Nafsu Besar Citra Part 37

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48 END

Nafsu Besar Citra Part 37

Start Nafsu Besar Citra Part 37 | Nafsu Besar Citra Part 37 Start

Apakah Aku Jatuh Cinta Lagi…?

Dengan langkah jutek, Citra berjalan kembali ke teras. Meninggalkan Muklis, adik iparnya yang entah kenapa akhir-akhir ini susah sekali diajaknya bercinta. Selalu membiarkan Citra kelimpungan sendiri menahan birahinya yang semain lama semakin memuncak.

Sesampainya diteras, Citra mendapati lantai terasnya berantakan. Nampan berisi jajanan tergeletak dibawah dan menghamburkan segala yang ada diatasnya.

“Maaf Neng… Tadi nggak sengaja nyenggol nampan makanannya….” Ucap Jupri yang ternyata sudah jongkok disamping meja teras dan berusaha membereskan segala kekacauan yang ia perbuat.

“Eh iya Mas… Nggak apa-apa…” Jawab Citra sembari ikut-ikutan jongkok dihadapan Jupri dan membantu tamu prianya memunguti jajanan yang masih berserakan dilantai. Namun karena usia kehamilan Citra yang sudah terlalu tua, ketika ia ingin jongkok tiba-tiba pahanya terganjal perutnya yang besar dan membuatnya kehilangan keseimbangan.

GJEDUK

“Aduh…. ” Seru Citra sembari jatuh terjengkang kebelakang. “Aduh maaf mas… Aku nggak bisa nolongin…” tambah Citra sambil berusaha menahan tubuhnya supaya tak semakin jatuh kebelakang.

Marwan yang melihat Citra terjengkang kebelakang hanya bisa menatap diam tanpa berucap sepatah katapun. Matanya melotot dan mulutnya ternganga. Wajahnya terlihat begitu kaget.

“Aduh Mas… Maaf…. Tolongin aku berdiri dooong….” Pinta Citra reflek sambil menjulurkan tangannya.

Namun Marwan masih mematung. ia sama sekali tak mempedulikan permintaan istrinya, melainkan masih saja melotot kearah Citra.

Bukan, Marwan tak sepenuhnya menatap kearah Citra, melainkan lebih tepatnya, melotot kearah, selangkangan Citra yang hanya terpaut sekitar 60 centi dari posisi jongkoknya. Marwan menatap celana dalam kecil milik istrinya yang terlihat begitu jelas dihadapannya. Menatap kearah celana berwarna ungu tua, terselip diantara gemuknya daging vagina yang begitu putih ,mulus dan tanpa bulu kemaluan. Menatap dengan seksama ke celana dalam yang basah, dengan lendir berwarna bening dan masih mencetak jelas tonjolan daging klistoris yang ditutupinya.

“Mas Jupri….Ternyata kamu mesum juga ya mas….?” Batin Citra dalam hati tanpa berusaha membetulkan posisi pahanya yang masih terbuka lebar, “Silakan Mas… Nikmati pemandangan selangkanganku….”

Melihat pria yang ada didepannya masih tak berkedip menatap kearah selangkangannya, membuat nafsu birahi Citra mulai muncul. Alih-alih malu dan menutup selangkangannya, Citra malah semakin memperlebar bukaan pahanya. Dengan berpura-pura bangun, Citra berulangkali menggerak-gerakkan pahanya semakin lebar, dan membuat bawahan dasternya semakin tersingkap naik, memamerkan paha putih mulusnya yang jenjang.

Mungkin karena gelombang birahinya mulai meninggi, Citra mulai melupakan siapa Jupri sebenarnya. Terlebih, karena tadi ia ditinggal nanggung oleh Muklis. Semakin membuat pikiran sehatnya perlahan tertutup oleh tebalnya kabut nafsu birahi.

“Mas Jupri… Tolong…. Bangunin aku dong Maaaassss….” Lenguh Citra sambil menjulurkan tangannya kearah Jupri dengan nada mendesah lemas.

Namun, seolah tersihir akan kecantikan organ kewanitaan Citra, Marwan masih saja mematung dan tak mampu bergerak. Berulang kali jakunnya terlihat turun naik melihat selangkangan istrinya.

“Maaasss Jupriiii…..” Teriak Citra lebih kencang, “Tolongin aku Maaasss….”

