Pelarian Kisah Cintaku Part 38

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 38

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 38 | Pelarian Kisah Cintaku Part 38 Start

Chapter 38. Selamat Tinggal Cintaku, Keluargaku Dan Juga Semua Kenanganku

Cuplikan chapter sebelumnya…

Sesampainya di kantor Polsekta Depok, aku meminta ijin kepada petugas jaga yang sedang berdinas. Setelah menunggu sesaat aku diperbolehkan untuk membesuk suamiku dengan alasan ada hal yang sangat penting yang mesti kusampaikan kepada suamiku. Melihat Mas Adit, hatiku bercampur aduk. Rasa sayangku padanya tak bisa kututupi, karena dialah lelaki yang kini bisa menghapus bayang-bayang mantan kekasihku yang pengecut itu, karena dia juga aku bisa bangkit dari keterpurukanku. Namun, mendengar bahwa Mas Adit menikah lagi tanpa sepengetahuanku seakan membuat luka baru, hatiku bagaikan tersayat-sayat, perih dan sakit rasanya.

“Dek, ada apa?” tanyanya kebingungan. “Wajahmu terlihat sedih?”

Aku hanya diam, bibirku keluh dan mulutku tak kuasa bersuara, hanya desis dan gumaman disertai suara isak tangisku. Dengan tangan gemetar aku menyodorkan amplop surat berwarna putih padanya, dan seketika aku memeluknya sebagai bentuk perpisahan.

Teramat berat tetapi aku mesti mengambil keputusan dan jalan ini demi melihat kebahagiaannya. Dengan sedikit mendorong tubuhnya, aku segera keluar ruangan tersebut, dengan bercucuran air mata.

Sambil menoleh sejenak, aku hanya bergumam tanpa bersuara.

“I love you, Aditya Febriansyah.”

#######​

.

.

.

Beberapa jam sebelumnya….

Lokasi : Rumah Pramudya

“Praaanggg…”

Mendengar suara nampan jatuh seketika menghentikan pembicaraan mereka di ruang kerja Pramudya. Sekar berdiri dan segera membuka pintu. Sementara seorang ART berjalan tergesa-gesa setelah mendengar suara nampan jatuh tadi.

Dan…

Tampak sebuah nampan terbuat dari stainless, kini telah kosong. Semua isinya, berhamburan di lantai keramik itu. Cangkir-cangkir kopi itu, telah kosong dan isinya tumpah dan meluber. Sedangkan pisang goreng dan berbagai kudapan pun ikut tercecer dan berserakan di lantai berkeramik mewah tersebut.

Sekar sempat melihat Cinta berlari ke luar dari rumah mereka, dan kini Cinta sudah berada di depan halaman rumah.

Sekar bergegas, ia berlari untuk mengejar Cinta putri kesayangannya itu.

Namun, sayang!

Sekar terlambat mencegahnya. Putrinya, sudah keburu naik taksi dan mobil taxi yang ditumpanginya sudah berjalan meninggalkannya.

“Cinta….!” teriak Sekar memanggil putrinya.

Pramudya, Gunawan, Yoed dan N4W1, kini sudah berada di halaman depan rumah itu. Mereka semua menyaksikan kepergian taxi tersebut tanpa sempat mereka cegah.

“Pa, Cinta…Pa.” seru Sekar pada suaminya. “Mama yakin, Cinta tadi mendengarnya.”

Sekar memeluk tubuh Pramudya.

“Iya, Ma.” sahut Pramudya membujuk istrinya. “Kamu tenang dulu, Ma!”

Gunawan, Yoed dan N4W1 hanya bisa tertegun menyaksikan semua itu. Entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing?

Gunawan lantas menelepon seseorang dari suaranya ia sepertinya sedang menghubungi istrinya.

Sementara itu, Yoed dan N4W1, hanya diam, ekspresi keduanya seperti orang yang merasa bersalah dengan kejadian ini.

########​

.

.

.

Pov Adit

Entah kenapa? Aku merasa gelisah, pikiranku tidak tenang dan perasaanku berubah jadi tidak enak.

Seorang Polwan dan seorang petugas lainnya, memasuki ruang tahanan, lalu keduanya berjalan ke arah tempatku berada.

