Pelarian Kisah Cintaku Part 25

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 25

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 25 | Pelarian Kisah Cintaku Part 25 Start

Chapter 25. Duka Masa Lalu​

Cuplikan capter sebelumnya….

Pukul 23:00 wib….

Aku berlari dalam kegelapan berlari ke arah cahaya yang terang tersebut, aku melihat seorang lelaki duduk memunggungiku dengan seorang gadis mereka seperti sedang berbicara, tampak sekali si lelaki terkesan cuek tetapi ia berusaha mendengarkan omongan si gadis itu. Kemudian mereka berbalik badan ketika itu aku terbelalak dengan mulut yang menganga karena ternyata pemuda itu adalah mas Adit.

Ia melihatku dan memberikan senyuman yang indah dan mencoba melangkah ke arahku, tetapi….

Tiba-tiba…..

Tangan gadis itu dengan cepat menahan mas Adit untuk mendekatiku.

Dia menarik tangan mas Adit dan mengajaknya menjauhi ku berjalan berlawanan arah denganku. Mas Adit berteriak memanggil namaku sambil ia mengulurkan tanganya mencoba menggapaiku

Aku juga menjulurkan tanganku mencoba menggapai tangan mas Adit, tetapi gadis itu berusaha kuat untuk menjauhkan mas Adit dari jangkauan ku.

Aku berteriak kencang memanggil namanya. “Mas Adit”.

.

.

.

Pov Tasya

Setelah menunjukkan bukti-bukti yang kumiliki pada mereka, beragam reaksi yang kulihat saat itu. Adit terlihat terperanjat bercampur malu dan Tante Hanum terdiam. Sementara, Om Gunawan masih bisa bersikap tenang dalam permasalahan ini. Lalu beliau berkata pada Adit,

“Apa penjelasan kamu, Dit? Kamu mau menyangkalnya?”

“Tidak, Pak, Adit akui itu memang benar. Tetapi Adit tidak menyangka Tasya selicik itu, Pak. Waktu itu Adit dijebak oleh dia, Pak!” sahut Adit membela diri, sambil menunjuk wajah Tasya.

“Mana ada maling mengaku,” sahutku menyindir Adit.

“Mana buktinya kalo kamu dijebak? Di tayangan itu, kamu yang dengan bernafsu menggauliku. Apa aku ini wanita hina? Serendah itu, hingga kamu menuduhku seperti itu?”

Aku menumpahkan amarahku dengan menangis, memburu Tante Hanum dan memeluknya.

Melihat pertengkaran semakin memanas, Gunawan mencoba menengahi.

“Cukup, Dit! Papa nggak mau dengar penjelasan apa-apa lagi darimu. Kamu tidak bisa membuktikan dan membela diri, karena semua bukti itu sangat jelas, bahwa kamu yang bersalah. Papa benar-benar kecewa sama kamu, Dit.”

Kulihat Adit hanya bisa menundukkan kepalanya. Aku menyunggingkan senyum di balik tubuh Tante Hanum, geli melihat Adit merasa lemah dan terpojok karena bukti-bukti yang kupelihatkan lebih memihak kepadaku.

Tetapi sesaat kemudian, aku sedikit kaget saat Adit mencoba menjelaskan pada Om Gunawan, papanya.

“Pak, Adit pasrah. Untuk masalah kesucian Tasya, Adit tidak akan membantah sama sekali. Tetapi Adit punya alasan tertentu, kenapa sampai saat ini belum bisa menerima Tasya, Pak. Tolong sekali ini Papa dengarkan Adit,” kata Adit dengan suara berat dan bergetar.

Aku langsung memotong perkataan Adit, dan mengalihkan pembicaraan mereka agar Adit tidak sampai mengatakan kebusukanku pada Om Gunawan, papanya.

“Alah… itu hanya alasan kamu saja, Dit,” ucapku menyanggah perkataan Adit.

“Kamu pasti sengaja ingin menjelek-jelekkan aku di depan papa dan mama kamu. Om, Tasya nggak bisa lama-lama di sini. Lebih baik Tasya pulang….”

Aku segera bangkit dan berlari meninggalkan mereka sambil menangis terisak-isak.

Tante Hanum mencoba mengejarku, tetapi aku lebih cepat darinya. Kini aku sudah berada di luar rumah Om Gunawan dan Tante Hanum, berlari sambil menangis sesenggukan menuju rumah Opa.

Aku melakukan ini, sesuai rencana Tante Hanum yang ia bisikkan tadi pagi, selain juga mengalihkan perhatian Om Gunawan agar Adit tidak sampai membeberkan keburukanku dengan papanya.

Sesampainya di dalam rumah, aku segera menuju ruang keluarga untuk memikirkan langkah dan rencanaku selanjutnya, dan berharap Tante Hanum memberikan kabar tentang apa yang terjadi di sana.

Aku menghempaskan tubuhku di sofa, mencoba untuk menenangkan emosi yang sempat terpancing oleh perkataan Adit tadi. Kuseka airmataku, sambil menghela nafas panjang, mengaturnya agar teratur kembali.

