena sambil menerima telepon.”

Dewi seketika menoleh ke arah suara yang menegurnya. Dan seketika pandangan mereka beradu. Keduanya sempat terdiam sejenak hanya saling memandang satu dengan lainnya.

“Dari sorot matanya dan nada bicaranya. Kok, mirip banget dengan Alm. Mas Prima.” gumam Dewi dalam hati.

“Mbaakkk… Mbak, nggak apa-apa?” tanya laki-laki itu seketika membuat sadar Dewi dari lamunannya sejenak.

“Iiiyyaa, eehhh apa, Mas?” jawab Dewi gugup. “Nggak apa-apa kok.”

Laki-laki itu dengan sopan mengulurkan tangannya untuk membantu Dewi berdiri, namun Dewi menggelengkan kepalanya karena ia sadar bahwa laki-laki itu bukan muhrimnya.

“Sorry, Mbak. Saya tau, saya bukan muhrimnya, Mbak. Saya hanya ingin memastikan Mbak baik-baik saja.” ujar laki-laki itu sekali lagi mengulurkan tangannya. “Saya bantu Mbak berdiri!”

Dewi pun menangkap uluran tangan laki-laki itu, dan akhirnya ia bisa berdiri dan mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu lalu pergi meninggalkan laki-laki itu menuju toilet yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat kejadian mereka tabrakan.

Satu jam kemudian….

Anggoro, Nengsih, Pramudya, Dewi dan Akbar berjalan ke pelaminan untuk mengucapkan selamat menempuh hidup baru buat kedua mempelai, bersalaman dan kembali pulang.

“Terima kasih, Pak Anggoro. Sudah berkenan datang memenuhi undangan saya.” kata Wahyudi Notonegoro yang saat itu ikut mendampingi kedua mempelai bersama istrinya. Beliau bersalaman dengan Anggoro.

“Sama-sama, Pak.” jawab Anggoro dengan senyum ramahnya. “Justru memenuhi undangan Pak Wahyudi adalah hukumnya wajib. Selamat ya, atas pernikahan putrinya. ‘Semoga pernikahan mereka bahagia dan menjadi keluarga SAMAWA’.”

“Aamiiieeen…” sahut Pak Wahyudi dan istri bersamaan.

Setelah selesai memberikan ucapan, ‘SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU’ kepada kedua mempelai dan kedua orang tuanya. Anggoro, Nengsih, Pramudya, Dewi dan Akbar mulai beranjak meninggalkan gedung itu menuju ke tempat parkir mobilnya.

Namun sebelum mereka sampai di tempat parkir itu. Tiba-tiba ada suara memanggil mereka.“Pak Anggoro, tunggu sebentar!”

Mereka pun berhenti, Anggoro menoleh ke belakang, ternyata yang memanggilnya barusan adalah Sayyid Usman Alatas. Dia didampingi oleh istrinya dan seorang laki-laki muda. Lalu Pak Sayyid mendekati rombongan Anggoro.

“Ohh…! Pak Sayyid.” Seru Anggoro setelah melihat siapa yang menegur-nya tadi.

“Kenalin, Pak Anggoro. Ini istri saya namanya, ‘Nita’ dan ini putra saya namanya, ‘Zaki Husein Alatas’. ujar Pak Sayyid memperkenalkan istri dan anaknya pada keluarga besar Anggoro.

Anggoro mengatupkan tangannya sebagai isyarat perkenalan, lalu menerima salam dari seorang laki-laki muda bernama Zaki.

“Saya, ‘Zaki’, Om!” ujarnya memperkenalkan dirinya dengan sopan pada Anggoro. Lalu juga menyalami Pramudya yang sedang menggendong Akbar.

Dewi yang sedari tadi ikut melihat ke arah suara yang memanggil nama Papanya sedikit tertegun sejenak karena di hadapannya ternyata laki-laki yang beberapa saat yang lalu bertabrakan dengannya.

“Ternyata dia adalah putra dari sahabat Papa. ‘Zaki Husein Alatas’, nama yang disebutkan oleh Papa laki-laki itu.” Gumam Dewi membatin sambil terus memperhatikan pemuda itu.

“Jeng Nita, ini Putri saya namanya, ‘Dewi Safitri’.” Sayup-sayup Dewi mendengar Mamanya memperkenalkannya pada Ibu laki-laki itu. Namun, entah kenapa? Dewi hanya terpaku dengan mata tertuju pada sosok pemuda itu.

“Dewi, Dewi…!” seru Nengsih berbisik padanya. Sehingga membuat Dewi seketika kaget dan sadar dari bengongnya.

“Iiiyyaa… Maaa. Eh, Tante. Maaf saya agak kurang enak badan. Saya, ‘Dewi Safitri’ panggil Dewi aja. Putri Anggoro Adi Nugroho dan Nengsih Rahmawati.” ujarnya memperkenalkan dirinya pada wanita cantik paruh baya yang usianya mungkin tidak berbeda jauh dengan usia Mamanya. Lalu Dewi mencium buku tangan Nita sebagai tanda ia menghormati Beliau.

“Cantik, sekali kamu Nak.” Puji Nita. “Panggil, Tante Nita aja ya. Saya istri Pak Sayyid Usman Alatas.”

“Iya, Tante.” Sahut Dewi. “Tante juga, cantik kok.”

Setealah itu, Nita memanggil pemuda itu untuk dikenalkan pada mereka. “Zak, sini…!”

Pemuda itu mendekat ke arah Nengsih, Mamanya dan Dewi. Makin dekat lelaki itu berjalan ke arahnya membuat perasaan Dewi semakin kalut. Perasaan yang dirasakannya saat ini sama persis yang ia rasakan ketika ia dijodohkan dengan Alm. Prima suaminya. “Kok, dag, dig, dug, gini ya. Jantungku? Apakah hatiku merasakan perasaan suka padanya?” tanya Dewi membatin dalam hatinya.

Setelah tiba di hadapannya para wanita itu, ternyata laki-laki itu pun sama seperti yang dirasakan Dewi barusan. Jantungnya berdegup kencang, matanya tak lepas memandangi Dewi yang tampak cantik dengan balutan pakaian syar’i.

“Cantik sekali wanita ini, alangkah beruntungnya laki-laki yang menjadi suaminya.” gumam pemuda itu dalam hatinya.