“Eeehh… I…Iya Neng….?” Jawab Jupri gelagapan karena mendengar teriakan Citra, “Looohh…? Looh…? Neng…? Kok…? Neng Citra habis ngapain….? Kok malah duduk disitu…?” Tambah Marwan dengan wajah mirip orang yang baru terbebas dari hipnotis sambil mengucek-kucek matanya.

“Aku kejengkang Masss…. Tolongin….” Pinta Citra manja sambil mengamit tangan Marwan. “Hihihihi…. Mukamu lucu juga ya mas kalo lagi mupeng….” Tawa Citra dalam hati sambil berusaha bangun.

“Laaahh….? Kok bisa Neng….?” Heran Marwan yang kemudian memapah Citra ke kursi panjang dan mendudukkan wanita hamil itu pelan-pelan.

“Aku tadi keganjel perut Mas…” Seru Citra sambil mengusap perut hamilnya

“Waduuuhh… Tapi… Perut kamu nggak apa-apa khan Neng….?” Tanya Marwan sembari reflek ikut-ikutan mengusap perut Citra. “Dedenya nggak kenapa-napa khan….?” Tambah Marwan sambil menempelkan telinga ke perut Citra.

“Ooohh… Mas Jupri… Seandainya Mas Marwan juga memiliki rasa perhatian yang sebesar ini ama aku… Pasti aku akan jauh lebih bahagia… Ohh… Mas Marwan…. Ohh… Mas Jupri…. ” Ratap Citra tiba-tiba teringat suaminya yang masih sibuk bekerja ditengah hamil tuanya ini, “Sayangnya….Suami aku malah lebih mementingkan kerjaan daripada istrinya….” Tambah Citra lagi yang dengan tiba-tiba, entah kenapa Citra mengusap perlahan rambut Jupri seperti mengusap rambut suaminya.

“Ehhh… Neng….?” Kaget Marwan yang buru-buru bangkit ketika ia menyadari jika Citra mengusapi rambutnya dengan penuh rasa sayang dan perhatian.

“Udah.. Nggak apa-apa Mas… Taruh aja telinga Mas di perut aku… Dengerin dede bayinya…” Ucap Citra pelan sambil menahan kepala Marwan supaya terus diperutnya.

Sejenak, Citra dan Marwan saling menikmati suasana yang terjadi pagi itu.

“Kamu cantik banget Dek…” Seru Marwan yang masih berpura-pura sebagai Jupri, dengan sengaja kembali meletakkan kepalanya diatas perut besar Citra. Memeluk pinggang wanita hamil itu dan menghirup aroma wangi tubuh istrinya dalam-dalam. Kedua matanya juga berusaha menikmati penampilan payudara Citra yang terlihat semakin besar, empuk, putih dan mulus. Dengan puting yang terlihat begitu menonjol, tanpa terlindungi oleh apapun selain kain tipis dasternya. Marwan terlihat begitu terlena dengan wanita yang ada dipelukannya.

Mendapat perlakuan dan perhatian yang special dari tamunya, membuat Citra seolah ikut terlena. Terlebih karena Citra adalah orang yang mudah jatuh cinta, membuat calon ibu itu secara tak sadar membalas perhatian ekstra Marwan dengan hal yang serupa. Ia memperlakukan Marwan seperti seorang kekasih. Berulang kali, Citra mengusapi rambut Marwan dengan penuh kasih sayang. Mengusap punggung tamunya itu dengan penuh rasa cinta. Bahkan, walau tahu jika Marwan berulang kali sengaja menyenggol payudaranya ketika mengusap perut, Citra hanya tersenyum dan membiarkan tangan Marwan melakukan senggolan-senggolan itu.

“Mas Jupri…” Panggil Citra lirih.

“Ya Neng…?” Jawab Marwan tanpa memindahkan kepala dari perut Citra.

“Kamu pasti kangen dengan istrimu ya Mas…?”

“Hmmm… Iya sih Neng… Kangen banget… ” Jawab Marwan terang-terangan, “Mana Si Mirna sedang hamil tua… Emang kenapa Neng…?”

“Ya nggak apa-apa Mas… Berarti nasib kita samaan…”

“Sama gimana Neng…?”

“Ya sama-sama jarang dibelai… Hihihi….” Canda Citra sambil terus mengusap rambut Marwan.

