Pelarian Kisah Cintaku Part 33

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 33

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 33 | Pelarian Kisah Cintaku Part 33 Start

Chapter 33. Duka keluarga Pramudya

Cuplikan chapter sebelumnya…

Jam 22:30 wib….

Papa dan mama bilang sudah mengantuk dan Cinta dengan sigap. mempersilahkan kedua mertuanya tersebut masuk ke kamar tamu. Kamar tamu yang sebelumnya ditempati oleh mas Prima dan mbak Dewi, sudah dirapikan kembali oleh Cinta sesaat sebelum papa dan mama masuk ke kamar.

Setelah papa dan mama masuk ke kamar tamu, aku lantas mengajak Cinta masuk ke kamar tidur kami. Kemanjaannya ia perlihatkan saat kami cuma berdua di dalam kamar tidur. Pelukannya sangat erat menumpahkan semua rasa rindunya kepadaku, begitu pula denganku yang merindukan dirinya, setelah beberapa hari lalu, sempat melupakannya bahkan menikah dengan Tasya.

Aku baru menyadari bahwa keputusanku ini akan melukai perasaannya, entah bagaimana aku akan menyampaikan kepadanya, mulutku kaku, tubuhku bergetar, hatiku bimbang. Aku tidak kuat menyaksikan cintaku akan tersakiti dengan keputusanku ini.

“Ya allah, beginikah rasanya jika kita telah membohongi orang yang kita sayangi. Aku mohon berilah hamba jalan keluar yang terbaik, aku tidak bisa hidup tanpa mereka berdua.” Aku berdoa dalam hati.

“Mas Adit,” seru Cinta berbisik pelan.

Aku terkesiap kaget, pandanganku langsung mengarah kepadanya. Ku belai pipinya dan pandangan kami beradu, rindu kami malam ini begitu besar, tanpa kami sadar kepala kami saling mendekat satu sama lain dan sesaat kemudian bibir kami pun sudah saling melumat dengan penuh gairah yang menggebu.

“Mmmppphhh… Mmmppphhh… Mmmppphhh…”

Leguhan Cinta ketika bibirnya terus kulumat, sementara kedua tanganku dengan lincah mulai meremas kedua payudaranya. Saat nafsu kami sudah tinggi.

Tiba-tiba….

Kringg…. Kringg….

Handphone Cinta berbunyi, kami berdua sontak kaget. Buru-buru Cinta turun dari ranjang, lalu segera menerima telepon tersebut.

“Assalamualaikum wr.wb. Ya hallo, Pa.” Sahut Cinta menjawab panggilan telepon papanya.

“…………………”

“Iya, Pa. Sekarang mas Adit ada di rumah kontrakan kami bersama papa dan mamanya,” sahut Cinta menjawab dengan senang.

“…………………”

“Apa, Pa? Tidaaaaakkk…… Papa cuma bercanda, kan.” Sahut Cinta seketika berteriak di telepon genggamnya.

“Hiks…. Hiks…. Hiks….”

.

.

.

Pov Cinta

Aku sangat bahagia saat ini, kedua orangtua mas Adit telah merestuiku sebagai menantu mereka. Terlihat betapa mereka memperlakukanku dengan baik, tulus dan tidak dibuat-buat. Apalagi saat kami berkumpul di meja makan malam ini setelah selesai sholat maghrib berjamaah aku merasakan kedamaian dan kenyamanan bersama orang-orang yang kukasihi. Makan malam yang mengingatkan aku kembali saat-saat keluarga kami masih berkumpul menjadi satu keluarga besar.

Tetapi kebersamaan itu mesti berakhir sejenak karena mas Prima, mbak Dewi dan Akbar ingin pulang ke rumah mereka. Aku tidak bisa melarang atau mencegah mereka pulang, dikarenakan keadaan rumah kami yang kecil yang hanya mempunyai 2 kamar tidur, mereka bertiga mau tidur di mana. Belum lagi ada mertuaku yang juga perlu privasi untuk mereka beristirahat. Selain itu aku bisa memahami keinginan mas Prima dan mbak Dewi untuk pulang, karena merekapun ingin kembali ke kehidupan mereka sebagai satu keluarga yang utuh.

Walau terasa berat, aku mesti bisa menghargai keputusan mereka, kembali ke rumah mereka yang sudah beberapa hari mereka tinggalkan demi menemaniku selama suamiku ke Surabaya.

Dengan mata berkaca-kaca aku melepaskan kepergian mereka, sempat Akbar berontak ingin tetap tinggal denganku, itu terlihat dari gesturnya menolak saat diajak pulang ke rumah mereka. Ia meronta-ronta ketika ingin dipeluk papanya. Namun, berkat bujukan mbak Dewi akhirnya keponakanku itu luluh dan mau pulang kerumah mereka.