Melihat keduanya saling diam, akhirnya Nita membuka suara. “Nak Dewi, kenalin ini putra Tante. Namanya, ‘Zaki Husein Alatas’.”

Dewi hanya mengangguk dan sejenak memandangi Zaki namun sejurus kemurdian ia menundukkan kepalanya.

“Tadi kami sempat bertabrakan, Ma. Saat Zaki nerima telepon. Mbak Dewi, maaf untuk kesalahan yang tadi ya.” kata Zaki menjelaskan kejadian tadi.

“Iya, Zaki. Itu juga bukan salahmu juga. Saya juga salah jalannya terlalu buru-buru tadi.” jawab Dewi dengan wajah tertunduk malu tanpa berani memandang wajah pemuda itu.

Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka menyudahi perkenalan itu dan berpisah ke rumah masing-masing. Anggoro dan Nengsih masuk ke mobil Toyota Alphard, sedangkan Pramudya, Dewi dan Akbar melangkah menuju ke mobil Toyota Fortuner. Setelah Dewi dan Akbar diberi ijin untuk tinggal sementara waktu di rumah mertuanya sekaligus menengok Sekar yang terkena serangan stroke ringan.

@@@@@​

Pov Adit

Bandung, 25 November 2017…

Sejak mengangkat Cinthunks sebagai Wakil Direktur PT. RWG Trans (Persero) , aku kini bisa sedikit bebas untuk mengawasi keadaan kedua istriku yang kini sedang hamil. Usia kandungan Annisa baru memasuki usia 3 bulan, sedangkan usia kandungan Cinta sudah memasuki 6 bulan saat aku menghadiri acara peresmian restoran-nya. Aku sempat meneteskan air mata bahagia saat mendengarnya bicara dengan tegas dan lantang saat berdiri memperkenalkan dirinya dan usahanya lalu setelah itu ia menekan tombol. Sebuah nama terpampang dengan nama yang sangat cantik seperti orangnya, ‘RESTORAN CINTA’.

Jujur saja, pada saat itu aku ingin sekali berdiri di sampingnya memperkenalkan diriku di khalayak ramai para tamu undangan bahwa dia adalah istriku. Namun, terasa berat kaki dan badanku untuk melakukannya karena beberapa pertimbangan diantaranya takut Cinta akan semakin marah dan membenciku setelah apa yang telah kuperbuat.

Rasa bahagia tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, ketika melihat kedua istriku berdiri berdampingan di podium memperkenalkan dirinya di hadapan tamu undangan. Yang ada dalam bayanganku saat itu adalah aku berdiri di tengah-tengah Cinta dan Annisa dan memperkenalkan kepada semuanya mereka berdua adalah istri-istri kebanggaanku. Mereka berduanya adalah belahan jiwaku.

Aku datang pada peresmian itu bersama Cinthunks yang sekarang terlihat semakin gagah walaupun tetaplah masih oke diriku jika disandingkan. Bak bumi dengan langit, aku dengan tubuh ideal sedangkan dia bertubuh buncit dan berkulit gelap. Hehehe….

Setelah acara itu mau selesai, aku membisiki Cinthunks untuk pulang ke apartemen-ku yang berada di daerah Buah Batu. Apartemen No. 101 itu sengaja kubeli untuk tempat tinggalku selama tinggal di kota Bandung ini. Aku dan Cinthunks segera ke luar dari gedung itu sebelum tamu undangan pulang. Namun, ternyata penyamaranku bisa diendus oleh Annisa Putri, istri keduaku yang kini benar-benar telah berubah 180 derajat menjadi wanita muslimah berhijab dan terus belajar menekuni ajaran Islam yang kini dianutnya.

Saat aku dan Cinthunks berjalan dan melangkah menuju mobil Lexus seri RX270 berplat nopol D 1 ACA yang terparkir rapi di tempat parkiran.

Drrrttt…. Drrrtttt…

Tiba-tiba…

HP-ku bergetar, karena selama acara tadi sengaja aku silent, biar tidak merusak acara peresmian. Dan ternyata yang menghubungiku adalah Annisa Putri.

“Hallo….!” Aku segera menjawab panggilan telepon-nya, namun tidak ada suara dari istriku Annisa. Malah teleponnya dimatikan olehnya.

Namun, beberapa saat kemudian, setelah aku berada di dalam mobilku bersama Cinthunks menuju ke apartemen-ku di Buah Batu. HP-ku kembali bergetar. Namun, kini hanya berupa pesan SMS dari Annisa Putri.

From : Annisa Putri

“Mas, tadi Adek tau kalo Mas datang ke tempat acara peresmian tadi. Kirimi alamatmu, Adek mau ketemu. Kangen sama kamu, Mas.”

Aku tersenyum membaca pesan Annisa. Tidak salah kalo dia sukses dalam bisnisnya, feeling dan insting-nya sangat luar biasa. Dia bisa memprediksi gejala dan keadaan di sekitarnya. Sengaja aku mendiamkan SMS-nya karena saat itu aku sedikit ingin menggodanya. Tapi jujuer aku pun sama merasakan kangen pada Annisa yang sudah dua bulan ini meninggalkanku menjalankan misinya untuk menyatukan kami bertiga menjadi sebuah keluarga.

“Thunks, kamu langsung pulang ke Jakarta, ya. Temui Imelda, buat perjanjian kerja sama baru dengan PT. AAA karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kondisi dan biaya. Margin keuntungan kita semakin menipis kalo tidak segera dibuat perjanjian kerja sama yang baru untuk tahun ini.” ujarku memerintah Cinthuks untuk segera berkerja.

“Siap, Bos.” jawabnya cepat. “Akan dikerjakan sesuai arahan Bos.”

Sebelum sampai di apartemen Buah Batu, aku segera membalas pesan SMS Annisa Putri.

To : Annisa Putri

“Hahaha… Kamu memang istriku yang paling cerdas, Sya. Dengan cepat bisa kalo aku datang ke tempat peresmian tadi. Jujur tadi Mas terharu melihat keakraban kalian berdua. Mas berharap semoga Allah menyatukan kita bertiga.Mas mencintai dan menyayangimu sama besarnya cinta Mas pada Cinta. Kalian berdua adalah jantung dan paru-paru, Mas. Mas tinggal di apartemen Buah Batu no. 101. Mas juga kangen sama kamu dan calon anak kita.”

