Natalie’s Story Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat
“Panggilan Mendadak”​

POV Natalie

Setelah aku memberikan kejutan spesial untuk suamiku, aku memutuskan untuk kembali ke ruang tamu dimana Anggoro dan Ricko berada dan meminta suamiku untuk tidak ikut denganku dan tetap di dalam kamar. Aku semakin tau dan semakin mengerti tentang apa yang menjadi fantasi seks suamiku yang awalnya kuanggap cukup aneh dan tidak masuk akal pikiranku sama sekali awalnya.

Tapi semakin kesini, aku jadi paham atas apa yang diinginkan suamiku dengan fantasi seksnya. Setelah siang tadi aku meminta izin padanya lewat telepon untuk bersetubuh dengan Anggoro yang notabene adalah mantan kekasihku. Dan membiarkannya mendengarkan apa yang terjadi siang tadi dikamar Anggoro cukup menjelaskan tentang apa yang menjadi fantasinya itu. Dia sangat menyukai dan horny berat ketika melihat dan mengetahui jika aku menjalin persetubuhan serta mendapatkan kepuasan seks dengan pria lain.

Dan barusan ketika aku meminta dirinya untuk menjilati memekku yang masih ada sisa-sisa sperma Anggoro yang sengaja tidak kubersihkan, suamiku justru terlihat sangat menyukai kegiatan tersebut. Dan pengakuannya ketika dia ‘menguping’ persetubuhanku dengan Anggoro lewat telepon siang tadi mengakibatkan dirinya bermasturbasi sampai dua kali di dalam mobil sudah tak diragukan lagi jika dia begitu menyukai melihatku bercinta dengan pria lain.

Untuk itulah aku memintanya untuk tetap di dalam kamar sementara aku menghampiri Anggoro dan Ricko yang berada di ruang tamu. Tujuanku tidak lain adalah untuk memberikannya sedikit pertunjukan yang disukai oleh suamiku tercinta.

Jujur saja dari awal kedatangan Ricko kemarin sampai kemunculan Anggoro hari ini sama sekali tidak terlintas dalam benakku bahkan pikiran terliarku. Aku tidak pernah punya keinginan-keinginan yang aneh-aneh dalam hal seksual. Aku merasa ya seperti itulah seks, seperti yang diberikan suamiku padaku.

Aku sudah sama sekali tidak pernah mengingat-ingat tentang pengalaman seksual masa remajaku. Setelah bertemu dengan Nicko suamiku, dan memutuskan menikah dengannya, aku tidak lagi pernah menginginkan bahkan membuka diriku untuk pria lain selain Nicko suamiku. Kuanggap hubungan seksual juga dengan Nicko suamiku sudah cukup dan aku tidak menginginkan lebih dari itu.

Sampai akhirnya kemarin ketika kuingat awal titik perubahan ini, ketika Nicko dan aku bercinta dan keinginannya untuk memakai dildo yang telah lama disimpannya itu pada percintaan kami kemarin setelah kedatangan Ricko.

Perkataan-perkataannya pada saat itu, tidak hanya menjadi bumbu percintaan kami tetapi ternyata sampai bisa memantik sisi seksual terdalamku saat itu. Kata-kata sugesti tentang batang penis pria lain saat itu cukup merasuki pikiranku. Sampai akhirnya rasa penasaranku yang muncul begitu saja untuk merasakan kembali batang penis pria lain.

Ketika malam setelah percintaan ku dengan suamiku. Aku secara tidak sengaja melihat assett kejantanan Ricko sahabat suamiku. Dan sampai terjadilah persetubuhanku pertama kalinya dengan pria lain setelah aku menikah. Dan kejadian-kejadian setelahnya sampai pada hari ini, benar-benar diluar khayalan terliarku.

Mengetahui fantasi suamiku yang menurutku absurd itu, dan keterbukaannya padaku di satu sisi justru memberikan gairah baru pada diriku. Sudah tiga pria selain suamiku yang telah memberikan kenikmatan duniawi itu padaku setelah kejadian pertama itu. Sampai pada hari ini yang awalnya tanpa sepengetahuan suamiku.