Drrt…Drrtt…

Ponselku bergetar, sebuah SMS masuk dari tante Hanum.

from : Tante Hanum

“Sya, Adit sekarang menuju ke rumahmu, Mama serahkan semuanya pada kalian. Mama harap kalian berdua bicara baik-baik, Mama pasti dukung kamu, Sya.”

Setelah kubaca pesan dari Tante Hanum, eh Mama Hanum, segera kubalas SMS dari Mama Hanum.

“Makasih, Ma, doakan rencana Tasya berhasil.”

Setelah mengirim balasan SMS, aku segera menyusun plan C, berharap rencanaku kali ini berhasil dan bisa dinikahi oleh Adit.

“Oya, obat perangsang dan bubuk halusinasinya mesti kuambil dulu, sebelum Adit sampai,” batinku berkata.

Aku segera bergegas menuju kamar yang berada tidak jauh dari tempatku duduk. Setelah berada di dalam kamar, segera kuambil dua bungkus plastik obat yang masing-masing sudah kutandai fungsi dan kegunaannya, kumasukkan ke saku celana dan segera menuju dapur untuk kusimpan di sana.

“Ting… Tong…” suara bel berbunyi nyaring.

“Pasti itu Adit,” pikirku di dalam hati. “Aku mesti memasang wajah kesal, marah dan kecewa padanya supaya ia merasa bersalah.”

Aku bergegas menuju pintu depan, dan setelah pintu dibuka.

“Sya, boleh aku masuk?” kata Adit, ramah dan sopan.

“Buat apa kamu ke sini! Mau menjelek-jelekanku lagi atau mau menghakimiku? Puas kamu, telah bikin aku menderita seperti ini, Dit?” bentakku, sambil menutup pintu.

“Tunggu, Sya! Jangan tutup pintunya,” ucap Adit mencoba mencegah.

Ia menghadang daun pintu dengan tangannya.

“Kuakui, aku salah dalam posisi ini. Tolong, Sya! Kita bicarakan baik-baik.”

Aku melemah dan memberinya kesempatan dengan pergi meninggalkan Adit, berjalan menuju ruang keluarga.

Adit menyusulku menuju ruang keluarga. Setelah sekian lama, baru kali ini ia kembali bertandang ke rumah opaku.

“Duduk,” ucapku datar, tanpa melihat ke arahnya.

Ia duduk di hadapanku, sambil mengatakan, “Terima kasih, Sya.”

Masih ada kekakuan dan kecanggungan di antara kami. Hening dan diam, belum ada yang berniat memulai pembicaraan. Namun sesaat kemudian, aku jengah dan mulai bicara padanya.

“Apa lagi yang mesti kita bicakan, Dit?” kataku tegas, memasang muka datar.

“Masih belum puaskah kamu, telah membuat hatiku hancur sehancur-hancurnya. Jika kamu tidak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat padaku waktu kita di Paris dulu, aku bisa menerimanya. Biarlah kuanggap itu sebagai bukti rasa cintaku padamu. Tetapi, yang patut kusesali, aku telah salah mencintai seorang lelaki. Lelaki pengecut!”

Aku memandang sinis wajah Adit, marah, kecewa, cemburu bercampur menjadi satu, tidak menyangka sama sekali ia seperti tidak menghargaiku sama sekali.

“Bisakah kita mengobrolnya tanpa pakai emosi, Sya?” ucap Adit tegas dengan nada yang mulai meninggi.

“Seharusnya aku yang marah padamu, Sya. Tapi aku juga sadar bahwa apa yang kulakukan dulu kepadamu itu salah. Aku datang ke sini ingin bicara sama kamu, ingin bicarakan baik-baik permasalahan kita ini.”

Aku menghela nafas, berusaha menurunkan emosi dan tensiku. Emosi yang diliputi rasa cemburu, karena Adit telah menjadi milik wanita lain. Entah kenapa, aku kembali melinangkan air mata. Air mata luka, tumpah tak terbendung lagi.

“Ini, hapus air matamu, Sya. Kamu tidak pantas menangisi lelaki sepertiku, yang hanya bisa memberikan luka dan sakit hati padamu,” ucap Adit, sambil menyerahkan sapu tangannya padaku.

Aku menyambut uluran sapu tangan dari Adit, dan mencoba menenangkan diriku.

“Kamu pasti tidak tahu rasanya sakit, Dit. Sakit sekali. Apa yang kamu lakukan itu benar-benar menusuk jantungku. Jika kamu tidak bisa memaafkanku, bunuh saja aku, Dit. Supaya kamu puas, karena telah membalaskan dendam kematian Ayu. Iya, kan?” kataku dengan suara bergetar, menahan emosi dalam jiwaku.

Adit bergeming, tidak bersuara sama sekali, seakan ingin memberikan kesempatan bagiku untuk bicara, mengeluarkan semua yang ada dalam hatiku.

“Aku memang bersalah, telah mengakibatkan Ayu meninggal. Jujur, aku tidak berniat mencelakai Ayu, Dit. Semua itu terjadi tanpa sengaja. Saat itu aku hanya ingin memberi pelajaran pada seorang bapak-bapak yang dulu ingin mencelakaiku, pada saat kita bersepeda dulu. Kamu masih ingat kejadian itu, Dit? Kejadian yang bisa mencelakai bahkan menghilangkan nyawaku saat itu.”

