Pelarian Kisah Cintaku Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 28

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 28 | Pelarian Kisah Cintaku Part 28 Start

Chapter 28. Ziarah Ke makam Ayu

Cuplikan chapter sebelumnya….

Pukul 14:00 wib, kota Surabaya…..

Adit sedang berbicara dengan seseorang di telepon, terlihat sekali wajahnya begitu bahagia selama ia berbicara dengan orang tersebut.

Sementara itu Tasya ikut tersenyum, ekspresi gadis itu ikut bahagia saat calon suaminya tertawa dan sesekali bercanda dengan lawan bicaranya di ujung telepon sana.

Setelah beberapa menit kemudian pembicaraan Adit dengan orang tersebut akhirnya selesai.

Lalu Tasya kembali mendekat dan memeluk Adit, sambil menggoda calon suaminya tersebut.

“Sudah puas mas Adit. Kangen-kangenan sama Cinta, baru tau kalau kamu itu ternyata jago merayu juga ya mas.”

“Kamu cemburu dengan Cinta, Sya?” Tanya Adit balik menggodanya.

Tasya menggeleng, tetapi ia menunduk sesaat mencoba menghilangkan rasa cemburu dihatinya.

“Jika kamu belum bisa membuang rasa cemburumu pada Cinta, kamu akan sulit Sya untuk melakukan kedua permintaanku. Lakukanlah dari hati dengan penuh ketulusan, mas percaya kamu bisa melakukan itu.” Sahut Adit mencoba memberikan arahannya untuk Tasya.

“Iya mas. Tasya akan belajar itu semua, makasih ya mas sudah mau menerima Tasya, memaafkan kekhilafan Tasya.” Ucap gadis itu lirih bercampur haru.

“Dah yuk, kita jalan-jalan. Mas ingin mengajakmu kesebuah tempat. Kamu sudah siap.”

“Siap dong, istri mesti ikut apa kata suaminya,” kata Tasya mulai santai menanggapi perkataan Adit.

“Tapi mas, kita pamitan dulu sama Papa dan Mama,” kata Tasya senang.

“Ayo,” sahut Adit lalu ia menggandeng tangan Tasya untuk menemui kedua orangtuanya.

.

.

.

Di rumah kontrakan Cinta di daerah Depok….

Cinta Rahayu Pramudya​

Pov Cinta

Keesokan harinya…

Suara-suara adzan yang berkumandang dari tempat-tempat ibadah di lingkungan sekitar rumah kontrakan ku, saling bersahut-sahutan untuk memanggil ku dan umat manusia yang memeluk ajaran-Nya untuk segera bangun dari tidurnya dan segera mengerjakan perintah-Nya.

Begitupun dengan kami, suara merdu yang dilantunkan oleh muadzin seketika membuat kami berdua terbangun dari buaian mimpi-mimpi.

“Sudah subuh ternyata,” gumamku dalam hati.

Aku mencoba menggerak-gerakkan tubuhku dari leher, kemudian tangan dan pinggulku, hanya untuk meregangkan otot-otot yang sedikit tegang dan pegal karena posisi tidurku yang kurang nyaman.

Setelah semalam aku mendapatkan mimpi yang buruk tentang Adit suamiku, kini haruku sedikit bisa tenang berkat adanya mbak Jelita yang begitu perhatian dan bisa menenangkan hatiku yang sedang gelisah.

“Dek…! Mbak hari ini pulang dulu ya. Nanti mbak kesini lagi!” Mbak Jelita mengawali obrolan kami setelah tadi kami berdua selesai beribadah di pagi yang cerah ini.

“Iya mbak. Terima kasih sudah menemani adek. Kita bikin sarapan dulu sebelum mbak Jelita pulang,” kataku menanggapi perkataan mbak Jelita.

“Ayo….!” Sahut mbak Jelita senang.

Kami berdua menuju ke dapur untuk membuat sarapan pagi, mbak Jelita membuat teh manis, sementara aku membuat spagheti sosis goreng yang sempat aku pelajari dari buku menu yang aku beli beberapa hari lalu.

“Wah… Mantap nih spagheti nya. Makin pintar saja dek kamu memasak,” puji mbak Jelita sambil ikut mendekat melihatku sedang memasak.

