Pelarian Kisah Cintaku Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 23

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 23 | Pelarian Kisah Cintaku Part 23 Start

Chapter 23. Kamu Masuk Dalam Jebakanku

Cuplikan chapter sebelumnya…

Kami berpelukan bersama mengarungi puncak kenikmatan yang tiada tara membawa kami ke langit ke tujuh.

Setelah badai orgasme reda, aku merebahkan tubuhku ke sampingnya yang langsung memelukku dengan mesra.

Nafasku mulai teratur, kulihat Cinta memejamkan matanya. Aku mengelus pipinya yang halus. Tidak ada respon sama sekali. Nafasnya teratur, bibirnya tersenyum tipis. Ternyata ia sudah tertidur puas.

Drrrrtt….. ringtone hp ku yang menggunakan lagu DIA-Anji, kini menggema di ruangan kamar tidur kami.

Perlahan aku mengangkat tangannya yang memelukku, lalu aku bangun pelan pelan menuju lemari hias dimana hp ku tadi ku taruh.

Aku terkejut ketika melihat nama yang ada di layar ponselku.

“Ha.. Papa”.

.

.

.

Aditya Febriansyah aka Adit​

Pov Adit

“Ya pa, assalamualaikum”, kataku ketika mengangkat panggilan telepon dari papa.

“Waalaikum salam, Nak. Kemana saja kamu nak? Papa dan mama khawatir sama kamu”, kata papa dari seberang telepon sana.

“Alhamdulillah sehat dan baik-baik saja Adit pa. Oh iya pa, ada apa nelpon Adit malam-malam bagini?”, tanya ku sedikit kaget dan bingung karena tidak biasanya papa telepon tiba-tiba begini.

“Ada apa dengan mu nak? Kenapa kamu merahasiakan pada kami, Nak? Apa karena kamu takut kami tak merestui kalian?”, tanya papa bertubi-tubi.

“Maksudnya papa apa?”, tanya ku berpura-pura tidak faham omongan papa.

“Kamu jangan pura-pura tidak tau, Dit. Pokoknya kamu besok harus ke Surabaya, jelasin sama papa dan mama. Jadilah anak yang menghormati orangtuamu”, kata papa tegas ke inti persoalan.

“Tapi pa…”, ucap ku untuk menjelaskan di telepon tetapi suara ku terputus karena papa langsung memotong perkataanku.

“Kamu jelaskan nanti saja, setelah kamu ada di Surabaya. Papa dan mama tunggu kamu di rumah. Kamu faham! Yaudah itu saja nak, sudah malam papa mau istirahat. Assalamualikum!”. kata papa tegas.

“Waalaikum salam”, sahutku menjawab salam papa ku.

Setelah sambungan telepon papa terputus. Aku mulai berpikir dan beberapa pertanyaan berputar di benakku sekarang ini.

“Kok jadi gini ya! Apakah Tasya yang melaporkan pernikahanku pada papa? Kenapa bisa Yessi membocorkan masalah pernikahan ku pada Tasya padahal sudah ku wanti-wanti sebelumnya?”.

“Akhh…! Jadi ribet begini!”, dengusku berteriak kesal.

Aku melihat ke arah tempat tidur, memperhatikan istriku yang tertidur pulas dengan wajah yang nampak begitu damai, terlihat wajahnya sangat bahagia sekali dalam tidurnya.

Lalu aku melangkah mendekati tempat tidur dan naik keatas ranjang menyelimuti tubuh bugil kami berdua, sejenak aku mengecup keningnya sebagai ungkapan rasa cinta dan kasih sebagai suaminya, dan sembari mengelus-elus rambutnya yang hitam.

Sontak aku merenung dan berpikir sejenak,”Bagaimana aku menjelaskan jati diriku sebenarnya pada Cinta? Apakah dengan berkata jujur, Cinta bakalan menerima dan memaafkanku yang telah membohonginya”.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benakku, malam ini aku tampak gelisah, banyak yang aku pikirkan saat ini, aku di tempatkan pada situasi dilematis dan mesti cepat mengambil sikap dan keputusan yang tepat.