Adit pun menanggapi perkataanku.

“Iya, aku ingat. Dan tidak mungkin melupakan kejadian itu, Sya. Tetapi, apa kaitan antara kematian Ayu dengan kejadian itu, Sya?” cecar Adit kemudian. “Jangan-jangan kamu hanya mencari-cari alasan saja.”

Aku langsung berdiri dan berkata dengan lantang pada Adit.

“Terserah kamu, Dit. Kalo kamu tidak mau mendengar penjelasanku, keluar saja sekarang. Pergi!”

Aku berusaha meninggalkannya di ruang keluarga, namun tiba-tiba Adit menahan tanganku.

“Maaf, Sya. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah, please, Sya. Ceritakan semua kejadian itu, agar salah paham ini bisa kita selesaikan baik-baik. Aku akan mendengarkannya, tanpa memotong perkataanmu.”

Aku kembali duduk, mengatur nafasku. Emosiku yang tadi meledak-ledak, kini berangsur-angsur turun.

“Kamu tahu, selama ini aku terus dihantui rasa bersalah karena menyebabkan kematian Ayu. Awalnya, aku hanya cemburu ketika mengetahui kamu jadian dengan Ayu. Tetapi, tidak mungkin aku sampai hati mencelakai Ayu, bahkan berniat membunuhnya. Tidak. Aku tidak akan menggunakan cara licik seperti itu, Dit. Tetapi kenyataan yang terjadi, adalah Ayu menjadi korban.”

“Nomor plat motor yang akan menabrakku saat kita bersepeda dulu, sempat kulihat. L xxxx WS. Aku hafal dan ingat nomor plat motor itu. Setelah kejadian itu, kuberitahukan pada opa, dan ternyata opa meminta orang-orang kepercayaannya untuk menyelidikinya. Mereka menyelidiki pemilik motor itu sampai lebih dari 10 tahun. Dan akhirnya, mereka mendapat informasi tentang orang itu, berikut fotonya.”

“Menurut informasi dari orang-orang suruhan opa kala itu, mereka yang sedang membuntuti lelaki itu dari sebuah rumah dan sedang menuju ke lokasi sekolahan xxx di Surabaya, dan kebetulan sekali saat itu aku sedang berada di lokasi yang mereka sebutkan. Ya, aku saat itu terus mengawasi kamu dengan Ayu, Dit. Cemburu dan marah melihat kedekatan kalian sebagai sepasang kekasih, tetapi aku tidak mau kamu sampai tau bahwa selama ini aku terus membuntutimu. Aku sempat menguntitmu saat terakhir kamu dan Ayu bercengkrama mengobrol di kantin sebelum terjadinya peristiwa itu.”

Seketika suasana ruangan menjadi hening, Adit terlihat merenung dan mungkin berpikir, ada kecemasan di wajahnya saat ini.

“Sya, tolong kamu jawab dengan jujur! Apa kamu yang melakukan tabrak lari itu?” tanya Adit, jelas dan tegas.

Aku mengganggukkan kepala.

“Lalu ada pesan SMS masuk dari orang suruhan opa, yang memberitahukanku bahwa sesaat lagi mobil lelaki itu akan sampai, aku bergegas pergi ke tempat mobilku, karena tujuanku hanya ingin memberi pelajaran pada lelaki itu. Lelaki pemilik motor yang nyaris mencelakakanku pada waktu itu.”

Aku sempat berhenti berbicara, jeda beberapa menit kumanfaatkan untuk menghela nafas. Mengatur nafasku yang tidak beraturan karena bercampur dengan beban masa lalu yang ingin kuungkapkan.

Adit memandangku, dan menganggukkan kepala agar aku kembali meneruskan ceritaku.

“Aku sudah siap di dalam mobil, mobil sudah kunyalakan dan tinggal menunggu waktu tepat untuk melancarkan aksi balas dendamku, kemudian aku melihat mobil yang dikendarai oleh lelaki pemilik motor itu, memasuki daerah xxx di dekat sekolah kamu, Dit. Mobil lelaki itu tidak memasuki sekolah kamu, Dit, tetapi memarkirkannya di depan sekolahmu. Setelah memarkirkan mobilnya, ia turun dan keluar dari mobilnya, melangkah menuju ke arah sekolahmu, menyeberangi jalan yang saat itu sedang sepi.

Pada saat itulah aku segera memacu mobil sedan warna hitam dengan kecepatan tinggi. Aku hanya ingin membuatnya ingat atas apa yang telah ia lakukan waktu itu. Namun sebelum lelaki itu terluka dan tertabrak mobilku, tiba-tiba seorang gadis berlari dengan cepat ke arah lelaki itu yang tidak menyadari bahwa ada mobil yang akan menabraknya. Gadis itu berlari sambil berteriak ke arah lelaki itu. Aku yang sedang memacu mobilku dengan sangat kencang, seketika terkejut dan panik, dan berusaha menginjak rem sekuat tenaga tetapi mobilku tetap melaju, malah berputar sampai 180 derajat. Sayangnya…..”.