“Ini juga baru belajar mbak, dari buku menu yang kemaren kami beli. Semoga mbak suka!” Jawab ku sambil tanganku dengan lincah mengaduk spagheti diatas penggorengan.

Beberapa menit kemudian spagheti sosis goreng ala chef Cinta sudah siap dan segera ku sajikan diatas meja makan. Bersama Teh manis, telor dadar dan sosis goreng.

Aku mempersilahkan mbak Jelita untuk mencoba masakan yang baru saja kubuat. Begitupun denganku yang juga mengambil spagheti tersebut setelah mbak Jelita selesai menuangkan ke dalam piringnya.

“Nyam…nyam…nyam… sluuurph,” mbak Jelita mulai mencicipi spagheti tersebut.

Lalu ibu jarinya mengacung keatas dan berucap, “Mantap nih masakan kamu dek, sudah seperti masakan koki di hotel berbintang.”

Aku tersenyum sumringah mendapatkan pujian dari mbak Jelita, dan lidahku mengecap masakan yang kumasak tadi.

“Alhamdulillah ternyata memang enak, pantas saja mbak Jelita merasa suka,” gumamku dalam hati sambil mencoba sendiri spagheti hasil karyaku.

“Jangan sungkan-sungkan mbak, nambah saja,” goda ku saat melihat ia dengan antusias mengambil lagi spagheti tersebut dan memindahkannya ke dalam piringnya.

“Hehehe…,” mbak Jelita tertawa kecil setelah mendengar perkataanku yang sedikit menggodanya.

“Serius nih. Ini beneran enak dek, mbak suka dengan rasanya. Kamu pinter masak sekarang,” ucapnya mengulang kembali pujiannya padaku.

Kami sarapan pagi dengan begitu semangat, sambil bercanda gurau dan sekedar cerita-cerita mengenai berbagai menu masakan hingga tak terasa mbak Jelita sudah mau pulang.

“Dek, mbak pulang dulu ya. Besok lusa nanti mbak kesini lagi, atau kamu yang main ke rumah mbak,” katanya sudah berada di teras rumah kontrakan kami.

“Iya mbak. Nanti adek main ke rumah mbak Jelita jika mas Adit sudah pulang. Biar sekalian kenal juga mas Adit sama mas Har, kakak iparnya,” sahut ku lalu kami berpelukan di sertai cipika-cipiki.

Jam 7:00 wib

Setelah kepergian mbak Jelita aku merasakan kembali kesepian di rumah kontrakan ini, setelah mengunci pintu depan, dan memasukkan ponsel yang diberikan mas Adit ke dalam saku baju dasterku.

Aku lantas melangkah menuju taman belakang rumah, salah satu spot yang membuat ku nyaman dan betah, di taman belakang ini kami menanam tanaman hias diantaranya anggrek bulan, tanaman hias kesukaanku.

Ilustrasi taman belakang rumah Cinta​

Aku sengaja menyibukkan diri dengan merawat sebagian tanaman hias tersebut. Setiap pagi selalu aku siram semua tanaman tersebut sehingga membuat suasana taman belakang semakin segar dan terlihat alami.

Satu jam kemudian….

Drrrttt…. Drrrttt….

Ponsel di dalam saku bajuku bergetar, dalam hatiku berharap semoga saja ini dari suamiku.

Aku lalu meletakkan alat menyiram tanaman, lalu segera mengambil ponsel yang tadi kutaruh di saku baju daster.

“Ah… cuma pesan WA dari mbak Jelita,” gumamku sedikit kecewa setelah melihat di monitor ponsel.

Ku buka dan kubaca pesan WA dari mbak Jelita yang mengabarkan bahwa ia telah sampai di rumahnya dan mau ke kantor tempat ia dan suaminya bekerja.

Setelah selesai membaca pesan WA, aku lalu memasukkan kembali ponselku ke saku dasterku.

Sempat hati ku gelisah kenapa sampai sekarang mas Adit belum memberi kabar kepadaku, tetapi aku meyakinkan hati ku supaya tidak ada lagi keraguan dan kegelisahan yang melandaku.

“Mungkin mas Adit masih sibuk disana, sabar Cinta. Kamu mesti percaya sama suamimu, dia bukan lelaki yang mudah berpaling kepada wanita lain.”