Yang pasti aku tidak akan melepaskan Cinta apapun yang akan terjadi, bahkan aku siap menghadapi papa dan mama, tetapi yang aku takuti kalau Cinta kecewa dan membenci ku karena aku telah membohonginya selama ini.

Aku tidak sanggup membayangkan jika Cinta pergi menjauh, pergi meninggalkan ku setelah mengetahui kebohonganku.

Tiba-tiba aku merasakan tangan Cinta bergerak mengelus dadaku, matanya terbuka dan menatapku tajam seperti sedang menyelidiki aku, tatapan yang seolah ingin meminta penjelasanku.

Ia mulai berbicara, “Mas Adit sayang. Ada masalah apa mas? Adek melihat mas gelisah seperti ini. Mas ingatkan! Mas sendiri yang mengatakan waktu itu”.

Aku mengingat kembali perkataanku ketika itu.

“Aku memang bukan siapa-siapa mu? Dan juga tidak pantas mengetahui permasalahan mu. Tapi seenggaknya berusahalah tersenyum dan hadapilah masalahmu dengan tenang. Jangan kau lari dari masalah itu, Cin!”.

Cinta kemudian meneruskan perkataannya, “Sekarang ini adek adalah istrimu mas, maka berbagilah dengan adek. Adek tidak hanya ingin berbagi kebahagiaan saja dengan mas, tetapi adek juga mau berbagi penderitaan bersama mas. Kita jalani dan hadapi bersama-sama, adek yakin kita bisa melewati cobaan dan ujian ini mas”.

Aku sedikit banyak merasa tenang ketika Cinta mengatakan seperti itu, pelukanku semakin erat padanya, aku tidak mau kehilangan dirinya, sudah cukup aku kehilangan Ayu orang yang pernah mengisi hatiku.

Aku masih terdiam membisu, ragu dan bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya tentang masalah ini pada Cinta.

“Mas Adit…”, serunya.

Ia menatap wajah ku dengan tatapan yang tajam dan serius.

“Mas, benar-benar cinta pada adek? Kalau mas cinta pada adek, dan menganggap adek berarti dalam hidup mas, tolong berbagilah masalah mas. Adek akan mendukung dan selalu berada di sisi mas”.

Aku menghela nafas, mencoba menenangkan diri dan mengumpulkan keberanianku untuk mengatakan kebenaran dan kejujuran padanya, sambil menatapnya dan memegang tangannya aku mulai mengucapkan kata demi kata dengan suara berat dan bergetar.

“Mas sebenarnya ada rahasia yang selama ini kututup-tutupi sama kamu, Dek….”.

Cinta mendengarkan perkataanku dengan serius, aku sejenak menarik nafas untuk menenangkan gejolak hatiku saat ini.

“Apakah nanti jika mas jujur sama kamu. Kamu akan berubah sikap dan sayangmu pada ku, Dek? Apakah kamu mau memaafkan mas jika ternyata selama ini mas sudah membohongi kamu?”.

Aku diam sejenak menunggu jawaban Cinta, kami saling menatap dan memandang satu sama lain. terlihat sekali ia pun gelisah sama sepertiku, kami berdua sama-sama gelisah dengan pikiran kami masing-masing.

“Apapun yang akan mas katakan adek siap mendengarnya, adek ikhlas menerimanya karena adek benar-benar sayang kamu mas, adek pastikan bahwa adek tidak akan berubah padamu mas”, jawab Cinta tegas dan jelas.

“Mas, sebenarnya bukan supir limousin seperti yang selama ini kamu sangka dek, tetapi mas adalah direktur PT. RWG Trans (Persero) perusahaan yang bergerak dalam jasa transportasi yang beroperasi di Jakarta dan Surabaya. Dan jasa layanan antar pengantin itu termasuk dalam usaha mas dek. Mas selama ini menutupinya dari kamu karena sejak awal, kamu sudah menganggap mas hanya seorang supir dan mas tidak berani mengungkap jati diri mas karena mas takut kehilangan kamu, mas takut kamu menjauh dan meninggalkan mas”.

Aku diam sejenak, begitu pun dengan Cinta, ia makin mempererat pelukannya, malah ia membenamkan kepalanya di dadaku.

