Pelarian Kisah Cintaku Part 32

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 32

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 32 | Pelarian Kisah Cintaku Part 32 Start

Chapter 32. Kamu Mimpi Ayu Lagi, Sya?

Cuplikan chapter sebelumnya…

“Oiya hampir lupa,” ucap papa Pramudya. “Prima, Jelita. Kenalin ini mas Rahadi, papanya Adit. Kakek kalian itu sahabat kakeknya Adit, mereka orang baik selalu membantu orang yang susah tanpa pamrih. Usaha dan perusahaan kakek kalian itu berkat bantuan modal dari kakeknya Adit, dibimbing dan dididik langsung sama beliau sehingga kakek kalian bisa mendirikan perusahaan yang besar, dan mewariskannya kepada papa sebelum mereka meninggal. Tetapi karena papa yang kurang becus mengurusi perusahaan, berakibat perusahaan warisan kakek kalian bangkrut. Papa malu pada diri papa, malu sama mama dan kalian sehingga saat itu papa jatuh terpuruk dan mengalami depresi. Papa malu sama keluarga Gunawan karena belum bisa membalas budi baik mereka padahal papa tau om Gunawan atau kakeknya Adit membantu keluarga papa tanpa mengharapkan pamrih sedikitpun.”

.

.

.

.

Anastasya Putri Widjaja​

Pov Tasya

Setelah obrolan yang tadinya sempat memanas, sekarang keluarga besar mertua suamiku kini bisa menerima kenyataan ini, mereka menyerahkan masalah pernikahan poligami ini kepada kami bertiga.

Sejenak aku menatap tajam mama mertua mas Adit yang terlihat masih kurang puas atas keputusan bersama malam ini. Dari sorot matanya mama Sekar, setelah kami berkenalan malam ini, masih menampakkan wajah tidak sukanya kepadaku.

Saat kami berpamitan pulang, aku sempat cium buku tangan beliau, cipika-cipiki, namun ia sempat membisikiku. “Aku akan selalu mengawasi gerak-gerikmu Tasya. Ingat jika terjadi apa-apa dengan Cinta, kamulah orang pertama yang akan kucari.”

Aku tersenyum setelah mendengar bisikan mama Sekar dan tanpa ragu, kemudian aku balas membisiki beliau. “Kalau aku berniat jahat, aku pastikan keluarga kalian hancur. Tapi aku bukanlah orang yang dulu, aku ingin berubah menjadi baik, dan semua ini aku lakukan demi kebahagiaan mas Adit dan janjiku padanya. Mama Sekar percaya atau tidak itu terserah mama Sekar, mau mengawasi aku 24jam pun, silahkan aku tidak keberatan. Nyawa Tasya taruhannya, Ma. Jika Tasya mencelakakan Cinta, karena Cinta adalah semangat dan kebahagiaan mas Adit dan mas Adit adalah kebahagiaan kami berdua.”

Mama Sekar memelukku, walau kuyakini ia tidak bisa sepenuhnya menerima keputusan suaminya. Terlihat dari wajahnya yang tersimpan sebuah misteri, ketidaksukaannya kepada Adit dan terutama kepadaku.

“Baiklah kalau begitu kami pamit,” ucap papa mertuaku setelah bersalaman dan tadi sempat ngobrol tentang masa lalu mereka.

“Oiya, Mas. Pram nggak nyangka ternyata kita malah jadi besan.” Kata papa Pramudya mertuanya suamiku. “Mas Rahadi orang yang Pram hormati, Pram bersyukur Cinta menjadi menantu mas Rahadi dan mbak Hanum. Buah ternyata tidak jauh dari batangnya, Adit benar-benar mewarisi kewibawaan mas Rahadi.”

Ada rasa senang sih mas Adit dipuji oleh papa Pramudya, walaupun aku bukanlah anaknya tetapi aku bisa merasakan bahwa beliau orang yang baik sama seperti papa Gunawan papanya mas Adit. Semoga saja beliau berdua selalu mendukung kami bertiga untuk kebahagiaan rumah tangga kami nantinya.

Jam 23:00 wib…

Kami sudah meninggalkan rumah mewah keluarga Cinta, dan kembali ke rumah suamiku yang berada di Pondok Indah, Jakarta Timur. Rumah yang ia beli dari hasil usahanya salama kuliah, duh betapa bahagianya jika masalah kami ini berakhir, “Ya Allah, berilah jalan bagi hamba untuk membantu suamiku dan menyatukan kami bertiga dalam satu keluarga, semua kulakukan demi baktiku padanya dan rasa salahku kepada almarhumah Ayudia Larasati.” Gumamku dalam hati saat kami sedang menuju perjalanan pulang ke rumah.

Mas Adit fokus menyetir mobil mercinya, sementara aku duduk disampingnya tanpa bersuara, kami berdua masih terbawa kejadian di rumah Cinta, walau sekarang terlihat beban mas Adit perlahan mulai berkurang tidak seperti saat kami belum menemui keluarga mereka.

Sedangkan mobil papa dan mama mertuaku berada di belakang mobil kami, mobil yang tadi sore menjemput kami dikendarai oleh mang Udin. Mang Udin mengikuti mobil mas Adit yang berjalan dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya kamipun sampai di rumah dengan selamat.

Begitu sampai di rumah, setelah berpamitan dengan papa dan mama. Kami segera naik ke lantai 2 menuju kamar tidur.

Setelah mencuci wajah, sikat gigi dan melakukan perawatan wajah dan kulitku, lalu berganti pakaian tidur. Kami berdua kembali ke pembaringan, kuperhatikan mas Adit sudah sangat lelah setelah menempuh perjalanan dari Surabaya dan menghadapi dengan gentle permasalahannya dengan pihak keluarga Cinta. Tak berapa lama ia sudah terlelap dalam tidurnya, kupandangi wajahnya yang tampan, lalu aku mencium keningnya.

Entah mengapa malam ini aku sulit memejamkan mata, aku malah teringat kembali saat aku bersama mas Adit mengunjungi makam Ayu beberapa hari yang lalu.

Akhirnya kami turun dari mobil tersebut, aku makin mempererat genggaman tanganku di tangan mas Adit. Dan setelah berjalan sekitar 500 meter dari tempat tersebut, barulah kami sampai di tempat tujuan.

Mas Adit yang melihat sebuah gundukan tanah dengan batu nisan yang bertuliskan nama AYUDIA LARASATI, matanya mulai berkaca-kaca. Begitupun dengan aku yang kini mulai menitikkan air mataku.

Aku tidak menyangka sama sekali bahwa mas Adit akan membawaku ke tempat ini, tempat pemakaman atau kuburan orang yang telah kucelakai. Rasa menyesal dan malu kini menghinggapiku saat ini, kakiku bergetar dan perlahan-lahan mulai mendekati makamnya.

