Pelarian Kisah Cintaku Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 15

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 15 | Pelarian Kisah Cintaku Part 15 Start

Chapter 15. Ikatan Takdir

Cuplikan Chapter Sebelumnya….

Setelah Cinta pergi ke dapur Prima lalu bertanya.

“Kamu apain adek ku Dit! Jadi nurut dan patuh gitu sama kamu”.

“Kelembutan, perhatian dan merasa dihargai. Cinta butuh itu mas selama ini tidak ia dapatkan dari mama, maaf ya mas”, ucap Adit menjelaskan.

“Nggak perlu minta maaf, Dit. Mas tau ini karena didikan mama yang keras dan segala macam aturan yang membebani Cinta hingga ia merasa terkekang. Justru mas mengucapkan terima kasih karena kau telah membimbing Cinta dengan baik”.

“Sama-sama, Mas. Adit juga perlu bimbingan mas Prima dan papa untuk membimbing Cinta ke depannya”, sahut Adit senang.

Mereka berdua mengakhiri obrolan tersebut setelah Dewi berteriak memanggil mereka berdua sarapan.

“Adit, mas Prima! Sarapan dulu!”.

.

.

.

Pov 3rd

Mereka bergegas menuju ke meja makan, disana sudah tersaji beberapa masakan dan peganan untuk mereka santap.

Ada nasi goreng, Roti panggang, sosis bakar dan peganan bolu.

“Mas mau apa? Nanti biar adek ambilkan!”, ucap Cinta tulus ingin melayani Adit.

“Nasi goreng saja kayaknya enak nih”, sahut Adit memilih.

“Tapi jangan kecewa ya kalo nasi gorengnya tidak enak, soalnya itu adek yang masak mas”, ucap Cinta tersenyum sambil menuangkan nasi goreng ke dalam piring.

“Apapun yang kamu masak mas akan makan, itu bentuk penghargaan buat jerih payah kamu, Dek”, ucap Adit menanggapi.

“So sweet deh kalian berdua”, seru Dewi sambil mengendong Akbar yang baru bangun.

“Mbak bisa aja nih”, sahut Cinta tersipu malu.

“Tante Cinta…! Om Adit sekalang sudah jadi om Akbal ya”, celoteh Akbar ikut nimbrung.

“Iya sayang, Akbar senang kan sama om Adit”, potong Dewi menyahuti.

“Akbal nanya tante Cinta kok mama yang jawab sih”, sahut Akbar sewot.

“Hehehe….”, Adit, Prima, Dewi dan Cinta hanya tertawa kecil.

“Iya…! Om sudah resmi jadi suami tante Cinta, artinya om Adit juga om nya Akbar”, jawab Adit mencoba menjelaskan.

“Akbal senang kok kalo om Adit yang jadi om nya Akbal. Om Adit baik, tante!”, kata Akbar dengan suara cadelnya khas anak-anak balita.

Cinta yang mendengar celotehan Akbar langsung mengendong Akbar yang membuat ia senang, dan gemas. Kepolosan seorang bocah itu natural dan tanpa dibuat-buat.

“Nah sekarang Akbar sarapan dulu ya, mau tante ambilin sarapannya, mau yang mana sayang?”, kata Cinta pada ponakannya.

“Akbal mau cicipin nasi goleng bikinan tante Cinta, sama sosis bakal ya tante”, sahut Akbar menentukan pilihannya.

“Baik, ponakan tante yang ganteng, tante ambilin dulu ya”, kata Cinta lembut san penuh perhatian pada Akbar.

Adit yang sejak tadi tersenyum-senyum pada Akbar, kini pandangannya tak mau lepas dari Cinta. Ia terus memperhatikan istrinya yang telaten menuangkan nasi goreng dan sosis bakar untuk Akbar, rasa cinta dan sayangnya kepada istrinya semakin besar.

Ternyata keputusannya menikahi Cinta adalah keputusan yang tepat karena ia mendapatkan Cinta yang memiliki pribadi yang baik, sangat sayang pada keponakan dan perhatiaan nya itu tulus tanpa dibuat-buat.