“Apa kamu akan membenci mas setelah kamu mengetahui siapa mas sebenarnya?”, kataku kembali meminta jawabannya.

Cinta kembali menatap ku dan ia memelukku erat, lalu ia menjawab, “adek tidak akan membenci mas, ini hanya salah faham saja. Adek tidak akan berubah sama sekali, justru adek bangga sama mas karena telah berani jujur meluruskan salah faham kita”.

“Kalau masalah ini sepertinya tidak perlu kita besar-besarin mas, adek tau mas melakukannya karena tidak ingin mengecewakan aku kan. Adek senang dan bahagia dengan keadaan kita sekarang mas, mas telah mengajarkan pada adek tentang kesederhanaan bukan kemewahan, mas telah merubah cara pandangku tentang kehidupan, cinta serta ketulusan”.

“Tapi itu bukanlah masalah yang serius dek, ada lagi masalah yang sekarang mesti mas hadapi”, kataku melanjutkan kembali apa yang membuatku gelisah saat ini.

“Katakan saja mas, kita cari jalan keluar bersama, adek nggak akan meninggalkan kamu apapun yang terjadi”, Kata Cinta mencoba meyakinkanku.

“Tadi barusan papa mas telepon. Papa mas ternyata sudah mengetahui kita telah menikah dan mas diminta papa besok pulang ke Surabaya untuk menjelaskan secara langsung pada mereka. Jujur dek, mas malu pada orangtua mas karena telah membohongi mereka, papa dan mama selama ini tidak banyak menuntut mas dan memaksakan mas mesti menikah dengan siapa? Tetapi tadi mas merasakan sekali betapa kecewanya mereka karena keputusan mas menikahimu, tanpa terlebih dahulu minta restu mereka. Mas bingung harus bagaimana menjelaskan kepada orangtua mas? Apalagi jika mereka mengetahui kamu sedang mengandung dan anak dalam kandungan kamu bukan anak mas, ini bakalan jadi makin rumit dan mas tidak mau kehilangan kamu dan orangtua mas. Kalian sangat berarti dalam hidup mas”.

Cinta yang sedari tadi diam mendengarkan dengan serius dan menyimak ternyata ia ikut memikirkan semua perkataanku lalu ia menanggapinya dengan tenang.

“Mas Adit. Suatu hubungan itu jika diawali dengan sebuah kebohongan akan tidak baik nantinya kedepannya. Walaupun terasa pahit kita mesti mengatakan kebenarannya, adek ikhlas apapun yang terjadi nanti, jika orangtua mas tidak bisa menerima adek. Adek mesti siap menanggungnya karena memang itu kesalahan masa lalu adek, mas jangan membenci papa dan mama mas kalau mereka membenci adek. Justru adek akan membuktikan pada orangtua mas bahwa adek benar-benar mencintai mas dan benar-benar mau berubah menjadi baik dari sebelumnya. Jika Allah menentukan kita bersama selamanya, tentu ada jalan nya yang mungkin tidak kita sangka mas. Adek berharap mas bahagia dan adek akan tetap mencintai mas apapun yang terjadi nanti”.

Kami saling berpelukan, dari perkataannya aku sedikit faham bahwa Cinta benar-benar mencintaiku tetapi ia lebih mengutamakan aku menghormati orangtuaku dan mengatakan perihal yang sebenarnya, pernikahan kami, anak yang dikandungnya walaupun mungkin ini akan membuat kami terpisahkan nantinya.

“Bentar mas, kira-kira papa mas tau kita menikah dari siapa? Mas tadi bilang kalo mas menutupi pernikahan kita ini kepada orangtua mas. Adek yakin ada orang yang membocorkannya”, kata Cinta serius.

“Kalau itu mas juga tidak tau dek. Tapi mas yakin ini ulah Tasya mantan pacar mas yang mungkin mendapatkan informasinya dari Yessi, kamu ingatkan Yessi sahabat mas”. Jawabku.

Cinta sempat berpikir sejenak sambil mengingat-ingat nama Yessi yang aku sebutkan barusan.

