Natalie’s Story Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat
“Sahabat, dan sebuah fantasy”​

Jumat pagi itu aku pergi ke stasiun untuk menunggu kedatangan temanku saat di Jakarta dulu. Ricko adalah seorang pemuda keturunan Chinese berusia 31 tahun sebaya denganku, tinggi 185 cm dengan berat 87 kg.

Di jakarta aku dan Ricko adalah sahabat yang cukup dekat. Dan kami saling mengetahui rahasia-rahasia yang ada diantara kami. Termasuk selera wanita kami, kami berdua mempunyai selera yang sama.

Yaitu wanita yang mempunyai tubuh montok alias BBW (Big Beautiful Woman). Bahkan kami tau ukuran senjata kami masing-masing, waktu itu ketika kami bertaruh siapa punya lebih besar. Oke, untuk ini aku mengaku kalah, senjata Ricko lebih panjang 3cm dari kepunyaanku…

Oh iya, perkenalkan namaku sendiri Nicko, umur 31 tahun, tinggi 169cm dengan berat 65kg. Kebetulan nasib yang memberiku kesempatan mempunyai isteri yang sesuai dengan seleraku itu. Sedangkan Ricko sampai saat ini masih saja melajang. Belum ketemu yang sesuai dengan kriterianya, katanya.

Istriku sendiri bernama Natalie yang memiliki spek tubuh sesuai dengan wanita impianku. Umur 24tahun, tinggi sekitar 165cm, ukuran dada 40B. Namun untuk berat badannya sampai saat ini aku sendiri belum tau. Tapi yang jelas, montok abiss… hehehe

Ricko sahabatku ini kebetulan sedang ada bisnis di kota S. setelah urusan selesai ia berniat mampir ketempatku karena kebetulan tidak jauh hanya satu jam menggunakan kereta api. Aku menunggunya di area merokok, sampai tak lama berselang kulihat sosok yang kukenal.

Aku melambai, ia melihat dan tersenyum. Bergegas kami mendekat dan berangkulan. Maklum sudah lima tahun kami berpisah. Di perjalanan menuju rumahku kami banyak bercerita tentang masa lalu, dan sedikit membahas tentang istriku.

“Lo asli beruntung banget dapet si Natalie, Nick! Gue nyari-nyaari yang kayak model istri lo sampe sekarang belom ketemu juga. hahaha”

” Haha sial lo, namanya rejeki anak sholeh tau”

Begitulah sedikit candaan kami ketika membahas istriku. Memang ketika pertama kali dia kukenalkan kepada istriku waktu kami masih berstatus pacaran, dia sedikit menunjukkan ketertarikan kepada istriku. Aku tidak pernah berpikir ketertarikan macam apa yang dimiliki oleh sahabatku ini kepada istriku. Hanya mungkin kagum saja menurutku.

Jam 11.30 siang akhirnya kami tiba di rumahku, dan ketika dia melihat istriku matanya menjunjukkan kekaguman yang sangat terlihat. Seperti di awal aku ceritakan, bahwa Ricko beberapa kali pernah bertemu dengan istriku di beberapa kesempatan.

Tapi ketika akhirnya bertemu lagi hari ini, ketika istriku membukakan pintu untuk kami, Natalie hanya mengenakan pakaian rumah seadanya.

“Hallo Nat, apa kabar? Makin semok aja nih bini nya Nicko.” Sapanya kepada istriku.

“Haha. Kurang asem kamu Rick, baru ketemu langsung ngeledek.” sahut istriku.

“Ya udah, masuk dulu yuk. Ngobrolnya nanti lagi aja di dalem.” ucapku menyela obrolan mereka.

Aku dan istriku sudah hampir satu tahun menikah, dan sampai sekarang memang belum dikaruniai buah hati. Aku anggap saja ini sebagai kesempatan yang diberikan Tuhan untuk kami berdua “pacaran” lagi. Selain memang aku pikir kami belum begitu mapan secara ekonomi.

“Wah kalian ini payah, masa udah lama kawin belum punya anak , gimana sih lo Nick!“ sindirnya padaku.