“Ayu tidak bisa luput dari tabrakan maut itu. Bukan begitu, Sya?” sambung Adit dengan wajah yang memerah karena emosinya mulai naik.

Aku mengangguk, mataku kembali berkaca-kaca.

“Gadis itu terhantam mobilku, Dit. Ia terpental beberapa meter ke sisi kiri. Pada saat itu, aku tidak tahu, kalau ternyata gadis itu adalah Ayu, kekasihmu. Aku panik dan langsung kabur, kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi, menjauh sejauh mungkin dan menghilang agar tidak ada satu pun yang mengetahui kejadian itu.”

Setelah selesai bicara, aku tertunduk malu menyesali semua yang telah terjadi.

Andai saja, aku bisa menahan emosiku, mungkin saat ini Ayu masih hidup, dan Adit tidak akan membenciku meskipun mungkin akan tetap memilih Ayu untuk menjadi pendamping hidupnya.

Aku tidak berani menatap Adit, pasrah menanti reaksinya. Lama kami diam, namun tidak ada sepatah kata pun terlontar dari bibirnya. Lalu aku kembali berucap,

“Aku siap mempertanggungjawabkan semua yang telah kulakukan, Dit. Jika itu bisa membuatmu puas dan bisa memaafkan kesalahanku. Aku sudah tidak kuat lagi membohongi kamu, aku sering dihantui rasa bersalah, hidupku tidak tenang setelah kejadian itu, Dit. Aku pasrah jika kamu ingin membawaku ke pihak berwajib, sekarang”.

Adit tak menyahut, hanya diam menundukkan kepala, entah apa yang ia rasakan setelah mendengar semua penjelasanku tadi.

Mungkin beberapa menit kami terdiam, berkutat dengan pikiran masing-masing, malam mulai merambat semakin larut.

Aku meninggalkan Adit yang termenung dengan kepala menunduk, melangkah menuju dapur, dan kemudian mengambil obat perangsang dan bubuk halusinasi tersebut.

.

.

.

Pov Adit

Aku hanya terpaku di ruangan keluarga di rumah Opa, merenung dan memikirkan semua perkataan Tasya tadi.

Sesak dadaku, mendengar langsung dari bibir Tasya, tentang peristiwa yang menimpa Ayu, beberapa waktu lalu.

Lama kami terdiam, aku kembali teringat saat-saat terakhir aku dan Ayu duduk bersama di kantin sekolah.

Saat itu aku sudah duduk di bangkukelas 3 di sebuah SMA di kota Surabaya, sedangkan Ayu adalah siswi kelas 1. Perkenalan kami terjadi beberapa bulan lalu saat ia mengikuti kegiatan Ospek di sekolah kami, saat itu ia dan beberapa temannya meminta tanda tangan kepada kakak-kakak kelasnya sebagai salah satu tugas mereka selama mengikuti kegiatan Ospek. Walaupun saat itu aku tidak lagi menjadi pengurus OSIS, tetapi kepopuleranku sebagai mantan ketua OSIS membuat siswa-siswi baru mencari dan memburuku untuk meminta tanda tangan. Dan salah satunya, adalah siswi yang bernama lengkap Ayudia Larasati, berusia 15 tahun 6 bulan 35 hari. Dia bersama kedua temannya, Yessi dan Fanny, mendatangiku, masuk ke kelasku yang kebetulan saat itu belum ada guru yang akan mengajar kami.

“Selamat pagi, Kak Adit, boleh kami bertiga meminta tanda tangan kakak, untuk tugas kami sebagai siswa baru,” kata gadis itu sambil tersipu malu.

Saat itu, aku langsung terpana melihat gadis yang baru saja berbicara denganku, terpesona dengan kecantikan alami yang dimilikinya, suara lembutnya yang menyejukkan hati, hingga kemudian aku tersenyum dan mengangguk.

“Boleh, tapi ada syaratnya, dan tidak sulit. Cukup jawab pertanyaanku dengan jujur.”

“Apa syaratnya, Kak? Kalo bisa jangan yang sulit, ya,” jawab gadis itu dengan polosnya.

“Cukup perkenalkan diri kalian masing-masing. Dan untuk kamu, temui kakak nanti di kantin sekolah, karena itu adalah syarat khusus untuk kamu. Kalau kalian keberatan, maka kakak tidak akan memberikan tanda tangan kepada kalian bertiga,” kataku tegas.

“Baik, Kak,” seru mereka bertiga kompak.

“Mulai dari kiri, lalu terakhir kamu, siapa namamu?” tanyaku, menunjuk siswi yang berada paling kiri diantara mereka bertiga.

“Saya Fanny, Kak,” kata gadis itu.

“Saya Yessy, Kak,” kata gadis yang kedua dari kiri.

“Dan saya Ayu, Kak,” kata gadis itu sambil tersipu malu saat mata kami beradu pandang.

“Cukup. Mana buku kalian?” kataku tegas.

