Pelarian Kisah Cintaku Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 11

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 11 | Pelarian Kisah Cintaku Part 11 Start

Chapter 11. Persiapan Pernikahan​

Pov 3rd

Malam itu Adit dan Cinta chek out dari penginapan tersebut. Tujuan mereka adalah mencari rumah kontrakan, Adit yang sejak kemaren sore sudah meminta anak buahnya mencarikan rumah kontrakan sederhana di daerah perkampungan sudah mendapatkan rumah kontrakan tersebut, dan sudah ia bayar untuk setahun ke depan.

Sebelum mereka mencapai tempat tujuan yang dimaksud, mereka sempat mampir dulu di perkampungan di pinggiran kali ciliwung, kampung yang sering terdampak banjir jika terjadi curah hujan yang intensitasnya sangat lebat dan deras, belum lagi kiriman hujan dari bogor. Dan yang ikut memperparah adalah banyak nya sampah yang ada di sungai Ciliwung.

Mereka berdua turun ke perkampungan itu dan setelah bertemu dengan ketua RT setempat Cinta langsung menyerahkan kantong plastik itu kepada bu RT, dan diterima dengan baik oleh bu RT.

“Akhirnya kebaya pengantin itu sirna juga ya mas Adit, semoga saja baju kebaya pengantin itu bermanfaat untuk warga sini untuk orang yang akan melaksanakan pernikahannya”, ucap Cinta lega.

“Iya, lega ya Cin. Semoga juga itu membuang kekesalan dan sakit hatimu kepada mama mu, karena biar bagaimana dan sampai kapan pun orangtua itu tetaplah orang tua kita Cin, jangan sampai kamu durhaka kepadanya karena surga itu berada di telapak kaki ibu”, sahut Adit menambahi omongan Cinta.

“Iya mas, tapi untuk saat ini Cinta belum siap bertemu mama. Terima kasih ya mas karena selalu mendukung dan memberi semanhat buat Cinta”.

“Sama-sama. Dah yuk kita pergi sekarang!”, jawab Adit senang.

Akhirnya mobil merci yang dikendarai Adit mulai membelah ibukota, dan pada saat mereka melewati komplek perumahaan xxx Cinta meminta untuk mampir terlebih dahulu ke rumah Prima.

Adit sempat kaget atas permintaan Cinta yang ingin mampir dulu ke rumah kakaknya, Prima. Soalnya Dewi Safitri adalah teman satu kelasnya saat masih di SMA 76xx Surabaya.

Tetapi karena ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan Cinta ia akhirnya menuruti, setelah diarahkan Cinta akhirnya mereka sampai juga di rumah Prima Blok A no.10.

“Yuk mas turun!”, ajak Cinta dengan senyum sumringah.

“Iya bentar kamu duluan saja Cinta, mas mau nanya-nanya teman mas dulu, ada nggak rumah yang sedang kosong di daerah mereka”, ucap Adit beralasan.

“Yaudah, Cinta duluan ya mas Adit. Tapi jangan lama-lama ya”, ucap Cinta sopan.

“Ok, siap”, sahut Adit sambil mengacungkan jempol kanan nya.

Tetapi begitu Cinta sudah keluar dari mobil, Adit buru segera chat WA dengan Prima.

“Mas Prima, nanti bilangin wife lu, pura-pura nggak kenal gw ya, Cinta nanti curiga kalo sampe dewi keceplosan jika ia berteriak histeris”.

Pesan WA segera di kirim Adit ke nomor ponsel Prima dan setelah di read, dan Prima segera mengetik balasan nya untuk Adit.

“Iya, Cinta sudah masuk rumah tuh, nanti lu jangan masuk dulu, biar gw ngomong dulu sama wife ya, ntar kalo aman gw WA lu”.

Adit membaca pesan WA dari Prima lalu membalas singkat pesannya “OK”.

Hampir 10 menit kemudian masuk WA dari Prima.

“Dit, situasi aman terkendali. Lu buruan ke sini biar Cinta nggak curiga”.

“Siap ndan :top:”.balas Adit singkat pesan WA prima sambil memberikan emoticon tertawa.

Segera Adit turun dari mobil dan segera menuju pintu masuk rumah Prima.

Saat ADIT sudah berada di depan pintu, dia mengucapkan salam teelebih dahulu baru kemudian masuk.

Dewi Safitri sempat geleng-geleng kepala setelah mengetahui Adit yang telah membawa kabur Cinta walaupun itu bukanlah keinginan pemuda itu.

