Pelarian Kisah Cintaku Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 24

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 24 | Pelarian Kisah Cintaku Part 24 Start

Chapter 24. Tasya vs Adit​

Cuplikan chapter sebelumnya…..

“Nanti malam om akan telepon Adit, besok om akan suruh dia pulang ke sini untuk menjelaskan semua masalah kalian termasuk masalah pernikahannya”, sambung om Gunawan.

Aku hanya mengangguk dan menunduk. Tante Hanum sedari tadi terus memelukku dan mencoba menguatkanku.

“Malam ini kamu tidur di sini saja, Sya”, ucap tante Hanum.

“Tasya mau pulang saja tan, nggak enak nanti Adit datang melihat Tasya di sini”.

“Yaudah nanti tante suruh ke rumah opa jika Adit sudah sampai di rumah”, kata tante Hanum.

“Kalo begitu Tasya pamit. Om tante, selamat malam”, kataku berpamitan pada mereka.

Setelah aku keluar dari rumah orang tua Adit, aku berjalan kembali ke rumah yang hanya berjarak beberapa meter. Sambil menyunggingkan senyum seringaiku ku berkata dalam hati.

“Adit, selamat datang. Kamu masuk dalam jebakanku”.

.

.

.

Keesokan harinya….

Aditya Febriansyah aka Adit​

Pov Adit

Sekarang aku sudah berada di dalam pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-350 kelas bisnis. Berangkat dari Bandara Internasional Soekaeno-Hatta, Cengkareng Tangerang tujuan Bandara Ir. H.Juanda, Surabaya.

Ku lirik sejenak jam tangan di lengan kiriku, saat ini menunjukkan jam 9:05 wib dan sesaat lagi pesawat yang ku tumpangi akan segera tinggal landas.

Salah seorang pramugari mendekatiku sambil mengingatkan untuk memasang safety belt atau sabuk pengaman.

“Maaf pak, silahkan pasang sabuk pengaman anda karena sesaat lagi pesawat ini akan tinggal landas!”, seru pramugari itu ramah disertai senyumannya.

Ku lihat name tag di bajunya pramugari cantik itu bertuliskan INDAH. Nama yang cantik dan indah sesuai dengan sosoknya.

Aku balas tersenyum dan segera memasang safety belt sesuai instruksinya. Tidak berapa lama kemudian ada pengumuman dari kapten pilot yang sedang bertugas membawa dan menerbangkan pesawat Garuda Indonesia yang ku tumpangi ini.

“Selamat pagi dan selamat datang para penumpang pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-350 tujuan Surabaya.

Saya Kapten JodoANG yang akan membawa dan menerbangkan pesawat ini menghimbau kepada seluruh penumpang untuk berdoa terlebih dahulu sesuai dengan agama dan keyakinan kita masing-masing semoga perjalanan kita lancar dan selamat sampai tujuan.

Dan demi keselamatan kita dalam penerbangan ini saya mohon kerjasamanya untuk mematikan telepon seluler anda masing-masing, dan jangan lupa segera memasang safety belt atau sabuk pengamannya, nanti pramugari kami akan mendantangi anda dan akan membantu atau mengingatkan.

Selamat menikmati pelayanan kami dan semoga anda semua dapat menikmati perjalanan ini dengan nyaman. Terima kasih”.

Pesawat yang kutumpangi ini mulai bergerak perlahan, dan lama kelamaan mulai cepat dan pada saat take off, badan ku sempat berguncang lumayan kuat kekiri dan kekanan.

Aku memejamkan mata sambil memanjatkan doa demi keselamatan kami semua hingga sampai nanti di tujuan kami yakni Bandara Ir. H. Juanda, Surabaya.

Pesawat kini melaju dengan kecepatan tinggi menembus awan dan cakrawala, bayangan Cinta istriku terlintas dalam benakku saat pagi tadi ia melepas kepergianku dengan penuh ketulusan sabagai seorang istri.

Jam 5:00 wib, aku terbangun dari tidurku, ku lirik Cinta di sisi kumasih tertidur pulas. Aku mengelus rambutnya dan sesekali memgecup ubun-ubun kepalanya mengungkapkan betapa aku sangat bahagia mendapatkan istri seperti dia.

Aku tak pernah puas untuk memandang wajahnya ketika ia tertidur, wajah yang penuh bahagia yang membuatku ikut merasakan kebahagiaannya.

Ia menggeliat di dadaku sambil tangannya tetap memelukku, hembusan nafasnya begitu menyejukkan jiwaku, oh rasanya benar-benar sulit untuk kuungkapkan dengan kata-kata, menggambarkan perasaan hatiku pagi tadi. Betapa bahagianya aku ketika terjaga dari tidurku, yang pertama kulihat adalah istriku. Melihat seseorang yang kucintai ada disampingku memberikan kenyamanan dan ketenangan jiwa.

“Dek Cinta sayang…! Bangun dek. Sholat subuh yuk!”, bisik ku pelan membangunkannya.

Cinta menggeliatkan tubuhnya, dan sesaat kemudian ia membuka matanya perlahan. Ia tersenyum ketika mendapatiku memandang wajahnya sambil tersenyum. Hembusan nafasnya menggetarkan sukmaku, lalu ia balas tersenyum sambil merangkulkan tangannya ke leherku.