Mereka bertiga menyerahkan buku yang berisi nama-nama kakak kelas mereka yang tercantum sesuai urutannya, dan mereka mesti mencari dan memburu tanda tangan tersebut, jika tidak mereka bisa dikenakan hukuman. Peraturan yang memang turun temurun dari kakak-kakak kelas terdahulu yang mereka gunakan untuk berkenalan dengan siswa-siswi baru.

Aku segera menandatangani buku Fanny dan Yessy, tetapi tidak bukunya Ayu, hingga ia bingung dan bertanya padaku.

“Kak, maaf! Kenapa buku Ayu tidak kakak tanda tangani, apa ada kesalahan pada Ayu, Kak?”

Aku menggelengkan kepala, lalu menjawab pertanyaannya.

“Khusus untuk Ayu, tanda tangannya nanti, setelah jam istirahat temui Kakak di kantin. Bukunya Kakak sita sampai kamu temani kakak makan di sana.”

Kedua teman Ayu tersenyum-senyum, dan memberi kode jempol padaku.

“Iii…iya, Kak. Ayu akan temui Kakak di kantin,” jawabnya gugup.

“Kamu jangan gugup gitu. Kakak tidak ada maksud jahat sama sekali dengan kamu, jika kamu tidak percaya, silahkan ajak kedua temanmu untuk menemui kakak di kantin pada saat jam istirahat. Sudah, sekarang kalian bisa pergi. Sampai ketemu di kantin ya, Yu.”

Yessy dan Fanny terus menggoda Ayu, samar-samar terdengar olehku mereka berdua menggoda Ayu sambil sesekali menyebut namaku.

Singkat cerita, dari perkenalan dan pertemuan itu hubungan kami semakin dekat. Sebulan kemudian aku nekat menembaknya dan ternyata Ayu pun menyukaiku hingga kami resmi jadian ketika itu.

Aku begitu bersemangat menjalani hari demi hari, sejak aku memutuskan pacaran dengannya.

Ayu-lah cinta pertamaku, dan aku menjalani hubungan ini dengan serius, memperlakukannya dengan penuh kasih dan sayang, menjaga kesucian cinta kami tanpa berniat sedikit pun untuk merusaknya.

Mungkin di antara teman-temanku pada waktu itu, pacaran mereka bahkan sudah sampai berhubungan badan. Tetapi aku tidak akan melakukan itu sebelum dia sah menjadi pendampingku dalam sebuah ikatan suci pernikahan.

Memang kuakui, hubungan kami tidak lama, tetapi sangat berkesan dan tidak akan terlupakan seumur hidupku, karenanya aku bisa mengubah kenakalan-kenakalan masa puberku. Dan karena dia, aku bisa bermimpi dan mengejar harapan setinggi-tingginya.

Tidak terasa, kami sudah menjalin hubungan selama 6 bulan, dan di semester akhirku, atau semester 6, ternyata aku mendapat panggilan dari universitas ternama di Yogyakarta melalui jalur prestasi akademisku, yang menurut kepala sekolah, aku termasuk dalam kriteria mereka.

Ayu begitu senang mendapat kabar keberhasilanku, dan ia meyakinkanku untuk melanjutkan kuliahku disana.

Senin, 3 April 2007….

Hari yang tidak bisa kulupakan karena tanggal tersebut adalah saat terakhirku melihatnya.

Pada saat bubaran sekolah, aku dan Ayu selalu berjanji untuk bertemu di kantin sekolah, tetapi hari itu Ayu terlihat gelisah dan ingin segera pulang, seolah ada yang sedang menunggunya.

“Yang, aku pulang dulu, ya!” kata Ayu lirih.

“Kok buru-buru, Yang? Nggak bareng sama aku?” sahutku.

“Tadi Papa bilang mau menjemput, Yang, sebentar lagi sampai” jelas Ayu.

“Kalau begitu, aku antar kamu menemui papamu, Yang” kataku tegas.

“Jangan, Yang! Jangan sekarang, ya. Aku takut nanti Papa malah melarang kita berdekatan lagi,” sahut Ayu melarangku.

“Padahal aku pengen kenalan sama papa kamu, Yang. Sudah 6 bulan kita pacaran, belum pernah sekali pun aku diperkenalkan dengan papamu,” kataku lirih.

“Bukan begitu, Yang, nanti saja aku ceritakan sama kamu, tentang keluarga kami. Suatu saat, pasti kamu akan mengetahuinya. Aku mohon kamu bersabar, demi kebaikan kita,” kata Ayu, mencoba meyakinkan dan memberi pengertian padaku.

“Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya, aku sayang kamu, Yu,” kataku.

“Aku juga sayang kamu, Dit,” jawab Ayu sumringah.

Kami berpelukan sejenak, kebetulan sekali saat itu kantin sudah agak sepi. Lalu kukecup keningnya sebelum ia pergi meninggalkanku.

Ia lalu pergi meninggalkanku yang masih bengong di kantin sekolah. Entah kenapa, saat itu, aku merasakan kehilangan dan hampa. Pikiranku selalu tertuju pada Ayu yang kini perlahan mulai menjauh dan menghilang dari pandanganku.