Aku hanya nyengir; “Belum dikasih Rick, yah sabar ajalah.” kataku membela diri.

“Biar bisa berduaan dulu terus Rick, ntar kalo udah punya anak waktu berduaan jadi makin susah.” kata istriku menambahkan.

“Nah, justru makin banyak waktu berduaan makin banyak waktu buat bikin anak.”

“Apa perlu gue bantuin nih?” kelakar Ricko sambil menatap kami berdua.

“Wah kampret lo Rick! Hahaha”

“Tapi terserah Natalie lah, kalo dia mao terima bantuan lo, gue bisa apa? hahaha” jawabku spontan merespon gurauan sahabatku ini. Entah apa yang aku pikirkan sehingga aku bisa mengucapkan hal itu.

“Nah, tuh Nat. Laki lo udah ngijinin buat gue bantuin kalian bikin anak tuh.” cerocos Ricko kepada istriku.

“Lah, apaan sih Papih ini. Pada stress dah kalian berdua.” Jawab istriku. Namun kulihat ketika istriku menjawab candaan Ricko sahabatku, wajahnya manisnya justru terlihat tersipu malu.

Memang pada dasarnya aku sendiri memiliki fantasi terpendam untuk bisa melihat istriku digarap laki-laki lain. Bahkan melakukan Threesome dengan orang lain. Aku dan laki-laki itu bersama-sama menggarap istriku.

Tapi ini benar-benar fantasi terpendamku saja. Memang beberapa kali aku pernah mengutarakan fantasiku ini kepada istriku pada saat kami ML hanya untuk menambah sensasi bercinta kami. Dan aku sendiri pasti menjadi semakin bernafsu pastinya ketika bercinta dengan istriku sambil membayangkan ada seorang pria lain bersama-sama menggarap istriku.

Pernah ketika pada saat kami bercinta, sambil menggenjot tubuh montok istriku ini, aku memasukan jariku ke mulutnya sambil berkata untuk dia membayangkan sedang menghisap penis kedua. Pada saat itu justru istriku merespon dengan menghisap dan menjilati jari yang aku sodorkan ke mulutnya dengan penuh napsu. Sambil suara desahannya semakin menjadi.

Aku yang melihat hal itu malah semakin menaikkan napsuku, dan genjotannku di vagina istriku makin kupercepat. Yang aku suka dari vagina istriku, karna tubuhnya yang montok itu, otomatis cengkraman lobang vagina nya sangat terasa menjepit batang kejantananku.

Hanya saja ketika spermaku berhasil menyemprot ke dalam vagina istriku, walaupun sudah aku benamkan sedalam mungkin ketika aku klimaks. Seketika spermaku langsung meluber keluar dari vagina istriku.

Kadang hal ini yang membuat aku berpikir, apa spermaku tidak cukup bisa merangsek ke rahim istriku karena panjang penisku tidak cukup panjang mencapai rahim istriku itu mengingat postur istriku yaang BBW. Sehingga ini yaang menyebabkan istriku sulit mengandung…. Entah lah…

“Keakraban Kami; Dia Melihatnya!”​

Malamnya setelah kami selesai makan malam aku, istriku dan Ricko keluar menikmati suasana kota S bagian atas pada malam hari. Banyak hal juga yang obrolkan, lebih banyak tentang kehidupan asmara Ricko dan sesekali membahas kehidupan perkawinanku dengan Natalie.

“Aku tuh bukannya nggak ada cewe yang ngejar-ngejar aku. Tapi emang belom ada yang cocok aja.” bela Ricko ketika kami berdua mencoba mengejek kesendirian sahabatku ini.

“Emang cewe yang kayak gimana sih Rick yang kamu cari?” tanya istriku penasaran.

“Hhmmm…mm…”

“Kayak kamu Nat!”

“Yang mukanya chubby-chubby manis gitu, terus yang bodinya bikin enak kalo dipeluk. Yang bikin betah kalo dikelonin. Hehehehe” jawab Ricko sambil melirikku dengan ekspresi iseng menggoda kami berdua.

“Ahhh…. Kamu ini senengnya ngeledek aku terus.”

