Natalie’s Story Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat
Flashback Story
Matahari Yang Sama.​

POV Nicko

“A…ar…Arinii..??” ucapku terbata karena masih tidak percaya bahwa sosok yang ada di hadapannya ini adalah mantan kekasihnya dulu.

Lalu mobil yang ditumpangi Arini itu kulihat bergerak menepi di depan rumahku. Lalu setelah mobil berwarna hitam itu berhenti sempurna, terlihat sosok Arini bersama pria yang baru pertama kulihat itu keluar dari mobil dan berjalan ke arahku. Mungkin lelaki itu adalah suami Arini, pikirku. Arini berjalan sambil terus tersenyum kearahku, sementara sang pria berjalan beriringan di sebelahnya.

Ketika mereka sampai ke tempatku berdiri, Arini langsung mengulurkan tangannya kearahku.

“Apa kabar Nick?” sapanya ramah sambil menggenggam tanganku yg tadi menyambut tangannya.

“Ba..baikk Rrin… Kamu apa kabar?” tanyaku balik kepadanya.

“Baik juga kok.. Kamu kok kayak gugup gitu sih?”

“Kaget yaa ngeliiat aku sekarang?”

“Hehehe” ucapnya sambil tertawa ringan melihat keterkejutanku.

“Hehehe… Iyaa Rin, gak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu di sini.” jawabku.

“Oh iya, kenalin nih mas. Ini Nicko temenku dulu yang pernah aku ceritain ke kamu.” Ucap Arini kepada pria disampingnya.

“Oh, kenalin saya Rudi mas.” sapa pria bernama Rudi itu sambil menjabat tanganku.

“Eh, iya kenalin juga. Saya Nicko mas.” ucapku membalas perkenalan kami barusan.

“Mas Rudi ini suamiku Nick. Kami baru aja pindah minggu kemarin di perumahan ini.” ucap Arini membuatku sedikit terkejut mengetahui jika Rudi adalah suami Arini.

“Istrimu mana Nick? Oh iya, kamu udah nikah juga?” tanya Arini lagi.

“Udah Rin. Ini aku lagi mau nyusul istriku, dia lagi liburan di Bandungan sama sepupunya. Kebetulan kemarin aku nggak sempat ikut berangkat karena ada kerjaan dadakan. Jadi bisa nyusulnya sekarang.” jawabku.

“Loh, kami mau kesana juga Nick? Wah kebetulan! Aku sama mas Rudi juga mau kesana ini. Mau jalan-jalan juga. Mas, kita sekalian barengan aja sama mas Nicko boleh ya? Sekalian searah juga, bisa sambil temen ngobrol juga nanti di jalan.” Kata Arini kepada Rudi suaminya.

“Oh, gak masalah. Ayo mas Nicko. Bareng sekalian aja, nanti kita anter ke tempat istrinya mas sekalian.” Ajak Rudi kepadaku.

“Eh, jangan lah. Nanti ngerepotin kalian yang mau jalan-jalan.” tolakku karena sungkan.

“Iiii…hhh mas Nicko mah! Gapapa kok beneran..” ucap Arini dengan nada bicara yang dibuat-buat seperri merajuk.

“Iya mas Nicko. Gapapa kok, nggak ngerepotin kok.” ucap Rudi ramah kepadaku.

Aku yang tidak enak atas ajakan mereka akhirnya menyetujui untuk pergi bersama mereka karena selain searah. Mereka berdua juga tampak cukup bersahabat kepadaku. Segera aku minta ijin untuk kembali memasukkan sepeda motorku yang tadi sempat ku keluarkan, dan langsung mengikuti mereka masuk ke dalam mobil yang mereka kendarai.

Aku dipersilahkan duduk di kursi penumpang depan di sebelah Rudi yang menyetir, sedangkan Arini duduk di kursi belakang. Aku sungguh merasa tersanjung atas perlakuan bersahabat Arini dan Rudi ini.

Di sepanjang perjalanan, kami berbicara banyak satu sama lain. Banyak hal yang kami obrolkan, sampai aku bisa menangkap jika ternyaya Rudi telah mengetahui hubunganku dengan Arini di masa lalu dan bagaimana sebab akhirnya kami berdua berpisah.

Namun, kulihat tidak nampak ekspresi ketidaksukaan dari Rudi ketika kami membahas hal itu. Justru sangat bisa kulihat jika Rudi sepertinya juga tidak mempersoalkan hubungan masa laluku dengan Arini istrinya.

Mereka berdua sungguh pasangan yang menyenangkan menurutku. Dan Arini, menurutku masih tetap seperti Arini yang ku kenal dulu, ceria dan menyenangkan. Dan secara alamiah, pikiranku menerawang ke masa lalu waktu dimana kami masih sebaagai sepasang kekasih.

[FLASHBACK]

POV Orang Ketiga.

Di sebuah cafe outdoor di kota Jakarta. Dua orang manusi dewasa nampak sedang duduk berdampingan sambil bercengkerama menghabiskan malam walau hanya dengan sekedar minum kopi dan menyantap sedikit makanan-makanan ringan yang disediakan di sana.

Mereka duduk bersebelahan, dengan tangan yang saling menggenggam. Diterangi sinar jutaan bintang yang menerangi langit malam, bagai pecahan-pecahan permata yang memang sengaja ditebar diatas sana.

Namun diantara nada-nada bicara mereka terselip sedikit aura kelabu. Setiap kata yang keluar mengandung guratan-guratan gelisah dari curahan hati mereka. Sama gelisah seperti yang kini mereka rasakan di hati masing-masing saat ini. Langit terbuka luas, tapi belum untuk pikiran mereka.

