Pelarian Kisah Cintaku Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 27

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 27 | Pelarian Kisah Cintaku Part 27 Start

Chapter 27. Perjanjian Hati

Cuplikan chapter sebelumnya…

Sementara itu seorang pemuda mulai menggeliat tubuhnya, kesadarannya mulai pulih dan matanya mulai terbuka.

Saat ini ia bingung, ketika mendapati langit-langit kamar ini berbeda dengan langit-langit di kamar rumahnya.

Namun rasa bingungnya berubah menjadi kaget ketika pandangan matanya kearah sesosok gadis cantik bertubuh seksi berambut coklat berdiri membelakanginya sambil menerima telepon dalam keadaan telanjang bulat.

Dan yang membuatnya shock adalah ketika ia baru menyadari keadaannya pun sama seperti gadis itu. Bugil tak berpakaian sama sekali.

Wajah pemuda itu seketika berubah pucat, menyadari bahwa ia melakukan kesalahan yang sangat fatal. Kesalahan yang bisa membuat rumah tangganya yang baru seumur jagung diambang kehancuran.

Ia seperti terpukul mendapati kenyataan seperti ini. Apalagi ketika ia mengetahui dengan jelas siapa sosok wanita telanjang yang kini mulai mendekatinya sambil memberikan senyumannya.

“Apa kabar mas Adit? Semoga saja kita bisa menjadi orang tua, karena aku sedang dalam masa suburku mas.”

“Apa…..?”

.

.

.

Keesokan harinya….

Pov Adit

“Ya, Allah! Apa yang sudah ku lakukan semalam? Bodoh, kamu bodoh Dit. Kenapa sampai kamu terbuai dan masuk kembali ke dalam lubang yang sama.” Gumam ku sambil memaki diri sendiri.

“Mas Adit,” seru Tasya manja.

Terlihat wajahnya sungguh bahagia, wajah yang dulu ceria dan selalu membuatku ikut bahagia kini hadir disampingku.

Tasya sudah berada di atas ranjang, ia menyenderkan tubuhnya ke bahuku.

“Apa yang kita lakukan semalam sungguh indah mas?” Katanya sambil mengelus dada bidangku yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

“Aku sangat mencintaimu, Dit. Walaupun semalam kamu menyetubuhiku dan menganggap diriku Cinta istrimu.”

Aku hanya diam tak menjawab.

Semalam yang kuingat, aku seperti bermimpi dan menggauli Cinta istriku sendiri. Tetapi ternyata yang kugauli bukan Cinta melainkan Tasya.

“Dit, tolong beri aku kesempatan kedua. Aku ingin membuktikan kesungguhanku, aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Apapun syarat yang kamu minta akan aku penuhi dengan sumpah dan janji yang telah kuucapkan semalam. Aku mohon jadikanlah aku bagian dari hidupmu, Dit. Menjadi istri dan ibu dari anakmu,” Tasya menciumi buku tanganku seperti layaknya seorang istri yang ingin berbakti pada suaminya.

Ia lalu melanjutkan perkataannya.

“Sejak kamu tinggalkan dan menjauhiku, Dit. Sejak itu pula hidupku rapuh dan kehilangan arah. Hanya kenangan indah sewaktu kita di Paris yang bisa memberikanku harapan. Aku tidak mau lagi terpisahkan darimu, Dit.”

Hiksss… Hiksss… Hiksss….

Tasya menangis, ia lalu membenamkan wajahnya di dada bidangku sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.

Aku yang melihatnya sedih timbul rasa iba di hatiku, selama ini aku hanya bisa membuatnya sedih dan kecewa. Kemudian ku elus rambutnya supaya ia kembali tenang.

Jujur saat ini aku dalam posisi dilematis. Dihadapkan dengan permasalahan hati yang memerlukan keputusan yang bijak.

Aku diam dan hanya merenung, memikirkan masalah ini. Terlintas di benakku bayangan Cinta yang kecewa dan sedih bercampur marah. Betapa ia pasti marah, kecewa sekaligus sedih bila ia mengetahui suaminya terpedaya oleh wanita lain.

Tubuhku bergetar hebat, karena bayangan Cinta tersebut membuatku sangat takut. Takut kehilangan Cinta. Takut bila istriku akan pergi menjauh, pergi meninggalkanku.

“Sya. Kenapa kamu nekat melakukan ini? Tidakkah kamu berpikir bahwa apa yang kita lakukan ini menyakiti Cinta, istriku. Kenapa Sya?” Tanya ku meminta penjelasannya.

Tubuhku bergetar, wajahnya memandang ke arahku, dengan air mata yang membasahi pipinya, tatapannya sayu.

“Maafin aku, Dit. Aku hanya bisa menyusahkan mu, selalu mengganggu hidupmu, serta membuat hidupmu kacau,” ucapnya lirih menyesal.

Aku menyeka air matanya, kemudian kucium keningnya. Entah kenapa setiap aku melihatnya sedih hatiku tidak tega? Ku benamkan kepalanya ke dadaku.

“Tapi tidak seperti ini caranya, Sya. Aku selama ini belum bisa menerima perbuatanmu itu bukan berarti aku tidak peduli sama sekali denganmu,” kata ku geram dengan tindakan nya saat ini.

Tasya hanya diam, malah terdengar suara isak tangisnya sambil ia terus mempererat pelukan tangannya di pinggangku.

“Sudah Sya. Kamu jangan menangis, lebih baik kita segera berpakaian, aku mau pulang dulu ke rumah. Nanti kita bicarakan lagi.”

Aku melirik sejenak ke arah jam dinding, dan terkejut saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul 9:30 wib. Aku bergegas mau berdiri dan mengenakan kembali pakaianku dan sesegera mungkin keluar dari kamar Tasya.

Tetapi sebelum aku bergerak bangkit, tiba-tiba tangan Tasya menahanku. Ia makin membenamkan wajahnya didadaku, sambil berbisik.

“Please, Dit. Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku lagi. Aku mohon, aku…,” rengek Tasya memelas dengan semakin mempererat pelukannya ditubuhku.

Duh gimana ini? Bahaya. Jika papa dan mama sampai kesini melihat keadaan kami yang telanjang tanpa sehelai benang, hancur sudah rumah tanggaku dengan Cinta. Apa yang mesti ku lakukan supaya aku bisa lepas dari masalah ini?

Belum sempat aku bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam benakku tiba-tiba aku melihat handle pintu kamar Tasya berbunyi.

Ceklek…..

Kriiieeet….

Perlahan-lahan pintu itu pun mulai terkuak.

