Pelarian Kisah Cintaku Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 3

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 3 | Pelarian Kisah Cintaku Part 3 Start

Pov 3rd

“Jangan nangis terus, Mbak,” hibur pemuda itu serba salah. “Jangan bikin saya jadi tambah bingung.”

Cinta langsung menghapus air matanya dengan jengkel.

Ia memajukan tubuhnya merapat ke kursi pengemudi, lalu menatap ke spion menantang mata si supir, tepat di saat pemuda itu tengah mengawasinya dari kaca spion .

Terpaksa pemuda itu menunduk rikuh.

“Kalau kau dipisahkan dari orang yang kau cintai, lalu dipaksa kawin dengan orang lain, apa yang akan kau lakukan?” bentak Cinta geram. “Tertawa-tawa? Berteriak-teriak senang?”

“Setidaknya beritahu ke mana tujuan kita,” kata pemuda itu sambil menelan ludah keluh. “Yang paling menyiksa bagi seorang supir adalah ketika tidak tahu arah yang dituju.”

Cinta menghempaskan punggungnya dengan lemah ke sandaran kursi. Ia membuang pandangannya ke luar jendela dan menarik nafas dengan perasaan tersiksa.

“Bawa saya pergi jauh….” bisiknya sambil menangis lagi.

“Jauh dari rumah itu….! Itu saja yang saya inginkan.”

“Apakah mbak punya alamatnya…? Rumah keluarga, atau teman,” sergah pemuda itu kebingungan.

“Semua orang yang saya kenal kini menjadi musuh saya,” bisik Cinta getir. “Mereka mendukung mama saya untuk menjebloskan saya ke dalam pernikahan keparat ini…”

“Lalu ke mana saya harus mengantarkan mbak?” tanya pemuda itu sambil menyeka dahinya yang berkeringat.

Meskipun AC di mobil ini dingin luar biasa, ia merasa tegang dan kepanasan.

Sejak tadi gadis yang disupirinya ini tidak memberikan jawaban yang memuaskan ke mana sebetulnya ia harus menyetir mobil. Bikin pusing dan jadi ruwet.

“Antarkan saya ke penginapan yang bisa saya tempati untuk waktu yang cukup lama,” ucap Cinta akhirnya. “Supaya saya bisa menyembunyikan diri, mengasingkan diri, sampai keributan di rumah reda, dan mereka melupakan pernikahan itu.”

Pemuda itu mengambil inisiatif sendiri. Ia tidak mau bertanya apa-apa lagi, daripada malah tambah rumit. Belum tentu gadis itu tahu penginapan mana yang diinginkannya.

“Lebih baik langsung saja aku yang memutuskan,” pikir pemuda itu kesal. “Kalau tidak salah, diujung jalan tol Cikampek, ada penginapan yang lumayan bersih, kubawa saja gadis ini ke sana supaya persoalan ini cepat beres. Kepala’ku sudah mau pecah!”

Pemuda itu langsung membawa limousin itu melaju di jalan tol. Selama perjalanan keduanya membisu. Sesekali pemuda itu melirik ke kaca spion dan diam-diam mengagumi kecantikan gadis itu. Ia menyusuri setiap senti yang terpatri di wajah gadis itu.

Matanya yang indah dengan bulu mata yang lentik, dinaungi sepasang alis yang tebal dan hitam. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis memerah.

Cantik sekali, dan gadis itu semakin memukau dengan riasan pengantinnya yang sempurna.

“Sayang,” pikirnya. “Cantik-cantik tapi bermasalah.”

Pemuda itu mengawasi Cinta yang terpekur memandangi jalan di luar sana.

Entah berapa lama Cinta termenung, matanya memang tertuju ke luar jendela, tapi pikirannya menerawang ke mana-mana. Sampai-sampai ia tidak sadar ketika mobil berhenti di depan lobi kawasan bungalo yang asri dan teduh.

“Apa mbak tidak keberatan menginap di sini?” tegur si pemuda sopan.