Cinta yang menyadari sejak tadi Adit suaminya selalu memandanginya jadi merasa malu, dari gerakan yang tadinya luwes tiba-tiba terasa kaku. Cinta pun berucap pada sang suami.

“Mas, kok dari tadi lihatin adek segitunya. Apakah ada yang salah ya?”.

Adit yang mendapat sang istri hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Malah Dewi yang menjawab perkataan Cinta.

“Suamimu itu kagum sama kamu, Cin. Bukan begitu Dit! Hehehe”.

Adit mengiyakan perkataan Dewi dengan sebuah anggukan kepala, sambil berucap.

“Bukan hanya kagum mbak, tapi Adit sangat beruntung mendapatkan istri seperti Cinta”.

Cinta ikut tersenyum bahagia walau ada sedikit rasa malu, tetapi pengakuan Adit semakin melambungkan rasa sayangnya pada suaminya. Ia pun juga bersyukur mendapatkan lelaki sebaik Adit menjadi suaminya yang bisa menerima masa lalunya.

Mereka pun sarapan pagi itu dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan, sesekali ada candaan dan gurauan yang dilontarkan Prima maupun Dewi tetapi mereka menanggapinya dengan tawa bahagia.

Jam 6.00 wib, saat ini mereka berdua berada di kamar pengantin, Adit mau siap-siap berangkat kerja.

“Mas, nanti aku bilang ya ke mbak Dewi kalo nanti sore kita pindah ke rumah kontrakan”, kata Cinta pada Adit suaminya.

Cinta mengeluarkan kemeja dan celana bahan untuk Adit kerja nanti, kemeja dan celana yang sudah ia setrika dan susun rapi di lemari pakaian kemaren sore.

“Iya sayang, memang seharusnya begitu, Dek. Mas percayakan pada kamu, Dek”, sahut Adit menanggapi.

“Terima kasih ya mas, Cinta bersyukur mendapatkan suami yang baik seperti kamu, mas Adit”, ucap Cinta lalu ia memeluk Adit suaminya.

“Mas juga bersyukur menjadi suamimu, karena kamu itu istimewa mas akan berusaha membuatmu tersenyum dan bahagia”, jawab Adit membalas pelukan Cinta.

Beberapa saat mereka diam meresapi pelukan yang hangat satu sama lain, tangan Adit mengelus rambut indah sang istri memberikan rasa nyaman dan tenang pada Cinta.

Cinta membuka pakaian Adit hingga suaminya kini hanya mengenakan celana dalam saja. Cinta tersenyum geli saat melihat cd suaminya telah penuh, lalu ia menggodanya.

“Duh Adit juniornya ikutan bangun, kasihan ya. Apa mau adek tidurin dulu mas Dedeknya?”.

Cinta mengelus penis Adit dari luar celananya, ia pun sebetulnya merasakan desiran nafsu tatkala merasakan benda itu yang semalam telah membuatnya terbang kelangit ketujuh.

“Nggak usah sayang nanti mas telat ke kantornya”, sahut Adit.

“Adek kasih blowjob aja ya, kan biar nanti mas kerjanya nggak nahan horny”, kata Cinta.

Lalu ia menurunkan cd suaminya dan mengeluarkan penis kebanggaan sang suami, sejenak Cinta diam dan melihatnya tanpa berkedip kemaluan suaminya yang sekarang sedang ia genggam dan mainkan.

“Benar-benar besar dan panjang punya mu mas, pantes saja semalam aku merasakan penuh dan sesak di kemaluanku”, gumamnya mengagumi penis suaminya.

Dengan penuh penghayatan Cinta mulai menjilati penis Adit, ia melakukannya sambil melihat ekspresi sang suami.

“Ssssshhh…. Aaaahhh…. Enak dek…”

Adit mendesah nikmat sambil ia mengeramasi rambut Cinta, matanya merem melek menikmati sensasi geli di ujung kemaluannya.

Sluurrpp…. Sluuurrpp…. Sluuurrpp….

Cinta sambil menggerakkan tangannya mengocoki penis Adit sambil lidahnya menjilati dan sesekali menggelitiki lubang kecil diujung pusaka sang suami.