Dan akhirnya kami berdua ketemu, melepaskan semua kerinduan kami berdua yang terpisahkan selama dua bulan ini. Kuakui, Annisa lebih jago dibandingkan Cinta dalam urusan di ranjang. Tapi, entah kenapa? Sejak ditinggal pergi oleh Cinta, membuat hidupku terasa hampa. Sebagian diriku seakan mati tanpa adanya Cinta di sisiku, walaupun saat itu Annisa ada di sampingku.

Keesokan harinya…

“Sayang, bangun…!” bisiknya pelan di telingaku. “Udah Subuh, yang. Yuk, sholat dulu! Adek kangen sholat berjamaah denganmu Mas.”

Kukecup keningnya sejenak setelah aku sudah membuka mataku. Tampak jam di dinding menunjukkan jam 4.50 wib. Lalu aku segera beranjak dan segera masuk ke kamar mandi untuk mandi besar dan berwudhu.

“Dek…! Mas, sekarang bikin usaha baru lagi di Bandung!” kataku memulai pembicaraan saat kami sarapan pagi setelah selesai sholat Subuh berjamaah.

“Usaha apa, Mas?” tanya Annisa. “Apa perlu bantuan Adek?”

“Ekspor-impor komoditi kopi, Dek.” jawabku lalu menerangkan padanya tentang dengan siapa aku bekerja sama. “Jadi kemaren, tanggal 20 November 2017. Mas dan Rahadian Senja Pratama sudah menandatangai perjanjian kerja sama mendirikan PT. ACA. Perusahaan yang akan bergerak dibidang ekspor-impor produk kopi. Pembagian hasil 60%-40% sesuai dengan jumlah modal perusahaan. Mas mengalokasikan dana 100 Miliyar untuk usaha ini . Nanti untuk pemasarannya akan ditangani langsung oleh Senja, panggilan dia Dek. Kamu tau tidak siapa dia?”

Annisa menggelengkan. “Siapa Senja, Mas?”

“Dia itu adalah pemilik kost-kostan tempat Cinta tinggal sekarang ini. Dan setelah Mas ceritakan siapa itu Cinta dan menunjukkan foto pernikahan siri kami. Senja malah ingin menggratiskan Cinta selama tinggal di sana! Tapi segera Mas tolak karena pasti akan membuat Cinta curiga dan yang Mas takutkan dia malah akan pergi makin menjauh dari Mas. Dan semua ini awalnya Mas telusuri dari tempat kerjanya Cinta. ‘Mantili Resto & Caffe’ yang merupakan milik Raka yang ternyata anak perusahaan Senja Dek.”

Annisa hanya mengangguk mengerti dengan penjelasanku barusan. Namun, ia berpesan, ‘untuk saat ini jangan terlalu menyolok mendekati Cinta mesti dengan pelan-pelan karena saat ini pernikahan kita sedikit banyak menorehkan luka di hatinya Mas’.

Aku mengangguk dan tersenyum lebar. “Makasih ya, Annisa Putri. Kamu istri mulia. Mas beruntung memperistri kamu, Dek. Mas sayang kalian dan jangan menyalahkan pernikahan dan takdir kita bertiga ini ya Dek.”

“Iya, Mas.” sahut Annisa.

Lalu kami pun sarapan pagi itu dengan wajah penuh bahagia, sesekali ada canda tawa mengiringi acara sarapan pagi itu.

Dalam hatiku berucap. “Ya Allah, persatukanlah kami bertiga kembali dalam ikatan pernikahan yang Engkau ridhoi. Aamiiien.”

@@@@@​

Pov Cinta

Aku sangat bersyukur dan bahagia sekali pada saat peresmian restoran yang kuberi nama ‘RESTORAN CINTA’ itu berjalan dengan lancar dan sukses. Sebuah cita-cita dan impianku selama ini untuk membuka usaha restoran, akhirnya terwujud berkat bantuan sahabatku, Fatimah Az-zahra atau biasa kupanggil Imah serta Mbak Annisa yang merupakan kakak angkat dari sahabatku Imah.

Tamu-tamu undangan pada peresmian ‘RESTORAN CINTA’ dan ‘TAWWAKAL TOUR’ terlihat sangat nyaman dan puas. Mereka menyukai semua menu masakan khas Sunda yang menjadi konsep restoran ini. Konsep yang akan kukembangkan untuk ‘RESTORAN CINTA’ ini adalah Sederhana, untuk semua kalangan masyarakat dengan harga terjangkau namun bercita rasa masakan hotel berbintang lima.

Kenapa sampai aku akhirnya memutuskan untuk membuka restoran dengan masakan Sunda, karena itu adalah usulan dari Bi Iyah yang telah kuanggap sebagai kakakku sekaligus penolongku saat pertama kali datang ke kota ini.

Bi Iyah kurekrut sebagai chef di ‘RESTORAN CINTA’ ini karena kemahirannya menyajikan masakan khas Sunda. Walaupun pada awalnya ia menolak karena merasa kurang pantas untuk posisi itu tetapi aku menjelaskan padanya bahwa Bi Iyah hanya memberikan resep dan melatih beberapa karyawan untuk nantinya mereka yang akan menjadi koki di Restoran Cinta setelah mereka bisa mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Bi Iyah. Dan sebuah kesepakatan pun aku buat di atas surat perjanjian kerja sama dan bagi hasilnya jika usaha Restoran Cinta ini mendapatkan untung.

3 bulan kemudian setelah ‘RESTORAN CINTA’ dibuka, atau bulan Februari 2018….

Usaha RESTORAN CINTA semakin maju berkembang. Perkembangannya sangat cepat, dari awalnya promosinya hanya dari mulut ke mulut. Kini aku mulai mempromosikan dengan berbagai alat media komunikasi. Salah satunya dengan bekerja sama dengan radio rad76 fm. Radio yang kugemari saat masih tinggal di kota Depok bersama Mas Adit. Menurut cerita Mas Adit, radio rad76 fm ini adalah radio milik sahabatnya, ‘Yogi Pangestu’ sahabatnya waktu kuliah di Jogja. Mereka adalah lulusan dari UGM Yogyakarta fakultas Ekonomi jurusan Manajemen .