“Bapak Adit!” seru Briptu Gadis memanggil. Polwan berpangkat Briptu yang sempat dikenalkan oleh petugas di sini, ketika pertama kali aku mendekam di jeruji besi.

“Ya, Briptu Gadis.” sahutku menjawab panggilannya.

Seorang polisi membuka gembok dan memintaku keluar dari balik sel tahanan tersebut.

“Ada kunjungan dari istri Bapak.” ucapnya memberitahu. “Ayo ikut saya, sekarang!”

Aku lantas mengikuti Briptu Gadis, berjalan menuju ruang khusus tamu tahanan.

Ceklek…

Pintu ruangan terbuka, aku masuk ke dalam, sementara Briptu Gadis menunggu di depan pintu dan menutup kembali pintu tersebut.

Cinta tertegun beberapa saat dengan wajah yang gembira setelah melihatku, begitu pun denganku. Kami berdua saling memandang, dengan penuh kerinduan.

.

.

.

Namun, beberapa saat kemudian….

Tampak jelas, perubahan ekspresi wajahnya. Dari awalnya senang dan bahagia, berubah menjadi muram dan sedih.

Tampak ada kesedihan yang menaunginya.

Itu terlihat dari ekspresi wajahnya yang sedih karena air matanya telah bercucuran dari kedua sudut matanya.

Aku merasakan keganjilan dari sikap istriku sekarang, dan memunculkan pertanyaan dalam hatiku. “Ada apa dengan kamu, Dek? Apa yang telah terjadi, hingga kamu jadi sedih?”

Akhirnya, aku tak kuasa menahan keresahanku, dan segera bicara dengannya.

“Dek, ada apa?” tanyaku kebingungan. “Wajahmu terlihat sedih?”

Cinta hanya terdiam, hanya terdengar suara gumaman dari bibirnya disertai suara isak tangisnya. Kulihat tangannya gemetaran, ketika Cinta menyerahkan amplop surat berwarna putih tersebut kepadaku. Setelah itu, Cinta memelukku dengan pelukan yang sangat erat, seakan pelukan ini adalah pelukan terakhir kami.

Beberapa detik lamanya, kami berdua terhanyut dalam pelukan yang sangat erat. Aku dan Cinta seperti tak ingin melepaskan pelukan kami, terus berpelukan mesra.

.

.

.

Namun, tiba-tiba…

Cinta melepaskan pelukannya dan dengan sedikit mendorong tubuhku, ia segera keluar ruangan tersebut, sambil bercucuran air mata.

Sejenak Cinta menoleh kembali ke arahku, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia berlalu meninggalkanku, yang masih tertegun dengan keanehan sikapnya barusan.

“Surat apa ini?” tanyaku dalam hati.

Aku lantas membuka amplop surat yang tadi diberikan oleh Cinta, lalu membacanya.

Degh!!!

Tanpa bisa kutahan lagi, air mataku tumpah, setelah membaca surat tersebut.

Rasa sedih, dan kehilangan mulai menghinggapiku relung hatiku. Perasaan bersalahku semakin meningkat dan membuatku tertunduk lesu dengan kenyataan yang ada sekarang. Menduakan cintanya dengan menikahi Tasya pasti telah menggoreskan luka yang dalam padanya. Tetapi semua sudah terjadi dan tidak mungkin aku bisa menyalahkan terus diriku dan menahan Cinta. Aku hanya bisa menyesali keputusan yang telah kuambil dan yang membuatku makin merasa bersalah, kenapa Cinta mesti tahu dari orang lain, bukan dari mulutku sendiri?

Memang penyesalan selalu datangnya belakangan.

Tidak ada penyesalan yang datang duluan. Kecuali, menyesal ketika berjalan duluan di depan sobat-sobat lainnya, menginjak tai sapi. Pastinya kita akan mengomel atau menggerutu kesal. “Nyesel gue duluan di depan, kenapa bukan si Deqwo atau Kuciah saja yang duluan di depan? Mungkin mereka yang nginjekin tai sapi itu.” (TS said)

Sambil berurai air mata, aku menjerit dalam hati meneriakkan nama istriku. “Cintaaaaaa.”