Aku mencium buku tangan mas Prima lalu kemudian memeluknya dengan erat, entah apa yang menyebabkan aku begitu berat melepaskan kepergian kakak sulungku ini.

Setelah itu aku beralih ke mbak Dewi, sempat ia memberikan nasehatnya kepadaku dengan berbisik saat kami cipika-cipiki. “Layani suamimu dengan ikhlas, maka hidupmu akan bahagia, Dek.” Aku menganggukkan kepala dan balas berbisik, “Terima kasih, Mbak. Adek merasa bahagia dengan kehadiran kalian di sini!”

Lalu aku memeluk Akbar, kucium pipi kiri dan kanannya, diapun tertawa-tawa dalam gendonganku kala itu.

“Ponakan tante ini cakep banget. Nanti ke sini lagi ya!” Kataku pada Akbar.

Ia menganggukkan kepalanya. “Akbal sayang tante Cinta.”

Mereka bertiga melangkah ke luar menuju mobil Toyota Fortuner yang terparkir di halaman depan. Aku dan mas Adit melambaikan tangan, saat mobil mereka perlahan-lahan maju meninggalkan halaman depan.

Kembali ke dalam rumah, mama dan papa mertuaku tersenyum. Mama memintaku duduk dekatnya, sebuah kantong kresek berada dihadapan kami. Mama kemudian membuka kantong kresek tersebut, dan ternyata adalah sebuah kotak yang masih tertutup kertas kado. Dan sebuah kotak lagi mama keluarkan dari dalam tasnya.

“Ini semua hadiah dari mama, untuk menantu mama yang cantik.” Ucap mama memberitahu. “Silahkan dibuka, semoga kamu menyukainya, Cin.”

Aku tersenyum sumringah, dengan mata berbinar penuh bahagia aku perlahan menyobek kertas tersebut. Terlihat sebuah kotak persegi setelah kertas kado tersebut tersobek memanjang. Lalu kubuka kotak tersebut dan ternyata isinya adalah sebuah gaun kebaya dan kain batik.

“Baju kebaya dan kain batik itu hanya simbol, Nak.” Ucap mama menjelaskan. “Itu warisan turun temurun dari leluhur mama, mesti diberikan kepada menantu perempuan mama jika salah satu anak lelaki mama ada yang menikah.”

“Oiya ini juga buat kamu, Cin.” Ucapnya sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna keemasan padaku. “Buka saja, itu buat kamu sebagai tanda sayang papa dan mama pada kamu sebagai menantu kami.”

Aku lalu membukanya dan ternyata isinya adalah perhiasan, gelang, kalung, anting-anting dan cincin dan semuanya emas murni 24 karat.

Air mataku seketika menetes, air mata kebahagiaan yang kurasakan saat ini, kekhawatiranku ternyata salah dan kini dihadapanku papa dan mama sudah benar-benar menerimaku dengan tangan terbuka.

Segera kupeluk mama mertuaku, dengan mengucapkan rasa terima kasihku telah diterima sebagai menantunya.

“Ma, terima kasih ya.” Ucapku Senang. “Hadiah-hadiah yang paling berkesan buat Cinta, Ma.”

“Nak Cinta.” Seru mama mertuaku saat kami berdua saling berpelukan. “Mama minta kamu bisa memaafkan semua kesalahan Adit. Apapun yang terjadi kamu mesti mengikhlaskan semua dan kembalikan kepada Allah Swt yang mengaturnya. Kamu adalah bagian hidupnya, papa dan mama sudah menerimamu sebagai menantu kami. Tolong ingat ini, papa dan mama akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian, kebahagian kalian adalah kebahagian kami juga, Nak.”

“Iya, Ma.” Sahutku senang. Walaupun aku tidak mengetahui arah perkataan mama tetapi dari kalimatnya, beliau ikut berbahagia jika kami berbahagia. “Cinta akan berbakti pada Adit. Sebagai seorang istri, Cinta akan menuruti perkataan suami, yang akan menjadi imamku dan anak ini.”

“Oiya, Cin.” Potong papa mertua. “Sudah berapa bulan kandunganmu, maafin perbuatan Adit ya. Kami sebagai orangtuanya tulus meminta maaf atas kesalahan Adit padamu.”

Aku terperanjat kaget, sejenak aku menoleh kepada mas Adit yang sama terperanjatnya denganku.

“Papa, Mama.” Potong mas Adit seketika. “Sudahlah jangan ungkit-ungkit kesalahan kami. Sekarang Adit tidak akan menyia-nyiakan istri dan anakku. Akan Adit didik merek untuk menebus semua kesalahan kami.”

“Kalau papa dan mama mau tahu usia kandungan Cinta.” Ucap mas Adit sejenak lalu ia menoleh padaku. “Dek, sudah berapa bulan kamu mengandung anak kita?”