Namun hari ini sebuah kenyataan bahwa suamiku mengijinkan dan bahkan menginginkannya seperti mendapatkan sebuah anugrah yang tidak semua wanita bisa mendapatkannya. Aku begitu semakin mencintai suamiku saat ini lebih dari sebelumnya. Aku tak menyangka jika hal ini justru semakin merekatkan rasa cinta dalam hubungan kami.

Ketakutan awalku itu adalah jika suamiku justru menjadi membenci diriku dan menganggap diriku tak pantas untuknya karena awalnya aku melakukannya tanpa sepengetahuannya. Tetapi setelah semua keterbukaan diantara kami, justru rasa cinta yang ada pada kami semakin menguat. Aneh memang, tapi seperti inilah yang terjadi akhirnya, tak kupungkiri aku sangat senang dengan kenyataan yang saat ini terjadi.

Kehadiran Anggoro saat ini cukup berbeda. Jika dengan Ricko, baik suamiku maupun Ricko sudah sama-sama mengetahui tentang hal ini. Tapi Anggoro belum tau tentang keterbukaan hubungan semacam ini antara aku dan suamiku.

Aku tidak bisa gegabah secara langsung membuka hal ini pada Anggoro. Karena setelah kami lama terpisah aku belum begitu memahami kembali tentang dirinya. Dan dari awal aku juga sudah menetapkan supaya antara aku dengan Anggoro maupun dengan pria-pria lainnya muncul sebuah perasaan yang personal.

Aku sudah memutuskan jika ini adalah sekedar menjadi variasi seksual saja. Dan aku harus berhati-hati melangkah dalam hal ini, aku harus memastikan jika Anggoro pun juga harus memiliki prinsip yang sama. Karena walau bagaimanapun aku sudah mempunyai suami yang begitu mencintaiku, demikian juga aku begitu mencintainya.

Bahkan saat ini semakin mencintainya dan aku tidak ingin hal ini malah menjadi pengganggu keharmonisan kami, itu prinsipku saat ini.

“Lho Ricko mana mas?” tanyaku pada Anggoro yang sedang duduk sendirian di ruang tamu ketika aku menghampirinya.

“Ndak tau, tadi masuk kamarnya dek. Lagi salin paling.” jawabnya sambil mengambil sebungkus rokoknya yang ada di meja dan menyalakannya sebatang lalu dihisapnya.

“Oh, yaudah tak temenin ya.” sahutku singkat lalu duduk di sebelahnya.

“Suamimu mana?” tanyanya.

“Itu ada di kamar, pengen istirahat katanya.” jawabku.

“Lho, gak nemenin istrinya tho? Gak takut istrinya sama cowo lain, kok malah ditinggal tidur. hehehe” ucapnya lagi sambil tertawa bercanda.

“Lha gimana, apa tak panggilan lagi nihh..” candaku.

“Gak usah wis, ditemenin kamu aja dek ngobrolnya. Lebih enaak, kan mas masih kangen. hehehe” jawabnya mulai menggodaku sambil merangkulkan tangan kirinya di tengkukku.

“Wuih dasar, lagi ada suamiku lho, berani-berani yaa.” godaku padanya namun tak menyingkirkan tangannya.

“Berani lha, lagian paling nggak tau ini. Kan dia ada di dalem, hahaha.” sahutnya tertawa malah semakin menarik tubuhku mendekap padanya.

“Hati-hati ntar ketauan repot lho.” ucapku singkat.

Beberapa saat kami hanya duduk terdiam berdua di kursi ini, sementara Ricko masih di dalam kamar demikian juga suamiku. Aku yakin saat ini dia sedang mengawasi ku lebih tepatnya menikmati adegan mesra ku dengan Anggoro yang sengaja ingin kuperlihatkan padanya.

“Dek, boleh cium nggak?” tiba-tiba Anggoro bertanya.

“Eh… Kok nanya gitu?” jawabku padanya.

“Hehehe gapapa, pengen nyium aja. Masih kangen.” ucapnya, aku bisa melihat ekspresi wajahnya seperti masih menyimpan sesuatu padaku. Aku harus selalu tetap waspada akan hal ini, namun aku juga berniat memanfaatkan hal ini untuk memberikan kepuasan pada suamiku, dan aku sendiri nantinya.

“Ya cium aja kalo berani.” tentangku padanya.