“Duh, kenapa aku kangen banget sama kamu, Mas?” gumamku membatin. “Rasa sayangku padamu tak lekang oleh waktu. Karena kamulah aku bisa bangkit dan percaya diri walau karena pernikahanmu juga aku mendapatkan luka.”

Bayangan indahnya pernikahanku bersama Mas Adit sampai detik ini pun masih terus terasa. Aku tidak akan menggugat cerai Mas Adit karena aku sangat mencintainya, tetapi aku hanya ingin menjauh dari hidupnya supaya dia bisa hidup tenang dengan istri sahnya secara Islam dan negara.

Bodohkah, aku melakukan semua ini, yang lari dan menjauh dari Mas Adit? ‘TIDAK’, aku tidak bodoh. Justru semua ini telah kupikirkan masak-masak, demi melihat orang yang kucintai bisa hidup ‘BAHAGIA’.

Kembali ke soal usahaku yang mulai maju, membuatku menambah beberapa pegawai untuk menjadi pelayan restoran. Tentunya, dengan gaji dan fasilitas sesuai dengan UU ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh Disnaker Kota Bandung. Semua itu, telah diurus baik oleh Imah yang bertanggung jawab mengurusi masalah kepegawaian dan pembukuan. Sedangkan aku diberikan wewenang penuh oleh Mbak Annisa sebagai pengambil keputusan dan kebijakan untuk menjalankan usaha restoran ini.

Saat ini, usia kandunganku sudah memasuki usia kandungan 9 bulan. Aku berharap Mas Adit berada di sampingku menemani hari-hariku sampai aku melahirkan bayi dari perbuatan masa laluku. Tetapi aku tidak bisa berharap banyak pada Mas Adit karena salahku sendiri yang pergi meninggalkannya.

Dan saat ini aku masih berada di kamar kost-anku setelah tadi sempat memeriksakan diri ke dokter kandungan bersama-sama Mbak Annisa.

Oiya, tentang hubunganku dengan Mbak Annisa. Hubungan kami sudah seperti hubungan kakak dan adik. Setelah dikenalkan sama Imah beberapa bulan lalu. Aku merasakan sosoknya dan pribadinya Mbak Annisa sangat baik dan mirip seperti Mbak Dewi, mendiang istri Alm. Mas Prima. Bahkan, sebulan lalu. Aku sempat berbincang-bincang sekaligus curhat padanya di ruang kerjanya di lantai dua.

Flashback 20 Desember 2017…Q

Lokasi : ruangan kantor ‘TAWWAKAL TOUR’

Aku berada di ruangan Mbak Annisa karena pengen ngobrol setelah selesai mengawasi pegawai-pegawai yang bekerja. Setelah berbincang-bincang soal restoran, entah kenapa aku malah pengen curhat padanya mengenai pernikahanku. Padahal hal ini tidak pernah aku ceritakan termasuk juga pada Imah dan Bi Iyah soal penyebab kenapa aku meninggalkan Mas Adit.

“Aku boleh curhat sama, Mbak?” kataku saat itu ketika kami berdua berada di ruangan kerjanya.

“Hmmm…!” Mbak Annisa berdehem sejenak. “Emangnya, kamu mau curhat soal apaan, Cin?” Mbak Annisa menatap mataku tajam penuh penasaran.

“Soal rumah tanggaku, Mbak.” jawabku memberitahu. “Entahlah, seperti apa bilangnya?”

“Yaudah, kamu cerita saja, Mbak akan mendengarkan. Siapa tau Mbak punya saran untukmu?” jawabnya santai dengan senyum di bibirnya.

“Begini, Mbak?” kataku mulai curhat. “Aku menikah dengan Mas Adit itu, nikahnya Siri. Lalu satu bulan kemudian, setelah aku benar-benar sudah bulat mencintai dan menyayanginya. Tiba-tiba ada kejadian yang membuat suamiku dipanggil pulang Papa dan Mamanya ke Surabaya, untuk menjelasakan kabar tentang pernikahan siri kami dan juga soal yang lainnya yang tidak dijelaskan oleh Mas Adit padaku. Eh, nggak tau-nya. Mas Adit disuruh menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. SAKIT. Sakit sekali rasanya, Mbak. Diduain oleh Mas Adit. Tapi, aku tidak bisa juga menyalahkan keputusan orang tuanya Mas Adit serta kondisi Mas Adit saat itu.

Sebagai anak, pastinya Mas Adit tidaklah mau durhaka pada kedua orang tuanya. Setelah Mas Adit pulang dari Surabaya aku sedikit merasakan keanehan pada dirinya, seperti ia sedang menyimpan rahasia yang sangat besar dalam hidupnya. Dan ternyata, Mas Adit telah menikah lagi saat di Surabaya itu setelah menguping pembicaraan Mama di rumah soal tuduhan Mama pada Mas Adit. Mendengar itu, aku lalu memutuskan untuk kabur, lari dari kehidupannya. Menjauh demi kebahagiaan dia, Mbak.”

Tanpa terasa air mataku sudah banyak menetes dari kelopak mataku. Begitu pun dengan Mbak Annisa yang ikut terharu mendengarkan curhatanku barusan. Ia ikut menangis sesegukkan dengan tisu di tangannya.

“Menurut, Mbak? Apakah salah keputusan yang Cinta ambil ini? Jujur saja, Mbak. Saat itu, pikiranku sangat kalut. Padahal saat itu, Mas Adit sedang ditahan karena tuduhan fitnah dari orang yang mengatakan bahwa Mas Adit adalah otak di balik kecelakaan maut yang dialami oleh Mas Prima sekeluarga. Cinta yakin, Mas Adit pasti marah dan kecewa dengan keputusan Cinta lari dari dirinya. Bukannya memberikan semangat dan kekuatan untuknya menghadapi masalah hukum itu tetapi Cinta malah lari dari masalah yang rumit saat itu!”

Mbak Annisa terus saja meneteskan air matanya, ia tidak mengomentari apapun curhatanku barusan. Lalu setelah ia menghela nafas Mbak Annisa mulai bersuara.