“Iya adek ingat mas, mbak Yessi sahabat kamu sewaktu SMA di Surabaya. Yang memberikan kebaya pengantin di butiknya itu kan. Memangnya apa hubungannya Tasya dengan mbak Yessi mas? Apa mbak Tasya menemui mbak Yessi?”, ucap Cinta mencoba menganalisa.

“Tadi pagi mas dari rumah kontrakan kita ini, pulang dulu ke rumah mas di Pondok Indah. Rencananya mau ganti motor ini dengan mobil merci untuk ke kantor karena mas mesti bertemu dengan beberapa klien untuk kontrak kerjasama, ternyata Tasya ada disana dek. Entah sejak kapan ia ada disana tapi yang jelas ia terlihat marah dan mencurigai mas kenapa beberapa hari ini selalu menghindarinya. Aku cuekin saja karena memang mas sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, Tasya pergi dari rumah mas tidak lama karena merasa kesal dan dongkol mas cuekin. Lalu setelah dari rumah mas ia ternyata pergi menemui Yessi, mas tau informasinya dari Ferdy informan yang pernah mas ringkus saat kita sedang ke butik Yessi dek”.

“Oh begitu ya mas. Jadi jelas kemungkinannya mbak Tasya yang mengadukan pernikahan kita ke papa dan mama mas. Yaudah kalo begitu kita mesti hadapi masalah ini mas jangan kita menghindar restu orangtua itu sangat penting demi kebahagiaan kita ke depannya mas”, ucap Cinta yakin dan tegas.

“Iya dek, mas bersyukur sekali mendapatkan seorang istri seperti kamu dek, tidak hanya cantik tetapi hatinya luas dan bisa memahami mas, mas semakin cinta kamu dek. Jangan menjauh dan pergi meninggalkan mas ya dek”.

“Adek juga sayang dan cinta mas, semoga saja kita bisa melalui masalah ini dengan baik ya mas. Adek akan mendampingimu mas dan akan selalu mencintaimu sampai akhir hayat adek”.

“Besok, jika sudah sampai di Surabaya telepon adek ya mas, dan titip salam buat papa dan mama mas, semoga saja masalah ini cepat selesai dengan baik. Ingat mas, jangan sampai mas seperti adek yang menentang orang tua, adek tidak mau mas jadi anak durhaka”.

Kami menyudahi pembicaraan, dan segera tidur karena besok aku mesti pagi-pagi berangkat ke Surabaya menemui papa dan mama, dalam hati”. “Semoga masalah ini dapat di selesaikan dengan baik-baik, papa dan mama dapat menerima dengan tangan terbuka Cinta sebagai menantu mereka”.

.

.

.

Anastasya Putri Widjaja aka Tasya​

Pov Tasya

Pagi itu jam 9.00 wib, beberapa saat lalu setelah pertemuanku dengan Yessi. Aku segera menghubungi om Gunawan papanya Adit.

“Ya hallo Sya”, sahut om Gunawan dari seberang telepon sana.

“Om, Tasya sakit hati om dengan Adit. Hikss…Hiksss…Hiksss….”, kata ku sambil terisak sedih.

Aku mulai melakukan sandiwara untuk menarik simpati om Gunawan seolah aku yang menjadi korban anaknya yang mencampakkanku.

“Kenapa dengan kamu Sya, apa yang sudah dilakukan oleh Adit padamu?”, tanya om Gunawan yang terdengar khawatir setelah mendengarku menangis di telepon.

“Tasya benci sama Adit om, setelah apa yang sudah Tasya berikan padanya termasuk kesucian Tasya? Kini Adit malah menikah dengan wanita lain dan mencampakkan Tasya begitu saja om, sakit banget om. Gimana dengan masa depan Tasya om? hiksss…hiksss…hiksss…”.

“Tenang Sya… Kamu tenang dulu ya, om belum faham nih. Kamu ceritain dulu satu-satu Sya”, kata om Gunawan mencoba menenangkanku dari suaranya di ujung telepon sana.