“Pih, liat tuh kelakuan temenmu. Masa istri temennya sendiri diledek mulu kayak gitu”

“Udah malah pake acara nggombal lagi!” jawab istriku merajuk sambil menggembungkan pipinya yang chubby itu. Sungguh manis sekali ekspresi wajah istriku itu ketika digoda oleh sahabatku ini.

“Hahaha… Kamu malah kayak gitu ekspresinya kok mih. Gombal-able banget emang kok, iya gak Rick?” balasku justru malah untuk menggoda istriku.

“Bener banget lo Nick! Bukan salah gue dong ya kalo deket-deket bini lo, hawanya pengen muji dia terus” Sambung Ricko menyetujui pernyataanku.

Sampai sisa malam kami bertiha nongkrong bersama, istriku hanya menjadi bahan candaan kami berdua. Dan dia juga meresponi candaan kami berdua, bahkan sesekali istriku mulai berani kontak fisik dengan Ricko sahabatku. Entah itu mencubit lengan ataupun perutnya dan menjitak ringan kepala Ricko untuk membalas keisengan Ricko.

Aku yang melihat mereka berdua yang mulai akrab bukannya marah atau cemburu, tapi malah ikut tersenyum dengan tulus. Tidak ada sedikit perasaan negatif apapun sama sekali. Yaa… Biasa aja gitu ngeliatnya… Ikut happy aja ngerasain keakraban kami. Memang aku dan Ricko dari dulu sudah sangat akrab, bahkan bisa dibilang kami sangat dekat. Jadi melihat istriku juga akhirnya akrab dengan sahabatku ini, aku senang-senang saja.

Sekitar jam 10an setelah puas berkeliling dan mengobrol, kami pun pulang. Di perjalanan saat kami pulang, ketika kami melintas di salah satu jalan tempat ramai anak muda sedang berkumpul. Di depan mobil kami melintas sebuah sepeda motor yang ditumpangi sepasang muda – mudi, mungkin mereka sedang pacaran pikirku.

Yang membuat kami terkejut adalah bokong si perempuan yang dibonceng di belakang sangat terekspos dengan frontalnya. Sedikit banyak bokong wanita itu mirip dengan bokong istriku yang besar itu.

Cukup lama posisi pasangan tersebut dengan sepeda motornya berada tepat di depan kami, karena jalanan cukup padat pada saat itu. Mau tidak mau, kami bertiga cukup lama menyaksikan pemandangan bokong wanita tersebut.

“Anjing Nick, liat tuh cewek bodinya mantep bener!” teriak Ricko sangat antusias.

“Iye liat juga gue, biasa aja dong ngeliatnya.” jawabku santai tidak mau terlihat sama antusiasnya dengan Ricko, mengingat di jok belakang ada istriku.

“Gue mah udah punya.” lanjutku.

“Maksudnya?” sahut Ricko sambil menatapku.

“Tuh, punya bini gue lebih mantep malahan” kataku sambil sedikit menengok ke belakang.

“Hahaha sial lo! Lo sih enak, udah punya bini spek semok, alias sexy dan montok. Bisa ngerasain tiap hari, Lah gue?” Seloroh Ricko menanggapi ucapanku.

“Kalo aja lo gak ada di sini, udeh gue……” ucap Ricko sengaja menggantung perkataannya sambil melihat istriku di belakang.

Istriku yang sadar dirinya kembali menjadi bahan candaan kami langsung melototkan matanya tapi dengan ekspresi khas merajuknya sambil mencubit perut kami berdua dengaan cukup kencang.

“Kaliaaan berduaaaa yaa!! Pada edan beneran kayaknya! Malah aku yang jadi sasaran. Sana kalo berani, cewek di depan digodain sana! Jangan nggodain aku mulu bisanya!” Ucap istriku sambil mencubit pinggang kami berdua.

“Aduuuh..duh…duh… Ampun Nat!! Cuma bercanda kali” ucap Ricko sambil meringis kesakitan.

Karena kuakui, cubitan tadi cukup kencang dan sakit kurasa. Mungkin karena istriku benar-benar gemas kepada kami berdua yang sedari tadi menjahilinya dengan candaan-candaan kami. Aku hanya tertawa melihat keributan kecil yang terjadi di dalam mobil ini.

