Pelarian Kisah Cintaku Part 35

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 35

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 35 | Pelarian Kisah Cintaku Part 35 Start

Chapter 35. Adit Tersangka…?

Cuplikan chapter sebelumnya…

Pov Sekar

“Di mana aku sekarang?” Gumamku membatin. “Seumur hidup, aku belum pernah melihat tempat ini, itu tanaman apa? Kenapa akarnya berada di atas? Di mana ini? Taman apakah ini? Tempat ini memang indah, indah sekali.”

Kata-kata itu yang ada dalam hatiku, kata indah untuk menggambarkan suasana dan keadaan tempatku berada saat ini. Pelangi tampak begitu indah di hadapanku. Mataku memandang sekeliling, berusaha mengenali di manakah aku berada saat ini? Tetapi, tetap saja aku tidak ingat dan tidak tahu sama sekali di manakah aku berada saat ini?

Semilir angin berhembus sepoi-sepoi sempat membuatku merasakan nyaman berada di sini!

Sejauh mataku memandang hanya terlihat hamparan rumput yang hijau membentang. Tak jenuh bahkan semakin membuatku nyaman berada di tempat ini. 100 meter di depanku ada sebuah sungai, aku melangkah menuju sungai itu, hingga aku sampai di sisi sungai. Rasa haus membuatku ingin meminum air itu, lalu kutangkupkan kedua tanganku untuk menampung air sungai yang sangat jernih itu.

Glek..

Glek..

Glek..

Aku meneguk air sungai itu, segar sekali rasanya setelah meminum air tersebut.

Dari seberang sungai aku melihat seorang bocah lelaki, usianya sebaya dengan putra sulungku. Prima kecil sangat menyukai pantai, sungai maupun danau, saking senangnya ia sampai lupa waktu dan mesti dibujuk dulu supaya mau beranjak dari sana.

“Tapi kenapa bocah itu mirip sekali sama Prima?”Gumamku bertanya. “Benarkah itu Prima anakku.”

Dan tiba-tiba….

Bocah itu mendekat dan terus mendekat hingga terlihat jelas wajahnya, aku senang ternyata benar dia itu Prima putraku.

“Mama….!” Teriaknya kegirangan. “Prima kangen sama mama.”

“Iya, Nak.” Sahutku berteriak. “Mama juga kangen sama kamu. Ayo kita pulang, Nak!”

Prima menggelengkan kepalanya.

“Kenapa kamu nggak mau pulang, Nak?” Teriakku padanya.

“Ini rumah Prima, Ma.” Teriaknya menjawab. “Tempatnya indah, Prima suka, Ma. Di sini rumah Prima sekarang!”

“Tidak, Nak! Rumahmu bukan di sini! Ayo kita pulang, Nak!”

Prima sekali lagi menggelengkan kepalanya, dengan senyumnya ia melambaikan tangannya kepadaku.

Kemudian….

Prima membalikkan badannya membelakangiku, mulai melangkah menjauhiku.

“Prima…. Prima… Anakku kembali, Nak!” Teriakku memanggil-manggil namanya.

Aku terus memanggil namanya, karena jarak sungai yang membentang lebar dan tentunya sangat dalam aku hanya bisa berteriak memintanya pulang ketika Prima mulai bergerak meninggalkan tempat tersebut.

“Prima…. Prima….. Jangan pergi! Ayo kita pulang, Nak! Jangan tinggalkan mama!” Teriakku Histeris ketika Prima semakin menjauh dari sana.

Aku ingin mengejarnya dan menyeberangi sungai itu, tetapi bentangan sungai yang lebar dan dalam menciutkan nyaliku, dan aku hanya bisa berteriak-teriak histeris dari sisi sungai.

“Prima….. Prima…. Priiimmmaaa….”

.

.

.

Sekar Rahayu Sukmawati​

Pov Sekar

“Ma… Mamaaaa…” Seru mas Pramudya membangunkan, sambil ia menggoyang-goyangkan bahuku.

Aku sontak terbangun, mataku perlahan-lahan mulai terbuka. Kini kesadaranku mulai pulih dan menyadari kalau tadi hanyalah sebuah mimpi, aku langsung memeluk mas Pram, dia terlihat cemas dan khawatir karena perubahan sikapku yang tiba-tiba.

“Prima, Pa. Prima, anak kita!” seruku memberitahu. Lalu aku membenamkan wajah ke dada bidangnya.

Mas Pramudya mengelus dan mengecup keningku sejenak, seraya ia berkata, “Kamu mimpi apa, Ma? Tadi menyebut-nyebut Prima, anak kita.”

