Pelarian Kisah Cintaku Part 42

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 42

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 42 | Pelarian Kisah Cintaku Part 42 Start

Chapter 42. Namanya ‘Restoran Cinta’​

Cuplikan chapter sebelumnya…

Dua jam kemudian…

Dewi dan Akbar dibawa ke ruang rawap inap setelah mereka berdua sadar dari komanya untuk mengembalikan kondisi mereka seperti sediakala.

Tampak keceriaan dari ekspresi wajah mereka dengan membaiknya kondisi Dewi dan Akbar.

“Pa, alhamdulillah ya. Dewi dan Akbar dah sadar.” ucap Sekar bahagia walau ada setetes air mata yang meluncur dari sudut matanya. “Semoga Prima bisa tenang di sana ya, Pa.”

“Iya, Ma. Kita mesti banyak bersyukur pada Allah atas mukjizatnya ini.” sahut Pramudya mencoba menenangkan Sekar. “Sudah, Ma. Jangan menangis doakan saja Prima supaya mendapat tempat istimewa di sisi-Nya.”

Kedua suami istri itu berpelukan untuk mengungkapkan kebahagian mereka.

©©©©©©

Pelarian Kisah Cintaku Part 42

Mulustrasi Fatimah Az-zahra aka Imah​

Pov Imah

Bandung, 19 Nopember 2015. Jam 11.00 wib…

Tiiinnn… Tiiinnn…

Suara klakson mobil BMW seri 7 yang dikendarai oleh Mbak Annisa terdengar nyaring di depan pintu pagar rumahnya. Rumah Mbak Annisa berlantai dua, mempunyai halaman yang luas, terlihat megah dan mewah seperti istana.

Terlihat seorang pria memakai baju security keluar dari posnya bertugas. Pria berbaju security itu membuka pagar yang tinggi, mendorong pagar itu hingga ke ujung. Lalu masuklah mobil BMW seri 7 yang dikendarai oleh Mbak Annisa sambil menyalakan sekali lagi klaksonnya. Tiiinnn…”

Security itu membungkukkan badannya sejenak saat mobil yang dikendarai Mbak Annisa melewatinya.

Buuukkk… Bunyi pintu mobil yang ditutup.

Mbak Annisa yang sedang hamil 3 bulan turun dari mobilnya, diikuti oleh aku yang juga turun dari pintu mobil sebelah kanan. Aku tersenyum ke arah Mbak Annisa yang terlihat cantik dengan pakaian muslim yang dikenakannya.

“Yuk, Imah. Kamu mampir ke dalam dulu! Nanti setelah kita makan siang, Mbak antar balik ke kost-kosatan kamu.” ajak Mbak Annisa ramah.

“Iya, Mbak Annissa.” sahutku singkat disertai senyuman.

Kami berdua melangkah masuk ke dalam rumahnya setelah dibukakan pintu oleh ART-nya bernama Lia. Kami berdua melangkah ke ruang tamu untuk bersantai sejenak.

“Gimana dengan kuliah kamu, Mah?” tanya Mbak Annisa setelah kami duduk bersantai di sofa ruang tamu.

“Alhamdulillah, Mbak. Kuliah Imah lancar-lancar saja.” jawabku cepat. “Berkat bantuan Mbak juga semuanya jadi lancar.”

“Ahh…! Bisa saja kamu, Mah. Mbak ‘kan cuma membantu ala kadarnya.” sahut Mbak Annisa tersenyum.

Tidak lama berselang, Lia muncul dari arah dapur membawa nampan berisi; dua cangkir teh manis dan dua toples berisi kue kering.

Lalu Lia mulai menaruh secangkir teh manis di hadapan Mbak Annisa dan secangkir teh manis di hadapanku. Dan meletakkan dua buah toples berisi kue kering di atas meja.

“Silahkan diminum tehnya. Nyonya, Mbak…!” Lia mempersilahkan kami minum sambil sedikit membungkukkan badannya.

“Terima kasih, Lia,” sahut Mbak Annissa. “Oiya, Lia. Tolong kamu siapin makan siang, ya!”

“Sudah, Nya. Lia sudah siapin makan siangnya di meja makan.” jawab ART itu dengan cepat.

“Yaudah kalo udah siap, makasih ya Lia. Bentar lagi kami ke sana!” sahut Mbak Annisa tegas.

“Kalo begitu saya permisi dulu. Nya, Mbak! Lia mau ngerjain pekerjaan rumah lainnya.” Lia melangkah meninggalkan kami di ruang tamu.

“Imah, gimana keadaan Cinta di sana? Mbak harap dia baik-baik saja ‘kan.” tanya Mbak Annisa mengawali pembicaraan mereka setelah kepergian Lia, asisten rumah tangganya.

“Alhamdulillah, Mbak Annisa. Keadaan Cinta baik-baik saja. Malah usia kandungannya pun baik-baik saja setelah kemaren Imah ikut nemenin Cinta periksa kandungannya yang sudah memasuki usia 5 bulan. Aku lalu menceritakan obrolanku dengan Cinta semalam pada Mbak Annisa. (Jadi gini Mbak semalam…….)” jawabku menjelaskan keadaan Cinta pada Mbak Annisa.

Mbak Annisa tersenyum puas setelah mendengar penjelasanku barusan. “Syukurlah kalo begitu, Mah. Nanti jangan sampe lupa ya, kamu ajak Cinta ke sini. Bilang saja Mbak adalah kakak angkatmu saat di Surabaya dan kini ketemu lagi di Bandung. Jangan sampai Cinta tahu kalo Mbak adalah istrinya Mas Adit. Mbak ingin membantunya tanpa ia tahu kalo Mbak adalah madunya. Kamu mengerti ‘kan, Mah.”

“Iya, Mbak. Imah akan menjalankan semua rencana Mbak Annisa. Imah berharap semoga Mbak Annisa, Cinta dan Mas Adit bisa kembali utuh menjadi sebuah keluarga Insya Allah, Allah akan membantu orang-orang yang ingin berbuat baik dan menebus semua dosa dan kesalahannya. Aamiiieeennn…”

“Aamiiieeennn…” sahut Mbak Annissa ikut mengaminkan ucapanku tadi.

Setelah pembicaraan itu selesai, Mbak Annisa berkata. “Imah, kamu tunggu bentar di sini! Mbak mau ke air dulu!” Mbak Annisa lalu pergi meninggalkanku sendiri di ruang tamu.

Setelah kepergian Mbak Annisa, aku lalu menyusun buku-buku materi perkuliahan. Namun ada satu buku yang bukan buku materi perkuliahanku. Buku ‘Pengantar Akuntansi’ tertera sebuah nama di balik buku itu, ‘Zaki Hussein Alatas’.

Entah kenapa? Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat-ingat kejadian pagi tadi, ketika tubuh kami berdua bertabrakan.

flashback jam 07.00 wib…

Aku baru saja ke luar dari kost-kostanku, membawa buku-buku materi perkuliahan yang cukup banyak. Mengingat jarak dari kost-kostanku ke kampus membutuhkan waktu antara 30 menit 45 menit sedangkan jadwal kuliah dimulai jam 08.00 wib membuatku berjalan sedikit tergesa-gesa takut terlambat sampai di kampus.

Saat aku berjalan lurus memandang ke arah halte bus tanpa melihat kiri dan kanan. Ternyata dari arah samping di waktu yang bersamaan ada seorang laki-laki berjalan dengan terburu-buru juga dengan membawa buku-buku.

Hingga akhirnya…

Buuuggghhh…

Tabrakan itu tak terhindarkan, buku-buku materi perkuliahanku terlepas dari dekapanku berhamburan di trotoar bersama dengan buku-bukunya.

Tubuhku oleng ke samping kanan karena terdorong oleh tubuh seseorang. Tubuh orang itu juga oleng namun sebelum tubuhku jatuh dengan sigap orang itu menangkap pinggangku dan tanganku refleks memeluk lehernya, hingga aku tidak sampai jatuh ke trotoar itu.

Aku sempat tertegun beberapa detik lamanya, ternyata di hadapanku saat ini adalah seorang laki-laki muda berparas tampan. Posisi tanganku masih memeluk lehernya dengan erat. Sementara laki-laki tampan itu masih menahan pinggangku supaya tetap tertahan tidak jatuh terhempas. Jarak wajah kami berdua sangat dekat hanya beberapa centimeter saja.