“Si Papih nih juga, liat istrinya digodain orang lain malah ketawa-ketawa. Emangnya seneng ya kalo istrinya digodain cowok lain?” jawab istriku sambil melihatku dengan tatapan yang entah kenapa seperti tersirat sesuatu.

“Eh Nat, gue sama Nicko tuh dari dulu udah sering saling berbagi apa yang kita punya… Jadi gue rasa kayaknya kalo gue pengen sama kamu juga, dia juga bakalan ngasih tau gak?” ucap Ricko tak tau aturan.

“Eh, si kampret… Lo kira bini gue sepeda motor supra butut gue dulu yang sering lo pinjem buat jualan ayam potong! Sembarangan aja lo kalo ngomong…” Ucapku sambil menoyor pelan kepalanya.

“Hahahahaha…. Becanda broo….” sahutnya sambil tertawa mendengar jawabanku.

Dulu memang kami sebegitu dekatnya sehingga kami saling mensupport dalam hal apapun. Termasuk ketika dia memulai bisnis kecil-kecilannya dalam menjual ayam potong dengan cara berkeliling dari pasar ke pasar.

Maupun ke pedagang-pedagang ayam goreng dipinggir jalan menggunakan sepeda motorku yang dipinjamnya. Sampai sekarang bisnisnya sukses dan berkembang, kami tetap dekat sebagai sahabat.

Bahkan mungkin lebih dari sekedar sahabat. Dan dia juga tidak pernah melupakan jasaku yang meminjamkannya sepeda motorku ketika dia merintis usaha tersebut. Sampai sekarang, ketika aku masih berjuang juga dan membutuhkan bantuan. Dia akan dengan sangat senang hati membantuku.

“Si papih bisa-bisanya nyamain mamih sama motor butut punya papih dulu yaa…..” celetuk istriku ditengah tertawa kami yang membuat tawa kami berdua semakin menjadi-jadi.

Kemudian pikiranku tiba-tiba melayang memikirkan bagaimana jika aku benar-benar berbagi istriku dengan sahabatku ini. Dimana kami berdua menggarap istriku secara bersamaan. Disaat istriku menghisap kejantananku, disaat yang sama juga kemaluan istriku disodok oleh batang kejantanan Ricko yang aku akui cukup panjang itu.

Dan kami berdua sama-sama menyemprotkan sperma kami kedalam mulut istriku sampai meluber saking banyaknya gabungan volume sperma kental kami. Lalu imajinasiku beralih dimana aku hanya melihat istriku dan sahabatku saja yang saling berpacu dalam desahan kenikmatan.

Sedangkan aku hanya melihat sambil mengocok batang kejantananku. Membayangkan itu saja, tanpa sadar kejantanaanku mengeras ketika aku masih saja menyetir mobil ini.

Dan tiba-tiba lamunan khayalanku itu hilang karena aku dikagetkan oleh teriakan Ricko…

“Nick, ikutin Nick…Ikutin….!!!” cerocosnya dengan sedikit suara yang sedikit lebih keras sambil menepuk-nepuk bahu kiriku.

Kamipun membuntuti perlahan dibelakang motornya, namun ternyata di perempatan depan mereka berbelok arah sementara kami terus lurus “ yah…” ucap Ricko dengan sedikit nada kecewa.

“Hahahaha…. Sukurin kamu Rick, gak jadi dapet mangsa.” istriku gantian mengejek sahabatku yang satu ini.
Istriku terus saja tertawa sambil menggoda Ricko yang sekarang terlihat kecewa karena ‘pemandangan indahnya’ sudah hilang di perempatan tadi.

“Seneng ya kamu Nat, liat gue sedih.” kata Ricko meresponi istriku yang terus saja cekikikan mengingat kejadian tadi dan ekspresi lucu kekecewaannya.

“Awas kamu hati-hati ya, nanti kamu yang gue mangsa. Baru tau rasa kamu!” ucap Ricko sambil berakting menakut-nakuti istriku.