“Jadi, habis ini gimana?” Arini membuka pembicaraan.

“Belum tau Rin”

“Kenapa nggak tetep disini aja sih kerjanya? Apa kamu nggak bisa nolak tawaran untuk pindah ke Semarang?”

“Aku juga pengen begitu, tapi aku ngerasa aku nggak boleh nyia-nyiain kesempatan ini.”

“Kenapa?”

“Ini kesempatan langka, dan aku masih pengen nyari ilmu di bisnis ini. Dua tahun di bidang ini aku seperti menemukan hidup baru, semangat baru, ketemu orang-orang hebat, orang-orang yang tulus nyuport aku, termasuk di sini aku bisa kenal sama kamu. Itu yang paling bikin aku bahagia.” Jawab Nicko menjelaskan alasannya untuk pindah ke Semarang.

“Apa kamu tega ninggalin aku di sini Nick?” Tanya Arini mendesak.

Nicko hanya tertawa kecil lalu berkata, “Kalaupun aku di Semarang, kita kan masih bisa komunikasi, itu bukan masalah. Apa kamu ikut sekalian aja sama aku ke Semarang?”

“Ya gak mungkin tiba-tiba begini, kalaupun aku nyusul kamu ke Semarang. Aku pasti butuh waktu buat ngatur semuanya di sini.”

“Tapi Nick, bukan karena disana ada yang lain kan?”

Pemuda itu terdiam, sejenak menatap wajah sang gadis yang tampak murung, sampai kemudian dia berucap sambil setengah bersenandung, “Tak akan ada cinta yang lain… hehehe.”

“Huuu…gombal, buktinya kamu tetep bakal ninggalin aku disini kan?” Ucap Arini merajuk.

Perlahan dirangkulnya tubuh kekasihnya itu, lalu dengan pelan dia bertanya; “Kenapa sih harus ke Semarang sih Nick?”

“Itu udah cita-citaku dari dulu Rin, ini karir yang akan ngedukung rencana masa depanku nanti. Masa depan kita juga.” jawab Nicko dengan nada yang juga semakin pelan sambil menundukkan wajahnya.

“Terus kamu mau tinggal sama siapa di sana?” Tanya Arini.

“Kawanku udah nyiapin segala keperluan aku disana nanti.” Sahut Nicko singkat

Sejenak keduanya terdiam, Nicko lalu menyenderkan badannya ke sandaran kursi untuk sedikit merenggangkan otot-ototnya dan pikirannya yang semakin menegang. Dengan kepalanya yang menyender dengan nyaman di kursi cafe itu, pikirannya menerawang, matanya memandang jauh keatas awang-awang, kearah kumpulan bintang yang tiada terhitung jumlahnya.

“Nick…” panggil Arini dengan lirih.

“Apa?” jawabnya tanpa berpaling dari pemandangan yang terpampang jauh di atasnya.

“Lalu gimana kelanjutan hubungan kita?”
Ada sedikit rasa gundah yang terasa di dadanya saat gadis disampingnya menanyakan hal itu.

“Kenapa dengan hubungan kita?”

“Gak usah pura-pura gak tahu.”

“Banyak orang yang menjalani hubungan jarak jauh atau LDR, dan hubungan mereka masih baik-baik saja.”

“Tapi gak akan semudah yang kita bayangin.”

“Aku tahu, akupun tak yakin bisa melaluinya.” Mereka berdua saling berdebat ringan, namun dalam.

“Nicko, aku gak mau hubungan kita selama ini sia-sia,” ujar Arini sambil ikut menyandarkan badannya di sebelah Nicko. Matanya nanar, kosong menatap ke depan.

“Gak ada sesuatu yang diciptakan dengan sia-sia Rin. Gak ada,” ucapnya mantap dan penuh arti. Rona air mukanya berubah. Segaris senyum kecil tersungging dari bibirnya saat sebersit sinar bintang jatuh melintas jauh diatas sana.

***

Matahari mulai tampak turun semakin rendah dari garis kekuasaannya. Cuaca yang dari tadi siang terasa sangat menyengat kini perlahan berubah hangat. Sedikit mendinginkan kepala orang-orang yang mulai pagi tadi sibuk akan segala aktifitasnya. Semilir angin sore bertiup pelan, menimbulkan bunyi gemerisik dari daun-daun pepohonan.

Suasana halaman sebuah perkantoran tampak semakin lengang, karena banyak diantara para pekerja yang sudah pulang. Di sudut seberang halaman terlihat seorang pemuda terlihat berjalan melenggang dengan santai ke arah tempat parkir kendaraan, dimana mobilnya diparkirkan.

“Nickoo…..tunggu!!!” teriak seorang gadis manis berwajah khas wanita Jawa dengan kulitnya yang putih, dan rambutnya yang tergerai sebahu lebih sedikit, tergopoh-gopoh mengejar pria yang berjalan didepannya. Arini, dia saat ini juga berada di kota Semarang, dia pindah pekerjaan beberapa bulan kemudian menyusul Nicko kekasihnya untuk sama-sama bekerja di kota ini, di Semarang

“Eh, kamu Rin, ngapain kamu nyusul kesini? Kan nanti aku mau mampir ke tempat kamu” Ucap Nicko acuh.

“Yee…jahat banget sih, gitu banget reaksinya? Udah cape-cape disusulin kesini, malah begitu banget reaksinya. T.O.O..F.L.A.T. Dasarr Nicko jelek!!” rajuk Arini sambil menggembungkan pipinya yang tampak lucu.