“Jam berapa sekarang mas?”, tanyanya manja tanpa mau melihat arah jam dinding dan tetap memandangku tak berkedip.

“Sudah adzan subuh dek, kita sholat yuk! Kita berjamaah”, kataku mengajaknya dengan penuh ketulusan.

“Ayo, tapi cium dulu!”, sahutnya sambil mengerlingkan matanya.

Aku labuhkan ciumanku ke bibirnya yang mungil, ciuman yang didasari rasa kasih dan sayang sebagai suami pada istrinya.

Kami segera mandi besar (mandi junub) sebelum melaksanakan kewajiban kami sebagai muslim.

Setelah selesai beribadah, Cinta dengan sigap menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi. Aku sempat menawarkan diri untuk membantunya tetapi dengan halus ia menjawab sambil bercanda supaya aku tidak tersinggung.

“Dek, mas bantu ya bikin sarapan pagi”, ucapku menawarkan diri.

“Itu sudah kewajiban adek sebagai seorang istri, mas jangan mengambil ladang pahala adek, hehehe. Mas siapin saja keperluan mas untuk berangkat nanti, jangan sampai ada yang lupa dan ketinggalan”, jawabnya sambil tersenyum lebar.

“Pengen kamu yang siapin pakaian mas, mas nggak mau ambil ladang pahala kamu sebagai istri mas”, sahutku mengulang perkataannya.

“Ih malah nyontek omongan adek, nggak kreatif mas ah”, katanya menyahuti omongan ku.

“Hahaha”, aku tertawa lebar.

Sementara Cinta tersenyum, sangat terlihat sekali ia sangat bahagia dengan interaksi kami yang apa adanya.

Aku lalu beranjak ke ruang tamu, duduk bersantai di sofa sederhana, sambil memainkan ponselku. Sembari mengecek WA dan kebetulan sekali sekretarisku, Imelda ia sedang online. Segera aku memberikan kabar kalau aku hari ini tidak ke kantor karena mau ke Surabaya, melalui nomor WA nya.

“Mel, mas hari ini berangkat ke Surabaya menemui bigboss, kamu tolong handle semua pekerjaan mas. Kalo ada masalah kantor kamu segera kontak atau WA mas ya”.

Pesan WA ku langsung ia baca, dan terlihat dilayar monitor ponselku ia sedang mengetik pesan balasan.

“Ok mas. Hati-hati dijalan ya. Titip oleh-oleh ya, hehehe”.

Aku tertawa kecil setelah membaca pesan WA nya, lalu aku balas kembali pesannya.

“Nanti dibawain oleh-oleh buat semua karyawan. Tapi dengan syarat kalian kerjanya harus semangat”.

Imelda mengetik balasan setelah pesan WA ku ia baca.

“Siap mas”.

Aku membaca pesan WA terakhirnya dan hanya tersenyum. Dan berucap dalam hati, “Mel-mel kamu itu cantik kenapa masih saja mengharapkanku? Semoga kamu mendapatkan pasangan yang cocok dan seiman denganmu, aku menganggapmu seperti adik sendiri dan tidak ada perasaan apapun padamu”.

Cinta datang sambil membawa nampan berisi secangkir kopi hitam dan cemilan untuk menemaniku bersantai sejenak sambil menunggu ia selesai membuatkan sarapan pagi untuk kami.

“Duh senangnya, siapa mas? Pacar mas Adit ya, kok senyum-senyum begitu”, katanya menggodaku.

Seketika aku kaget dan malu melihat Cinta tersenyum menggoda dan sedikit ada rasa cemburu dari kalimatnya saat ia memergokiku memegang ponsel sambil tersenyum-senyum.

“Iii…Ini dek, mas baru kirim pesan WA sama Imelda sekretaris mas, memberitau ia bahwa mas mau berangkat ke Surabaya, kalo adek nggak percaya adek bisa lihat, nih”, kataku menjelaskan sambil menyerahkan hpku.

“Nggak usah mas. Adek percaya sama kamu, maaf ya tadi adek sedikit cemburu melihat mas senyum-senyum begitu”, sahutnya sambil ia meletakkan cangkir kopi dan cemilan itu diatas meja.

“Terima kasih sayang, sudah percaya mas, sini bentar temanin mas”, kataku sambil menepuk-nepuk sofa diaampingku.

“Kapan adek masaknya kalo diajakin ngobrol? Nanti ya sayang, adek tunaikan tugas adek dulu baru adek temanin mas sampe puas”, katanya dengan suara lembut dan tanpa intonasi marah sama sekali.

Aku bangkit dan menariknya pelan sehingga tubuhnya merapat dan….

Cuuuppp…

Aku mencium bibirnya, ciuman singkat tetapi penuh makna.

“Ciuman buat kamu dek, biar masaknya semangat ya”, kataku menggodanya.

Cinta tersenyum lebar, ia begitu senang dan kalimat singkat ia ucapkan, ” terima kasih mas Adit sayang”.

Click to expand…”Maaf mengganggu pak, ini makanan ringan dan kopi hitamnya. Selamat menikmati”.

Aku tersadarkan dari lamunanku, suara pramugari yang tadi mengingatkanku untuk memasang safety belt kini membawa sebuah nampan berisi secangkir kopi hitam dan sekotak snack lalu ia menaruhnya di samping tempat dudukku.