Kami berdua duduk berdampingan menghadap makam tersebut.

Mas Adit mulai ngomong, ia seperti sedang mengajak bicara makam tersebut.

“Hai Ayu! Maafin Adit. Baru bisa datang sekarang. Oiya Yu. kenalkan, ini calon istriku namanya Tasya. Maafin dia ya Yu, karena kesalahannya kamu akhirnya menemui sang Pencipta. Adit yakin kamu orang yang ikhlas dan bisa memberikan maaf kepada orang lain, termasuk kepada Tasya. Semoga kamu disana tenang, dan ditempatkan ditempat yang teristimewa oleh Yang Maha Kuasa. Amiin.”

Aku mendengar semua perkataan mas Adit, aku baru menyadari betapa sakitnya mas Adit dengan kepergian Ayu, aku seakan ingin mengutuk diriku sendiri. Mengutuk kebodohanku sehingga peristiwa itu terjadi. Tetapi aku sadar dengan mengutuk dan menyalahkan diri tidaklah membuat Ayu hidup kembali. “Bagaimana aku mesti menebus kesalahanku ini?” Tanyaku dalam hati di depan makamnya.”

Sambil menitikkan air mata, aku kini memberanilan diri bersuara walaupun dengan suara bergetar dan sesegukkan.

“Ayu… Ini aku Tasya. Ma…aaa…fin aakkuu…Yu. Karena kebodohanku. Membuatmu celaka hingga sampai meninggal. Hikzzz…. Hikzzz.. Hikzzz…..”

Mas Adit yang berada disampingku mencoba memberikan kekuatan padaku dengan mengelus-elus punggungku.

Aku terus meneteskan airmata penyesalan, bahkan aku tanpa sadar mencium tanah kuburan Ayu.

“Yu, aku datang kepadamu meminta restumu. Aku berjanji di atas makammu ini akan menjadi istri yang berbakti pada Adit, menjadi istri yang baik untuknya dan anak-anak kami kelak. Sekali lagi, aku mohon maafkan aku, maafkan atas kesalahanku. Maafin aku Yu.”

Aku menjerit histeris diatas kuburan Ayu, mas Adit yang sedari tadi mencoba menenangkanku kini memelukku erat. Ia tau apa yang dirasakan olehku, dengan penuh kelembutan ia mencoba menenangkanku sambil menyunggingkan senyumnya.

“Kalau kamu mau dimaafkan oleh Ayu, kamu banyak-banyak mohon ampunan kepada Allah, dialah yang Maha Pengampun. Dan kamu juga mesti memperbaiki semua kesalahanmu dengan menjadi istri yang baik, belajarlah untuk ikhlas, buang semua rasa iri, dengki serta dendam dalam dirimu Sya. Mas akan belajar untuk menjadi imam buatmu jangan kamu mengutuk dirimu tetapi bangkit dan perbaiki semua kesalahanmu.”

Aku menoleh ke arah mas Adit, aku makin mempererat pelukanku padanya, suaraku berbisik pelan mengucapkan kata terima kasih pada mas Adit.

Aku melirik sejenak ke jam dinding, jam saat ini menunjukkan 00:30 wib, rasa kantukku menyerang, membuat kesadaranku hilang dan aku tertidur dengan pulas.

Di dalam tidurku itulah, aku bermimpi sedang berjalan di sebuah taman yang indah, bunga-bunganya beraneka ragam sedang tumbuh mekar. Bunganya berwarna-warni dan semerbak harumnya, membuatku betah berlama-lama ditempat ini. Tak jauh dari taman itu, aku melihat seorang perempuan cantik berambut panjang. Rambut hitamnya lurus dan panjang seperti layaknya seorang model iklan shampo. Perempuan itu duduk di kursi taman berwarna putih dengan posisi duduk membelakangiku, sambil bersenandung menyanyikan sebuah lagu tentang cinta. Suaranya begitu merdu hingga aku terhipnotis untuk mendekat dan lebih mendekat.

Setelah mendekati perempuan itu, aku ingin mengajaknya berkenalan dengan menyapanya.

“Hai, boleh aku duduk disini!” Sapaku dengan sopan meminta ijin padanya.

Ia hanya menganggukkan kepala tanpa mau memperlihatkan wajahnya.

“Namaku Tasya. Kalau boleh tau namamu siapa?” Ucapku mengajaknya berkenalan.

Ia diam dan menganggukkan kepalanya.

“Kenapa kamu diam dan tidak mau memperlihatkan wajahmu padaku?” Tanyaku penasaran padanya.

Hening sejenak, hanya deru angin yang terasa mulai menghampiri kami, dan tiba-tiba…

Ia mulai membalikkan badannya.

Aku menutup mulutku dengan mata membelalak kaget, seakan jantungku berhenti berdetak.

“Kamu tau siapa saya?” Tanyanya serius.

Aku bergeming beberapa saat, lalu kemudian menganggukkan kepalaku.

“Kamu kan yang tadi sore datang bersama Adit?” Tanyanya sekali lagi.

“Ii..Iya….” Bibirku gemeretak menjawab dengan gugup dan gemetar.

“Namaku Ayudia Larasati.” Katanya memberitahu. “Dan disini lah tempat tinggalku sekarang!”

Badanku gemetaran, bajuku basah dengan keringat, karena aku sadar bahwa dihadapanku adalah orang yang kucelakai beberapa tahun lalu.

“Kenapa dengan kamu?” Tanyanya, setelah melihatku gugup dan gemetaran. “Kamu takut denganku.”

Aku menundukkan kepala, tidak berani menatapnya. Menyesal dan malu pada perempuan dihadapanku ini.

“Kamu menyesal.” Sindirnya. “Kenapa baru sekarang kamu merasakan penyesalan tersebut?”

“Aku…. Aku takut.” Ucapku gugup. “Maafkan aku, Yu. Maafkan kebodohanku saat itu.”

“Aku secara pribadi sudah memaafkanmu, tetapi kamu mesti meminta ampun pada Allah dan berjanjilah untuk memperbaiki kesalahanmu.” Ucapnya memberitahu. “Dan jadilah istri yang baik buat mas Adit, aku hanya menitipkan Cinta adikku, yang saat ini menjadi istrinya. Buktikan kalau kamu ingin benar-benar bertobat dan berbakti pada suamimu kelak. Jika tidak aku akan selalu mendatangimu di setiap mimpimu.”

“Kamu serius, Yu. Sudah memaafkanku,” Ucapku senang. “Aku berjanji mulai hari ini aku akan menjaga Cinta, sebagai tanda aku ingin memperbaiki kesalahan dan menebus dosaku padamu. Aku mohon restumu, Yu. Untuk menikah dengan Adit.”