“Papa ingat nggak tiga tahun lalu aku dan Adit ke Paris merayakan ultah Tasya di sana. Dan malam itu aku dan Adit melakukannya om, Aditlah yang mengambil perawan Tasya, hikss…hikss…hikss… Adit dan Tasya jadian waktu itu, Tasya bahagia sekali saat itu karena memang Tasya mencintai Adit om, tapi tiba-tiba Adit pergi begitu saja hanya dengan menuliskan sebuah surat sebelum kami pulang ke Indonesia. Tasya shock banget ketika itu, Tasya sengaja diam dan menyimpan masalah ini karena tidak mau hubungan om dan keluarga Tasya jadi ribut karena masalah ini. Tasya sayang dan cinta sama adit om tapi kenapa Adit selalu jahat sama Tasya. Hiksss…Hiksss…Hikss….”.

“Sya, sudah kamu jangan nangis! Kamu sekarang ke Surabaya, kita obrolin di rumah om. Om dan tante pengen tau masalahnya biar om bisa bertindak tegas sama Adit”, kata om Gunawan tegas.

“Iyyaa…Om. Tasya pengen om tau bahwa Tasya melakukannya karena sayang sama Adit om. Sekarang Tasya akan ke Surabaya biar om dan tante tau Tasya nggak berbohong sama sekali”.

“Iya Sya, kamu hati-hati ya, om dan tante tunggu kamu di rumah. Sudah kamu jangan sedih dulu”, kata om Gunawan menghiburku dari telepon nya disana.

Segera aku memesan flight untuk penerbangan ke Surabaya dan mendapatkan tiketnya untuk keberangkatan jam 15:05 wib. Lalu aku menghubungi opa mengabarkan nanti sore aku akan ke Surabaya dan minta di jemput di Bandara Ir. H. Juanda Surabaya.

Jam 15:05 aku sudah ada di pesawat yang akan membawaku ke Surabaya. Lebih kurang jam 17:15 wib aku sudah berada di rumah opa.

Disambut dengan begitu hangat oleh opa dan oma ku, walau tadi opa tidak bisa menjemputku karena kondisi beliau yang mulai sakit-sakitan.

“Sya kamu kesini tidak bareng Adit, kirain kalian bareng mau ke Surabaya”, kata opa setelah aku cipika-cipiki sama opa dan oma.

“Nggak opa, Aditnya lagi sibuk di Jakarta”, jawabku beralasan.

“Yaudah kamu istirahat dulu di kamar. Ina tolong kamu bawa tas Tasya ke kamarnya ya”, panggil oma pada asisten rumah tangga mereka yang baru.

“Iya oma. Ayo non, ina bawain tasnya”, katanya sambil sedikit membungkuk memberi hormat.

Setelah sampai di kamarku, aku segera mengabari tante Hanum mamanya Adit bahwa aku sudah ada di rumah opa, mereka meminta ku segera datang nanti malam untuk makan malam sekaligus membahas masalahku dengan Adit.

Aku meminta ijin opa dan oma untuk menginap di rumah Adit, karena aku beralasan kangen pada mama dan papa Adit, sebelum aku pergi ke rumah Adit oma dan opa sempat menggodaku.

“Opa, oma. Malam ini Tasya main di rumah Adit, kangen sama om Gunawan dan tante Hanum. Ini saja Tasya ke Surabaya ada urusan penting sama mereka”, kata ku meminta ijin sebelum keluar rumah.

“Kamu kangen sama mereka apa mau mengambil hati papa dan mamanya Adit, Sya? Hehehe”, sahut opa menggoda Tasya sambil tertawa kecil.

“Opa, oma juga senang kalo Adit jadi menantu kita menikah sama cucu kita, kalian berdua pasangan serasi”, timpal oma menyahuti perkataan opa.

Wajahku bersemu merah mendengar godaan opa dan oma, mereka sejak dulu sangat senang melihat kedekatan kami bersama sejak kecil, bahkan mungkin mereka mengharapkan kami lebih serius menjalin hubungan sampai menikah. Tetapi mereka seperti memberikan kami kebebasan untuk menentukan jalan kami sendiri, walaupun aku begitu menyayangi Adit tetapi aku tetap jaim biar tidak dianggap murahan oleh keluarga Adit dan keluargaku sendiri.