“Oh, iya terima kasih”, sahutku tegas.

Ia lalu berlalu, terlihat pinggulnya yang montok bergoyang bak goyang itik sedang berjalan, aku hanya tersenyum melihat pemandangan barusan.

Dalam hatiku berkata,”Dit, jaga hati dan pikiranmu. Di rumah istrimu sedang menunggumu dengan sabar, jaga kepercayaan dan hatinya”.

Aku pun langsung mengucapkan istighfar karena tanpa sadar aku sempat tergoda penampilan pramugari tadi.

Tak terasa pesawat yang ku tumpangi akhirnya sampai juga di Bandara Ir. H. Juanda, Surabaya. Mendarat dengan selamat dan aku pun mengucap syukur pada-Nya.

“Doakan suamimu, dek. Semoga mas bisa menghadapi papa dan mama dan bisa menyakinkan mereka bahwa kamulah pilihan terbaik buat hidup mas

.

.

.

Pov Tasya

Setelah pulang dari rumah orangtua Adit semalam aku langsung menyusun rencana, aku bikin plan A, plan B dan plan C, semua telah tersusun dalam benakku.

Plan A adalah rencana pertamaku untuk menarik simpati orangtua Adit dengan bilang bahwa aku telah diperawani oleh Adit pada saat jalan-jalan di Paris 3 tahun lalu dan bukti berupa sprei hotel telah aku bawa dan berada di dalam tas. Selain bukti yang pertama berupa sprei hotel, aku pun punya bukti rekaman yang sudah kuedit terlebih dahulu saat malam itu di kamar hotel Shangri-La Paris, Prancis. Aku memang sengaja mempersiapkan handycamp tersebut tanpa sepengetahuan Adit, dan dalam video tersebut sangat jelas terlihat jika Adit yang berperan aktif menggagahiku karena pengaruh obat perangsang.

Dengan kedua bukti ini, pastinya om Gunawan lebih memihak ku dibandingan cuma sanggahan Adit yang hanya menyanggah dan maenampik dengan berbagai alasannya tetapi tanpa di dukung oleh bukti yang menguatkan pernyataannya. Untuk plan A, 99% aku yakin om Gunawan pasti menerima penjelasanku tanpa mesti aku ngotot.

Plan B adalah membantah atau menyanggah penyataan Adit jika ia mengatakan bahwa aku adalah pelaku tabrak lari yang mengakibatkan meninggalnya Ayu kekasihnya waktu itu.

Perkataan ku pada waktu aku tidak sadar bisa saja dijadikan barang bukti oleh Adit jika ia merekamnya, sementara barang bukti lainnya, berupa tulisan tangam bahwa ia sudah mengetahui akulah pelaku tabrak laru itu dalam bentuk secarik kertas yang ia tulis sudah aku hilangkan/musnakan.

“Apakah Adit waktu itu merekamnya?”, pertanyaan itu terlontar di benakku.

Kalau memang iya, Adit merekamnya. Ini bisa berbahaya buatku karena bisa dijadikan alat bukti untuk kasus tabrak lari Ayu, walaupun mungkin setauku kasus penyelidikannya sudah ditutup oleh pihak penyidik karena tidak ditemukam barang bukti dan pelaku tabrak lari. Tetapi bisa saja jika Adit punya bukti tersebut kasus ini akan kembali dibuka dan Adit beserta om Gunawan bisa saja menjadi saksi di kasusu ini.

Bagaimana carannya aku membantah atau menyanggah barang bukti tersebut? Kalau alasannya saat itu aku tidak ingat karena terpengaruh alkohol itu jawaban yang blunder. Karena setauku orang akan lebih percaya kebenaran perkataan kita karena omongan itu berasal dari alam bawah sadar kita.

“Ah, untuk plan B ini bikin kepalaku mumet untuk mencari solusinya”, gumamku kesal.

Jika Adit memiliki barang bukti rekaman pada saat aku mabuk maka bisa aku pastikan om Gunawan, bisa berbalik membela Adit karena menurutku om Gunawan pasti berpikir tindakanku sudah melewati batas kewajaran. Menghilangkan nyawa orang dengan sengaja adalah perbuatan melanggar hukum. Itu termasuk kategori pembunuhan berencana dan ancaman hukumannya tidak main-main hukuman terberatnya adalah hukuman mati.

Jika terjadi kegagalan pada plan B, maka satu-satunya cara aku mesti menggunakan plan C.

Plan C adalah rencana terakhirku dan merupakan senjata pamungkas demi mendapatkan Adit dan sekaligus dukungan padaku dari om dan tante serta keluargaku.

Plan C ini bisa berhasil apabila aku bisa menyusun strateginya dengan tepat dan waktu serta tempat yang mendukung rencana untuk menjebak Adit.

Bagaimana cara menjalankan plan C supaya sukses? Yaitu menjebak Adit supaya ia menggauliku seperti kejadian di kamar hotel di Paris. Tetapi kejadian itu harus diketahui oleh om dan tante atau opa dan omaku sehingga Adit tidak akan bisa lari dari tanggung jawabnya.