“Hehe…ngambek ni, lucu banget sih kalau ngambek gini,” goda Nicko itu sambil mencubit pipi Arini di sampingnya yang tampak menggemaskan.

“Iiihh….sakit tau. Nick, kamu gak ingat ini hari apa?”
“Ini hari Jumat, tanggal 17 Desember”
“Terus?”

“Terus?” ucap Nicko mengulangi ucapan gadis disampingnya dengan mimik wajah yang sedikit dibuat-buat.

“Ya, udahlah.” Keluh Arini singkat.

“Huu, dasar si Aneh” jawab Nicko tenang.

Arini akhirnya memutuskan untuk mengajukan permohonan pindah tugas ke kantor tempatnya bekerja yang bergerak di bidang Advertising. Tapi semua kesibukannya itu semua seperti tak mempengaruhi hubungan mereka.

Saling percaya itu yang menjadi prinsip sejak pertama kali mereka berkomitmen menjalin cinta. Walau ada yang belum mereka tahu, bahwa kepercayaan tak selalu berbanding lurus dengan harapan dan kenyataan.

“Arini!!! Nicko!!” teriak seorang gadis dari seberang sambil melambaikan tangannya.

“Hai..,Feb!” Arini pun membalas lambaian tangan gadis itu dengan senyum ceria.

Perlahan gadis itu menghampiri mereka berdua.

“Cie…makin lengket aja kayak perangko,” godanya yang segera disambut Arini dengan sebuah cubitan kecil dilengannya.

“Mulai jail deh.” Sergah Arini kemudian.

“Gimana presentasi tadi?”

“Biasa aja tu, lancar-lancar aja.”

“Oh, bagus deh. Eh, kalian berdua udah makan belum, spesial hari ini aku traktir deh.”

“Wuih, beneran Feb? Tumben-tumbenan, baru dapet arisan?” celetuk Nicko.

“Ye…, kapan sih aku bohong, mau nggak nih, sebelum aku berubah pikiran.” Tanya Febby kembali.

“Mau!”

“Mau!” Jawab Nicko dan Arini hampir bersamaan.

***

Febbyanti Putri, biasa dipanggil Febby oleh sahabat-sahabatnya, adalah teman Arini di kantornya yang lama di Jakarta, yang sekarang kebetulan juga berkantor di kawasan yang sama, walaupun berbeda perusahaan.

Mereka bertemu secara tidak sengaja di lift gedung saat usai jam kantor, mereka berdua sama-sama merasa menemukan partner in crime dalam hal hobi dan sesi curhat-curhat tentunya.

“Eh Feb, kamu jadi mau tunangan sama Akbar?” tanya Arini sambil melahap sebuah bakso utuh kemulutnya, pipinya tampak menggembung semakin terlihat lucu.

“Doain aja ya, kalian sendiri gimana? Udah lama banget pacaran, tapi gak pernah ada peningkatan, gimana sih Nick? Cemen banget sih jadi cowok!” ucap Febby ganti membalik tanya pada mereka.

“Bukannya cemen Feb, tapi ada yang lagi sibuk merintis karir, siapa tahu nanti kalau udah sukses bisa dapat cowok yang lebih baik atau ganteng lagi.” goda Nicko sambil melirik gadis yang kini sedang mengunyah bakso yang duduk di sampingnya. Arini hanya diam, menghentikan kunyahannya lalu memandang Nicko dan Febby secara bergantian dengan tatapan sebal.

“Hehe, peace, peace…, becanda..becanda,” ujar Nicko sambil mengacungkan dua jarinya, lalu mengelus rambut Nicko. Ia tahu pasti gimana tabiat kekasihnya ini nanti kalau sudah mulai ngambek.

Febby hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
“Eh ntar aku sama Akbar mau ke Jogja, kalian mau nitip apa ni?” tanya Febby mengalihkan pembicaraan.

“Emm….apa yaaa…? Bawain makanan khas Jogja aja deh Feb, hihi,” kata Arini sambil terkikik kecil.

“Huuu makan mulu, pipi tu udah makin kayak bakpau aja,” celetuk Nicko.

“Biarin, mang napa, gak mau? weeekkk…..” jawabnya sambil memeletkan lidah.

“Hehe, udah-udah, pada kaya anak kecil aja kalian, kalau kamu pesen apa Nick? Mumpung aku lagi baik nih.” ucap Febby menengahi.

“Gak usah deh Feb, lagian aku ntar juga mau pergi kok, mungkin sampai besok atau lusa, mumpung libur weekend.” jawab Nicko sambil meminum es teh yang ada di mejanya.

“Nanti kamu mau pergi?” tanya Arini.

“Iya, aku diminta nganterin Wawan ke rumahnya di Solo, emang kenapa?” Nicko balik bertanya.

“Nggak apa-apa kok, terserah kamu. Eh Feb, aku duluan ya, aku lupa kalau hari ini ada janji mau perawatan ke salon sama Yulia..” Arini beranjak dari bangkunya dengan terburu-buru sambil menyambar tasnya.

“Lho kok buru-buru sih say?” tanya Febby.

“Iya, nggak enak sama Yulia kali telat, ya udah ya Feb, thank’s buat traktirannya yaa, bye..!!” ucap Arini sambil beranjak tergesa.

“Iya, kok buru-buru amat sih, tak anterin ya,” Nicko menyambung.

“Gak usah!” jawab Arini ketus sambil berlalu keluar dari foodcourt tempat mereka makan.

Sepeninggal Arini, Febby dan Nicko hanya terdiam, lalu sejenak mereka berpandangan, saling tersenyum, dan kemudian mulai tertawa.