Aku tidak menyangka, ternyata itulah momen pertemuan terakhir kami, dan setelah itu aku harus kehilangan dirinya untuk selamanya.

Saat itu, aku tidak menyadari bahwa telah terjadi kecelakaan di depan pintu gerbang sekolah kami.

Karena saat itu aku masih terbawa hanyut dengan pikiranku tentang Ayu, kegelisahanku yang sulit kuungkapkan dengan perkataan, hatiku gelisah dan merasa seolah hari itu adalah hari perpisahan kami.

Seluruh siswa dan siswi, termasuk para guru, sudah pulang. Sekolah yang tadi ramai berubah menjadi sepi dan sunyi.

Tiba-tiba, Farhan dan Yessy menemuiku dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, terlihat wajah kecemasan dan kesedihan dari keduanya.

“Itu Adit, Beib!,” katanya dengan suara keras menunjuk ke arahku.

“Ayo, Dit! Ikut kami, kita mesti buru-buru ke rumah sakit,” ucap Yessy, tanpa basa-basi mengajakku.

“Sabar dikit, Mbak. Lho kenapa dan siapa yang masuk rumah sakit, Yess?” kataku sedikit bingung melihat reaksi Yessi yang terlihat panik.

“Sudah, nanti aja gw jelasin sambil jalan. Buruan, ah…!” katanya sedikit membentak.

Aku segera mengajak Yessy dan Farhan ke parkiran, setelah kami berada di dalam mobil sedan Honda Civic-ku, aku menyalakan mesin mobil sambil berkata.

“Ke rumah sakit mana, Yess?”, tanyaku.

“Rumah sakit xxx jalan xxx, lo tau kan tempatnya?” jawab Yessy dari kursi belakang.

Disampingku duduk Farhan yang sejak masuk tadi hanya diam dengan ekspresi sedih.

“Lo berdua jadi aneh begini, sih. Ada apa, sih?” kataku bingung melihat sikap aneh dua sejoli itu.

Yang membuat aku ikut panik, tiba-tiba Yessy menangis, isak tangisnya pecah kala itu.

“Kok jadi ikutan sedih begini, kenapa aku jadi kepikiran terus sama Ayu? Ah mungkin karena melihat Yessy menangis saja, aku jadi ikutan mellow gini,” gumamku, sambil tetap fokus menjalankan mobil ke rumah sakit yang disebutkan oleh Yessi.

Tidak begitu lama, kami sampai di rumah sakit tersebut, Yessy mengajakku dan Farhan untuk segera turun. Mengikutinya yang kini berjalan seperti orang yang tergesa-gesa dan panik akan sesuatu yang begitu mengkhawatirkan.

Saat kami masuk dan melangkah menuju tempat informasi pasien, tiba-tiba HP Yessy berdering.

Ia menjauh dariku dan Farhan, setelah sempat memberi kode untuk memberinya waktu dan tempat agar ia bisa menerima telepon itu dengan jelas.

Aku hanya memerhatikan gerak bibir dan ekspresi wajah Yessy yang terlihat sedih dan tiba-tiba berteriak histeris sambil menyebut nama Ayu.

Tak lama setelah menutup telponnya, ia memintaku pergi dari rumah sakit ini, dan segera ke rumah Ayu.

Aku yang tadi sempat gelisah, semakin gelisah setelah mendengar Yessy dengan panik memintaku pergi ke rumah Ayu.

“Ada apa, sih? Yess, ada apa ini? Lo berdua sejak tadi bersikap aneh begini. Kenapa ke rumah Ayu, Yess….?” kataku ikut panik.

Namun Yessy bergeming, dan tiba-tiba ia menangis, aku sedikit banyak bisa memahami apa yang membuat Yessy, sahabat Ayu, menjadi aneh begini.

Setelah kami bertiga kembali berada di dalam mobil, tanpa banyak tanya, aku segera memacu mobil Honda Civic-ku dengan sedikit lebih laju daripada biasanya. Saat itu, aku berpikir, harus secepatnya tiba di rumah Ayu.

Begitu sampai di rumah Yessy, aku makin cemas dan gelisah karena melihat banyak orang yang menggunakan peci dan duduk-duduk di halaman rumah Ayu. Apalagi saat melihat bendera kuning yang terpasang di teras rumah Ayu.

Sesegera mungkin kami bertiga turun dari mobil, kebungkaman mengiringi langkah kami yang tergesa-gesa, ingin secepatnya sampai di dalam.

Begitu sampai di dalam rumahnya, barulah air mataku tak kuasa kubendung, melihat sesosok tubuh terbaring kaku, tak bergerak, ditutupi kain batik dari ujung kaki hingga kepalanya.

Disamping sosok tubuh yang terbaring tak bernyawa itu, duduk ibunda Ayu, menangis di pelukan Fanny, yang juga menangis.

Yessy yang tadi tidak kuhiraukan, ternyata langsung histeris memanggil nama Ayu, kala kain batik itu ia buka.

Air mataku turun semakin deras, tetapi tak ada satu kata pun yang terucap dari bibirku, seakan bibirku terkunci rapat.