Untuk menjebak Adit aku harus menyusun beberapa strategi:

1. Menciptakan waktu yang tepat untuk menggiring Adit masuk ke dalam jebakanku, misalnya ia datang ke rumah opa pada saat seluruh penghunj rumah sedang kosong supaya aku bisa leluasa menjalankan sesuai rencanaku. Jika rumah opa masih ada opa, oma dan bik Ina maka bisa saja aku dianggap yang merencanakan rencana jahat tetapi jika mereka tidak ada di rumah dan melihat kejadian itu orangtua Adit maupun opa dan oma lebih memihak aku sebagai korban nafsu Adit.

2. Memberikan obat perangsang dicampur bubuk akar mandrake (zat yang terkandung di dalamnya akan menimbulkan efek halusinasi pada pemakainya).

Mandrake merupakan tanaman yang akar / umbinya memiliki sejarah panjang di budaya umat manusia. Dipercaya mencabut akar Mandrake menyebabkannya berteriak keras dan menyebabkan manusia yang mencabutnya gila. Sekarang mitos itu dapat dijelaskan secara ilmiah bahwa mencabut akar Mandrake menyebabkan zat-zat halusinogen di akar yang terluka masuk ke dalam tubuh manusia lewat kulit dan menyebabkan kebingungan. Mandrake merupakan halusinogen kelas cukup tinggi namun cukup aman untuk dikonsumsi. Efeknya kebingungan, halusinasi, dan tercapainya altered state of consciousness. Merupakan salah satu tanaman yang dianggap banyak berhasil dipakai untuk mencapai pengalaman astral plane (fly to the moon).

Apabila seseorang diberikan obat perangsang dicampur dengan mandrake itu, maka pemakainya akan berhalusinasi dengan sesuatu yang dicintainya dengan nafsu yang menggebu-gebu.[color]

Setelah menyusun semua rencanaku dengan matang, dalam benakku. Aku bisa tersenyum lega sebelum aku memejamkan mata beristirahat di pembaringan kamar ini.

Keesokan harinya…

Jam 5:00 wib, aku sudah terbangun, kemudian merancang semua strategi yang akan menentukan jalan hidupku ke depannya. Jika semua rencanaku gagal hari ini maka tidak akan ada kesempatan lagi bagiku untuk mendapatkan Adit.

Aku keluar kamar dan mendapati opa dan oma sudah bangun dan mereka berdua sedang bersantai di ruang keluarga sambil menikmati tayangan di televisi, ternyata opa dan oma sedang bernistalgia mereka menyaksikan video rekaman pernikahan mereka yang memasuki usia pernikahan emas.

Video bergambar hitam putih itu terkesan klasik dan berdurasi selama satu jam.

“Hmmm”, dehem ku menggoda opa dan oma.

Mereka berdua hanya tersenyum, oma tetap memyenderkan tubuhnya di bahu opa seakan ingin bermanja-manjaan dengannya.

“Sini Sya!”, seru opa memintaku mendekat.

Aku mendekati mereka, duduk disamping opa.

“Kamu lihat tayangan di TV itu!”, kata opa sesaat. “Itu momen pernikahan opa dan oma, cuma tinggal ini satu-satunya yang tersisa untuk kami kenang Sya”.

Aku menyaksikan tanyangan itu terlihat betapa bahagianya seorang pemuda tampan memakai jas pengantin berwarna putih dan seorang gadis cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna yang sama keluar dari gereja mereka berdua setengah berlari menuju mobil yang di parkirkan persis di halaman depan gereja. Mobil kap terbuka dimana di plat belakangnya ada tulisan GET MERRIED. Ya pemuda tampan dan gadis cantik itu tak lain adalah opa dan oma ku, kini mereka berdua tinggal menikmati hari tua mereka, bernostalgia dengan kenangan mereka, hampir tiap hari mereka berdua selalu bersantai menyaksikan video ini tanpa ada kata bosan, jujur aku sangat kagum dengan cinta dan kasih sayang mereka berdua.

Sambil menonton opa dan oma bercerita mengenai hubungan mereka, awal perkenalan, hingga menikah dan cerita-cerita mengenai kehidupan rumah tangga mereka yang juga ada pasang surutnya.

“Sya, opa dan oma mau pergi mungkin juga mengajak Ina ke villa opa, buat merayakan anniversery pernikahan kami yang ke 50. Kamu nggak apa-apakan kalo opa dan oma tinggal dulu beberapa hari. Atau mau ikut juga ke sana!”, kata opa menjelaskan rencana mereka.

“Iya opa nggak apa-apa kok Tasya tinggal sendirian di sini. Tasya kesini kangen sama opa dan oma, tetapi urusan Tasya dengan om Gunawan dan tante Hanum belum selesai, terpaksa Tasya nggak bisa ikut. Biar cepat kelar masalahnya”, sahutku sambil memasang wajah kecewa dan sedih.

“Jangan sedih gitu Sya, kan ada om dan tante orangtuanya Adit. Nanti opa dan oma akan titip pesan untuk menjagamu selama kami pergi”, kata opa menjawab.

“Iya opa, Tasya nggak sedih kok. Opa dan oma senang-senang di sana, jangan pikirin Tasya. Tasya sudah gede juga hehehe”, sahutku sambil tertawa kecil supaya opa dan oma bisa tenang meninggalkan ku di sini.

Jam 7:00 wib… Opa dan oma beserta Ina akhirnya berangkat menuju villa mereka di batu kota Malang, menghabiskan waktu 2-3 hari disana. Untuk bernostalgia dan merayakan anniversery pernikahan emas mereka.