Lalu aku menceritakan mimpiku pada mas Pram, beliau mendengarkan tanpa menyela sepatah katapun hingga akhirnya selesai aku bercerita ia lalu memelukku erat, sangat erat seakan ia pun merasakan kehilangan sama sepertiku.

“Alhamdulillah, Ma!” Seru mas Pram menasehatiku. “Itu tandanya Allah dan Prima sayang pada mama, melalui mimpi mama disadarkan oleh Prima, dan itu juga petunjuk dari Allah buat mama, untuk mengikhlaskan Prima.”

Aku menjawab nasehat mas Pram dengan anggukkan kepala, merenungi semua perkataan suamiku, beberapa butir air mata menetes dari kedua sudut mataku.

“Kita doakan saja Prima, Ma. Semoga Allah Swt menerima semua amal ibadahnya selama hidupnya, dan dosa-dosanya diampuni oleh-Nya.” Sambung suamiku menambahkan. Mas Pram lalu menyeka air mataku. “Papa juga merasakan kehilangan Prima sama seperti mama, tetapi papa sadar bahwa kita hanya makhluk ciptaan-Nya. Hanya Dia-lah yang berhak menentukan takdir hidup dan mati makhluk ciptaan-Nya. Itulah ujian iman kita sebenarnya, Ma. Mempercayai Qodo dan Qodar merupakan rukun iman yang wajib kita yakini dan percayai sebagai hamba-Nya yang beriman.”

“Iya, Pa. Mama harus mengikhlaskan Prima,” sahutku dengan suara bergetar menahan tangis. “Mama tidak pantas menyalahkan takdir Allah Swt, karena Dia-lah Sang Maha Kuasa atas kehidupan dan kematian Prima, termasuk kehidupan dan kematian kita, Pa. Mama minta maaf sama papa dan yang lainnya karena semalam marah-marah sambil menghujat Sang Pencipta. Maafin mama ya, Pa.”

“Tanpa mama meminta maaf pun, Papa dan yang lainnya sudah memaafkan mama kok, karena kami maklum pada saat itu mama pasti syok melihat kenyataan bahwa Prima datang ke rumah kita sudah tidak bernyawa” Jawab suamiku dengan suara lembut tetapi penuh wibawa dan bijaksana, lalu ia mengecup keningku sejenak. “Mohon ampunlah kepada Allah. Doakan Prima supaya ia tenang di sana! Dan satu lagi, papa mohon mama merubah sikap. Mulai sekarang kita jalani kehidupan ini seperti saat papa jaya dulu, papa tidak ingin membebani tanggung jawab kepala keluarga kepada mama, biarkan itu menjadi tugas papa untuk membimbing kalian. Papa mohon, Ma mengerti dan mau memperbaikinya.”

Aku memandang wajah suamiku yang terlihat serius, meminta jawaban dariku. Dengan menghela nafas panjang aku bersuara, menjawab keinginannya dan harapannya.

“Iya, Pa. Mama mau melakukan apa yang menjadi harapan papa. Maafin mama yang telah membuat harga diri papa terinjak-injak dengan sikap mama yang keras dan otoriter. Jujur Pa. Mama ngga kuat mesti bersikap seperti itu, hati mama menangis saat melihat papa lemah saat itu.”

Suamiku langsung memelukku, rasanya hatiku melayang saat ini, pelukannya benar-benar tulus tanpa dibuat-buat. Mas Pram membisikiku, “Terima kasih, Ma. Berkat perjuangan dan pengorbanan mamalah, papa bisa bangkit seperti dulu lagi. Pengorbanan mama sangat berarti dalam kehidupan keluarga kita. Papa beruntung mempunyai istri setangguh mama yang berani berkorban mengangkat kembali martabat dan kejayaan keluarga kita. Papa sayang kamu, Ma.”

Aku tersenyum bahagia, semakin kueratkan pelukanku. Tidak ada satu kata pun lagi yang terucap dari bibir kami berdua, hanya helaan nafas kami yang terdengar saling bersahutan.

Aku kini mulai berangsur-angsur tenang. Dalam hatiku aku memanjatkan doa. “Ya Allah, hamba sadar semua ini adalah cobaan untuk menguji keimanan kami. Hamba mohon, maafkan kekhilafan hamba-Mu yang hina ini, karena sempat membuat harga diri suamiku terinjak-injak, sempat memusuhi dan membenci kelakuan Cinta putri bungsu kami, dan terakhir sempat meragukan dan mempertanyakan kekuasaan-Mu. Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosaku, dosa-dosa kedua orangtuaku, dosa suami dan anak-anakku. Hamba ikhlaskan titipan yang telah Engkau tititpkan, Engkau tarik kembali karena Engkaulah Sang Maha Kuasa. Hamba ikhlaskan dan kembalikan lagi semuanya kepada-Mu. Amiiien ya robbal alamin.”