Aku sedikit kaget dengan pertanyaan mas Adit, tetapi aku mesti menjaga kehormatannya dihadapan orangtuanya. Apa yang telah dia lakukan sudah sangat berarti buat hidupku? Aku mesti menjawab tanpa harus berbohong.

“3 bulan 20 hari, Ma, Pa.” Sahutku menjawab pertanyaan mas Adit sambil menundukkan wajah.

Mama mertuaku langsung memelukku, lalu ia menyeka air mataku yang tadi menetes. “Nak Cinta. Dengerin mama!” Ucapnya penuh kelembutan sebagai seorang ibu. “Kami tidak akan mengungkit-ungkit yang sudah terjadi, sekarang papa dan mama menanganggapmu sebagai anak menantu kami. Sini peluk mama!”

Setelah itu aku dan mama ngobrolnya santai, seolah tidak ada jarak antara kami berdua, beliau menganggapku seperti anaknya sendiri begitupun aku menganggap beliau seperti mamaku sendiri. Papa dan mas Adit tersenyum senang melihat interaksiku dengan mama sangat cair, hingga tak terasa waktu semakin malam, papa dan mama terlihat lelah dan mulai menguap.

Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan jam 22:30 wib. Lalu aku berdiri menuju kamar tamu setelah tadi meminta ijin untuk membereskan sebentar kamar tamu yang belum sempat kurapikan. “Rapi dan harum kamar ini, semoga papa dan mama senang tinggal bersama kami,” gumamku membatin dalam hati.

Aku keluar dengan perasaan senang, lalu memberitahu papa dan mama, kamar sudah rapi. ” Pa, Ma.”Seruku memberitahu. “Kalau mau istirahat, silahkan! Semoga papa dan mama betah di rumah kami ini.”

“Makasih ya, Nak.” Sahut mama mertua. “Pasti kami betah, apalagi mendapatkan menantu sebaik kamu, Cinta.”

Aku tersipu malu mendapatkan pujian dan sanjungan mama mertua, lalu kucium kembali buku tangan mereka berdua sebelum mereka meninggalkan kami di ruang tamu.

Sepeninggal papa dan mama, mas Adit keluar sebentar untuk merapikan mobilnya dan memarkirkannya di depan halaman rumah.

Setelah ia masuk dan mengunci pintu depan ia mengajakku masuk ke dalam kamar tidur. Aku membawa serta kado pemberian mama mertuaku, berjalan melangkah bersama suamiku sambil bergelayut manja di pundaknya.

Aku memperlihatkan kemanjaanku saat kami cuma berdua di dalam kamar tidur. Aku memeluknya erat, menumpahkan semua rasa rinduku padanya, begitu pula dengannya yang merindukan diriku.

Sempat aku melihat mas Adit seperti sedang menyimpan sebuah rahasia, tetapi aku tidak mau merusak suasana hati kami. “Nanti saja jika kami telah saling melepas kerinduan aku pelan-pelan akan bertanya padanya.” Ucapku berkata dalam hati.

“Mas Adit,” seruku berbisik pelan.

Dia terlonjak kaget, pandangannya langsung mengarah padaku. Mas Adit membelai pipiku dan pandangan kami beradu, rindu kami malam ini begitu besar, tanpa kami sadar kepala kami saling mendekat satu sama lain dan sesaat kemudian bibir kami pun sudah saling melumat dengan penuh gairah yang menggebu.

“Mmmppphhh… Mmmppphhh… Mmmppphhh…”

Leguhanku ketika bibirku terus dilumatnya, sementara kedua tangannya dengan lincah mulai meremas kedua payudaraku. Saat nafsu kami sudah tinggi.

Tiba-tiba….

Kringg…. Kringg….

Handphoneku berbunyi, kami berdua sontak kaget. Buru-buru aku turun dari ranjang, segera aku menerima telepon tersebut, setelah melihat nama papa yang ada di layar monitor Hp.

“Assalamualaikum wr.wb. Ya hallo, Pa,” sahutku menjawab panggilan telepon dari papa.

“Waalaikum salam wr.wb, Nak. Adit ada di sana kah?” Kata papa terdengar lirih suaranya.

“Iya, Pa. Sekarang mas Adit ada di rumah kontrakan kami bersama papa dan mamanya,” sahut Cinta menjawab dengan senang.

“Syukurlah kalau mereka sudah ada di sana! Nak, papa dapat kabar dari polsek xxx bahwa mobil Prima mengalami kecelakaan tunggal, sekarang mereka sudah dibawa ke rumah sakit Harapan Bersama-sama, Nak.” Ucap papa dengan suara lirih dan bergetar memberitahu kabar tersebut dari ujung telepon sana.

“Apa, Pa? Tidaaaaakkk…… Papa cuma bercanda, kan.” Sahut Cinta seketika berteriak di telepon genggamnya.

“Hiks…. Hiks…. Hiks….”