“Aku janji akan selalu mencintaimu, menjagamu, membimbingmu walau tanpa kamu tahu dan sadari. Akan kulakukan semua itu sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai seorang suami.” ucapku membatin dalam hati.

Ceklek…

“Pak Adit!” seru suara merdu dari arah belakangku memanggil namaku. “Maaf, waktunya kunjungan sudah habis. Mari saya antar kembali ke sel tahanan!”

Aku menyeka air mataku dengan kedua tanganku, berusaha tetap sabar dan kuat menghadapi permasalahan hidupku.

“Sebentar, Briptu Gadis!” Sahutku memberitahu. “Ijinkan aku meminjam telepon untuk menghubungi istriku.”

Sambil tersenyum, Briptu Gadis menjawab. “Saya tanyakan terlebih dahulu, ke Bapak Kapolsekta, Pak. Pak Adit, tunggu di sini saja!”

Aku menganggukkan kepala.

.

.

.

Beberapa menit kemudian….

Briptu Gadis memberitahu bahwa aku diperbolehkan untuk menelepon keluargaku. Lalu, Briptu Gadis mengajakku ke ruangan Kapolsekta Depok.

Tok… Tok… Tok…

“Masuk….!” perintah suara dari dalam ruangan Kapolsek.

Aku mengikuti Briptu Gadis masuk ke ruangan Kapolsekta Depok.

“Saya membawa Pak Adit, menghadap Bapak!” lapor Briptu Gadis pada atasannya.

“Terima kasih, Briptu!” jawab atasannya dengan penuh wibawa. “Oiya, Briptu Gadis. Tolong bikinin kopi, ya! Enak, kopi yang kemaren yang kamu bikin, kopi apa itu, Briptu?”

“Siap, Ndan!” sahut Briptu Gadis lantang. “Itu kopi Sawaka, ‘Ndan. Segera akan saya buatkan, untuk Bapak dan Pak Adit.”

“Terima kasih, Briptu.” sahut Pak Kapolsek singkat.

Briptu Gadis berlalu pergi dari ruangan ini, meninggalkanku bersama Kapolsekta Depok yang bernama Kompol RSP27, sebuah sign name yang terpajang di atas meja kerjanya.

“Silahkan duduk, Pak Adit!” ucap Kompol RSP27 ramah dan berwibawa. “Kita ngobrol santai saja, jangan tegang gitu, Pak Adit!”

“Eh, iya. Pak.” sahutku sedikit grogi dan kaget setelah tadi sempat bengong dengan kewibawaan Kompol RSP27.

Selama hampir 1 jam aku dan Kompol RSP27 berbicara. Aku menjelaskan semua yang kutahu, kualami dan kulakukan sebelum dan sesudah peristiwa kecelakaan tersebut. Juga membicarakan keterangan Cinta yang memberitahukan bahwa mas Prima saat itu sedang memenangi tender mega proyek pembangunan MRT dan LRT oleh perusahaan yang dipimpin oleh alm. Prima. Beliau memberitahukan bahwa kasus ini akan diambil alih penanganannya oleh Iptu BL4CKDEV1L. Juga memberi saran untuk melakukan penundaan penahanan dengan membayar uang jaminan sebagai tahanan rumah selama kasus ini dalam proses penyelidikan kembali.

Setelah berbicara dengan Kompol RSP27, aku meminta ijin memakai telepon kantornya untuk menghubungi Tasya, istriku. Di telepon aku memberitahukan bahwa Cinta kabur, dan meminta secepatnya aku dibebaskan dari sini. Entah itu dengan membayar uang jaminan, sebagai tahanan rumah.

.

.

.

Lokasi : Penjara Polsekta Depok

Ruangan berukuran 4×4 meter persegi, kini menjadi hotel prodeo-ku, tempat tinggalku sementara, selama aku menjalani proses hukum.

Di ruangan ini, aku di tempatkan bersama seorang NAPI lainnya, bernama Cinthunks. Entah apa yang terjadi pada pemuda hitam manis ini, hingga ia mendekam di penjara? Namun, yang membuatku kagum pada pemuda ini adalah kesabaran dan keikhlasannya untuk menghadapi cobaan yang dialaminya, dia tetap selalu tersenyum. Terlihat gigi gingsulnya yang menonjol membuat kesan lucu padanya.