Cinta dengan senang memperkenalkan kakak iparnya atau istri Prima kepada Adit.

“Mas Adit, kenalin mas! Ini mbak Dewi, istri mas Prima”, ucap nya pada Adit.

“Eh, iya mbak, Adit”, kata Adit memperkenalkan diri.

Kalau saja saat itu tidak ada Cinta mungkin ia dan dewi akan tertawa terbahak-bahak, tetapi ia bisa menahan itu supaya tidak menimbulkan kecurigaan Cinta padanya.

“Wah ganteng Cin. Calon suami kamu, andai saja mbak belum menikah dengan mas mu mbak juga mau kalo calon nya seperti mas Adit ini, hahahaha”, ucap Dewi menggoda Cinta adik iparnya.

Dewi, tertawa lebar, sementara Adit dan Prima hanya tersenyum mendengar candaan dewi tersebut.

“Ihhhh….Mbak Dewi! Nggak boleh dong, mbak. Mbak dewi kan sudah punya mas Prima”, sahut Cinta pura-pura marah dan cemberut.

“Wah, Dit! Kayaknya Cinta beneran Cinta sama kamu, hehehehe”, goda Dewi.

Prima dan Adit hanya senyum-senyum sementara Cinta tersipu malu digoda terus sama Dewi kakak iparnya.

“Dah, lebih baik malam ini kalian nginep di sini dulu, ada yang mau mas omongin ke Adit, tapi awas ya nggak boleh sekamar kalian berdua. Ma, siapin kamar tamu buat Adit, dan kamu Cinta di kamar atas ya”.

Cinta mengangguk.

“Yuk bantu mbak beresin kamar tamu! buat pangeran mu tidur”, bisik mbak dewi pada Cinta.

Cinta pun mengekor mengikuti Dewi merapikan kamar tamu untuk Adit tempati malam ini.

Sesaat setelah Dewi dan Cinta pergi, Prima dan Adit berbincang-bincang membahas rencana akad nikah yang sudah dipersiapkan oleh Prima nanti besok pagi.

“Sebaiknya lu berdua secepatnya nikah besok, biar nanti kalian bisa tinggal satu atap tanpa firnah. Tetapi ya akad nikah dulu secara agama alias nikah siri, sampai Cinta melahirkan dan jika kalian memang saling mencintai satu sama lain setelah Cinta melahirkan kamu mesti menikahinya secara resmi secara agama dan hukum, lu faham kan, Dit. Jika memang kalian berdua ingin melanjutkan pernikhan ini”.

“Kalo gw ngikut aja, bro. Jika memang itu yang terbaik buat Cinta, besok pun gw siap, tapi untuk urusan semuanya gw percayain sepenuhnya pada lu mas”.

“Lu berdua duduk manis saja ya, semuanya biar gw yang ngatur, cuma kamu siapin saja cincin nikahnya untuk besok beli yang paling sederhana jangan mencolok, biar bagaimana pun Cinta itu pintar dan bisa tau perhiasan yang mewah atau sederhana, Dit”.

“Iya, nanti gw beli yang sederhana saja. Eh, iya mas, gimana dengan papa dan mama mas sendiri, apakah mereka setuju dengan rencana ini?”, tanya Adit kemudian.

“Kalo papa jelas mendukung sekali, tapi mama memang sengaja kami rahasiakan masalah ini, Dit”, jawab Prima.

Akhirnya obrolan malam itu mereka sudahi, dengan berbagai rencana pernikahan mereka besok.

Keesokan harinya….

Hari ini merupakan hari kelima setelah kaburnya Cinta dari rumah. Kandungan Cinta pun sudah memasuki usia kehamilan 2 bulan 10 hari, itu yang membuat Prima secepatnya mengurus pernikahan mereka, rencananya nanti sore mereka akan melangsungkan akad nikah di sebuah pondok pesantren.

Sejak subuh tadi Cinta sudah bangun, mengerjakan ibadah dan ikut membantu Dewi menyiapkan sarapan pagi.

“Mulailah belajar untuk menjadi istri untuk Adit, Cin”, ujar Dewi membuka obrolan mereka.

“Mbak yakin Adit pilihan yang tepat untuk kamu dan anak mu, dia itu pria yang bertanggung jawab dan bisa membimbingmu”.

Cinta hanya mengangguk, ada segurat rona merah di wajahnya saat Dewi memuji Adit, karena apa yang dikatakan kakak iparnya itu adalah benar, ia sendiri bisa merasakan ketulusan dari Adit, semua perhatian kepadanya itu tidak dibuat-buat dan sikap nya yang lembut itu yang membuatnya bisa nyaman dan tenang bila berada disamping Adit.