“Parah kamu Nick.” ucap Febby sambil meminum lemon tea di depannya dari sedotan.

“Nggak apa-apa lah, sekali-kali,” sambung Nicko sambil tampak tersenyum puas.

***

Arini berdiri merenung di balkon kamar kost-kostannya, merasakan semilir angin malam yang lembut berhembus membelai wajahnya. Ditatapnya langit yang menghampar luas tak berujung pandang. Tak ada bintang malam ini, karena di kota ini awan tebal sedang menaungi kota semenjak sore tadi, tapi belum juga hujan.

Tapi di kejauhan sana, ia melihat satu bintang yang bersinar redup, mencoba bertahan menampakkan sinarnya. Bintang itu tampak kesepian, sendiri diantara kegelapan. Sama seperti yang ia rasakan saat ini, sendiri dan kesepian.

Sekarang sudah hampir jam 12 malam dan tak ada satupun disini yang ingat hari ulang tahunnya. Memang merepotkan hidup sendirian di kota ini. Dia membayangkan andai saja dia sekarang berada di rumah keluarganya di Jakarta sana, mungkin suasananya akan lain.

Mungkin ibunya akan membuatkan sebuah cake ulang tahun kecil dengan lilin-lilin kecil yang menyala di atasnya, dan menu nasi kuning yang akan dibuat khusus oleh ibunya untuk melengkapi kebahagiaannya ketika hari ulang tahunnya. Tapi disini, jangankan ada yang tahu, pacarnya sendiripun lupa akan hari ulang tahunnya. Semua memang nampak telah berbeda.

Tok!! Tok!! Tok!!

Terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Malas dia beranjak dari tempatnya berdiri kini. Diacuhkannya suara ketukan pintu itu.

Dokk!! Dokk..!! Dokk!!

Kembali suara pintu terdengar diketuk semakin keras, lebih mirip dipukul daripada diketuk dengan pelan. Ini sudah melampaui batas teratas toleransi kesopanan dalam mengetuk pintu kamar seseorang, pikirnya. dan mengusik ketenangannya. Hingga mau tak mau dengan sedikit kesal ia melangkahkan kaki ke arah pintu, lalu perlahan membukanya.

“Happy birthday, happy birthday, happy birthday to youu….”

Di depan pintu tampak Febby membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin yang menyala kemerahan di atasnya. Sementara dibelakangnya Akbar terlihat tersenyum dengan membawa sebuah kado besar.

“Feb.., apaan ini?” tanya Arini agak terkejut.

“Tadaaaa…..! Surprise kecil-kecilan aja, katanya suruh dibawain makanan,” jawab Febby bercanda.

“Kamu tu ya Feb. Masuk dulu deh! Bar, masuk dulu” Arini mempersilahkan kedua sahabatnya masuk ke dalam.

Febby dan Akbar pun masuk mengikuti Arini ke dalam, diletakkannya kue tart kecil itu di meja. Dengan beberapa lilin kecil yang sudah menyala sedari tadi Febby mengetuk kamar Arini.

“Ditiup dulu dong lilinnya,” kata Febby pada Arini.

“I-iya,” ragu-ragu Arini untuk meniupnya, beberapa kali ia menoleh ke arah pintu yang sengaja ia biarkan terbuka. Berharap ada lagi yang akan datang, tapi tak ada lagi seseorang yang datang, mungkin dia benar-benar lupa.

“Ayo donk tiup, kok malah bengong.” Febby menyadarkannya.

“Eh! Iy..iya…fuuuhhh….” Arini meniup lilin itu dengan ragu-ragu, ada yang sedikit mengganjal di hatinya.

“Yeee…..met ultah ya say,” ucap Febby bertepuk tangan lalu mencium pipi kiri kanan Arini.

“Makasih ya Feb.” Jawab Arini sambil menerima kecupan sahabatnya di pipinya.

“Met ultah ya Rin, ini kado dari kita berdua,” sambung Akbar sambil memberikan sebuah kado besarnya.

“Makasih ya Bar, kalian emang baik banget,” sambil di terimanya kado itu.

“Eh Rin, si Nicko beneran gak dateng?” tanya Febby.

“Tahu lah Feb, biarin ajalah, mungkin aku udah gak dianggep penting lagi, lagian aku juga udah nggak ngarepin dia dateng,” jawab Arini sambil menekuk wajahnya.

“Udah dong, masa ultah tapi malah cemberut gitu, senyum dikit sih.” sambil dipegang dan diangkatnya dagu Arini.

“Iya, hehe.” Arini tertawa kecil, walau terkesan agak dipaksakan.

“Tapi beneran nih gak mengharap dia dateng, hehe.” tanya Febby menggoda Arini.

“Iya, udah gak butuh dia dateng!” ucap Arini ketus dengan wajah cemberut.

“Bener nih gak pengen aku dateng..? Woy Feb kamu jahat banget sih, masa aku disuruh bawa boneka segede gaban gini sendirian dari bawah.” Terlihat seseorang mulai memasuki pintu, sambil tampak tergopoh-gopoh membawa sebuah boneka beruang raksasa yang hampir menutupi setengah badannya.

“Nicko…?” ucap Arini lirih sambil menengokkan wajahnya ke arah Febby.

“Hihi, kue ini juga Nicko kok yang beli, aku cuma bantu bawainnya ke atas.” ucap Febby menyengir kearah Arini.

“Feb…kalian…hiks…” Arini tak sanggup meneruskan ucapannya, tangannya mengulur memeluk Febby

“Kalian ngerjain aku ya.?” ucap Arini tersedu di pelukan Febby.