Dan aku pun segera menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami berdua.

Lalu terlihatlah orang yang berdiri didepan pintu sambil menatap tajam dengan wajah merah menahan marah.

“Adit…..,” seru suara wanita berteriak memanggil namaku.

“Ma…Mama,” seruku memanggil wanita tersebut dengan suara gemetar dan gugup.

“Cepat kalian berdua berpakaian temuin papa dan mama di rumah. Sekarang.” Perintah mama tegas lalu segera keluar dari kamar dengan ekspresi wajah marah.

“I…..Iya, ma,” sahut ku. Tubuhku gemetar bagai pencuri yang tertangkap tangan sedang mencuri.

Setelah mamaku berlalu dari kamar.

Kami berdua terlihat panik dan tegang. Aku segera mencari pakaianku. Begitu pun dengan Tasya, ia berdiri, melangkah menuju koper nya. Memilih baju yang pantas ia kenakan untuk menghadap papa dan mama ku.

Dengan suara berat dan meninggi aku berkata padanya.

“Sya. Apalagi yang kamu rencanakan? Apakah ini rencanamu untuk menjebakku? Aku kecewa sama kau Sya.”

Refleks tangan ku sudah berada diatas dan siap untuk menampar pipinya, karena emosiku tiba-tiba meluap.

Tasya yang melihatku hendak menamparnya dia hanya diam dan memejamkan matanya, dengan suara lirih ia berkata.

“Tampar Dit. Tampar saja”, tantangnya pasrah. “Jika ini bisa membuatmu puas. Aku memang pantas mendapatkan semua itu.”

Tanganku yang sudah diatas siap menamparnya tiba-tiba berhenti, hati kecilku yang tidak tega untuk menyakitinya membuat aku kembali menurunkan tanganku.

Dengan perasaan marah dan masih emosi aku pergi meninggalkan Tasya yang masih berdiri gemetar dengan mata terpejam.

Keluar dari kamarnya menuju rumahku dengan penuh amarah sambil menggerutu memaki-maki diriku sendiri.

“Bodoh… Bodoh…. Kamu bodoh Dit, kamu bodoh tidak bisa menjaga kepercayaan Cinta, mengkhianati cinta istrimu.”

.

.

.

Suasana di rumah Rahadi Wahyu Gunawan….

Adit, Tasya, Gunawan dan Hanum, kini sudah berada di ruang keluarga. Pembantu mereka tidak diperbolehkan untuk masuk ke ruang tersebut.

Tampak ketegangan diwajah mereka berempat, terutama Adit yang sejak pulang ke rumahnya terlihat emosi dan menyimpan kekesalan di hatinya.

Kemudian Gunawan selaku orangtua Adit memulai pembicaraan mereka.

“Adit, Tasya. Kalian berdua sudah dewasa. Tentunya bisa memutuskan sebaiknya seperti apa hubungan kalian ke depannya. Papa berharap kamu Dit sebagai lelaki mesti bersikap jantan segera nikahi nak Tasya, papa tidak mau punya anak yang lari dari tanggung jawab. Kamu mengerti Dit.”

Adit mengangguk pasrah, terlihat ia masih menyesali semua yang telah terjadi.

“Bagaimana dengan kamu nak, Tasya? Kamu bersedia menerima Adit, Sya?” Tanya Gunawan pada Tasya.

“Iya om, Tasya menerima Adit sepenuhnya. Bahkan Tasya mau pindah keyakinan jika itu menjadi permintaan Adit,” jawab Tasya mantap dan yakin.

“Ok, untuk masalah ini papa rasa sudah jelas dan tidak perlu di perdebatkan. Kalian berdua sudah bersedia untuk menikah.

Tapi….” Gunawan memandang wajah Hanum, istrinya sejenak. Lalu kembali fokus melanjutkan perkataannya.

“Tapi…. Papa juga tidak ingin Adit menceraikan Cinta. Biar bagaimanapun dalam kandungan Cinta itu adalah anaknya. Bagaimana Sya? Apakah kamu mau menerima Adit yang sudah beristrikan Cinta?”

Adit yang mendengar perkataan papanya barusan sedikit lega. Ternyata papanya juga memikirkan nasib pernikahannya dengan Cinta.

Emosi dan kemarahannya mulai mereda, terpancar raut ketenangan yang perlahan mulai meliputi ekspresi Adit.

“Om Gunawan. Tasya bersyukur sekali om dan tante bersedia menerima Tasya sebagai menantu kalian. Jujur ini adalah impian Tasya sejak lama, Tasya mencintai Adit dan saatnya Tasya akan membuktikan kesungguhan perkataan dan hatiku. Dijadikan istri kedua pun, tidak masalah buat Tasya. Asalkan Adit berjanji akan sama membagi hati dan cintanya pada kami berdua. Harus adil om.” Jawab Tasya menjelaskan keinginannya.

Gunawan memberikan senyum pada Tasya. Lalu ia melihat ke arah Adit, dan selanjutnya ia melanjutkan perkataannya.

“Kamu dengar sendiri Dit. Apa jawaban Tasya? Bagaimana jawaban kamu nak dengan permintaan Tasya dengan kata ADIL? Apakah kamu sanggup membagi hati dan cintamu sama adilnya?”

Adit menggelengkan kepalanya, kemudian ia mulai bersuara.

“Jujur pa. Untuk saat ini hati Adit masih sepenuhnya milik Cinta. Tetapi Adit akan berusaha membuka hati demi Tasya. Adit tidak akan mengecewakan papa dan mama juga tidak akan memalukan keluarga Widjaja. Biarlah Adit akan menjalani kehidupan rumah tangga ini dengan apa adanya. Adit hanya berharap Tasya mau mengikuti didikan dan bimbingan Adit.”

Suasana menjadi hening setelah Adit menyampaikan apa jawaban dan keinginannya. Masing-masing diam berpikir dengan pikiran mereka masing-masing.

Namun beberapa menit kemudian Hanum melihat kearah Gunawan suaminya, dan suaminya menganggukan kepala seakan memberi persetujuannya pada Hanum untuk bersuara.

“Mama mohon maaf padamu, Dit. Mungkin kamu setelah mengetahui ini kamu bakalan marah sama mama. Semua itu telah mama rencanakan bersama Tasya. Jujur mama kecewa sama kamu, yang lari begitu saja setelah mendapatkan kesucian Tasya. Apapun alasan kamu mama tidak akan bisa terima, karena mama juga perempuan sama seperti Tasya. Mama minta kamu sayangi dan cintai Tasya sama besarnya cintamu pada istrimu. Didiklah mereka menjadi istri-istri mu yang nantinya akan menjadi kebanggaanmu nak. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, semua tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Mulailah dengan hati yang baru, belajarlah untuk mencintai kekurangannya karena dibalik itu semua akan ada keindahan nantinya untuk kalian. Mama berpesan jadilah suami yang bijaksana, didiklah mereka dengan cinta dan ketulusan.”

