Pelarian Kisah Cintaku Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 4

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 4 | Pelarian Kisah Cintaku Part 4 Start

Cuplikan chapter sebelumnya…

Pemuda itu masih memandangi Cinta tanpa berkata-kata, ketika tiba-tiba Cinta melangkah terhuyung-huyung sambil memegangi perutnya. Gadis itu menerobos masuk ke kamar mandi, dan terdengar suara muntah-muntah dari dalam sana.

Beberapa saat Cinta berada di dalam kamar mandi sampai terdengar suara air pembilas kloset. Lalu ia muncul di depan pintu dengan wajah pucat.

Sikap pemuda itu yang tadinya menjengkelkan telah berubah. Ia langsung menghampiri Cinta dengan wajah prihatin.

“Apakah…. Kau sakit, mbak?”, tanya pemuda itu dengan di liputi wajah cemas.

Cinta beringsut gontai, berusaha mencapai tempat tidur dengan susah payah, dan ia pun jatuh terduduk lunglai di sana.

Ditelinganya terngiang-ngiang pertanyaan yang sama, tetapi bukan dari pemuda itu yang bertanya, melainkan mama nya Sekar Rahayu Sukmawati.

.

.

.

Pov Cinta

“Apakah….Kau sakit?”, tanya mama cemas.

Mama berdiri berdiri di belakang punggung ku yang membungkuk anggukan westafel dan muntah-muntah di sana.

Setelah tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan dari mulutku, aku menegakkan tubuh ku. Kemudian aku beringsut begitu saja dari kamar mandi, meninggalkan mama ku tanpa menoleh.

“Apa kau salah makan Cinta anakku?”, tanya mama sambil ikut membuntuti ku.

“Atau masuk angin? Kecapean? Atau….?”.

Aku menuju tempat tidur lalu duduk menyandar di kepala ranjang. Aku tetap diam tidak menjawab, dan hanya menatap mamanku tanpa berkata-kata.

Berusaha menjelaskan apa yang terjadi tanpa suara.

Saat itu naluri seorang ibu membuat mama ku bisa memahami apa yang sedang menimpa ku.

“Oh…! Ya Allah”, pekik mama gemetar.

Mama sampai mengulurkan tangan nya untuk bertumpu pada dinding. Merasa lantai yang dipijaknya tiba-tiba oleng.

“Kau….Kau tidak hamil kan, Cinta anak ku?”.

“Aku memang hamil”, sahut ku datar, seolah-olah baru saja menyampaikan berita biasa saja. “Sudah satu bulan”.

Mama tercenung, kaget sekaligus terperanjat. Mama malah meremas-remas rambutnya dan memegangi dadanya, beeusaha menahan rasa sakit di dadanya.

“Mengapa, Cinta? Mengapa kau lakukan itu, anakku?”, erang mama terpukul. “Kau masih kuliah! Baru semester enam, kau hancurkan masa depan mu!”.

“Aku bosan diperlakukan seperti boneka”, sahut ku dingin. “Aku capek dianggap sebagai anak kecil melulu. Aku ingin menunjukkan pada mama, aku sudah dewasa. Sudah bisa mengandung anak sendiri”.

Mama meraung histeris, merasa kehormatannya sebagai ibu telah dikoyak-koyak dengan kejam.

.

.

.

“Hikkksss…. Hikkksss…. Hikkksss….”, suara tangisku membahana di ruangan kamar mandi.

Aku menangis terisak-isak mengingat kembali kenangan ku bersama mama sebulan yang lalu, menyesali semua kesalahan ku yang telah terjadi.

Aku kembali terbayang semua kejadian-kejadian yang lampau yang membuat penyesalan seumur hidup ku.

Aku dan Robi sama-sama kuliah di jurusan Akuntansi di salah satu Universitas swasta di Ibukota.

Kami berdua satu angkatan dan kebetulan juga mengambil mata kuliah yang sama.

Sejak awal perkuliahan atau semester pertama, Robi. Atau lengkapnya Robi Hermawan, adalah pria muda yang tampan yang mencuat nama nya diantara mahasiswa baru lainnya saat itu.

Garis-garis di wajahnya tampak tegas dan kuat seperti dipahat di batu cadas yang kokoh. Rambutnya yang pendek dengan potongan crew cut sangat cocok dengan gayanya yang flamboyan. Hidung mancung, dagu persegi dengan ceruk di tengahnya. Bibir yang tipis, alis yang hitam dan tebal, kulit yang putih bersih dengan tinggi badan 180 cm. Mempunyai dada yang sixpack dan otot-otot yang menonjol keluar karena rajin ngegym dan berolahraga.