“Jarang dibelai gimana Neng…? Heran Marwan, “Lah ini Neng sedang saya belai…”

“Ahhh… Bukan Mas….” Ucap Citra sambil menghela nafas, “Mas mah nggak bakalan ngerti deh…”

“Hehehe… Mas ngerti kok… Neng Citra kangen khan dengan Pak Marwan…” Tebak Marwan sambil menaikkan tubuhnya dan menatap mata Citra dalam-dalam, “Neng Citra ini kangen Pak Marwan karena sudah lama tak diajak….”

“Ssstttt….” Larang Citra sambil menempelkan telunjuknya di bibir tebal Marwan. “Iya… Aku kangen banget Mas….”

“Telpon lah Neng… Bilang ke Pak Marwan supaya cepetan pulang….”

“Entahlah Mas… Sepertinya suamiku sudah melupakan aku…” Ratap Citra sambil menatap wajah Marwan, “Nasib kita sama ya Mas…?”

“Iya… Sama….” Jawab Marwan.

“Mas juga udah lama ya nggak bisa… Ngentotin bini Mas…?”

“Eh…? Kok Neng mikirnya gitu….?”

“Hihihi…. Nggak usah kaget Mas… Kaya nggak pernah denger cewe nyebut kata jorok seperti itu… ” Ucap Citra santai, “Lagian gimana aku nggak mikir kesana… ? Kalo tahu-tahu ada yang ngejendol besar dibawah sana….Hihihihi….” Tambah Citra sembari menunjuk selangkangan Marwan yang sudah menyembul besar dengan dagunya.

“Ehh.. Ehh…. Maaf Neng.. Maaf… Saya terbawa suasana….” Ucap Marwan malu-malu.

“Hihihi… Nggak apa-apa kali Maas….” Seru Citra yang entah kenapa, tiba-tiba mencubit pipi Marwan dengan gemas.

“Waduuhhh… Waaaduuuuhhh Waduuhhh….. Mbak Citraaaa……. Pagi-pagi udah mesra-mesra’an aja nih….?” Celetuk suara dari luar pagar rumah Citra. “Selamat Pagi Mbak Citraku Sayaaang…” Sapa pria tersebut santai sambil berjalan pelan kearah teras rumah Citra.

Buru-buru Citra segera melepas usapan tangannya pada rambut tamu prianya itu. Begitupun dengan Marwan, yang juga segera bangun dari perut Citra, melepas pelukannya dan duduk menjauh.

“Loh..? Set… Seto…?” Kaget Citra. “Se… Sejak kapan kamu ada disitu…?”

“Hehehe…. Kok kaget gitu sih Mbak…? Mas…? Nggak apa-apa kok…. Terusin aja….Hehehe….”

“Engg… Enggak kaget kok…. Tadi Mas Jupri baru aja nolongin aku Set…”

“Nolongin apa nolongiiiinnn….? Nolongin kok sampe peluk-pelukan segala…?” Goda Seto sambil tersenyum penuh arti kearah Citra, “Kayanya nolongin enak tuh… Hehehe…”

“Apaan sih Set… Beneran… Tadi aku jatuh….”

“Owww… Nolongin jatuuuhhh….”

“Beneran…. Tadi aku kejengkang… Trus Mas Jupri yang ngebantu mbangunin aku… “

“Hehehehe… Iya deh Mbak… Iya… Jangankan ngebantu kejengkang…. Ngebantu yang lain juga Mas Jupri pasti mau kok Mbak…Hehehe…” Tawa Seto sambil melirik mesum kearah tonjolan di selangkangan Marwan, kemudian menatap istri Marwan itu dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. “Wong senjatanya udah siap siaga gitu ya Mas… Hehehe….”

“Ihhhhssss…. Apaan sih Set…. Nggak jelas banget….” Sewot Citra sambil memanyunkan wajahnya.

“Hehehe…. Jangan cemberut gitu ah Mbak…. Ntar cantiknya hilang loh….” Goda Marwan.

“Bodo….” Balas Citra singkat.

“Ntar keriput looohhh…. Trus… Ntar kendor looohhh….”

“Biarin….”

“Ntar ga bisa ngempot lagi loooohhh…. Trus… Susah ngecrot-ngecrot …..”

“Iiihhsss Setoo… Ga jelas benget deeh… Apaan siiiiihhh ngecrot-ngcrot segala..?”

“Ya ngecrot-ngecrot enak Mbaaakk… Kaya nggak pernah aku kasih aja… Hahahaha….”

“Iiihhhsssss…. Apaan siiiihhhh….. Mesum amat jadi orang….” Jawab Citra yang tiba-tiba meraih serpihan jajanan dari loyang dan melemparnya kearah Seto.