“Bagaimana, Dit? Apa kamu marah dengan penjelasan mamamu?.” Tanya Gunawan menyambung perkataan Hanum istrinya.

Adit langsung menjawab dengan tegas.

“Awalnya Adit sudah menduga pa, semua ini sudah direncanakan Tasya. Ternyata mama juga ikut mengatur semua ini. Marah, kecewa san benci itu pasti wajar dalam posisi Adit, tetapi Adit sadar pa, ma. Adit memang harus menikahi Tasya demi menyelamatkan harga diri keluarga kita dan martabat keluarga opa Widjaja. Adit akan memperlakukan Tasya sama dengan Cinta. Tapi yang jadi permasalahan apakah keluarga opa Widjaja mau Tasya dijadikan istri kedua Adit, dan membiarkan putri dan cucunya berpindah keyakinan?”

Mendengar perkataan Adit, wajah Tasya bersemu merah, kesedihannya berubah menjadi kebahagiaan. Ia lalu menjawab tanpa penuh keraguan.

“Keluargaku tidak akan melarangku, mas. Mereka akan mendukung semua yang kulakukan demi kebahagiaanku. Mereka semua sudah tau kalau aku sangat menyayangimu mas, kamu tidak perlu ragu dengan keluargaku mereka semua pasti menerimamu dengan tangan terbuka mas.”

Gunawan tersenyum sumringah, Hanum mendekati Tasya dan memeluknya. Sementara Adit berusaha ikut tersenyum walau dihatinya masih ada kegelisahan yang melandanya.

“Sekarang masalah ini sudah selesai. Papa harap kamu segera menikahi nak Tasya secepatnya. Urusan Cinta istrimu nanti kalian berdua bicarakan dengan baik-baik seperti apa ke depannya. Yang jelas papa harap kamu lebih dewasa lagi Dit. Didik dan bimbinglah kedua istrimu dengan ketulusan karena itu akan membuat kalian bahagia.”

“Boleh mama menambahi pa,” potong Hanum.

Gunawan menganggukkan kepala.

“Kamu yakin Sya, dengan keputusan untuk berpindah keyakinan. Mama tidak mau kamu berpindah keyakinan hanya karena terpaksa.”

“Yakin ma. Tasya tidak ragu dengan keputusan Tasya ini. Tasya ingin rumah tangga kami nantinya benar-benar sejalan tanpa adalagi perbedaan diantara kami. Tasya berharap dan meminta dididik mama, papa dan mas Adit untuk menjadi istri yang baik, sesuai tuntunan dari kalian.” Jawab Tasya penuh keyakinan.

Hanum mencium kening Tasya, lalu mereka berpelukan seperti layaknya ibu dan anak.

Mereka berempat langsung berembuk membicarakan rencana pernikahan Adit dan Tasya yang akan diadakan tiga hari lagi.

Gunawan segera menelpon papanya Tasya, memberitahukan masalah ini.

Hanum meninggalkan Adit dan Tasya menuju dapur.

Sementara Adit dan Tasya masih berada di ruang keluarga itu sambil menunggu Gunawan yang sedang serius berbicara melalui telepon genggamnya.

Dalam diamnya, keduanya hanya saling memandang satu sama lain. Adit sedikit demi sedikit mulai membuka hatinya untuk mencintai Tasya. Sementara Tasya terlihat sangat bahagia karena harapan dan impiannya busa terwujud.

Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain.

“Mas”, seru Tasya memanggil Adit dengan sapaan yang baru.

“Iya.” Jawab Adit singkat.

“Ih… Bikin bete, apa kek, jawab sayang napa?” Rengek Tasya manja lalu ia memeluk Adit.

“Hahahaha.” Tawa Adit meledak.

Tasya memanyunkan bibirnya.

“Kamu itu cantik, Sya. Imut dan ngegemesin kalau seperti ini,” goda Adit sambil mengelus rambut Tasya.

Tasya mencubit gemas perut sixpack pemuda itu.

“Awwww. Sakit, Sya.” Erang Adit meringis.

“Rasain, itu cubitan sayang buat kamu mas, karena godain aku.”

“Hahaha….” Tawa mereka berdua membahana di ruang keluarga.

“Nah gitu, kalian mesti akur. Jangan seperti Tom dan Jerry,” celetuk Hanum ketika kembali dari dapur diiringi seorang ART membawa makanan ringan untuk mereka santap.

Adit dan Tasya berhenti tertawa dan melepas pelukan mereka. Wajah keduanya tersenyum kompak ke arah Hanum.

“Taruh di sini aja, mbak,” perintah Hanum tegas pada ART nya.

“Oiya mbak. Nanti siapin juga sekalian untuk makan siang di meja makan, ya.”

“Iya. Nya,” sahut ART tersebut lalu ia berlalu kembali ke dapur mengerjakan perintah Hanum.

Setelah ART itu kembali, Hanum kembali bersuara.

“Tapi ingat ya. Kalian belum sah menjadi suami istri, jangan sampai terulang kembali kejadian seperti yang mama lihat tadi. Adit jaga sikapmu sebentar lagi kalian menikah jangan sampai ada gunjingan tetangga kiri kanan, kalian mengerti.”

“Iya ma. Adit ngerti,” jawab Adit tegas.

“Yaudah, mama mau ke dapur dulu, mau bantuin

.

.

.

Pov Jelita

Namaku Jelita Sukmawati Pramudya, aku putri kedua dari pasangan suami istri Pramudya Adi Pratama dan Sekar Rahayu Sukmawati. Kakak sulung ku mas prima dan adik perempuan ku bernama Cinta Rahayu Pramudya.

Pagi itu atau kemaren pagi tepatnya. Aku sedang berada di kantor suamiku, aku selain istrinya juga membantu bisnis kami. Suamiku pemilik PT. XYZ (Persero) yang bergerak di bidang properti dan perumahan, perusahaan yang merupakan diberikan mertuaku ini merupakan anak perusahaan mertuaku dan sekarang resmi diserahkan sepenuhnya kepada mas Har, sapaanku padanya.