Belum lagi ditambah ia menggemari beladiri taekwondo, olahraga beladiri yang membutuhkan ketahanan fisik prima, sekaligus simbol kejantanan laki-laki.

Penampilannya selalu trendy dengan gaya pakaian anak-anak zaman sekarang, banyak para gadis di kampus ku terpukau dengan penampilan nya.

Bahkan seisi kampus gempar membicarakan ketampanannya. Terutama para mahasiswi, yang baru maupun senior, ramai menggunjingkan Robi, bersaing untuk memperebutkan perhatiannya.

Aku sama sekali tidak menyangka diri ku yang justru dipilih Robi. Aku saat itu sedang berjalan menuju ke perpustakaan, ketika itu Robi melompat dan menghadang jalan ku.

“Hai, kenalin gue Robi, siapa nama mu cantik?”, kata nya dengan bergaya cool sambil mengulurkan tangan nya.

“Cinta”, sahut ku tersipu malu menyambut uluran tangan nya.

“Nama yang cantik seperti orangnya yang cantik bak peragawati. Kamu harus jadi pacar ku”, goda nya percaya diri.

Aku terperangah kaget melihat ulah dan tingkahnya, tidak ada seorang pun yang tidak berdebar didekati oleh Robi.

Tapi jika dengan cara seperti ini, aku betul-betul tidak siap, apalagi langsung ditembak untuk menjadi pacarnya.

Aku hanya tersenyum gelagapan, seakan tidak menyangka begitulah cara Robi melancarkan rayuan mautnya.

“Paling-paling Robi hanya sekedar menggoda”, pikir ku saat itu.

Aku justru pergi meninggalkan nya sambil geleng-geleng kepala tanpa meninggalkan jawaban apa pun. Membuatnya hanya bisa berdiri mematung sambil memperhatikan ku pergi, aku sempat menoleh sejenak ke belakang dan tertawa geli melihatnya seperti itu.

Tetapi ternyata Robi tidak main-main dengan ucapannya, ia setiap hari selalu mendekati ku seolah ia tidak rela aku pergi jauh dari nya.

Setiap kuliah bubar, Robi berdiri menunggu ku di pintu keluar dengan gaya flamboyan nya, membuat teman-teman wanita sekelas ku terkesima.

Ia menyandarkan punggungnya ke tembok dan berdiri bertumpu dengan satu kaki, sementara sebelah kakinya ditekuk melekat di dinding. Kaos dan celana jeans jadi andalan melekat di tubuh nya yang atletis, membuat setiap gadis melirik menginginkannya.

“Mengapa bukan gadis lain?”, tanya ku pada nya, saat kami sedang santai di kantin kampus.

“Kamu percaya bahwa body chemistry tidak bisa dipaksakan?”, sahut Robi santai.

“Sejak pertama kali melihatmu, seluruh sel di sekujur tubuh ku menjerit menginginkanmu”.

Tentu saja aku merasa tersanjung, ditaksir oleh Robi sungguh seperti memperoleh piala lambang supremasi dari pertandingan yang ketat. Tanpa perlu bersaing, aku berhasil mengalahkan semua mahasiswi di kampus yang juga mengidolakan Robi.

Sejak Robi terlihat selalu jalan berdua dengan ku, ternyata tidak ada seorang pun yang mencibir.

Semua seperti memahami mengapa Robi menambatkan hatinya pada ku. Aku cantik, cerdas, dan anak orang kaya. Aku pantas mendapatkan Robi yang tampan dan juga anak pengusaha sukses.

“Kalian benar-benar pasangan ideal”, kata Resti sahabat sekaligus teman sekelas ku, saat aku menceritakan bahwa aku sudah jadian sama Robi.

Sejak itu pula aku menjalin percintaan dengan Robi, dan semua gadis terpaksa menyingkir dengan rela karena tidak pantas bersaing dengan ku, meskipun diam-diam mereka masih menggoda Robi dengan lirikan-lirikan nakalnya.

Nama ku juga semakin dikenal, menjadi buah bibir oleh para mahasiswa di kampus ku.

Meskipun aku sudah resmi menjadi pacar Robi, tidak menghalangi para mahasiswa di kampus ku untuk mendekati ku dan berusaha menarik simpati dan perhatian ku.

Dan memang diantaranya ada yang nekat, tidak seperti perempuan yang lebih bersikap malu-malu pada Robi, tapi sebetulnya pengen dipilih oleh nya. Dan diantara para pria yang nekat itu bernama Toni menunjukkan gelagat tertariknya dengan ku.

Prinsip mereka, selama cincin belum melingkar di jari manis ku atau bahkan selama janur kuning belum berdiri, siapa pun berhak merebut ku dari tangan Robi, istilah mereka masih milik bersama.