Aku tertunduk lesu, menangis sesegukkan. Suamiku seketika sudah berada disampingku mencoba menenangkanku. Hpku kini sudah berpindah tangan, sekarang mas Adit yang berbicara dengan papa lewat hpku.

“Iya, Pa.” Ucap suamiku cepat. “Kami segera ke sana! SMS-in saja alamat rumah sakitnya ya, Pa.” Sambungan telepon itu pun terputus, setelah mas Adit membalas salam papa. Lalu ia meraih kepalaku untuk ditaruhnya dibahunya.

Suasana kamar menjadi hening beberapa saat, hanya terdengar suara isakan tangisku dan desahan nafas mas Adit.

Tok… Tok… Tok…

“Adit, Cinta.” Seru mama memanggil. “Ada apa dengan kalian?”

Aku langsung berdiri, membukakan pintu kamar dan setelah pintu terbuka, seketika kupeluk mama Hanum, tangisanku semakin kencang.

Mama Hanum mengajakku duduk di atas ranjang, lalu ia berkata pada suamiku.

“Dit, kamu keluar bentar!” Ucap mama tegas. “Ambilkan air minum buat istrimu, supaya dia bisa tenang. Biar mama yang berbicara dengan Cinta.”

Mas Adit keluar dari kamar tidur kami, ia melangkah dengan cepat menuju dapur. Setelah mas Adit pergi mama Hanum dengan lembut berkata. “Nak Cinta. Apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar?”

Aku menggelengkan kepala, dengan sesegukkan aku menjawab terbata-bata. “Mas Pri…Prima, Ma. Mobilnya kecelakaan, tadi papa memberitahu lewat telepon.”

“Innalillahi,” Ucap mama kaget. “Terus bagaimana keadaan masmu dan keluarganya, Nak?”

Mas Adit datang sambil membawa air putih, hangat kuku. Segera di serahkannya gelas tersebut lalu aku meminumnya hingga tinggal sedikit lagi sisa air tersebut di gelas yang kupegang.

Aku menghela nafas dalam-dalam untuk menenangkan diriku, setidaknya dengan bersikap tenang suamiku, mama dan papa mertuaku jadi bisa ikutan tenang.

“Mereka sekarang dibawah ke rumah sakit Harapan Bersama-sama,” sahut mas Adit menjelaskan. “Adit dan Cinta mau siap-siap ke sana, Ma! Papa dan mama istirahat saja di rumah, nanti Adit kabari kalian, setelah tahu kabar sebenarnya di sana!”

“Iya, Nak.” Ucap mama tanggap. “Segeralah kalian siap-siap, kalian jangan khawatirin mama dan papa kami baik-baik saja di sini!”

Setelah mendapatkan alamat RS. HARAPAN BERSAMA-SAMA, kami pamitan pada papa dan mama.

.

.

.

Lokasi Jakarta Pusat….

Jam 15:00wib…

Prima keluar dari ruangan meeting dengan ekspresi bahagia, beberapa manajer, para direksi pun sudah mulai keluar dari ruangan rapat tersebut. Ir. Prima Sukmawan Pramudya nama lengkapnya sebagai Direktur Utama PT. Jagat Kontruksi (Persero). Perusahaan yang sudah malang melintang di bidang konstruksi baja, beton dan pembangunan Tol, kini mulai merambah di proyek rel kereta api, LRT maupun MRT.

Pada saat meeting tadi, Prima nama panggilan Prima Sukmawan Pramudya, mendapatkan kabar baik dari manajer perencanaan yang bernama Rudi Hidayat. Bahwa perusahaan yang ia pimpin memenangi tender mega proyek LRT dan MRT tersebut.

Terdapat 4 (empat) buah perusahaan yang mengikuti tender. Tender mega proyek pembangunan LRT yang berlokasi di Palembang, Sumsel, Indonesia. Dan MRT yang berlokasi di Jakarta, Indonesia. 3 (tiga) buah perusahaan berasal dari Indonesia, dan satu perusahaan asing berasal dari Amerika Serikat.

Perusahaan-perusahaan yang mengikuti tender adalah perusahaan-perusahaan besar berskala nasional maupun internasional. Satu-satunya perusahaan asing yang mengikuti tender adalah “A-Z Corporation LTD”. Perusahaan yang berkantor pusat di Chicago, Amerika Serikat itu adalah pesaing ketat perusahaan Prima pada waktu lelang tersebut diadakan.

Prima melangkah dengan santai sambil membawa tas kerjanya. Disampingnya adalah direktur keuangan, dan direktur pemasaran. Pintu litf terbuka, Prima dan kedua direktur itu segera masuk ke dalam lift. Kemudian Prima memencet tombol G. Lift mulai bergerak turun dan akhirnya lift tersebut sampai di lantai dasar.