“Suami kamu masih di dalem tho dek?” tanya Anggoro.

“Hhmm… Iya masih..” jawabku singkat.

“Mas Ricko juga kan?” tanyanya lagi memastikan.

“Hhmm.. Iyaa… Gimana jadi nyium gak nih? Lama deh..” ucapanku semakin menggoda keraguannya. Sedikit aku melirik kearah kamarku, dan benar saja kulihat pintu kamarku sedikit terbuka dan melihat suamiku sedang mengintip disela-sela celah pintu yang terbuka.

“Hmmm.. dasar suami gila…” batinku mengucap sambil bibirku tersenyum tipis melihat kelakuannya.

“Matamu tutup, mas” pintaku pada Anggoro, setelah awalnya dia bingung atas permintaanku itu tapi akhirnya dia menuruti juga dengan menutup matanya. Lalu aku segera mencium mulutnya, dan memberikan sedikit lumayan dan hisapan yang segera dibalasnya dengan perlakuan serupa padaku.

“Mmmphh…Muaacch…Muaacch..”

“Sluurpss…sluurphhss.. Aaaahh…”

Kami berdua mulai saling berciuman dengan panas di ruang tamu ini, lumatan Anggoro pada bibirku kurasakan sangat erotis sekali. Ada muncul sensasi tersendiri bagiku ketika melakukan hal ini. Bercumbu dengan pria lain di hadapan suamiku yang kuyakin sedang memperhatikan apa yang aku lakukan saat ini.

Kedua tanganku memegang wajahnya bermaksud menahan agar supaya Anggoro tidak melihat kearah kamarku yang ada suamiku sedang melihat kami melalui celah pintu yang ada. Aku ingin supaya hal yang kulakukan ini terlihat natural dan tidak menimbulkan kecurigaan pada Anggoro.

Sekitar lima menitan lebih kami saling melumat dengan panasnya, dan tangan Anggoro mulai merabai payudaraku dan meremasnya lembut untuk lebih menikmati suasana ini kurasa. Akupun membiarkan apa yang dilakukan tangannya di payudaraku dan memilih untuk menikmati saja apa yang terjadi saat ini dengan mantan kekasihku ini.

Setelah sepuluh menit berlalu, bukannya menyudahi ciuman panasnya padaku Anggoro malah semakin menggila. Ciumannya mulai turun ke leherku dan lidahnya ikut memberikan rangsangan pada kulitku. Ciumannya menjalari leherku sehingga membuatku tak kuasa menengadahkan kepalaku merasakan geli dan nikmat yang ditimbulkan oleh perlakuannya ini padaku.

Tanganku hanya bisa menggenggam rambutnya, menahan rasa nikmat yang mulai menyeruak lagi di sanubariku. Aku sudah semakin hilang akal dibuatnya, aku begitu menikmati cumbuannya saat ini. Sampai akhirnya daster yang kukenakan saat ini, sedikit ditarik paksa turun bagian atasnya dan Anggoro menarik keluar payudaraku melewati sisi atas dasterku untuk kemudian dilumat dan dihisapnya dengan lembut.

“Aaachh… Udaah mas oouchh… jangan keterusaan aahhh..” ucapku sambil mendesah memperingatkannya untuk supaya tidak terlalu lepas kontrol pada saat ini. Aku menahannya semata-mata supaya Anggoro tidak berpikir yang tidak-tidak dahulu sebelum waktu yang tepat untuk aku mengatakan kondisi yang sesungguhnya tentang yang terjadi antara aku dan suamiku.

Lalu aku menarik dan menahan kepalanya sehingga mulutnya terlepas dari payudaraku. Anggoro pun tidak memaksa untuk melakukannya lebih dari ini, kurasa dia juga menyadari kondisinya tidak boleh terlalu jauh.

Tapi kuyakin dia pun juga sudah menyadari bahwa batas-batas antara dirinya denganku yang notabene adalah sudah menjadi isteri orang tidak terlihat begitu jelas lagi batasnya setelah kejadian hari ini. Tapi aku berharap dia masih sedikit menghargai statusku saat ini, sebelum nantinya akan kubuka semuanya padanya.

“Muaacch..” kecupan singkat Anggoro masih dilayangkannya pada bibirku.