Toni yang juga merupakan anak orang yang tajir dan terpandang nekat mendekati ku, ia mencoba pdkt dengan ku dengan mengajak ku ke kantin, menawarkan diri mengantarkan ku pulang, bahkan dengan lancang menggandeng tangan ku. Toni seakan ingin menunjukkan pada ku kelebihan nya dibandingkan Robi pacarku.

Melihat hal itu membuat Robi marah, ia menantang Toni dengan penuh kemarahan. Perkelahian pun tak terhindarkan Toni babak belur sampai pingsan di hajar oleh Robi.

Wajar sih babak belur dihajar oleh Robi yang memegang sabuk hitam Taekwondo dan sudah beberapa kali memenangi kejuaraan Taekwondo, bahkan pernah mewakili Indonesia di kejuaraan Taekwondo di Jepang yang di ikuti 30 negara peserta.

Walau sudah ada salah satu korban keganasan Robi dalam mempertahankan ku dari pria-pria pengagumku, masih ada saja yang berani melakukan pdkt, entah itu dari mahasiswa satu angkatan sampai mahasiswa senior.

Robi tidak tinggal diam, setiap orang yang ingin melakukan pdkt langsung dihadiahi oleh nya dengan bogem mentah, dia tidak pandang bulu semua ia sikat dari mahasiswa seangkatan bahkan mahasiswa senior pun babak belur oleh nya jika berani-berani menggoda dan mendekati ku.

Prinsip Robi jangan coba-coba membangunkan macan tidur, siapa yang berani mendekati apalagi menyentuhku? Pasti berakhir dengan tubuh dan wajah babak belur hingga membuat para pria-pria mundur teratur dan tidak berani lagi mengganggu dan mencoba mendekati ku.

“Kau hanya milik ku, Cinta”, ujar Robi meradang setiap kali selesai menghajar saingannya.

“Kau hanya milikku! Takkan pernah ku biarkan lelaki lain menyentuh mu!”.

Robi mencengkeram kedua bahu ku dengan tangannya yang kokoh. Ditatapnya mata ku dengan cinta yang berkobar-kobar.

“Dan ingat, Cinta”, ucap Robi tegas.

“Jangan pernah berikan diri mu kepada lelaki lain!”.

Robi merengkuh ku ke dalam pelukannya mendekap ku kuat-kuat seolah ingin melebur diri ku ke dalam dirinya.

Aku jadi semakin sayang dengan kegigihan nya untum mempertahankan ku dari gangguan pria-pria pengagum ku.

Aku melabuhkan kepala di dada Robi yang bidang, aku merasa di cintai dan dilindungi.

Sikap Robi yang meledak-ledak dan kasar justru membuatku semakin memujanya. Aku yang memiliki kepribadian yang rapuh seperti menemukan benteng yang kokoh untuk menjauhkan ku dari segala mara bahaya. Aku seakan mendapat perisai yang bisa melindungi ku dari semua ancaman.

Semakin lama aku semakin tergantung pada Robi. Memasrahkan diri sepenuhnya kepada Robi, kepada pemuda yang mencintai ku dengan cara menguasai.

Lelaki yang memiliki ku dengan cara memonopoli dan menyiksa tapi membuat ku nyaman, menjerat hati dan kaki ku.

Aku tidak sanggup melepaskan diri dari nya, apalagi berpaling darinya, sama seperti yang dilakukan mama kepada ku.

Suatu hari aku mengajak Robi main ke rumah dan respon mama terhadap Robi biasa saja dan tidak menunjukkan ketidaksukaan nya mungkin anggapan mama hubungan kami sebagai teman satu kampus yang sama-sama belajar mengerjakan tugas kuliah.

Tetapi setelah beberapa kali ia main ke rumah, mama mulai menunjukkan sikap ketidaksukaannya kepada Robi, apalagi mama sering memergoki ku selalu diantar pulang Robi, mungkin saat itu mama sudah bisa membaca hubungan kami berdua bukan hanya sekedar teman biasa melainkan kami sudah berpacaran.

Apalagi saat malam itu, Robi datang dengan pakaian yang bagus, rapi dan terlihat macho karena ingin menemani ku ke pesta ultah Resti sahabat ku, membuat mama semakin membenci Robi.

Sepulang dari acara pesta ultah Resti sahabat ku mama ku mulai menginterogasi sejauh mana hubungan ku dengan Robi.

“Duduk, Cinta. Ada yang perlu mama tanyakan pada mu, nak?”, perintah mama seperti mau mengorek informasi dengan wajah yang dingin dan serius.