Setelah selesai menyiram seluruh tanaman dan sedikit lelah aku kemudian duduk bersantai sambil melihat tanaman-tanaman, segar dan sejuk sekali rasanya.

Tutt… Tuutt…

Ponsel kembali bergetar dan berbunyi. Segera ku raih hp yang tadi sempat ku simpan di saku dasterku.

Dan segera ku angkat karena ternyata papa yang sedang menelepon.

“Ya halo pa,” sahutku menjawab panggilan telepon darinya.

“Kamu ada di rumah sekarang nak. Papa mau kesana?”

“Iya pa. Cinta ada di rumah kok, nggak kemana-mana,” sahutku kembali.

“Yaudah papa sekarang ke sana ya nak, assalamualaikum wr.wb.”

“Waalaikum salam wr.wb,” sahutku menjawab salam papa dan kembali memasukkan ponselku kedalam saku baju dasterku.

“Sebaiknya aku mandi dan ganti pakaian saja, gerah setelah berkebun,” batinku berseru.

Lantas aku kembali ke dalam dan segera bersiap mandi supaya badanku kembali segar kembali.

Jam 9:10 wib

Ting… Tong…

Suara bell pintu depan berbunyi.

Ah, papa kayaknya sudah sampai nih. Aku lalu mengintip dulu dari gorden melihat siapa gerangan yang bertamu pagi ini. Dan benar ternyata itu papa, beliau datang bersama mas Prima.

“Cin… Cinta! Buka nak. Papa datang!” Ucap suara papa dari arah luar pintu depan.

Aku membuka kunci pintu dan perlahan-lahan memutar gagang pintu.

Ceklek….

Krieekk….

Pintu pun perlahan-lahan mulai terbuka dan sesaat kemudian terlihatlah papa dan mas prima berdiri dihadapanku dengan menyunggingkan senyum.

“Masuk Pa, mas Prima.”Kata ku mempersilahkan mereka masuk ke dalam.

Papa dan mas Prima melangkah masuk ke dalam rumah setelah kupersilahkan tadi, dan aku mengikuti mereka dari belakang.

Melihat kedatangan papa dan mas Prima sedikit banyak membuatku merasakan senang setidaknya mereka berdua keluarga yang masih peduli terhadapku.

“Duduk dulu Pa, mas Prima! Cinta tinggal bentar ke belakang mau bikinin kopi buat kalian berdua,” ucapku lalu berlalu menuju dapur untuk membuatkan kopi hitam untuk mereka berdua.

Dengan penuh semangat, aku kembali melangkahkan kaki menuju ruang tamu sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam, beserta kue yang kemaren dibawa oleh mbak Jelita.

Ku letakkan dua cangkir kopi hitam itu masing-masing dihadapan papa dan mas prima serta sepiring berisi kue pemberian mbak Jelita, lalu dengan sopan aku mempersilahkan papa dan mas Prima untuk minum.

“Maaf Pa, mas Prima. Hanya kopi hitam dan kue pemberian mbak Jelita ini saja yang bisa Cinta suguhkan buat kalian.”

“Oh, nggak usah repot-repot, Nak. Ini saja sudah lebih dari cukup. Papa dan mas Prima kangen dan khawatir pada mu,” ucap papa santai dan penuh bijaksana.

“Dek, tadi kamu bilang kue ini pemberian dari Jelita. Apakah Jelita sudah kesini Dek?” Tanya mas Prima menyambung perkataanku.

“Iya mas.” Beritahuku. “Mbak Jelita kemaren kesini, malahan ikut nginep nemenin adek. Pagi tadi barusan pulang.”

“Ohh, syukurlah kalau begitu jadi kamu tidak kesepian selama suamimu ke Surabaya. Memangnya ada urusan apa Adit ke Surabaya dek?” Kata mas Prima lega, namun ia bertanya ada urusan apa suamiku ke sana.

Aku sempat diam sejenak, berpikir sesaat mencari jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan mas Adit.

“Aku sudah tau siapa sebenarnya mas Adit suamiku, Mas. Sebelum dia berangkat ke Surabaya ia menceritakan dengan jujur jatidirinya yang sebenarnya. Dia itu anak pemilik tempat jasa pengantaran pengantin kemaren mas, dia disana sebagai direktur utama PT. RWG Trans (Persero). Bukan begitu papa, mas Prima?”