Aroma tubuhnya sempat membuatku lupa diri untuk beberapa saat. Diam terpana dengan ketampanannya. Nafasku sedikit tidak beraturan, degup jantungku berdetak dengan sangat kuat. Helaan nafasnya yang halus sempat tercium oleh penciumanku. Wanginya khas aroma mint.

Laki-laki berparas tampan itu pun sama seperti aku, dia hanya diam terpaku dengan terus memandangku tak berkedip.

Tiiinnn…”

Suara klakson mobil seketika menyadarkan kami berdua bahwa saat ini kami sedang berada di trotoar jalan raya.

“Kalau mau pacaran jangan di sini! Di tempat terbuka gini. Bajunya saja yang tertutup, kelakuannya lebih rendah dari pelacur.” omel seorang pengemudi mobil yang kebetulan lewat di jalan itu.

Dengan cepat laki-laki itu membetulkan posisi tubuhku hingga aku berdiri tegak seperti semula, dan aku pun refleks melepaskan tanganku dari lehernya.

Grogi dan gugup itu yang kurasakan, bercampur aduk dengan rasa malu, berdosa dan terhina mendengar perkataan orang tadi.

“Maaf, Teh…! Maafkan saya, Teh. Saya tidak melihat Teteh tadi.” ucap lelaki itu penuh penyesalan dengan apa yang terjadi barusan.

Aku hanya diam dan menundukkan kepala, berusaha mengumpulkan buku-buku materi perkuliahanku yang berserakan di trotoar jalan itu.

Laki-laki itu juga mengumpulkan buku-bukunya yang juga jatuh berhamburan di samping buku-bukuku.

Sempat tangan kami saling bersentuhan kala kami berdua sama-sama mengumpulkan buku-buku itu.

“Maaf, Teh…!”ujarnya dengan gestur salah tingkah. “Ini bukunya Teh!”

“Terima kasih..” Hanya kalimat itu yang terucap dari bibirku, wajahku bersemu merah.

Lalu dengan terburu-buru aku bangkit setelah semua buku-buku itu telah ada di dekapanku karena melihat mobil angkot yang kutunggu telah datang dan berhenti tepat di hadapanku.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada laki-laki itu, aku segera naik ke mobil angkot itu.

“Duh Adek Mbak dari tadi senyum-senyum sendiri sambil lihatin buku itu!”

Tiba-tiba…

Suara Mbak Annisa seketika menyadarkanku dari lamunanku barusan.

Perasaan malu menghinggapiku seketika, seolah-olah aku kepergok sedang mencuri. Aku jadi gugup dan salah tingkah di hadapan Mbak Annisa.

“Eeehhh, Mbak Annisa.” Hanya kalimat itu yang meluncur dari bibirku, kaget dan malu yang kurasakan tanpa berani menatap matanya. Aku segera menaruh kembali buku itu di tumpukan buku-bukuku yang lain.

Mbak Annisa mengambil buku itu yang tadi kutaruh. Lalu sambil tersenyum dia melihat buku itu dan membuka lembaran selanjutnya.

“Hehehe…” kekehnya sejenak, lalu ia mulai menggodaku. “Pantesan saja dari tadi senyum-senyum sendiri, ternyata buku ini penyebabnya. Kenalin Dek, sama Mbak! Siapa laki-laki yang beruntung itu, yang telah membuat Adekku jadi salah tingkah seperti ini?”

Aku jadi semakin malu dengan perkataan Mbak Annisa tadi, hanya bisa menunduk dan berucap dalam hati. “Duh malunya aku! Kenapa juga aku sampai mengingat-ingat laki-laki itu? Ya Allah…! Hamba-Mu makhluk yang lemah penuh dosa, tolong luruskan hatiku, mantapkan keimananku dan kuatkan keislamanku supaya selalu istiqomah di jalan-Mu.”

Mbak Annisa mendekat lalu memelukku erat sambil berbisik. “Jangan sampai kamu terjerumus oleh bisikan nafsu seperti yang pernah Mbak alami dulu. Semoga Allah selalu menjaga hati dan imanmu, Dek. Dan tetaplah berpegang teguh di jalan-Nya, sebagaimana yang telah kamu ajarkan kepada Mbak.”

“Iya, Mbak Annisa. Terima kasih, Mbak telah mengingatkan Imah.” ucapku pelan sambil membalas pelukannya dan menyandarkan kepalaku ke pundaknya.

“Sudah akh..! Jangan mellow gitu! Mendingan kita makan siang, perut Mbak dah keroncongan nih!” Mbak Annisa bangkit dari duduknya. Ia melangkah ke dalam menuju meja makan. Aku tersenyum lalu mengikutinya menuju ke meja makan.

©©©©©​

Pelarian Kisah Cintaku Part 42

Mulustrasi Cinta Rahayu Pramudya aka Cinta

Pov Cinta

Bandung, 19 Nopember 2017. Jam 16.30 wib…

“Berapa semuanya, Teh?” tanya seorang laki-laki berdiri di depanku untuk membayar pesanannya.

“Semuanya jadi, ‘lima puluh lima ribu rupiah’, Aa’.” sahutku memberitahu berapa jumlah uang yang mesti laki-laki itu bayar.

Laki-laki itu mengeluarkan uang seratus ribu rupiah lalu menyerahkannya kepadaku.

Namun saat akan membayar kembaliannya dengan suara gugup laki-laki itu berkata. ” Sisanyaaa buat Teteeehhhh ajaaa. Maaaff kenalin, Teeehhh…! Sayaaa, Zaaakiii…!” ujar laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya yang gemetaran.

“Eh, kenapa Aa’ memberikan sisa kembaliannya pada saya?” tanyaku kaget bercampur bingung, apalagi melihat laki-laki itu grogi dan salah tingkah di hadapanku.

“Buat Teteh saja…! Maaf saya permisi dulu!” jawab laki-laki itu segera meninggalkan kasir tempatku berada.

“Terima kasih ya, Aa’.” sahutku sebelum laki-laki itu pergi.

Laki-laki itu menoleh sejenak sambil tersenyum ke arahku, lalu pergi meninggalkan Mantili Resto & cafe tempatku bekerja.

Sembari menunggu pelanggan yang akan membayar, aku kembali teringat dengan perkataan Imah semalam.

Flashback kemaren malam di kamar Imah

Aku sampai di kost-kostan jam 18.00 wib setelah Irma datang menggantikan shift-ku jam 17.00 wib.

Saat aku mau memasuki kamarku terlihat kamar Imah terbuka lebar, lalu aku iseng menengok sejenak ke kamarnya. Ternyata Imah sedang belajar di meja belajarnya.

“Assalamualikum w.w. Duh rajinnya kamu, Mah.” kataku bercanda padanya.

“Waalaikum salam w.w.” jawab Imah menyahuti salam lalu tersenyum lebar. “Eh, sudah pulang ya. Yuk masuk dulu, Cinta!”

“Iya, Mah. Baru saja sampe nih.” sahutku tersenyum. “Ntar ya, habis sholat Maghrib. Saya ke sini pengen ngobrol saja sama kamu!”

“Siap, ‘Ndan. Hehehe…” kekeh Imah sambil tangannya menghormat ala militer.

Aku tertawa kecil melihat tingkah konyol Imah barusan, jujur sejak ia tinggal di kost-kostan ini, hubungan kami makin akrab dan layaknya saudara. Ikut menemaniku memeriksakan kehamilanku beberapa hari yang lalu. Dengan kehadiran Imah, aku bisa melupakan kisah kelam hidupku. Imah ternyata orangnya asyik, lucu namun dewasa dalam bersikap dan bertutur kata. Pada saat bercanda, celotehan-celotehan yang lucu yang keluar dari bibirnya. Namun apabila kami bicara yang serius, Imah bersikap dewasa dan tutur katanya bijaksana. Memberikan nasehat-nasehat yang bermanfaat buatku ke depannya. Bahkan ia mengajarkanku mengaji al-quran dengan baik, mengajarkan cara-cara beribadah yang baik dan benar, memberitahu batasan-batasan cara bergaul dengan yang bukan muhrim kita.

Setelah selesai ibadah sholat Maghrib, aku segera menemui Imah yang juga baru menyelesaikan ibadah sholatnya.

“Assalamualaikum w.w…” seruku mengucap salam sebelum masuk ke kamarnya.

“Waalaikum salam w.w…” jawab Imah menyahut dari dalam. “Ayo masuk Cin…!”

Aku tersenyum lalu masuk ke dalam kamar Imah yang terbuka lebar.

“Nganggu nggak nih, soalnya tadi aku lihat kamu sedang serius belajar, Mah.” ucapku membuka obrolan saat kami berdua sudah duduk di karpet kamarnya.