Aku menempati ruangan Manajer Pemasaran, karena itulah kemampuanku yang aku miliki. Aku lulusan dari universitas Trisakti fakultas ekonomi jurusan manajemen kosentrasi ilmu ku di bidang pemasaran.

Tiba-tiba hpku berbunyi.

Tut….Tut…. Tut…..

“Ya hallo Dit!”, ucapku segera menjawab panggilan telepon dari ponselku.

“Hallo mbak Jelita kan. Ini Cinta mbak”, sahut suara dari ujung telepon sana.

“Benaran itu kamu Cin. Duh adek mbak, mbak kangen sama kamu dek. Dimana kalian tinggal sekarang? Adit suamimu kemana kok ponselnya ada sama kamu? Gimana kabar kamu dan kandunganmu, Dek?”, ucapku mulai mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

“Aduh mbak, satu-satu mbak nanyanya”, sahut Cinta menanggapi beberapa pertanyaanku.

“Iya..Iya…Bagini saja dek, kamu WA aja alamat kamu sekarang mbak mau main ke rumah kalian. Mumpung mbak nggak sedang sibuk nih”, kataku sambil memintanya mengirimkan alamat rumah mereka melalui aplikasi WA.

Beberapa menit kemudian…

Drrt… Drrrt…

Hp ku bergetar, ternyata Cinta sudah mengirimkan alamatnya melalui WA.

“Jl. Garuda No.100, kelurahan Gajahmada kecamatan Hayam Wuruk, Depok.”

Setelah aku membaca alamat rumah mereka aku segera membalas WAnya.

“Tunggu ya. Mbak kesana, mau ijin dulu sama mas Har.”

Dibalas Cinta dalam beberapa menit kemudian dengan cukup singkat.

“Iya mbak. ttdj, adek tunggu mbak di rumah.”

Aku berpamitan dengan suamiku dan segera menemui Cinta, sebelumnya aku mampir dulu ke sebuah toko kue untuk sekedar buah tangan, tidak enak rasanya bertamu tanpa membawa sesuatu, walaupun bertamu di rumah sudara sekalipun.

“Ini kayaknya rumah mereka,” gumamku setelah melihat alamat WA yang ia kirimkan.

Lalu aku turun dari mobilku dan melangkah menuju rumah mungil tersebut. Segera memencet bell rumah itu.

Ting…Tong… (suara bell berbunyi)

“Cinta….”, seruku kegirangan ketika pintu rumah itu terbuka.

“Mbak Jelita”, kata Cinta berteriak kegirangan.

Kami berdua langsung berpelukan cipika-cipiki menumpahkan rasa rindu setelah beberapa hari dia kabur tanpa memberikan kabar kepada kami sama sekali.

“Masuk mbak! Maaf rumahnya kecil, hehehe”, ucap adikku mempersilahkanku masuk.

Aku langsung masuk ke dalam rumah, dan menyerahkan kantong plastik yang tadi ku beli dari toko kue.

Cinta mengajakku sebentar melihat-lihat keadaan rumah ini, sampai diajaknya ke belakang rumah yang terdapat taman kecil serta beberapa jenis tanaman hias yang dibeli oleh mereka.

Setelah puas berkeliling rumah kami kembali ke ruang tamu, aku kemudian menilai beberapa ruangan di rumah kontrakan mereka, dengan wajah senang aku pun berkomentar mengenai rumah ini.

“Wah pinter kalian milih rumah ini dek, mbak aja langsung kerasan dan nyaman. Alam dan lingkungan sekitarnya masih terlihat asri dan udaranya nya segar jauh dari polusi dan kebisingan.

“Mas Adit, yang milih rumah ini, Mbak”, sahutnya ikut senang atas pujian dariku.

“Suamimu seleranya bagus dalam memilih rumah dan lokasinya, pasti kamu betah dan kerasan ya cin tinggal disini!”, timpalku meneruskan perkataannya.

“Iya, betah mbak. Udaranya segar dan aku juga bisa berkebun di belakang rumah kalo sedang suntuk”, kata Cinta menanggapi perkataanku.

“Eh, iya Cin, kamu terlihat semakin cantik, kelihatan sekali kamu bahagia ya sama Adit”, kataku mulai bertanya serius.

Cinta mengangguk.

“Syukurlah kalo begitu mbak juga ikutan senang mendengarnya. Kemana suamimu dek, kok ponselnya ada sama kamu?”, tanyaku sedikit heran kenapa ponsel Adit ada ditangannya.

“Sedang tugas ke Surabaya, mbak. Mas Adit sengaja memberikan ponsel ini untuk komunikasi kami, kan mas Adit masih punya satu lagi ponselnya”, katanya menjawab pertanyaaanku dengan memberitahu kalau mas Adit ke Surabaya sedang bertugas.

Aku menelepon suami dan meminta ijin padanya untuk menginap di rumah kontrakan Cinta, menemaninya malam ini.

Dengan kehadiranku setidaknya Cinta tidak merasakan kesepian, banyak hal yang kami obrolin berdua.

Bahkan pada saat makan siang akulah yang memasak, aku mempraktekkan resep masakan ku kuasai, dan mencontohkan serta mempraktekkanya langsung padanya.

Malam pun datang, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 20:00 wib. Cinta sedang mencuci piring setelah tadi kami baru selesai makan malam. Dia mencuci piring dengan melamun.

Aku melihatnya bengong, langsung menegurnya dengan suara pelan.

“Cin, kamu sedang melamun apa? Apa yang sedang kamu pikirkan dek?”.

“Nggak ada mbak, mungkin karena kecapean saja mbak, dah yuk kita ke kamar”, katanya menutupi masalah yang sedang ia hadapi.

Lalu Cinta mengajakku ke kamar tidur.

Tak lama setelah bercerita, aku pun tertidur.

“Braaaakkkk… Pranng…” Suara gelas jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi pecahannya.

Aku seketika terkejut mendengar suara bunyi pecahan gelas jatuh yang berasal dari arah dapur, apalagi melihat di sisiku Cinta tidak ada.

Sedikit ada kepanikan dalam diriku aku bangkit dan sedikit berlari menuju kearah asal suara gelas jatuh tadi.

“Cinta….” Seruku, memanggilnya dengan sedikit berteriak.

Dia memelukku dalam keadaan menangis sesegukkan.

“Sudah kau kembali saja ke kamar, biar mbak yang membersihkannya. Tenangkan dirimu dek! Berdoalah!” Aku menasehatinya dengan bijak.

Dia mengangguk lalu berbalik badan kembali ke kamar tidur.

Setelah membereskan pecahan gelas tersebut dan membuangnya di tempat kotak sampah, aku segera menyusulnya ke kamar tidur sambil membawa segelas air putih.