Cinta tersentak, lalu menebarkan pandangannya ke sekitar dan melihat kawasan bungalo yang rimbun karena banyak perpohonan rindang. Pemandangan di situ pun cukup indah, bukit-bukit di kejauhan dengan lembah yang permai.

“Saya rasa bungalo ini cukul jauh untuk melarikan diri dari rumah mbak, bukan?” tanya pemuda itu, tanpa bermaksud menyindir.

Bukannya menyahut, Cinta malah cepat-capat turun dan membanting pintu.

Dengan langkah tersendat-sendat karena dibelit kain, ia berjalan memasuki lobi penerimaan tamu.

“Sialan!” gerutu pemuda itu kesal. “Jangankan bayar, bilang terima kasih saja tidak! Nanti ku kirim saja tagihan dobel ke orangtuanya!”

Hanya ada satu jalan untuk masuk dan keluar dari bungalo itu. Jalan itu tidak lebar dan berupa lintasan satu arah.

Pemuda itu terpaksa harus memutar mobilnya di ujung pelataran. Ia melaju lambat dan hati-hati.

Ketika mobil itu telah berbalik arah dan sampai di depan lobi lagi, tiba-tiba Cinta muncul lagi di sana.

Gadis itu berdiri menghadang, ia berusaha menahan laju mobil limousin.

Semula si pemuda itu mencoba menghiraukannya, tapi Cinta langsung membuka pintu begitu mobil melintas perlahan-lahan di depannya. Tanpa permisi, ia langsung nyelonong naik.

“Maaf! Saya baru ingat, saya tidak membawa dompet.” seru Cinta jengkel campur geram.

Ia membanting tubuhnya di kursi belakang, dengan muka di tekuk lesu, sambil meneruskan perkataannya.

“Uang dan kartu kredit saya tertinggal di rumah, bahkan saya tidak punya kartu identitas sama sekali. Tentu saja mereka tidak mau menerima saya.”

“Apa perlu saya antar pulang saja, Mbak?” tanya pemuda itu putus asa.

Ternyata belum berakhir juga masalah yang menimpanya.

“Dengar!” gertak Cinta ketus.”Kalau kau memulangkan saya, itu sama artinya kau mengembalikan saya ke penjara!”

“Busyet, seserem itu ya artinya rumah untuk mbak?” keluh pemuda itu sambil geleng-geleng kepala.

“Apa artinya jika kau tinggal di tempat yang penuh dengan peraturan dan larangan?”

“Begini saja deh, Mbak.” usul si pemuda tidak sabar. “Bagaimana jika mbak tinggal dulu sementara di rumah saya?”

“Kau pikir mereka sebodoh itu?” sahut Cinta dengan mata membelalak. “Sekarang mereka pasti bukan cuma sedang mencari-cari saya, tapi juga memburu mu! Menelpon kantor mu, menanyakan alamat mu, dan mungkin menggeledah rumahmu. Jadi kalau saya pergi ke rumah mu, mereka akan dengan mudah menemukan saya!”

Si pemuda langsung meringis. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Astaga!” keluhnya panik. “Jadi sekarang saya pun terlibat?”

“Tidak ada pilihan lain.” Cinta mengangkat bahu dengan angkuh.

Ia tidak mau bergeser sedikit pun dari tempat duduknya di mobil itu.

“Kita harus kabur bersama-sama. Lagi pula kalau saya membiarkan mu pergi, tidak ada jaminan kau tidak akan membeberkan di mana persembunyian saya kepada orang tua saya!”

Cinta langsung mencengkeram bahu pemuda itu dar belakang, lalu ia berkata dengan sedikit ancaman.

“Jadi kau terpaksa saya jadikan sandera!”

Pemuda itu terkesiap ngeri.

“Kalau begitu, watak orang tua menurun juga ke Mbak! Suka memenjarakan orang!”

.

.

.

Karena Cinta tidak mau turun juga, seolah ia tidak mau membiarkan si supir pergi begitu saja, terpaksa pemuda itu memarkirkan mobilnya. Ia lalu menemani Cinta turun ke lobi untuk mendaftarkan diri sebagai tamu.

