Pelarian Kisah Cintaku Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 14

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 14 | Pelarian Kisah Cintaku Part 14 Start

Chapter 14. Rape Me​

Cuplikan chapter sebelumnya……

Beberapa saat kemudian Robi memapah Tasya dan mendudukkannya di mobil BMW 7-series warna putih yang ia bawa, lalu dengan senyum seringai bak srigala berbulu domba ia memacu kendaraan itu menuju kerumahnya yang selalu sepi.

“Hahaha….. Gw udah bosen dengan PSK. Mumpung ada Tasya cewek cantik, seksi dan tajir. Beruntung banget gw malam ini”, gumam nya senang.

Pov Robi

Saat ini kami telah barada di dalam mobil mewah, mobil BMW 7-series warna putih. Disamping kiriku ada seorang wanita cantik yang tidak lain adalah pemilik mobil yang ku kendarai ini.

Ia duduk bersender dengan tubuh yang lemas serta kesadarannya yang tinggal beberapa persen saja, seorang wanita cantik bernama Tasya, yang kemaren malam sempat ku tolong ketika ia akan dirampok oleh sekawanan preman.

Ia menoleh ke arahku dengan pandangan mata yang sayu dan kosong, ia bicara di bawah alam sadarnya.

“Dit, kemana saja kamu, sih? Kamu jahat Dit! Jahat sama aku”. ceracau Tasya sedih.

Aku sempat kaget mendengar celotehan Tasya barusan. Entah siapa pria yang ia maksud, tetapi aku mengira pasti itu nama pacarnya.

Aku hanya memberi senyum dan tetap fokus mengendarai kendaraan, tetapi sesekali aku melirik ke arahnya, dalam hati aku berdecak kagum sama kecantikan yang dimilikinya.

“Perfect banget nih cewek, Cinta mah lewat, jadi nggak sabar pengen ngerasain tubuhnya”.

Godaan iblis bertanduk mulai merasuk di pikiranku.”Masa bodoh dengan moral, etika dan perasaan orang lain yang penting aku harus bisa menjadikannya ladang uangku sekaligus menjadi budak seks ku selamanya”.

10 menit kemudian mobil yang kukendarai telah sampai dan telah ku masukkan ke dalam garasi rumahku.

Aku membantu Tasya untuk keluar dari mobil dan memapahnya menuju ke kamar ku. Terbesit ide gila untuk menjadikannya budak seks ku, menjadikan ia sumber uang untukku.

“Gw mesti rekam nih biar dia nggak berani melapor ke polisi. Biar dia malu, ia bukan diperkosa melainkan sedang bercinta dengan suka sama suka dan menikmati persetubuhan tersebut, aku perlu memberinya obat perangsang. Jika ia sadar, rekaman video ini yang akan aku tunjukkan padanya”.

Langkah pertama adalah memberinya obat perangsang yang pernah sukses ku gunakan untuk menaklukan Cinta. Obat perangsang yang sangat kuat bisa bertahan sampai 12 jam.

Langkah kedua adalah melucuti pakaian Tasya hingga ia bugil.

Langkah ketiga mempersiapkan handycam atau video recorder untuk merekam semua kejadian nanti, yang akan menjadi senjata ku untuk menjerat dan menjebak.

Setelah mempersiapkan segala sesuatu, aku kemudian menjalankan rencana step by step dengan mulus.

“Sayang, minum dulu ya”, ucap ku sambil menyodorkan segelas wine yang sudah kucampuri obat perangsang.

Ia mengangguk dan langsung menghabiskan minuman itu.

Aku juga minum wine yang sudah ku campurkan dengan obat perangsang supaya menaikkan nafsu birahiku dan bisa bercinta lama dengan Tasya.

Sambil menunggu obat perangsang itu bereaksi aku segera menyalakan handycam yang ku arahkan ke tempat tidur, sehingga angle yang didapat akan bagus dan jelas.

Dan lagu Smells Like Teen Spirit dari band idolaku NIRVANA pun mulai mengalun indah menggema di ruangan kamar ku.