“Dan papa bangga sama kamu, Ma.” Kata mas Pram memberitahu. “Mama bisa legowo dan bijaksana memberikan maaf pada Cinta. Sungguh membuat papa terharu melihat kalian berdua sudah baikan seperti dulu, papa bahagia, Ma. Ada hikmah dibalik duka yang kita rasakan, Ma.”

Mendengar suamiku berkata seperti itu, membuatku teringat kembali peristiwa beberapa jam lalu, saat Cinta membasuh kakiku dan meminta maaf atas semua kesalahannya, dan aku pun memberikan maaf padanya, kami berdua saling memaafkan satu sama lain.

Aku terbangun dan menyadari bahwa aku sedang berada dikamar tidurku, beberapa saat kemudian ARTku datang menemuiku sambil membawakan semangkuk bubur, semangkuk sop ayam, segelas air putih dan beberapa bungkus tablet obat-obatan.

“Nyonya, mohon maaf jika lancang.” Ucap Asih ARTku memberitahu. “Saya bawakan bubur, sop ayam, dan beberapa tablet obat dari dr. Yulli. Pesan dokter Yulli pada saya untuk membuatkan bubur dan memberikan obat-obatan ini, Nyonya mesti banyak istirahat.”

“Iya, Sih. Terima kasih.” Sahutku tegas. “Kamu taruh saja di situ!”

Asih menaruh nampan yang ia bawa tadi ke atas meja sofa di kamarku, lalu mau beranjak meninggalkanku keluar dari kamar tidurku.

Aku segera menegurnya, sebelum ia melangkah keluar.

“Sih!”, Seruku memanggil nama ARTku.

“Iya, Nya!” Jawab Asih dan seketika ia berbalik badan menghadapku.

“Suami saya bilang ngga sama kamu,” ucapku memberitahu, lalu mulai bertanya. “Kemana Tuan pergi?”

“Ngga, Nya!” Jawabnya singkat. “Tapi tadi sebelum pergi, Tuan berpesan pada saya untuk menjaga dan merawat Nyonya.”

“Yaudah kalau begitu.” Sahutku menanggapi perkataan Asih dengan kecewa. “Kamu boleh balik ke kamarmu, nanti jika saya perlu sama kamu, saya akan panggil kamu lagi, Sih.”

Kemudian Asih melangkah pergi keluar dari kamar tidurku.

Kini tinggal aku sendiri di kamar tidur, kembali aku merasakan kegelisahan yang sangat membelenggu jiwaku. “Kenapa pikiranku tidak tenang seperti ini? Apa yang sudah terjadi pada Prima, anakku?” Gumamku membatin.

Aku lalu berdiri dan melangkah ke sofa dimana di sana sudah ada nampan yang telah disiapkan oleh ARTku tadi.

Rasa lapar membuatku bisa menghabiskan semangkuk bubur dan semangku sop ayam yang hangat dan nikmat. Dan setelah itu meminum 3 butir pil yang di berikan oleh dr. Yulli.

Beberapa menit kemudian setelah perutku terasa kenyang dan kembali lagi ke ranjang, kini rasa kantuk menyerangku hingga aku tertidur pulas.

Jam 2:30 wib, dini hari….

Aku terbangun, badanku sudah merasa segar, mungkin karena efek obat yang kuminum sehingga aku tadi bisa tidur nyenyak.

“Hooaaamm…” Bibirku menguap sejenak, masih menyisakan sedikit mengantuk.

Lantas aku bangkit dan menggerakkan tubuhku seperti senam kecil melemaskan otot-otot tubuhku yang kaku. Setelah merasa enakkan, aku kemudian beranjak ke kamar mandi, mencuci mukaku biar semakin segar, dalam hati aku berniat, “mending aku ibadah sholat malam, biar hatiku tenang dan kondisi Prima putraku baik-baik saja.”

Dengan penuh semangat aku lantas berwudhu dan melanjutkannya dengan sholat tahajud, dan setelah selesai beribadah aku memanjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa.

Jam 3:00 wib, dini hari…

Mobil ambulance terdengar mengaung-ngaung memasuki pelataran rumah kami, segera aku memanggil Asih untuk bangun dan membukakan pintu.

Aku dan Asih segera menuju ke pintu depan, ketika pintu dibuka oleh Asih, betapa kagetnya aku saat melihat begitu banyak mobil yang terparkir di depan teras rumah, salah satunya mobil ambulance.