Karena merasa dibutuhkan, sikap pemuda itu langsung berubah. Ia tidak lagi menunjukkan rasa sungkan malah cenderung mempermainkan, pemuda itu sok jual mahal.

“Gandeng tanganku,” katanya pada Cinta.

“Untuk apa?” tolak Cinta sombong.”Kau cuma dibayar untuk menyetir, bukan untuk memegang tanganku!”

Pemuda itu sampai menarik nafas menyabarkan diri. “Dasar tidak tahu diri. Meski tidak punya uang sepeser pun, lagaknya masih sok kaya!”

“Kau tidak mau mereka curiga pada kita, kan?” tanya pemuda itu geram. “Percuma kau menyuruh ku turun kalau tidak mau menurut!”

“Tidak perlu gandengan segala!” balas Cinta tidak mau kalah.

Tapi tidak ada waktu lagi untuk berdebat. Mereka sudah memasuki lobi. Pemuda itu langsung menyambar tangan Cinta. Ketika Cinta berusaha melepaskan genggamannya, pemuda itu langsung meremasnya dengan kasar sampai Cinta meringis kesakitan.

“Berpura-puralah menjadi istriku,” gertak pemuda itu mengancam. “Kalau mereka sampai menolak kita menginap, ku tinggalkan kau di pinggir jalan!”

Rupanya ancaman itu ampuh. Cinta langsung tidak berkutik. Ia patuh saja ketika pemuda itu menariknya mendekati resepsionis, meskipun tubuhnya mengejang kaku.

Seorang resepsionis memandang mereka penuh tanda tanya. Perempuan, berbadan gemuk dan sedikit judes saat ini dihadapan mereka.

Barangkali ia sudah terlalu sering meladeni tamu-tamu iseng yang hanya menanyakan harga sewa kamar, atau cuma ingin tinggal untuk kencan beberapa jam.

Pasti ia pula tadi yang menolak Cinta, karena mukanya terlihat bermusuhan ketika melihat Cinta muncul lagi di depannya.

Sang supir limousin buru-buru tersenyum ramah sambil mengerlingkan mata. Berusaha mengalihkan perhatian resepsionis.

“Hai,” sapanya penuh rayuan gombal.

“Kami perlu bungalo, kami pengantin baru.”

Si resepsionis langsung menaikkan alisnya. Tentu saja ia tidak percaya bahwa pemuda dan gadis yang berdiri bergandengan tangan di depannya ini sepasang pengantin.

Si perempuan mengenakan kebaya mempelai, lengkap dengan rakaian melati dan kembang goyang, sementara si pria mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu. Tapi kenapa mereka datang tiba-tiba? Tidak melakukan reservasi sebelumnya? Perkawinan macam apa ini?

“Tapi anda tidak punya kartu pengenal sama sekali,” kata si resepsionis dengan suara datar.

“Oh, ini istri saya. Tadi saya sedang memarkirkan mobil.” ucap pemuda itu menjelaskan sambil memberi senyuman manisnya. “Karena sekarang dia sudah jadi istri saya, saya dong yang harus membayar semuanya. Istri kan tanggungan suami. Saya tidak akan membiarkan istri saya memgeluarkan uang sepeser pun.”

Pemuda itu memgeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Cinta sempat tersentak ketika melihat isi dompet itu. Dompet itu lumayan tebal, penuh lembaran uang ratusan ribu dan kartu kredit dari berbagai bank.

Menyadari tatapan Cinta, pemuda itu cepat-cepat menarik KTPnya dan mengambil salah satu kartu kredit. Lalu ia bergegas menutup kembali dompetnya.

Si Resepsionis masih menatap keduanya dengan pandangan tak percaya.

“Perlu jaminan lain?” tanya pemuda itu sambil memamerkan sederet giginya yang putih berkilau.

Sang resepsionis itu mencondongkan tubuhnya, melewati meja tempatnya bertugas. Ia menjenguk ke bawah kaki tamu di hadapannya. Kosong. Tidak ada satu koper pun.