“Dek… Nikmat… Di emot saja sekalian… Mas pengen ngerasaain emutan bibirmu sayang”.

Cinta yang mendengar permintaan Adit segera membuka mulutnya lebih lebar, lalu ia pun mulai memasukkan penis itu ke dalam mulutnya.

Ia memasukkan penis itu sedalam mungkin ke dalam mulut, dan membiarkan beberapa detik didalam sana.

“Huaaa…. Hahaha… Uhukk… Uhukk… Uhukk..”

Cinta sampai terbatuk-batuk, membuat Adit sempat khawatir dan cemas.

“Udah dek jangan kamu paksain sampe dalem banget, mas nggak mau sampe kenapa-kenapa dengan mu”.

“Demi mas, adek akan lakukan apa saja supaya mas senang? Mas nggak usah khawatir tadi cuma kaget saja kok!”.

Lalu kembali Cinta melakukan deepthroat, ia memasukkan penis Adit hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulutnya lalu ia mendiamkannya beberapa detik hingga membuat Adit merasa melayang dan terbang ke awang.

“Ooohhh sayang… Enak banget yang”.

Cinta melepaskan penis Adit sesaat kemudian untuk kembali mengatur nafasnya.

Beberapa kali ia melakukannya demi menuntaskan syahwat suaminya lalu beberapa menit kemudian tubuh Adit bergetar hebat ia menahan kepala Cinta supaya lebih lama didalam sana.

“Ooooohhh… Mas keluaaarrrrr dek…”.

Crooottt…. Crooottt…. Crooottt…. Crooottt…. Crooottt….

Sperma Adit menyembur deras dalam mulut Cinta istrinya dan tanpa rasa jijik Cinta menelan habis sperma suaminya tanpa bersisa sedikitpun.

“Mas suka nggak?”, tanya Cinta menggoda sambil mengerlingkan mata.

“Suka banget yang, kamu benar-benar istri yang bisa menyenangkan suami, mas makin sayang dan cinta padamu dek”.

“Tadi itu baru pertama kali adek coba mas, kata orang sih itu deepthroath ya mas”, sambung Cinta lalu ia membersihkan penis suaminya dengan tisu basah.

“Iya dek, mas puas banget makasih ya”.

“Muaaacchhh”, Adit melabuhkan ciuman di bibir Cinta.

“I love you, Cinta”. bisik Adit.

“I love you too mas Adit”, sahut Cinta.

.

.

.

Di kantor PT. RWG Trans (Persero)….

Pov 3rd

Adit saat ini sudah duduk di meja kerjanya, wajahnya terlihat bahagia dan senang. Lalu ia memanggil Imelda sekretarisnya melalui line telepon kantor.

“Belikan saya motor”, kata Adit ketika Imelda sudah masuk ke ruang kerjanya. “Kau tau berapa harganya?”.

“Motor?”, ulang Imelda sambil menaikkan sebelah alisnya. “Maksud mas Adit, Harley Davidson?”.

“Bukan motor besar, Non”, geleng Adit sambil tersenyum. “Motor biasa saja. Dan bukan yang baru”.

“Motor bekas?”, sekarang kedua mata Imelda membelalak.

“Bertapa dimana selama ini bosnya kemaren-kemaren? Baru masuk kerja lagi permintaannya sudah aneh-aneh”.

“Tapi untuk apa, Mas?”.

“Sudah jangan banyak tanya”, sahut Adit tegas.

“Carikan yang mesinnya masih bagus. Minta tolong salah satu supir untuk bantu mencari juga boleh. Lalu antarkan sore ini ke rumah saya”.

Adit melambaikan tangan sambil mengerlingkan matanya. Meminta Imelda untuk segera menyingkir dari sana.

“Dan satu lagi, Mel. Tolong kamu bawa semua laporan dari pak Budi, pak Wahyu dan Bu Linda, saya mau ngecek keadaan perusahaan setelah beberapa hari saya tidak masuk!”.