“Mungkin ini sudah menjadi takdir kalian bertiga.” Ujarnya. “Aku berharap kalian bertiga bahagia.”

“Terima kasih, Yu.” Ucapku tulus. “Kamu memang wanita yang berhati mulia. Wajar jika mas Adit memilihmu karena pribadimu yang baik, terima kasih Ayudia Larasati.”

“Sya… Tasya…” Seru mas Adit sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.

Aku membuka mata, perlahan-lahan kesadaranku kembali pulih, kini mas Adit ada di hadapanku dengan ekspresi wajah cemas, segera aku memeluk mas Adit. Terisak-isak dalam dekapannya.

“Kamu mimpi Ayu lagi, Sya?” Tanyanya dengan lembut sambil mengusap rambutku dengan lembut. “Baca isthighfar, semoga kamu bisa tenang sayang.

“Iii..Iya, Mas.” Jawabku singkat. Lalu mengikuti nasehatnya mengucapkan istighfar dalam hati.

Setelah lumayan tenang aku mulai menceritakan semua mimpiku pada suamiku. Mimpi yang selalu mendatangiku saat tidur, sudah tiga malam berturut-turut.

Kemudian mas Adit dengan penuh kelembutan, memelukku dan mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. Mas Adit mulai bersuara menjelaskan semua yang ia tahu dan simpan dalam hati selama ini.

“Dek, mas sudah tau kalau Ayu itu adalah kakaknya Cinta, tetapi mereka beda ibu. Mas mengetahui semua ini, langsung dari mulut papa Pramudya sendiri. Ternyata almarhumah Ayudia Larasati adalah anak kandung dari papa Pramudya dengan istri sirinya yang bernama Larasati Wibisana. Kenapa mas mengajakmu mengunjungi makam Ayu? Karena mas ingin menyadarkanmu dari semua kesalahanmu, membawamu kembali seperti Tasya yang masih bersih pada saat kita masih kecil. Mas tahu adek pasti kecewa sama mas, setelah tahu mas mencintai Ayu bukannya adek kan.”

Aku menganggukkan kepala, dan kembali mendengarkan suamiku menceritakan semuanya.

“Mas minta kamu jangan salah faham ya, Dek,” Ucapnya sambil menatapku tajam.

“Ngomong saja, Mas.” Ucapku. “Adek sudah yakin, cinta mas Adit pada adek sama besarnya cinta mas Adit pada Cinta, bukan begitu, Mas.”

Mas Adit tersenyum lalu ia mendaratkan kecupan di keningku.

Mas Adit kemudian melanjutkan kembali perkataannya.

“Jujur, Dek. Ketika itu mas menganggapmu seperti adik mas sendiri, karena mas memang tidak punya perasaan sama sekali padamu. Tetapi setelah kejadian di Paris mas mulai menyukaimu dan belajar mencintaimu, walaupun belum sepenuhnya mas melupakan Ayu. Baru saja mas merasakan jatuh cinta sama kamu dek, tiba-tiba kamu sendiri yang membuat hati mas jadi benci, marah, kecewa campur aduk jadi satu, ketika adek mabuk mengigau sebut-sebut nama Ayu sambil minta maaf karena kebodohan adek menyebabkan ia meninggal dunia.”

Aku mencium buku tangan mas Adit, meminta maaf atas kebodohanku itu, dia dengan tulus kembali mengecup keningku, dan kembali meneruskan perkataannya.

“Kamu sebenarnya tidak berniat untuk mencelakai Ayu kan, Dek?” Tanyanya kembali sambil menatapku dalam.

Aku menganggukkan kepalaku, kemudian berkata padanya, “Tidak ada niat sama sekali, Mas. Saat itu aku hanya ingin memberikan pelajaran pada lelaki yang dulu berniat ingin menabrakku. Mas ingatkan kejadian itu.”

“Mas tidak akan lupa.” Potong mas Adit melanjutkan perkataannya. “Dan lelaki yang ingin adek beri pelajaran itu adalah papa Pramudya papanya Ayu dan Cinta.”

Aku terkejut dan terbelalak kaget setelah mengetahui bahwa orang yang ingin kucelakai adalah papanya Cinta dan Ayu.

“Sebenarnya kalau adek ambil pelajarannya waktu itu, adek mungkin tidak akan nekat untuk membalas dendam.” Katanya yakin dan tegas.

Aku diam dan berpikir sejenak, tetapi aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.

“Karena adek sendirilah yang salah, bersepeda menerobos jalur berlawanan arah, apalagi jalur itu memang diperuntukkan untuk jalur kendaraan bermotor.”

Aku menganggukkan kepala kembali. Lalu aku mengatakan. “Iya, Mas. Adek sadar, adek sendiri yang salah saat kejadian itu, memaksamu untuk bersepeda keluar dari kompleks, dan malah mengambil jalur yang tidak diperuntukkan untuk pesepeda.”

“Tapi mas…..!” Ucapku ragu memberitahu. “Arwah Ayu terus akan datang dalam mimpi adek.”

Mas Adit tersenyum, direngkuhnya kepalaku dan disenderkannya di bahunya, sembari berkata. “Caranya sederhana tetapi tidak mudah dilakukan, Dek.”

“Apa saja itu, mas Adit?” Sahutku dengan penuh harap. “Adek akan melakukan semua perkataan mas Adit.”

Mas adit langsung mengatakan dengan penuh kelembutan membimbingku bukan menghakimiku, terdengar kata per kata ucapannya memasuki telingaku dan masuk hingga relung hatiku yang paling dalam.

“Pertama, adek mesti mengakui semua kesalahanmu kepada papa Pramudya dan mama Larasati Wibisana. Kedua, adek harus meminta maaf kepada mereka berdua. Ketiga, buang semua sifat iri, dengki, serta dendam, dari hatimu Sya. Keempat, belajarlah memperbaiki diri dengan mengikhlaskan hati, dan penuh kepasrahan pada Allah Swt. Jika keempat itu adek lakukan semua dengan penuh pengorbanan, mas yakin kehidupan adek akan tenang dan bahagia. Dan mengenai arwah Ayu yang selalu hadir dalam mimpimu, mas yakin arwah Ayu tidak akan menyakitimu, dia hanya mengingatkan tentang janjimu. Makanya besok mas akan pulang ke rumah kontrakan mas di Depok. Sekalian mengenalkan Cinta pada papa dan mama, mungkin papa dan mama akan menginap satu atau dua hari disana!”

“Apakah kamu faham dengan semua perkataan mas barusan, istriku?” Tanyanya dengan penuh kasih dan sayang. Aku melihat semua yang dikatakannya dengan penuh ketulusan demi kebaikanku, kebaikan dia dan kebaikan kami bertiga.