“Haahaahaha… Duuhhh…. akuuu takuuuuttt…!” jawab istriku dengan mimik mukanya yang dibuat-buat.

Aku hanya menggeleng-gelengkaan kepalaku saja melihat kelakuan istri dan sahabatku ini.

Akhirnya tak berapa lama sampai di rumah, sebentar kami menonton tv, sambil meminum kopi dan merokok kami berdua masih mengobrole sementara istriku pamit ke dalam kamar untuk ganti baju katanya.

Sebelum beranjak ke dalam kamar, istriku masih sempat menggoda Ricko sambil berkata; “Dah ya, aku pamit ganti baju dulu. Kalian lanjut ngobrol aja. Rick, awas kamu nanti kalo tidur jangan sampe ngebayangin cewek bahenol yang tadi ya… Nanti sprei kamar tamuku susah nyucinya. hahahahha…” Ucap istriku tertawa menjahili sahabatku sebelum masuk ke dalam kamar.

“Kurang asem kamu Nat. Temen suamimu lagi bete gini malah diledekin.” sahut Ricko sambil mengangkat tutup gelas berpura-pura ingin melempar kearah istriku.

Beberapa saat setelah kami berdua ngobrol singkat. Aku akhirnya ijin pamit ke dalam kamar kepada sahabatku dengan alasan ingin tidur. Ricko tidak langsung masuk ke kamarnya ketika aku beranjak ke kamarku, mungkin dia mau melanjutkan menonton acara tv pikirku.

Ketika aku masuk ke dalam kamar, kulihat istriku masih belum tidur karena dia masih bermain handphone miliknya, mungkin sedang mengecek sosial media miliknya. Aku langsung rebahan di sebelah istriku sambil menarik istriku ke dalam pelukanku.

“Loh, si Ricko kamu tinggal sendirian di depan pih?” tanya istriku.

“Iya, aku mau tiduran sambil meluk kamu soalnya.” jawabku sambil mengeratkan pelukanku pada istriku.

Istriku hanya tersenyum, sambil juga memelukku. Dalam pelukan itu, sesekali aku meremas pantatnya yang montok itu. Istriku hanya merespon dengan sesekali menjauhkan tanganku dari pantatnya.

Kemudian aku mulai menciumi leher istriku sehingga membuat istriku merubah posisi menjadi terlentang menerima pasrah cumbuanku.

“ahchh….hmmph…” suara desahannya terdengar lirih.

Ciumanku terus merambat turun keatas payudara brutal milik istriku ini sambil aku menurunkan dasternya sedikit ke arah perutnya. Aku jilati payudara sebelah kanan istriku sambil meremas payudara sebelah kirinya.

Setelah beberapa saat kurasakan puting payudara istriku mengeras, aku alihkan tangan kananku ke mulutnya. Aku masukan jari tengah dan telunjukku ke dalam mulutnya sambil aku gerakkan keluar-masuk.

Ternyata istriku meresponi gerakan tanganku itu dengan memegang sambil menghisap dan menjilat jari yang kumasukkan ke dalam mulutnya itu. Aku semakin terangsang mendengar desahan istriku yang keluar sambil terus mengemuti jari tanganku.

“Hisap terus sayang, kontolnya Ricko hisap terus.” aku tiba-tiba mengucapkan kata-kata vulgar kepada istriku dengan maksud memancing imajinasi istriku.

Ternyata istriku merespon dengan cukup atraktif kali ini.

“Ahhchhh… Slurrpppshh….” suara hisapannya di jariku yang semakin basah dengan air liurnya terdengar seksi menurutku.

Aku tetap melanjutkan memainkan payudara istriku, sambil memelorotkan dasternya semakin ke bawah, sampai terpampang vagina milik istriku. Aku kemudian mengarahkan tangan kiriku yang sedang menganggur ke arah vagina istriku sambil mengelus pelan klitorisnya.

Ternyata vagina istriku sudah cukup basah, tanganku semakin cepat menggesek klitoris istriku sampai akhirnya istriku mendapatkan orgasmenya.