“Hahahaha….. Nggak kena… Nggak kena….” Ucap Seto sambil berjoget-joget bak anak kecil, “Sumpah… Kamu ngegemesin banget deh Mbak…. Hahaha…”

Melihat percakapan kedua orang yang ada didepannya, Marwan seolah langsung memahami jika hubungan Citra dan Seto jauh dari sekedar hubungan pertetanggaan. Marwan yakin, jika diantara mereka berdua memiliki sebuah hubungan special yang mereka sembunyikan.

“Udah..Udah… Ada perlu apa kamu dateng pagi-pagi kesini….?” Tanya Citra ketus

“Hehehe… Aku mau ngasih kamu ini Mbak….” Jawab Seto sambil memperlihatkan bungkusan kresek yang ada ditangannya.

“Cuman sate Ayam….. ?” Tanya Citra cuek.

“Weits… Lihat dulu….Ini sate ayam kegemaranmu loh Mbak….” Ucap Marwan sambil tersenyum, “Ini Sate Ayam Prawoto…”

“Haaaahhh…. Satenya Bang Woto….?” Kaget Citra sambil buru-buru beranjak kearah Seto, “Serius….?”.

“Hehehee…. Iya… Ini Sate Cintamu….Sayaaang….” Ucap Seto santai sambil mentowel ujung hidung Citra. Tanpa mempedulikan tamu istri tetangganya yang sedari tadi menatap heran kearah mereka berdua.

“Aaahh… Bang Prawoto… Aku kangen kontolmu Bang….” Celetuk Citra dalam hati.

Sejenak, pikiran Citra melayang ke beberapa bulan lalu. Waktu awal-awal dirinya sedang memulai perjalanan perselingkuhannya bersama Seto. Berkunjung ke desa tempat Prawoto tinggal, dan dipertemukan dengan tukang sate yang mengenalkan Citra kepada nikmatnya anal seks..

“Mbak…?” Panggil Seto, membuyarkan lamunan Citra,

“Eeh… Iya…?”

“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri…?”

“Ahh Enggak kok…” Jawab Citra malu-malu

“Enggak tapi kok muka Mbak merah gitu….?” Cecar Seto.

“Emang kapan kamu dari sananya Set….?” Tanya Citra lagi berusaha mengalihkan pembicaraan, “Kabar dia gimana Set…? Sehat….? Trus….? Dia nanyain aku nggak….? Trus… Dia tinggal ama siapa sekarang….? Istrinya udah pulang belum….? Trus….”

“Wo… Woo… Wooo…. Sabar Mbak… Sabaar….” Sergah Seto menahan serbuan pertanyaan Citra, “Ini satenya mbok ya diamanin dulu…. Ntar keburu dingin looohhh….” Ucapnya lagi sembari menyerahkan bungkusan sate itu pada Citra.

“Yaaah… Ini mah udah dingin Set….” Kata Citra lirih sambil memperhatikan bungkusan kresek itu dari dekat.

“Masa sih….? Kelamaan dijalan kali ya….?” Tanya Seto sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Iya…. Tapi nggak apa-apa deh…. Lumayan buat ganjel laper… Hihihihi….” Jawab Citra singkat, “Kliiiiisssssss…. Muklisssss…… “

“Ehh… Biar saya aja yang beresin Neng….” Celetuk Marwan yang tiba-tiba meraih kantong kresek sate itu dari tangan Citra.

“Loohh… Nggak usah Mas…. Masa tamu direpotin….?” Tolak Citra, “Eh iya hampir aja lupa… Set…. Kenalin…. Ini Mas Jupri…. Anak buahnya Mas Marwan…. “

“Seto…” Ucap Seto sambil menjulurkan tangan.

“Mar… Eh… Jupri….” Sahut Marwan yang hampir saja keceplosan menyebut namanya. Buru-buru, Marwan meraihnya tangan Seto dan digenggamnya kuat-kuat

“Awww… Awww… Aduh Mas….” Pekik Seto kaget berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan kekar Marwan.

“Eeh… Ehh… Maaf…. Kekencengan ya….?”

“Busyet deh… Itu tangan keras amat Mas….?” Seru Seto meringis kesakitan.

“Hehehe… Ya maklumin aja Mas… Mas Jupri ini pekerja bangunan…. Jadi tenaganya ya gitu… Kuat… ” Celetuk Citra menjelaskan.