“Iya, Mas.” Ucapku penuh keyakinan. “Adek faham dengan semua perkataan mas tadi. Mas Adit sekarang ini sedang membimbing, mendidikku untuk kebaikanku dan kebaikan kita bertiga.”

“Pinter, dan terutama ini,” Sahut mas Adit sambil menunjuk dadaku. “Hatimu telah mendapatkan hidayah kebaikan, teruslah menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak ya Dek. Mas Sayang kamu dan berharap kita bahagia di dunia dan nanti di akhirat.”

“Istrinya siapa dulu dong?” Tanyku manja sambil membenamkan kepalaku di dada bidangnya.

“Hahaha….” Tawanya meledak.

“Istri Aditya Febriansyah,” Jawabnya sambil menggodaku. “Tahu nggak, istri Aditya Febriansyah itu selain pinter juga cantik loh.”

“Hihihi…..” Aku tertawa kecil dan tersipu malu mendengar gombalan kecil mas Adit.

Mas Adit lalu berbisik. “Sudah mau pagi, yuk kita tidur lagi, Sayang!”

.

.

.

.

Cinta Rahayu Pramudya​

Pov Cinta

Setelah menunaikan ibadah sholat subuh, aku dibantu oleh mbak Dewi mulai berkutat di dapur, membuatkan sarapan pagi untuk kami semua. Sudah beberapa hari ini mas Prima, mbak Dewi dan Akbar keponakanku tinggal di rumah kontrakan kami. Dengan adanya mereka, setidaknya bisa membuatku tersenyum senang, tertawa bahagia dengan celotehan dan tingkah lucu khas anak-anak dari Akbar keponakanku, sekaligus bisa membuang rasa kesepianku semenjak kepergian mas Adit ke Surabaya beberapa hari yang lalu.

Rasa kangenku pada suamiku sedikit terobati, setelah beberapa hari lalu mas Adit meneleponku. Duh senangnya hatiku saat itu, walaupun hanya berbicara dari telepon genggam hatiku bahagia setelah mendengar keadaannya disana sehat walafiat. Namun setelah itu, sampai detik ini belum ada lagi kabar darinya. Sempat saking kangennya, aku ingin meneleponnya, dari telepon genggamku sekedar melepas kangenku padanya. Ada sedikit rasa was-was bercampur curiga dalam hati terhadap keadaan mas Adit disana. Tetapi semua kecurigaan dan rasa khawatirku tersebut segera kutepis dengan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT sesuai nasehat mbak Dewi kemaren. Sebagai seorang istri, aku mesti meyakini dan mempercayainya. Mas Adit adalah suami yang setia dan baik, mungkin saja benar adanya disana, mas Adit sibuk dengan urusan bisnisnya.

Beberapa hari ini, kulihat wajah mas Prima sangat tegang dan seperti sedang banyak masalah. Terkadang sesekali aku memergokinya sedang menatapku dengan tatapan sedih dan haru, seakan matanya sedang menyiratkan kesedihan saat melihat keadaan dan nasibku saat ini.

“Cin,” seru mbak Dewi. “Kenapa melamun, Dik? Kamu kangen dengan suamimu.”

Aku tersipu malu karena ketauan sedang galau memikirkan keadaan mas Adit disana.

“Sudah, jangan kamu terlalu berpikiran macam-macam.” Ucapnya menasehati. “Doakan suamimu, serahkan semuanya pada Allah. Itu akan membuat hatimu tenang, Dik.”

Aku tersenyum pada mbak Dewi, kakak iparku ini selalu memberikan nasehatnya yang bisa menyejukkan hati dan pikiranku.

“Terima kasih ya, Mbak.” Ucapku tulus memberitahu. “Nasehat mbak Dewi selalu memberikan solusi dan menyejukkan hati dan pikiran Cinta.”

“Sama-sama, Dik.” Ucapnya tersenyum tulus. “Yuk kita bikin sarapan pagi!”

“Ayo…!” Sahutku singkat. “Masak apa ya mbak kita?”

Mbak Dewi sejenak berpikir, lalu ia berkata pelan. “Gimana kalau kita bikin Chees Burger mini?” Kebetulan kemaren mbak bawa tuh semua bahan-bahannya tinggal kita masak saja.”

“Siip deh, Cinta ikut apa komandan.” Ucapku bergurau.

“Hahaha….” Tawanya lepas.

Mbak Dewi dengan sabar mengajarkan cara membuat Cheese Burger Mini, dan aku sangat antusias untuk belajar. Beberapa menit kemudian Cheese Burger Mini itupun sudah selesai, segera aku membawanya ke meja makan, sementara itu mbak Dewi membuatkan kopi hitam untuk mas Prima suaminya dan teh manis untukku, Akbar dan dia sendiri.

ilustrasi Cheese Burger Mini​

“Asyik…. Makan bulgel.” Teriak Akbar kegirangan saat ia melihat makanan yang sudah tersaji diatas meja makan.

Mas Prima tersenyum tipis melihat tingkah lucu anaknya, lalu mendudukkan putranya di kursi meja makan, mas Prima pun ikut duduk disamping Akbar.

“Ini kopinya, Pa!” Seru mbak Dewi sambil meletakkan secangkir kopi hitam yang tercium aromanya yang wangi.

“Makasih, Ma,” sahut mas Prima singkat. Dan mbak Dewi lalu menggeser kursi lalu mendudukinya. Sementara aku duduk disebelah mbak Dewi.

“Akbal minta 2 Bulgelnya, Ma,” serunya pada mamanya. Mbak Dewi mengambilkan 2 Cheese Burger Mini tersebut ke dalam piring dan menaruhnya di hadapan putranya.

“Mantap nih burgernya. Enak banget, Mbak.” Ucapku memuji hasil karya mbak Dewi.

“Iya, Tante. Masakan mama selalu enak,” celoteh Akbar memuji mamanya.

“Ma, papa pagi ini mau ngantor, ada meeting dadakan.” Ucap mas Prima memberitahu. “Barusan sekretaris mas, mengabari ada tawaran kerja sama dari perusahaan asing. Kontraknya besar, Ma. Makanya papa mau ngumbulin para manajer untuk meeting bahas proyek ini.”

“Alhamdulillah, Pa.” Sahut mbak Dewi bersyukur. “Semoga lancar nanti ya, Pa. Mama ikut mendoakan.”

“Amiien….. Terima kasih, Ma.” Sahut mas Prima menimpali. “Kamu memang istri solehah, papa bersyukur memperistri kamu.”

Aku yang mendengar pembicaraan mereka, hanya bisa tersenyum, ada rasa iri melihat kebahagiaan mereka. “Semoga kebahagiaan kalian akan aku juga kurasakan bersama suamiku, mas Adit”, gumamku membatin.

Setelah selesai sarapan pagi, mas Prima sudah bersiap dengan berpakaian rapi setelan jas berwarna hitam membuatnya terlihat gagah dan tampan.