“Makasih ya dek.” ucapnya lagi setelah itu.

“Mas nih, napsuan banget sih. Kalo tadi keterusan gimana coba. Nanti ketauan suamiku lho bisa-bisa. Wuuuu..” ucapku padanya.

“Hehehe lagian mas kangen banget dek sama kamu. Kangen banget…banget.” sahutnya.

“Wuuu dasar nggombal. Aku dah isteri orang lho, ingeet” ucapku lagu

“Hehehe iyaa mas tau dek.. Tapi nanti bisa lagi kan kita ketemuan besok-besok.?” tanyanya padaku tentang peluangnya menemuiku lagi nanti.

“Hmmm… Liat nanti deh, yang penting saling jaga aja jangan sampe ketauan dan bikin ribut yaa.. Aku nggak mau jadi kayak gitu.” ucapku memperingatinya.

“Iyaa dong, dek. Mas bakal jaga itu juga. Mas nggak mau adek jadi ribut sama suami gara-gara aku ” sahutnya.

“Pinteeerrr..” ucapku sambil tersenyum mengetahui sikapnya yang cukup dewasa menyikapi tentang kejadian-kejadian ini.

***

POV Nicko

“Huooow shiiitt…!!!” seruku dengan suara tertahan di leherku ketika melihat istriku dan Anggoro mulai saling mencumbu di sofa ruang tamu rumahku. Aku yang memutuskan untuk mengintip keadaan istriku dari kamarku seperti mendapatkan kejutan yang luar biasa setelah melihat adegan istriku dan Anggoro saling melumat bibir antara mereka dengan panasnya.

Bahkan tidak kulihat hanya berciuman saja, tetapi Anggoro juga mulai menggarap payudara istriku dengan meremas keduanya. Kegiatan tangan Anggoro yang meremas payudara istriku dilakukannya sambil tetap mencium istriku yang kulihat begitu pasrah menerima perlakuan mantan kekasihnya itu.

“Wooow..!!” hanya itu yang bisa terucap dari mulutku yang masih ternganga melihat begitu erotis ya pemandangan diluar sana. Kontolku spontan saja kembali mengeras dengan cepatnya karena mendapatkan sajian pemandangan istriku yang sedang digarap oleh mantan kekasihnya itu.

Jantungku serasa ingin lepas dan entah perasaan apa ini, begitu membuncah dalam dadaku ketika pemandangan berikutnya yang kulihat mempertontonkan sisi erotis teramat sangat. Bibir Anggoro kulihat turun menjalari leher istriku. Dan terlihat istriku menengadahkan kepalanya memberi akses luas kepada Anggoro untuk dicumbui. Adegan yang berlangsung dari tadi tentu tidak mungkin akan mudah terhapus dalam ingatanku. Sungguh luar biasa sekali.

Namun ketika aku makin penasaran berharap adegan yang lebih hot lagi terjadi antara istriku dan Anggoro, kulihat istriku justru mengehentikan cumbuannya Anggoro. Sejenak aku cukup bingung melihat tingkah laku istriku itu. Beberapa saat sebelumnya dia terlihat begitu menikmati namun setelahnya justru dia sendiri yang menghentikannya.

Rasanya aku ingin keluar saja dari kamarku dan meminta mereka melanjutkannya, namun tak mungkin hal itu kulakukan. Terjebak dalam rasa tanggung seperti ini ternyata sangat tidak nyaman, kurasa seperti itulah yang dirasakan Anggoro saat ini. Dan kuyakin dia akan semakin penasaran kepada istriku, begitu juga denganku.

“Hhmmm… Jadi seperti itu toh..” Ucapku dalam hati.

Aku bisa dengan cepat menemukan alasan istriku dibalik hal itu, walaupun dengan samar suara obrolan diantara mereka aku masih bisa cukup mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Setelah mendengar pembicaraan mereka. Aku melangkah mundur menuju ranjang tidurku lagi sambil tersenyum senang dan saat ini aku diliputi perasaan yang tak bisa kuungkapkan.

Gairah jiwaku sungguh bergejolak melihat kelakuan binal istriku pada mantan kekasihnya itu, menantikan hal selanjutnya yang terjadi antara mereka. Kurasa tak sabar lagi mengetahui kapan selanjutnya istriku dapat memberikan pemandangan indah nan erotis itu lagi padaku.