Sebelum mereka pergi om Gunawan dan tante Hanum sempat bersalam sapa dan ngobrol sebentar sekaligus menitipkanku pada orangtuanya Adit.

Terlihat oma berbisik-bisik di telinga tante Hanum, entah apa yang mereka omongin. Semetara opa dan om Gunawan ngobrol santai mengenai bisnis hotel mereka yang makin maju berkat kerjasama yang mereka jalin.

Setelah opa dan oma pergi, tante Hanum mengajakku berbicara empat mata. Ia menanyakan secara pribadi bagaimana perasaanku sebenarnya pada Adit? aku dengan wajah tersipu malu dengan tegas menjawab bahwa aku sampai kapanpun akan mencintainya karena tidak ada pria lain yang hadir di kehidupanku.

Kemudian tante Hanum tersenyum, ia memelukku sambil berkata, “Maafin anak tante ya, Sya. Harusnya ia sebagai lelaki mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia lakukan padamu. Tapi tante lebih memilih kamu untuk jadi pendamping Adit, kamu mau Sya jadi menantu tante”, kata tante Hanum.

Aku menggangguk.

Jujur aku kaget sekaligus senang mendengar permintaan tante Hanum menjadikanku menantu mereka.

“Aku mau tante, aku beruntung mendapat calon mertua sebaik tante”, jawabku senang.

“Kalo begitu kamu ikut rencana tante, percayakan semuanya. Tante yakin Adit bakalan menikahimu Sya”, kata tante Hanum lalu ia membisikiku rencana apa yang akan ia buat.

“Kamu faham, Sya! Kalo sudah mengerti nanti tante yang atur supaya rencana kita berhasil. Mulai sekarang kamu panggil mama jangan tante lagi”.

“Iya tan… Eh ma”, kataku grogi.

Jam 11:10 wib, tante Hanum mengabariku bahwa Adit telah sampai di Bandara Internasional Ir. H. Juanda, Surabaya dan saat ini sedang di jemput oleh supir pribadi mereka.

Tante Hanum terus mengingatkan agar aku jangan dulu menemui Adit, dan nanti malam baru aku diminta datang ke rumah mereka untuk dipertemukan dan membicarakan masalah ini hingga tuntas dan mendapatkan jalan keluarnya.

Aku begitu senang karena ternyata tante Hanum, eh mama Hanum memilihku untuk menjadi menantu mereka. Mungkin karena pengaruh opa dan oma yang begitu baik sama mereka atau mereka menilai aku pantas menjadi menantu mereka karena dimata mereka aku gadis baik.

Pagi berganti siang, dan siang berubah menjadi sore dan meninggalkan matahari di ufuk menuju ke barat. Berganti menjadi malam. Akhirnya waktu itu datang juga.

Aku hanya bergumam dalam hati, “Malam ini kamu akan jadi milikku, Dit. Ini juga berkat bantuan mamamu, Dit”.

.

.

.

Pov 3rd

Jam 19.30, di meja makan telah tersaji semua menu makan malam. Gunawan dan Hanum, duduk berdampingan menghadap Adit dan Tasya.

Mereka sengaja makan malam bersama terlebih dahulu sebelum nantinya akan membahas permasalahan mereka. Nampak sekali kekakuan antara Adit dan Tasya saat berlangsungnya acara makan malam itu.

Adit terlihat cuek dan menampakkan gestur risih dengan keberadaan Tasya malam ini, tetapi sebaliknya Tasya yang duduk berdampingan dengan Adit memperlihatkan wajah bahagianya saat berlangsungnya acara makan malam bersama tersebut.

Satu jam kemudian…

Mereka telah berkumpul di ruang keluarga untuk membahas permasalahan diantara mereka. Gunawan selaku papanya Adit memposisikan dirinya pada posisi netral tidak memihak Adit ataupun Tasya. Beliau kemudian membuka pembicaraan di depan Adit, Tasya dan Hanum.

“Dit, kamu jangan memperlihatkan sikap tidak suka seperti itu pada Tasya, papa harap kamu bersikap santai dan kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin dan jangan pake emosi. Begitu juga dengan kamu Sya, om minta kamu juga bersikap santai dan jangan emosi. Papa disini akan bersikap netral tidak akan memihak dari salah satu kalian, yang hanya papa percayain cuma bukti dan bukan perkataan tanpa didasari bukti. Kalian berdua faham”.

Tasya dengan mantap mengangguk dan mengatakan, “faham om”.

Sementara Adit terlihat lesu dan hanya mengangguk dengan ekapresi penuh keraguan dan kecemasan, ” iya pa, Adit faham”.

“Nah kalo begitu kita mulai saja ya”, kata Gunawan penuh wibawa.

Gunawan mempersilahkan dulu kepada Adit untuk memulai penjelasannya.

Adit menghela nafas sejenak ia seperti menenangkan dirinya terlebih dahulu dengan memejamkan matanya sebelum ia mulai berbicara.

“Papa, mama, Tasya. Adit tau kalian memanggilku pulang karena ingin meminta penjelasan tentang kabar pernikahan Adit”, kata Adit memulai penjelasannya tetapi ia sempat memberi jeda beberapa jenak untuk mengatur nafasnya.

Setelah ia merasa sedikit tenang dan punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya Adit lalu berkata.