“Iya dek. Kami bukan bermaksud untuk menutupi jati diri Adit. Cuma takut saja kalau kamu merasa ditipu olehnya. Padahal ia tidak sengaja menjadi supir limousin tersebut. Hari kamu kabur tersebut, Adit hanya menggantikan salah satu karyawannya yang biasanya bertugas sebagai supir limousin karena karyawan tersebut istrinya di kampung sedang sakit berat dan si supir tersebut terpaksa pulang setelah mendapatkan kabar dari keluarganya di kampung.”

Mas Prima menjelaskan kenapa sampai Adit yang menjadi supir limousin tersebut.

“Eh iya nak, Adit sudah hubungin kamu belum?” Potong papa menanyakan mas Adit.

“Mungkin masih sibuk Pa. Cinta tau banget kalau mas Adit tidak sibuk dia pasti nelepon Cinta Pa.” Sahutku menjawab pertanyaan papa.

Kami bertiga ngobrol dengan santai, kuajak mereka ke taman belakang supaya lebih santai ngobrolnya.

“Wah enak banget dek rumah kalian. Kecil dan sederhana tetapi suasana taman belakangnya bikin betah dan adem,” celoteh mas Prima mengomentari kondisi taman belakang.

“Iya mas, adek saja betah berlama-lama di sini,” jawabku sambil tersenyum senang dengan reaksi mas Prima dan papa yang nyaman di rumah kami.

Papa juga memintaku untuk terus berdoa dan memohon kepada Tuhan supaya membuka hati mama supaya bisa memaafkan ku.

Beliau menasehatiku untuk selalu menghormati mama walaupun mama selama ini mendidikku dengan keras dan selalu ingin sempurna dihadapannya, tetapi sesungguhnya mama ingin aku menjadi anak yang bisa membanggakannya.

“Suatu hari nanti, papa yakin mama akan memaafkanmu nak. Kamu jangan membencinya, mamamu itu sayang banget sama kamu Cin. Cuma egonya masih tinggi untuk mengakui bahwa ia kangen dengan kamu,” ucap papa menasehati dan memberikan wejangan padaku.

“Iya Pa. Cinta akan tetap sayang sama mama. Biar bagaimanapun mama tetaplah orang tua Cinta dan Cinta sendiri malu telah membuatnya malu atas kelakuan Cinta kemaren,” ucap ku menyahuti perkataan papa.

“Makasih ya Pa, mas Prima. Kalian telah memberikan Cinta semangat untuk menjalani kehidupan ini.”

Kami pun akhirnya berpisah, papa dan mas Prima saling berpelukan sebelum mereka meninggalkan ku.

Jam 14:00 wib

Papa dan mas Adit sudah pulang setelah tadi sempat aku mengajak mereka makan siang, aku memasak makanan kesukaan papa dan mas Prima yaitu semur jengkol, sambal terasi dan ikan gurami goreng sebagai menu makan siang yang ku masak kala itu.

Saat aku sedang bersantai di ruang tamu sambil menonton televisi, tiba-tiba ponselku berbunyi…

“Ya hallo…,” sahut ku menjawab panggilan telepon tersebut dengan semangat.

“Assalamualaikum sayang. Maaf mas baru bisa nelepon kamu sekarang,” sahut suara dari ujung telepon sana.

“Waalaikum salam mas. Adek tau mungkin mas sibuk disana makanya adek nggak telepon-telepon mas. Kalau tau begini adek nyesal nggak ikut mas Adit ke Surabaya, seharu tanpa ada mas disisi adek hidup adek hampa rasanya mas,” kataku menjawab dengan rengekan manja.

“Sama mas juga kangen sama kamu dek. Tapi urusan mas disini lebih kurang semingguan lah. Nanti mas pulang setelah selesai urusan semua disini,” ucap mas Adit dari seberang telepon sana.

“Lama juga ya mas. Eh, iya mas gimana dengan reaksi papa dan mama setelah mengetahui kita menikah,” kataku menanyakan reaksi orangtuanya di sana.