Aku harus segera mendesak istriku tentang alasannya seakan-akan mengajak Anggoro mantan kekasihnya itu untuk “berselingkuh” tanpa diketahui olehku. Demikian yang bisa kutangkap dari maksud perkataan istriku tadi pada Anggoro.

Namun kuyakin tidak demikian oleh Anggoro, dia belum mengetahui maksud Natalie. Yang dia tau jika sikap Natalie padanya hari ini diluar sepengetahuanku.

***

Tidak lama berselang, aku seperti mendengar suara ribut dari arah ruang tengah. Aku bisa mendengar suara Ricko seperti kepanikan, langsung saja bergegas aku memakai pakaian yang kulepaskan tadi dan segera keluar kamarku.

“Nick! Kayaknya malam ini gue harus balik Jakarta, Nick!” Ucap Ricko tiba-tiba begitu melihatku dengan ekspresi kepanikan yang cukup terlihat jelas

“Lho kenapa?? Ada apaan emang?” tanyaku padanya ikutan panik.

“Anak buahnya Ricko ada yang kecelakaan mobil, pih!” justru Natalie istriku yang memberikan jawaban atas pertanyaanku.

“Haah??” tanyaku bingung.

“Dia termasuk anak buah kepercayaan gue! Dan dia banyak ngurusin urusan kantor yang penting! Gue harus segera pulang ke Jakarta!” sahut Ricko masih terlihat panik.

“Terus lu mau pulang kapan?” tanyaku sambil mengambil posisi duduk di sofa yang masih kosong bersama mereka bertiga. Kulihat Anggoro hanya diam saja memperhatikan kami bertiga.

“Malem ini juga!! Gue udah dipesenin penerbangan paling awal!” jawab Ricko.

“Jam berapa Rick??” tanyaku lagi.

“Jam setengah delapan!” jawabnya singkat.

“Hmm… Oke! Kayaknya masih keburu, ini baru jam lima. Udah buruan lu beres-beres deh. Atau yang barang-barang gak gitu penting ku tinggal aja disini. Lu bawa yang penting-penting aja bro!” ucapku memberi masukan pada sahabatku setelah mengetahui jika ternyata waktu yang tersisa tidak banyak lagi sebelum jadwal penerbangannya.

“Yaudah, gue beres-beres dulu abis itu langsung berangkat aja ya gue!” sahut Ricko.

“Nanti biar saya anter aja mas ke bandaranya!” Anggoro buka suara menawarkan bantuannya mengantar Ricko ke bandara.

“Oh, oke makasih ya mas Anggo!” sahut Ricko sambil bergegas menuju kamarnya.

“Mih, kamu bantuin Ricko beres-beres gih.” perintahku pada istriku.

“Ya pih!” sahutnya tanpa membantah.

Aku dan Anggoro menunggu mereka berdua di ruang tamu beberapa saat sampai akhirnya Ricko dan Istriku keluar dari kamar tamu tempat Ricko menyimpan barang-barangnya dan sudah membawa koper berisi barang-barangnya. Antara aku dan Anggoro selama menunggu Ricko bersiap tidak sempat terlibat obrolan apapun, karena kurasa kami berdua juga belum begitu dekat.

“Okeh! Udah! Berangkat sekarang bisa?? Takutnya gak keburu!” ucap Ricko sedikit terengah-engah ketika keluar dari kamar.

“Oke mas! Ayoo!” sahut Anggoro yang langsung beranjak berdiri dan berjalan keluar diiringi oleh Ricko, Istriku, dan aku sendiri untuk mengantar Ricko ke bandara.

***

Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan yang membahas apapun diantara kami. Aku dan istriku hanya sesekali berusaha menenangkan Ricko yang saat ini sedang dilanda kepanikan karena musibah yang dialami salah satu anak buah kepercayaannya.

Selama perjalanan pun kulihat Anggoro terlihat cukup tegang, mungkin karena terbawa situasi panik saat ini. Sampai beberapa kali kulihat Anggoro seperti terlihat mengumpat karena kondisi lalu lintas yang sedikit padat pada sore hari ini.