“Oooww… Kuli…?” Tanya Seto yang dengan kedua matanya menatap sinis kearah Marwan.

“Iya mas… Saya kuli….” Jawab Marwan merendah, tanpa mengindahkan tatapan mata Seto.

“Mas Jupri ini yang nanti bakal ngejagain aku pas lahiran Set….” Jelas Citra lagi.

“Emang Mas Marwan kemana Mbak…?”

“Mas Marwan….?” Ucap Citra sambil menghela nafas panjang. “Ya khan kamu tahu sendiri Set… Mas Marwan sekarang lagi sibuk-sibuknya dengan proyek yang ia pegang…. Lagi kenceng Set… Jadi ya terpaksa… Ia nggak bisa ninggal-ninggal kerjaannya…”

“Hhmmm gitu ya…? Lha trus si Muklis…? Dia masih disini khan…?”

“Muklis….? Dia nggak kemana-mana kok… Dia juga masih disini…” Cuman khan Muklis masih belum punya banyak pengalaman dalam mengurus istri melahirkan Set…. Jadi mungkin Mas Marwan nggak bisa ngasih ke Muklis banyak tanggung jawab…”

“Hmmm… Gitu yaa Mbak…? Ya ya ya….” Ucap Seto sambil manggut-manggut. ” Waaahh … kalo gitu… nanti Bakalan ada dua terong yang bisa nemenin Mbak ketika kesepian nih… Hehehe…”

“Iihhss… Apaan sih Set…?”

“Iya khan…? Yaah… Buat sekedar nengokin dede bayi biar aman juga bisa laaah… Hehehe…” Celetuk Seto mesum sambil mengusap perut bulat Citra.

“Iiiihhhhsss… Apaan sih…? Nggak jelas banget… ” Ketus Citra yang buru-buru menepis tangan Seto dari perutnya.

“Ehh… Enggak ya…? Kalo ama aku… Jadi tiga terong ya Mbak…..? Hahaha…..”

“Terong-terong gundulmu… Bentaran ahhh… Mbak mau ambil piring buat naruh ini satenya dulu…” Ucap Citra yang kemudian segera melangkahkan kakinya kedapur.

***

“Mbak…” Panggil Muklis lirih begitu melihat Citra masuk ke area dapur, ” Mbak Citra…. Boleh aku ngomong sebentar…?”

“Ngomong apa…?” Jawab Citra singkat tanpa melihat kearah adik iparnya.

“Maafin aku ya Mbak…” Ucap Muklis dengan nada khawatir.

“Maaf…? Maaf buat apa …?” Tanya Citra lagi. Tangannya sibuk mengambil beberapa piring, sendok, dan mangkok untuk dibawanya kedepan.

“Mengenai hal yang baru saja….”

“Hal yang mana…?”

“Nggg… Yang aku sekarang susah banget buat diajakin Mbak ngent….”

“Udah udah udah… “Potong Citra, “Mbak nggak mau ngomongin tentang hal itu…. Mbak sekarang laper… Dan sekarang didepan ada Seto yang ngebawain sate….”

“Nggg… Tapi Mbak….”

“Udah ya Klis… Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi…” Potong Citra lagi, “Kalo kamu nggak bisa muasin Mbak… Mbak bisa kok minta dipuasin orang lain…” Jelas Citra pelan namun langsung ke inti permasalahan. “Laki-laki disini nggak cuman kamu aja kok Klis… Laki-laki disini tuh banyak… Nggak ada kamu… Masih ada Seto… Masih ada Mas Jupri….”

“Mas Jupri….?”

“Iya… Emang kenapa dengan Mas Jupri…?” Heran Citra melihat raut wajah Muklis yang tiba-tiba berubah ketika ia mendengar nama tamunya, “Mas Jupri juga laki-laki khan….? Pasti dia mau ngebantu Mbak buat muasin nafsu Mbak…. Apalagi dia juga udah lama nggak ngentotin wanita…. “

Mendengar kalimat Citra barusan, entah kenapa Muklis langsung terdiam. Ia langsung mengurungkan niatannya untuk mengajak ngobrol Citra.

“Kamu laper nggak…? Kalo laper kedepan aja ya… ” Ucap Citra menutup pembicaraan.

Muklis tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan dan menatap tubuh seksi kakak iparnya yang melangkah pergi menginggalkan dirinya.

***

“Ayo… Ayo… Buruan dimakan ini satenya… ” Ucap Citra sembari menyajikan peralatan makan kepada kedua tamunya, “Udah dingin sih… Cuman sepertinya masih enak….”