Aku ingin sekali meluapkan kesedihanku kala itu, tetapi aku sadar, jika Ayu masih hidup, ia pun akan melarangku untuk menangis histeris meratapi kepergiannya.

Hancur rasanya harapan dan impianku terbawa olehnya. Harapan dan kebahagiaanku di masa depan seakan sirna dengan kepergiannya.

Jam 16:00 wib…..

Jenazah Ayu dibawa ke tempat pemakaman yang terletak tidak jauh dari rumahnya, diiringi tangis sebagian sahabat terdekat Ayu. Aku ikut menyebutkan kalimat tahlil, takbir sambil mengusung keranda mayat. Aku ingin memberikan hatiku, jiwaku, dan menguburkannya dengan tanganku sendiri. Akan kulakukan semua yang terbaik untuknya, sebagai tanda bukti bahwa aku sangat mencintainya.

Seluruh teman-teman sekelas Ayu, teman-teman kecilnya, juga teman-teman SD dan SMP, datang melayat dan bahkan ikut mengantarkan jenazah Ayu ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Aku mengikuti proses pemakaman dengan penuh hikmat, dan bahkan aku ikut turun ke liang lahat, bersama keluarga Ayu, menyambut jenazah Ayu untuk dikebumikan di liang lahat.

Setelah selesai prosesi penguburan dan pembacaan doa, sedikit demi sedikit para pelayat membubarkan diri, kembali ke rumah masing-masing.

Hanya aku yang masih bertahan di pemakaman itu, melihat gundukan tanah merah yang masih basah dan penanda nama sebagai batu nisannya kelak.

Tertulis nama AYUDIA LARASATI binti Pramudya Adi Pratama, Surabaya, lahir 23 Oktober 1991, wafat 3 April 2007.

Aku meluapkan kesedihan kala itu, sambil memegangi papan namanya, seperti sedang mengajaknya bicara.

“Kenapa, Yu? Kenapa kamu begitu cepat meninggalkanku sendiri di dunia ini?” ratapku di atas makam Ayu.

Lama aku menangis di atas pusara Ayu, seakan enggan untuk meninggalkan tempat ini, hingga aku disadarkan oleh tepukan di bahuku, dan sebuah senyuman yang berwibawa dari seorang lelaki.

Lelaki itu mengatakan, “Jika kamu benar-benar menyayangi dan mencintainya, selalu doakan dan ikhlaskan kepergiannya.”

Lelaki yang memakai baju serba hitam, yang sesaat lalu ikut bersamaku menguburkan Ayu, kini sedikit berbeda penampilannya karena memakai kaca mata hitam. Lalu ia bangkit dan meninggalkanku sambil menyunggingkan senyum.

Aku berdoa di makamnya, “Ya Allah, tempatkanlah ia di tempatmu yang terindah, ampunilah semua dosa dan kesalahan semasa hidupnya.”

Lalu aku berdiri dan mengucapkan kata perpisahan, “Selamat jalan, AYUDIA LARASATI, cintamu akan selalu mengiringi setiap langkahku”.

Lamunanku tentang Ayu menyiratkan duka masa lalu yang sampai saat ini masih membekas di relung hatiku yang terdalam.

Aku baru tersadar dari kenangan tersebut, saat Tasya beranjak dari tempat duduknya, melangkah menuju dapur.

Lalu aku sesaat berpikir, “Apakah yang diceritakan Tasya, tentang lelaki itu adalah Papa Pramudya? Apa sebaiknya aku menelepon papa mertuaku? Menanyakan kejadian beberapa tahun lalu. Perihal meninggalnya Ayudia Larasati yang sebenarnya”.

Segera aku mengeluarkan smartphone-ku, lalu menghubungi papa Pramudya, sambil melangkah keluar, menjauh agar tidak terdengar oleh Tasya.

Tut…. Tut…. Tut….

“Ya hallo, Dit,” sahut suara seseorang dari ujung telepon sana.

“Hallo Pa, maaf Pa! Adit mengganggu Papa malam-malam begini,” kataku berbicara dari ponselku.

“Nggak apa-apa, Dit. Tapi Papa kaget saja. Kenapa kamu menelepon malam-malam begini?”

“Begini Pa, Adit cuma mau tanya. Saat kejadian tertabraknya Ayu, apa benar Papa Pramudya ada di TKP?”

Aku mendengar suara Papa Pramudya mendesah, beberapa saat kemudian beliau menjawab pertanyaanku dari ujung telepon sana.

“Dit, Papa sebetulnya tidak ingin mengingat kembali kejadian itu. Papa sangat terpukul sekali, Dit, jika mengingat kembali kejadian di depan mata Papa. Ayu-lah yang menyelamatkan Papa dari kematian, mungkin kalau dia tidak berteriak dan memanggilku, mungkin Papa yang tertabrak oleh mobil sedan hitam itu. Papa berhutang nyawa pada anak Papa sendiri.”

Aku mendengar isak tangisnya dari ujung telepon sana.

Aku berpikir, sudah cukup informasi yang kudapat dari Papa Pramudya. Dan agar tidak membuat Papa mertuaku curiga dan makin sedih, aku mengalihkan pembicaraan ke hal lain yang tidak membuatnya sedih.