Setelah mereka keluar dari lift, Prima berpisah dengan direktur keuangan dan direktur pemasaran, ia berjalan dengan gagah menuju mobilnya. Seorang security gedung memberikan hormat kepadanya, tatkala mobil Toyota Fortuner berwarna hitam pekat yang ia kendarai mulai bergerak meninggalkan kantor tempatnya bekerja.

Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, menuju ke rumah kontrakan Cinta yang berada di kawasan Depok.

Sejak Prima memasuki mobilnya, seseorang terus mengawasi gerak-geriknya. Bahkan pada saat mobil Prima mulai berjalan meninggalkan kantornya. Orang itu ikut menjalankan mobilnya, mengintai dan mengikutinya terus dari belakang.

Dua jam kemudian…

Mobil Toyota Fortuner berwarna hitam yang dikendarai oleh Prima telah sampai di halaman rumah kontrakan Cinta. Ia memarkirkan mobilnya disamping mobil Mercedez E-Class milik Adit.

Prima turun dari mobil sambil menenteng tas hitam di tangan kanannya lalu melangkah dengan gagah menuju pintu depan rumah sederhana tersebut.

Beberapa menit kemudian…

Orang yang sejak tadi menguntit Prima telah turun dari mobilnya sambil matanya terus memperhatikan kondisi sekitarnya. Setelah merasa yakin bahwa keadaan aman dan tidak ada seorang pun yang melihat, orang itu lalu mendekati mobil Toyota Fortuner milik Prima. Orang tersebut mulai melakukan aksinya dengan memotong sesuatu di bawah mobil Toyota Fortuner milik Prima dengan menggunakan sebuah pisau.

Setelah selesai menjalankan aksinya, lalu orang itu mengirimkan sms kepada seseorang yang menyuruhnya, dan pergi dari sana, dengan senyum penuh kepuasan.

Jam 20:30 wib…

Setelah berpamitan dengan Gunawan, Hanum, Adit dan Cinta. Keluarga kecil itu yang terdiri dari; Prima, Dewi dan Akbar sudah masuk ke dalam mobil Toyota Fortuner berwarna hitam yang tadi ia parkir di sebelah mobil Mercedes E-Class milik Adit.

Prima mengambil tempat duduk di kursi pengemudi, sementara itu Dewi dan Akbar duduk di kursi depan sebelah kiri, disamping Prima yang tersenyum melihat istri dan anaknya.

Mereka sedang dalam perjalanan dari rumah kontrakan Adit dan Cinta yang beralamat di JL. Tanah Baru V, Tanah Baru, Beji, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Menuju ke kediaman mereka di kompleks perumahan di daerah Jakarta Selatan. Jarak tempuh dari kota Depok ke Jakarta Selatan hanya sekitar 16,5 km, jika kecepatan mobil Toyota Fortuner yang dikendarai oleh Prima melaju dengan kecepatan rata-rata 90 km/jam, maka bisa diperkirakan mobil Toyota Fortuner yang dikendarainya akan sampai di rumah mereka kurang dari satu jam kemudian.

Kota Depok Provinsi Jabar, terletak di ketinggian 80.59 meter di atas permukaan laut sedangkan Kodya Jaksel terletak di ketinggian 4.32 meter di atas permukaan laut. Terdapat perbedaan tinggi sebesar 76.27 meter dimana posisi Kodya Jaksel lebih lendah dari Kota Depok. Dalam perjalanan pulang tersebut mobil Toyota Fortuner yang dikendarai Prima mesti melalui jalan yang menurun. Saat itu cuaca kota Depok sedang di guyur hujan lebat sehingga membuat pandangan mata pengemudi kendaraan menjadi terbatas, ditambah dengan kondisi jalanan saat di terpa hujan akan menjadi licin.

Dewi yang menyadari terjadi sesuatu pada mobil mereka terus berteriak menyebut kalimat Takbir sambil memegang sekencang-kencangnya Akbar.

“AllahuAkbar….” Teriak Dewi.

“AllahuAkbar….” Teriak Prima.

Mobil semakin sulit dikendalikan oleh Prima dan tiba-tiba Prima dan Dewi berteriak hampir bersamaan, disusul oleh teriakan Akbar yang terlihat sangat ketakutan.

“Papa… Mama… Akbal takut.”

Dewi memeluk tubuh Akbar dengan erat sambil tak henti-hentinya meneriakan takbir. Sementara Prima berusaha mengendalikan kendaraannya. Saat ini yang ia pikirkan adalah keselamatan istri dan anaknya yang sangat ia sayangi. “Ya Allah… selamatkanlah anak dan istriku,” batinnya.

“AllahuAkbar….” Prima dan Dewi teriak bersamaan ketika mobil mereka meluncur semakin oleng, sementara di depan mereka muncul sebuah truk muatan barang. Prima membanting setirnya ke kiri untuk menghindari tabrakan dengan moncong truk, tapi jalanan yang licin dan rem yang blong membuatnya hilang kendali.