“Pede benar nih, orang!” batinku berkata.

“Mas, tak ceritain kenapa saya sampai masuk ke sini! Padahal saya tidak bersalah sama sekali.”

Ia sedikit menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memulai ceritanya.

Lalu ia mulai bercerita.

“Aku pergi ke Depok ini, untuk mengunjungi saudaraku. Namun, saat aku baru turun dari mobil. Tak lama kemudian, ada orang memakai baju yang sama persis denganku berlari seperti sedang dikejar-kejar orang. Lalu orang itu, menyerahkan sebuah dompet padaku. Saat itu, aku bingung dan bengong saja diberi dompet. Orang yang memberi dompet lari dari tempat itu. Namun, sesaat kemudian, dari kejauhan datang massa beramai-ramai menuju ke arahnya, sebagian dari massa itu membawa kayu. Aku tetap saja diam di tempat, karena memang merasa tidak bersalah. Dengan wajah bingung melihat mereka beramai-ramai.

“Nah, itu dompetku! ujar seorang ibu-ibu menunjuk ke arahku.

“Jadi kau copetnya!” seru seseorang sambil melayangkan pukulannya kepadaku.

Aku dipukuli, dihajar oleh massa tanpa sempat aku membela diri.

Tak lama kemudian, sirene mobil kepolisan menghentikan aksi massa tersebut, aku sudah tidak ingat lagi waktu itu dan tahu-tahu sudah berada di tempat ini.”

Dia terlihat meneteskan air mata setelah menyelesaikan ceritanya.

Aku merangkul bahunya supaya ia tenang dan bisa kuat menghadapi permasalahannya.

“Mas, boleh minta tolong nggak!” ucapnya padaku setelah ia sudah bisa tenang.

“Ngomong aja, Mas.” sahutku memberitahu. “Mudah-mudahan saya bisa bantu.”

“Saya minta bantuan mas, teleponin ke nomor ini.” ucapnya sambil menyerahkan nomor telepon padaku. “Itu nomor pacar saya mas. Namanya Deni Puspitasari.”

Aku mengangguk dan melihat nomor telepon tersebut 0812-XXXX-XXXX.

“Insya Allah, Mas.” ucapku memberitahu. “Mas akan bebas, nanti saya bantu Mas untuk bebas dari sini.”

########​

.

.

.

Lokasi : Di RS. Harapan Bersama-sama

Di ruang ICU, terlihat dua orang yang terbaring masing-masing di ranjangnya dengan alat-alat medis yang masih menempel di tubuh keduanya.

Nengsih tiap hari selalu datang dan menemani anak dan cucunya, ia mempunyai keyakinan akan kesembuhan putri dan cucu kesayangannya.

Nengsih kemudian membuka alquran dan mulai mengaji, melantunkan ayat-ayat suci. Suara Nengsih terdengar merdu dan membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa tenang dan damai.

Sementara itu, Anggoro yang duduk disamping istrinya mendengarkannya dengan penuh penghayatan, tampak bulir-bulir air mata mulai menetes dari kedua sudut matanya.

Sudah seminggu lebih, Ibu dan Anak itu masih terbaring koma di ranjangnya. Namun, perkembangan keduanya mulai menampakkan hasil yang menggembirakan. Tampak wajah keduanya mulai berseri-seri, tanda-tanda kehidupan mulai terlihat dari ekspresi wajah keduanya.

Ya, di atas ranjang itu adalah Dewi dan Akbar, yang masih terbaring koma.

.

.

.

Sementara itu, seorang wanita muda sedang berjalan menuju ruang ICU. Setelah sampai di depan pintu ruang ICU, ia sempat tertegun sejenak, ada keraguan di hatinya untuk masuk ke dalam.

Namun, ia memantapkan diri untuk masuk ke dalam. Di dalam ruang ICU tersebut, ia disambut oleh Nengsih dan Anggoro dengan senyum ramah, wanita itu mencium buku tangan Anggoro dan kemudian beralih ke Nengsih. Keduanya cipika-cipiki dan disertai pelukan mesra.