“Kabar tentang pernikahan Adit itu benar dan Adit tidak akan menyembunyikan lagi masalah ini pada kalian. Adit telah menikah siri dengan gadis bernama Cinta Rahayu Pramudya, tetapnya 3 hari lalu. Di sebuah pondok pesantren As-salam, di daerah Jakarta Selatan dan pernikahan kami sah secara Islam”.

Reaksi Gunawan papanya Adit tampak santai sambil ia melihat sejenak ke arah Hanum istrinya, sementara Tasya matanya mulai berkaca-kaca dan ia mendekati Hanum mamanya Adit. Mereka berdua berpelukan.

“Terus istrimu dimana saat ini, Dit?”, tanya Gunawan pada Adit.

“Kami tinggal di rumah kontrakan, dan saat ini ia sedang mengandung 3 bulan. Itu anak dari benih…..benihku”, jawab Adit sedikit ragu untuk mengatakannya.

Gunawan berdiri dengan wajah yang murka dan….

Plaakkkkk…..

Sebuah tamparan menerpa pipi kanan Adit, meninggalkan bekas merah diwajah pemuda itu.

“Kamu tau kenapa papa sampai menamparmu?”, tanya Gunawan murka.

“Karena kamu telah bikin aib dan memalukan keluarga menghamili anak gadis orang”.

Adit hanya diam, tak ada bantahan atau jawaban darinya, walau dalam hatinya ia merasakan sakit karena seumur hidupnya baru kali ini papanya murka sampai menamparnya.

“Papa kecewa sama kamu, Dit. Apakah ini kebebasan yang selama ini kamu minta? Bebas untuk maksiat dengan wanita yang kamu sukai. Kepercayaan yang papa berikan kamu langgar dengan perbutan nista”, kata Gunawan mengatakan kekecewaannya pada Adit.

“Apakah kamu tidak sadar berapa banyak orang yang kamu sakiti karena kelakuan kamu ini, ha….?”.

“Sya, mana bukti yang ingin kau tunjukkan pada om? Tolong bawa ke sini! Perlihatkan bukti itu pada kita!”, kata Gunawan tegas.

Tasya menyerahkan kain sprei hotel yang masih terlipat rapi beserta sebuah cd pada Gunawan.

Lalu Gunawan membuka sprei itu dan terlihat bekas bercak darah yang masih menempel di sana, memperlihatkan kepada Hanum, dan Adit.

Adit bergeming di posisinya dengan ekspresi wajah terbelalak ketika melihat sprei hotel itu dperlihatkannya kepada papa dan mamanya.

Gunawan memperhatikan reaksi Adit yang gusar dan kaget saat melihat sprei itu lalu Gunawan mengambil kepingan cd itu dan mulai ia setel di dvd home theatre.

Sesaat kemudian terlihat dengan jelas Adit dalam keadaan bugil sedang berada diatas tubuh Tasya yang juga dalam keadaan telanjang bulat, tetapi tasya mengeditnya dengan membuat blur gambar kelamin mereka berdua.

Gunawan langsung mematikan TV karena ia sudah cukup tau apa yang terjadi.

Posisi dan keadaan Adit saat ini terjepit, ia tidak bisa lagi menyanggah dan menyangkal semua barang bukti yang diperlihatkan Tasya sangat kuat.

“Apa penjelasan kamu, Dit? Kamu mau menyangkalnya”, tanya Gunawan pada Adit.

“Tidak pa, Adit akui itu memang benar tetapi Adit tidak menyangka Tasya selicik itu pa sama Adit. Adit waktu itu dijebak oleh dia pa!”, sahut Adit membela diri sambil menunjuk muka Tasya.

“Mana ada maling ngaku”, sahut Tasya menyindir Adit.

“Mana buktinya kalo kamu dijebak, ditayangan itu kamu yang dengan bernafsu menggauliku. Apa aku ini wanita hina? serendah itu hingga kamu menuduhku seperti itu”.

Tasya menumpahkan amarahnya dengam menangis, ia memburu Hanum dan memeluk mamanya Adit.

Melihat pertengkaran mereka semakin memanas Gunawan mencoba menengahi.

“Cukup, Dit! Papa nggak mau dengar penjelasan apa-apa lagi darimu, kamu tidak bisa membuktikan dan membela diri karena semua bukti itu sangat jelas bahwa kamu yang bersalah. Papa benar-benar kecewa sama kamu, Dit”.

Adit hanya bisa menundukkan kepala, terlihat sekali ia merasa terpojok dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sadar posisi dia lemah percuma ia berkelit malah membuat suasana semakin panas dan emosi bisa membuat hubungan ia dengan orangtuanya malah bisa semakin renggang.

“Pa, Adit pasrah. Untuk masalah kesucian Tasya Adit tidak akan membantah sama sekali tetapi Adit punya alasan tertentu kenapa Adit sampai saat ini belum bisa menerima Tasya pa. Tolong sekali ini papa dengarin Adit”, kata Adit berbicara dengan suara berat dan bergetar.

“Alah itu hanya alasan kamu saja Dit”, ucap Tasya menyambung perkataan Adit.

“Kamu sengaja pasti ingin menjelek-jelekkan aku di depan papa dan mama kamu. Om Tasya nggak bisa lama-lama di sini lebih baik Tasya pulang, hiksss…. hiksss…. hiksss….”.