“Aaahhh…. Aku dapat sayang…” ucap istriku mendesah sambil tangannya memegan erat tangan kananku di depan mulutnya.

“Tunggu bentar mih.” Ucapku sambil bergegas berdiri dari kasurku menuju laci tempat dimana aku menyimpan dildo yang pernah kuberikan kepada istriku sebagai hadiah ketika kami masih pacaran dengan status LDR.

Dengan maksud untuk dipakainya ketika sedang horny namun aku tidak ada disampingnya. Yang menurut pengakuannya belum pernah dipakai sekalipun olehnya.

“Ihh, ngapain pake itu sih papih” ucap istriku ketika aku mengetahui bahwa aku sedang mengambil dildo di laci kami.

Memang istriku selalu menolak ketika aku ingin menggunakan dildo dalam aktifitas seksual kami, tapi kali ini aku sangat ingin mencobanya kepada istriku.

“Aku mau coba pake ini, udah kamu diem aja. Nikmatin aja coba ya..mih…” kataku kepada istriku ketika melihat keengganan istriku bercinta sambil menggunakan alat bantu seksual.

Kemudian aku melepaskan seluruh pakaian yang melekat di badanku, batang kejantananku yang sudah sangat keras sedari tadi mengacung ke arah istriku dengan gagah. Lalu aku beranjak ke tempat tidur menghampiri istriku dan menyodorkan batang kejantananku ke mulut istriku dengan maksud supaya dia mengoral batangku.

“Hisap mih!” perintahku kepadanya

Kemudian istriku memasukan batang kejantananku kedalam mulutnya dan mulai menjilat ujung batangku terlebih dahulu. Lalu dengan perlahan dan lembut istriku mulaai menghisap batangku itu. Seperti biasanya, aku merasakan kenikmatan oralnya di penisku ini. Merem melek aku menahan kenikmatan ini.

“Ahh… Enaaaak mih…” desahku menikmati kemampuan oral sex istriku.

Aku mulai mengarahkan dildo yang sedari tadi kupegang ke arah vagina istriku, dan aku menggesek-gesekkan batang dildo itu ke arah belahan vaginanya secara sejajar. Dengan kondisi vaginanya yang sudah basah dan posisi pahanya yang mengangkan lg membentuk huruf M.

Memudahkanku untuk menstimulus vagina istriku meenggunakan dildo tersebut. Semakin aku menggesek dengan sedikit tekanan di atas vagina istriku, kulihat tubuhnya mulai bereaksi, mulai terangsang kembali dia. Pinggulnya mulai bergoyang kiri-kanan mengimbangi gesekan dari dildo yang kumainkan ini. Lalu….

“Ahh..ahhh….hmmpsss” desahnya sambil melepaskan sesaat lalu kemudian lanjut menghisap batang kejantananku.

Aku kemudian menahan kepalanya dan menggerakkan batang kejantananku maju mundur dengan cepat. Sambil istriku tetap mempertahankan kekuatan hisapannya di penisku. Kurasakan kenikmatan yang amat sangat ketika aku melakukan hal itu.

“Haaahh….haaaah….haaah….”

istriku kemudian melepaskan batang kejantananku sambil menarik nafas dalam-dalam beberapa kali dengan tetap mengocok batangku secara perlahan.

Di kesempatan itu, aku mulai memasukan ujung batang dildo itu ke dalam lubang vagina istriku secara perlahan. Istriku mulai mendesah entah menahan nikmat atau merasakan sakit, karena ukuran dildo yang aku pakai ini ukurannya sekitar kurang lebih 20cm. Kumasukan sedikit ujungnya, kemudian kutarik lagi sedikit sambil aku masukkan sedikit demi sedikit dildo tersebut sampai seperempatnya.

“Ahhh…. Pihh…. Ahhh…. Gede pih kontolnya…” istriku meendesah sambil berkata vulgar.

Aku terus menggerakkan dildo tersebut maju mundur, sampai mulai mencapai ukuran setengah kemudian hanya tersisa seperempat ujung pangkal dildo tersebut. Sekarang dildo itu terlihat menancap sempurna di vagina istriku.