Wanita itu, mendekati ranjang Dewi terlebih dahulu. Sempat ia tertegun dan diam sejenak, lalu beberapa menit kemudian mulutnya komat-kamit, namun tak terdengar suara sedikitpun hanya terdengar suara helaan nafas dari wanita tersebut. Setelah selesai ia mencium kening Dewi dengan linangan air mata.

Kemudian, wanita itu beralih ke ranjang di sebelahnya. Ia pun melakukan hal yang sama. Dari bibirnya terlihat ia komat-kamit seperti sedang berdoa kepada Yang Maha Kuasa setelah itu, ia mencium kening Akbar.

Beberapa menit kemudian, ia berpamitan kepada Nengsih dan Anggoro dan meninggalkan Dewi dan Akbar dengan linangan air mata.

#######​

.

.

.

Pov Tasya

Mama Hanum masuk kembali ke dalam kamar setelah mengantar dr. Sussy. Resep obat dari dr. Sussy sudah di tebus tadi di apotek oleh Mang Ujang kini sudah berada di tangan Mama Hanum. Bik Minah masuk membawakan bubur ayam dan sop ayam.

“Setelah selesai makan bubur.” ucap Mama Hanum memberitahu. “Obat-obat dari resep dr. Sussy mesti kamu makan Sya, ada vitaminnya juga untuk kandunganmu.”

Selesai makan bubur dan memakan obat-obat dari resep dr. Sussy. 10 menit kemudian, rasa kantuk sekarang menyerangku. Aku tak kuat untuk menahan mataku untuk terus melek, dan lambat laun pendengaranku menjadi samar-samar, serta penglihatanku menjadi buram. Dan setelah itu, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.

.

.

.

Jam 14.00 wib….

Tubuhku seperti di goyang-goyang oleh seseorang, perlahan mataku mulai terbuka, dan ternyata Mama Hanum barusan yang menggoyangkan tubuhku.

“Eh, Ma.” seruku kaget melihat Beliau di hadapanku.

“Tasya sayang, bangun sayang!” seru Mama Hanum memberitahu. “Adit nelpon dari kantor Polsekta Depok, katanya penting.”

Aku segera bangkit dan menuju ke ruang tengah tempat telepon rumah ini berada.

“Ya hallo, Mas.” sahutku dari telepon rumah ini.

“Dek, Mas minta tolong, kamu hubungin om Yoed dan om N4W1 sekarang! Barusan mas ngobrol dengan Bapak Kapolsekta. Bahwa, mas bisa bebas sekarang juga, dengan menandatangani berkas penundaan perkara dan mesti membayar uang jaminan. Mas tunggu segera!” sahut Mas Adit dari ujung telepon sana.

“Iya, Mas. Secepatnya adek telepon om Yoed untuk mengurus segalanya. Berapa uang jaminan yang dibutuhkan? Akan adek transfer ke rekening om Yoed?” sahutku menjawab omongan Mas Adit.

“Oiya, Dek. Mas ada kabar tidak enak, nih. Tadi Cinta datang membesuk mas kedua kalinya. Namun kali ini, Cinta terlihat sekali berubah sikapnya pada, Mas. Ia lalu menyerahkan surat dan pergi dengan berlinangan air mata. Ternyata dalam suratnya, Cinta sudah mengetahui semua Dek. Dan saat ini, ia pergi, kabur dari rumah kontrakan, Dek. Entah ke mana ia perginya? Mas sangat khawatir dengan dia dan bayi dalam kandungannya, mas takut terjadi apa-apa pada mereka.” sahut suamiku lirih menceritakan kaburnya Cinta dari ujung telepon sana.

“Kapan Cinta terakhir datang membesuk, Mas Adit?” tanyaku pada Mas Adit kemudian.

“Sekitar 1 jam 30 menit yang lalu, Dek. Memangnya kamu bertanya untuk apa, Dek?” sahut Mas Adit bertanya balik.

“Menurut perkiraan adek, Cinta kemungkinan baru saja pergi ke luar dari kota Depok. Adek yakin sebelum pergi, Cinta kemungkinan besar mampir terlebih dulu ke RS. Harapan Bersama-sama. Dia ingin melihat kakak ipar dan keponakannya yang masih terbaring koma, untuk terakhir kalinya.”