“Waaahh… Sarapan pagi hari ini pasti bakalan lebih nikmat dari hari-hari biasanya nih…” Celetuk Seto yang langsung menuangkan bumbu kacang ke tusukan sate yang ada dipiring.

“Kok bisa begitu Mas…?” Tanya Marwan yang juga ikut membantu membuka bungkusan-bungkusan lontong dan meletakkannya pada mangkuk besar dimeja.

“Aaah.. Mas Marwan panggil saya Seto aja Mas… Khan lebih tua Mas Jupri ketimbang saya…” Ucap Seto yang segera saja menyantap sate ditangannya,

“Mmmm…. Iya… Seto…. Emang sate ini special banget ya…?” Tanya Marwan lagi.

“Enggak sih… Cuman khan pagi ini… Kita sarapan ditemenin bidadari Mas… Hahahaha…” Canda Seto, “Mulai deh ngegombalnyaaa…. ” Celetuk Citra, “Ayo Mas Jupri dimakan satenya…” Tambah Citra yang tiba-tiba menyajikan sate pada tamunya. Seolah ingin membuat Seto cemburu.

Namun, karena Seto orangnya tak mudah terpengaruh, semua perlakuan dan perhatian Citra yang berlebih pada Marwan sama sekali tak berhasil membuatnya cemburu. Malahan, Seto semakin menggoda Citra habis-habisan.

“Cie…Cieee…Cieeee….. Mesra sekali kamu Mbak….? Cocok deh jadi istri Mas Jupri… Hahahaha…..”

“Iiihhhhsss…. Ga jelas….”

“Hahaha… Ngegemesin deh kamu Mbaaaakkkk….” Celetuk Seto sembari mencubit pipi Citra.

“Adduuhhh…. Sakit taaauuuukkkk….” Seru Citra manja, “Eh iya… Set… Gimana pertanyaan aku tadi…?”

“Pertanyaan yang mana Mbak…?”

“Pertanyaan tentang kabar Bang Prawoto Setooo… Gimana kabar dia….?”

“Owww…. Si Woto…. “Jawab Seto singkat. Dengan malas, Seto lalu menggigit daging sate yang ada ditangannya dan mengunyahnya pelan… “Kabarnya… Lagi RUSUH Mbak….”

“Haaaahhhh…? Rusuh gimana…?” Tanya Citra panik.

“Iya… Dikampungnya Prawoto… Sedang ada kerusuhan hebat…”

“Laah…? Kok bisa…? “

“Iya Mbak… Penduduk desa tempat Prawoto tinggal sedang rusuh… Mereka marah dengan Pak Usep…”

“Pak Usep itu Pak Kades yang gemblung itu…? “

“Iya Mbak….. Pak Usep ditangkep Polisi karena penggelapan surat-surat Mbak… Rumahnya dibakar… Perabot, perhiasan, mobil dan semua surat-surat berharganya disita… “

Lagi-lagi, pikiran Citra melayang ke beberapa bulan lalu. Saat dirinya sedang diperdaya oleh lelaki tua pendek kurus bersama ketiga antek-anteknya, Diki, Kirun, dan Projo. Saat dirinya sedang disetubuhi ramai-ramai oleh mereka berempat dan menjadi barang taruhan Pak Usep.

“Pantesan… Semenjak beberapa bulan lalu…. Kiriman upeti dari Pak Usep yang dulu dijanjikan olehnya sudah jarang dikirim lagi….” Pikir Citra berusaha menyimpulkan sesuatu, “Ternyata Pak Usep memang sedang banyak masalah….”

“Dan yang paling parah… Istri-istrinya Pak Usep diamanin warga loh Mbak…” Jelas Seto lagi.

“Haaaaah…? Diamanin gimana Set…?” Tanya Marwan yang juga ternyata penasaran.

“Ya diamanin Mas… Khan istri Pak Usep itu banyak… Makanya… Mereka disekapin oleh warga sampe Pak Kades bisa ngelunasi semua hutang-hutang warga….”

“Aaaah… Itumah susah Seet… Pak Usep khan licik… Pasti dia mencari celah buat terbebas dari tanggung jawabnya…. Itupun kalo Pak Usep bisa keluar dari kantor Polisi….” Celetuk Citra pesimis, “Trus…? Bang Prawotonya gimana Set…? Pertanyaan aku yang paling penting malah nggak dijawab-jawab…”

“Hahaha… Kalo Prawoto sih nggak kenapa-napa Mbak… Dia aman-aman aja diwarung… Masih santai-santai aja ngipasi satenya… Hahahaha…” Tawa Seto terbahak-bahak.