“Semoga kalian berdua menjadi pasangan sejati, saling menyayangi sampai kematian memisahkan kalian berdua, lupakanlah masa lalu mu, Cin. Tatap masa depanmu bersama Adit, kuncinya adalah keterbukaan dan saling mendukung satu sama lain, mbak yakin jika itu yang kalian lakukan seberat apa pun ujian ataupun masalah akan bisa kalian lewati dengan baik”.

“Iya mbak. Makasih ya mbak, jujur walaupun di hati Cinta belum sepenuhnya mencintai mas Adit tetapi Cinta berusaha membuka hati Cinta untuk mas Adit”.

“Nah, itu baru adek ipar mbak yang cantik dan pintar. Pasti mbak dukung kok, dah kita lanjut siapin sarapan buat pangeran-pangeran kita, Cin”, sambung Dewi.

Mereka kemudian mempersiapakan sarapan pagi, Cinta di beri tugas untuk memanggang roti sementara Dewi mempersiapkan omelet sapi yang merupakan makanan favorit suami dan anaknya.

15 menit kemudian semua sarapan sudah siap, dan sudah mereka tata rapi di atas meja makan. Cinta sendiri membuatkan kopi hitam untuk Adit, ia ingin mencoba memberikan bentuk cinta nya walau dengan hal-hal kecil seperti membuatkan kopi buat Adit.

“Tante Cinta”, ujar Akbar panggilan anak Prima dan Dewi.

“Eh,ponakan tante. Sini Akbar tante gendong!”, kata Cinta sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

Akbar segera berlari memburu ke dalam pelukan Cinta.

Sementara Adit menyaksikan kedekatan Cinta dan Akbar ikut tersenyum bahagia, begitu pula Dewi dan Prima, malah kedua suami istri itupun menggoda Akbar dan Cinta.

“Duh anak mama, kalo sudah ketemu sama tantenya lupa dengan mama”, goda Dewi pada Akbar anaknya.

Akbar malah senyum-senyum sambil terus menggelendot manja di pelukan Cinta.

“Tuh, Dit! Lihat anakku saja nempel dengan Cinta apalagi kalo kalian nanti sudah punya anak, bakalan kurang nantinya kamu diperhatikan sama ibunya, hehehe”, kata Prima menggoda Cinta sambil tertawa kecil.

“Ih mas Prima. Nggak gitu juga kali, kalo untuk mas Adit mah bedalah”, sahut Cinta menanggapi gurauan Prima.

Mereka pun sarapan pagi dengan canda dan tawa, suasana yang sangat akrab dan penuh kemesraan itu sedikit bisa menambah semangat buat Cinta termasuk Adit untuk memulai awal rumah tangga mereka kelak.

Saat sarapan pagi itu juga Prima membicarakan perihal rencananya untuk nanti sore, Cinta tanpa ada protes mengangguk saja saat ditanya kesediaannya untuk prosesi akad nikah.

Cincin untuk akad nikah pada awalnya Adit yang ingin membeli, tetapi Cinta keukeuh ingin ikut serta sekaligus mencoba langsung biar pas di jari tangannya.

Jam 8.00 wib mereka berdua pamit pada Prima dan Dewi untuk pergi ke toko emas, mencari cincin kawin untuk akad nikah mereka nanti malam.

Satu jam kemudian mereka berdua telah berada di dalam toko emas, mereka berdua disambut dengah sangat ramah oleh pelayan toko dengan menawarkan beberapa bentuk cincin.

“Selamat pagi bapak dan ibu! Ada yang bisa kami bantu?”, sapa seorang pelayan toko dengan ramah.

“Oh, iya mbak. Kami berdua sedang mencari cincin kawin, kira-kira ada yang cocok untuk kami berdua?”, jawab Adit bingung setelah melihat begitu beragam cincin yang terpajang di etalase toko.

“Gimana kalau yang ini, Pak? Mudah-mudahan cocok dan pas untuk bapak dan ibu”, ucap pelayan itu sambil mengeluarkan dua buah cincin emas putih yang berkilau.

Cinta yang melihat cincin itu entah mengapa langsung mencoba di jari manis nya, dan saat ia mencoba cincin itu ternyata pas di jari manis Cinta.

“Wah pas dan cantik sekali bu, cincin itu di jari manisnya”, ucap pelayan toko itu memuji.

Cinta tersenyum bahagia.