“Cinta, ceritamu barusan membuat Mbak sedih. Jujur saja, nasibmu dan Mbak tidak jauh berbeda, dalam artian kita berdua sama-sama berstatus istri suami yang berpoligami. Dalam Islam itu tidak salah, asalkan suami yang berpoligami bisa ADIL. Kata, ‘ADIL’ di sini bermakna kedua atau lebih istrinya itu mendapatkan perlakuan yang sama walau tentunya tidak mesti sama secara mutlak, tetapi bentuk kasih sayangnya mesti seimbang dana setara antara istri pertama, kedua atau lebih. Mereka harus dinafkahi lahir dan batin dengan hak yang sama.”

“Hah…! Maksud, Mbak…?” seruku kaget ternyata Mbak Annisa pun menjadi istri dari suami yang berpoligami. “Mbak Annisa juga dimadu?”

Mbak Annisa menjawab dengan anggukan kepala.

“Apa yang Mbak rasakan setelah menjalani rumah tangga seperti itu?” tanyaku pada Mbak Annisa.

“Berusaha menerima takdir itu dengan ikhlas, Cin.” jawab Mbak Annisa. “Alhamdulillah, Mbak memiliki suami yang baik dan perhatian. Kasih sayang dan perhatiannya pada kami berdua seimbang dan setara. Itu dapat Mbak rasakan sendiri.”

Begitulah nasehat Mbak Annisa yang membuatku kagum akan kepribadiannya. Menurutku, Mbak Annisa sudah menjadi sosok istri yang solehah, yang berbakti dan patuh sama suaminya.

Keesokan harinya….

Lokasi : ruang pemeriksaan di RSB. XXX Bandung

Hari ini, aku dan Mbak Annisa sama-sama memeriksakan kandungan kami ke dr. Winarti Ahmad, SpK. Kami berdua masuk berbarengan menemui dr. Winarti dan bergilir untuk dilakukan pemeriksaan.

Tiba-tiba…

Mbak Annisa berkata. “Dok, sekalian saja di USG, jujur saya penasaran dengan jenis kelamin anak-anak kami berdua.” Mendengar Mbak Annisa berkata seperti itu aku sempat protes padanya. Namun, segera ia melanjutkan perkataannya. “Kamu mau ‘kan, Cin. Di USG juga, please?”

Aku sebenarnya tidak mempersoalkan jenis kelamin anakku nanti; mau laki-laki ataupun perempuan, aku tetap menerimanya dan mensyukurinya. Namun, Mbak Annisa tetap bersikeras ingin tau jenis kelamin anak yang kukandung dan anak yang dia kandung. Terpaksa aku pun menuruti keinginannya tersebut, tanpa bersuara menganggukkan kepala sebagai jawaban aku mengiyakan permintaannya.

Kami berdua pun bergantian melakukan tes USG itu. Aku mendapatkan giliran pertama untuk USG, sedangkan Mbak Annisa nanti setelah aku selesai di USG.

Nampak di layar monitor itu, janin yang kukandung bergerak-gerak. Berjenis kelamin perempuan dan dalam keadaan sehat menurut dr. Winarti. Aku pun dalam hati mengucapkan syukur pada Allah Swt karena janin yang kukandung dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.

Lalu giliran Mbak Annisa yang di USG. Nampak di layar monitor itu, sebuah janin sedang bergerak-gerak dalam kandungan Mbak Annisa yang memasuki usia kandungan 5 bulan. Menurut dr. Winarti janin yang dikandung Mbak Annisa berjenis kelamin laki-laki, juga dalam keadaan baik dan sehat.

Setelah selesai kami berdua di USG. Dengan wajah bahagia, Mbak Annisa memelukku dengan erat, sambil berbisik padaku. “Mbak senang, Cin. Mbak akan memiliki dua orang anak, satu berjenis kelamin laki-laki dan satu lagi berjenis kelamin perempuan. Mbak akan menganggap anakmu nantinya seperti anak Mbak sendiri.”

Mbak Annisa melepaskan pelukannya, seperti sedang menunggu jawabanku atas permintaannya barusan.

Aku mengangguk.

“Hey, melamun aja kamu, Cin!” seru Imah menepuk pundakku pelan. Dia datang ke kamarku sambil membawa bungkusan besar. Lalu menyerahkan padaku.

“Ini buatku, Mah?” tanyaku kaget karena mendapatkan sebuah bungkusan besar itu.

“Iya, Itu untukmu, Cin. Dan ada nama pengirimnya di belakang.” jawab Imah memberitahu. “Tadi, dikirimnya melalui jasa kurir dari TIKI.”

“Terima kasih, ya. Hehehe…” kataku sedikit tertawa kecil.

“Yaudah, aku pergi dulu ke kampus ya Cin. Tadi di sana, Mbak Annisa titip pesan supaya kamu nggak usah ke restoran dulu. Serahkan sementara urusan restoran pada Mbak Annisa dan Imah. Kan sekarang, kamu nunggu saat-saat lahiran, ya.”

“Tapi, Mah…” Aku ingin protes karena merasa tidak enak jika merepotkan mereka.

“Ini perintah, Bos Besar. Dan untuk kebaikan kamu juga, Cin.” Potong Imah saat aku ingin memprotes, semua ternyata sudah dipikirkan oleh Mbak Annisa.

Dalam hati aku mengucapkan syukur. “Ya Allah, terima kasih Engkau telah mempertemukanku dengan Mbak Annisa. Beliau adalah malaikat-ku yang telah mengangkat derajatku hingga seperti sekarang ini. Aku berhutang budi padamu Mbak. Kamu sungguh baik sekali.”

Sepeninggal Imah, aku lalu membuka bungkusan besar itu. Dan ternyata, isinya adalah boneka beruang yang berukuran besar.

“Hah…! Dari Mas Adit…” seruku kaget bercampur senang.

Sebuah amplop surat berwarna pink tertempel di dada beruang itu, lalu segera kubuka dan kubaca isinya.

To : Cinta istriku yang selalu kurindukan

Assalamualaikum w.w

Sebelumnya Mas minta maaf jika Mas lancang memberikan hadiah ini. Mas ingat sekali, saat kita masih bersama-sama. Kamu sangat mengimpikan sebuah boneka beruang besar dari Mas.

Dek….!!!