“Tuh dengar Sya, oma kamu sudah kasih lampu hijau tuh, buruan minta di lamar sama Adit selagi opa dan oma masih hidup kami pengen lihat kalian menikah”, kata opa malah semakin menggodanya.

“Ah, opa dan oma bisa saja, Tasya pamit ya, dah opa, oma”, katakusambil tersenyum sesaat sebelum ia melangkah ke luar rumah.

Ting….Tong….

Aku sudah berada di depan pintu rumah mewah keluarga Rahadi Wahyu Gunawan lalu memencet bell di samping pintu rumah tersebut. Aku sempat melihat ke kiri dan ke kanan bangunan rumah ini seakan membuka kembali ingatan masa kecilku dahulu di sinu. Masa kecil yang begitu berkesan dan selalu membekas dalam benakku sampai detik ini. Aku teringat waktu kecil dulu, kala pertama kali bertemu dengan Adit, main bersama-sama, bersepeda keliling kompleks dan taman, hingga kejadian yang hampir merenggut nyawaku masih terekam baik dalam ingatanku.

Ceklek…

Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu dan sempat bertanya padaku,ada keperluan apa malam-malam bertamu di rumah majikannya.

Lalu aku memperkenalkan diri bahwa aku adalah cucu opa Widjaja tetangga sebelah rumah ini dan mengatakan main kesini karena kangen pengen ketemu sama om Gunawan dan tante Hanum majikannya.

ART itu memang tidak mengenalku sama sekali, itu wajar karena aku sudah berapa tahun tidak ke rumah ini dan ART ini pun sepertinya baru bekerja di rumah ini mungkin sebelum aku main kesini.

Dan hal yang wajar bila ia mewaspadai tamu yang tidak mereka kenal karena itu sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai ART.

Ia lalu mempersilahkanku masuk dan duduk, kemudian ART itu mengatakan padaku sebelum ia beranjak masuk ke dalam.

“Sebentar non Tasya, bibik panggilin nyonya dulu”.

Aku menganggukkan kepala dan duduk santai di ruang tamu sambil memperhatikan suasana ruangan rumah Adit. Memandangi foto Adit semasa kecil, dan fotonya saat sedang naik sepeda berboncengan dengan gadis cilik berbadan gendut yaitu aku.

Tak lama berselang muncul om dan tante orangtuanya Adit manghampiriku, aku cipika-cipiki pada tante Hanum dan mencium buku tangan om Gunawan.

Mereka sangat baik menyambutku bagai menantu mereka, aku begitu terharu sekaligus senang atas perlakuan om dan tante.

“Sya, kita makan dulu yuk! Baru nanti kita ngobrol santai di ruang keluarga”, ucap tante Hanum ramah mengajakku makan malam.

“Ok tante”, sahutku singkat.

Kami makan malam bersama sambil sesekali om Gunawan menanyakan kabar papa mamaku di Jakarta, mengenai bisnis agency yang kukelola sampai menanyakan hubunganku dengan Adit.

Aku hanya menjawab semua pertanyaan mereka tetapi saat aku ditanya mengenai hubunganku dengan Adit, aku tiba-tiba menunduk, jujur saat itu aku sedih karena ia memutuskan sepihak hubungan pacaran kami yang sangat singkat, tetapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang perbuatanku itu sangat sulit termaafkan olehnya.

Setelah selesau makan barulah om san tante mengajak ku bersantai di ruang keluarga sambil menyaksikan hiburan channel-channel dari Indovi**on yang mereka buka.

“Sya, sekarang kamu jelaskan secara jujur pada om dan tante hubungan kalian berdua, kamu dengan Adit. Biar om dan tante jelas”, ucap om Gunawan memulai obrolan kami.