Aku yang masih mengenakan gaun pesta kini mengikuti perintah nya kemudian mengambil tempat duduk persis di depan mama.

“Siapa, pemuda itu yang sering main ke sini?!”, tanya mama tegas.

“Robi, maksud mama?”, aku menjawab pertanyaan mama.

Aku mulai mengerti arah omongan mama, walau masih ada keraguan apa yang ingin mama tanyakan.

“Siapa pun namanya?!”, sahut mama ketus. “Ada hubungan apa kau dan dia?!”.

Aku memandang mama dengan sorot mata resah, seolah maling yang tertangkap basah. Rasanya aku ingin lari tapi sudah ketahuan, terpaksa aku bertahan duduk, siap menerima hukuman.

“Aku dan Robi….”, sahut ku terbata-bata.

Aku meremas-remas tanganku sendiri yang mulai basah karena tegang, takut, bingung campur aduk menjadi satu.

“Dengar, Cinta”, gertak mama tidak sabar.

Tanpa memberi ku kesempatan untuk menjelaskan. Nalurinya sebagai ibu sudah sangat memahami apa yang sedang melanda ku.

“Mulai sekarang tinggalkan pemuda itu. Jangan percaya pada cinta picisan seperti ini. Jangan sampai masa depan mu hancur karena terperosok rayuan laki-laki!”.

Aku menundukkan kepala ku dalam-dalam, tidak mampu menjawab, membantah bahkan melawan mama.

“Tinggalkan pemuda itu!”, ucap mama sekali lagi dengan tegas.

“Dan jangan pernah ajak dia kemari lagi! Kau dengar, Cinta?”.

Perlahan aku mengangguk. Mesti tidak yakin untuk apa aku mengangguk.

Mama lupa bahwa seusia ku memiliki emosi yang meledak-ledak, aku menyimpan jiwa pemberontak di balik sikap ku yang patuh, semakin dilarang malah akan semakin dilanggar.

Click to expand…

.

.

.

Beberapa hari kemudian….

“Memangnya dunia ini hanya selebar rumah mu?”, protes Robi berang.

“Keliru kalau mama mu pikir bisa menghalangi atau bahkan membunuh cinta kita! Kita bisa pacaran di mana saja!”.

Aku memandang Robu dengan penuh kekaguman dan cinta sepenuh hati, aku memuji keberanian yang dimiliki nya.

Aku yang lemah dan tidak berdaya seperti menemukan pahlawan yang siap membela ku.

Aku merasa demikian aman berada di dekatnya, seperti mendapat dukungan untuk memberontak pada mama ku.

Aku mengikuti kemauan Robi untuk pacaran diam-diam di luar sepengetahuan mama.

Dan tentu saja jadwal kuliaj tidak seperti jam sekolah di SMU yang serba teratur dan tepat waktu, masuk pagi pulang siang.

Jadwal kuliah lebih tidak menentu, kadang- kadang kuliah pagi, besok kuliah siang, istirahat sebentar, lalu dilanjutkan dengan kuliah sore.

Semua itu membuat ku semakin intim dengan Robi dan justru membuat kami susah untuk dipantau mama, jelas mama tidak mungkin mengawasi kegiatan ku di kampus secara terperinci setiap hari.

Aku memiliki kesempatan lebih banyak berduaan dengan Robi. Selesai kuliah, aku tidak langsung pulang ke rumah, aku dan Robi mencari-cari tempat untuk berduaan, entah itu di mal, cafe, bioskop, mobil, di mana pun.

Pacaran di luar rumah tanpa pengawasan orang tua justru lebih berbahaya. Aku dan Robi malah lebih leluasa untuk mengekspresikan kemesraan kami, bahkan kami sudah terbiasa melakukan petting.

Rumah Robi yang selalu sepi dan kosong menjadi tempat favorit kami untuk memadu kasih, tampat yang tepat untuk menyatukan benih cinta kami, tanpa takut diganggu orang lain.

Tidak terasa jalinan cinta kami sudah tiga tahun lamanya, selama itu pula kami pacaran tanpa sepengetahuan mama, kami pacaran backstreet kata anak jaman now.

Latar belakang keluarga yang sama-sama memiliki persoalan membuat kami semakin terpaut.

Robi yang selalu kesepian karena rumah tangga orangtuanya yang tidak harmonis, sementara aku karena merasa didominasi oleh mama, semua mesti ikut aturan mama, seperti layaknya tahanan yang mesti ikut aturan sipir penjara.

Kami terpagut dalam kumparan keadaan yang membuat kami saling tergantung satu sama lainnya.