Setelah ada di dalam kamar, aku mendapati Cinta duduk melamun dengan wajah yang terlihat gelisah dan penuh kecemasan.

“Minum dulu dik,” kataku sambil menyerahkan segelas air minum yang tadi kubawa padanya.

Cinta menyambut gelas tersebut dan meminumnya.

Setelah beberapa menit kemudian sambil menghela nafas terlihat Cinta mulai tenang. Aku mulai mengajaknya bicara.

“Kalau boleh mbak tau, kamu sedang ada masalah apa dek? Sejak pagi tadi kamu terlihat gelisah dan ada sesuatu yang kamu tutupi. Mbak tidak bermaksud ikut campur rumah tangga kalian, mbak hanya ingin kau tau bahwa mbak ada untukmu dan kamu jangan merasa sendiri kita semua sayang sama kamu dek.”

“Mbak. Cinta khawatirin mas Adit mbak. Sampai sekarang ia belum nelepon Cinta, cuma tadi papa telepon bahwa mas Adit baik-baik saja disana. Tapi tadi Cinta mimpi buruk mbak, mas Adit bersama seorang gadis. Gadis itu menarik mas Adit menjauhkan Cinta untuk menarik tangan mas Adit. Cinta takut mbak jika itu jadi kenyataan. Cinta sayang dan cinta sama mas Adit karena dia Cinta bisa kembali bersemangat menatap masa depan dengan penuh kebahagiaan. Mas Adit sosok yang tepat yang bisa membimbing adik menjadi lebih baik.”

“Mbak…” Seru Cinta memanggil namaku.

Hikzzz… Hikzzz… Hikzzz

Aku lalu memeluk Cinta, sengaja aku membiarkan ia menangis untuk menumpahkan semua kegelisahannya. Ku elus rambutnya supaya ia nyaman dan tenang.

Beberapa menit kemudian aku lalu memberikan nasehat buatnya.

“Dek, kamu tenangin dirimu. Jangan berprasangka buruk dan menduga-duga. Serahkan kepada Allah dek. Mbak yakin suamimu disana tidak seperti mimpimu itu. Jangan seperti ini ya, kasihan dengan anak dalam kandunganmu.”

“Iya mbak. Makasih ya, adik bisa tenang. Adik tidak merasa sendirian menghadapi hidup ini,” ucap Cinta semakin mempererat pelukannya kepadaku.

“Sudah kita istirahat sekarang, semoga saja besok suamimu segera meneleponmu dik,” kataku mencoba membujuk dan menenangkannya.

Tak lama kemudian, Cinta sudah tertidur, aku berkata dalam hati, “selamat tidur adikku, semoga besok kamu lebih ceria dan bisa tersenyum seperti dahulu.”

Aku pun tersenyum dan berusaha memejamkan mataku hingga lambat laun mataku terpejam.

Pov Gunawan

Namaku Rahadi Wahyu Gunawan biasa dipanggil Gunawan saat usiaku 62 tahun, menikahi seorang gadis cantik dari solo yang juga mantan kekasihku sewaktu di SMA bernama Hanum Prawiradiraja yang saat ini berusia 60 tahun.

Dari pernikahan kami 37 tahun yang lalu, kami dikarunia tiga orang anak. dua putra dan satu putri.

Putra sulung kami bernama Yudha Adi Pratama, berusia 35 tahun, saat ini sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang putra dan putri.

Putri kami kedua bernama Annissa Putri berusia 32 tahun saat ini meneruskan pendidikan nya S3 di Amerika Serikat bersama suaminya mas chandra, mereka telah dikarunai seorang anak perempuan cantik bernama Felicia berusia 5 tahun.

Dan putra bungsu kami bernama Aditya Febriansyah saat ini telah berusia 28 tahun.

Kami saat ini bermukim di kota Surabaya karena di kota ini begitu banyak kenangan yanga tidak dapat kami lupakan termasuk mengelola hotel RWD & Resto.

Hotel RWD & Resto adalah hotel berbitang 4 yang berada di kota Surabaya itu telah berdiri sejak 40 tahun yang lalu. Merupakan warisan orang tuaku, yang bernama Gunawan Aditama Wijaya.

Dari usaha hotel inilah aku bisa mengembangkan bisnisku hingga menjadi besar seperti saat ini. Bisnisku mulai merambah ke sektor lainnya, yaitu kargo dan pergudangan, hingga transportasi, dengan nama RWG grup.

Anak perusahaanku dibidang kargo san pergudangan kuserahkan sepenuhnya kepada putra sulungku.

Sementara Adit putra bungsuku, ku beri tanggungjawab untuk mengurusi PT. RWD Trans (Persero), perusahaan yang bergerak dibidang jasa transportasi.

Dua hari lalu, aku kaget saat Tasya melaporkan kepadaku bahwa Adit putra bungsuku telah menikah tanpa memberitahukanku sebagai orang tuanya. Dan yang membuatku terkejut Tasya juga mengatakan bahwa Aditlah yang telah menodai dirinya sewaktu di Paris tiga tahun lalu.

Aku meminta Tasya untuk datang ke Surabaya menjelaskan semuanya pada kami, dan nanti besok menyuruh pulang Adit ke Surabaya.

Dan semalam semuanya jelas, Adit memang bersalah telah mengambil kesucian Tasya. Aku sebagai orangtua yang menjunjung tinggi wanita sangat murka dengan perbuatan yang dilakukan oleh anak bungsuku, Adit.

Apalagi Tasya bisa membuktikan semua perkataannya dengan barang bukti yang sangat kuat. Bukti video mereka berhubungan intim dan bukti bercak darah di sprei itu sudah menjelaskan bahwa Aditlah yang bersalah dalam hal ini.

Saking marah dan kecewanya aku pada Adit. Tanganku sempat menampar pipinya. Perbuatan yang belum pernah kulakukan pada seluruh putra dan putriku.

Adit sempat ingin mengutarakan alasan kenapa ia sampai meninggalkan Tasya di Paris waktu itu. Tetapi Tasya bereaksi sebaliknya ia seperti ingin mengalihkan omongan Adit padaku sehingga apa yang ingin disampaikan anakku tidak sempat ia utarakan.

Suasana panas penuh ketegangan sempat mewarnai kejadian semalam. Aku sempat bingung harus memutuskan seperti apa tindakanku selanjutnya? Yang jelas, aku bingung pada saat itu ketika Tasya tiba-tiba keluar dari rumah dengan menangis pulang ke rumah opanya.