Tasya langsung bangkit dan berlari meninggalkan mereka sambil menangis terisak-isak.

Hanum coba mengejarnya tetapi Tasya sudah lebih cepat ia sudah keluar dari rumah mereka dengan berlari.

Gunawan dan Adit diam hanya melihat Tasya, sementara Hanum kembali menemui Gunawan dan Adit sambil ia marah.

“Kalian para lelaki apa seperti itu caranya menghargai seorang wanita? Papa tidak tegas sementara kamu Dit. Mama kecewa sama kamu, sudah untung kamu tidak dilaporin Tasya ke polisi karena tindakan kamu itu pengecut. Kalo kamu masih menghormati dan menganggap mama ibumu, kamu susul Tasya omongin baik-baik sama dia. Mama yakin dia bisa menerima dan memaafkan kesalahan kamu Dit. Dia itu sayang sama kamu cuma dia perlu diarahkan supaya menjadi lebih baik. Mama yakin kamu bisa membimbing Tasya jadi wanita baik tidak seperti ini sikapmu malah membuat ia semakin nekat, kamu faham maksud mama, Dit”.

“Tapi ma. Bagaimana dengan Cinta ma? Adit sangat mencintainya. Adit tidak akan meninggalkannya apapun yang terjadi tolong mama dan papa mengerti juga posisi Adit”, kata Adit.

Ia tetap memperjuangkan Cinta istrinya dihadapan orangtuanya, bahkan ia bisa saja nekat untuk memilih Cinta walaupun harus melawan orangtuanya tetapi ia ingat pesan Cinta untuk mengutamakan dan menghormati orangtuanya jangan malah menjadi anak durhaka.

“Kita cari jalan keluarnya nanti nak. Benar kata mamamu, sekarang kamu susul Tasya ke rumahnya bicarakan baik-baik, jadilah lelaki yang berjiwa besar Dit. Bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan jaga nama baik kita dan keluarga mereka nak”, kata Gunawan sambil ia mendekati Adit mencoba memberikannya pengertian.

Adit sejenak diam, ia berpikir dengan semua perkataan mama dan papanya barusan, ia tidak bisa juga menyalahkan orangtuanya karena mereka lebih percaya Tasya karena memiliki bukti yang kuat sementara ia tidak bisa membuktikan atau menyangkalnya.

“Baik pa, ma. Adit akan temui Tasya dan mengajaknya bicara baik-baik. Adit pergi dulu ya, Pa. Ma”, kata Adit sembari mencium buku tangan papa dan mamanya.

Adit bergegas keluar rumah menuju rumah Tasya yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya

.

.

.

Pov Cinta

Setelah kepergian suamiku tadi pagi, kini aku sendirian di rumah kontrakan kami, aku merasakan kesepian. Padahal baru beberapa jam ditinggalkan olehnya tetapi aku merasakan kehilangan dan hampa. Sunyi dan sepi rumah ini.

Betapa pentingnya mas Adit dalam hidupku. Aku tidak menyangka bahwa pernikahanku yang seumur jagung ini sudah mengalami cobaan, semoga saja Tuhan memberikan kami jalan untuk menyelesaikan masalah dan menghadapi masalah itu sendiri.

Untung saja mas Adit meninggalkan ponsel berlambang apel salah satu brand yang cukup ternama.

“Apa aku telepon mbak dewi saja ya, atau mbak Jelita? Iya mbak Jelita aku kangen dia”, gumamku dalam hati.

Aku mencari nomor ponsel mbak Jelita karena kemaren mas Adit bilang bahwa ia sudah memasukkan nomor contact mbak Jelita.

Tut….Tut…. Tut…..

“Ya hallo Dit!”, ucap suara dari ujung telepon sana.

“Hallo mbak Jelita kan. Ini Cinta mbak”, kata ku memberitahukan namaku pada suara yang sangat kukenal.

“Benaran itu kamu Cin. Duh adek mbak, mbak kangen sama kamu dek. Dimana kalian tinggal sekarang? Adit suamimu kemana kok ponselnya ada sama kamu? Gimana kabar kamu dan kandunganmu, Dek?”, ucapnya dengan berbagai pertanyaan.

“Aduh mbak, satu-satu mbak nanyanya”, kataku menanggapi beberapa pertanyaannya.

“Iya..Iya…Bagini saja dek, kamu WA aja alamat kamu sekarang mbak mau main ke rumah kalian. Mumpung mbak nggak sedang sibuk nih”, katanya dari sambungan telepon selulernya.

Aku segera mengirimkan alamat kontrakan kami melalui aplikasi WA, langsung di baca mbak Jelita dan ia membalas akan segera datang mungkin dalam 1 jam kedepan.

Sambil menunggu mbak Jelita datang aku membuka nama-nama di ponsel mas Adit, termasuk disana ada nama mbak Yessi.

Aku mulai berpikir”, apa aku minta konfirmasi saja pada mbak Yessi mengenai masalah ini? tetapi kuurungkan niatku setelah berpikir ulang. Ah, nggak perlu nanti malah masalahnya makin melebar dan persahabatan suamiku jadi renggang biar saja suamiku yang menyelesaikan masalah ini dengan orangtuanya secara baik-baik”.

Satu setengah jam kemudian..