Load up on guns and bring your friends

It’s fun to lose and to pretend

She’s over bored and self assurd

Oh no, I know a dirty word

Dan ternyata obat perangsang itu telah bereaksi dalam tubuh Tasya, nafasnya mulai terengah-engah, sorot matanya sayu dan kosong menandakan ia sedang dilanda gairah yang sangat hebat.

Hello, How low?

“Dit! Aku kangen bercinta dengan mu, jangan pergi lagi ya. Jangan tinggalkan Tasya”, oceh nya tak sadar menganggap aku seperti kekasihnya.

Aku menikmati alunan lagu dan lirik nya sambil terus memandangi tingkah Tasya yang mulai menjadi liar dan binal.

With the lights out it’s less dangerous

Here we are now, Entertain us

I feel stupid and contagious

Here we are now, Entertain us

A Mullatto

An Albino

A mosquito

My libido, yeah

Sambil mencium bibirku ia mulai meloloskan kaosku, celana jean beserta celana dalam ku, hingga kini tubuhku telah telanjang bulat di hadapannya.

I’m worse at what I do best

And for this gift I fell blessed

Our little group has always been

And always will until the end

Ciuman kami terhenti ketika ia mulai meliuk-liukkan tubuh indahnya. Tasya bertingkah bagai penari erotis. sambil ia menanggalkan baju kaos u can see dan hotpantnya dengan gaya yang super binal dan membangkitkan nafsu ku.

Kini dihadapanku, ada seorang gadis yang hanya memakai pakaian dalam, bh berenda warna hitam dan cd berenda berwarna yang sama yaitu warna hitam, sedang meliuk-liukkan tubuhnya ia menarik tanganku, lalu jari telunjukku kemudian dihisap dan di sedotnya.

Hello, How low?

“Kamu suka kan Dit!”, desahnya setelah melepaskan jari telunjukku dari kuluman bibirnya.

Aku diam dan hanya mengangguk.

With the lights out it’s less dangerous

Here we are now, Entertain us

I feel stupid and contagious

Here we are now, Entertain us

A Mullatto

An Albino

A mosquito

My libido, yeah

Yang membuatku semakin melongo adalah saat ia membuka sendiri pengait bhnya lalu bh itu dilemparkannya ke sembarang arah. Kemudian ia menarik kedua tangan ku dan menempatkannya di kedua payudaranya yang indah dan kenyal dan padat.

“Oooohhh sayang, remaaaaasss yang kencang Dit”. ceracau nya menyebut nama pria itu.

“Kok malah dia makin liar dan binal gini! apa memang setiap bercinta Tasya selalu yang mendominasi? Ikuti saja permainannya toh justru lebih enak kalo begini gw bukan dipihak yang salah”, gumamku dalam hati.

And I forget

Just why I taste

oh yeah, I guess it makes me smile

I found it hard It was hard to find

Oh well whatever nevermind

Aku ikuti saja kemauannya, ku remas dengan kuat dan keras kedua payudaranya yang besar dan mengkal itu mengikuti irama musik dan suara sang vokalisnya, Kurt Cobain.

Tubuhnya semakin belingsatan dengan nafas yang tak beraturan, rambutnya tergerai acak-acakan dengan peluh keringat yang mulai menetes membasahi tubuh ku.

Hello, How low?

“Ohhh… Sayang…. Enaaaakkk…. Remas terus Dit, Tasya mau dapettt…”.

Aku saking gemasnya mendengar ua menyebut nama Dit semakin mencengkram keras kedua payudara Tasya, tanpa mempedulikan bahwa ia kesakitan atau tidak.

Dan tidak berapa lama ia menggeliat dan menggelinjang seperti cacing kepanasan, Tasya mendapatkan orgasme nya, celana dalamnya jadi basah dan sebagian merembea mengenai tubuhku.

“Ohhhh Dit…. Tasya…Keluaaarrrr”.

Seeeerrrr…. Seeeeerrrr…. Seeeerrrr….

Tubuhnya ambruk menindih tubuhku dengan nafas yang tersengal-sengal.

Aku memberikan kesempatan ia mengatur nafas dan beristirahat sejenak sambil menghabiskan lagu ini.