“Nggak kok, Cin. Tadi memang sedang ngerjain tugas kuliah, udah selesai kok.” sahut Imah. “Sini aja ya, kita ngobrolnya!”

Imah lalu menggelar tikar di lantai berkeramik putih itu. Aku lalu duduk setelah tikar itu tergelar rapi diikuti Imah yang duduk sambil menyunggingkan senyumnya.

“Oiya, Cin. Aku punya impian pengen buka usaha, kebetulan kakak angkatku mau bantu ngemodalin. Kira-kira kamu punya ide nggak, usaha apa ya?” ujar Imah memulai obrolan kami.

“Hmmm… Apa ya…? Kalo aku sih, ‘pengen suatu saat, aku punya usaha restoran sendiri’.” sahutku sumringah sambil membayangkan impianku. “Namun, kayaknya belum sekarang impianku bisa terwujud, Mah. Kamu tahu sendiri, gimana keadaanku sekarang ini?”

Mendengar curhatanku barusan terlihat Imah ikut tersenyum sumringah. “Hmmm… Bagaimana kalo kita wujudkan saja impian kamu, Cinta?”

Mendengar jawaban Imah barusan seketika membuatku kaget.

“Maksud kamu, Mah…! Kamu mau bikin usaha restoran ya.” ucapku senang bercampur kaget. “Aku senang banget dengarnya, semoga sukses ya, Mah.”

Imah tersenyum lebar, lalu ia menjelaskan maksudnya padaku. “Aku tidak terlalu faham soal masak-memasak, Cin. Aku ingin kamu yang mengurusnya, membuat menu masakannya. Bagaimana kamu mau ‘kan, Cin?”

“Kok malah aku yang ngurusin usaha kamu, Mah. Padahal yang punya modal kakak angkat kamu, Mah. Jujur kalo modal bikin usaha restoran saat ini modalku tidaklah cukup. Kartu ATM dari suamiku jumlahnya tidaklah banyak, mungkin hanya bisa untuk sewa tempat usahanya saja.” jawabku bingung.

“Ok, Cinta. Imah ngerti, kok. Imah ada ide nih…! Gimana kalo modalnya, fifty-fifty saja? Begitupun juga nanti dengan bagi hasilnya. Apa kamu mau, Cin?” tanya Imah balik.

“Hmmm… Gimana ya…?” Aku menghela nafas sejenak sambil berpikir. “Tapi ‘kan aku masih terikat kerja di ‘Mantili Resto & Cafe’, aku nggak enak Mah baru berapa bulan mesti resign dari sana!”

Imah lagi-lagi tersenyum lebar lalu berkata. “Kandunganmu makin lama semakin besar, Cin. Kalo kerja di sana dengan kandunganmu seperti ini, aku secara pribadi khawatir Cin. Mending kita bikin usaha sendiri, kita nanti bisa rekrut beberapa karyawan untuk membantu usaha restoran kita, Cin. Coba kamu pikirkan dulu rencana ini, jika kamu setuju kita segera mencari lokasi restorannya dan bikin konsep restorannya seperti apa?”

“Kalo soal rencana bikin restoran aku sangat setuju sekali, Mah. Cuma aku tidak bisa mengelola usaha itu sendirian, intinya kita bersama-sama mengelola usaha itu. Kalo tidak, lebih baik nggak usah deh bikin restorannya.” ujarku tegas menyampaikan pendapatku.

“Siap, tuan putri. Insya allah Imah pasti ikut bantu, kok. Kalo bisa secepatnya kita wujudkan rencana ini, Cin.” sahut Imah menanggapi.

“Teh Cinta…!” seru seseorang memanggil namaku.

“Eeehh, iya…” sahutku tersadar dari lamunanku barusan. “Ada apa, Teh Irma…?”

“Hehehe…” kekeh Irma. “Nggak kok, Irma lihat Teteh melamun aja tadi. Kalo boleh gua tau, emang Teh Cinta sedang ada masalah apa?”

Irma tampak memperhatikan ekspresiku dengan serius, rasa keponya terlihat sekali. Namun di balik itu semua sifat dan sikapnya itu sebetulnya Teh Irma orangnya baik dan tidak bocor istilah anak gaul sekarang.

“Enggak kok, nggak ada masalah apa-apa, Teh. Tadi aku sedang mengingat-ingat kode menu-menu di sini saja, maklum masih suka ketukar antara harga menu A dengan harga menu B. Hehehe…” kilahku terkekeh menutupi apa yang sedang kulamunkan tadi. “Oiya, Teh…! Kang Raka sudah datang apa belum, ya. Soalnya dari tadi belum kelihatan Beliau datang.”

“Hmmm… Kayaknya bentar lagi, deh. Kang Raka datang ke sini kemungkinan sama Teh Mae.” jawab Irma memberitahu. “Emang ada perlu ya, sama Kang Raka…?”

“Iya, Teh.” jawabku singkat.

Jam di dinding menunjukkan jam 17.00 wib, itu berarti sekarang shift-ku digantikan oleh Teh Irma. Pada saat aku sedang berberes-beres hendak pulang.

Tiba-tiba…

Kang Raka bersama Teh Mae baru saja datang dan segera mereka masuk ke ruang kerjanya.

“Apa sekarang aja ya, aku temui Kang Raka? Mengundurkan diri baik-baik.” ucapku dalam hati setelah melihat kedatangan Kang Raka dan Teh Mae.

Dengan hati yang mantap, aku lantas melangkahkan kakiku menuju ruang Kang Raka berada.

“Tokk… Tokk… Tokk…”

“Masuk…!” seru Kang Raka dari dalam menyuruhku masuk.

“Ceklek…”

“Eh, Teh Cinta…!” seru Teh Mae setelah mengetahui kedatanganku. “Silahkan masuk, Teh!”

“Iya, Teh Mae, Kang Raka.” Aku masuk ke dalam dengan senyum lebar menyapa ramah keduanya. “Maaf, mengganggu Kang Raka dan Teh Mae nih!”

“Santai aja, Teh Cinta.” sahut Teh Mae. “Nggak nganggu, kok.”

“Duduk, Teh…!” Kang Raka dengan ramah memintaku duduk.

“Makasih, Kang.” sahutku lalu duduk di kursi di depan meja kerjanya.

“Hmmm… Ada apa ya, Teh…? Sepertinya ada hal penting yang ingin Teh Cinta katakan. Silahkan ngomong saja, Teh. Nggak usah sungkan sama kami.” ucap Kang Raka mengawali obrolan.

“Fiuh… Aku mengehela nafas sejenak lalu mulai mengatakan maksudku menemuinya. “Begini Kang…! Hmmm… Sebelumnya saya mohon maaf jika omongan saya ini terkesan mendadak. Jujur Kang, kerja di ‘Mantili Resto & Cafe’ ini membuat saya kerasan dan nyaman. Namun, karena kandungan saya makin lama semakin mendekati lahiran maka saya mengajukan pengunduran diri. Saya meminta maaf jika selama saya bekerja di sini banyak melakukan kesalahan baik kepada Kang Raka, Teh Mae, Teh Irma maupun kepada rekan-rekan kerja yang lain.”

Kang Raka mendengarkan semua yang kukatakan, sementara Teh Mae yang merupakan kekasih Kang Raka, yang tadinya sempat duduk di sofa kini bangkit dan mendekatiku.

“Apa Teh Cinta sudah yakin dengan keputusan ini?” tanya Teh Mae ikut bersuara.

Aku mengangguk.

“Kalo Teh Cinta sudah yakin dengan keputusan ini, saya selaku pemilik ‘Mantili Resto & Cafe’ hanya bisa menyetujui keinginan Teh Cinta. Saya hanya bisa membayarkan gaji Teh Cinta bulan ini ditambah 2 bulan gaji bonus sebagai bentuk terima kasih kami kepada Teh Cinta atas kontribusinya telah ikut memajukan ‘Mantili Resto & Cafe’. Semoga kelahirannya lancar dan Teh Cinta dan anaknya nanti sehat-sehat saja.” ujar Kang Raka menjelaskan.

“Aamiiieeennn…” sahutku mengaminkan perkataan Kang Raka. “Terima kasih banyak ya, Kang Raka, Teh Mae. Saya pamit dan mohon maaf jika ada salah.”