Robi membutuhkan ku untuk mewarnai hidupnya yang sepi, sedangkan aku membutuhkan Robi untuk melipur hatiku yang tertekan karena sikap dominasi mama.

Dan karena kedekatan yang intim itulah membuat hubungan kami semakin jauh, memetik kuncup bunga yang belum saatnya di semai, padahal saat itu kami baru berusia muda, aku baru 21 tahun dan Robi 22 tahun dan kami masih kuliah di semester enam.

Rumah Robi yang selalu sepi membuat kami senantiasa bebas untuk berbuat apa saja di sana, main PS, berenang, bahkan nonton film bokep pun sering dan selalu berahir dengan petting.

Click to expand…

Dan hari ini, aku diajak kembali ke rumah nya setelah kuliah pertama selesai jam 10, karena hari ini kuliah cuma 2 sks, Robi mengajak ku kembali main ke rumah nya.

Setelah main PS, ia mengajak berenang di belakang, setelah puas bermain dan berenang, ia kembali mengajak makan siang.

Entah mengapa aku hari itu sangat bergairah sekali, tubuh ke seketika berkeringat, gerah dan terbakar syahwat yang tinggi.

Robi tersenyum sambil mendekati ku, ia membisiki ku.

“Yuk.. Ke kamar ku, sayang!”, bisik nya pasa ku.

Ada sensasi tersendiri saat ia membisiki ku tadi, bulu kuduk ku berdiri meremang, nafasnya seakan menyentuh titik-titik sensualitas di tubuh ku.

Aku mengangguk dan bergendot manja padanya malah aku tanpa malu balas membisikinya. “Gendong!”, kata ku manja sambil merentangkan kedua tangan ku.

Robi dengan sigap membopong tubuh ku dengan penuh kelembutan hingga kami sampai di dalam kamarnya.

Di turunkan nya tubuh ku di atas pembaringan yang sangat empuk sebelum ia melangkah menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.

Tanpa malu-malu ia melucuti pakaiannya di hadapan ku hingga ia bugil tanpa secarik kain pun yang menempel di tubuh nya.

Ia seakan buru-buru langsung melompat ke ranjang, dan meyergap ku. Bibir nya langsung melumat bibir ku dengan ganas, tanpa memberi jeda waktu ku untuk bernafas.

Aku yang awalnya kaget dengan kebuasannya kini mulai terhanyut dan mengimbangi cumbuannya di bibir ku.

Ciuman yang penuh gairah dan nafsu kini menaungi kami berdua, saling melumat, saling menghisap lidah, bahkan kami berdua saling berebut menghisap ludah saliva yang keluar dari mulut kami berdua.

Sambil terus mencumbui ku tangan nya perlahan turun ke dada ku, mengusap dan membelai kedua bukit kembar ku membuatku semakin tinggi terbuai.

Aku malah membantu nya membuka kaos ku saat ia menarik keatas bajau kaos yang kugunakan dengan mendongakkan kepala. Baju kaos itu lolos terlucuti lewat kepala ku.

Senyumnya seakan meneduhkan ku, aku seakan pasrah saja saat ia dengan gampang nya membuka kait bh hingga kini tubuh bagian atas ku terbuka, payudara ku yang selalu ia mainin kini terpampang jelas tanpa ada halangan apapun.

“Makin indah saja tubuh mu, yang. Tetek mu semakin membuat ku bernafsu, yang”, puji nya sambil ia mulai mengelus pelan payudara ku.

“Aaahhhh…. Geli…yang…”, desah ku saat tangan nya mulai mengelus dan meremas pelan.

Robi dengan semangat mulai meremas perlahan payudara ku sambil bibirnya melumat habis bibirku.

Gairahku semakin menggebu, badanku sudah tak terkontrol lagi. Bergetar, menggeliat dan menggelinjang merasakan kenikmatan atas permainan tangan dan bibirnya.

Birahi ku sudah berada di ubun-ubun, apalagi aku menyadari bahwa cd ku pun sudah basah dan lembab akibat cairan lubrikasi ku yang keluar.

“Yang, aku lepas ya celana dan cd nya?!”, ucap nya dengan suara bergetar.

Aku mengangguk pasrah mengiyakan omongan nya, Robi mulai melucuti celana dan berikut cd ku dan aku malah membantunya dengan mengangkat kaki supaya memudahkannya menanggalkan sisa-sisa pakaian ku.

Kini aku sudah bugil sama halnya dengan Robi, tergolek pasrah dengan nafas yang tidak beraturan, jantung yang berdebar-debar, menantikan apa yang akan terjadi.

Sekali lagi Robi tersenyum sambil mengusap lembut pipi ku, sejenak kami saling diam menatap dengan pandangan yang dalam.