Dengan sigap petugas dari rumah sakit menurunkan keranda dari dalam mobil.

Dan, tiba-tiba….

Aku terperanjat kaget dengan mata melotot, dan mulutku menganga. Ketika melihat dari dalam mobil tersebut petugas ambulance menurunkan keranda mayat.

“Ada apa ini, Pa?” Tanyaku kebingungan. “Siapa di dalam keranda mayat itu? Siapa, Pa?”

Mas Pram langsung memelukku, aku seketika berteriak histeris dan meronta pengen lepas daru pelukan suamiku. Kudorong tubuh suamiku hingga pelukannya lepas dan menghambur ke keranda mayat tersebut.

Aku segera membuka keranda itu walaupun sempat dicegah dan dilarang oleh petugas ambulance. Dan setelah terbuka keranda mayat itu, terlihat seseorang yang terbujur kaku di dalamnya dengan ditutupi sehelai kain putih yang panjangnya sekitar 2 meter dan lebar 1 meter. Menutupi tubuh orang itu dari kepala hingga ke kaki.

Serta merta aku menyibak kain putih itu dan….

“Tidaaaaaakkkkk….. Ini tidak mungkin.” Teriakku histeris. “Prima, Prima… Bangun, Nak! Kamu hanya tidur, kan!

Suamiku berusaha memelukku, ia menahan tubuhku ketika petugas ambulance membawa masuk keranda mayat itu ke dalam rumah.

Aku terus meronta dan akhirnya bisa kembali lepas dari pelukan suamiku. Segera berlari masuk kembali ke dalam rumah. Saat aku sudah berada di dalam rumah, di hadapanku sudah terbaring jenazah putra kebanggaanku di atas sebuah kasur dengan di tutupi kain batik dari ujung kaki hingga ujung kakinya.

“Prima….” Seruku histeris menghambur. “Kenapa kamu tinggalin mama seperti ini, Nak. Kalian jahat kenapa bawa Primaku seperti ini! Kenapa Allah selalu mengujiku? Kenapa ya Allah, Engkau selalu membuat keluarga kami menderita? Engkau katanya Maha Kuasa kenapa mesti anakku ini yang Engkau ambil? Kenapa?”

“Ma, istighfar, Ma!” Ucap suamiku mengingatkan. “Jangan menyalahkan Allah, istighfar, Ma.”

“Apa….. Apa kau bilang?” Ucapku kesetanan marah. “Kamu itu tidak lebih hanya suamiku, aku yang mengatur hidupmu, tanpa aku tidak mungkin sekarang kau bisa punya perusahaan itu. Kamu hanya bisa diam dan lari kala itu, suami apa kamu, hah?”

“Ini juga anak tak tahu diri.” Ucapku menunjuk Cinta. “Bisanya hanya menyusahkan, membuat malu keluarga. Pergi kalian semua, pergi……!”

Pandangan mataku seketika memburam,

Dan tiba-tiba…

Bruuuukkkk….

“Har, Dit. Tolong bantu papa!” ucap suamiku samar-samar terdengar di telingaku. “Bantu papa bawa mama ke kamar!

Setelah itu aku sudah tidak ingat apa-apa lagi, dan baru menyadari ada suara tangisan tidak jauh dariku. Isak tangis dua orang perempuan di sisi kiri dan kananku.

Mataku mulai terbuka, bayangan yang tadinya buram kini mulai terlihat jelas dan nyata, aku baru menyadari kalau ternyata aku berada di atas ranjang tidurku.

“Mbak Jelita, mama sudah sadar.” Ucap suara di sisi kiriku yang kukenali adalah Cinta.

“Alhamdulillah, mama sudah sadar, Cin.” Sahutnya senang setelah melihat kondisiku yang sudah sadar. “Bentar Mbak mau beritahu papa dulu, biar papa tenang. Kamu temanin mama ya, Dek!”

Lantas Jelita pergi ke luar kamar mencari papanya dan meninggalkan kami berdua di kamar ini.

Cinta lalu memelukku erat, sambil terisak ia berkata, “Ma, maaa.. Maafin Cinta, Ma. Cinta telah membuat mama kecewa dan malu. Cinta mohon ampun sama mama atas semua kesalahan Cinta. Ma, maafin Cinta, Ma.”

Air matanya terus menetes hingga membasahi selimut yang menutupi tubuhku. Aku membelai rambutnya, seketika akupun menangis dan merenungi semua perkataannnya.

“Ma, aku mohon! Ampunin kesalahan Cinta, Ma.” Ucapnya terus memohon maaf padaku tanpa melepaskan pelukannya di tubuhku. “Cinta sadar kalau selama ini Cinta salah, mama melakukannya karena sayang pada Cinta, maafin Cinta, Ma.”