“Bukan ngerjain, tapi surprise. Udah…udah, masa pangerannya dateng malah mewek sih.” Febby berusaha menenangkan Arini sambil mengelus punggung Arini.

“Rin…,” ucap Nicko setelah meletakkan boneka besar itu di atas meja.

Arini melepaskan pelukannya dari Febby, lalu melangkah mendekati laki-laki yang memanggilnya. Ditatapnya tajam mata pemuda yang kini berdiri di depannya, mata itu, mata yang selalu memberinya ketenangan, mata yang sanggup merontokkan resahnya, mata yang tak pernah memberinya kebohongan.

“Selamat ulang tahun ya..” lanjut Nicko meneruskan ucapannya, sebuah senyuman mengembang dari bibirnya.

Arini hanya diam, masih ditatapnya mata Nicko dengan tajam, sebelum sesaat kemudian…
“Nick…kamu juga jahat banget…hiks,” ujarnya sambil menghambur memeluk sosok yang berdiri di depannya.

Ditumpahkannya segala kerisauan yang memenuhi dadanya, ditumpahkan ke dalam pelukan laki-laki yang selalu mau menjadi tumpuan saat dirinya rapuh dan lemah, laki-laki yang selalu mau untuk dibagikan segala lara dan dukanya.

Febby hanya tersenyum, bahagia rasanya melihat dua sahabatnya selalu mesra seperti ini, waktu seperti tak mampu melunturkan rasa di antara mereka. Arini semakin mendekap erat lengan Nicko yang berdiri disampingnya. Malam itu mereka habiskan dengan bercanda ria bersama, saling membagi bahagia.

Bercerita, tersenyum, tertawa bersama, melupakan sejenak segala permasalahan dan duka yang ada. Mengenang saat-saat indah saat masih bersama di Jakarta dulu sampai akhirnya terdampar bersama di kota Semarang sekarang, bercerita tentang rencana-rencana, tentang cita-cita di masa depan, dan apapun yang bisa mereka ceritakan.

Saat ini seakan ingin waktu tak segera cepat berlalu. Tapi bagaimanapun juga waktu akan terus berputar, bagai roda nasib manusia yang slalu berputar tapi tak tau akan menuju kemana.

***

“Eh say, udah ya kita pulang dulu.” pamit Febby setelah dirasa waktunya untuk pulang dari kos-kosan Arini.

“Buru-buru amat sih Feb, nginep sini aja napa?” Tolak Arini ketika Febby pamit pulang.

“Udah malem Rin, udah pagi malahan, lagian kita juga gak mau ganggu pasangan yang lagi merayakan hari spesial, siapa tahu habis ini masih ada hadiah tambahan, hehe.” lanjut Arini

“Ih, apaan sih Feb.”
“Ayo, beb pulang,” ucap Febby sambil menarik tangan Akbar.

“Yaudah deh, hati-hati ya.” balas Arinj.

“Sekali lagi selamat ulang tahun ya say,” ucap Febby sambil cipika-cipiki dengan Arini.

“Iya, Feb, makasih banget, kamu emang sahabat terbaik kita.” ucap Arini sambil menahan pelukannya.

“Selamat ulang tahun ya Rin,” Akbar menambahkan.

“Makasih ya Bar. Inget jagain terus Febby.” Balas Arink kepada Akbar.

“Sip, tenang aja,” jawab Akbar sambil mengacungkan jempolnya.

“Udah ah yuk beb, bye Arini, Nicko,” ujar Febby sambil menggandeng tangan kekasihnya melangkah menuju pintu.

“Sekali lagi makasih ya Feb.” ucap Arini.

“Sippp…” ucap Febby sambil melangkah keluar, lalu hilang bersama di tutupnya pintu kamar kost Arini.

Kini mereka hanya berdua, Arini beranjak menghampiri kekasihnya yang duduk di kursi, lalu ikut mendudukkan badannya di samping lelaki itu. Dilingkarkan tanganya di lengan sang kekasih sambil menyandarkan kepala di pundak Nicko.

“Nick, maaf ya, aku udah mikir yang nggak-nggak, kukira kamu lupa sama ulang tahun aku” ucap Arini pelan.

Nicko hanya tersenyum kecil, direngkuhnya kepala yang bersandar di pundaknya ke dalam pelukan, di ciumnya kening wanita itu dengan penuh sayang.

“Rin, selama kita menjalin hubungan apa aku pernah sekalipun melupakan ulang tahunmu?”

“Ya gak sih, tapi kan siapa tahu.”

“Hehe, bener juga ya, untung tadi Febby ngingetin, kalau gak bisa kelupaan aku.”

“Tu kan bener,” rajuk Arini sambil bangkit dari tempatnya bersandar dan menghujani kekasihnya itu dengan cubitan.

“Haha, ampun, ampun Rin.” ucap Nicko sambil menangkis setiap cubitan yang datang padanya.

“Biarin aja, siapa suruh lupa sama ulang tahun aku,” kembali digembungkan pipinya yang selalu tampak menggemaskan.

“Becanda kok becanda, tanya aja sama Febby, mungkin aku akan lupa sama ulang tahun aku sendiri sebelum lupa sama ulang tahun kamu.”

“Bener?”

“Beneraan.. Suerrr..!!” Nicko mengacungkan dua jarinya.

“Awas kalau bohong.”

“Iya. Enggak.”

“Nick, aku sayang banget sama kamu,” kata Arini dengan manja lalu kembali menyandarkan kepalanya di pundak sang kekasih.

“Aku juga sayang kamu.” sambil kembali di cium mesra kening gadis yang bersandar di badannya.