“Untuk menikmati malam pengantin, kita tidak memerlukan selembar pakaian pun, kan?” tanya pemuda itu santai, sambil menoleh nakal ke Cinta yang berdiri tegang di sisinya.

Lalu tiba-tiba ia merengkuh Cinta dan tiba-tiba mendaratkan kecupan di pipi gadis itu.

“Betulkan, sayang?” bisiknya mesra.

Tangan Cinta sudah terangkat ingin menampar pemuda itu sekeras-kerasnya, tapi suara si resepsionis membatalkan niatnya.

“Mau sewa berapa hari?” Mendadak resepsionis itu nenyunggingkan senyum ramah. “Saya pilihkan bungalo yang paling indah supaya bulan madunya berkesan.”

.

.

.

“Untuk apa ciuman tadi!” semprot Cinta begitu pintu bungalo mereka tertutup.

Room boy yang mengantarkan mereka telah pergi di balik pintu.

“Untuk menyukseskan sandiwara kita!” balas pemuda itu sengit.

Sekarang ia merasa di atas angin. Merasa kedudukan mereka telah seri. Tanpa pertolongannya, belum tentu Cinta bisa memperoleh kamar.

“Tapi tidak ada dalam perjanjian,” sangkal Cinta marah. “Cowok ini semakin besar kepala saja,” pikirnya kesal. “Mentang-mentang aku membutuhkannya. Lagaknya makin bertingkah!”

“Apa dalam perjanjian penyewaan limousin juga disebutkan aku harus mengantarkanmu ke penginapan?” sahut pemuda itu dingin. “Tugasku cuma membawa mempelai pengantin ke mesjid dan pulang lagi ke rumah!”

Pemuda itu melipat kedua tangannya di dada, lalu menyipitkan matanya menatap Cinta.

“Nah, kau sudah kuantar dengan selamat sampai ke dalam kamar. Kurasa tugasku sudah selesai sekarang.”

“Lalu kau mau ke mana?”, tanya Cinta resah. Ia melangkah hilir-mudik di dalam kamar. “Meninggalkan ku sendirian di sini?!”.

“Apa masih ada kejahatan lain yang harus kulakukan?” sindir pemuda itu dingin. “Aku tidak mau terlibat…”

“Kalau kamu pulang dan mereka menemukanmu, mereka akan menginterogasimu.” Cinta berpikir panik. “Lalu, kau akan mengatakan dimana aku berada?”

“Apa aku punya pilihan lain?”

“Jadi, jadi….Kau juga tega….Membiarkanku menjadi istri lelaki yang tidak kucintai?” Cinta menatap pemuda itu dengan mata yang menyorot kesedihan yang mendalam.”Kau juga rela membiarkan kumerana hidup dalam perkawinan yang tidak bahagia?”

Sekejap pemuda itu tertegun. Sedikit demi sedikit ia mulai mengerti apa yang menimpa gadis ini. Sebetulnya ia mulai kasihan, tapi lagak gadis ini sungguh menjengkelkannya. Angkuh, sombong dan sok berkuasa.

Pemuda itu masih memandangi Cinta tanpa berkata-kata, ketika tiba-tiba Cinta melangkah terhuyung-huyung sambil memegangi perutnya. Gadis itu menerobos masuk ke kamar mandi, dan terdengar suara muntah-muntah dari dalam sana.

Beberapa saat Cinta berada di dalam kamar mandi sampai terdengar suara air pembilas kloset. Lalu ia muncul di depan pintu dengan wajah pucat.

Sikap pemuda itu yang tadinya menjengkelkan telah berubah. Ia langsung menghampiri Cinta dengan wajah prihatin.

“Apakah…. Kau sakit, Mbak?” tanya pemuda itu dengan di liputi wajah cemas.

Cinta beringsut gontai, berusaha mencapai tempat tidur dengan susah payah, dan ia pun jatuh terduduk lunglai di sana.

Ditelinganya terngiang-ngiang pertanyaan yang sama, tetapi bukan dari pemuda itu yang bertanya, melainkan mamanya Sekar Rahayu Sukmawati.

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 3  | Pelarian Kisah Cintaku Part 3 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 2)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 4)