Mas minta maaf padamu atas kesalahan Mas karena menikah lagi saat Mas pulang ke Surabaya. Jujur saat itu, kondisi Mas serba sulit. Dihadapkan dengan dua pilihan; pilihan PERTAMA, menceraikanmu jika Mas tidak mau menikahi wanita pilihan Papa dan Mama. Atau pilihan KEDUA, tetap menjadi suamimu, tetapi menikahi wanita pilihan mereka.

Sebuah pilihan yang sangat berat untuk Mas saat itu. Mas berani mengambil pilihan KEDUA karena Mas sangat mencintaimu dan tidak mau menceraikanmu. Kamu sudah menjadi jantung Mas sampai detik ini. Mas tau dengan konsekuensi atas pilihan Mas saat itu. Pastinya akan menorehkan luka yang sangat dalam buatmu karena telah menduakan cintamu dengan menikah lagi.

Dek…!!!

Sampai akhir hayat Mas, kamu tetaplah istriku, ‘Cinta Rahayu Pramudya’. Tidak ada yang namanya perceraian, bahkan Mas janji akan menikahimu secara Agama dan Negara setelah anak yang kamu kandung itu lahir. Karena bukannya Mas tidak mengakui anakmu sebagai anak Mas tetapi secara hukum Islam dia tetap anak dari laki-laki itu. Namun Mas menjamin bahwa anakmu nanti akan Mas anggap seperti anak kandung Mas.

Dek…!!!

Jika suatu saat kita dipertemukan kembali oleh Allah Swt, Mas sangat berharap kamu bisa memaafkan kesalahan Mas dan mau menerima Mas kembali sebagai suamimu

Dari : Suamimu yang selalu menunggumu dan berharap maaf atas kesalahannya.

Aditya Febriansyah

Aku meneteskan air mata setelah selesai membaca surat dari Mas Adit. Jujur aku masih sangat mencintainya, kangen dan rindu akan kasih sayangnya yang membuatku menjadi istri yang paling bahagia saat berada di sisinya. Tapi aku masih belum bisa menerima takdir pernikahan seperti ini. Bukannya aku sok suci tetapi hatiku belum cukup ikhlas seperti yang dikatakan oleh Mbak Annisa waktu itu karena takut aku merasa cemburu, iri dan dengki dengan maduku.

Segera kupeluk dan kuciumi beruang besar itu sebagai ungkapan senang ternyata Mas Adit masih menganggapku sebagai istrinya, juga sebagai ungkapan kangen kepadanya.

@@@@@​

Pov 3rd

Bandung, 14 Februari 2018…

“Sus… Tolong, Adik saya mau melahirkan!” kata Annisa terlihat sedikit panik.

Saat itu Annisa ditemani oleh seorang laki-laki berkumis tebal beserta Imah membawa Cinta ke RSB. XXX Bandung.

“Siap, Bu.” ucap suster itu lalu dengan sigap suster itu memindahkan Cinta ke atas ranjang dan segera membawanya menuju ruangan persalinan.

Annisa, Imah dan laki-laki misterius itu segera mengikuti suster itu sampai di depan ruang persalinan sebelum ditegur oleh suster tersebut.

“Maaf, Bapak dan Ibu! Kalian, tidak bisa masuk ke dalam! Doa ‘kan saja, ‘semoga persalinannya lancar, Ibu dan Bayi-nya sehat dan selamat’.” ujar suster itu ramah. Lalu menutup pintu itu dengan cepat.

Laki-laki yang menyamar itu tidak lain adalah Adit. Dia terlihat mondar-mandir, dengan ekspresi wajah tidak tenang. Terlihat dari bibirnya, ia nampak komat-kamit sedang berdoa demi kelancaran persalinan Cinta. Begitu pun dengan Annisa dan Imah yang juga terlihat khawatir dengan persalinan Cinta. Keduanya pun terlihat sedang memanjatkan doa untuk kelancaran persalinan Cinta.

“Dek, Mas mau keluar bentar!” kata Adit pada Annisa. “Imah, Mas titip istri Mas, ya. Kalo ada apa-apa dengan kabar persalinan Cinta? Kalian berdua segera hubungi, Mas!”

“Iya, Mas!” jawab Annisa lalu mencium buku tangan Adit.

Adit segera berlalu meninggalkan Annisa dan Imah, ia berjalan ke luar dari RSB itu untuk menelpon seseorang.

Tuttt… Tuttt… Tuttt…

“Ya, Hallo..!” jawab orang dari ujung telepon sana.

“Assalamualikum, Papa Pram.”

“Waalaikum salam, Nak Adit. Ada apa ya Nak?”

“Adit mau mengabarkan bahwa Cinta mau melahirkan, Pa. Dan sekarang Cinta sudah masuk ruang persalinan.”

“Kamu kirim alamatnya sekarang, ya Dit! Papa dan Mama sekarang mau berangkat!” ucap Pramudya dari ujung telepon sana.

“Iya, Pa. Adit akan kirim alamat RS-nya sekarang. Udah dulu ya, Pa. Adit juga akan mengabari Papa dan Mama Adit di Surabaya.”

“Iya, Nak. Kamu kabari terus ya, perkembangan persalinan Cinta selama kami dalam perjalanan ke sana!”

“Iya, Pa. Pasti itu! Udah dulu, ya Pa. Assalamualaikum w.w.”

“Waalaikum salam w.w.” Klik.

Setelah menutup teleponnya, Adit segera mengirim SMS alamat RSB XXX Bandung ke no. HP Pramudya. Juga ia menelepon Papanya di Surabaya mengabarkan tentang persalinan Cinta. Saat itu terdengar suara adzhan Maghrib saat Adit selesai menghubungi Papanya, lalu segera Adit menuju ke tempat masjid terdekat untuk menunaikan sholat Maghrib supaya hatinya tenang.

Setelah selesai beribadah Adit hendak kembali ke tempat ruang persalinan Cinta.

Tiba-tiba…

Ringtones HP Adit berbunyi…

Adit segera membaca WA masuk dari Annisa, istrinya. “Mas, kamu di mana sekarang? Cepat ke sini! Cinta mesti dioperasi Cesar.” 18.15 wib.

Adit bergegas menuju ke ruang persalinan tanpa membalas WA Annisa, dan setelah sampai di sana terlihat wajah istrinya dan Imah sangat tegang.

“Ada apa, Dek?” tanya Adit panik. “Apa yang terjadi?”