With the lights out it’s less dangerous

Here we are now, Entertain us

I feel stupid and contagious

Here we are now, Entertain us

A Mullatto

An Albino

A mosquito

My libido, yeah

a denial

a denial

a denial

Setelah lagu Smells Like Teen Sprit itu habis, kini berganti lagu yang lain yakni Rape Me. Suara khas Kurt Cobain mulai menggema seakan menghipnotisku untuk memperkosanya sesuai dengan makna lagu tersebut.

Rape me

Rape me my friend

Rape me

Rape me again

Aku membalikkan tubuh Tasya, kini tubuh kami berganti posisi, aku diatas dia dibawah. Ku serang bibirnya dengan penuh nafsu, disambut dengan tidak kalah liar oleh Tasya. Ciuman kami menjadi liar, panas. Kami saling berebut ludah, ludah dari mulut kami masing-masing.

Terkadang aku menjulurkan lidah lalu Tasya menyedot dan menghisapnya dengan penuh penghayatan, begitu juga sebaliknya.

Setelah puas berciuman, aku terus meluncur turun menjelajahi payudaranya. Tanpa membuang waktu segera ku caplok puting susu Tasya yang begitu indah menawan sambil meremasi buah dada sebelah kirinya dengan tangan kananku.

“Sssssshhhh…. Oohhhh Dit… Enakkk”.

Tasya hanya memejamkan mata menikmati isapan dan remasan tanganku di kedua payudaranya, saling bergantian aku mengeksplore kedua bukit nya sebelah kiri dan kanan tak luput dari isapan dan sedotan bibir ku, lidahku pun tak kalah pintarnya menjilati puting susunya yang kini semakin membengkak.

I’m not the only one [x4]

“Dit…! Ahhhh… Oooohhh….”, desah Tasya saat tangan kiriku mengelus celana dalamnya.

Setelah puas memainkan kedua payudara Tasya, aku terus turun menjelajahi kulit tubuhnya yang putih tanpa cacat, sangat halus dan menggoda.

Lidahku menjilati perut nya dan sempat menggelitiki lubang pusarnya membuat tubuhnya bergelinjang kegelian.

“Dit…! Geli…”, lenguhnya dengan mata yang terus terpejam.

Aku tidak memperdulikan siapa lelaki itu, yang ada dipikiranku saat ini, aku harus bisa membuatnya takluk padaku.

Kepalaku kini sudah berada tepat di selangkangan Tasya, dengan cepat aku menarik lepas celana dalam berenda berwarna hitam.

Kini dihadapanku terpampang jelas sebuah pemandangan indah, kemaluan wanita yang sungguh sempurna, tanpa ada bulu kemaluan yang menghiasinya membuat vagina itu imut seperti layaknya vagina perawan bersih dan berwarna merah muda.

Hate me

Do it and do it again

Waste me

Rape me my friend

Nafsuku sudah diubun-ubun segera ku buka mulut vagina Tasya yang mengeluarkan lendir cairan orgasme nya yang terus keluar dari dalam.

Ku sapukan lidahku ke mulut vagina itu, lalu ku hisap habis cairan lendirnya. Dari dalam kemaluannya tercium aroma yang sangat khas, sementara cairan lendir yang kuhisap berasa manis dan sedikit asin membuat aku semakin bersemangat untuk mengorek isi dari dalam vagina Tasya.

Alunan suara Kurt Cobain semakin memacu birahi ku.

I’m not the only one [x4]

Hingga membuat Tasya menjenggut rambut cepakku, tubuhnya semakin bergeliat desahan dan leguhan dari bibirnya semakin sahdu dan semakin membangkitkan hasrat binatang pada diriku.

“Ohhhh Adit….! Aku keluuaaaarrrr”, Seeeerrr… Seeeeerrr…. Seeeerrrr.

Sudah 2x gadis itu mendapatkan klimaksnya, cairannya semakin banyak sampai meluber keluar tak semua dapat ku hisap dan ku telan.

My favorite inside source

I’ll kiss your open sores

Appreciate your concern

You’ll always stink and burn

Tanpa memberikan waktu jeda untuk Tasya beristirahat, kini aku telah memposisikan tubuhku di atasnya dalam posisi missionary, lalu aku genggam penisku yang kini telah berada tepat di depan bibir vaginanya yang sudah banjir karena orgasmenya tadi.