“Oh, maafin Adit ya Pa, Adit bukan mau membuka duka Papa, tetapi jujur, waktu itu Adit tidak melihat langsung kejadiannya, kita bersabar ya, Pa. Kita doakan agar Ayu tenang di sisi-Nya. Sekarang Adit ada di Surabaya. Insya Allah besok Adit mau nyekar ke makam Ayu, Pa.”

“Oh, kamu ada di Surabaya sekarang? Kenapa kamu tidak mengabari Papa kalo mau berangkat ke sana, paling tidak, Papa bisa menjenguk Cinta.”

Cinta yang melarang Adit, Pa, untuk mengabari Papa, Mas Prima maupun Mbak Jelita. Cinta tidak ingin merepotkan kalian.”

“Memang anak Papa yang satu itu keras kepala, Dit. Tapi Papa bangga, kamu bisa mendidiknya menjadi lebih baik. Waktu kemarin Papa mau kasih dia uang, Cinta menolak dengan tegas karena menghormati kamu, Dit. Berapa pun yang kamu berikan kepadanya, ia akan menerimanya. ‘Aku mesti menerima besar atau kecilnya uang yang diberikan suamiku, Pa, bukan Cinta tidak menghormati atau menghargai Papa’, begitu katanya.”

Iya, Pa. Makasih sudah merestui Adit, semoga saja keluarga kecil kami yang baru seumur jagung tetap rukun, harmonis sampai kakek nenek dan hanya maut yang memisahkan kami, Pa.”

“Amiiin… Dit, berapa lama kamu berada di Surabaya? Nanti Papa akan selalu mengunjungi Cinta, biar dia tidak kesepian di rumahnya.”

“Belum tahu, Pa, urusan Adit di sini belum selesai. Nanti Adit hubungi lagi Papa dan Cinta, kapan Adit pulang ke Jakarta.”

“Ya sudah, kamu tenang saja, nanti Papa akan memantau terus Cinta di rumah kontrakan kalian.”

“Makasih ya, Pa, sudah dulu, Pa. Assalamualaikum wr.wb”.

“Waalaikum salam wr.wb”.

Segera kukantongi ponselku dan kembali lagi ke ruang keluarga. Aku memasang wajah santai agar jika nanti bertemu Tasya, gadis itu tidak mencurigaiku.

Saat aku masuk ke ruang keluarga, terlihat Tasya sedang duduk melamun sambil minum wine.

Saat ia melihatku, tatapan matanya tajam seakan sedang menginterogasi, dari mana saja aku tadi. Lalu ia berkata dengan sedikit ketus dan wajah yang sinis,

“Kirain tadi sudah pulang. Kenapa masih di sini?”

Aku mencoba sabar menghadapi Tasya yang terpengaruh alkohol, dan terbawa emosinya.

“Sudah, jangan terlalu banyak minum, Sya. Nanti kamu malah mabuk,” kataku dengan suara lembut.

“Untuk apa kamu mengatur hidupku, Dit? Sedangkan kamu sendiri sama sekali tidak peduli denganku. Padahal dulu, setelah aku hampir di tabrak itu, kamu berjanji untuk selalu menjagaku, menemaniku dan selalu ada untukku. Tetapi kenyataannya, kamu malah menjauhiku. Aku benci kamu, Dit,” ocehnya, mengungkapkan semua isi hatinya.

Aku melangkah mendekatinya, dan berusaha menjauhkan wine itu dari tangannya.

“Kalo kamu memang sayang dan peduli sama aku, aku menagih janjimu, Dit. Menagih semua perkataan yang pernah kamu ucapkan. Aku menjadi rapuh dan hancur, juga karena kamu. Kamu yang selalu memberikan harapan, tetapi kamu malah mencampakkanku, tidak ubahnya aku seperti wanita murahan. Kamu jahat, Dit. Jahat.”

Melihat kesedihannya, terbersit rasa iba dihatiku. Aku tahu, Tasya sebenarnya, baik tetapi ia tidak bisa mengendalikan diri dan emosinya. Biar bagaimana pun aku juga pernah merasakan kedekatan emosional bersamanya, saat di Paris, walau sebagian hatiku masih terluka karena perbuatannya tersebut. Bahkan aku pernah berjanji untuk menjaga serta melindunginya, janji seorang bocah yang saat itu kuucapkan sambil mengaitkan jari kelingkingku ke jari kelingkingnya.

“Aku akan menepati janji yang pernah kuikrarkan padamu, tetapi aku juga punya permintaan yang mesti kamu penuhi. Jika itu bisa kamu penuhi, aku berjanji akan melakukan semua yang kamu minta. Apa kamu setuju dengan persyaratanku ini?” ucapku serius dan tegas.

Tasya yang mendengar perkataanku barusan, seketika menoleh dan menatap tajam, seakan meminta kejelasan dari penyataanku.

“Kamu serius, Dit. Kamu tidak sedang bercanda dan hanya menghiburku saja, kan?” kata Tasya.

Aku mengangguk.

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 25  | Pelarian Kisah Cintaku Part 25 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 24)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 26)