Braaaaak…

Moncong truk menyambar bagian belakang mobil mereka.

Bruuuukkk…..

Prima semakin kehilangan kendali. Benturan keras membuat mobil itu, berpental dan berputar balik.

Dewi menjerit menyadari situasi genting yang mereka alami. Air matanya tidak terbendung, pelukannya pada anak semata wayangnya makin erat.

Braaaak…

“Allahu Akbar….” Prima dan Dewi berteriak bersamaan.

“Mamaaaaaaah…. Papaaah…” Akbar menjerit.

Mobil itu meluncur berbelok ke sisi kiri jalan tanpa bisa dikendalikan lagi oleh Prima.

Kemudian….

Braaakkk….

Brrruuummm….

Brruuukk…

Brrruuumm….

Mobil itu menabrak pohon di sisi kiri jalan. Saking kerasnya benturannya, membuat warga di sekitar lokasi kejadian kaget dan menghambur, mendekat ke arah tempat kejadian perkara atau TKP.

Terlihat mobil Toyota Fortuner itu remuk di bagian depan, kap mobil ringsek dan posisi mobil dalam keadaan terbalik, dengan posisi roda mobil tersebut menghadap ke atas.

.

.

.

Lokasi : Rumah Sakit Harapan Bersama-sama….

Jam 23:30 wib…

Adit dan Cinta telah sampai di RS. Harapan Bersama-sama, Pramudya meminta Adit dan Cinta untuk menunggu mereka yang sekarang ini dalam perjalanan menuju ke rumah sakit tersebut.

Adit dan Cinta menunggu di teras rumah sakit dengan wajah tegang dan panik, karena sampai detik inipun mereka belum mengetahui kabar terakhir kondisi Prima, Dewi dan Akbar.

30 menit kemudian…

Dua buah mobil memasuki area rumah sakit, dan menurunkan penumpangnya di teras rumah sakit.

Tampak Pramudya, Jelita dan seorang ibu setengah baya turun dari kendaraan tersebut.

Melihat kedatangan mereka Cinta langsung memeluk Jelita, mereka berdua seketika menangis terisak-isak. Sementara itu Adit dan Pramudya pun berpelukan dengan sangat erat. Mereka sejenak terbawa kesedihan walau belum tahu pasti kondisi terakhir ketiga orang yang mereka sayangi.

“Dit, Pa.” Seru Hartono suaminya Jelita menegur. “Sebaiknya kita tanya ke dalam saja, Pa.”

“Eh.. I… I… Iya Har,” sahut Pramudya kaget sesaat. “Ayo pak Anggoro, kita sama-sama cari informasinya di rumah sakit ini.”

Mereka semua masuk ke dalam rumah sakit, dan ketika sampai di tempat informasi, Pramudya berhenti dan mulai bertanya. “Selamat malam, Mas.” Ucap Pramudya pada petugas jaga di tempat informasi.

“Oiya, Pak. Selamat malam.” Sahut petugas jaga itu ramah. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Saya mau tanya. Apakah ada korban kecelakaan lalu lintas beberapa jam yang lalu?” Ucap Pramudya menjelaskan maksudnya. “Kami mendapatkan informasi dari kepolisian bahwa korban kecelakaan lalu lintas tersebut dibawa ke rumah sakit ini.”

“Sebentar, Pak.” Potong petugas itu cepat. “Saya hubungi atasan saya dulu, karena beliau tadi berpesan jika ada pihak keluarga korban segera menghubunginya. Mohon ditunggu sebentar, Pak!”

“Ok terima kasih, kami menunggu di situ saja!” Ucap Pramudya lalu ia melangkah mendekati keluarganya yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Sambil menunggu petugas itu menghubungi atasannya, Pramudya menelepon rumahnya menanyakan keadaan istrinya kepada salah seorang asisten rumah tangganya. Tadi ia berangkat ke rumah sakit ini dalam keadaan dilema, disatu sisi ia mesti meninggalkan Sekar dalam keadaan pingsan, ketika mendapatkan kabar soal kecelakaan lalin yang dialami putra mereka. Namun disisi lain ia juga mengkhawatirkan keadaan Prima beserta anak dan istrinya.

Pramudya bisa sedikit bernafas lega setelah mengetahui kabar Sekar sudah siuman, dan ia meminta ARTnya untuk memantau kondisi Sekar, karena urusannya saat ini belum selesai.

Tiba-tiba…

Datang seorang pria berpakaian serba putih khas pakaian dokter, didampingi oleh seorang berpakaian polisi menuju ke arah mereka.

Pramudya yang melihat kedatangan kedua orang itu sempat kaget dan segera menyudahi pembicaraan teleponnya.

“Selamat malam bapak-bapak dan ibu-ibu,” sapa petugas kepolisian itu dengan ramah dan sopan. “Oiya, perkenalkan nama saya, Ipda Haris Ardiansyah, kasatlakalantas polsek Depok. Dan disamping saya, dr. Heru Ismail. Kepala rumah sakit Harapan Bersama-sama.”