Aku masih mengelus rambutnya, lalu mencium keningnya. Cinta sedikit kaget dengan perlakuanku barusan, sambil menyeka air matanya ia mencium buku tanganku dan membantuku menggeser tubuhku untuk duduk bersender di sisi atas ranjangku.

Cinta mengambil baskom air lalu mencelupkan kain ke dalam baskom tersebut, kemudian ia menyibak selimutku. Dan tiba-tiba kakiku mulai ia bersihkan dengan lap tersebut dengan penuh ketulusan sebagai anak yang ingin berbakti kepada orangtuanya.

Aku begitu terharu melihatnya, air mataku tak sanggup lagi untuk kubendung, menetes membasahi pipiku.

Setelah semua tubuhku ia basuh dengan air hangat kemudia ia bersimpuh di bawah ranjang menghadapku sambil mencium buku tanganku.

“Ma, Cinta mohon ampun.” Ucapnya memberitahu. “Selama ini Cinta telah membangkang mama, melawan mama dan mengecewakan mama.

“Sini, Nak!” Seruku memanggilnya untuk bangkit dan duduk di sisiku. “Mama sudah memaafkan kesalahanmu, mama juga minta maaf ya, Nak. Jika cara mendidik mama membuatmu menjadi tidak nyaman dan merasa dikekang.”

“Iya, Ma.” Ucapnya langsung memelukku erat.

Aku sempat melihat suamiku yang entah sejak kapan ia bersama Jelita berdiri di sana! Mata mereka berdua berkaca-kaca, lalu mereka berdua mendekat ke arah kami.

“Ma, papa bangga sama kamu,” ucap suamiku memberitahu. “Kamu memang istri dan ibu terbaik di dunia, Ma. Papa sayang sama kamu, Ma.”

Lalu ia mencium keningku, setelah Cinta kaget mendengar suara mas Pram ia melepaskan pelukannya.

Subuh itu aku merasakan kedamaian bersama suami dan kedua putriku, sedikit membuatku tenang dan bisa tersenyum.

Click to expand…”Ma….” Seru suamiku sambil mengelus rambutku. Sektika aku tersadar daru lamunanku. “Sudahlah jangan melamun terus, ayo kita tidur lagi!”

Aku menganggukkan kepala.

Dan sebelum aku tidur kuucapkan kata perpisahan buat putra kesayanganku. “Mama bahagia melahirkan dan menjadi ibu mu, Nak. Tunggu kami semua di sana! Selamat jalan Prima, putraku.”

.

.

.

Sementara itu ditempat lain….

Pukul 8:00 AM waktu USA…

Di sebuah apartemen yang mewah di negara bagian U.S.A. (United State of America),

Seorang lelaki paruh baya sedang duduk di kursi singgasananya. Terlihat dari pakaian yang ia kenakan, pria setengah baya tersebut adalah seorang konglemerat. Ia duduk santai sambil menikmati segelas kopi hitam. Kemudian ia menyalakan korek api lalu menghisap cerutu . Sedangkan di sofa duduk dengan santai seorang lelaki muda berusia 22 tahun, lelaki muda itu adalah putra bungsunya yang kini tinggal bersamanya setelah beberapa minggu, ia sempat tinggal bersama mamanya di kota Boston USA.

Terlihat pria muda itu sedang berbicara melalui telepon genggamnya, terdengar suara pria itu berkata tegas dan serius.

“Ya hallo,” sahut lelaki muda itu menjawab panggilan telepon itu dari ponselnya.

“……”

“Bagus, jadi lelaki itu sudah meninggal, hahahah….,” sahut lelaki muda itu sambil tertawa senang, ia menjawab perkataaan si penelepon dari ujung telepon sana.

“……”

“Sekarang tugas kamu, ambil alih proyek mereka, bikin seolah-olah kita yang jadi menjadi rekanan mereka sebagai sub kontraktor proyek mereka padahal kita yang mengambil alih proyek. Kamu selesaikan misi selanjutnya, jangan sampai gagal.” Sahutnya menjawab telepon orang tersebut.

“…….”

“Belum saatnya saya pulang ke Indonesia, pelan-pelan kita hancurin semua keluarga besar Pramudya, kamu paham.”

“……”

“Cukup, untuk saat ini. Nanti tunggu perintah saya selanjutnya!” Ucapnya menjawab dengan tegas.

Pria itu menutup telepon nya, lalu mendekati papanya yang tersenyum setelah mendengarkan percakapan lewat telepon anaknya.