“Nick, aku kangen saat-saat kita pas masih di Jakarta dulu.”

“Aku juga.”

“Hehe, indah banget ya saat itu.”

“Gak juga, semua tempat punya keindahannya sendiri.”

“Tapi tidak di Semarang.”

“Kamu tahu, ada satu persamaan antara di Semarang dan Jakarta.”

“Apa?”

“Bahwa kita masih melihat matahari yang sama.”

“Maksudmu…?”

Nicko melihat ke arah jam tangannya, lalu berkata, “Tunggu sebentar lagi.”

Beberapa saat kemudian Nicko menarik tangan Arini berdiri, “Ayo!!”

“Kemana?”

“Udah, ikut aja.”

Nicko menarik tangan kekasihnya ke balkon kamar kostnya di lantai 3 itu, menyandarkan telapak tangan Arini di pagar kecil yang menjadi penghalang balkon, lalu memeluk kekasihnya itu dari belakang.

“Lihat di sana,” ucap Nicko sambil menunjuk langit timur.

“Apa?”

“Udah, lihat terus aja.”

Langit masih tampak terlihat hitam, tak ada yang bisa dilihat di sana. Sampai perlahan setitik sinar mulai muncul di sana, lalu perlahan setitik sinar itu mulai merekah, menjadi guratan-guratan yang menjalar di langit fajar.

Dan perlahan matahari pagi mulai menampakkan dirinya. Menyapukan warna kemerahan di ufuk timur langit pagi kota Semarang. Seakan memberitahukan bahwa akan ada pagi setelah malam dan akan terbit terang setelah gelap.

Cahayanya redup, masih sangat lembut bercampur dengan udara pagi yang masih sangat sejuk. Seakan memberi harapan baru untuk jiwa-jiwa lelah yang hampir menyerah.

“Sayaang, indah banget.”

“Itu matahari yang sama, dengan yang kita lihat di Jakarta.” ucap Nicko sambil melingkarkan tangannya di perut Arini.

“Selama aku tinggal disini, baru kali ini aku melihatnya.”

“Ya karena kamu selalu bangun kesiangan, hehe” ujar Nicko yang mengetahui kebiasaan buruk kekasihnya ini.

“Ihh… Masih aja deh..!” Arini mencubit tangan yang kini sedang memeluk tubuhnya.

“Indah kan?” ucap Nicko lalu meletakkan dagunya di pundak Arini, hingga kini pipi mereka bersentuhan.

“Iya, indah, banget.” jawab Arini sambil menatap nanar keindahan alam yang berada di depannya.

Sementara mentari perlahan mulai naik memperlihatkan bentuk aslinya, menyinari atap-atap rumah. Membagi cahayanya pada seluruh alam, menyiram kota ini dengan warna jingga kemerahan yang meneduhkan jiwa.

Arini diam tertegun. Kekasihnya benar, itu adalah matahari yang sama, dimanapun sama. Entah mengapa, namun melihat matahari terbit selalu bisa menggetarkan hatinya, seakan dia terhipnotis dalam kemegahan, jatuh dalam sebuah pelukan Yang Maha Besar.

“Nicko.”

“Iya..”

“Apakah semua kisah kita ini nyata?”

“Aku juga nggak tahu.”

“Apakah kita bisa terus sama-sama selamanya?”

“Mungkin,” ucap Nicko pendek sambil mencium pipi kekasihnya.

“Nick, gimana kalau nanti aku mati atau meninggalkanmu lebih dulu.” tiba-tiba Arini menanyakan sesuatu yang terasa aneh di telinga Nicko.

“Aku akan sedih banget pastinya, tapi aku akan melanjutkan hidupku,” jawab Nicko tenang.

“Apa kamu tidak akan kehilangan aku?”

“Kan tadi aku udah bilang kalo aku bakalan sedih banget, aku sampai nggak mau membayangkannya. Aku pasti akan kehilangan, karena aku merasa kamu sudah menjadi separuh bagian dari hidupku.”

“Lalu kenapa?”

“Karena semua yang hidup pasti akan mati. Seratus atau duaratus tahun semua sama saja, akan berakhir di satu titik yang sama. Dan aku juga tahu, andai kamu pergi lebih dulu, kamu akan tetap setia menungguku disana, diseberang jembatan pelangi, menungguku dengan sebuah senyuman manismu, karena aku tahu bahwa semua orang akan mengalaminya, hanya tinggal menunggu waktu saja. Jangan takut mati, kalau kamu ngerasa hidup sekarang. Tak ada yang abadi disini Rin, tapi ada yang abadi di sana.” ucap Nicko mencoba berpuitis.

“Hihihi, kamu sok puitis deh! Tapi yang kamu bilang benar Nick.” ucap Arini sambil tertawa ringan.

“Kenapa malah ketawa.”

“Karena setiap ucapanmu selalu terasa masuk akal buat aku.”

“Lalu bagaimana kalau aku yang mati atau meninggalkanmu lebih dulu,” Nicko balik bertanya.

“Aku juga akan melanjutkan hidupku, karena aku juga tahu kamu akan menungguku disana.”

“Janji, saling menunggu?” tanya Nicko sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

“Janji, hihi.” sahut Arini sambil mengaitkan jari kelingkingnya juga di jari Nicko.

***

Matahari merangkak semakin menampakkan wujud sempurnanya, menyinari dunia dengan cahaya yang mulai menghidupkan kembali deru kehidupan kota. Udara mulai menghangat menggantikan sejuknya hawa pagi.