Ting…Tong… (suara bell berbunyi)

Aku bangkit dari sofa dan segera melihat dulu siapa yang bertamu pagi ini, semoga saja benar itu mbak Jelita kakakku, dan setelah melihat terlebih dahulu dari balik gorden serta memastikan yang datang itu adalah mbak Jelita, barulah aku membukakan pintu.

“Cinta….”, serunya kegirangan ketika melihatku saat pintu rumah ku buka.

“Mbak Jelita”, kata ku berteriak kegirangan.

Kami berdua langsung berpelukan cipika-cipiki menumpahkan rasa rindu setelah beberapa hari aku kabur tanpa memberikan kabar kepadanya sama sekali.

“Masuk mbak! Maaf rumahnya kecil, hehehe”, ucapku mempersilahkan mbak Jelita masuk.

Mbak Jelita langsung masuk ke dalam rumah, ia menyerahkan kantong plastik yang katanya itu tadi ia beli dari toko kue.

Aku mengajaknya sebentar melihat-lihat keadaan rumah ini, sampai kuajak ke belakang rumah yang terdapat taman kecil serta beberapa jenis tanaman hias yang dibeli oleh kami berdua.

Setelah puas berkeliling rumah kami kembali ke ruang tamu, mbak Jelita kemudian menilai beberapa ruangan di rumah kontrakan kami, dengan wajah senang ia pun berkomentar mengenai rumah ini.

“Wah pinter kalian milih rumah ini dek, mbak aja langsung kerasan dan nyaman. Alam dan lingkungan sekitarnya masih terlihat asri dan udaranya nya segar jauh dari polusi dan kebisingan.

“Mas Adit, yang milih rumah ini”, sahutku ikut senang atas pujian dari mbak Jelita.

“Suamimu seleranya bagus dalam memilih rumah dan lokasinya, pasti kamu betah dan kerasan ya cin tinggal disini!”, timpal nya meneruskan perkataanku.

“Iya, betah mbak. Udaranya segar dan aku juga bisa berkebun di belakang rumah kalo sedang suntuk”, kataku menanggapi perkataan mbak Jelita.

“Eh, iya Cin, kamu terlihat semakin cantik, kelihatan sekali kamu bahagia ya sama Adit”, kata mbak Jelita mulai bertanya serius.

Aku mengangguk.

“Syukurlah kalo begitu mbak juga ikutan senang mendengarnya. Kemana suamimu dek, kok ponselnya ada sama kamu?”, tanya mbak Jelita sedikit heran ponsel Adit ada ditanganku.

“Sedang tugas ke Surabaya, mbak. Mas Adit sengaja memberikan ponsel ini untuk komunikasi kami, kan mas Adit masih punya satu lagi ponselnya”, kataku menjawab pertanyaaan mbak Jelita dengan memberitahu kalau mas Adit ke Surabaya sedang bertugas.

Aku sengaja merahasiakan masalah kami, aku tidak mau masalah ini menjadi besar dan diketahui oleh keluargaku.

Mbak Jelita menelepon suaminya dan meminta ijin padanya untuk menginap di rumah kontrakanku, menemaniku malam ini.

Dengan kehadiran mbak Jelita setidaknya aku tidak merasakan kesepian, banyak hal yang kami berdua obrolin berdua.

Bahkan pada saat makan siang mbak Jelitalah yang memasak, ia mempraktekkan resep masakan ia kuasai, dan mencontohkan dan mempraktekkanya langsung padaku.

Malam pun datang aku sampai sekarang belum menerima kabar dari Mas Adit, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 20:00 wib. Aku sedang mencuci piring setelah tadi kami baru selesai makan malam.

Bagaimana keadaan ia disana? Apa yang sedang terjadi disana? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam benak dan pikiranku.

Mbak Jelita melihatku bengong langsung menegurku dengan suara pelan.

“Cin, kamu sedang melamun apa? Apa yang sedang kamu pikirkan dek?”.

“Nggak ada mbak, mungkin karena kecapean saja mbak, dah yuk kita ke kamar”, kataku menutupi dan mengajak mbak Jelita ke kamar.

Pukul 23:00 wib….

Aku berlari dalam kegelapan berlari ke arah cahaya yang terang tersebut, aku melihat seorang lelaki duduk memunggungiku dengan seorang gadis mereka seperti sedang berbicara, tampak sekali si lelaki terkesan cuek tetapi ia berusaha mendengarkan omongan si gadis itu. Kemudian mereka berbalik badan ketika itu aku terbelalak dengan mulut yang menganga karena ternyata pemuda itu adalah mas Adit.

Ia melihatku dan memberikan senyuman yang indah dan mencoba melangkah ke arahku, tetapi….

Tiba-tiba…..

Tangan gadis itu dengan cepat menahan mas Adit untuk mendekatiku.

Dia menarik tangan mas Adit dan mengajaknya menjauhi ku berjalan berlawanan arah denganku. Mas Adit berteriak memanggil namaku sambil ia mengulurkan tanganya mencoba menggapaiku

Aku juga menjulurkan tanganku mencoba menggapai tangan mas Adit, tetapi gadis itu berusaha kuat untuk menjauhkan mas Adit dari jangkauan ku.

Aku berteriak kencang memanggil namanya… “Mas Adit”.

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 24  | Pelarian Kisah Cintaku Part 24 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 23)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 25)