Aku segera berpamitan pada Kang Raka dan dengan Teh Mae kami berdua berpelukan sambil cipika-cipiki setelah pembicaraan kami selesai. Sebelum aku pulang, aku sempat berpamitan terlebih dahulu ke semua rekan-rekan kerjaku lainnya termasuk juga Teh Irma yang sudah banyak membantu mengajariku walaupun gaya penampilannya serta cara ngomongnya seperti anak gaul Jakarta tapi orangnya baik dan sangat membantuku dalam bekerja sebagai kasir.

“Teh Irma, makasih banyak ya, selama saya kerja di sini telah banyak membimbing, mengajari dan selalu baik pada saya.” ujarku sambil memeluknya dengan penuh haru diakhiri dengan cipika-cipiki.

Terlihat tetesan air mata turun dari sudut matanya begitu pun denganku yang juga menangis haru akan perpisahan ini.

“Teh Cinta kalo lahiran kabar-kabari saya ya. Semoga lancar ya lahirannya. Hiks…” ucapnya sambil menangis sesegukkan.

“Iya, Teh. Makasih ya, sudah mau ngajarin dan bimbing Cinta selama di sini. Semoga Teh Irma selalu sehat, sukses dan lekas menikah dengan Kang Ilham. Hikss…” sahutku menjawab dalam dekapan eratnya.

Aku pun segera meninggalkan ‘Mantili Resto & Cafe’ untuk pulang ke kost-kostanku.

Satu jam kemudian…

Aku telah sampai di halaman gedung kost-kostanku, setelah turun dari mobil angkot. Terlihat dari depan pintu kost-kostan, Imah sedang melambaikan tangannya ke mobil BMW seri 7 yang kini mulai melaju melewatiku.

Tinn… Suara klakson mobil itu berbunyi pada saat mobil itu melewatiku dan keluar ke jalan raya dengan laju yang sedang.

“Eh, Cinta. Baru pulang, ya?” tegur Imah saat ia melihatku sudah berada di depan pintu masuk.

“Iya, Mah. Baru saja sampe nih.” sahutku sambil tersenyum padanya.

“Coba tadi kamu datang lebih cepat, Cin. Bisa ketemu dengan Mbak Annisa, kakak angkat Imah. Mbak Annisa, baru saja pulang setelah nganterin Imah tadi.” ujarnya memberitahu bahwa yang mengendarai mobil BMW itu tadi adalah Mbak Annisa.

“Yang bawa mobil BMW warna biru tadi ya?” tanyaku penasaran.

“Iya, Cin. Kok, kamu tahu ya…?” tanya Imah balik.

“Soalnya, mobil itu tadi berpapasan denganku dan sempat membunyikan klaksonnya.” sahutku memberitahu.

“Ohh…!” seru Imah. “Nanti kita ke rumahnya ya, jika kamu udah siap untuk buka usaha restoran. Dialah yang akan bantu ngasih modal buat kita, Cin.”

“Iya, Mah.” jawabku singkat lalu melakukan gerakan menghormat padanya. “Siaaap… gerak…”

“Hahaha…” Imah tertawa lebar melihat kekonyolanku barusan.

“Hahaha…” Aku ikut tertawa senang.

Suara adzan berkumandang dari Masjid di samping tempat kost-kostan kami.

“Sudah adzan Isya’ ternyata. Yuk, Cin. Kita masuk ke dalam!” ajak Imah.

“Iya, Mah. Nggak kerasa ya, udah Isya’.” sahutku pelan. “Badan terasa capek dan gerah, mau buruan mandi.”

“Pentesan bau aseemm…! Hehehe…” kekeh Imah bercanda.

“Tapi tetap cantik ‘kan. Hehehe…” sahutku sambil tertawa kecil.

Kami berdua melangkah masuk ke dalam menuju kamar kost masing-masing.

©©©©©​

Pov 3rd

Jakarta, 19 Nopember 2015…

Di sebuah rumah mewah di Jakarta Pusat, terlihat empat orang sedang berada di sebuah ruangan keluarga yang cukup besar.

Kondisi kesehatan Dewi dan Akbar setelah sadar dari komanya dua bulan lalu semakin membaik dan mulai kembali seperti sedia kala. Bahkan keduanya sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hanya saja sesekali Dewi masih suka melamun terbayang akan sosok almarhum suaminya.

Anggoro bersama Nengsih sedang menemani Akbar cucu kesayangan mereka bermain. Terlihat Akbar sangat bahagia bermain mobil tamiya, sesekali ada tawa menyertainya saat mobil tamiyanya mendahului mobil tamiya milik Anggoro dan Nengsih.

“Horeeee…!” serunya kesenangan. “Mobil Akbal yang menang. Mobil Kakek dan Nenek terbalik semua. Hahaha…”

Pelarian Kisah Cintaku Part 42

Mulustrasi Dewi Safitri aka Dewi

Sementara itu, Dewi Safitri aka Dewi hanya bisa tersenyum tipis duduk di sofa melihat anaknya sedang bermain bersama kakek neneknya. Kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, tidaklah lengkap tanpa kehadiran suaminya yang telah tiada.

Butiran air mata kembali keluar dari sudut matanya saat ia terbayang akan kebersamaan mereka sebagai satu keluarga yang utuh.

“Mas Prima, kami akan selalu merindukanmu. Semoga kita akan berkumpul kembali sebagai satu keluarga yang utuh di sana. Selamat jalan suamiku, aku akan merawat buah hati kita sampai kita akan kembali berkumpul bersama-sama di surga-Nya. Aamiiieeennn.”

Dewi sempat terharu saat menyaksikan kebersamaan Akbar bersama kedua orang tuanya.

Akbar yang sedari tadi tertawa-tawa senang saat bermain bersama kakek dan neneknya, tertegun sejenak saat ia melihat mamanya yang nampak bersedih. Tiba-tiba, ia bangkit dan mendekati mamanya.

“Ma… Mama…” seru Akbar sambil membawa mobil tamiya di tangannya. “Kenapa Mama nangis? Papa ke mana Ma…? Kok, sampe sekarang belum pulang ya, Ma? Akbal kangen sama Papa, Om Adit dan Tante Cinta, Ma.”

Dewi segera memeluk putra semata wayangnya itu dengan erat. Bibirnya tak kuasa untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Hanya sebuah elusan yang lembut sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Akbar putranya.

Pelarian Kisah Cintaku Part 42

Mulustrasi Nengsih mamanya Dewi Safitri​

Nengsih pun bangkit, melangkah mendekati Dewi dan Akbar yang berpelukan erat. Nengsih yang kini telah berdiri di samping Dewi dan Akbar, ikut meneteskan air mata ketika mendengar celotehan Akbar tadi. Sedangkan Anggoro berusaha tetap tegar menghadapi cobaan yang dialami Dewi Safitri, putri semata wayang mereka.

“Akbar… Cucu kakek yang ganteng!” seru Anggoro berusaha menghibur. “Yuk, ikut Kakek! Kakek mau ajak Akbar ke Mall, kita beli mainan yang banyak.”

Akbar segera melepaskan pelukannya, lalu mencium buku tangan Dewi sejenak sambil berbicara pada mamanya. “Kok, Mama nangis? Ada apa, Ma…?”

Dewi segera menghapus air matanya dengan tisu yang ada di hadapannya. Dia berusaha tersenyum pada Akbar lalu mencium keningnya sejenak. “Nggak apa-apa Akbar sayang. Tadi mata Mama kelilipan, kemasukan debu.”

“Ayo Akbar kita pergi sekarang! Biar tidak kesorean pulangnya.” kata Anggoro mengajak cucunya untuk pergi sekarang.

“Ma…! Akbar boleh ikut Kakek…?” Akbar meminta ijin pada Mamanya.

“Boleh, Akbar sayang.” jawab Dewi tersenyum. “Tapi, jangan nakal ya!”

Akbar mengangguk lalu dengan manjanya ia meminta gendong pada Anggoro. Keduanya pergi meninggalkan Dewi dan Nengsih.

“Ma…!” seru Dewi sembari memeluk mamanya. Hiksss… Hiksss… Hiksss… Dewi kangen sama Mas Prima, Ma. Dewi pengen lihat makam Mas Prima.”

Nengsih ikut menangis, tangannya mengelus-elus rambut Dewi yang tertutup hijab. Keduanya terbawa kesedihan mengingat kematian Prima, suami dan menantu mereka berdua.