“Ohhhh…!!! Kalo begitu kemungkinan Cinta masih di RS atau sekarang sedang menuju ke terminal.” sahut Mas Adit di saluran telepon sana.

“Tepat Mas. Kemungkinan sekarang sedang menuju terminal. Mas jangan khawatir deh, adek akan lakukan dua hal penting sekarang. Yang pertama; Memastikan Mas Adit bebas malam ini, dan yang kedua; Mencari keberadaan Cinta.” sahutku memberitahu rencanaku pada suamiku.

“Ok sayang. Mas percayakan semua pada kamu. Mas, nggak mau nyesel kedua kalinya karena nggak bisa melindunginya. Makasih sayang, kamu udah mau membantu, Mas.”

“Mas bahagia, adek ikut bahagia. Kalo mas sedih, adek juga ikut sedih Mas. Dan adek mau tunaikan janji adek pada, Mas.”

“Makasih Sya. Oiya, mas baru ingat. coba kamu aktifkan GPS. HP yang dipegang Cinta telah mas aktifkan GPS-nya, supaya kalo terjadi apa-apa padanya, mas tahu keberadaannya.”

“Ok, Mas! Nanti adek coba telusuri Cinta lewat GPSnya, semoga aja nomornya tidak diganti ya, Mas. Dan, satu lagi mas. kamu akan jadi papa. Aku hamil, Mas.” sahutku dari line telepon rumah menjawab omongannya barusan.

“Yang benar Dek. Alhamdulillah…! Mas bahagia sekali dengernya. Rasanya, mas pengen segera lihat kamu, sekarang!”

“Iya, Mas. Sabar ya, Mas. Adek usahakan Mas Adit bebas secepatnya, pasti itu mas, i love you, Mas.”

“Love you too. Assalamualaikum w.w, Dek.”

“Waalaikum salam w.w, Mas.”

Aku menutup saluran telepon tersebut, mama Hanum yang sedari tadi ikut berada di sampingku lalu merangkulku.

“Kalian mesti sabar ya, Sya.” ucap mama Hanum menasehati. “Hadapi ujian ini dengan kepala dingin, jangan pake emosi! Tadi papa Gunawan memberitahu bahwa Cinta sudah mengetahui pernikahan kalian. Dan Cinta kabur dari rumah mamanya.”

“Iya, Ma.” sahutku menanggapi. “Tasya sedih. Kenapa Cinta sampai kabur pada saat Mas Adit butuh dia? Tapi Tasya juga ngerti apa yang Cinta rasakan saat ini.”

“Kamu sekarang lakukan yang diminta oleh suamimu, Sya!” sambung mama Hanum. “Kita bebaskan Adit terlebih dulu dari sana, secepatnya!”

“Iya Ma. Tasya mau ke atas dulu!” ucapku memberitahu. “Ngambil HP dan hubungin Om Yoed untuk segera membebaskan Mas Adit.”

Mama Hanum menganggukkan kepala sebagai tanda ia mengijinkanku.

Aku lantas berjalan ke kamar kami yang berada di lantai 2.

Setelah sampai di kamar kami, aku menemukan HPku dan ternyata batterenya kosong.

“Duh malah habis battere lagi,nih!” gerutuku kesal. “Mesti pinjem HP mama Hanum kalo begitu.”

Segera kucolokkan charger HPku ke stop kontak supaya batterenya bisa kembali terisi penuh, dan kembali lagi ke bawah menemui mama Hanum.

.

.

.

Satu jam kemudian….

Aku sudah meminta om Yoed untuk segera membebaskan Mas Adit dengan memberikan uang jaminan yang ku-transfer lewat rekening Beliau.

“Ma, untuk masalah Mas Adit, Insya Allah malam ini sudah bisa bebas dengan status tahanan rumahsebagaimana diinformasikan oleh Om Yoed tadi.” ucapku menjelaskan perihal suamiku ke mamanya. “Dan, untuk melacak keberadaan Cinta juga penting dan darurat sifatnya, Ma.”