Kemudian ku maju-mundurkan lebih cepat dan konstan dildo tersebut dan ternyata mengakibatkan reaksi tubuh istriku terlihat sangat menikmati gesekan batang dildo itu di vaginanya. Aku mulai menyodorkan lagi batang kejantananku ke mulutnya, dan diapun kembali menghisap penisku dengan hisapan yang cukup kuat.

“Kontolnya Ricko gede ya mih?” tanyaku disela-sela aktifitas kami.

“Ahhh… iya pih, gede banget,,,berasa banget di memeknya mamih… ahhh… slurrpssshhh…” jawabnya diantara aktifitas mengoral penisku.

“Ahhh…enaak pihh ternyata kontolnya besar…”

“Teruss pih, yang dalem, yang kenceng….” desah istriku.

“Apanya yang dalem mih?” tanyaku memancing istriku.

“Kontol mainannya pihh…” istriku menjawab.

“Ini bukan kontol mainan mih, ini kontolnya Ricko.” pancingku lagi kepada istriku

Istriku tidak menjawab perkataanku, tapi pinggulnya tetap bergoyang menikmati setiap gesekan dildo di vaginanya. Kemudian aku menghentikan gerakan dildo di tanganku. Tapi pinggul istriku tetap bergoyang mencari kenikmatannya sendiri.

“Apa mih, yang lagi ada di memeknya maamih?” aku memancing reaksi verbal istriku.

Dia tetap tidak menjawab pertanyaanku. Kemudian aku menarik dildo yang ada di lubang vagina istriku.

“Ahhh… Pihh, kok dikeluarin?”

“Masukin lagi pih… ahss..shhhh…”

“Apanya yang dimasukin?” tanyaku

“Itunya masukin lagi,, haashhsshh…” jawab istriku sambil memainkan klitorisnya sendiri, pemandangan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

“Iyaa… Apanya yang dimasukin?”

“Ahh.. Paapihhh…”

“Itu yang mau dimasukin kontolnya si Ricko ya mih?”

“Ahhhss… Iya pih, kontolnya Ricko masukin dong pih..” jawab istriku.

“Suruh Ricko nya sendiri yang masukin kontolnya ke memeknya mamih dong.”

“Ahh… Iyaa Rick, masukkin kontolmu Rick… Masukkin kontolmu yang besar ituuhh.. ahhhs…shhh.. ahhss..” respon istriku sesuai dengan keinginanku.

Tidak mau membuang momen terlalu lama, akhirnya langsung kucolokkan dildo itu ke dalam lubang vagina istriku.

“Kontolnya Ricko udah masuk mih…”

“Ahhhs…. iyaaahh… Kencengin Rick sodokkannya…. aahhss.”

Aku semakin mempercepat sodokan dildo itu ke dalam lubang vagina istriku sampai keseluruhaan dildo itu masuk ke dalam lubang vagina istriku, aku cukup heran tadinya ternyata dildo sepanjang itu bisa masuk seluruhnya, hanya meninggalkan beberapa sentimeter di luarnya.

“Mentoookkhhh… ahhh mentook kontolnya… enaakhh.. ahhhh ahhh ahhh….” Istriku sedikit berteriak ketika mengucapkan itu. Masa bodo kedengeran sampai luar deh.

“Kontolnya Ricko mentok di memeknya mamiihh… pihh..”

“Iyaa mihh, kontolnya Ricko emang gede mih, bisa mentok sampe dalem di memeknya mamih..”

“Enak mih?” tanyaku sambil terus mengocok kemaluan istriku dengan dildo besar itu.

“Bang…eeetthh… pihh…”

“Kontolnya Ricko enaaak baangett…”

“Ahhhss… Teruss Rick, genjot memek aku Rick.. Ahhhs…” Racau istriku menikmatinya.

Tiba-tiba tidak berselang lama, tubuh istriku menegang sambil tangannya berusaha menahan tanganku yang sedang menggerakkan dildo tersebut.

“Aahhhhh…… Dapeettt….!!!” istriku berteriak cukup keras kali ini. Sambil pinggulnya mengejang tanda dia orgasme, ini lebih dahsyat orgasme yang didapat sebelumnya.