Beberapa saat kemudian…

“Yang sabar ya, Nak.” Nengsih menasehati Dewi dengan bijaksana. “Ikhlaskan hatimu ya, Nak. Supaya suamimu tenang di sana! Jika kamu sudah ikhlas menerima takdir-Nya, Papa dan Mama pasti akan bawa kamu melihat makam Nak Prima. Ingat, Nak…! Kamu masih memiliki Akbar yang butuh kasih sayangmu, Papa dan Mama akan selalu di sisimu melewati semua ini. Percayalah Allah memberikan cobaan padamu karena kamu mampu menjalaninya. Ada hikmah di balik semua ujian yang diberikan oleh Allah, Nak.”

Dewi seakan tersadar lalu dari bibirnya terucap kata istighfar sebagai tanda bahwa ia mengakui kesalahannya karena sempat lupa bahwa semua sudah menjadi ketentuan-Nya.

“Makasih, Ma. Makasih sudah mengingatkan Dewi. Dewi akan belajar untuk ikhlas atas apa yang sudah menjadi takdir-Nya.” Dewi kembali memeluk mamanya. Ia sudah bisa sedikit tenang dan berusaha untuk ikhlas dan kembali menjalani kehidupan normal bersama putra semata wayang mereka, Akbar Maulana Putra.

©©©©©​

Pov Adit

Jakarta, 19 Nopember 2015…

Beberapa bulan lalu setelah kepergian Cinta membuat semangat hidupku menjadi berkurang. Aku selalu murung dan dihantui rasa bersalah pada Cinta. Istriku Tasya atau Annisa Putri nama yang saat ini yang digunakannya setelah ia menjadi muallaf. Dia menyadari semua kesedihanku ini karena kesalahan yang telah dilakukannya. Sambil menciumi tanganku, Annisa pamit untuk menunaikan janjinya mengajak kembali Cinta ke kehidupan rumah tangga kami. Bahkan ia ikhlas, jika nantinya Cinta tidak mau dimadu dan meminta Annisa berpisah denganku.

Secarik kertas kini berada di tanganku, sudah beberapa kali kubaca surat dari Annisa tersebut. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak air mata yang kuteteskan kala membaca surat itu.

Jakarta, 20 September 2017

Untuk : Suamiku, imamku yang selalu kuhormati sampai akhir hayatku.

Mas Adit, Annisa minta doa dan restunya, Adek sebagai istri Mas Adit berkewajiban mengembalikan kehormatan Mas Adit sebagai suami kami berdua.

Jika Allah meridhoi apa yang Adek lakukan ini, Insya Allah kita bertiga akan berkumpul kembali menjadi satu keluarga yang utuh.

Annisa sangat mencintai kamu Mas Adit, namun kebahagiaanmu itu adalah Cinta.

Adek ikhlas jika nantinya Cinta memintaku untuk berpisah denganmu asalkan Mas bisa kembali tersenyum bahagia seperti dulu lagi.

Maafin Adek ya, Mas yang telah membuat hidupmu menderita karena keegoisanku untuk mendapatkanmu.

Adek sadar bahwa rasa cinta itu tidak bisa dipaksakan dan jujur Adek mulai merasakan bentuk cinta itu sebenarnya setelah menjadi istrimu.

Kamu benar-benar tulus memperlakukanku sebagai istri walaupun hatimu tidak sepenuhnya mencintaiku.

Jika nantinya aku bertemu Cinta, Adek akan menjaga dan melindunginya dengan nyawa Adek sendiri sebagai bentuk penebusan semua kesalahan-kesalahan masa lalu Adek.

Doakan Adek ya, Mas.

Dari : Istrimu Annisa Putri.

Sudah dua bulan ini aku terpisahkan dengan kedua istriku. Annisa saat ini tinggal di rumah yang kubelikan di Bandung. Dia tidak akan kembali padaku jika tujuannya belum berhasil untuk membawa kembali Cinta sebagai istriku.

Aku hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta untuk memberikan jalan buat Annisa supaya tujuan mulianya tercapai.

Tatkala aku sedang merenung dan mengingat semua kenanganku bersama kedua istriku, tiba-tiba HPku berbunyi.

“Ya hallo,” kataku menjawab panggilan telepon masuk itu.

“Hallo, Mas Adit. Ini dengan Imelda, Mas.” sahut suara dari ujung telepon sana.

“Iya, Mel… Ada apa…?”

“Surat yang Mas Adit minta telah selesai. Kapan Mas Adit dan Pak Cinthuks akan ke kantor…? Semua staf dan manager sudah Imelda hubungi untuk datang hari ini.” Imelda memberitahu dari ujung telepon sana.

“Sebentar lagi saya dan Cinthunks akan ke sana. Kamu persiapkan semua ya Mel. Terima kasih ya, Mel.”

“Iya, Mas. Selamat pagi.” sahutnya dari ujung telepon sana lalu sambungan telepon itu terputus.

Jam 05.00 wib, angka yang kulihat saat aku melihat jam di dinding kamarku. Segera aku bangkit untuk mandi dan mengerjakan Ibadah sholat Subuh.

.

.

.

Lokasi : Kantor Pusat PT. RWG Trans (Persero)

Jam 08.00 wib, semua orang sudah berkumpul di ruangan rapat. Aku menggunakan setelan jas berwarna hitam duduk di depan sendiri. Di samping kananku duduk seorang laki-laki berkulit hitam, perut buncit dan selalu tersenyum sumringah. Dengan menggunakan setelan jas berwarna putih tampak ia terlihat gagah.

“Selamat pagi, Bapak-Bapak semua…” sapaku pada semua yang hadir di ruang rapat itu.

“Pagi, Pak Adit.” jawab mereka semua hampir bersamaan.

“Oiya, sebelum kita mulai rapat ini. Saya akan memperkenalkan seseorang pada Bapak-Bapak semua yang hadir di ruang rapat ini.” Aku lantas melirik sejenak ke sebelah kanan lalu melanjutkan perkataanku. “Tolong perkenalkan Pak Cinthunks, Beliau adalah wakil direktur utama yang akan menjalankan tugas saya jika saya berhalangan hadir di kantor ini. Silahkan Pak Cinthunks memperkenalkan dirinya.”

Tampak raut tegang terpancar dari wajahnya, sesaat ia menoleh kepadaku. Sebuah anggukkan kepala dariku membuat dirinya sedikit tenang lalu memulai perkenalannya.

“Selamat pagi semua.” sapa Cintunks memulai perkataannya. “Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan oleh Pak Adit untuk saya. Perkenalkan nama saya ‘Cinthunks Anugerah’. Saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Pak Adit kepada saya mohon bimbingan dan bantuannya supaya saya bisa menjalankan semua tugas-tugas sebagai wakil direktur utama perusahaan ini. Dan semoga kita bisa bekerja sama dengan sebaik-baiknya. Terima kasih.”

Setelah kata sambutan singkat dari Cinthunks aku lalu memimpin rapat tersebut dengan penuh kewibawaan sebagai pemimpin.

Selama hampir satu jam membahas semua hal yang berhubungan dengan perusahaan akhirnya rapat pagi itu selesai. Aku mengajak Cinthunks ke ruangan kerjaku yang nantinya akan ia tempati selama aku tidak memimpin perusahaan ini.

“Thunks, aku percayakan semua operasional perusahaan ini padamu selama aku tidak berada di sini. Kalo ada yang penting dan mendesak kamu bisa hubungi aku.” ujarku memberitahu setelah menandatangani surat pengangkatannya sebagai wakil direktur utama PT. RWG Trans (Persero).

“Terima kasih, Mas Adit. Jujur Mas ini bener-bener nggak bisa saya bayangkan. Mas Adit begitu percayanya sama saya hingga mengangkatku sebagai wakil direktur utama. Terima kasih banyak ya, Mas.” jawab Cinthunks dengan senyum gingsulnya yang merupakan ciri khasnya.

“Semua fasilitas buatmu sebagai wakil direktur akan dipersiapkan oleh Imelda. Tapi ingat ya, jangan kamu goda Imelda kecuali kamu memang ingin serius dengannya karena ia sudah kuanggap seperti adikku sendiri.”

“Iii..ya Mas. Eh, anu itu. Mbak Imelda yang cantik itu ya…?” Tiba-tiba Cinthunks terlihat gugup ketika aku mengancamnya.

“Awas saja kalo kamu macam-macam dengannya! Apalagi kalo hanya jadiin dia mainanmu. Kamu akan kubuat lebih sengsara dibandingkan saat kamu di penjara. Aku tidak suka laki-laki pengecut yang hanya mau enaknya saja. Camkan itu baik-baik, Tunks..!”

“Siap Bos. Hehehe…” kekehnya berusaha mencairkan suasana.