“Alhamdulillah, Sya. Kalau begitu.” sahut mama Hanum bersyukur. “Maksudmu gimana, Sya? Bagaimana kita bisa melacak keberadaan Cinta sekarang?”

Aku lalu menunjukkan HPku pada Mama Hanum, memperlihatkan GPS yang berhasil kudeteksi.

“Ini lokasi Cinta berada ya, Sya!” tunjuk Mama Hanum senang. “Kalo begitu, kita segera samperin dia sekarang!”

“Jangan, Ma!” cegahku seketika, lalu aku menjelaskan rencanaku ke Mama Hanum. “Biar Tasya aja yang akan mendekatinya. Tasya yang akan menjaganya. Dan Tasya yang akan melindunginya. Tasya minta ijin Mama, Papa dan Mas Adit. Sekaranglahwaktunya Tasya menunaikan semua janjiku pada Mas Adit, Ma.”

“Sya, mama bangga dengan kamu.” seru mertuaku lantas ia memelukku dan mencium keningku. “Mama sayang sama kamu dan Cinta. Kalian berdua adalah menantu-menantu mama yang terbaik.”

“Terima kasih, Ma.” sahutku menjawab.

Tak bisa kucegah lagi air mataku kini tumpah menetes dan membasahi pipiku. Menangis karena bahagia juga sedih karena mesti berpisah dengan mereka demi menunaikan janjiku menjaga dan melindungi Cinta dengan segenap jiwa dan ragaku.

“Mas Adit, akan kujaga dan kulindungi Cinta dengan nyawaku sendiri. Ini untuk membuktikan sumpah dan janjiku padamu. Cinta sudah kuanggap seperti adikku sendiri dan sekaligus menebus dosa dan salahku kepada Ayu. Doakan aku dan Cinta akan baik-baik di sana ya, Mas!” batinku berkata.

######​

.

.

.

Pov Cinta

Setelah keluar dari RS. Harapan Bersama-sama, aku kemudian melanjutkan perjalananku ke terminal, setelah berhasil menyetop sebuah taksi.

“Tolong antar saya ke terminal, Pak!” seruku pada supir taxi memberitahu.

“Siap, Non.” sahut supir taxi tersebut.

Mobil pun berjalan menuju ke terminal di kota Depok.

Mobil taxi meluncur menuju tempat yang kusebutkan barusan.

Entah mau ke mana tujuanku? Aku pun bingung dan hanya bisa mengikuti kata hatiku untuk pergi dari kota ini. Pergi ke suatu tempat, untuk memulai kehidupan yang baru, lepas dari bayang-bayang Mas Adit atau pun keluarga besarku.

Lantas aku teringat terakhir kali tadi aku membesuk Mbak Dewi dan Akbar.

Aku sedang berjalan menuju ruang ICU. Setelah sampai di depan pintu ruang ICU, aku sempat tertegun sejenak, ada keraguan di hatiku untuk masuk ke dalam.

Namun, aku memantapkan diri untuk masuk ke dalam. Di dalam ruang ICU tersebut, aku disambut oleh Mama Nengsih dan Papa Anggoro dengan senyum ramah. Aku mencium buku tangan Papa Anggoro dan kemudian beralih ke Mama Nengsih. Kami berdua cipika-cipiki dan disertai pelukan mesra.

Aku mendekati ranjang Mbak Dewi terlebih dahulu.

Sempat aku tertegun dan diam sejenak, lalu beberapa menit kemudian…

“Mbak Dewi, Cinta datang menemui Mbak. Cinta kangen dengan mbak, kangen dengan nasehat mbak, kangen dengan kebersamaan kita beberapa hari lalu. Cinta berharap mbak berjuang demi Akbar, dia masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu dan mbaklah yang menjadi harapannya. Cinta akan terus mendoakan kesembuhan Mbak Dewi dan Akbar walaupun mungkin kita tidak akan bisa ketemu lagi, tetapi Cinta akan selalu mendoakan kebahagian kalian. Bangun dan bangkitlah mbak, Cinta mohon, demi almarhum Mas Prima. Mbak Dewi harus sembuh dan terus merawat Akbar, kalian berdua adalah harta yang berharga dari almarhum berjuanglah mbak, berjuanglah. Ya Allah, hamba mohon angkatlah semua penyakit yang diderita Mbak Dewi, berikanlah kesembuhan padanya supaya ia bisa menjaga dan merawat Akbar keponakanku yang sekaligus penerus keturunan dari almarhum Mas Prima. Hamba yang hina ini mengharapkan mukjizat dari-Mu. Amiien ya robbal alamin.”