Sang sekretaris itu segera berbalik seraya mengelus dada. Setiap kali ia melihat kerlingan mata bosnya, jantung nya serasa mau copot. Kalau tidak ingat, bahwa Adit atasannya, barangkali sudah sejak dulu ia mengejarnya. Cewek mana sih yang tidak pingsan melihat Adit yang ganteng, pintar dan kaya?

Tapi Adit memang tidak pernah menunjukkan tanda-tanda naksir cewek, meskipun yang antre banyak. Yang terang-terangan pun tak terhitung. Mereka mendatangi, merayu dan menggoda Adit.

Seperti Tasya, semua cara telah dilakukannya untuk menaklukkan Adit. Sampai hal yang paling memalukan dengan mengejar sampai ke rumah, seolah ia sudah resmi menjadi calon istri. Tapi toh si burung merak jantan tidak terusik.

“Jangan-jangan mas Adit memang tidak suka perempuan, makanya ia dingin saja menghadapi perempuan”, tebak Imelda dalam hati.

Saat Adit sedang memeriksa laporan-laporan yang telah dibawa oleh Imelda beberapa saat lalu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Adit mengambil ponselnya yang ia taruh si atas meja dan ternyata yang menghubunginya adalah Pramudya, papa mertuanya.

“Ya halo pak”, seru Adit segera menjawab telepon dari Pramudya.

“Dit, panggil papa saja, kan sekarang kamu sudah jadi menantu papa, hehehe”, sahut Pramudya sambil tertawa kecil.

“Eh, iya pa, maaf belum terbiasa, hehehe”, ucap Adit kikuk sambil ikut tertawa kecil.

“Papa mau ngomong sama kamu, Dit! Kamu bisa ke kantor papa sekarang?!”.

“Bisa-bisa pa, bentar lagi Adit ke kantor papa, saat ini Adit lagi ngecek laporan kantor pa. Mungkin pas jam istirahat Adit kesana”,

“Boleh sekalian temanin papa makan siang ya, beresin dulu kerjaan mu! Papa tunggu ya!”,

“Ok pa, assalamualaikum wr.wb”.

“Waalaikum salam wr.wb”.

Setelah membereskan semua pekerjaannya yang sempat terbengkalai beberapa hari lalu, Adit keluar dari ruangan kerjanya. Sebelum pergi Adit menitipkan pesan buat sekretarisnya untuk menghandle pekerjaannya hari ini karena ia sedang ada urusan di luar.

.

.

.

Pramudya Adi Pratama aka Papa Pramudya

Pov Pramudya

Jam 11.30, Adit sudah berada di ruangan kerja Pramudya. PT. xxx yang bergerak di bidang Ekspor Impor komoditas hasil bumi.

Dengan diantar seorang sekretaris cantik ia masuk ke ruanganku.

“Adit, ayo masuk!”, kata ku mempersilahkan menantuku masuk.

“Ren… Tolong kamu cancel jadwal saya hari ini. Saya tidak mau diganggu oleh siapapun. Sekalian bikinin kopi ya, untuk saya dan Adit!”, ucapku memerintah penuh wibawa pada sekretarisku.

“Siap pak, akan saya kerjakan semua perintah bapak, saya permisi dulu!”, ucap Reni. kemudian ia pamit.

Setelah kepergian Reni, aku mengajak Adit duduk santai di sofa.

“Papa ucapin selamat buat kalian berdua, kemaren papa nggak bisa menjadi wali nikah Cinta karena berbagai pertimbangan, dan takut mamanya malah mengacaukan rencana Prima, kamu sudah faham kan maksud papa”, ucap ku memulai obrolan santai kami.

“Iya pa, Adit faham kok. Terima kasih karena papa sudah mendukung dan menerima Adit sebagai menantu”, jawab Adit santai.

“Papa sengaja memintamu datang selain karena pengen kenal sama menantu papa juga karena ingin menanyakan kabar Cinta langsung dari kamu Dit”, kataku lalu aku kembali melanjutkan omonganku.

“Bagaimana kabar Cinta dan kandungannya, Dit?”.