Pramudya, Adit, Cinta, Jelita, Hartono serta kedua orangtua Dewi mengangguk.

“Mohon maaf, apa betul kalian semua adalah keluarga dari Prima Sukmawan Pramudya,” ucap Ipda Haris kemudian sambil menyerahkan identitas Prima berupa KTP tersebut pada Pramudya yang paling terdekat di situ.

“Benar sekali, Pak.” Ucap Pramudya bersuara mewakili lainnya. “Saya adalah papanya, bagaimana kondisi anak saya beserta istri dan anaknya, Pak, Dok?”

Ipda Haris dan dr. Heru sejenak saling melihat, Ipda Haris menganggukkan kepala kepada dr. Heru.

“Untuk lebih jelasnya, mari ikut kami!” Ucap dr. Heru tegas dan tanggap.

dr. Heru dan Ipda Haris berjalan di depan, sementara Pramudya, Adit, Cinta, Jelita, Hartono dan kedua orangtuanya Dewi mengikutinya dari belakang.

Mereka berjalan memasuki koridor rumah sakit dan beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah ruangan.

Pramudya beserta yang lainnya terbelalak kaget, setelah mengetahui mereka diajak ke kamar jenazah.

ilustrasi​

Tiba-tiba…

Cinta tergolek lemas dan ambruk untung saja Adit segera menangkap tubuhnya dan segera membopong tubuh istrinya. Jelita bahkan terpekik histeris sebelum mereka masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Mohon maaf,” ucap dr. Heru memberitahu. “Kami sangat memaklumi kondisi bapak dan ibu semua tetapi inilah kenyataannya kita sebagai manusia tidak bisa melawan takdir yang sudah ditentukan-Nya. Silahkan jika bapak dan ibu ingin melihat kondisi korban!”

Pramudya dengan tegar melangkah maju mengikuti dr. Heru dan Ipda Haris, diikuti oleh kedua orangtua Dewi, sementara Adit bertahan diluar mendampingi Cinta yang menangis sesegukkan. Begitupun dengan Hartono yang juga ikut bertahan di luar kamar jenazah untuk menenangkan Jelita istrinya.

“Dek Cinta.” Ucap Adit lembut sambil membelai rambut istrinya. “Ikhlaskan, Dek. Semua ini sudah menjadi ketentuan dari Yang Maha Kuasa. Doakan mas Prima supaya tenang di sana!”

Cinta masih sesegukkan tetapi tangisannya sudah mulai mereda, ia sedikit mulai tenang setelah mendengar perkataan Adit, terlihat dari bibirnya ia komat-kamit mengingat sang Maha Kuasa. Sedangkan Jelita masih terpukul, tangisannya belum berhenti, dari bibirnya ia memanggil-manggil nama kakaknya tersebut. Hartono terus mencoba menenangkannya dengan mengelus rambut Jelita.

Sementara itu di dalam kamar jenazah, dr. Heru, dan Ipda Haris berdiri di depan pintu ruang penyimpanan jenazah. Setelah di depan pintu dr. Heru memperkenalkan Pramudya dan kedua orangtua Dewi sebagai keluarga dari korban kecelakaan bernama Prima Sukmawan Pramudya, kepada petugas jaga kamar jenazah.

Mereka diajak masuk oleh petugas jaga tersebut, lalu petugas jaga tersebut bersama Pramudya dan kedua ortunya Dewi mendekat pada sebuah lemari yang besar bersusun dengan kotak besi yang sama besarnya. Bentuk lemari tersebut, mirip seperti locker pegawai atau sama persis seperti lemari berkas (file) atau dalam bahasa inggris bernama filling cabinet.

ilustrasi di dalam kamar jenazah​

Lalu…

Petugas jaga itu membuka salah satu kotak tersebut dan setelah terbuka ia menariknya keluar.

Kini terlihat sesosok mayat yang masih tertutup selembar kain putih.

Petugas jaga kamar jenazah mempersilahkan keluarga korban untuk melihat dan mengenali secara langsung.

Pramudya mendekat diikuti oleh kedua orangtua Dewi, lalu ia membuka kain tersebut dengan tangan yang gemetar.

Tiba-tiba….

Pramudya seketika terbelalak dan spontan ia berucap, “Innalillahi wa inna illahi rojiun, Prima anakku….”

Begitu juga dengan kedua orangtua Dewi, keduanya tampak terperanjat dengan mulut mengangga. Lalu sesat kemudian mama mertuanya mengucapkan kata yang sama dengan yang diucapkan oleh Pramudya. “Innalillahi wa inna illahi rojiun, nak Prima….”

Pecah tangis di ruangan tersebut ketika mereka menyaksikan sendiri jenazah tersebut benar adanya Prima Sukmawan Pramudya, anak dan menantu mereka.