Kliatan nafsu birahinya seakan menghipnotisku untuk memberikan persetujuan pada nya.

Dari kecupan di dahi ku, kepala Robi mulai turun mengecup lembut leher dan dau telinga ku yang juga menjadi letak titik-titik sensual ku.

“Oooohh… Sayang geli….”, lenguh ku sambil mengeramasi rambut kepalanya.

Lalu Robi dengan bergairah mencium lembut bibir ku, ciuman yang panas saling ingin memberi dan menerima, sementara kedua tangan nya pun mulai bergerak aktif.

Tangan kanannya mulai meremas buah dada ku yang kini mulai menampakkan ketegangannya. Pentil susu ku, kurasakan semakin membengkak karena sudah terbakar gairah kini putingku membesar saat tangan kanan nya mulai memainkan puting susu sebelah kiri ku.

Sedangkan tangan kiri nya mulai mengelus dan meraba paha mulus ku, meraba nya dengan penuh perasaan tanpa tergesa-gesa.

Tubuh ku semakin gelisah, mendapat serangan dari tiga arah, seluruh tubuh ku seperti layaknya bensin yang gampang tersulut api berbeda dengan hari-hari sebelumnya hari ini aku lupa dengan semua, yang ada aku merasa melayang, terbang setinggi-tinggi nya.

“Oooohhhh…! Terus sayang….! Sedot sesuka mu, yang!”, rintih nikmat ku saat bibirnya mengisap puting susu ku.

Tubuhku kelojotan geli bercampur nikmat, aku malah menekan kepalanya dan menahannya supaya ia lebih lama memainkan payudara ku.

Tangan kanan Robi meremas buah dada kiri ku, bibir nya memainkan puting susu sebelah kanan ku sementara tangan kiri nya mulai melebarkan paha ku yang kini mengangkang dan sesaat kemudian tangan kiri nya itu sudah mampir di belahan bibir vagina ku yang masih perawan.

“Aaahhhh….! Oooohhhh…..! Terus Robi sayang…! Aaaaahhhh…. Aku mau pipis yang, aaaakkkkhhh”.

Hanya leguhan nikmat terlontar dari bibir mungil ku saat merasakan sensasi dari perlakuannya yang akan membuatku sesaar lagi akan mengalami orgasme pertama ku.

Robi semakin semangat memainkan titik-titik simpul seksualku, bibirnya semakin dalam menyedot dan sekaligus menghisap puting susu ku sementara tangan kanannya pun ikut memelintir puting susu sebelah kiri bahkan sesekali di pencetnya.

Sedangkan tangan kirinya mulai mencari itil ku yang sudah beberapa kali ia permainkan, membuat aku semakin memjerit histeris saat mengalami orgasme pertama ku.

“Ooooooouuugggghhhh….”, aku pipis…. Aaaaakkkkhhhhh…..”.

Seeeeeerrrr…… Seeeeeeerrrr…. Seeeeeerrrr……

Hanya satu kata yang bisa kukatakan saat itu adalah nikmat dan enak.

Aku terkulai lemas, pikiran ku terasa plong seakan beban yang selama ini kurasakan hilang seketika, yang ada kepuasan batim yang sulit ku ucapkan dengan kata-kata.

“Bagaimana sayang, enak kan?”, tanyanya sambil tersenyum puas karena bisa membuatku orgasme.

Aku mencubit dadanya dengan wajah yang tersipu malu, hanya anggukan kepala yang kulakukan saat itu, dan membenamkan wajah ku di dadanya yang bidang.

Click to expand…

Beberapa saat kemudian aku bangkit dan berbalik badan memposisikan diri ku diatas tubuh nya, menghadap penis nya yang sudah tegak berdiri menantang.

Jujur ini bukan hal baru bagiku, sudah sering kami melakukan petting saling memberi kepuasan satu sama lain tetapi aku masih bisa mempertahankan keperawanan ku.

Lalu dengan penuh nafsu ku jilati penis yang berukuran 18 cm dan berdiameter 4 cm itu, ku jilati kepala penis nya sehingga membuat Robi melenguh nikmat.

“Ooohhhh…. Enak sayang….”.

Mendengar erangan nikmat Robi aku makin semangat dan makin bernafsu, sambil tangan ku mengocok penis nya, aku mulai memasukkan penisnya ke dalam bibir ku.

Sluurrpphh…. Sluurrpphh…. Sluurrpphh….. Sluupphh….

Sluurrpphh…. Sluurrpphh….

Kepala ku mulai naik turun mengoral penis nya yang membuatku selalu terbayang. Sementara tangan kiri ku ikut mengocok naik turun.