Hanum, istriku sempat menegurku. Dia menilaiku tidak tegas dalam mengambil keputusan, dan memarahi Adit karena telah berbuat memalukan nama keluarga dan lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki.

Istriku juga menyarankan untuk mengejar Tasya dan mengajaknya bicara baik-baik, dan akupun menyetujui omongan istriku tersebut.

Setelah kepergian Adit, kulihat istriku meraih smartponenya dan beberapa saat kemudian ia mengajak ngobrol masalah Adit ini denganku secara serius.

“Pa, mama sebelumnya minta maaf pada papa tadi sempat marah ke papa.” Ucap istriku sambil mencium buku tanganku.

“Tadi mama sengaja menyuruh Adit ke rumah Tasya. Jujur Pa, kita tidak boleh membuat kesalahan membiarkan Adit lepas dari tanggung jawabnya. Jika masalah ini sampai diketahui oleh opanya Tasya tentunya akan berpengaruh terhadap bisnis dan kerjasama kita dengan opa Widjaja. Selama ini bisnis kita bisa semaju sekarang ini, karena bantuan dari opa Widjaja.”

Aku mendengarkan saja semua yang ingin disampaikan Hanum istriku, tanpa ingin membantah atau memotong perkataanya.

“Mama malu Pa. Opa Widjaja sudah begitu baik kepada keluarga kita. Dan mama tidak ingin opa Widjaja sampai mengetahui anak kita yang menodai cucunya. Apalagi kalau beliau mengetahui, Adit anak kita seperti lari dari tanggungjawabnya betapa marahnya opa Widjaja nantinya, Pa. Papa fahamkan maksud mama.”

Aku menganggukkan kepala.

“Apa rencana mama supaya Adit mau menikahi Tasya ma?” Tanyaku meminta pendapat Hanum istriku.

Hanum pun mengatakan rencananya selanjutnya kepadaku.

“Tadi pagi mama bicara empat mata sama Tasya Pa. Tasya itu benar-benar mencintai Adit anak kita Pa, sejak pertama ke sini Tasya sudah menyukai Adit. Lalu mama merestuinya Tasya menjadi menantu kita dengan pertimbangan diatas Pa. Tetapi mama tidak menyangka bisa jadi seperti ini. Mama sempat bingung kenapa Tasya begitu marahnya pada Adit hingga menangis dan balik lagi ke rumahnya. Mama takut dia malah melaporkan ini kepada orangtuanya, makanya mama segera kirim SMS pada Tasya dan bilang segera menjalankan rencananya, ini isi SMS yang mama kirimkan pada Tasya.”

Hanum menyerahkan ponselnya kepadaku, dan setelah menerima ponsel tersebut aku terima dan kubaca isinya.

To : Tasya

“Sya, Adit sekarang menuju ke rumahmu, Mama serahkan semuanya pada kalian. Mama harap kalian berdua bicara baik-baik, Mama pasti dukung kamu, Sya.”

From : Tasya

“Makasih, Ma. Doakan rencana Tasya berhasil.”

Aku sempat terperanjat membaca isi SMS tersebut ternyata mereka telah merencanakan rencana untuk menjebak Adit di rumah opanya.

Aku lalu menanggapi semua perkataan Hanum istriku.

“Jadi Mama dan Tasya bekerjasama untuk menjebak Adit putra kita sendiri.”

Hanum mengangguk kepala.

“Iya Pa. Terpaksa mama melakukan itu, hal yang seharusnya tidak mama lakukan kepada anak kita. Mama kasihan kepadanya, dan merencanakan semua ini demi menyelamatkan masa depan Tasya. Mama tidak tega melihat hidupnya kacau disebabkan oleh perbuatan Adit. Tasya sudah mama anggap seperti anak kita Pa. Dan bila rencana kami ini berhasil mama berharap supaya Adit tidak bisa lagi lari dari tanggung jawabnya, apalagi jika mama memergoki mereka berdua dalam satu kamar.”

“Apa mama tidak merasa kasihan dengan istrinya Adit yang sedang mengandung cucu kita, Ma? Bagaimana nanti rumah tangga mereka yang baru seumur jagung?” Kataku bertanya mengenai istri Adit dan rumah tangga Adit anak kami.

“Mama serahkan masalah ini kepada Papa. Mama yakin Papa pasti punya solusinya buat menyelesaikan masalah ini. Asal kita bisa meyakinkan Adit untuk menikahi Tasya, mama yakin Tasya mau kok dijadikan istri kedua Adit.” Jawab Hanum menanggapi pertanyaanku tadi.

Keesokan harinya….

Aku sudah terbangun sejak subuh tadi, tetapi Adit belum juga kembali.

Hatiku mulai bertanya-tanya, “Mungkinkah rencana istriku dan Tasya sudah berhasil? Atau malah berantakan, Adit pergi dari rumah Tasya dan entah dia tidur dimana saat ini?”

Sampai jam 8:00 wib saat sarapan pagi. Aku sengaja tidak berangkat kerja, memantau hotel dan restoran kami tetapi aku menelepon orang kepercayaanku namanya Rebellion Z.

Entahlah kenapa namanya unik seperti itu, apa mungkin orangtuanya dulu suka sekali dengan games.

“Husstt kok bahas Rebellion Z yang menulis cerita Gerhana padahal Gerhana Bulan kan sudah lewat beberapa hari lalu, sudah jangan bahas Rebellion Z. Back to story. Apa mau karakter kamu ane matiin?” ancam TS.

Adit belum pulang juga ke rumah sampai pukul 9:00 wib. Rasa gelisah melanda dihati ku dan juga Hanum istriku, kami khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan diantara mereka berdua.

Sambil bersantai di ruang keluarga menonton acara televisi, aku meminta Hanum istriku menelepon Tasya menanyakan keadaannya disana. Istriku lalu ke kamar mengambil ponselnya yang tadi ia tinggalkan di atas meja hiasnya.

Pukul 9:13, istriku sudah kembali ke ruang tengah. Aku meminta dia menyalakan load speaker supaya aku bisa mendengarkan suara pembicaraan mereka berdua.

Istriku duduk disampingku lalu ia segera menghubungi Tasya melalui ponselnya.

Tut…. Tut…. Tut….

Suara nada sambung di ponsel Tasya, dan tidak lama kemudian ada sahutan dari ujung telepon sana.

“Ya ma.”

“Bagaimana rencanamu? Apakah berhasil, Nak?” Kata istriku bertanya mengenai rencana mereka.