“Bagus, Nak. Kamu cepat belajar sama papa. Apapun caranya kita mesti berhasil mencapai tujuan? Walaupun dengan cara licik sekalipun, bisnis tidak mengenal teman. Ingat itu, Nak.” Nasehat lelaki paruh baya itu pada anaknya.

“Iya, Pa. Itu salah satu pembelajaran buatku.” Sahutnya lalu mengambil cerutu di meja tersebut dan menyalakannya.

ilustrasi cerutu Gurkha Black Dragon​

“Wow… Gurkha Black Dragon. Ini cerutu mahal, Pa!” Seru pemuda itu terperanjat.

“Hahaha….” Tawa pria setengah baya itu lebar.

“Ngga usah kaget gitu, Nak, hehehe.” Ucapnya jumawa. “Benar ini cerutu paling mahal di dunia, namanya cerutu Gurkha Black Dragon. Jenis cerutu ini hanya dijual di toko-toko khusus di seluruh dunia. Harganya cuma : US$ 1,150 / Rp 13,3 juta.”

“Serius Pa,” Ucap pemuda itu kaget. “Gila, harganya sama kayak kita beli sebuah ponsel I-Phone edisi terbaru, Pa.”

“Hahaha….”

“Ini cuma kecil, Nak.” Sambung pria setengah baya itu. “0, 0001 % dari hasil laba perusahaan kita, tenang saja, Nak. Cerutu ini buat menaikkan prestige dan martabat kita dalam dunia bisnis.”

Pemuda itu hanya nyengir malu di hadapan papanya, lalu ia mulai berkata.

“Oiya, Pa.” Serunya memberitahu. “Aku ingin kuliah saja di sini! Terima kasih ya, Pa. Sudah mengajakku kerja di perusahaan papa.”

“Kamu itu putraku, Nak.” Sahut pria separuh baya itu. “Semua usaha papa ini untuk kalian juga. Sekarang kamu papa latih biar menjadi penguaaha yang disegani semua pesaingmu, Nak. Papa mempersiapkanmu buat menggantikan papa kelak.”

“Terima kasih, Pa.” Ucap pemuda itu tersenyum senang. “Aku janji untuk membuat bangga papa.”

.

.

.

3 hari kemudian…

Lokasi : Ruang ICU RS. Harapan Bersama-sama….

Tampak Nengsih duduk sambil mengelus pipi putrinya, di sampingnya duduk Anggoro suaminya yang juga papanya Dewi Safirri yang kini masih terbaring belum sadarkan diri dari komanya.

Sesaat Anggoro berkata pelan pada istrinya untuk melihat Akbar Maulana Putra, cucunya yang juga masih terbaring koma.

“Ma, papa lihat Akbar dulu ya.”

Setelah mendapat jawaban Nengsih berupa anggukkan kepala lalu Anggoro melangkah mendekat ke ranjang sebelah.

Ditatapnya cucunya yang kini mulai terlihat berseri, walau masih belum sadarkan diri. Ia lalu mengusap pipi Akbar dan menciumnya sejenak. Bulir air mata mengalir turun dari kelopak mata Anggoro. Ia miris melihat putri dan cucunya terbaring koma tak berdaya. Sempat ia berdoa sejenak untuk kesembuhan putri dan cucunya sebelum ia tersadarkan dengan sebuah getaran ponselnya.

Sebuah pesan SMS masuk dari kantor Polsek Depok memberitahu bahwa akan ada pemeriksaan dan penyelidikan kasus kecelakaan Prima, dan mengharapkan supaya ia bersedia hadir untuk memberikan keterangan kepada pihak penyidik.

Setelah membalas SMS tersebut lalu ia kembali menemui Nengsih, memberitahukan bahwa ia akan pergi ke Polsek Depok.

.

.

.

Dua jam kemudian….

Lokasi : Kantor Polsek Depok…

Sekar, Pramudya, Jelita, Cinta dan Adit berada di Polsek Depok. Mereka semua memenuhi panggilan dari pihak penyidik kasus kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh Prima. Sementara Anggoro baru saja sampai di Polsek Depok beberapa saat lalu dan ikut masuk ke dalam.

Lalu semuanya dipanggil masuk ke ruangan oleh Briptu Nicefor dan mereka semua berjalan mengikuti Briptu Nicefor masuk ke dalam ruangan.

Di dalam ruangan telah menunggu mereka, dengan ramah Kompol RSP27 menyambut mereka satu persatu dan mempersilahkan mereka semua duduk.

Kompol RSP27 duduk berdampingan dengan Ipda Haris Ardiansyah, Iptu BL4CKDEV1L dan Ipda RAYxy. Kemudian Kompol RSP27 mulai membuka suara.