Kemudian aku menarik dildo itu dari lubang vagina istriku. Dan kemudian menyodorkan ke mulutnya, maksudku hanya untuk menggoda istriku saja. Tapi ternyata dia malah meraih dildo tersebut dan menghisap dengan liar menurutku.

“Mih, gantian aku masukin ya?” tanyaku

Tanpa menunggu jawaban dari istriku, aku langsung menancapkan batang kejaantananku ke dalam lubang surgawinya. Sambil ku pegang kedua pahanya yang besar itu dan merenggangkannya, aku mulai menggenjot istriku dengan kecepatan tinggi.

Jepitan vagina nya masih sangat terasa setelah tadi kumainkan menggunakan dildo besar itu. Sambil aku menggenjot istriku, kulihat dia masih memainkan dildo yang sudah basah berlumuran cairan cintanya sendiri.

Pemandangan istriku menjilati dan menghisap dildo tersebut semakin menaikan napsuku. Aku kemudian merendahkan posisi tubuhku memeluk tubuhnya sambil terus pinggulku menggenjot kemaluan istriku.

“Kamu lagi ngisep kontolnya Ricko ya mih? Enak mih kontolnya Ricko?” bisikku di telinganya.

“Slurrpssh… iyaaah pih, kontolnya Ricko enaakh, besaar, mentok..!” jawab istriku terus menikmati dua batang di tubuhnya.

Satu batangku yang sedang menggenjot lubang surgawinya, dan satu lagi batang dildo yang sedang ia imajinasikan sebagai batang kejantanan Ricko sahabatku.

Tak berselang lama, akhirnya aku tidak kuat lagi menahan spermaku yang sudah ingin keluar.

“Ahh… mihh… papih mau keluar mihh.”

“Iyaah… mamih juga mau dapet lagi ini, sebentar lagi.”

Aku terus menggenjot vagina istriku sampai akhirnya aku rasakan lubang vagina istriku berkedut dan mencengkram nikmat. Dan akupun tidak kuat lagi menahan ejakulasiku sampai akhirnya…

“Ahhh… ahhh…ahhh…” desahku ketika aku melepaskan spermaku di dalam vagina istriku.

Aku tidaak langsung mencabut penisku, tapi tetap membenamkannya di lubang kemaluan istriku sambil menggerakkannya secara perlahan dengan maksud supaya spermaku bisa masuk secara maksimal ke rahim istriku.

Berselang sepersekian detik istriku mendapatkan orgasme nya kembali. Ini rekor! dalam satu sesi bercinta dia bisa meraih 3x orgasme dari yang biasanya hanya 1x, itupun yang didapatnya melalui permainan jariku di awal. Selebihnya sangat jarang dia orgasme setelah mendapatkan orgasmenya yang pertama.

Kemudian aku menghempaskan tubuhku di sebelah istriku karena kelelahan yang amat sangat setelah sesi bercinta barusan. Biasanya setelah bercinta, aku segera ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Tapi kuingat masih ada sahabatku di depan, kuurungkan niatku. Sekilas ketika aku masih terbaring kelelahan di tempat tidur, aku melihat pintu kamarku tidak tertutup rapat, ada celah sedikit ternyata.

Aku berpikir kemudian, apakah Ricko melihat aktifitas kami barusan? Dan ternyata dugaanku benar, karena sesaat kemudian aku melihat dia sekelebat melintas di depan pintu kamarku menjauh menuju arah ruangan kamarnya.

Aku yang sudah kelelahan, tidak memikirkannya lebih jauh. Kulihat disebelahku, istriku sudah juga memejamkan matanya, entah tidur atau belum, dengan dildo yang masih berada di dalam genggamannya.

Aku senang melihat wajahnya yang kelelahan setelah sesi bercinta kami kali ini. Ku kecup dahinya sebentar, dan akupun kemudian memejamkan mata tidak memperdulikan lagi pintu kamar yang belum terkunci bahkan tidak tertutup rapat itu. Kemudian akupun menyusul istriku ke alam mimpi dengan perasaan nikmat.

[to be continued]