Malam telah berakhir, tapi di sebuah balkon lantai tiga di bilangan Utara Jakarta, kemesraan belum berakhir. Sepasang kekasih masih tampak menikmati keindahan pagi yang ceria, karena di hati mereka yang saat ini sedang penuh dengan cinta.

“Nicko, aku sayang kamu” Arini menolehkan wajahnya kesamping dan kemudian bibir mereka saling beradu, melumatkan segala perasaan sayang dan cinta menjadi satu sehingga kekuatannya tidak akan pernah dapat diruntuhkan.

Membuat mereka yang merasakannya tidak akan pernah menyesali atas apa yang mereka telah, sedang, dan akan lakukan, asalkan mereka terus bersama.

Bibir dan lidah mereka berdua terus membelit satu sama lain, berusaha menumpahkan hasrat mereka pada pagi ini. Perlahan Nicko mulai membelai punggung Arini dan kedua tangannya bergerak turun menggapai ujung kaus yang dikenakan Arini dan mulai mengangkat keatas berusaha melepasnya.

Sesaat ciuman mereka terlepas, memberikan jalan kepada tindakan Nicko melepaskan kaus yang dikenakan Arini. Setelah kausnya terlepas, Arini langsung kembali berusaha mencium bibir Nicko kembali, kali ini dengan lebih liar dari sebelumnya.

“Sluuurps…slurrpss..sluurps” suara kecipak liur mereka berdua sampai terdengar karena ciuman mereka semakin panas di tengah pagi yang hangat ini.

Nicko yang mengerti jika gadis yang berada di pelukannya ini menginginkan lebih, segera meremas kedua payudara Arini yang tidak terbungkus bra karena memang Arini tidak memakai bra dibalik kausnya, Nicko meremas dengan gerakan lembut namun intens menaikkan rangsangan yang dirasakan Arini.

“Aachh…ii..yeaashhh…sayaang… remas begituu lagiihh…” desah Arini merespon remasan Nicko di payudaranya.

“Hehe.. Kamu nakal yaa, udah nggak pake bra aja.” sindir Nicko kepada Arini sambil tersenyum mengejek.

Karena ciuman mereka berdua terlepas akibat desahan Arini barusan. Nicko kemudian mengarahkan mulutnya turun untuk sekarang melumat kedua payudara Arini yang bulat kencang namun tidak begitu besar ini, ukurannya pas dengan tubuhnya yang mungil ini.

Nicko secara bergantian mengulum kedua puting Arini sambil terus meremas lembut keduanya. Mereka berdua masih berada di atas balkon saat ini, tak lagi terpikirkan bahwa mereka berdua sedang berada di ruangan terbuka, karena masing-masing sudah diliputi birahi.

Namun, justru Arini dan Nicko merasakan sensasi lain ketika melakukan ini sambil kedua tubuh mereka diterpa sinar matahari pagi yang semakin menghangatkan birahi mereka.

Setelah Nicko merasa puas menikmati payudara Arini, Nicko lalu membuka pakaiannya sendiri sambil dibantu Arini. Demikian juga Arini, segera dia melepaskan celana yang dikenakannya berikut celana dalamnya.

Saat ini telanjanglah mereka berdua diatas balkon terbuka tanpa tertutupi sehelai benangpun. Tapi itu tidak menyurutkan birahi mereka berdua, Nicko tetap melumat kembali bibir Arini sambil satu tangan meremas payudara dan satu tangan lainnya mulai meraba memek Arin.

Sementara Arini dengan menggunakan tangannya berusaha mengocok kontol Nicko yang memiliki ukuran standard tersebut.

Lumatan dan gerakan tangan yang semakin panas diatas balkon itu akhirnya membawa Arini ke dalam orgasme pertamanya di pagi itu karena intensnya jemari Nicko menggesek klitoris Arini sedari tadi.

Arini nampak menggigil karena merasa geli yang teramat sangat. Kedua kakinya merasa lemas dan tubuhnya langsung didempetkan ke tubuh Nicko bermaksud menopang tubuhnya sendiri yang baru dilanda orgasme.

“Achh…achh..udah Nickk… geliii…” ucap Arini lirih.

Setelah Arini merasa sedikit bisa menguasai tubuhnya, lalu dia mengambil posisi berjongkok di depan kontol Nicko yang sudah mengeras maksimal dan mulai melahapnya.

“Argghh… yeaash.. Hisap Rin.. Enaak saayang..” desah Nicko merasakan kenikmatan hisapan Arini di kontolnya. Arini menatap Nicko sambil terus memberikan hisapan terbaiknya.

Sekitar hampir sepuluh menitan Arini menghisap kontol Nicko di atas balkon dengan dinding pagar setinggi pinggang orang dewasa ini yang sedikit menutupi kegiatan birahi mereka disana.

Kemudian Nicko menarik Arini bangkit dan memposisikannya menungging dengan tangannya ditopangkan di pinggir balkon tersebut. Lalu Nicko mulai memposisikan batang kontolnya di ujung lubang surgawi milik Arini dan segera menggenjotnya.

Matahari sudah nampak mulai meningggi sehingga sinar pagi yang hangat itu sudah menerpa secara keseluruhan kedua tubuh telanjang mereka. Kulit mereka sampai bisa merasakan hangatnya terpaan sinar mentari pagi tersebut, menambah sensasi bercinta mereka di ruangan terbuka seperti ini.

“Plokk…plok…plok…plokk..!!”

“Achhh…achhh…oochhh…” Suara yang lumayan keras dari benturan pinggul Nicko di pantat Arini diiringi desahan mereka berdua, tegas memberikan kesan seberapa mereka menikmati kegiatan persetubuhan mereka kali ini. Sensasi baru yang dirasakan Arini ini, semakin mempercepat gelombang orgasmenya yang datang.