“Yaudah, kalo begitu. Aku berangkat sekarang.”

Aku lalu pergi meninggalkan ruangan kerjaku, bersiap-siap untuk merencanakan sesuatu untuk kebahagiaan kami ke depannya.

“Ya Allah… Hamba mohon ridhoilah usaha hamba-Mu ini. Kebahagiaanku hanya bersama kedua istriku, mudahkanlah bagiku untuk mempersatukan kembali hubungan kami bertiga yang telah retak kembali bersatu utuh menjadi satu keluarga. Aamiiieeennn…” Doaku dalam hati sesaat akan melangkah menuju jalan kehidupan yang baru.

©©©©©​

Pelarian Kisah Cintaku Part 42

Mulustrasi Sekar Rahayu Sukmawati aka Sekar

Pov Sekar

Jakarta, 25 November 2017…

Entah bagaimana aku menggambarkan perasaanku saat ini? Marah, kecewa, dan sedih. Semuanya bercampur aduk menjadi satu.

Ya, sejak kematian Prima. Putra sulungku yang selalu kubangga-banggakan, kini kebanggaanku itu seakan sirna.

Rasa bersalah kini bersemayam di hatiku, ketika Cinta putri bungsuku nekat pergi dari rumahnya setelah menguping pembicaraan kami beberapa bulan yang lalu.

Akibatnya kejadian itu, aku terkena stroke ringan. Bibirku berubah jadi tidak normal, tidak seperti biasanya. Tanganku sebelah kanan tidak bisa digerakkan sama sekali seperti mati rasa.

Suamiku, Mas Pramudya dengan telaten mengurusku. Rasa haru bercampur malu menghinggapiku saat suamiku dengan tulus membersihkan kotoranku saat aku kencing bahkan buang air besar sekalipun.

“Ma… Kamu ikhlaskan semuanya, lepaskan beban di hatimu. Ingat dengan kesehatanmu, Ma.” ujar Mas Pramudya saat mengelap tubuhku pagi ini.

Mas Pramudya tiap pagi selalu mengelap tubuhku dan mengganti pakaianku dengan yang baru, semua dilakukannya dengan tulus sejak aku terserang stroke.

Aku mengangguk.

“Jika kamu sudah sembuh, Ma.” ujar Mas Pramudya lalu mencium keningku. “Kita akan ke Bandung menemui Cinta. Tadi Nak Adit memberitahukan bahwa Cinta sedang mengurus persiapan untuk membuat restoran.”

Aku hanya bisa meneteskan air mata, perasaan bahagia bercampur haru karena mendapatkan perhatian yang tulus dari Mas Pramudya. Juga ada perasaan sedih karena harus berpisah lama dengan Cinta putri kecilku yang selalu kumanjakan.

Dengan elusan yang lembut, Mas Pramudya mengusap sudut mataku yang keluar air mata sambil berbisik. “Jangan menangis istriku! Anak-anak kita sudah dewasa, Ma. Biarlah mereka menentukan jalan hidup mereka masing-masing. Kamu sudah dengar ‘kan, Cinta yang manja sekarang bisa membuktikan dirinya untuk menjadi sukses kita doakan saja anak-anak kita bahagia. Hanya itu yang Papa harap dan minta sama Mama.”

Aku memeluk suamiku dengan erat melepaskan semua beban yang ada di dalam hatiku.

Sambil memberikan kecupan kembali di keningku, Mas Pramudya kembali berbisik. “Kita istirahat ya, Ma. Besok Papa akan bawa Mama menemui dr. Rahardjo. Mama harus semangat untuk sembuh ya. I love you, my wife, my sweet angel.”

Dalam hati aku memanjatkan doa kepada Sang Khalik. “Ya Allah… Hamba-Mu yang hina ini banyak melakukan kesalahan dan dosa. Ampunin hamba-Mu yang berlumuran dosa ini. Ya Allah… Berikanlah kebahagiaan kepada anak-anak, menantu dan cucu-cucuku. Berikanlah kesehatan kepada mereka, pada diri hamba dan suami hamba sehingga suatu saat nanti kami bisa kumpul kembali dalam suasana yang bahagia. Ya Allah… Ampunilah dosa-dosa suamiku, anak-anakku, Prima, Jelita dan Cinta, dosa menantuku Dewi Safitri dan Hartono serta dosa-dosa cucu-cucuku. Hanya kepada-Mu lah hamba meminta dan memohon. Aamiiieeennn…”

©©©©©​

Pov 3rd

Bandung, 1 Desember 2017…

Di sebuah gedung berlantai dua di jalan Riau no.xxx terlihat begitu banyak para undangan yang datang memenuhi ruangan itu.

Seorang wanita hamil berjilbab dengan senyum lebar menyapa semua para tamu undangan yang datang. Ya, itu adalah ‘Annisa Putri’. Di samping kirinya adalah ‘Fatimah Az-zahra’ aka ‘Imah’ dan di samping kananbya adalah ‘Cinta Rahayu Pramudya’ aka ‘Cinta’.

“Silahkan Pak, Bu…” sapa mereka bertiga ramah dan sopan mempersilahkan para tamu memasuki gedung itu.

30 menit kemudian…

“Terima kasih atas kehadiran Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian. Ini adalah suatu kehormatan bagi kami karena kesediaan Bapak dan Ibu untuk menghadiri peresmian Restoran dan sekaligus juga peresmian kantor pusat TAWWAKAL TOUR. Baiklah kita mulai dulu dengan peresmian TAWWAKAL TOUR.” ujar Annisa memberikan kata sambutannya.

“Dengan mengucap, Bismillahirrohmannirrohim kantor pusat TAWWAKAL TOUR saya resmikan.”

Annisa memencet tombol lalu perlahan-lahan kain itu membuka ke kiri dan ke kanan.

Hingga terlihat sebuah tulisan yang besar.

TAWWAKAL TOUR

Biro Perjalanan Haji dan Umrah

Alamat : Jl. Riau No. xxx…Bandung Jawa Barat Indonesia.​

Tepuk tangan menggema di ruangan itu setelah prosesi peresmian TAWWAKAL TOUR selesai.

Kemudian dilanjutkan dengan peresmian Restoran. Semua menu makanan restoran ini telah dihidangkan oleh para karyawannya. Sebelum menyantap makanan mereka sangat antusias untuk menyaksikan nama restoran ini.

“Kita panggilkan Ibu Cinta Rahayu Pramudya,” ujar MC memanggil Cinta untuk maju ke podium memberikan kata sambutan sekaligus peresmian restorannya.

“Selamat siang semua…!!!”

“Siang…! jawab semua yang berada di ruangan itu.

“Sebelumnya saya ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt yang telah memberikan rahmatnya buat kita semua hingga bisa kumpul di tempat yang berbahagia ini. Tak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada ‘Mbak Annisa Putri’ dan ‘Fatimah Az-zahra’ berkat mereka kini kami bisa mendirikan restoran ini. Insya Allah restoran ini saya jamin semua menunya; halal, sehat dan harganya terjangkau. Dengan mengucapkan, Bismillahirrohmanirrohim saya beri nama restoran ini dengan nama, RESTORAN CINTA.”

Tepuk tangan menggema saat Cinta menekan tombol lalu keluarlah running text atau tulisan berjalan di sebuah layar yang besar.

RESTORAN CINTA

Masakan Khas Sunda

Buka : Jam 10.00 wib

Tutup : Jam 21.00 wib kecuali sabtu/minggu/hari libur : Jam 23.00 wib​

Di antara para tamu undangan ada dua orang laki-laki yang duduk di barisan paling pojok di belakang. Sejak tadi keduanya dengan khidmat mengikuti prosesi peresmian TAWWAKAL TOUR dan RESTORAN CINTA.

Sosok kedua lelaki itu sangat bertolak belakang, baik secara fisik maupun warna kulit. Walaupun keduanya menggunakan setelan jas yang bagus dan rapi.

Laki-laki pertama memakai setelan jas warna abu-abu, berparas putih dengan kumis dan berewoknya yang tebal. Tubuhnya cukup ideal dengan tinggi badan 175 cm dan berat badan 67 kg. Kesan gagah, berkharisma dan orang yang cukup disegani sebagai pebisnis yang ulung jika melihat sosok laki-laki itu.