“Alhamdulillah dek, mereka merestui kita. Tapi….. Mas akan ceritakan saat mas sudah pulang nanti. Kamu jaga kesehatan ya, mas sayang sama kamu dek,” ucap nya dari seberang telepon sana.

“Iya mas adek akan jaga kesehatan. Adek juga sayang sama mas Adit,” sahutku menjawab omongannya.

“Muaachhh…Aaahh. Nih buat kamu dek,” ucap mas Adit dari ujung telepon sana.

“Ihh… Bikin kangen aja kamu mas, awas kalo pulang nanti janji ya. Mas Adit mau manja-manjain adek.” Sahutku menggodanya dari telepon selulerku.

“Yaudah dek, itu aja dulu ya. Mana ciuman buat mas,” ucap mas Adit dari ujung telepon sana.

“Hahaha,” tawa ku pecah dari telepon selulerku.

“Kok malah ketawa dek,” sahut mas Adit bingung dari ujung telepon sana.

“Gemes pengen bercandain mas Adit aja. Nih bibir adek mas Muuaacchh…. Muuaacchh,” sahutku dengan tulus mengatakannya dari ponselku.

“I love you, Cinta. Assalamualaikum,” ucap mas Adit dari ujung telepon sana.

“Love you too sayang. My husband is my life, mas Adit,” sahutku menjawab dari telepon selulerku.

Akhirnya lega juga setelah mas Adit meneleponku secara langsung, ada seburat rindu yang menggelora di hatiku terhadapnya. Ku akui selama beberapa hari ini hidupku semakin indah dengan adanya ia berada di sisiku, tetapi setelah ia berangkat ke Surabaya hatiku merasakan kehampaan dan penuh kegelisahan.

“Semoga engkau disana selalu dilindungi oleh Yang Maha Kuasa. Aku akan selalu menanti dan menunggumu di rumah kita sayang. Aku sangat mencintaimu mas Adit,” ucapku berkata dalam hati.

.

.

.

Sementara itu ditempat lain, di kota Surabaya……

Di waktu yang hampir bersamaan. Setelah menelepon Cinta isrinya, Adit mengajak Tasya menemui Gunawan dan Hanum papa dan mamanya Adit, sekedar meminta ijin untuk pergi keluar rumah.

“Kalian berdua mau pergi kemana? Apa perlu papa siapin supir untuk kalian berdua Nak?,” Tanya Gunawan kepada mereka setelah mereka datang menemui Gunawan di ruang keluarga.

“Tidak perlu Pa. Adit dan Tasya hanya sekedar jalan-jalan kangen dengan kota Surabaya. Sudah lama Adit tidak pulang kemari,” jawab Adit menolak halus tawaran papanya tadi.

“Yaudah kamu pake aja sedan Audi A6 itu Dit. Bentar papa panggil Gimin dulu buat keluarin mobilnya dari garasi sekalian memanaskan mesinnya terlebih dahulu.” Sahut Gunawan kemudian ia memanggil pak Gimin melalui saluran telepon rumah.

Sesaat kemudian datang seorang pria paruh baya menemui Gunawan dengan sedikit membungkukkan badannya.

“Kamu tolong keluarin dan panasin mesin mobil AUDI itu ya Min. Adit mau pake tuh mobil,” ucap Gunawan memerintahkan kepada supir pribadinya sambil menyerahkan kunci kontak mobil tersebut.

Lelaki paruh baya itu pun melangkah ke garasi rumah yang berada di samping ruang keluarga tersebut, yang hanya dibatasi oleh sebuah pintu kaca.

Sekitar 20 menit kemudian….

Supir pribadi di rumah itu yang bernama pak Gimin kembali menemui mereka, setelah tadi mendapatkan perintah dari majikannya Gunawan untuk mengeluarkan mobil AUDI seri A6 tersebut dari garasi, serta memanaskan mesin mobil tersebut.

“Pak mobilnya sudah siap di teras depan, sudah saya panasin mesinnya tadi, dan sudah siap untuk digunakan,” ucap pak Gimin sedikit membungkukkan badannya sambil menyerahkan kunci kontak mobil tersebut.

“Oiya, makasih ya Min. Hari ini saya tidak kemana-mana, kamu boleh beristirahat dan bersantai,” sahut Gunawan ramah kepada supir pribadinya yang sudah bekerja bersamanya lebih dari 20 tahun, sembari tangannya menerima kunci kontak mobil tersebut.