Ku gesek-gesekkan terlebih dahulu penis ku di belahan bibir vaginanya yang mulai membuka dan merekah.

Sambil menggesek-gesekkan penisku di kemaluannya aku menarik nafas dalam-dalam kemudian ku kumpulkan energiku ke penisku yang kini semakin menjulang keras bak pentungan satpam.

Aku lebarkan pahanya dan ku buka bibir vaginanya kemudian ku tekan dengan sekuat-kuatnya penisku ke dalam vagina Tasya.

Blesss….

“Ahhhhhhh”, teriak kami berdua bersamaan saat kedua kelamin kami bersatundi dalam tubuhnya.

Aku mendiamkan sejenak penisku yang sudah terbenam habis dalam vaginanya sambil mendengarkan alunan lagu dan suara penyanyi idolaku.

Rape me

Rape me my friend

Rape me

Rape me again

Aku mulai hanyut dengan suara dan lirik Kurt Cobain. Aku mulai memompa penis ku dengan kecepatan penuh, berasa sekali sempit dan rapatnya vagina Tasya walaunia sudah tidak perawan lagi, serasa di cengkram dan di remas penisku oleh vaginanya.

Bak kesetananan aku menggenjot tubuhnya, sebelah kaki kanannya ku angkat sampai ke leherku, lalu dengan rpm yang tinggi ku sodok-sodok vaginanya tanpa ada jeda istirahat.

“Ahhhh…. Uuhhhh… Ooohhh… Dit! Enakkkkk”, desah Tasya pasrah.

Buah dadanya berguncang-guncang mengikuti kuatnya sodokan penisku yang merojok-rojok kemaluannya tanpa henti.

“Ooohhhh…Dit…! Aku dapeeettt lagi….”, Seeeeerrrr…. Seeeeerrrr…. Seeeerrrr….

I’m not the only one [x4]

Aku yang sedikit lagi akan meledak terus saja menggenjot kemaluan Tasya yang berkedut dan berdenyut-denyut karena mengalami kontraksi setelah klimaks yang ketiganya.

Hujaman penisku semakin liar dan bertenaga, nafasku semakin berat dan tubuhku bergetar hebat menandakan sesaat lagi aku akan mendapatkan ejakulasiku.

Rape me! [x9]

Dan setelah beberapa kali kocokan penisku yang bertenaga diiringi erangan yang cukup keras. Ku hujamkan penisku ke dalam vagina Tasya sedalam-dalamnya hingga terasa membentur dinding rahimnya dan seketika aku mengerang.

Tasya seakan pasrah dan tak bisa berpikir ia bahkan tak sadar meracau meminta Adit untuk mengelukarkan spermanya di dalam rahimnya.

“Keluaaarkan Didalam Dit! Bikin aku hamil… Aku mau dihamilin kamu, Dit….!

Aku mengerang dengan histeris sambil menyebut nama gadis itu.

“Aaaaaarrrrggggghhhh…. Tasya… Aku keluuuaaaarrrr….”.

Crooootttt…. Crooootttt…. Crooootttt…. Crooootttt…. Crooootttt…. Crooootttt…. Crooootttt….

Seluruh spermaku menyembur di dalam rahimnya, ada mungkin 7x semburan yang keluar dari penisku yang kini seperti sedang diremas dan diurut oleh Vagina Tasya.

Tubuhku ambruk diatas tubuh Tasya, letih dan sangat terkuras seluruh energi ku setelah tadi menggaulinya dengan sangat liar dan bernafsu. Ku diamkan saja penisku yang masih tertanam di dalam vagina Tasya.

Tubuh kami berdua rapat serapat-rapatnya, tanpa ada jarak, keringat kami berdua berbaur menjadi satu begitu pun dengan kelamin kami yang masih bersemayam bersatu di dalam sangkar yang begitu memabukkanku.

“Masa bodoh, mau hamil apa nggak ia? Yang penting dia sudah jadi milikku, kalo ia hamil kan enak tinggal kawinin saja, mana cantik dan kaya lagi. Aku tidak bakalan susah lagi pokoknya, hahaha. Sungguh beruntung hidupmu Robi”,kataku membatin.