Sementara itu, laki-laki di sebelahnya adalah pria berkulit gelap mempunyai gigi ginsul di sebelah kirinya. Bertubuh tambun dengan perut buncit. Laki-laki yang mengenakan setelan jas berwarna merah itu mempunyai tinggi badan 160 cm dan berat badan 80 kg. Kesanya seperti saudagar cina yang banyak uang dengan perut buncit dan tubuh yang tambun. Identik dengan ‘Ciu Pat Kay’ salah satu tokoh di film ‘kera sakti’ yang pernah mengalami berbagai penderitaan cinta. “Begitulah cinta, penderitaannya tiada akhir”.

Jika kedua laki-laki itu bersanding, perumpamaannya seperti tokoh ‘Biksu Tong’ atau ‘Tong Sam Cong’ dan muridnya ‘Ciu Pat Kay’ di film ‘kera sakti’.

©©©©©​

Mulustrasi penampilan baru Anastasya Putri Wijaya setelah menjadi muallaf

Pov Annisa

Bandung, 1 Desember 2017…

Aku seketika kaget sekaligus senang saat pandangan mataku melihat ke arah pojok paling belakang. Di sana terlihat dua orang laki-laki, satu orang di antaranya sangat kukenal. Laki-laki berkulit gelap, menggunakan setelan jas berwarna merah.

“Bukankah laki-laki itu Cinthunks, orang kepercayaan Mas Adit suamiku. Tapi di sebelahnya itu, siapa ya…? Dari sosoknya, mirip sekali dengan Mas Adit. Tetapi wajahnya berbeda bukan 180° sangat jauh berbeda. Siapa orang itu sebenarnya? Apakah mungkin itu Mas Adit yang sedang menyamar? Aku mesti cari tau siapa dia sebenarnya?” Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku saat ini.

Tamu-tamu undangan mulai berangsur-angsur meninggalkan ruangan tempat peresmian kantor pusat TAWWAKAL TOUR dan RESTORAN CINTA. Sambil menyalami para tamu undangan yang mengucapkan selamat pandangan mataku terus kuarahkan ke pojok barisan belakang.

Begitu kedua laki-laki itu melangkah ke luar dari samping pintu belakang, aku pun segera mempercepat langkahku menuju ke luar ruangan.

Terlihat dia sedang menuju sebuah mobil putih LEXUS seri RX270. Aku segera mengeluarkan HP-ku menelpon nomor ponsel Mas Adit.

Tuuttt… Tuuttt…

“Angkat dong Mas, supaya aku tau kalo itu kamu.” gumamku membatin.

“Ya hallo…” suara dari ujung telepon sana yang ternyata laki-laki yang menggunakan jas warna abu-abu. Berkumis dan berewokan tebal.

Aku segera mematikan HP-ku dan tersenyum puas. Terlihat plat nomor polisi D 1 ACA. “Apakah ACA itu singkatan nama kami bertiga? Adit, Cinta dan Annisa. Mas Adit aku kangen sama kamu.” ucapku membatin.

Lalu setelah mobil berplat nopol D 1 ACA pergi meninggalkan tempat parkir, aku kembali ke dalam supaya tidak menimbulkan kecurigaan Cinta.

Setelah acara selesai aku mohon diri pada Cinta dan Imah untuk pulang ke rumah dan meminta Santi salah satu karyawan kepercayaanku di kantor pusat TAWWAKAL TOUR untuk meng-handle kerjaanku.

Saat aku sudah berada di dalam mobil BMW seri 7 warna biru. Segera aku SMS nomor ponsel Mas Adit.

From : Annisa Putri

To : My husband ‘Aditya Febriansyah’

“Mas, tadi Adek tau kalo Mas datang ke tempat acara peresmian tadi. Kirimi alamatmu, Adek mau ketemu kangen sama kamu Mas.”

Tak lama berselang, HP-ku berdering. Pesan SMS masuk ke HP-ku.

From : My husband ‘Aditya Febriansyah’

To : Annisa Putri

“Hahaha…! Kamu memang istriku yang paling cerdas, Sya. Dengan cepat bisa tau kalo aku datang ke tempat peresmian tadi. Jujur tadi Mas terharu melihat keakraban kalian berdua. Mas berharap semoga Allah menyatukan kita bertiga, Mas mencintai dan menyayangimu sama besarnya cinta dan sayang Mas pada Cinta. Kalian berdua adalah jantung dan paru-paru Mas. Mas tinggal di apartemen Buah Batu no. 101. Mas juga kangen sama kamu dan calon anak kita.”

Setelah membalas SMS dari Mas Adit barusan bahwa aku tahu lokasi apartemen itu dan akan pergi ke sana. Lalu aku segera menyalakan mobilku meluncur ke apartemen Mas Adit suamiku.

.

.

.

Lokasi : Apartemen Buah Batu No. 101

Jam 16.00 wib, aku telah tiba di apartemen Buah Batu sesuai dengan alamat yang dikirimkan oleh Mas Adit lewat SMS. Setelah memarkirkan mobilku, aku segera masuk ke dalam apartemen itu.

“Selamat sore, Bu. Ada yang bisa kami bantu?” tanya petugas security apartemen itu.

“Saya mau menemui saudara saya. Dia tinggal di apartemen ini No. 101, Pak.” jawabku memberitahukan keperluanku.

“Ohh…! No. 101 ya, Bu. Bapak Rusdi Budiman adalah pemilik apartemen itu. Kalau boleh tahu, apa hubungan Ibu dengan Bapak Rusdi? Apakah masih ada hubungan keluarga dengan Bapak Rusdi?” tanya petugas security itu setelah mengecek nama penghuni apartemen ini.

“Eh, iya Rusdi Budiman.” jawabku cepat walaupun ada sedikit kaget namun aku bersikap seperti biasa. “Dia kakak kandung saya, Pak.”

“Sesuai dengan peraturan apartemen ini, sebelum tamu ketemu dengan pemilik atau penghuni apartemen, kami perlu mendata tamu yang datang.” ujar petugas security itu menjelaskan prosedur keamanan apartemen ini. “Peraturan ini diberlakukan untuk keamanan dan kenyamanan pemilik atau penghuni apartemen itu sendiri.”

Setelah memberikan data-data pribadiku sesuai E-KTP yang kumiliki, akhirnya aku diperbolehkan untuk mengunjungi pemilik apartemen nomor 101, yang berada di lantai 1 ruang paling pojok setelah keluar dari pintu lift.

“Ini nih nomor 101.” gumamku dalam hati.

Aku lantas menekan tombol bel itu.

Ting… Tong…

Pintu apartemen nomor 101 terbuka, sosok laki-laki berkumis dan berewok yang tebal muncul dengan senyum di bibirnya.

Senyuman khasnya menyambut kedatanganku, mempersilahkanku masuk dengan sopan dan ramah.

“Silahkan masuk Dek Annisa!” ujarnya pelan saat aku masih termangu di depan pintu.

“Iiiyyyaaa Mas.” sahutku pelan sambil menundukkan kepala.

Setelah berada di dalam ruangan apartemen itu, aku dibuat terkagum-kagum dengan interior ruangannya. pencahayaan ruangan yang begitu baik disertai penataan ruangan yang rapi dan teratur menambah kesan mewah dan ekslusif apartemen ini.

Sedikit ada perasaan canggung dan gugup yang kurasakan saat ini karena melihat wajahnya tadi yang berbeda jauh 180° dengan wajah suamiku.

“Maaf ya, Dek. Telah bikin kamu ragu dengan diri Mas saat ini.” ujarnya. Lalu laki-laki itu menarik kumis dan berewoknya, kemudian membuka karet penutup wajahnya.

Nampak kini di hadapanku Mas Adit berdiri dengan senyum khasnya. Langsung saja kupeluk tubuhnya dengan penuh kerinduan.

“Mas Adit…!” seruku kegirangan.

Rasa bahagia yang kurasakan saat ini karena aku bertemu kembali dengan Mas Adit, suamiku. Ayah dari janin yang sedang kukandung saat ini.

Kami berdua melepaskan rasa rindu setelah dua bulan berpisah. Rasa rindu akan kasih sayang dan belaian mesra suamiku.

Kami berdua berciuman penuh hasrat yang menggelora. Melapaskan segala kerinduan kami berdua.

Mas Adit mencumbuiku dengan lembut dan penuh perasaan hingga kami berdua larut untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

15 menit kemudian…

Kami berdua telah telanjang bulat di atas ranjang di dalam kamar suamiku, Mas Adit terus mencumbuiku dengan lembut tanpa terburu-buru. Setiap jengkal tubuhku tak luput dari jilatan, hisapan dan kecupan dari bibirnya disertai elusan lembut tangannya mulai dari rambut hingga ujung kakiku. Dan yang membuatku terhanyut dan terbuai oleh perlakuannya adalah pada saat vaginaku mulai dioral oleh lidahnya.