“Huuu… Dasar… Ditanya apaaa.. Dijawabnya apa… ” Sewot Citra lega

“Habisan…. Kalo aku ngobrol ama kamu…. Aku jadi selalu susah konsen Mbak…”

“Yak… Mulai lagi deh ngegombalnya….” Ejek Citra.

“Hahaha… Nggak ngegombal kali Mbaaakk… Beneran iniiihhh…. ” Ucap Marwan sambil tertawa geli, “Kalo nggak percaya… Coba tanya aja ke Mas Jupri… “

“Au ahhh….”

“Hahahah… Mas Jupri… ” Panggil Seto, “Mas Jupro kalo diajak ngobrol ama Mbak Citra… Mas bisa konsen nggak…? “

“Eh.. Eeh… Nngggak bisa juga sih… ” Jawab Marwan kaget.

“Tuuuh khaan Mbaaak… Mas Jupri juga berasa seperti itu… Berarti kalo kami nggak konsen… Itu emang gara-gara kamu Mbak…. Hahaha…”

“Huuuu.. Dasar.. Kalian berdua tuh sama aja…” Ucap Citra yang kemudian mengambil sisa sate yang masih teronggok di piring sajian dan buru-buru melahapnya, “Udah pada kenyang belum kalian ini makannya….? Aku mau habisin satenya nih….”

“Wuidiiihhh… Ada yang kelaperan nih….? Heheheh…” Celetuk Seto.

“Udah kok Mbak…” Sahut Marwan, “Habisin ajah…”

“Eh iya Mbak… Hari ini aku gajian loohh….” Ucap Seto sambil tersenyum lebar.

“Lalu…?” Jawab Citra cuek sambil terus menyantap hidangan satenya.

“Naaah… Biasanya khan kalo aku gajian… Aku ajak Mbak makan diluar… ” Jawab Seto sambil tersenyum aneh, “Mbak ada waktu nggak…?”

“Waktu…? Buat apaan Set…?”

“Hehehe… Masa lupa sih Mbak…? Khan kita udah sering banget ngelakuinnya….”

“Ngelauin apa ya…? Aku nggak ngerti deh Set…” Jawab Citra yang masih sibuk mengunyah satenya.

“Biasaaalah… Nanti… Abis makan diluar… Kita olahraga bentaran Mbak… Goyang-goyangin pinggul dikit… Hehehe….” Kekeh Seto sambil mengedipkan mata nakalnya.

“Uhuk…UHUK.. Uhuk….” Kaget Citra sambil tersedak dan terbatuk-batuk, “Air… Air…” Serunya sambil meminta minum kearah Marwan, “Uhuk…Uhukk…..”

Mendengar kata olahraga dan melihat kedipan mata Seto, Marwan langsung memasang wajah penuh tanda tanya. Menatap Citra Dan Seto heran.

“Olahraga..? Tanya Marwan

“Uhuk… Uhukk…. Ehheeemmm….GLEK GLEK GLEK…” Citra langsung meminum air pemberian Marwan dan berdehem keras untuk berusaha mengendalikan rasa gatal ditenggorokannya, “Nggg… Si Seto ini… Uhuk uhuk…. Biasanya ngajak aku… Nggg… Senam hamil Mas… Uhuk…Uhuk….” Ucap Citra melirik kearah Seto sambil mengusap mulutnya yang belepotan air minum. “Iya Mas… Senam ibu hamil di klinik yang dekat sini… Deket dengan tempat jajanan kemarin itu loh Mas….”

“Hehehe…. Iya Mas… Mbak Citra ini khan usia kendungannya sudah menjelang kelahiran… Jadi harus sering-sering diajak olahraga Mas… Biar kehamilannya sehat… Bener khan Mbak…?” Bohong Seto sembari mengelus perut hamil Citra lagi.

“Eh … Iya bener Mas… ” Jawab Citra kikuk dan menepis tangan Seto.

“Ooowww.. Gitu ya…?” Jawab Marwan berusaha mempercayainya.

“Eh iya Mbak… Satu lagi….”

“Apaan…?”

“Nanti aku pinjem tangga ya…? Genteng rumah aku sepertinya ada yang bocor nih…” Jawab Seto yang ternyata sudah selesai makan dan beranjak pergi.