Pak Gimin berlalu menuju ke belakang rumah, meninggalkan mereka berempat yang masih berada di ruang keluarga tersebut.

“Benaran nih Adit bawa mobil kesayangan papa. Wah terima kasih ya Pa,” ucap Adit sumringah setelah mendapatkan pinjaman mobil kesayangan papanya.

“Ini kunci kontaknya, Dit.” Gunawan menyerahkan kunci mobil tersebut kepada Adit anaknya.

“Tapi ingat Dit!” Pesan Hanum sang mama mengingatkan. “Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut!”

“Siap Nyonya Gunawan. “Sahut pemuda itu bercanda menjawab omongan mamanya.

Tasya selain mencium buku tangan papa, ia dengan mamanya Adit sempat cipika-cipiki terlebih dahulu, dan kembali Hanum berucap pada Tasya. “Sya, ingetin Adit ya bawa mobilnya jangan ngebut. Kalian berdua sebentar lagi akan menikah, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

“Pasti Ma. Tasya akan selalu ingetin ke Adit, mama dan papa tenang saja di rumah. Kami berangkat dulu ya pa, ma,” jawab gadis cantik itu dengan tegas dan santun pada kedua calon mertuanya.

Mereka berdua segera melangkah keluar rumah menuju teras tempat mobil tersebut berada.

Ilustrasi mobil AUDI A6​

Terlihat mobil sedan berwarna putih AUDI A6 keluaran tahun 2017, terparkir dengan elegan di depan teras rumah. Tasya dengan bangga menggandeng Adit, menuju kearah mobil tersebut. Dan sesaat kemudian mereka sudah berada di dalam mobil kesayangan Gunawan pemilik RWG Grup.

“Kita mau kemana nih Mas?” Tanya gadis itu pada Adit yang sedang fokus menyetir.

“Ke suatu tempat yang tidak akan kamu lupakan seumur hidupmu,” Jawab Adit dengan santai namun tetap fokus dalam membawa kendaraannya.

Tasya tersenyum mendengar perkataan pemuda itu barusan, ia malah bersikap manja dengan menyenderkan kepalanya di bahu Adit. Lelaki yang akan menjadi suaminya beberapa hari lagi.

Ia terus menyenderkan kepalanya di bahu Adit sambil mendengarkan sebuah lagu dari grup band Andra n backbone SEMPURNA.

Kau begitu sempurna, dimata ku kau begitu indah.

Kau sendiri, akan s’lalu memuja mu

Disetiap langkah ku, ku ‘kan s’lalu pikirkan, diri mu tak

bisa ku kuingin hidup ku tanpa cinta mu

(#)

janganlah kau tinggalkan diri ku

Tak ‘kan mampu berlaku semua hanya

bersama mu ku akan bisa

(Reff )

kau adalah darah ku, kau

adalah jantung ku, kau

adalah hidup ku, lengkapi diri ku

Oh sayangku kau begitu

sempurna, sempurna ~ kamu

genggam tangan ku, saat diri ku lemah dan terjatuh

Kau bisikkan kata, dan hapus semua sesal ku

(#) ~~ (Reff)

(#) ~~ (Reff)

Kau adalah darah ku

Kau adalah jantung ku

Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku

Oh sayangku kau begitu

Sayangku kau begitu

sempurna, sempurna

Tasya terus meresapi arti dan makna lagu tersebut, karena ia memang sangat mencintai Adit, lirik lagu itu sangat sesuai dengan keadaan jiwanya saat ini. Aditlah lelaki yang digambarkan sempurna dalam lagu Andra n Backbone tersebut.

Hingga tak terasa mereka telah sampai di tempat tujuan. Adit segera menepikan mobil tersebut, kemudian ia menoleh ke arah Tasya yang terlihat bingung dan aneh melihat tempat yang sepi.

“Kita ini dimana, Dit?” Tanya gadis itu bingung dan merasa ketakutan melihat lokasi mereka berada sangat sepi.

“Udah yuk turun. Kamu percaya kan sama mas. Nanti kamu akan tau sendiri dimana saat ini kita berada,” ucap pemuda itu membujuk Tasya yang terlihat gelisah dan ketakutan.