“Cin, mas berangkat ya,” kata mas Prima pamit padaku.

“Iya, Mas.” Sahutku sambil mencium buku tangan mas Prima. “Hati-hati bawa mobilnya!”

“Iya, Dek.” Ucapnya menyahutiku. “Yuk Ma, Akbar! Papa anterin kalian dulu ke hypermart.”

Sepeninggal mereka, aku lalu membereskan piring, cangkir dan perlengkapan kami sarapan tadi dan membawanya ke tempat cuci piring, dan mencucinya hingga bersih. Hari ini entah apa sebabnya? Moodku sangat baik, perasaan hatiku sedang senang. “Apa karena tadi aku ikut merasakan kebahagiaan setelah melihat kemesraan keluarga mas Prima atau ada hal lain yang membuatku bahagia?” Tanyaku dalam hati.

Satu jam kemudian mbak Dewi dan Akbar pulang kembali ke rumah kontrakan kami dari hypermart diantar oleh mobil taxi. Lumayan banyak belanjaan mereka. Akbar terlihat senang, ketika ia mengeluarkan sebuah mainan robot-robotan dan permainan ular tangga dari dalam kantong kresek, sambil menunjukkan mainannya ia berceloteh. “Tante nanti temanin Akbal main ya.”

Aku segera mengusap-usap ubun-ubun kepalanya sambil memberikan sebuah anggukan kepala.

Sementara mbak Dewi pergi melangkah ke dapur sambil membawa kantong kresek berisi barang belanjaannya. Saat kami bermain ular tangga, mbak Dewi keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi cemilan dan dua gelas sirup, lalu ia ikutan nimbrung bermain bersama kami.

Penuh tawa, dan canda saat kami bertiga memainkan permainan tersebut. Saat ini giliranku, posisi ku sudah diangka 99, dan satu langkah lagi aku bisa finish sebagai pemenang, aku mengocok terlebih dulu dadu tersebut dan melemparnya ke lantai.

“Angka 3, Tante,” ucap Akbar lantang.

Aku lalu menggerakkan penanda permainan yang terbuat dari plastik, kuhitung langkahnya, 1 terus mundur lagi 2 dan 3.

ilustrasi permainan ular tangga​

Aku seketika cemberut kecewa saat melihat posisi angka 97, itu ada gambar kepala ular. Dan buntutnya menyentuh angka 79.

“Yeah. Hahahaha…” Teriak Akbar kegirangan disertai tawanya yang lepas. “Tante Cinta dipatok ular, Ma.” Celotehnya memberitahu. “Asyik tante cinta tulun lagi. Posisi Akbar diatas tante sekalang.”

Mbak Dewi tersenyum melihat tingkah lucu dan celotehan Akbar putranya, begitupun aku yang ikutan tertawa dengan permainan sederhana ini.

Tanpa terasa waktu terus berputar, pagi berganti menjadi siang, tidak terasa kami sudah bermain selama dua jam lebih. Aku sempat melihat jam dinding, aku langsung bergumam dalam hati. “Duh nggak kerasa sudah jam 11:30 wib, saatnya masak buat makan siang.”

Mbak Dewi ternyata juga melihat jam di dinding, seketika ia berkata. “Dik, biar mbak yang masak, kamu temanin saja Akbar main. Mbak senang lihat dia begitu bahagia main ular tangga.”

“Iya…! Tapi…Mbak.” Sahutku merasa tidak enak hati.

“Sudah nggak apa-apa,” Tukasnya. “Latihan buat kamu mendidik dan merawat anak, Cin. Biar kamu terbiasa nantinya.” Mbak Dewi berjalan menuju dapur meninggalkan aku dan Akbar yang sedang bermain ular tangga.

Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt…

Ponselku bergetar, segera ku raih ponsel tersebut dari saku baju daster. Sebuah pesan SMS masuk.

From : My husband is Adit

“Assalamualaikum wr.wb. Dek Cinta sayang. Mas siang ini berangkat dari Surabaya bareng papa dan mama.”

Setelah membaca pesan SMS dari suamiku, lalu aku segera membalas pesan tersebut.

“Waalaikum salam wr.wb. Adek senang sekali, Mas. Adek tunggu kalian di rumah kecil kita, i love u, suamiku.”

Beberapa menit kemudian mas adit membalas SMSku.

From : My husband is Adit

“I love too, istriku Cinta. Mas kangen sama kamu, muuaachh…”

Aku sangat bahagia sekali, saking senangnya aku sampai berteriak kegirangan.

“Yeah, tante Cinta. Kok malah senang. Justru seharusnya Akbal yang senang karena Akbal yang menang.”

Mendengar celotehan Akbar aku seketika melihat ke permainan ular tangga dan benar ternyata dia telah sampai di garis finish duluan. Aku cuma nyengir kuda melihatnya dan segera mengecup pipinya, ikutan senang karena keberhasilannya.

.

.

.

.

Sementara itu di tempat lain….

Seorang pemuda yang beberapa hari lalu terlihat berada di kota Surabaya, karena ia mesti menjalankan tugas dari bosnya mengawasi Adit selama di Surabaya, pada hari kamis lalu sudah kembali lagi ke Jakarta. Pemuda itu bernama Kuciah.

Walaupun Kuciah sudah mempunyai jabatan penting di perusahaan Pramudya suaminya Sekar, tetapi ia lebih patuh terhadap istri bosnya. Karena berkat jasa Sekar lah, lelaki itu kini sekarang mendapatkan posisi atau jabatan sebagai manajer keuangan di perusahaan besar tersebut.

Tugasnya kemaren sebagai informan sudah selesai ia jalankan dengan baik, kini Kuciah kembali ke Jakarta, menjalankan rutinitas pekerjaannya seperti biasa.

Kuciah saat ini menjalin hubungan asmara dengan seorang gadis cantik bernama Eva Safitri a.k.a Eva. Gadis cantik yang ia pacari sejak dua tahun lalu, adalah adik kelasnya sewaktu di SMA. Dua tahun lalu mereka menjadi dekat setelah diadakannya reuni akbar di sekolah mereka.

Hubungan asmara keduanya sudah sangat intim, mereka kini tinggal bersama dalam satu atap, seperti layaknya pasangan suami istri, walaupun status keduanya belum resmi menikah.

Tempat tinggal mereka saat ini, adalah sebuah sebuah rumah cukup elite, berada di kawasan Bintaro. Rumah yang dibelikan oleh perusahaan tempatnya bekerja saat ini, karena prestasi kerjanya yang mumpuni.