Beberapa saat kemudian penisku menyusut dengan sendirinya keluar dari vaginanya yang saat itu juga ikut keluar cairan cinta kami berdua. Dan aku pun rebah ke samping tubuhnya.

.

.

.

Keesokan harinya….

Pov Tasya

Sinar matahari yang menembus tirai kamar membuatku membuka mata. Kesadaranku masih belumlah pulih, dengan mengerjap-ngerjapkan mata.

Aku mulai melihat sekeliling ruangan ini, tetapi yang ku lihat kenapa ruangan ini sangat asing dan berbeda dengan ruangan kamar ku, sedang berada dimanakah aku sekarang, tanpa menyadari keadaanku yang telanjang bulat.

Tetapi akhirnya terjawab kecurigaan dan kebingunganku saat aku melihat ke samping kanan ada sosok lelaki bertelanjang bulat tertidur pulas memunggungi ku.

Tubuhnya seperti Adit, kekar dan berotot, apakah semalam aku bercinta dengan Adit? Apalagi setelah memastikan aku pun dalam keadaan bugil sama sepertinya.

Aku jadi tersenyum mengingat semalam aku begitu puas bercinta dengan Adit bahkan semalam tanpa khawatir aku memintanya untuk keluar di dalam.

“Duh beda banget kamu Dit! Selama kita bercinta baru kali ini kamu aktif bahkan bikin aku pasrah mengikuti apa kemauan mu tidak seperti biasa kamu pasif dan hanya menurut apa yang ku mau”.kata ku bergumam dalam hati.

Belum hilang rasa senangku saat ini, aku berubah kaget dan marah ketika tiba-tiba sosok tubuh telanjang itu berbalik badan dan menghadapku.

Mataku terbelalak mulutku mengangga seakan tak percaya atas apa yang telah terjadi.

Aku yang sempat terbegong diam tak bergerak beberapa saat, kini lalu langsung menutupi tubuhku dengan selimut, dan menampar serta memukuli wajah pemuda itu.

Mendapatkan tamparan dan pukulanku membuat pemuda itu terbangun dan bereaksi memegangi tangan ku yang terus mencoba memukulinya.

“Bajingan kau, jadi semalam kau telah memperkosaku!”, maki ku kasar sambil berteriak kencang.

“Tenang…. Tenang dulu Sya, aku bisa jelaskan semuanya”, ucapnya mencoba menenangkanku.

Tangannya terus menahan tanganku supaya tidak memukuli dirinya lagi.

Aku hanya bisa menangis, air mata tak sanggup lagi ku bendung, menyesal. Ya aku sangat menyesal kenapa aku semalam sampai lupa dan bayangan Aditlah yang semalam sedang bercinta dengan ku.

“Bajingan kau. Kupastikan kau akan lama mendekam di penjara. Lepaskan….Lepaskan tanganku aku tidak sudi kau sentuh aku”, ancam ku pada pemuda itu.

“Hahaha…..”, lelaki itu tertawa terbahak-bahak.

Kemudian ia berkata. “Silahkan saja kau mau tuntut aku ke polisi atau kemana pun? Robi tidak akan takut, apalagi semalam bukannya kita melakukannya atas dasar suka sama suka, dan aku tidak merasa memperkosamu”.

“Keparat berani benar kau bilang aku semalam melakukannya tanpa ada paksaan. Tunggu saja dalam waktu 24 jam ku pastikan kau pasti ditangkap, lepaskan bangsat”, teriak ku kesal dan marah.

“Nggak usah repot-repot neng Tasya. Kalau kau nggak percaya aku ada buktinya kalo semalam kita melakukannya dengan penuh cinta”, jawabnya tenang.

Lalu ia berdiri mengambil handycamp yang ternyata semalam ia merekamnya. Dan kemudian ia memperlihatkannya kepadaku.

“Lihat baik-baik, neng Tasya! Siapa yang memperkosa?”, tantangnya.