“Ciiintaaa, Maaasss….!” jawab Annisa gugup sambil meneteskan air mata.

“Kenapa dengan Cinta, Dek?” Adit sedikit panik dengan menggoyang-goyangkan tubuh Annisa. “Katakan….!”

“Cinta tidak bisa melahirkan normal. Dan jalan satu-satunya, mesti dioperasi Cesar. Itu kata dr. Winarti barusan saat meminta persetujuan operasi. Dan juga mesti segera mendapatkan donor darah karena stock darah golongan darah Cinta di rumah sakit ini tinggal 2 kantong darah lagi.” Annisa menjelaskan apa yang terjadi saat ini.

“Ayo kita temui dokternya sekarang! Masalah ini segera ditangani secepatnya, ini menyangkut keselamatan Cinta dan bayi-nya.” Adit segera berdiri diikuti oleh Annisa dan Imah menuju ruangan dokter yang menangani persalinan Cinta.

Mereka bertiga disambut oleh dr. Winarti Ahmad, SpK. Setelah dipersilahkan duduk oleh dr. Winarti, lalu ia mulai menjelaskan kondisi Cinta. “Pak, Bu. Saat ini kondisi Cinta stabil dan baik-baik saja. Apakah di antara Bapak dan Ibu mempunyai golongan darah A+? Kebetulan stock darah untuk golongan darah itu di RSB kami ini hanya ada dua kantong kami membutuhkan setidaknya dua kantong darah lagi.”

“Ambil darah saya saja, dok. Golongan darah saya, A+.” jawab Annisa cepat.

“Saya juga dok, golongan darah saya, A+.” jawab Imah.

“Wah, kebetulan sekali.” kata dr. Winarti senang. “Ayo sekarang Ibu-Ibu, ke ruang donor darah! Dua kantong darah sudah sangat cukup.”

Mereka pun segera ke ruang donor darah untuk pengambilan darah buat Cinta.

Tiga jam kemudian…

Seorang wanita berkacamata dengan berpakaian baju operasi ke luar dari ruangan operasi. Sebuah senyuman terpancar dari bibirnya saat menghampiri Adit, Annisa dan Imah yang saat ini sedang duduk dengan gelisah.

Melihat kehadiran dr. Winarti Ahmad, SpK seketika membuat mereka berdiri dan ingin bertanya tentang operasi Cesar Cinta.

“Pak… Bu…!” seru dr. Winarti sambil tersenyum. Lalu Beliau mulai menjelaskan “Operasinya lancar, Bu Cinta dan bayinya selamat dan baik-baik saja. Bu Cinta sekarang dalam masa pemulihan pasca operasi. Sementara bayi perempuan Bu Cinta dibawa dulu ke ruang inkubator.”

“Alhamdulillah!” ucap mereka bertiga hampir bersamaan.

“Kalau begitu saya permisi dulu!” ucap dr. Winarti pamit lalu berjalan meninggalkan mereka bertiga dengan wajah yang sudah nampak tenang.

“Dek, Imah. Makasih ya.” kata Adit membuka suara setelah beberapa saat lalu mereka bertiga hening tak bersuara. “Kalian berdua telah sudi mendonorkan darah buat Cinta.”

“Mas, Cinta itu istrimu. Dia itu sekarang adikku dan sudah selayaknya kakaknya membantu adiknya.” jawab Annisa sambil memegang tangan Adit. “Bener nggak, Mah.” Annisa tersenyum ke arah Imah dan Imah hanya menganggukkan kepala.

“Yaudah, Dek.” ujar Adit tegas. “Kamu dan Imah pulang dulu, biar Mas yang nungguin Cinta! Sudah jam 21.30 wib. Jaga kondisi kamu yang sedang hamil, Dek! Bentar lagi Papa dan Mamanya Cinta datang.Tadi Beliau bilang, ‘sudah mau sampai, mobil mereka udah masuk tol Pasir Koja’.”

Annisa mengangguk dan mencium buku tangan Adit, lalu setelah berpamitan keduanya pergi meninggalkan Adit seorang diri menunggui Cinta di ruang tunggu.

.

.

.

Pukul 22.00 wib…

Pramudya dan Sekar telah sampai di RSB itu, diterima oleh Adit yang sudah membuka penyamarannya. Lalu Adit menyalami Mertuanya dengan sopan dan santun layaknya ia menghormati orang tuanya sendiri.

“Apa kabar Pa, Ma?” tanya Adit ramah pada Mertuanya. “Alhamdulillah, Cinta udah lahiran, anaknya perempuan.”

“Alhamdulillah, Dit.” jawab Pramudya senang. “Di ruangan mana Cinta ada sekarang?”

“Masih di kamar operasi, Pa.” jawab Adit cepat. Masih pemulihan pasca operasi, bentar lagi kayaknya. Cinta akan dipindahkan ke ruang perawatan rawat inap, Pa.”

“Yaudah, kita tunggu di sana saja!” Tunjuk Pramudya ke ruangan kaca itu. “Tadi Papa dan Mama sempat mampir di rumah makan Padang, beli beberapa bungkus nasi buat kita makan. Yuk, kita makan dulu Nak Adit!” Mereka pun berjalan ke ruangan kaca itu, lalu mulai makan di sana.

Setelah selesai makan, Sekar berlutut di depan Adit dan mulai bersuara. “Nak Adit, maafin Mama ya. Selama ini Mama bersikap kasar padamu. Mama benar-benar beruntung mendapatkan menantu sebaik kamu Nak.” Mata Sekar mulai terlihat berembun dan tak lama kemudian mengalirlah air mata itu dari sudut matanya.

“Sudahlah, Ma.” jawab Adit tersenyum lalu mengangkat pelan tubuh Sekar untuk berdiri. “Adit tidak pernah membenci Mama. Adit sudah memaafkan Mama Sekar. Kita lupakan saja semua yang lalu, Ma. Kita mulai yang baru sebagai keluarga yang bahagia. Adit sangat mencintai dan menyayangi Cinta, Ma. Dan akan berusaha membahagiakannya.”

“Makasih ya, Dit! Makasih sudah memaafkan Mama!” sahut Sekar sambil menyeka air matanya dengan tisu di tangannya. Dan sekali lagi Adit tersenyum lalu menjawab dengan anggukan kepalanya.

.

.

.