“Selamat datang Bapak dan Ibu sekalian di kantor Polsek Depok. Perkenalkan nama saya Komisaris Polisi RSP27 saya di sini sebagai Kapolsek Depok. Di samping kiri saya, mungkin sudah kenal Bapak dan Ibu, Inspektur Dua Haris Ardiansyah, Kanit Satuan Lakalantas Polsek Depok, di sebelah beliau adalah Inspektur Dua Rayxy, beliau adalah Kanit Reskrim Polsek Depok. Dan di sebelah kanan saya adalah Inspektur Satu BL4CKDEV1L beliau adalah Wakapolsek Depok.”

Ruangan ini hening sejenak, kemudian Kompol RSP27 mulai melanjutkan perkataannya.

“Untuk sementara kami informasikan kepada Bapak dan Ibu, bahwa kecelakaan lalu lintas yang dialami Bapak Prima sekeluarga yang terjadi 4 hari lalu, bukan kecelakaan lalu lintas biasa. Ada indikasi dari sabotase oleh pihak tertentu. Untuk lebih jelasnya nanti Bapak Ipda RAYxy selaku Kanit Reskrim yang akan menjelaskannya kepada Bapak dan Ibu sekalian.”

Lalu dengan anggukkan kepala Kompol RSP27 memberi waktu pada Ipda RAYxy untuk berbicara.

“Pada Bapak dan Ibu sekalian saya akan jelaskan secara singkat hasil penyelidikan dari Unit kerja saya bekerja sama dengan Unit Lakalantas di bawah pimpinan Bapak Ipda Haris. Hasil investigasi kami di lapangan setelah meneliti dan melihat barang bukti sebuah mobil Toyota Fortuner nomor polisi B 76 RAD bahwa di kendaraan tersebut terdapat kabel yang terputus. Dan setelah dicermati dan dicek langsung oleh tim bahwa itu sengaja dipotong oleh seseorang. Dari hasil pengecekan kami di lapangan baik di lokasi TKP maupun di rumah kontrakan Bapak Adit di alamat JL. Tanah Baru V, Tanah Baru, Beji, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.

Ternyata terdapat bukti adanya tumpahan oli di sana! Saat ini tim kami baru menyimpulkan sementara bahwa kasus kecelakaan yang dialami oleh almarhum Bapak Prima adalah disebabkan kabel rem yang terpotong sehingga terjadi kecelakaan maut tersebut. Untuk pengembangan kasus ini kami mengharapkan bantuan Bapak dan Ibu untuk memberikan keterangan kepada tim kami supaya memperlancar penyelidikan kasus ini. Hanya ini sementara yang dapat saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu, supaya lebih nyaman satu persatu dari Bapak dan Ibu akan kami minta menemui Briptu Nicefor yang ada di meja itu untuk memberikan keterangan, dan yang lain boleh menunggu sejenak di ruangan ini.”

Sekar lalu berdiri, ia lalu berjalan melangkah ke meja Briptu Nicefor.

Setelah dipersilahkan duduk lalu Briptu Nicefor mulai melakukan interogasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

“Nama Ibu?”

“Sekar Rahayu Sukmawati.”

“Apa hubungan Ibu Sekar dengan korban?”

“Almarhum Prima adalah anak kandung saya.”

“Saat kejadian apakah korban sempat menemui Ibu Sekar?”

“Tidak, Pak.”

“Kapan terakhir Ibu Sekar bertemu dengan korban?”

“Sehari sebelum kejadian, Pak. Ada pertemuan keluarga membahas masalah keluarga.”

“Masalah apa itu, Bu. Bisa Ibu ceritakan pada kami?”

“Masalah pernikahan Adit di Surabaya,”

“Apa hubungan saudara Adit dengan keluarga Ibu?”

“Dia adalah suami putriku yang bernama Cinta Rahayu Pramudya.”

“Pada saat itu ada kejadian apa di sana?!”

“Almarhum Prima sempat marah dan emosi kepada Adit karena menikah lagi dengan perempuan lain di Surabaya.”

“Jadi maksud Ibu korban sempat bertengkar dengan saudara Adit?”

“Betul, Pak. Ketika itu almarhum Prima menampar pipi Adit karena terbawa emosi.”

“Apa ada lagi yang lain setelah kejadian hari itu, Bu?”

“Tidak ada, Pak”.

“Ok. Saya rasa cukup,” ucap Briptu Nicefor memberitahu. “Bu Sekar boleh kembali ke tempat duduknya. Dan keterangan ibu ini saya tulis untuk melengkapi penyelidikan kami. Terima kasih.”