Beberapa saat kemudian…

Dari arah pintu Cinta dan Jelita masuk dan langsung menghambur ke arah jenazah Prima. Pramudya bergeming dengan ekspresi wajah yang penuh kesedihan, begitu juga dengan kedua mertua Prima yang menangis sambil berpelukan.

Adit dan Hartono menyusul kedua istri mereka dan seketika langkah mereka berdua terhenti, setelah melihat apa yang ada dihadapan mereka.

Terlihat Prima tampak tersenyum damai, matanya tertutup rapat seperti orang sedang tidur nyenyak. Terlihat di dahinya robek memanjang, dan belakang kepalanya masih mengeluarkan darah segar. Dari hidungnya sesekali darah masih mengalir keluar.

“Mas Prima….” Seru Cinta meratap. “Kenapa kamu meninggalkan kami semua dengan cara begini? Kamu jahaaat, Maaas. Jangan pergiiii….!”

“Dek Cinta.” Seru Adit mengingatkan. “Istighfar sayang. Ikhlaskan mas Prima.”

Cinta mencoba kuat untuk melihat kenyataan ini, melihat dengan matanya sendiri sosok kakak kandungnya kini terbujur kaku sudah tak bernyawa. Rasa kehilangan begitu terasa di relung hatinya terdalam. Tetapi ucapan Adit sedikit banyak bisa membuatnya selalu ingat akan takdir yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Ia sudah tidak menangis, air matanya seakan sudah habis, tangisannya hanya di dalam hatinya, sambil menyenderkan kepalanua di bahu Adit suaminya ia mulai komat-kamit memanjatkan doa kepada sang Pencipta, sang Maha Kuasa. Allah Swt.

“Mas Prima….” Seru Jelita histeris. “Mas cuma bercanda kan. Ayo Bangun, Mas! Bangun.”

Jelita terus menggoyang-goyangkan tubuh Prima. Melihat kejadian itu sontak Hartono memeluk tubuh istrinya.

Tiba-tiba….

Jelita tak sadarkan diri, ia pingsan dan Hartono dengan cekatan memeluk dan membopong istrinya menjauh daru kamar jenazah tersebut, membawa keluar Jelita.

Beberapa menit kemudian…

Setelah kondisi kejiwaan mereka semua sudah bisa tenang dan sudah bisa menerima kenyataan. dr. Heru kemudian mengajak mereka semua ke ruangan ICU dimana Dewi dan Akbar di tempatkan di ruangan yang sama, kecuali Adit yang dimintai keterangan oleh Ipda Haris Ardiansyah.

Ipda Haris Ardiansyah mengajak Adit berbicara di sebuah ruangan yang sudah disiapkan oleh dr. Heru Ismail.

Setelah mereka duduk Ipda Haris Ardiansyah berkenalan terlebih dahulu sebelum ia mulai meminta keterangan Adit untuk penyelidikan kasus kecelakaan ini selanjutnya.

“Pak Adit,” Serunya mulai menginterogasi Adit. “Jam berapakah pak Prima beserta anak dan istrinya bertolak dari kediaman anda di kota Depok?”

“Mereka bertolak dari rumah kontrakan kami sekitar pukul 20:30 wib.” Jawab Adit dengan cepat dan penuh keyakinan.

“Apa hubungan anda dengan pak Prima?” Tanya Ipda Haris selanjutnya.

“Almarhum adalah kakak kandung dari istri saya.” Jawab Adit tegas memberitahu. “Cinta Rahayu Pramudya nama istri saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan suami istri Pramudya Adi Pratama dengan Sekar Rahayu Sukmawati”

“Jam berapakah almarhum datang ke rumah anda pak Adit?” Tanyanya lagi.

“Mas Prima sampai di rumah kontrakan kami sekitat pukul 17:00 wib,” Jawab Adit yakin dan tegas. “Sebagai informasi saja pak, saya dapat informasi dari istri saya bahwa pagi tadi almarhum pergi ke kantor pusat di Jakarta Pusat untuk meeting.”

“Ok, pak Adit,” ucapnya sambil tersenyum sumringah pada Adit. “Terima kasih atas informasinya, nanti apabila pihak kepolisian membutuhkan keterangan lebih lanjut, apakah pak Adit bersedia?”

“Sama-sama, pak Haris,” sahut Adit tanggap. “Jika Bapak dan pihak kepolisian masih membutuhkan informasi tambahan, saya sangat terbuka untuk memberikan keterangan selanjutnya sesuai dengan yang saya ketahui.”

Setelah keduanya selesai berbicara empat mata, Ipda Haris Ardiansyah kemudian mengajak Adit menuju ruang ICU yang berada di lantai 3.

Bersambung

END –  Pelarian Kisah Cintaku Part 33 | Pelarian Kisah Cintaku Part 33 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 32)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 34)