“Ohhh…! Mas Adit…!” Aku meremas rambutnya menahan kepalanya bahkan menekan kepala Mas Adit supaya lidahnya lebih menyentuh titik-titik rangsangan di daerah Vaginaku.

Mulutku terus melenguh, merintih dan mengerang. Ras geli bercampur dengan rasa nikmat mulai menyerang otak dan syahwatku membuat orgasmeku makin lama semakin dekat.

“Ohhh…! Mas Adit…! Aku sampe Mas… Aarrgghhh…!”

Mas Adit terus memainkan klitorisku yang mulai mengeras, jari tengahnya dengan lincah merojok-rojok lubang vaginaku dengan cepat.

Hingga akhirnya, orgasme itu pun sudah tidak bisa kubendung. Aku mengerang menyambut orgasme pertamaku.

“Mas Adit Adek sampe Mas…! Aaaarrrggghh…!”

“Seeerrr… Seeerrr… Seeerrr…”

Aku terkulai lemas setelah mendapatkan orgasmeku itu, sempat aku melihat Mas Adit suamiku tersenyum bahagia.

“Aku bersyukur pada-Mu ya Allah. Karena telah memberikan suami sebaik dia. Semoga kami tetap ditakdirkan terus bersama sama akhir hayat kami. Ya Allah mudahkanlah hamba-Mu untuk menyatukan kembali hubungan kami bertiga yang retak menjadi satu keluarga yang utuh. Aamiiieeennn…” ucapku berdoa dalam hati. Air mataku menetes karena rasa bahagia yang kurasakan.

“Sayang, ada apa…?” tanya Mas Adit khawatir. “Kenapa kamu nangis…?”

Aku memeluknya dengan erat, sambil berbisik padanya. “Adek nangis bukan sedih Mas melainkan itu tangisan bahagia. Dan Adek akan lebih bahagia, jika Cinta kembali padamu sebagai istrimu sama seperti aku. Doakan Adek ya Mas. Supaya Adek menyadarkan Cinta bahwa kita berdua menyayanginya.”

Kami berdua terdiam beberapa saat lalu aku membisiki Mas Adit. “Sekarang giliranku membuatmu puas, suamiku.”

Sambil tersenyum aku mendorong pelan tubuhnya, hingga kini tubuh Mas Adit terlentang di ranjang. Aku mengambil kendali, segera aku mengulum penis suamiku.

Erangan halus meluncur dari bibir Mas Adit saat aku sudah memasukkan setengah batang penisnya ke mulutku. “Ooohhh… Terus sayang…! Nikmat sekali…! Aaahhh…!

Aku terus mencoba memasukkan seluruh batang penis suamiku yang panjang dan besar namun ternyata susah dan sempat tersendak.

Karena posisiku membelakangi wajahnya hingga pantatku bergoyang-goyang di depan wajahnya.

“Aaahh…!” desahku saat lidah Mas Adit mulai menjelajahi kembali vaginaku.

Nafsuku kembali bangkit akibat jilatan dan sentuhan bibirnya, daerah kewanitaanku terasa basah dan lembab. Cairannya pun merembes keluar.

Lalu dengan posisi di atas, aku mulai membalikkan badan menghadapnya. Perutku yang mulai membuncit semakin basah oleh keringat yang keluar dari dalam tubuhku. Gairahku meningkat naik sampai ke ubun-ubun. Deru nafasku berat menandakan aku sudah siap untuk mengarungi percumbuan yang lebih intim.

“Pelan-pelan saja, Dek. Jaga dedek bayi kita.” Mas Adit mengingatkanku saat aku mengepaskan penisnya ke bibir vaginaku.

Aku mengangguk. Lalu mulai menggerakkan penis Mas Adit di seputaran daerah kewanitaanku. Aku mulai menurunkan pantatku sambil tetap memegangi penis Mas Adit supaya tetap pada jalurnya.

Bleeesss…”

Perlahan-lahan penis Mas Adit mulai memasuki tubuhku, dan saat setengah batang itu telah masuk aku melepaskan pegangan tanganku pada penis Mas Adit disertai dengan hentakan ke bawah yang kuat hingga seluruh batang penis suamiku amblas hingga membentur rahimku.

“Aaarrrggghhh…!” erangku dan Mas Adit bersamaan saat penis Mas Adit sudah bersatu di dalam rahimku mengunjungi buah hati kami di sana.

Terasa penuh di dalam tubuhku, janinku bergerak kaget saat benda asing yaitu penis Mas Adit tiba-tiba berada di sana.

“Mas, dedek bayinya ternyata kangen juga sama papanya.” bisikku menggodanya.

“Iya, Dek. Dedek bayi ini papa, kamu jangan rewel ya Nak. Papa sedang kangen sama Mama.” Mas Adit membalas godaanku sambil memegangi perutku yang mulai membuncit.

Aku mulai bergerak pelan di atas tubuh suamiku, menggoyangkan pinggulku ke kiri dan ke kanan disertai juga remasan ke dada Mas Adit yang bidang.

“Oohhh…! Enak terus Dek…! Aaaahhh…!” erang Mas Adit.

Melihat dan mendengar Mas Adit keenakan membuatku memainkan otot kegelku sehingga vaginaku seakan mengetat dan mengerut.

“Mmmmpphhh…! Oohhh…! Memekmu seperti meremas-remas kontol Mas, Dek. Ini bener-bener enak, Dek. Aaahhh…!”

Aku tersenyum senang, “Tidak sia-sia aku mengikuti senam kegel dan senam bayi beberapa bulan lalu. Hingga aku bisa mempraktekkannya untuk menyenangkan suamiku.” gumamku membatin.

“Aku ikut senam kegel dan senam untuk memperlancar kelahiran. Mas Adit suka nggak, kalo Adek giniin…” ucapku pelan menggodanya lalu mulai menggoyang pinggulku seperti sedang mengulek sambel.

Mata Mas Adit terlihat merem melek menikmati goyanganku, deru nafasnya semakin memburu. Begitupun denganku. Semakin membuat aku semakin dekat menuju orgasmeku.

Tak lama kemudian, Mas Adit menahan pantatku membuatku hanya bisa diam memgikuti kemauannya. Lalu dari bawah ia mulai memompa vaginaku dengan rpm yang cepat membuatku justru makin mendekati orgasme.

“Mas Adit…! Terus sodok yang kuat. Adek mau sampe…! Aaahhh…!” Aku meremas-remas payudaraku dengan kedua tanganku untuk mempercepat orgasmeku.

“Iya, Dek. Mas juga mau sampe…! Kita barengan ya…!”

Mas Adit semakin cepat dan gencar menyodok penisnya ke dalam vaginaku, hingga akhirnya…

“Oooohhh…!” Lenguhanku nyaring kala cairan kewanitaanku keluar dengan derasnya aku mendapatkan orgasmeku saat itu.

“Seeerrr… Seeerrr… Seeerrr…”

Mas Adit semakin memacu penisnya dengan cepat dan hingga hentakan terakhir ia menghujamkan penisnya sedalam mungkin ke dalam vaginaku hingga kurasakan di dalam rahimku penisnya mentok dan terasa panas saat penis itu mengeluarkan pejuh yang kental dan banyak.

“Aku keluar Dek…! Aaarrrggghh..!”

“Croottt… Croottt… Croottt… Croottt… Croottt… Croottt… Croottt…”

“Hosshh… Hosshh…” Nafas kami berdua ngos-ngosan seakan habis lari maraton yang sangat melelahkan, namun ada senyum kepuasaan dari bibir kami berdua.

“Terima kasih istriku. Mas sangat puas sekali. Kamu benar-benar bikin mas bahagia. Mas sayang kamu, Dek.” Lalu sebuah kecupan penuh sayang mendarat di bibirku.

“Adek juga sayang sama kamu, Mas. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaanku, terima kasih telah membuat Adek jadi baik dan terima kasih juga karena Mas mau membimbing dan memaafkan semua kesalahan Adek yang lampau.” Aku menyandarkan kepalaku ke dada bidangnya sambil mengelus-elus penuh kemanjaan.

Mas Adit mengelus rambutku dengan pelan sesekali menciumi keningku. Lalu rak lama kami berdua pun terlelap.

©©©©©​

Bersambung

END –  Pelarian Kisah Cintaku Part 42 | Pelarian Kisah Cintaku Part 42 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 41)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 43)