Sementara Adit mencoba cincin yang satunya, dipasangkannya ke jari manis sebelah kirinya, perlahan-lahan cincin itu mulai merangsek masuk ke jari manis Adit, dan pas dengan jari manisnya.

“Cincin untuk yang cowok, ukurannya pas untuk bapak, semoga ini pertanda baik buat pernikahan bapak dan ibu”, sambung pelayan toko itu sambil tersenyum senang.

“Amiin, mbak. Udah kalo begitu kami ambil yang ini saja, gimana kamu suka sayang”, ucap Adit lalu ia menoleh ke Cinta meminta pendapatnya.

“Iya yang, yang ini saja. Aku suka sekali sama cincinnya”, sahut Cinta senang.

Ada seraut kebahagiaan diwajah Cinta saat tanpa sengaja Adit memanggilnya dengan kata sayang barusan, walau sederhana tetapi terasa sampai di hati Cinta.

Begitu pun yang dirasakan oleh Adit, kata sayang dari Cinta seakan melambungkan rasa yang ada di hatinya, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang mendengar kata singkat tetapi bermakna baginya.

Maklum baru pertama kali mereka berdua mengucapkan kata itu walau tanpa mereka persiapkan tetapi perkataan yang spontan itu menimbulkan percikan-percikan romantisme diantara mereka berdua.

Sempat mereka berdua terdiam saling menatap dengan pandangan yang dalam seakan mereka berdua sedang menautkan hati mereka berdua untuk saling menumbuhkan benih-benih asmara yang mulai merekah dan tumbuh di hati keduanya.

“Maaf bapak, ibu!”, tegur pelayan toko itu ramah.

Seketika membuat Adit dan Cinta tersadar, Adit garuk-garuk kepala sementa Cinta tersipu malu menundukkan kepala.

“Eh, iya mbak, maaf ya”, sahut Adit gelisah.

“Cincinnya bisa di lepas sebentar, mau dibuatin terlebih dahulu surat-suratnya. Dan nanti bapak atau ibu bisa bayar di kasir sebelah”.

Adit dan Cinta melepas cincin mas putih yang sesaat lalu mereka coba kemudian mereka menyerahkan kepada pelayan toko tersebut.

Adit meminta Cinta untuk duduk sebentar sembari menunggunya membayar cincin itu ke kasir.

Akhirnya setelah menunggu beberapa menit selesai juga urusan mereka membeli cincin kawin, dan mereka kemudian melangkah bergandengan tangan dengan wajah penuh bahagia menuju parkiran dimana mobil merci Adit terparkir di sana.

“Mas, cincin tadi berapa harganya”, tanya Cinta penasaran saat mereka sudah berada di dalam mobil.

“Nggak mahal kok, masih cukup lah dengan gaji dan bonus mas, udah jangan pikirin terus apa-apa dengan rupiah, ingat peraturan pertama kemaren”, jawab Adit tenang.

“Iya, mas. Cinta senang banget hari ini, semoga lancar ya mas nanti akad nikah kita”, sambungnya.

“Iya, kita sambil berdoa supaya tidak ada halangan dan pernikahan kita ini mendatangkan kebahagian buat kita”.

“Amiin”, sahut Cinta senang.

Tapi mereka tidak menyadari sejak tadi mereka telah diikuti bahkan sempat kemesraan mereka di toko emas itu diabadikan oleh orang tersebut dengan memfoto mereka berdua.

.

.

.

Sementara itu di tempat lain…

“Nak, papa percayakan pernikahan ini kepada mu untuk menjadi wali nikah buat adikmu Cinta, papa hanya bisa memberi restu dari jauh supaya Cinta merasa papa dan mama tidak lagi mengekang kehidupannya nak”, ucap Pramudya setelah ia menandatangani surat pernyataan mewakilkan perwalian nikah kepada Prima untuk akad nikah nanti.

“Iya pa, nanti Prima kabarin lagi ya. Prima mau mempersiapkan semua nya, kita mesti memberikan yang terbaik untuk pernikahan Cinta walaupun diadakan dengan cukup sederhana”, ucap Prima pamit pada Pramudya papanya.

“Tadi pagi papa sudah minta tolong ke kyai Munawar sahabat papa, beliau akan membantu nak, setelah dari sini kau diminta kyai Munawar menemui beliau di sana, dan titip salam ya buat kyai Munawar”, ucap Prmaudya menjelaskan.

“Iya pa. Nanti Prima ke tempat kyai Munawar, Prima pamit sekarang pa”, sahut Prima.