“Alhamdulillah keadaan Cinta dan kandungannya sehat pa! Cinta malah sekarang sudah bisa tersenyum bahagia pa, seakan beban hidupnya berkurang”, jawab Adit menjelaskan keadaan Cinta.

“Syukurlah kalau begitu, Dit! Papa yakin perubahan Cinta itu berkat kamu, Dit. Prima sudah banyak memberitahukan ke papa perubahan Cinta yang sekarang lebih semangat menjalani hidupnya setelah menikah denganmu. Untuk itu papa sebagai orang tua Cinta mengucapkan terima kasih pada mu karena bersedia menolong dan mengangkat Cinta dari keterpurukannya bahkan kamu bersedia mengakui anak dalam kandungan Cinta”.

“Adit mencintai Cinta putri papa tulus pa. Memang awalnya Adit menyukai Cinta karena ia mengingatkan Adit pada almarhumah kekasih Adit yang meninggal, Cinta dan Ayu bak pinang di belah dua. Tetapi setelah mengenal pribadi Cinta Adit semakin besar menyayangi dia bukan karena ia mirip dengan almarhumah tapi pribadi Cinta itu istimewa pa, Cinta itu tulus tanpa mengada-ada atau dibuat-buat demi membahagiakan Adit yang ia kenal hanya seorang supir limousin pa”.

“Syukurlah kalau begitu, papa senang mendengarnya”, jawab ku sumringah.

Tetapi aku sedikit mengernyitkan mata saat Adit mengatakan bahwa wajah Cinta mirip dengan Ayu, ” apakah ayu anakku yang di maksud Adit?”,pikirku dalam hati. Lalu aku mulai mencecar Adit dengan beberapa pertanyaan.

“Tapi sebentar Dit kamu bilang Cinta itu mirip sekali dengan almarhumah kekasih mu. Siapa namanya dan tinggal dimana ia waktu itu, kalau kamu tahu siapa orang tua kandungnya?”.

“Namanya Ayudia Larasati, tinggal di Surabaya pa. Saat itu setau Adit ia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang hanya seorang penjahit kecil-kecilan”, jawab Adit jelas dan tegas.

“Bentar Ayudia Larasati, kamu tau siapa nama ibunya, Dit?”, desak ku.

Aku semakin gusar dan gelisah setelah Adit menyebutkan nama Ayudia Larasati nama almarhumah putri ku.

“Larasati…. Ah lupa nama belakangnya pa!”, ucap Adit mencoba mengingat-ingat nama ibunya Ayu.

“Larasati….Wibisana bukan, Dit!”, sahutku seketika.

“Iya pa… Larasati Wibisana, benar Larasati Wibisana. Kok papa bisa tau nama ibunya Ayu”, sahut Adit bingung.

Aku tertunduk, aku mulai berkaca-kaca mengingat kembali almarhumah Ayu dan ibunya.

Dengan suara berat dan bergetar aku kemudian menceritakan hubunganku dengan Larasati Wibisana ibunya Ayudia Larasati almarhumah kekasih Adit yang juga putriku.

“Dia itu istri siri papa, Dit. Kekasih papa sewaktu SMA dulu. Setelah selesai kuliah papa menikah dengan mama Sekar. Saat itu papa tidak bisa menolak perjodohan papa dengan Sekar karena papa tidak mau mengecewakan serta menyakiti perasaan orang tua papa. Setelah menikah dengan mama Sekar 1 tahun kemudian lahirlah Prima. Entah karena takdir kami bertemu kembali Dit saat perusahaan papa bangkrut Laras juga yang bisa menghibur papa, saat itu papa down dan tidak punya rasa percaya diri.

Selain mama Sekar, Laras sangat berarti dalam hidup papa, hingga papa diam-diam menikahinya dibawah tangan tanpa sepengetahuan mama Sekar. Dan setahun kemudian lahirlah Ayudia Larasati nama yang ia berikan untuk putri kami. Ternyata lahirnya Ayu hanya selisih 2 bulan dengan lahirnya Jelita. Tapi yang jadi masalah adalah papa ketauan menikah lagi oleh mama Sekar dan ia marah ketika itu dan langsung menemui Laras untuk berpisah baik-baik dengan papa, jika tidak ia akan berbuat nekat. Akhirnya papa menceraikan Laras, Dit! Tetapi semua biaya dan tanggung jawab papa pada mereka berdua tetap papa berikan sampai saat ini”.