“Oooohhhh…. Cinta Stop…! Nanti keluaarrr! Aaaahhhh…..”, lenguh Robi meminta ku berhenti mengoral penisnya.

Aku berhenti dan kemudian berbalik badan, kami kembali saling pandang tanpa bicara satu kata pun.

Lalu tiba-tiba tubuhku dipeluknya dan segera dibaliknya hingga kini posisi kami berganti menjadi Robi diatas tubuh ku dalam posisi missionary.

Robi memandang tajam mata ku bebrapa saat seakan meminta ijin pada ku, aku hanya mengangguk dan berkata.

“Pelan-pelan, ya!”.

Robi membelai pipi ku dan sesaat kemudian ia mencium kembali bibir ku agak lama dan setelah itu ia bicara dengan suara bergetar.

“Jika sakit ngomong, ya. Ini juga yang pertama bagi ku, yang!”.

Aku hanya memejamkan mata saat kurasakan penisnya sudah berada di depan bibir vagina ku, di gesek-gesekannya sejenak supaya aku kembali bisa mengeluarkan cairan lubrikasi ku.

Sambil terus menggesekkan penisnya di bibir vaginaku, Robi kemudian menggenggam penis nya dan mengarahkan serta menuntunnya ke bibir vagina ku.

“Aawww….”, pekik ku sambil meringis kesakitan saat kepala penis nya mulai membuka jalan, menuju vagina ku, 1/4 batangnya sudah memenuhi vagina ku yang kurasakan sesak dan penuh.

“Sakit, Rob!”, keluh ku.

Robi yang melihatku meringis kesakitan kemudian ia mendiamkan sejenak sambil ia mengelus rambut dan mendaratkan ciumannya ke kening ku.

Aku seperti merasa nyaman dengan perlakuannya barusan, sambil tersenyum aku berbisik pada nya.

“Ambillah sayang, aku ikhlas menyerahkan untuk mu”.

Aku kembali memejamkan mata dan berusaha pasrah dan rileks, aku tahu ini bakalan sangat sakit dan merupakan kebanggan bagi kaum perempuan tapi rasa sayang ku menutup kesadaran ku saat itu, aku menanti dengan berdebar menyerahkan kehormatan ku pada lelaki yang sudah menaklukan hati ku.

Melihat aku dengan pasrah di bawah membuat Robi mantap untuk memasukkan penis nya lebih dalam lagi hingga bisa merobek selaput darah ku.

Lalu ia menghentakkan pinggulnya dengan keras sehingga membuat ku menjerit kembali.

“Aaaaaawwwww….. Aduh…..! Aaaaaahhhhkkkk….”.

Aku merasakan penis nya seperti merobek selaput tipis yang berada di dalam vagina ku, penuh dan sesak yang kurasakan serta sakit yang tak terperihkan melebihi sakit ku pada saat datang bulan, bahkan sakit nya mengalahkan jari ku tergores pisau sekali pun hingga membuatku menitikkan air mata.

Robi yang menyadari bahwa kau kesakitan, ia mendiamkan penisnya bersatu di dalam vagina ku beberapa saat.

Ia hanya menatap ku diam sambil menyeka air mata ku yang menetes. Lalu sesaat kemudian Robi mengecup kembali kening ku dan membelai pipi ku.

Aku bisa sedikit tersenyum pada saat itu, sedikit bisa melupakan rasa sakit dan perih di vaginaku.

“Masih sakit, sayang?!”, tanya Robi lagi.

“Iya. yang! Masih sakit, pelan-pelan ya!”, sahut ku meringis.

“Tahan bentar yang! Nanti juga hilang kok sakit nya”.

Aku mengangguk dan kembali memejamkan mata, terasa kedutan dan denyuta penisnya di dalam vagina ku membuat sensasi sendiri.

Robi mulai perlahan-lahan menarik keluar penisnya sampai 1/4 batangnya kemudian memasukkannya kembali seluruh penisnya ke dalam vagina ku.

“Ooouuuggghhhh…. Robi….”.

Aku menahan rasa nyeri yang masih terasa di vaginaku, sprei di ranjang Robi sampai kusut berantakan karena ku tarik-tarik dan ku remas-remas ketika menahan sakit dan nyeri.

Beberapa kali pompaan akhirnya aku sudah bisa menikmati persetubuhan ini, vagina ku terasa penuh dan sesak, dan rasa sakit dan perih berkurang mungkin karena cairan kewanitaan ku yang mengalir dari dalam memperlancar keluar masuknya penisnya, malah aku merangkulkan kaki ku supaya ia semakin dalam menghujamkan penis nya.