“Boleh Tasya jujur sama om dan tante. Tasya memang sejak ditolong waktu itu sudah menyukai dan bahkan hati Tasya hanya ada nama Adit seorang. Kami berdua sempat pacaran tiga tahun lalu sewaktu Tasya merayakan ultah Tasya yang ke-22, om kan yang memberi ijin Adit waktu itu. Kami berdua terbuai selama di Paris dan melakukan hubungan yang seharusnya kami lakukan setelah menikah. Jujur om dan tante Tasya bahagia banget waktu itu apalagi saat itu Adit menyatakan perasaannya dan kami jadian disana sebagai sepasang kekasih. Tetapi saat malam terakhir sebelum kami pulang ke Indonesia, Adit meninggalkan Tasya dengan hanya menulis secarik kertas dan memutuskan hubungan kami sepihak. Tasya shock waktu itu, merasa di campakkan dan tidak punya harga diri lagi”, kataku menjelaskan pada om dan tante tetapi ada yang tidak kukatakan mengenai isi surat dan penyebab Adit meninggalkanku.

Hikssss….Hikssss…. Hikssss….

Air mataku tumpah merasakan sakit saat ditinggal begitu saja oleh Adit, membuat om dan tante semakin terharu dan tante Hanum memelukku mencoba menenangkanku.

Om Gunawan terdiam ia sepertinya sedang berpikir, sementara tante Hanum memeluk ku sambil mengelus rambutku, ada kenyamanan saat tante Hanum memelukku bak putrinya sendiri.

“Kamu tadi pagi di telepon mengatakan kalo Adit sudah menikah, kamu dapat informasinya dari mana Sya”, ucap om Gunawan mulai menanyakan kabar pernikahan Adit.

“Ini om tante, Tasya bawa buktinya, foto mereka akad nikah”, kataku sambil menyerahkan ponselku pada om Gunawan.

Om Gunawan memperhatikan secara seksama, foto akad nikah tersebut, kemudian om Gunawan menyerahkan ponselku pada tante Hanum istrinya.

Mereka terdiam sebentar, suasana diruang keluarga kini hanya terdengar suara TV yang sengaja di pelankan suaranya tadi sebelum kami memulai obrolan ini.

“Siapa nama perempuan ini Sya?”, tanya tante Hanum sambil menunjuk foto wanita yang duduk berdampingan dengan Adit saat akad nikah.

“Cinta Rahayu Pramudya. Itu namanya kalo nggak salah”, jawabku tegas.

“Sya, om secara pribadi kecewa sama apa yang telah Adit lakukan. Om minta maaf pada kamu atas kelakuan Adit yang tidak dewasa dan lari dari tanggung jawabnya, om janji akan meminta penjelasan darinya dan kamu jangan khawatir om akan selesaikan masalah ini dengan baik-baik, om akan pertemukan kalian berdua dan kita bahas masalah ini dengan baik-baik”, kata om Gunawan bijiaksana.

“Iya om. Tasya serahkan sepenuhnya masalah ini sama om dan tante. Cuma Tasya bingung dengan masa depan Tasya. Lelaki mana yang mau menerima wanita yang sudah tidak suci lagi”.

“Kalo masalah itu juga akan om bahas sama kalian berdua nanti, om tidak mau merusak martabat keluarga kamu Sya, tetapi om juga akan meminta penjelasan Adit supaya informasinya jelas daru kedua belah fihak. Kamu nggak usah khawatir dan takut, om pasti akan bertindak tegas dalam hal ini”, jawab om Gunawan.

“Nanti malam om akan telepon Adit, besok om akan suruh dia pulang ke sini untuk menjelaskan semua masalah kalian termasuk masalah pernikahannya”, sambung om Gunawan.

Aku hanya mengangguk dan menunduk. Tante Hanum sedari tadu terus memelukku dan mencoba menguatkan aku.

“Malam ini kamu tidur di sini saja, Sya”, ucap tante Hanum.

“Tasya mau pulang saja tan, nggak enak nanti Adit datang melihat Tasya di sini”.

“Yaudah nanti tante suruh ke rumah opa jika Adit sudah sampai di rumah”, kata tante Hanum.

“Kalo begiti Tasya pamit. Om tante, selamat malam”, kataku berpamitan pada mereka.

Setelah aku keluar dari rumah orang tua Adit, aku berjalan kembali ke rumah yang hanya berjarak beberapa meter. Sambil menyunggingkan senyum seringaiku ku berkata dalam hati.

“Adit, selamat datang. Kamu masuk dalam jebakanku”.

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 23  | Pelarian Kisah Cintaku Part 23 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 22)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 24)