“Justru dengan video ini aku bisa bikin kau tidak berharga lagi, bahkan bukan cuma itu keluarga mu akan malu dan kecewa padamu jika sampai melihat rekaman ini. Mereka pasti malu selamanya”.

Tangisan ku meninggi, aku mengutuki diriku sendiri yang begitu bodoh masuk jebakan pemuda ini.

“Menangis tidaklah menyelesaikan masalah, Sya. Aku punya penawaran untukmu, itupun jika kamu mau!”, katanya tenang dan merasa diatas angin.

“Jadilah kekasih ku, dan kupastikan rekaman video ini akan aku hapus dan kamu akan aman. Kenapa aku ingin kau menjadi kekasihku karena aku menyukaimu sejak kejadian malam itu? Tetapi itu terserah kau yang memutuskan, jika kau menolak siap-siap saja rekaman kita akan beredar di internet”.

“Kau ternyata licik dan pengecut, Robi”, sindir ku sinis.

“Kau ingin memanfaatkanku dengan jebakan murahan ini. Silahkan saja kau sebar rekaman video ini! Aku tidak takut. Kau siap-siap saja masuk penjara, bahkan bersiaplah menemui malaikat kematian”, ancam ku tegas.

Aku lalu berdiri berusaha mengambil pakaianku, tanpa menghiraukan ancaman dari Robi.

Sebaliknya Robi justru menjadi bingung dan mati langkah untuk menjebak dan memanfaatkanku, ia hanya melongo dan diam.

Setelah selesain berpakaian aku meminta kunci mobilku sambil berkata.

“Hei, kalo mau jadi bajingan jangan amatiran seperti ini, aku bisa saja menghabisimu hari ini. Camkan kata-kataku ini!”, hardikku tegas.

Aku lantas meninggalkan rumah Robi, sambil menelpon seseorang untuk menghabisi Robi.

“Jangan harap kamu bisa memanfaatkanku, tunggu saja apa yang sudah kau perbuat akan mendapatkan ganjaran setimpal?”.

.

.

.

Di kediaman Prima….

Pov 3rd

Jam 5.00 wib Adit dan Cinta sudah terbangun dan mereka berdua melakukan ibadah sholat subuh berjamaah, tergambar kebahagiaan keduanya setelah melaksanakan ibadah pagi hari itu.

Mas, hari ini jadi kita cari rumah kontrakan?”, tanya Cinta pada Adit suaminya.

“Sudah dapat rumah kontrakannya, Dek”, sahut Adit menjawab pertanyaan Cinta.

“Serius mas”, kata Cinta senang.

“Jadi kapan kita pindah kesana, Mas?”, desak Cinta.

“Hari ini saja gimana? Tapi nanti sore ya, mas mau ke kantor sebentar nggak enak beberapa hari ini mas sering bolos”, ucap Adit ikut senang.

“Yaudah adek ikut aja, adek percaya mas akan berbuat yang terbaik buat kita. Dah yuk kita keluar mas, nggak enak nanti aama mas Prima dan mbak Dewi”, ucap Cinta sambil memggamit lengan Adit suaminya.

“Ayo”, sahut Adit singkat.

Lalu keduanya keluar kamar dengan wajah ceria, walaupun semalam tidur mereka hanya beberapa jam saja. Mereka berdua duduk bersantai di ruang keluarga, sementara mas Prima dan mbak Dewi baru saja keluar dari kamar mereka.

“Duh penganten baru sudah duluan bangun! Bagaimana semalam?”, ucap Prima menggoda Adit dan Cinta.

“Ah papa, jangan begitulah pa, tuh jadi malu kan mereka, padahal semalam suaranya keras banget ya pa, kayaknya dari kamar tamu asal suaranya”, timpal Dewi ikutan menggoda Adit dan Cinta.

Adit hanya tersenyum, sementara Cinta menunduk malu, lalu Cinta menjawab godaan Prima dan Dewi dengan wajah merah merona.

“Ih mas dan mbak, ngapain juga ngurusin kami, kayak nggak pernah saja”.

“Pantesan ya ma, suara Cinta paling nyaring semalam, hehehe”, sahut Prima makin menggoda.