“Aaaahhhh…. Robi…. Enaaaak sayaang terus yang sudah nggak sakit lagi….Oooohhh”.

Mendengar aku melenguh kenikmatan membuat Robi tersenyum dan semakin semangat melakukan pompaan di vaginaku.

Ia juga mendesah nikmat sambil memuji ku.

“Aaahhh…. Ooohhh…. Enak banget memek kamu yang kontol ku seperti terjepit dan diremas-remas….”, erang Robi.

Ploookkk….. Ploookkk….. Ploookkk…..

Ploookkk….. Ploookkk….. Ploookkk…..

Ploookkk….. Ploookkk….. Ploookkk…..

“Aaaahhhh….. Uuuuhhhh….. Ooooohhhh…..”.

Aku mendesah dan merintih nikmat, sekujur tubuh ku merasakan bergetar dan kelojotan, karena akan mendekati klimaks ku yang paling terenak dan paling berkesan dalam hidup ku.

“Oooohhhh…. Robi! Terus sodok vaginaku…. Sedikit lagi aku mau pipis, yang!”.

“Aku juga Cinta sayang, aku mau sampe juga… Barengan saja sayang!!”.

Semakin cepat ritme pompaan Robi, maka semakin dekat pula aku mendapatkan klimaks ku, lalu saat ia menghujam kan penisnya sedalam mungkin mata ku mendelik ke atas. kepala ku sampai mendongak dan tubuh ku bergelinjangan serta berkelojotan semakin tak terkendali hingga aku berteriak kencang saat menyambut orgasme ku yang kedua.

“AAARRRGGGHHHH…… Robi…! Aku keluuuuuaaaarrrr……!

SEEEERRRR…… SEEEERRRR….. SEEEERRRR…… SEEEERRRR…..

Robi mendengar ku sudah mendapatkan orgasme, makin mempercepat kocokan penisnya ke vagina ku, semakin bertenaga dan dalam hingga tubuh ku berguncang-guncang dibawah menahan laju gerakannya yang cepat, hingga ia menghentak dan menghujamkan penisnya sampai mentok ke rahim ku dan beberapa saat kemudian ia pun berteriak sambil menyebut nama ku.

“Aaaarrrrgggghhhh…. Cinta, aku keluuuuuaaarrrr…….”.

CROOOTTT….. CROOOTTT….. CROOOTTT….. CROOOTTT….. CROOOTTT….. CROOOTTT…..

CROOOTTT…..

Sebanyak 7x semburan sperma nya kurasakan mengisi rahim ku, bercampur menjadi satu dengan cairan kewanitaan ku yang tadi keluar duluan.

Terasa panas dan nikmat di dalam rahim ku, aku merasa telah menjadi milik nya selamanya, begitu juga dirinya telah sepenuhnya menjadi milik ku.

Benih cintanya yang di semai di rahimku tidak terlalu ku pikirkan dampaknya, kalau aku hamil jelas ia bapak dari janinku nantinya dan kami bisa bersatu untuk selama-lamanya.

Kedua kelamin kami bersatu dalam tubuh ku, sensasi kedutan dan denyutan dari kelamin kami masing-masing membuat sensasi nikmat yang membuatku ketagihan dan tidak akan bisa melupakannya.

Sampai akhirnya penisnya keluar dengan sendirinya, tercabut sendiri keluar bersama sperma nya dan cairan ovum ku yang sedikit berubah menjadi warna merah muda, warna darah perawan ku.

Aku sempat memperhatikan bentuk vagina ku yang meninggalkan bekas bercak darah di seputar paha dan bibir vagina ku, serta kain sprei ranjang pun ikut tercetak bekas darah perawan ku yang mulai mengering.

“Makasih sayang, makasih karena kamu telah memberikan keperawanan mu pada ku, aku jadi semakin sayang padamu, Cinta”.

Kata-kata Robi semakin melambungkan ku, semakin membuatku yakin dan tidak menyesal karena menyerahkan kehormatanku yang paling ku jaga.

“Aku juga sayang kamu, Robi. Aku tidak menyesal telah menyerahkannya pada orang yang sangat kusayangi yaitu kamu, aku sekarang sepenuhnya milikmu, hati bahkan nyawaku, jangan kau tinggalkan aku setelah apa yang kuberikan padamu”.

Aku lalu membenamkan wajahku ke dalam pelukannya, Robi mendaratkan ciumannya ke ubun-ubun kepala ku sambil mengelus dan mengusap lengan tangan ku.

Bersambung

END –  Pelarian Kisah Cintaku Part 4 | Pelarian Kisah Cintaku Part 4 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 3)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 5)