Sementara Eva, pacarnya. Saat ini bekerja di sebuah agency model yang dimiliki oleh Anastasya Putri Widjaja. Di tempat kerjanya Eva diberi tanggung jawab penuh oleh pemiliknya untuk mengurusi agency model tersebut. Jadwal kerjanya mulai dari hari Senin – Jum’at. Jam kerja mulai 7:30 wib hingga pukul 19:00 wib. Hari sabtu dan minggu ia mendapatkan libur.

Jam menunjukkan pukul 01:00 wib, mereka baru saja selesai bercinta. Keduanya sama-sama puas, terlihat dari wajah mereka yang tersenyum satu sama lain. Tubuh keduanya masih telanjang bulat dan hanya selimut tebal yang menutupi tubuh telanjang mereka.

Eva bangkit dari ranjang, tubuh bugilnya begitu indah. Bentuk tubuhnya begitu menggoda setiap mata lelaki yang memandangnya, tinggi dan berat badannya sangat proforsional. Kuciah terus memperhatikan kekasihya yang kini berjalan menuju lemari pakaiannya, lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari pakaiannya. Setelah Eva menemukan yang ia cari tadi, dia pun kembali melangkah ke pembaringan.

“Mas Kuciah,”seru Eva manja. Dia lalu mendekat dan menyenderkan tubuhnya di bahu kekasihnya. “Ada masalah serius yang mau Eva omongin.”

“Ngomong saja sayang,” sahutnya santai. “Penting banget ya.”

Eva menganggukkan kepala, lalu ia mulai membuka suaranya. “Beberapa hari ini aku sering merasa mual, kepala pusing, dan sudah satu bulan ini belum dapat mens. Aku curiga dengan semua gejala itu, lalu beli testpack dan…. Ini hasilnya mas. Aku positif hamil.” Eva menyerahkan testpack tersebut kepada Kuciah.

Lelaki itu menerima testpack tersebut dengan tangan gemetar. Matanya terbelalak kaget, melotot dengan mulut menganga. Setelah ia melihat dialat test kehamilan itu terdapat tanda dua garis. Petunjuk yang mengindikasikan bahwa pemakai alat test tersebut berarti positif hamil.

“Jadi kapan mas Kuciah menikahi aku?” Todong Eva dengan tegas. “Aku tidak mau sampai papa dan mama tahu, jika saat ini aku sedang hamil anakmu, Mas.”

Kuciah sempat bengong sejenak, ia shock melihat kenyataan saat ini, tetapi ia tidak ingin kehilangan wanita yang ia sukai sejak berpakaian putih abu-abu.

“Sebaiknya besok kita periksa lagi di dokter kandungan?” Ucap Kuciah menjelaskan. “Setelah di periksa oleh dokter kandungan, ternyata kamu benar hamil. Mas akan segera menikahimu.”

Eva segera memeluk kekasihnya, ia sedikit bisa tersenyum mendengar jawaban Kuciah yang mau segera menikahinya.

“Terima kasih mas Kuciah. Eva sayang sama kamu, Mas.”

“Iya sayang, mas juga sayang kamu.” Sahut pemuda itu. “Kita bersih-bersih dulu sebelum tidur.”

.

.

.

.

Aditya Febriansyah​

Pov Adit

Keesokan harinya….

Setelah semalam aku menasehati Tasya istriku dengan lembut penuh kasih tanpa bermaksud menghakiminya. Kini pagi ini, istriku Tasya terlihat ceria, wajahnya lebih tenang dari biasanya, senyumnya jadi tulus dan lebih terbuka untuk berbicara padaku.

Aku sedikit demi sedikit mulai sayang dan mencintai dirinya.

Setelah selesai ibadah sholat subuh, kami keluar kamar turun ke bawah. Dan menemukan papa sedang bersantai di ruang keluarga, kami menghampiri beliau. Namun Tasya langsung berlalu menuju ke dapur, setelah menyalami papa terlebih dahulu, untuk membantu mama dan bik Minah membuat sarapan pagi.

“Dit, rencana kamu hari ini apa?” Tanya papa padaku setelah kami berdua duduk bersantai sambil menonton acara TV.

“Adit pagi ini mau ke kantor dulu, Pa.” Jawabku memberitahu. “Setelah itu baru ke rumah kontrakan.”

“Papa ikut kamu ke kantor, Dit.” Ucap beliau sesaat menoleh kepadaku. “Pengen lihat perkembangan perusahaan selama kamu pergi ke Surabaya.”

“Baik, Pa.” ucapku singkat.

“Nanti papa dan mama ikut juga ke rumah kamu du Depok.” Ucapnya menjelaskan. “Biar kita terlihat seperti baru sampai dari Surabaya, Dit.”

“Kalau begitu Adit naik ke kamar dulu, Pa.” Ucapku sambil mencium buku tangan papa. “Bersiap-siap untuk ke kantor pagi ini.”

Papa hanya menganggukkan kepala.

Setelah sarapan pagi, aku pamit pada Tasya dan mama. Begitupun papa juga pamit pada mama dan Tasya. Belia berpakaian rapi memakai jasnya berwarna hitam. Kami berdua melangkah dengan gagah memasuki mobil Mercedes E-Class milikku.

Jam 8:00 wib….

Aku dan papa sudah sampai di kantor PT. RWG Trans (Persero), disambut oleh Imelda sekretarisku yang beberapa hari ini bisa menggantikan peranku di perusahaan. Meeting dadakan di lakukan pagi ini, semua manajer, kepala supir dan karyawan-karyawan lainnya yang berkaitan dengan operasional perusahaan, dikumpulkan di ruang rapat, untuk mengetahui perkembangan perusahaan selama aku berada di Surabaya. Hampir dua jam lebih kami berkumpul di ruang rapat membahas semua masalah yang terjadi. Papa memberikan arahan kepada para manajer, untuk mengikuti kebijakan yang diberikan olehku sebagai direktur. Aku memberikan beberapa arahan untuk para manajer, kepala supir, kepala mekanik. Berbagai keluhan mereka segera kucatat dan menjadi tanggungjawabku untuk segera mengatasinya.

Jam 11:00 wib….

Aku kembali ke ruanganku bersama papa. Di ruanganku papa memberikan beberapa arahannya secara langsung yang tidak ia katakan pada saat di ruang rapat.

Tok… Tok… Tok…

“Masuk,” teriakku dari dalam.

Imelda masuk sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam. Ia lalu menaruhnya di atas meja, satu cangkir kopi hitam untukku dan satu lagi untuk papa.

“Melda,” seruku memberitahu. “Saya dan papa tidak lama di sini! Kamu nanti jadwalin ulang dengan klien-klien kita. Hari senin saya sudah aktif bekerja lagi.”

“Baik, mas Adit.” Ucapnya mengerti. “Pak Gunawan, mas Adit. Saya pamit kembali ke meja saya.” Imendal sedikit menundukkan kepala lalu berjalan kembali keluar dari ruanganku.