Akhirnya kami sampai di Bandara Ahmad Yani dan segera saja aku, Natalie, dan Ricko turun dari mobil milik Anggoro.

“Kalian turun aja dulu, aku cari parkir sebentar. Nanti tak susul.” ucapnya singkat sebelum kami beranjak turun menuju area keberangkatan.

Ketika akan check-in ternyata Ricko memutuskan untuk menunggu sebentar kedatangan Anggoro yang sedang mencari tempat parkir di depan. Awalnya disini aku sedikit merasa bingung atas sikap Ricko ini, di tengah kepanikannya dia masih berpikir untuk menunggu dan berpamitan juga kepada Anggoro.

“Nanti kalo urusan di Jakarta udah beres gue kontak ya Nick! Gue ada bisnis yang mau gue sampein ke elo. Ntar pokoknya gue kabarin, entah ko yang berangkat ke Jakarta, atau nanti gue yang balik ke Semarang lagi.” ucap Ricko padaku ketika berdiri bersama di depan counter check-in.

“Hah?? Bisnis apaan??” tanyaku singkat.

“Nanti deh gue cerita lebih detil. Suasananya nggak enak banget buat ngomongin itu sekarang.” jawabnya.

“Ini ada hubungannya sama bini gue gak nih?” ucapku lirih. Sambil berbisik di telinga Ricko bermaksud supaya Natalie yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatku dan Ricko mengobrol tidak mendengar pembicaraan kami.

“Bisa iya, bisa nggak. Tergantung lu sama bini lu.” jawabnya dengan suara lirih juga.

“Tapi yang jelas, gue beneran mau ada kerjasama bisnis sama lu juga Jeffry. Dan mungkin Anggo juga bakal gue ikutin. Tapi balik lagi, semua tergantung lu dan Natalie nantinya.” lanjutnya.

Aku tidak sempat membalas pernyataannya padaku barusan, selain karena aku belum mampu menangkap maksudnya. Juga karena ketika Ricko menyampaikan hal itu Anggoro sudah terlihat berjalan menuju ke arah kami bertiga.

“Eh, sorry yo lama.” Ucap Anggoro kepada kam ketika dia sudah sampai ke tempat kami berada.

“Oh iya makasih ya mas Anggo dah repot-repot nganter saya ke bandara. Saya langsung masuk ya.” ucap Ricko sambil menjabat tangan Anggoro seraya berpamitan.

“Oh iyoo mas, gak ngerepotin kok. Mas Ricko dah tak anggep temen sendiri lah. Jangan sungkan gitu, nanti kalo perlu ke Semarang lagi kontak aku aja. Biar tak supirin kemana aja mas Ricko mau. Ndak usah pake aplikasi wes pokoknya siap anter deh.. hehehe” sahut Anggoro dengan nada bercanda.

“Hehehe makasih lho mas. Siap nanti saya kontak kalo saya ada perlu kesini lagi. Ntar nomor hape saya minta aja sama Nicko kalo nggak sama Natalie ya.” ucap Ricko.

“Nick, Natt. Gue cabut langsung ya, makasih sebelumnya dah dikasih tumpangan selama gue disini. Dan sorry kalo ngerepotin selama gue nginep di rumah kalian ya.” ucap Ricko padaku dan Isteriku.

“Yaelaah kayak sama siapa aja lu bro, kamprett dah!” ucapku sambil menjabat tangannya dan kemudian merangkulnya sebagai tanda persahabatanku. Dan ungkapan jika aku tidak mempermasalahkan apapun selama keberadaannya disini.

Justru harusnya aku berterimakasih padanya, kalau bukan karena kedatangannya mungkin Isteriku tidak bisa berubah secepat ini. Namun hal itu tidak mungkin kusampaikan disini. Hahaha…

“Makasih ya Natt dah ngerepotin.” ucap Ricko kemudian pada Natalie.

“Iya emang kamu ngerepotin. Hehehe” sahut Natalie ramah, dan kemudian merekapun juga berangkulan sesaat sebelum akhirnya Ricko masuk ke area check-in di bandara ini.

“Ya udah yok, kita pulang.” ajak Natalie.

“Yoo wiss Yoo..” sahutku

“Mas Anggo nggak capek nih? Biar kugantiin aja nyetirnya kalo capek.” ucapku kemudian pada Anggoro dengan ramah.