“Ih mas Prima… Dah mas kita kabur lagi aja males adek digodain mulu”, ucap Cinta pura-pura ngambek.

“Yaelah malah ngambek, Cinta kamu tuh sudah punya suami loh. Iya..Iya..Mas minta maaf, cuma bercanda kok, ya nggak ma?”, sahut Prima sambil melirik istrinya.

“Iya, Cin. Maaf ya tadi kami cuma bercanda, dah yuk ikut mbak ke dapur! Kita bikin sarapan special buat suami kita”, ucap Dewi sambil mengajak Cinta ke dapur.

Setelah ditinggal Dewi dan Cinta, kini Adit dan Prima berbicara agak serius mengenai kehidupan mereka ke depannya.

“Bagaimana Dit? Kamu mesti jujur pada Cinta siapa kamu sebenarnya? Jangan sampai nanti dibelakang hari menimbulkan masalah diantara kalian berdua”, kata Prima memulai percakapan serius mereka.

“Iya mas, tapi untuk saat ini mungkin Adit belum mau terbuka tentang jati diri Adit sebenarnya pada Cinta. Adit ingin ia bisa belajar untuk hidup sederhana bukan lagi dimanjain sama kemewahan dan kekayaan. Tapi Adit janji suatu saat nanti Adit akan jujur kepadanya, Mas”, jawab Adit beralasan.

“Yaudah kalo begitu, kamu harus benar-benar menempatkan diri ya, Dit? Mas percaya kamu bisa membuat adekku bahagia. Sekarang saja mas sudah bisa melihat senyuman Cinta, senyuman yang lepas, senyum kebebasan dan kebahagiaan”, ucap Prima senang.

“Iya mas, begitu pun dengan Adit mas. Cinta itu mirip sekali dengan almarhumah Ayu kekasihku tetapi setelah beberapa hari aku mengenalnya aku benar-benar mencintainya bukan karena ia mirip sama Almarhumah Ayu tetapi ada sesuatu yang membuatku merasa terikat padanya, Mas”, urai Adit sambil menyunggingkan senyum.

“Iya Dit! Mas sudah tau dari Dewi tentang masa lalu mu, awalnya mas kaget saat Dewi mengatakan bahwa Cinta itu wajah dan fisiknya sama dengan almarhumah kekasihmu, teman kalian di SMA 76xx Surabaya”.

Saat mereka membahas masalah pribadi Adit tiba-tiba Cinta datang dengan membawa 2 cangkir kopi hitam untuk menemani Prima dan Adit ngobrol.

“Wah mantap nih, dibikinin kopi sama istri”, ucap Prima menggoda Cinta.

“Pasti, Mas! Kan sudah kewajiban istri melayani suami sebaik-baiknya supaya tidak tergoda wanita lain”, jawab Cinta tegas.

“Hahaha….”, Mas Prima tertawa lebar.

“Makasih, Dek kopinya”, kata Adit pada Cinta.

“Sama-sama mas, lanjutin lagi ngobrolnya, adek mau bantu mbak Dewi bikin sarapan”, jawab Cinta lalu mencium buku tangan Adit.

Setelah Cinta pergi ke dapur Prima lalu bertanya.

“Kamu apain adek ku Dit! Jadi nurut dan patuh gitu sama kamu”.

“Kelembutan, perhatian dan merasa dihargai. Cinta butuh itu mas selama ini tidak ia dapatkan dari mama, maaf ya mas”, ucap Adit menjelaskan.

“Nggak perlu minta maaf, Dit. Mas tau ini karena didikan mama yang keras dan segala macam aturan yang membebani Cinta hingga ia merasa terkekang. Justru mas mengucapkan terima kasih karena kau telah membimbing Cinta dengan baik”.

“Sama-sama, Mas. Adit juga perlu bimbingan mas Prima dan papa untuk membimbing Cinta ke depannya”, sahut Adit senang.

Mereka berdua mengakhiri obrolan tersebut setelah Dewi berteriak memanggil mereka berdua sarapan.

“Adit, mas Prima! Sarapan dulu!”.

Bersambung

END –  Pelarian Kisah Cintaku Part 14 | Pelarian Kisah Cintaku Part 14 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 15)