Setelah Imelda keluar, kami melanjutkan kembali pembicaraan, lalu aku mengatakan pada papa akan melakukan inovasi baru.

“Pa, saat ini kita mesti melakukan inovasi atau terobosan baru supaya perusahaan bisa tetap bertahan.” Ucapku menjelaskan ide-ideku. “Kita mesti membuka pelayanan online, Pa. Sudah Adit hitung berapa nilai investasinya. Kita perlu beberapa orang untuk mengoperasikan sistemnya 24jam dengan sistem shift kerja. Nanti Adit bicarakan lagi kepada manajer operasional, manajer keuangan, jika papa menyetujui usulan Adit.”

“Betul itu, Dit.” Sahut papa. “Kita mesti segera mengikuti perkembangan teknologi, saingan kita sekarang sudah berperang melalui pelayanan media sosial. Kita mesti bergerak cepat. Papa setuju dengan ide-idemu, Nak.”

“Nanti Adit cari orang yang berkompeten untuk membuat website kita, mengoperasikan sistem kita dan bertanggungjawab penuh untuk itu, manajer operasional akan Adit pecah, Pa.” Ucapku lebih lanjut menjelaskan pada papa. “Saingan kita ke depannya bukan saja perusahaan sejenis, tetapi Go-J*k, Gr*b juga menjadi kompetitor yang siap mengambil pelanggan kita jika kita tidak mengantisipasinya.”

“Jadi kamu akan menambah divisi satu lagi ya, Dit.” Sahut papa menimpali penjelasanku.

“Benar, Pa.” Sahutku singkat, sambil menganggukkan kepala.

“Papa setuju dengan idemu, Dit.” Ucap papa tersenyum padaku. “Segera kamu bikin budgetnya, mumpung papa masih di Jakarta. Sekalian kita luncurkan divisi yang baru ini, Dit.”

“Siap, Bos,” ucapku sambil melakukan gerakan menghormat ala upacara resmi pengibaran bendera.

“Hahahaha….”Tawa papa keras.

Aku melirik jam tanganku, jam 11:30 wib ternyata sekarang. Smartphoneku sudah berada di genggaman, membuka aplikasi pesan SMS. Jemariku mulai mengetik kata perkata yang akan ku kirimkan pada istriku yang telah beberapa hari ku tinggalkan.

“Assalamualaikum wr.wb. Dek Cinta sayang. Mas siang ini berangkat dari Surabaya bareng papa dan mama.”

Segera kukirim ke nomor ponsel Cinta, dan beberapa menit kemudian ada balasan SMS darinya.

From : My wife is Cinta

“Waalaikum salam wr.wb. Adek senang sekali, Mas. Adek tunggu kalian di rumah kecil kita, i love u, suamiku.”

Dengan hati senang aku segera membalas SMS dari Cinta.

“I love too, istriku Cinta. Mas kangen sama kamu, muuaachh…”

Aku senyum-senyum sendiri setelah mencium ponselku.

Tiba-tiba….

“Ehem….” Suara deheman papa.

Aku tersadarkan setelah mendengar deheman papa, dengan menggaruk-garuk kepala salah tingkah aku hanya bisa menyengir pada papa.

“Kamu barusan SMS-an sama siapa, Dit?” Ucap papa bertanya. “Daritadi senyum-senyum sampai papa dicuekin sejak tadi.”

“Eh..Itu.. Barusan SMS-an sama Cinta, Pa.” Jawabku grogi. “Adit pura-pura kabari bahwa siang ini berangkat dari Surabaya bersama papa dan mama.”

“Oh begitu,” sahut beliau penuh wibawa. “Ayo kalau begitu kita pulang sekarang! Makan siang dirumah saja, sekalian siap-siap untuk berangkat ke rumah kontrakan kalian.”

“Ok, Pa.” Sahutku tanggap.

Jam 15:00 wib….

Aku berpamitan pada Tasya, mencium keningnya sambil membisikinya. “Dek, mas minta maaf untuk sementara kamu mesti mas tinggal di sini! Tapi mas akan selalu membagi waktu mas sesuai kesepakatan kita, mas cinta kamu, Sya.”

Tasya menganggukkan kepala, kemudian mencium buku tanganku. “Mas Adit. Jangan khawatirin adek di sini! Cinta sekarang juga butuh mas Adit. Ini bentuk pengorbanan adek demi kebahagian kita bertiga. Dan ini berikan buat adekku Cinta.” Tasya menitipkan sebuah bungkusan untuk kuserahkan nanti pada Cinta.

Lalu aku mendekati mang Udin dan bik Minah, kepada mereka aku menitipkan Tasya istriku. “Mang Udin, bik Minah. Adit titip istriku di sini ya. Tolong kalian jagain dia selama Adit di sana! Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungin ponsel Adit.”

Mama dan Tasya berpelukan dengan erat, sementara papa tetap tenang, walau matanya juga ikut berkaca-kaca. Kami bertiga melangkah menuju mobil merci yang terparkir di halaman depan, aku membawa bingkisan yang dititipkan oleh Tasya, sementara mama juga menjinjing sebuah kantong kresek sambil menggandeng lengan papa mengikutiku menuju mobil merci.

Satu jam kemudian….

Mobil merci yang kukendarai, sudah berada di halaman depan rumah kontrakan yang ku kontrak selama dua tahun.

Setelah mematikan mesin mobil, papa dan mama keluar dari pintu belakang sambil menjinjing kantong kresek, begitupun aku yang juga telah keluar dari dalam mobilku sambil membawa serta titipan dari Tasya.

Aku sangat senang ketika melihat suasana rumah ini sama seperti beberapa hari lalu sebelum aku ke Surabaya.

Kami bertiga berjalan menuju pintu depan rumah dan begitu sampai disana segera aku menekan bel rumah.

Ting… Tong…

“Sebentar…” Suara yang begitu familiar di telingaku menyahut dari dalam.

Krieeekkk…

Pintu bergerak perlahan, lalu…

“Mas Adit….” Seru Cinta kegirangan sesaat ketika ia melihatku di hadapannya.

Mbak Dewi dan Akbar pun ikut melihat kedatangan kami.

Cinta lalu mencium buku tanganku, aku langsung memeluknya sejenak sebelum kemudian membisikinya. “Dek, salim dulu sama papa dan mama. Nanti ya kita kangen-kangenannya.”

Cinta tersekiap kaget, pipinya berubah menjadi merah merona. Lalu ia beralih ke papaku sambil memperkenalkan dirinya.

“Selamat datang, Pa.” Ucapnya malu-malu. “Saya Cinta.” Kemudian ia mencium buku tangan papa.

“Iya, nak Cinta,” sahut papa tersenyum senang. “Saya papanya Adit.”