Jam 22.30 wib…

Cinta sudah siuman dan dibawa segera ke ruang perawatan rawat inap oleh dua orang suster. Adit hanya bisa memperhatikan dari jauh saat Pramudya dan Sekar mulai melangkah mendekati kamar perawatan No.1 itu. Sebelumnya Adit sudah menjelaskan bahwa untuk sementara ini, ia akan terus mengawasi dan menjaga Cinta dari jauh sebelum kata maaf itu keluar dari bibir Cinta sendiri supaya tindakannya ini tidak membuat Cinta makin menjauh darinya.

Lokasi : ruang rawat inap VVIP, kamar No. 1

“Papa, Mama…!” seru Cinta sedikit kaget bercampur senang saat melihat kehadiran kedua orang tuanya itu telah berada di sini.

Pramudya dan Sekar mendekat ke arah Cinta sambil tersenyum. Lalu setelah itu Cinta mencium buku tangan Pramudya, dan Pramudya mencium kening Cinta.

“Kamu jangan banyak gerak dulu, Nak. Udah istirahat saja!” ucap Pramudya menegur Cinta yang ingin bergerak duduk.

“Iya, Nak.” Timpal Sekar. “Mama bangga sama kamu, maafin Mama yang selama ini telah mengekang kamu. Mama, hiks…” Tiba-tiba sekar menangis saat sudah berada di sisi ranjang Cinta.

“Enggak, Ma. Hiks….” jawab Cinta ikutan menangis lalu memeluk Sekar. “Cinta sadar, apa yang Mama lakukan kemaren itu demi kebaikan Cinta. Maafin Cinta ya, Ma!”

Cinta dan Sekar menangis tetapi tangisan mereka adalah bentuk tangis bahagia karena keduanya sudah saling memaafkan satu sama lainnya.

Krieeekkk…

Pintu itu terbuka, lalu muncul seorang suster sambil membawa seorang bayi perempuan, bayi perempuan itu terlihat masih merah mukanya namun terlihat cantik dan ayu.

“Maaf Pak, Bu!” ucap suster itu. “Bu Cinta, ini bayi perempuan Ibu. Sangat cantik seperti Ibunya!” Lalu suster itu meletakkan bayi itu ke gendongan Cinta. Dan Cinta dengan mata berkaca-kaca memandangi putrinya itu.

“Sebaiknya, segera dicoba beri ASI, Bu. Karena ASI adalah pengikat secara emosional antara Ibu dan Anaknya.” kata suster itu memberitahu.

“Iya, Sus. Makasih, ya!” jawab Cinta sambil tersenyum pada suster itu.

Lalu suster itu pamit pada Cinta, Pramudya dan Sekar, meninggalkan mereka bertiga yang terlihat sangat bahagia dengan kelahiran bayi perempuan itu.

Setelah Cinta memberi ASI pada putrinya, lalu Pramudya mengazankan serta mengiqomatkan cucu perempuannya disaksikan oleh Sekar dan Cinta.

“Pa, Ma. Cinta akan beri dia nama, ‘Cintya Annisa Valentina’.” kata Cinta setelah selesai diazani dan diiqomati oleh Pramudya.

“Wah, nama yang bagus Nak.” seru Sekar setelah mendengar Cinta menyebutkan nama bayi perempuannya itu.

“Cintya, artinya Cinta dan Aditya. Annisa adalah nama wanita yang menjadi penolong Cinta bagai malaikat bagi Cinta. Dan Valentina, karena ia lahir di hari Valentine.” Cinta menjelaskan arti nama itu pada Pramudya dan Sekar.

Dengan penuh kebahagiaan mereka bertiga menyambut kelahiran Cintya Annisa Valentina itu, sebuah kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

@@@@@​

Pov Dewi

Jakarta, 15 Februari 2017…

Pagi ini, aku hendak berangkat ke Bandung setelah mendapatkan kabar Cinta telah melahirkan bayi perempuan walau mesti melahirkan dengan cara Cesar. Semalam sebenarnya, aku ingin ikut bersama Papa Pram dan Mama Sekar. Tetapi karena Akbar sudah tidur, akhirnya aku terpaksa menundanya dan berniat berangkat ke Bandung bersama Mamaku dan Akbar. Papa tidak bisa ikut menemani kami ke Bandung karena ada urusan kerjaan yang tidak bisa ditunda dan diwakilkan.

Menggunakan mobil Toyota Alphard yang dikendarai oleh Tedjo, supir keluarga besar kami. Kami pun mulai berangkat ke Bandung jam 7.30 wib.

“Ma, Tante Cinta punya dedek bayi ya. Aciiikkk… Akbal jadi punya dedek…” kata Akbar kegirangan saat di dalam mobil Toyota Alphard yang melaju menuju ke Bandung.

“Iya, Nak.” Jawab Dewi. “Dedek bayinya katanya perempuan. Awas ya, Akbar tidak boleh bikin nangis dedek bayinya!”

“Iya, Ma!” jawab Akbar.

Saat itu mobil yang ditumpangi kami sudah memasuki tol cipularang, Dengan rasa nyaman Tedjo membawa kendaraan ini membuat kami sempat tertidur sejenak. Hingga akhirnya, mobil yang kami tumpangi seketika berhenti.

Aku sempat bertanya pada Tedjo apa yang sebenarnya terjadi. Dan dijawab Tedjo kalau ban belakang bocor. Dan kebetulan mobil masuk di rest area SPBU XXX KM.32

“Ma, Akbal mau pipis!” rengek manja putraku memberitahu. Mamaku memberi isyarat supaya aku mengantarkan Akbar ke WC Umum di SPBU itu.

Aku lantas membuka pintu mobil dan segera mengajak Akbar ke WC Umum di SPBU itu.

“Mama tunggu di luar ya, Nak!” kataku memberitahu putraku. “Kalo sudah cuci yang bersih dan siram ya. Kan Akbar anak Mama yang paling pinter.”

“Iya, Ma!” jawab Akbar cepat lalu ia segera masuk ke dalam WC itu.

Pada saat aku menunggu Akbar yang sedang membuang hajatnya ke WC Umum itu, tiba-tiba ada yang menegurku dari belakang.

“Mbak Dewi….!”

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 43  | Pelarian Kisah Cintaku Part 43 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 42)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 44)