Dan benar saja, tidak lama, dengan posisi yang sama, Arini akhirnya mendapatkan orgasmenya. Karena selain digenjot oleh Nicko dengan kecepatan yang intens, Nicko juga merangsang klitorisnya secara bersamaan. Mendapat rangsangan seperti itu oleh kekasihnya, jelas Arini tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

“AAACHH….Akuu sampee Niickk…oohhh…” Racau Arini berbarengan dengan meledaknya memeknya itu yang ditandai dengan semakin banjirnya lubang kenikmatannya karena cairan cintanya yang sedikit menyemprot tadi.

Nicko kemudian melambatkan gerakannya, kontolnya dapat merasakan kedutan dinding lubang surgawi Arini tersebut. Perlahan ditariknya tubuh Arini mendekap tubuhnya, dan memeluknya dengan erat sambil menciumi bibir seksi Arini tersebut.

Namun tidak lama, tubuh Arini diangkatnya sehingga posisinya seperti Nicko sedang menggendong Arini, dan menempelkan tubuh Arini ke dinding pembatas yang ada disisi kanannya. Ketika posisinya dirasa pas, Nicko segera memasukkan kembali kontolnya ke memek Arini.

Setelah masuk, Nicko langsung menggenjot Arini yang digendongnya itu dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya. Tangan Arini dirangkulkan di leher Nicko untuk menjaga posisinya tetap nyaman.

Sementara tangan Nicko memegang bokong Arini, dan menahan di posisi yang menurutnya pas, sehingga kontolnya bisa leluasa menggenjot memek kekasihnya tersebut.

Dengan bibir dan mulut mereka saling bertaut, dan sodokan yang tetap intens. Nicko merasa pejuhnya sudah terkumpul dan segera memuncrat. Lalu Nicko menurunkan Arini dengan cepat, dan Arini segera mengambil posisi berjongkok di hadapan Nicko sambil memposisikan mulutnya tepat di depan kontol kekasihnya itu.

Nicko langsung mengocok kontolnya dengan cepat, sementara Arini yang dalam posisi berjongkok juga sambil memainkan klitoriisnya sendiri dengan tangan kanannya.

“Croott…croottt..crooot…!!”

“Aaargghhh….Yeaaassh…oouugghh..!!!” Semburan pejuh Nicko memancar banyak dan kental ke mulut Arini, sebagian jatuh melumuri wajah cantiknya.

Lalu Arini dengan sigap meraih kontol itu dan melahap serta menghisapnya sehingga semakin memberikan sensasi geli yang luar biasa di batang kontol Nicko. Sementara Arini, yang masih melumat batang kontol dan menghisap sisa-sisa pejuh Nicko, semakin mempercepat gesekan di klitorisnya sendiri karena diapun juga merasakan akkan segera sampai.

“Creett…creett..creet..!” semburan kecil di memeknya akhirnya dia rasakan.

Lalu dia mengusap lendir cintanya sendiri dengan tangannya, dan lalu mengusap lelehan pejuh yang ada di wajahnya lalu memasukan ke dalam mulutnya dan menghisap campuran sisa-sisa cairan cintanya sendiri dan pejuh Nicko di tangannya.

Nicko yang melihat itu, merasa senang, karena wanitanya itu ternyata dapat menikmati persetubuhan ini sampai tetes terakhirnya. Nicko menyadari, jika Arini adalah wanita pecinta ngentot yang ulung. Permainannya sangat selalu bisa memberikan kepuasan kepadanya.

Kemudian mereka berdua saling berpelukan, sambil meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka kayuh sambil diterpa matahari yang semakin panas cahaya paginya. Lalu Nicko menuntun Arini untuk masuk kedalam kamar, dan merebahkan tubuh mereka berdua diatas ranjang kamar itu.

Dan masuk ke dalam selimut setelah sebelumnya menyalakan pendingin ruangan terlebih dahulu. Tidak sempat lagi mereka membersihkan tubuh mereka yang tadi dibanjiri keringat dan lendir, mereka langsung merebah diatas ranjang dan masih berpelukan.

Nicko berbaring terlentang sedangkan Arini tidur bersandar dadanya. Tangan lelaki itu mendekap sambil membelai-belai rambut gadis di sampingnya. Sebuah belaian mesra, penuh rasa cinta.

Di luar, matahari pagi semakin beranjak tinggi. Menyinari dunia dengan sebuah cahaya hangat yang seakan memberi warna dan semangat baru bagi semua yang bernyawa. Membuka dan menutup lembar demi lembar perjalanan waktu. Kisah panjang dunia, kisah panjang garis takdir manusia.

“Nick, semoga kisah cinta kita ini tidak cepat berakhir.” ucap Arini sambil menyandarkan kepalanya di dada Nicko.

“Tapi semua kisah pasti akan ada akhir Rin, seperti matahari yang sinarnya akan berakhir ketika menjelang senja.” jawab Nicko tenang sambil menatap kosong langit-langit kamar.

“Tapi aku belum bisa Nick, aku terlalu sayang sama kamu.”

“Iya. Aku tahu, aku juga,” balas Nicko sambil mencium kening Arini, ditariknya semakin rapat selimut yang membungkus tubuh telanjang mereka berdua yang tidak mengetahui ternyata takdir yang nantinya akan memisahkan mereka berdua dan mengharuskan menjalani kehidupannya masing-masing, namun tetap percaya bahwa sinar matahari yang sama, akan terus menyinari jalan hidup mereka walau berada di sisi yang berbeda.

[FLASBACK END]
Bersambung