Prima melangkah keluar dari ruangan kerja papanya sambil membawa tas, ia keluar dengan perasaan senang menuju ke basement lantai bawah gedung itu dimana mobilnya terparkir di sana.

Setelah ia masuk ke dalam mobil Toyota Fortunernya kemudian ia menuju ke pondok pesantren As-Salam untuk menemui Kyai Munawar yang akan menikahkan Adit dengan Cinta.

Satu jam berikutnya, mobil Toyota Fortuner yang dikendarai Prima memasuki halaman pondok pesantren As-Salam, kemudian setelah memarkirkan kendaraannya Prima segera turun dari mobilnya menuju ke tempat Kyai Munawar.

“Assalamualaikum wr.wb”, sapa salam Prima saat akan memasuki ruangan kerja Kyai Munawar.

“Waalaikum salam wr.wb”, jawab kyai Munawar.

“Prima, Ayo duduk!”, kata kyai mempersilahkan Prima duduk.

Prima langsung duduk di samping kyai Munawar.

“Apa kabarnya kamu dan keluarga, Prima?Sudah lama nih tidak kemari”, tanya kyai dengan penuh keakraban.

“Alhamdulillah sehat semua, papa mama sehat dan papa titip salam buat kyai. Eh iya kyai, maaf Prima baru sekarang bisa main lagi ke sini. Prima ke sini perlu bantuan kyai Munawar”, ucap Prima menjawab pertanyaan dan memberitahukan maksud kedatangannya.

“Alhamdulillah kalau keluarga Pramudya sehat walafiat, iya tadi subuh papamu sudah memberitahukan rencana pernikahan Cinta, tapi papamu tidak bisa menjadi wali nikah Cinta karena dia takut nanti malah Cinta salah faham atas kedatangan papa mu dan juga nanti mamamu malah bisa-bisa membatalkan rencana ini, makanya beliau menyerahkan tanggung jawab itu kepadamu ya nak. Kamu sudah bawa surat pernyataan papamu itu?”.

“Sebentar kyai. Prima ambil dulu”.

Kemudian Prima membuka tasnya dan setelah menemukan surat itu ia lalu menyerahkan surat pernyataan Pramudya/ papanya yang ditandatangani diatas materai 6.000,-. Surat pernyataan perlimpahan tanggung jawab perwalian terhadap Cinta.

“Iya, sudah bagus ini. Paling nanti mereka nikah siri berdasarkan syariat islam saja ya, jika mau dicatatkan di catatan sipil pernikahan mesti didaftarkan melalui departemen agama melalui Kantor Urusan Agama setempat”, ujar kyai Munawar menerangkan.

“Iya kyai nggak apa-apa, yang terpenting Cinta bisa ada yang mendampinginya dan terhindar dari fitnah”, sahut ku menanggapi.

“Nanti sehabis Isya’, akad nikah kita mulai.

Nanti kedua mempelai dihadirkan untuk mengikuti prosesi akad nikah, beserta mas kawin nya”, ucap kyai Munawar menambahkan.

“Iya kyai, insya allah semua sudah dikondisikan dan dipersiapkan”, jawab Prima yakin.

.

.

.

Di kediaman Tasya….

“Bip…Bip…Bip…”, suara ringtone ponsel Tasya berbunyi.

Gadis itu melihat siapa yang mengirimkan WA. Ternyata dari Ferdy informan yang dimintainya untuk memata-matai Adit.

“Mbak Tasya coba lihat ini”.

Sebuah foto Adit beserta seorang gadis yang tampil begitu mesra saling memperlihatkan cincin emas putih di jari mereka.

“Kau terus buntutin mereka, tapi jangan sampai mereka berdua menyadari kalo kau sedang menguntit mereka, kau faham!”.

Pesan WA yang di tulis Tasya terkirim dan sudah di baca oleh Ferdy, dan saat ini ia sedang mengetik untuk membalas pesan WA Tasya.

“Ok mbak, saya akan hati-hati”.

Setelah Tasya membaca pesan WA terakhir dari Ferdy, kemudian ia mencoba menghubungi ponsel Adit, tetapi masih saja tidak bisa dihubungi nomor ponselnya.

“Tunggu saja, Dit! Aku tidak rela jika kau menikahi pelacur itu. Hanya aku yang pantas untukmu, kau hanya milikku bukan milik orang lain”.

Bersambung

END –  Pelarian Kisah Cintaku Part 11 | Pelarian Kisah Cintaku Part 11 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 10)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 12)