Setelah itu Cinta mendekat ke mama. Keduanya langsung berpelukan lalu disertai cipika-cipiki.

Sesaat kemudian kami semua masuk. Lalu aku kemudian menyalimi mbak Dewi, dan Akbar.

“Om Adit, akbal kangen sama, Om.” Celotehnya lalu ia mengulurkan tangannya minta digendong.

Sambil menggendong Akbar, aku mengenalkan mbak Dewi dan Akbar kepada papa dan mama.

“Pa, Ma. Kenalin ini mbak Dewi, istri mas Prima kakaknya Cinta. Dan Jagoan kecil ini anak mereka namanya Akbar.”

“Dewi, Om.” Ucap mbak Dewi menyalimi papaku. Lalu mbak Dewi beralih ke mama.

“Dewi, Tante.” Ucapnya sambil menyalimi mama lalu mereka berpelukan disertai cipika-cipiki.

Papa dan mama duduk di sofa ruang tamu, diikuti oleh aku yang masih menggendong Akbar, dan Cinta mendampingiku. Tidak bisa kulukiskan betapa bahagianya aku setelah melihat papa dan mama bisa menerima Cinta terlihat saat interaksi diantara mereka bertiga saat ini.

Jam 17:00 wib…..

Mas Prima baru sampai di rumah kontrakan, dia tersenyum senang ketika mengetahui kami bertiga sudah datang kemari.

Aku, papa dan mas Prima duduk di sofa ruang tamu. Kami bertiga mengobrol, papa menceritakan kedekatan papa dengan papa Pramudya, aku dan mas Prima menjadi pendengar yang baik menyimak cerita papa sampai selesai. Mas Prima jadi semakin hormat kepada papa dan tersenyum lebar ketika bertatap mata dengan ku.

“Dit, maafin mas ya.” Ucapnya dengan tulus sambil tertunduk malu. “Kemaren mas terbawa emosi, mas malu sama om dan kamu, Dit.”

Aku menepuk pundak mas Prima, lalu aku berkata. “Sudahlah mas Pri. Kita lupain yang kemaren.Adit mengerti kemarahan mas Prima pada Adit. Adit bisa memakluminya, kita sekarang sudah jadi satu keluarga besar, kita sama-sama memperbaiki kesalahan kita, Mas. Adi mohon bimbingan mas Prima dan papa untuk menjadi suami yang baik untuk kedua istri Adit.”

Mas Prima memelukku dengan erat.

Sementara itu, Cinta, mama dan mbak Dewi sudah sejak tadi berada di dapur. Entah apa yang mereka bertiga kerjakan disana?

Setelah selesai sholat maghrib berjamaah, dengan papa yang menjadi imamnya, kami melanjutkannya dengan makan malam bersama.

Aku sangat senang dengan kebersamaan ini, mataku berkaca-kaca, terharu senang. Begitu juga dengan Cinta, dia terlihat sangat bahagia mengetahui kedua orangtuaku telah merestuinya. Sepanjang makan malam Cinta selalu tersenyum, senyum tulus penuh kebahagiaan terpancar dari bibirnya.

Jam 20:30 wib….

Mas Prima, mbak Dewi dan Akbar memutuskan untuk pulang ke rumah mereka, walaupun alasan mereka karena sudah beberapa hari meninggalkan rumahnya tetapi aku bisa menangkap maksudnya biar kami bisa lebih akrab dan dekat, terutama hubungan antara Cinta dengan papa dan mama.

Setelah kepulangan keluarga mas Prima, kini kami berempat masih duduk bersantai di rumah sederhana ini. Papa dan mama tidak canggung mengajak bicara Cinta, mereka memperlakukan Cinta sama baiknya dengan Tasya. Bahkan mama dan Cinta cepat akrab, mereka mengobrol layaknya ibu dan anak, bahkan Cinta tertawa setelah menceritakan kelucuan masa kecilku dulu. Aku menoleh ke papa dan papa hanya tersenyum senang.

Jam 22:30 wib….

Papa dan mama bilang sudah mengantuk dan Cinta dengan sigap. mempersilahkan kedua mertuanya tersebut masuk ke kamar tamu. Kamar tamu yang sebelumnya ditempati oleh mas Prima dan mbak Dewi, sudah dirapikan kembali oleh Cinta sesaat sebelum papa dan mama masuk ke kamar.

Setelah papa dan mama masuk ke kamar tamu, aku lantas mengajak Cinta masuk ke kamar tidur kami. Kemanjaannya ia perlihatkan saat kami cuma berduan di dalam kamar tidur. Pelukannya sangat erat menumpahkan semua rasa rindunya kepadaku, begitu pula denganku yang merindukan dirinya, setelah beberapa hari lalu, sempat melupakannya bahkan menikah dengan Tasya.

Aku baru menyadari bahwa keputusanku ini akan melukai perasaannya, entah bagaimana aku akan menyampaikan kepadanya, mulutku kaku, tubuhku bergetar, hatiku bimbang. Aku tidak kuat memyaksikan cintaku akan tersakiti dengan keputusanku ini.

“Ya allah, beginikah rasanya jika kita telah membohongi orang yang kita sayangi. Aku mohon berilah hamba jalan keluar yang terbaik, aku tidak bisa hidup tanpa mereka berdua.” Aku berdoa dalam hati.

“Mas Adit,” seru Cinta berbisik pelan.

Aku terkesiap kaget, pandanganku langsung mengarah kepadanya. Ku belai pipinya dan pandangan kami beradu, rindu kami malam ini begitu besar, tanpa kami sadar kepala kami saling mendekat satu sama lain dan sesaat kemudian bibir kami pun sudah saling melumat dengan penuh gairah yang menggebu.

“Mmmppphhh… Mmmppphhh… Mmmppphhh…”

Leguhan Cinta ketika bibirnya terus kulumat, sementara kedua tanganku dengan lincah mulai meremas kedua payudaranya. Saat nafsu kami sudah tinggi.

Tiba-tiba….

Kringg…. Kringg….

Handphone Cinta berbunyi, kami berdua sontak kaget. Buru-buru Cinta turun dari ranjang, lalu segera menerima telepon tersebut.

“Assalamualaikum wr.wb. Ya hallo, Pa.” Sahut Cinta menjawab panggilan telepon papanya.

“…………………”

“Iya, Pa. Sekarang mas Adit ada di rumah kontrakan kami bersama papa dan mamanya,” sahut Cinta menjawab dengan senang.

“…………………”

“Apa, Pa? Tidaaaaakkk…… Papa cuma bercanda, kan.” Sahut Cinta seketika berteriak di telepon genggamnya.

“Hiks…. Hiks…. Hiks….”

Bersambung

END –  Pelarian Kisah Cintaku Part 32 | Pelarian Kisah Cintaku Part 32 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 31)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 33)