“Oh gapapa mas. Masih kuat kok, kerjaannya kan emang supir saya mah.” jawab Anggoro dengan ramah juga padaku.

“Hehehe yawis, Ayoo deh kita ke parkiran. Jauh ndak parkirnya mas?” tanyaku padanya sambil kami mulai berjalan bersama bertiga menuju keluar area keberangkatan ini. Posisiku berada ditengah sementara Isteriku berjalan di sisi kananku sambil merangkul pinggulku, sementara Anggoro berjalan di sebelah kiriku.

“Nggak kok, Deket kok mas tuh di depan.” jawab Anggoro. Lalu kamipun berjalan menuju area parkir dan setelah sampai di tempat mobil Anggoro diparkir. Kami bertiga pun langsung memasuki mobil itu, aku duduk di kursi depan sebelah kemudi sementara Isteriku duduk di kursi tengah. Anggoro? tentu saja dia yang menyetir. hehehe…

***

Selama perjalanan aku dan Anggoro hanya mengobrol ringan, dan sempat juga memberikan nomor kontak Ricko padanya sesuai pesan Ricko tadi. Aku dan Anggoro pun juga saling bertukar nomor kontak sekedar syarat pertemanan saja.

Isteriku selama perjalanan malah tertidur, mungkin dia kelelahan karena kegiatannya selama ada Ricko disini aku tau cukup padat. Apalagi kalau bukan kegiatan birahi, tentu saja.

Sampainya di rumahku pun, Anggoro tidak sempat mampir lagi, dia meminta izin untuk langsung melanjutkan perjalanan pulang. Sementara aku dan Isteriku langsung masuk ke dalam rumah dan aku memutuskan untuk mandi membersihkan tubuhku. Sementara Natalie memutuskan untuk istirahat di kursi depan ruang ribu sebentar sambil menunggu aku selesai mandi. Lalu dia akan mandi selanjutnya.

Pada saat Isteriku mandi, aku mengambil ponselku untuk membuka akun sosmedku sambil mengisi waktu luang ini. Namun ternyata aku mendapatkan pesan whatsapp dari Ricko yang sedikit membuatku terkejut.

“Oiiy bro, sekali lagi makasih ya udeh repot-repot selama gue di Semarang.”

“Ini gue udeh boarding, bentar lagi take-off.”

“Barusan gue transfer ke rekening lu 15juta.”

“Gue mao kamar yang tadi gue pake tidur lu pasangin AC yaa, biar kalo gue nginep lagi disono bisa enak tidur gue, gila panas banget gue sampe-sampe gue selama tidur disono dibugil mulu. Hahaha”

“Gara-gara itu juga akhirnya bini lu kegoda sama badan seksi gue.”

“Wkwkwkwk.”

“Udeh jangan mikir aneh-aneh. Pokoknya lu alur-alur sama bini lu.”

“Jangan sampe setelah bini lu berubah kayak sekarang, malah jadi lu tinggalin. Awas aja lu!!!”

“Oke deh, Bye bro.. See you.. Gue dah mau take-off.”

“Salam sama Natalie!”

Setelah aku membaca pesan whatsapp dari Ricko, aku hanya bisa menggelengkan kepala atas tingkah lakunya ini. Jelas aku tidak akan mempermasalahkan perubahan Isteriku yang sekarang. Dan nggak akan ada niatan buat meninggalkan Isteriku tercinta ini.

Aku lalu beranjak masuk kedalam kamarku dengan tujuan untuk beristirahat setelah kematian semua lampu yang menyala di ruang tamu ini. Setelah sampainya di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku diatas ranjang, sambil menonton televisi yang ada di dalam kamar ini.

Tidak lama Isteriku masuk ke dalam kamar, setelah dia selesai mandi. Natalie langsung berganti baju tidur, kulihat dia hanya mengenakan celana dalam dan tak lagi memakai bra, seperti yang biasa dia lakukan jika malam hari.

“Mih, tadi Ricko wa aku. Titip salam buat kamu tuh.” ucapku pada Isteriku.

“Oh ya? Udah sampe Jakarta dia?” tanya Isteriku.