Lalu bergantian berturut-turut Pramudya, Anggoro, Jelita, Cinta dan Adit memberikan keterangannya kepada Briptu Nicefor. Dan selama lebih kurang 3 jam akhirnya selesai semua pertemuan pihak keluarga korban dengan aparat kepolisian Polsek Depok. Namun sebelum mereka pulang, Ipda Haris memberitahu dan mengajak keluarga korban untuk melihat kondisi kendaraan korban.

ilustrasi diambil dari mbah google​

Tampak mobil Toyota Fortuner B 76 RAD itu ringsek, terbayang oleh mereka yang melihat kondisi kendaraan tersebut betapa dahsyatnya benturan yang mesti dialami oleh Prima, Dewi dan Akbar.

Setelah menyaksikan dan melihat sendiri kondisi kendaraan Prima, mereka semua sepakat untuk menjenguk Dewi dan Akbar sebelum mereka masing-masing nantinya pulang, mobil mereka satu persatu ke luar dari kantor Polsek Depok menuju ke rumah sakit Harapan Bersama-sama.

.

.

.

Seminggu kemudian…..

Jam 20:00 wib….

Beberapa anggota dari kepolisian Sektor Kota Depok sedang memasuki halaman rumah kontrakan Adit dan Cinta di Depok. Dipimpin langsung oleh Ipda RAYxy, ia datang bersama 6 orang anak buahnya, lalu Ipda RAYxy memencet bel rumah tersebut.

Pintu rumah itu terbuka setelah dibukakan oleh Adit sendiri. Di sampingnya Cinta yang terlihat kebingungan dan panik dengan kedatangan polisi yang tiba-tiba.

Adit dengan tenang mempersilahkan tamunya untuk duduk. Hanya Ipda RAYxy dan 2 orang yang masuk ke rumah dan 4 orang polisi lainnya berjaga atau menunggu di luar ruangan.

Cinta pun ikut duduk menemani Adit, ia menggenggam lengan tangan suaminya karena panik.

Setelah duduk lalu Ipda RAYxy mulai menyampaikan maksud kedatangannya yang mendadak tersebut.

“Saya beserta anak buah saya menjalankan tugas kami sebagai penegak hukum untuk membawa Bapak Aditya Febriansyah ke kantor Polsek Depok, karena berdasarkan keterangan Bapak dan Ibu disertai investigasi dan penyelidikan kami di lapangan maka kami terpaksa menahan pak Adit, bukti-bukti mengarah ke Pak Adit sebagai tersangka. Pak Adit disangkakan menjadi otak di balik peristiwa kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh Bapak Prima. Dan ini surat penangkapan untuk Pak Adit”

Surat itu ia berikan kepada Adit dan diterima langsung oleh Adit. Sesaat ia membaca surat tersebut lalu ia berkata.

“Maaf, Pak. Saya tidak melakukan perbuatan keji itu,” ucap Adit menyangkal dan menolak tegas. “Saya tidak pernah berurusan dengan hukum sama sekali.”

“Tidaaaakkk…. Tidak mungkin suami saya pelakunya, Pak.” Jawab Cinta berteriak histeris membela suaminya. “Mas kenapa jadi seperti ini?”

“Nanti bisa Pak Adit jelaskan lebih lanjut di kantor polisi.” Ucap Ipda RAYxy tegas memberitahu. “Bawa Pak Adit ke mobil.”

Ipda RAYxy memerintahkan kepada kedua anak buahnya yang berada di dalam rumah.

“Bentar, Pak!” Ucap Adit memberitahu. “Saya mau menghubungi pengacara saya dulu.”

Setelah Adit menelepon pengacaranya, lalu ia berbicara dengan Cinta. “Dek Cinta, kamu hubungi papaku dan papa Pramudya sekarang. Bilang bahwa mas sekarang dibawa ke kantor Polsek Depok.”

Cinta lalu menelepon papanya, dan setelah menutup telepon lalu menghubungi papa mertuanya. Setelah selesai ia menghubungi papa mertuanya, Ipda RAYxy keluar rumah, Adit melangkah keluar diiringi oleh kedua anggota polisi tersebut.

Cinta mencoba menahan tangan suaminya sambil memohon-mohon kepada para polisi tersebut, bahkan ia sedikit berteriak-teriak minta supaya Adit tidak mereka bawa pergi.

“Mas Adit….. Mas.” Seru Cinta menarik tangan suaminya. “Jangan bawa pergi suami saya. Dia tidak bersalah sama sekali.

Tetapi tetap saja omongan Cinta tidak mereka gubris lalu mereka keluar.

“Mas Adit….Mas”.

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 35  | Pelarian Kisah Cintaku Part 35 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 34)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 36)