“Iya ma. Tapi Tasya mohon maaf ma. Tasya mencampurkan minuman Adit dengan obat perangsang. Jadi mama tau sendiri bagaimana kelanjutannya?” Jawab Tasya dari ujung telepon sana.

“Yaudah kalau kalian melakukannya lagi perbuatan yang seharusnya belum boleh kalian lakukan sebelum menjadi pasangan suami istri yang sah.” Kata istriku menyahuti omongan Tasya.

“Maafin Tasya ya ma. Tasya melakukan ini semua demi cinta Tasya pada Adit. Tasya ingin Aditlah yang menjadi suami Tasya, Ma.” Sahutnya dari saluran telepon sana.

“Sudah kamu jangan merasa bersalah. Mama sayang sama kalian berdua Nak. Mama sudah menganggapmu anak mama sendiri. Sya, kamu usahakan tahan Adit selama mungkin di kamarmu. Jangan sampai ia keluar kamarmu sebelum mama kesana, kamu mengerti Sya.” Ucap istriku berbicara di ponselnya.

“Ok, kalau kamu sudah mengerti. Mama segera kesana. Bersikap wajar jangan sampai Adit mencurigai kita bersengkokol.”

“Iya ma. Tasya tunggu ya ma.” Sahut Tasya dari ujung telepon sana.

Setelah Hanum istriku menutup teleponnya, ia lalu pamit padaku untuk ke rumah opa Widjaja, ia ternyata memegang kunci rumah opa Widjaja yang tadi pagi sempat opa Widjaja titipkan kepada kami.

.

.

Jam 11:00 wib setelah aku berhasil menyelesaikan masalah mereka. Adit bersedia menikahi Tasya dan Tasya bersedia menjadi istri kedua Adit bahkan mau mengikuti keyakinan Adit, aku kemudian menelepon papanya Tasya.

“Pagi, ini dengan mas Hadi ya.” Sahut suara pria disana menerima sambungan teleponku.

“Pagi juga dik. Nganggu ndak nih mas telepon kamu,” kataku menanyakan ia terganggu atau tidak aku menelponnya saat ini.

“Nggak kok mas, tapi ada apa ya? Kok sepertinya ada hal yang sangat penting yabmas.” Kata papanya Tasya dari ujung telepon sana.

“Begini dik? Mas mau melamar anakmu, untuk jadi istrinya Adit. Mereka sudah ngomong pada mas bahwa mereka sama-sama saling mencintai. Dan mereka mau sesegera mungkin menikah. Apakah kamu keberatan dik dengan rencana mereka berdua?” Kata ku menjelaskan maksudku pada papanya Tasya.

“Serius mas. Kalau saya sangat setuju mas. Justru saya senang mendengar rencana ini. Tasya anak saya itu sudah lama suka dengan Adit. Kapan rencana pernikahan mereka mas?” Sahut papanya Tasya antusias mendengar kabarku tadi.

“Rencana saya menikahkan mereka dulu secara Islam tiga hari lagi. Ehiya mohon maaf ya, apakah adik keberatan kalau Tasya memeluk keyakinan yang sama dengan Adit? Saya tidak akan memaksakan diri untuk Tasya dik, tapi dia sendiri ingin pindah keyakinannya mengikuti keyakinan Adit. Sekali lagi mas mohon maaf jika membuat kamu dan sekeluarga tersinggung karena keyakinan itu bersifat prinsip dan mas tidak mau nanti ada kesalahfahaman diantara kita dik.” Kataku kembali menjelaskan persolan tersebut pada papanya Tasya.

“Oh masalah agama dan keyakinan, saya serahkan sepenuhnya pada Tasya mas. Dia yang akan menjalani kehidupan rumah tangganya. Dan aku yakin kalau Tasya sudah bilang seperti itu artinya dia memang sudah serius untuk menjadi istri Adit mas. Saya hanya mengikuti keinginannya demi kebahagiaannya mas. Saya pribadi dan keluarga tidak mempermasalakannya. Mengenai rencana mas saya dan keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada mas. Nanti kami hanya tinggal datang ke Surabaya mengikuti acara akad nikahnya saja disana.” Jawab papanya Tasya tegas.

“Oke kalau begitu dik. nanti mas bicarakan juga dengan opa Widjaja untuk meminta nasehat beliau. Terima kasih ya dik sudah menyetujui rencana ini, nanti mas kabarin lagi berita baiknya sama kamu dik.” Kataku senang berbicara dari ponselku.

“Iya mas. Yang terpenting mereka berdua bahagia mas. Dia itu putri kami satu-satunya, saya titip sama mas untuk dididik menjadi istri dan menantu yang baik ya mas, hehehe….” Sahutnya sambil tertawa kecil papanya Tasya berbicara dari sambungan telepon di ujung sana.

“Ok dik. Dah dulu ya selamat pagi, salam ya buat istrimu.” Kataku sebelum mengakhiri sambungan telepon kami.

“Iya mas. Nanti akan disampaikan salam mas pada istri adik,” sahutnya dari ujung telepon sana.

Setelah menutup sambugan telepon tersebut aku menceritakan obrolan kami tadi pada Adit dan Tasya. Mereka berdua, terutama Tasya terlihat bahagia sekali setelah mendengar penjelasanku.

.

.

.

Pov Tasya

Aku sangat bersyukur ternyata impian dan harapanku menjadi kenyataan, aku berjanji untuk menjadi istri yang baik untuk mas Adit calon suamiku.

Jujur walau sedikit kecewa aku dengan keputusan papanya Adit yang tetap mempertahankan Cinta istrinya. Tetapi aku tidak boleh egois, dengan menjadi istri Adit jelas itu sudah lebih dari cukup.

Aku sudah bertekad kuat untuk memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu, bahkan aku penasaran dengan Cinta istri mas Adit. Apakah sebaik itu orangnya? Aku jadi pengen dekat dan ingin belajar banyak darinya supaya bisa membahagiakan suami kami kelak.

Aku dan mas Adit saling memandang sejenak, memberikan kode tentang pembicaraan kami semalam dan kesepakatan yang sudah kami berdua putuskan. Mas Adit menganggukkan kepala memberi kode buat aku untuk menceritakan pada papanya mas Adit.

“Om”, seruku memanggil nama papanya mas Adit.

“Panggil papa, jangan om. Apa mau papa batalin pernikahan kalian?” Ancam papanya mas Adit memasang muka serius.

“Jangan Pa. Jangan dibatalin pernikahan kami…” Ucap Tasya serius.

“Hahaha….” Tawa papanya mas Adit meledak.

Beliau sukses membuatku jantungan dengan perkataannya barusan.