“Nggak tau, bentar lagi paling. Tadi sebelum terbang dia kirim WhatsAppnya kok.” jawabku.

“Tau nggak? Masa dia transfer duit ke papih, banyak banget lagi.” lanjutkan.

“Hah? Maksudnya??” tanya Isteriku penasaran sambil menatapku yang berada disebelahnya sambil memiringkan tubuhnya.

“Iya, dia transfer ke rekening aku 15juta.” ucapku

“Buat apaan?” tanyanya lagi.

“Kamar tamunya suruh dipasangin AC katanya.” sahutku.

“Lahh.. Ada-ada aja. Pasang AC paling kan berapa.” ucap istriku lagi.

“Nggak tau tuh.” sahutku.

“Sisanya buat mamih shopping kali… Paling dia puas tuh sama servicenya mamih, makanya dikasih lebihannya banyak. Hahaha.” ucap istriku sambil tertawa.

“Dih mamih.. Dah kayak PeKa aja.. Hahaha” sahutku menanggapi gurauannya. (red: PeKa sebutan lain untuk WP, cah Semarangan mesti ngerti 😀 )

“Biarin weeek.. Capek tau dari hari Jumat kemaren kerjaannya ngelayanin cowok-cowok mesum terus kayak kalian! Ricko ngerti banget itu, makanya dia kasih bonus buat mamih shopping sama massage. hehehe” ucap Isteriku.

“Iyaa deh, iyaa… ntar mami pake aja buat pijet sama shopping sana lebihannya. Biar fresh lagi setelah beberapa hari ini kerja keras.”

“Kerja keras meraih kenikmatan!” candaku lagi.

“Hehehe… Besok mamih shopping-nya mau ngajak Anne gapapa ya?” tanya Istriku.

“Gileeee.. Besok mau langsung shopping??” tanyaku lagi mendengar besok dirinya berencana untuk berbelanja dan memanjakan dirinya, karena aku tau perginya bersama Anne sepupunya akupun mengiyakan permintaannya.

“Iya dooong…” jawab Isteriku singkat.

“Perginya mau dianter papih, apa mau naik Grab-nya Anggoro nih?” ucapku bermaksud memancing Isteriku.

“Hmmm.. Boleh juga tuh idenya. Kayaknya dia masih penasaran sama mamih deh. hahaha” jawabnya tertawa mendengar pertanyaanku.

“Halaah pede banget kamu!” ucapku.

“Dihhh iyaa lahh. Dah terbukti kok! Kayak papih nggak ngeliat aja waktu ngintip ini mamih sama Anggoro tadi.” ucapnya langsung to the point.

“Hehehe… Ketauan deh..”sahutku singkat.

“Eh mih, ceritain dong tadi siang gimana pas ngentot sama Anggoro.””

“Tadi sama Ricko juga nggak mainnya?” tanyaku pada Isteriku.

Obrolan kami malam ini sungguh berbeda sekali seperti sebelum kedatangan Ricko kemarin. Obrolan kami saat ini, bisa dengan sangat nyaman walaupun yang kami bahas adalah hal-hal vulgar dan tabu untuk sebagian besar orang.

Tapi inilah kami sekarang, semua diawali dari kedatangan Ricko yang mampu membuka kunci rahasia kehidupan kami yang diawali dari fantasi seksualku terhadap Isteriku. Didukung dengan hadirnya Ricko yang mampu memperkenalkan dunia baru pada Isteriku.

Bahkan sampai bisa memasukkan beberapa pria kedalam kehidupan seksual kami. Dan aku sendiri justru malah melihat Isteriku juga menikmati hal ini. Dan sangat memungkinkan untuk terus berlanjut terus sampai aku sendiri belum tau dimana batasnya.

“Hmm.. Enggak kok, Ricko nggak ikutan. Cuma mamih sama Anggoro aja tadi siang.. Hehehe Pengertian Ricko tuh pih, dia kasih kesempatan mamih sama Anggoro buat mengenang masa-masa lalu berdua aja.. hahaha” jawab istriku kemudian.

“Hmm.. Ayoo dong cerita, penasaran nihh..”desakku lagi.

“Iyaa iyaa… mamih ceritain nih yaa..”

“Jadii giniii….”

Bersambung