Akhirnya mereka turun dari mobil tersebut, Tasya makin mempererat genggaman tangannya di tangan pemuda itu. Dan setelah berjalan sekitar 500 meter dari tempat tersebut, barulah mereka sampai di tempat tujuan.

Adit yang melihat sebuah gundukan tanah dengan batu nisan yang bertuliskan nama AYUDIA LARASATI, matanya mulai berkaca-kaca. Begitupun dengan Tasya yang kini mulai menitikkan air matanya.

Mereka berdua duduk berdampingan menghadap makam tersebut.

Adit mulai ngomong, ia seperti sedang mengajak bicara makam tersebut.

“Hai Ayu! Maafin Adit. Baru bisa datang sekarang. Oiya Yu. kenalkan, ini calon istriku namanya Tasya. Maafin dia ya Yu, karena kesalahannya kamu akhirnya menemui sang Pencipta. Adit yakin kamu orang yang ikhlas dan bisa memberikan maaf kepada orang lain, termasuk kepada Tasya. Semoga kamu disana tenang, dan ditempatkan ditempat yang teristimewa oleh Yang Maha Kuasa. Amiin.”

Tasya yang sejak tadi sudah menitikkan air mata kini ikutan bersuara dengan suara bergetar dan sesegukkan.

“Ayu… Ini aku Tasya. Ma…aaa…fin aakkuu…Yu. Karena kebodohanku. Membuat mu celaka hingga sampai meninggal. Hikzzz…. Hikzzz.. Hikzzz…..”

Adit yang berada disamping Tasya mencoba memberikan kekuatan pada gadis itu dengan mengelus punggungnya.

Air mata Tasya, terus menetes. Terlihat sekali kalau ia sangat menyesali perbuatannya,ia sampai mencium kuburan tersebut.

“Yu, aku datang kepadamu meminta restumu. Aku berjanji di atas makammu ini akan menjadi istri yang berbakti pada Adit, menjadi istri yang baik untuknya dan anak-anak kami kelak. Sekali lagi, aku mohon maafkan aku, maafkan atas kesalahanku. Maafin aku Yu.”

Tasya menjerit histeris diatas kuburan Ayu, Adit yang sedari tadi mencoba menenangkan Tasya kini memeluknya. Ia tau apa yang dirasakan gadis itu, dengam penuh kelembutan ia mencoba menenangkan Tasya sambil menyunggingkan senyumnya.

“Kalau kamu mau dimaafkan oleh Ayu, kamu banyak-banyak mohon ampunan kepada Allah, dialah yang Maha Pengampun. Dan kamu juga mesti memperbaiki semua kesalahanmu dengan menjadi istri yang baik, belajarlah untuk ikhlas, buang semua rasa iri, dengki serta dendam dalam dirimu Sya. Mas akan belajar untuk menjadi imam buatmu jangan kamu mengutuk dirimu tetapi bangkit dan perbaiki semua kesalahanmu.”

Tasya menoleh ke arah Adit, ia makin mempererat pelukannya pada pemuda itu, suaranya berbisik pelan mengucapkan kata terima kasih pada Adit.

Tak berapa lama mereka berdua meninggalkan makam Ayu dengan senyum lega. Keduanya terus melangkah, melangkah mantap meninggalkan masa lalu yang membayangi mereka. Kedua pasangan itu terlihat mulai mesra dan bisa saling membuka hati satu sama lain.

Tetapi mereka berdua tidak menyadari bahwa sejak tadi ada seseorang yang telah mengabadikan kebersamaan mereka berdua sejak dari makam tersebut.

Beberapa jepretan foto keduanya telah diambil oleh sosok lelaki yang memakai topi dari kejauhan. Sambil tersenyum lelaki tersebut mengepalkan tangannya keatas.

“Akhirnya aku bisa menjalankan tugas yang diberikan oleh bos dengan baik, tinggal kukirim saja bukti foto ini kepada beliau.” Oceh lelaki bertopi dan berbaju casual tersebut sambil tersenyum senang.

Lelaki tersebut lalu mengirimkan foto Adit dan Tasya hasil jepretan ponselnya kepada orang yang menyuruhnya melalui aplikasi WA.

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 28  | Pelarian Kisah Cintaku Part 28 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 27)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 29)