“Kirain beneran Pa, hehehe…” Sahutku ikutan mulai tertawa kecil setelah mendengar tawa papa mas Adit.

Aku tersipu malu karena sukses di kerjain oleh papanya calon suamiku, dan memasang muka cemberut pada mas Adit.

“Soalnya Tasya masih belum terbiasa Pa.”

“Ada masalah apalagi kalian berdua sepertinya sangat serius,” kata papa mas Adit bertanya serius padaku.

Kemudian aku menceritakan semua percakapan kami semalam.

“Mas Adit punya dua permintaan padaku, Pa,” kataku menjelaskan pembicaraan kami semalam.

“Dan aku telah menyanggupinya dengan mengikat sumpah sesuai dengan keyakinanku saat ini dan tidak akan mengajukan syarat apapun kepada Adit sebagai bentuk keseriusanku padanya Pa.”

“Permintaan pertamanya. Mas Adit memintaku menjadi pelindungnya Cinta seumur hidupku, menjaganya dengan taruhan nyawaku?”

“Kamu bersedia melakukan semua permintaan Adit itu, Sya,” kata papa menanggapi perkataan ku barusan.

Aku mengangguk.

“Aku bersedia, Pa. Aku tidak akan melanggar sumpah yang telah kuucapkan,” jawab ku yakin.

Papa mas Adit diam sejenak, beliau terlihat berpikir lalu kembali bertanya. “Kalau permintaan keduamu apa, Dit?”

Mas Adit menghela nafas sesaat, ia mulai mengatakan permintaan keduanya padaku.

“Aku ingin kamu dan Cinta menjadi saudara. Tidak boleh iri dan membenci dia. Apakah kamu mau melakukannya, Sya?”

“Aku bersedia, Mas.” Jawabku tegas dan yakin.

Papa mas Adit yang ikut mendengarkan kedua permintaan Adit, kemudian berkata. “Kedua permintaanmu sudah disanggupi oleh Tasya. Sekarang giliran kamu Sya, mintalah Adit melakukan sesuatu untuk mu.”

Aku sempat menggelengkan kepala.

Tetapi mas Adit dengan yakin ia berkata, “Katakan apa permintaanmu? Aku akan sanggupin asalkan itu masih sesuai batas kemampuanku.”

“Katakan saja Sya. Papa disini akan menjadi saksi untuk kalian berdua,” ucap papa mas Adit menambahi perkataan mas Adit.

“Baiklah jika mas memberikanku kesempatan untuk mengajukan permintaan. Aku tidak akan meminta yang diluar kemampuan kamu mas. Aku hanya mengajukan satu permintaaan,” kataku sambil menatap mata mas Adit dengan tatapan pengharapan.

“Aku hanya meminta kamu bisa bersikap ADIL kepada kami berdua. Hanya itu saja permintaanku padamu Mas.”

“Dan apabila kamu memintaku untuk menandatangani surat perjanjian ini diatas materai akan aku lakukan Mas.”

Papa mas Adit mengernyitkan alisnya sejenak, tetapi sesaat kemudian ia tersenyum lebar sambil berkata, “Tidak perlu Sya. Inilah yang namanya PERJANJIAN HATI, perjanjian yang tidak perlu ditulis dan dicatat di atas kertas bermaterai seperti perjanjian bisnis atau surat perjanjian kerjasama. Jika hati kalian bersih dan tulus mencintai pasangan kalian. Pastinya kalian dengan sendirinya akan menyanggupi untuk membuat bahagia pasanganmu. Hati itu tidak terlihat tetapi adanya di dalam lubuk yang terdalam. Busa disebut juga Qalbu dalam bahasa Arab. Jika kita tergetar dengan seseorang itu artinya hati kita sedang merasakan suka pada orang tersebut. Papa harap kalian berdua jaga hati kalian untuk kebahagian pasanganmu. Dan kamu Dit. Sanggupin permintaan Tasya tersebut. Kamu mesti bersikap ADIL, hanya kalian bertiga yang bisa merasakan kata itu cuma pesan papa bersikaplah yang sama kamu kepada kedua istrimu, jangan salah satu kamu lebih utamakan ya Nak”.

“Sya, Tasya… Sini Nak! Bisa bantu mama siapin makan siang kita”, seru mama Hanum memanggil dari meja makan.

“Pa, mas Adit, Tasya bantu-bantu mama dulu ya,” ucapku lalu mencium buku tangan papa dan mas Adit calon suamiku.

Lalu sambil tersenyum aku meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga tersebut.

.

.

.

Pukul 14:00 wib, kota Surabaya…..

Adit sedang berbicara dengan seseorang di telepon, terlihat sekali wajahnya begitu bahagia selama ia berbicara dengan orang tersebut.

Sementara itu Tasya ikut tersenyum, ekspresi gadis itu ikut bahagia saat calon suaminya tertawa dan sesekali bercanda dengan lawan bicaranya di ujung telepon sana.

Setelah beberapa menit kemudian pembicaraan Adit dengan orang tersebut akhirnya selesai.

Lalu Tasya kembali mendekat dan memeluk Adit, sambil menggoda calon suaminya tersebut.

“Sudah puas mas Adit. Kangen-kangenan sama Cinta, baru tau kalau kamu itu ternyata jago merayu juga ya mas.”

“Kamu cemburu dengan Cinta, Sya?” Tanya Adit balik menggodanya.

Tasya menggeleng, tetapi ia menunduk sesaat mencoba menghilangkan rasa cemburu dihatinya.

“Jika kamu belum bisa membuang rasa cemburumu pada Cinta, kamu akan sulit Sya untuk melakukan kedua permintaanku. Lakukanlah dari hati dengan penuh ketulusan, mas percaya kamu bisa melakukan itu.” Sahut Adit mencoba memberikan arahannya untuk Tasya.

“Iya mas. Tasya akan belajar itu semua, makasih ya mas sudah mau menerima Tasya, memaafkan kekhilafan Tasya.” Ucap gadis itu lirih bercampur haru.

“Dah yuk, kita jalan-jalan. Mas ingin mengajakmu kesebuah tempat. Kamu sudah siap.”

“Siap dong, istri mesti ikut apa kata suaminya?” Kata Tasya mulai santai menanggapi perkataan Adit.

“Tapi mas, kita pamitan dulu sama Papa dan Mama,” kata Tasya senang.

“Ayo,” sahut Adit lalu ia menggandeng tangan Tasya untuk menemui kedua orangtuanya.

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 27  | Pelarian Kisah Cintaku Part 27 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 26)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 28)