Adit terbelalak seakan tidak percaya, ternyata Ayu adalah anak kandung papa Pramudya dengan Laras ibunya Ayu. Berarti Ayu dan Cinta itu kakak dan adik walau beda ibu.

Aku meneteskan air mata setelah menceritakan masa lalu ku, dan kembali melanjutkan ceritaku.

“Jujur Dit! Saat Ayu meninggal papa saat itu sempat shock juga, mama Sekar mengijinkan papa untuk mengurus pemakamannya, papa pernah melihat seorang anak SMA menangis histeris saat pemakaman Ayu anak papa, dan papa tidak menyangka sama sekali itu adalah kamu nak”.

Adit pun ikut meneteskan air mata, sampai kapan pun ia pasti takkan melupakan kejadian kala itu, kisah asmara yang baru terjalin tiba-tiba mesti berakhir dengan kematian.

“Sekarang papa bersyukur kamulah ternyata anak SMA itu, kamu lah yang sekarang menjadi menantu papa walau bukan menjadi suami Ayu anak papa tetapi menjadi suami Cinta adik nya Ayu”.

“Inilah yang dinamakan ikatan takdir mu, Dit. Papa harap kamu bisa membahagiakan Cinta seperti kamu membahagiakan Ayu, Dit! Papa tau dari cerita Laras bagaimana kamu sangat mencintai Ayu, kamu yang berasal dari keluarga berada mau mencintai anak seorang penjahit dan itu terlihat jelas keseriusanmu kala itu Dit”.

Adit hanya diam mendengarkan semua ceritaku tanpa mau membantah atau memotongnya.

“Papa minta kamu jangan bicarakan ini sama yang lainnya, Dit!”, ucapn ku memohon.

Adit melihat ke arahku dan menganggukkan kepalanya.

“Papa tidak ingin Prima, Jelita dan Cinta tau, papa tidak ingin mereka kecewa telah menyimpan rahasia ini pada mereka. Cukup mama Sekar papa dan kamu saja yang tau masalah ini ya Dit”.

“Iya pa, Adit janji untuk merahasiakannya”, jawab Adit tegas.

“Makasih ya, Dit”, sahut ku lega.

Tok…Tok… Tok…

“Ya masuk”, sahut ku tegas dari dalam.

Reni sekretaris Pramudya masuk sambil membawa nampan berisi 2 cangkir kopi hitam bersama peganan kue bolu lalu ia meletakkan dan menyajikannya di atas meja sofa tersebut.

“Mohon maaf pak, tadi agak lama bikin kopi nya sekalian beli dulu bolu nya”, kata Reni sambil menjelaskan alasananya.

“Nggak apa-apa Ren. Makasih ya, kamu boleh kembali ke kerja”, kataku bijak.

“Baik pak, saya permisi dulu”, sahut Reni pamit.

“Ternyata bumi ini sempit ya Dit, kamu yang dulu papa lihat di pemakaman Ayu ternyata menjadi menantu papa”, kata ku sambil tersenyum lebar.

“Iya pa, nggak nyangka saja, ini memang benar kata papa, mungkin aku sudah terikat kuat dengan Ayu dan Cinta pa, ini ternyata takdir yang mesti aku syukuri pa”, jawab Adit ikut tersenyum.

“Temanin papa makan siang ya Dit! Sekalian kita ajak Prima dan Jelita, kamu nggak sedang sibuk kan”.

“Bisa diatur itu pa, tadi Adit sudah titip semua kerjaan sama sekretaris Adit. Boleh pa sekalian biar Adit bisa kenalan sama mbak Jelita”.

“Siip, bentar papa telepon Prima dulu”.

“Ok pa”.

Bersambung

END –  Pelarian Kisah Cintaku Part 15 | Pelarian Kisah Cintaku Part 15 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 14)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 16)