Setelah selesai berdoa, aku mencium kening mbak Dewi dengan linangan air mata.

Kemudian, aku beralih ke ranjang di sebelahnya. aku pun melakukan hal yang sama.

“Hai jagoan, Tante! Bangun sayang. Bangkitlah dan berjuanglah demi mama dan papamu. Tante sangat sayang sama kamu, Akbar. Tante mohon bangun, bangunlah. Kita bisa main-main seperti dulu lagi. Ya Allah. Hamba memanjatkan doa kepada-Mu. Angkatlah semua penyakit yang saat ini dialami oleh Akbar, berikanlah kesembuhan kepadanya. Dia adalah harapan satu-satunya yang akan menjadi penerus dari almarhum Mas Prima. Kabulkanlah doa hamba-Mu yang lemah ini, Amiien ya robbal alamin.”

Ku cium kening Akbar dengan air mata yang berlinangan. Ada sebuah harapan untuk kesembuhan Mbak Dewi dan Akbar setelah mendengar cerita dari Mama Nengsih dan Papa Anggoro yang memberitahukan perkembangan kesehatan keduanya beberapa hari ini.

“Non, kita dah sampai di terminal.” ucap pengemudi taxi memberitahukan.

Teguran supir taxi itu seketika menyadarkanku dari lamunanku.

“Oiya, Pak.” sahutku menjawab. “Berapa ongkos taxinya, Pak?

“Empat puluh ribu, Non.” sahut supir taxi itu menjawab. ” Non bisa lihat harganya di sini! Tadi saya sengaja nyalahin argonya, biar Non tidak merasa keberatan dengan ongkosnya.”

“Nih. Pak. Ongkos taxinya!” ujarku sambil menyerahkan uang 50 ribu ke supir taxi. “Kembaliannya buat Bapak aja.”

“Oh, terima kasih, Non.” sahut supir taxi itu senang. “Mari saya bantu turunin tasnya, Non.”

“Ok, makasih Pak.” sahutku.

Aku segera keluar dari mobil taxi setelah pintunya dibukakan oleh supir taxi tersebut.

Tasku kini sudah berada di hadapanku, sempat bingung aku mau naik bus jurusan ke mana.

Kulihat beberapa bus jurusan Bandung sedang berjejer mengantri di sana, logo beberapa perusahaan bus pun ikut nangkring menunggu giliran berangkat.

“Mbak mau ke mana?” tanya seorang berusaha bersikap ramah padaku.

“Mobil RWG itu tujuannya ke mana, Mas?!” tanyaku sembari menunjuk mobil bus tersebut pada orang itu.

“Ke Bandung, Mbak,” sahutnya memberitahu. “Bus RWG, menjamin kenyamanan, keamanan, dan keselamatan penumpangnya.”

“Ok, Mas.” sahutku setuju. “Saya naik bus itu aja!”

“Mari Mbak saya antar, ke loket pembelian tiketnya!” ucap lelaki itu ramah.

Aku segera mengikuti lelaki itu, menuju loket pembelian tiket.

.

.

.

30 menit kemudian…

Aku sudah berada dalam bus RWG, duduk di kursi penumpang no. 7 sesuai tiket yang tadi kubeli.

Bus RWG perlahan-lahan mulai bergerak melaju meninggalkan terminal.

Air mataku ikut turun.

Ketika, bus yang kutumpangi ini, mulai melaju meninggalkan kota Depok. Sekaligus meninggalkan cintaku, keluargaku dan juga semua kenanganku.

“Mas Adit, maafkan atas keputusan adek meninggalkanmu. Sungguh adek sangat mencintaimu, namun adek mesti memilih jalan ini demi kebahagian kalian berdua. Adek mendoakan semoga kalian berdua bahagia.” lirih batinku.

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 38  | Pelarian Kisah Cintaku Part 38 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 37)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 39)