“Tumben ijin… Biasanya aja langsung ambil… ” Celetuk Citra, “Ada noh dibelakang….”

“Hehehe bukan gitu Mbak… Habisan tadi waktu mau ijin ama Mbak dibelakang… Mbaknya lagi sibuk ama Muklis…. Hehehe…”

“Haaa… Jadi tadi kamu kebelakang…?” Kaget Citra yang sepertinya tak menyangka jika Seto tadi tahu apa yang baru saja ia lakukan bersama Muklis.

“Iya… Tapi karena tadi Mbak Citra kelihatan sibuk banget… Jadinya ya aku nunggu Mbak aja sampe selesai…. Hehehe.. ” Ucap Seto sambil masih tertawa-tawa mesum,

“Kok nggak dipanggil aja Set…? Biasanya juga manggil….?”

“Ya sungkan Mbak… Khawatir akunya ngeganggu….Wong Mbak sampe mangap-mangap keenakan gitu… Hehehe…”

“Mangap-mangap keenakan…?” Tanya Marwan.

“Iya Mas… Mbak Citra kalo keenakan… Pasti deh mulutnya mangap-mangap… Ya khan Mbak..?” Jelas Seto, “Gimana Mbak…? Enakan mana…? Ngulek punya Muklis atau ngulek punya aku …?”

DEEEG….

“Seto KAMPREEETTTTT….” batin Citra kaget sekaget-kagetnya. Tiba-tiba Seto mengutarakan hal yang sama sekali tak Citra kira. Ia seolah ingin memberitahukan ke tamu Citra mengenai apa yang baru saja Citra lakukan bersama Muklis dibelakang tadi.

“Iiihhh.. Apaan sih Set…??” Seru Citra berusaha memberi kode pada Seto untuk tidak meneruskan topik pembicaraannya.

“Ngulek gimana ya Neng…?” Tanya Marwan dengan tatapan mata tajam.

“Aaaah…. KAMPREETT… KAMPREETT… KAMPREETT… Si Seto makin ngaco aja bicaranya…” Gerutu Citra dalam hati, “Anu Mas… . Nggg.. Tadi… Muklis minta tolong… Nggg… Muklis… Minta tolong buat Nggg… Ngeracikin bumbu Mas… Iya…. Ngeracik bumbu… ” Jawab Citra sepotong-sepotong, berusaha memikirkan jawaban yang paling cocok.

“Ngeracik bumbu…? Kok sampe mangap-mangap…?” Tanya Marwan lagi.

“Kepedesan Mas… Bumbu racik Muklis pedes banget….”

“Ngulek Muklisnya pedes…. Juga kenceng banget ya Mbak…? Sampe bunyi kuplak kuplak kuplak loh… Hehehehe…. ” Jelas Seto sengaja ingin menggoda Citra, “Pasti rasanya enak banget Ya Mbak…? Sampe lendir anu Mbak keluar semua ya…? Hehehe… “

“Bentar-bentar… Saya nggak ngerti… Kalian sedang ngomongin apa sih…?” Heran Marwan, “Diulek…? Mangap-mangap…? Disodok kenceng… Sampe berlendir…? Sumpah saya nggak ngerti…”

“Setooo… kamu ngomong apaan sih…? Bukan Mas… Bukan… Jadi ceritanya tuh…. Tadi Muklis minta aku buat ngeracik bumbu ulek… Trus biar nguleknya cepet kelar… Aku harus ngulek kenceng-kenceng Mas… Ya berhubung bumbu uleknya pedes…. Makanya mata aku sampe berair… Begitu loh Mas….” Ucap Citra berusaha menjelaskan kalimat ambigu dari Seto.

“Berarti… Kalo nguleknya kenceng… Sekarang pingang Mbak berasa capek dong Mbak…? Wong aku tadi ngelihat goyangannya heboh banget …” Sahut Seto yang ternyata masih terus menggoda Citra, “Malahan… Saking kencengnya… Muklis sampe nggak kuat gitu ngeladenin goyangan Mbak…Hehehe…”

“Setooo.. Iiiihhhsss…. Mending kamu pulang aja deh… Rese banget sih jadi orang…” Sewot Citra yang buru-buru melempar Seto dengan tusuk sate.

Namun, sepertinya Seto sudah mengantisipasi gerakan Citra yang tiba-tiba. Karena sebelum Citra sempat menganiaya tubuh Seto, ia sudah buru-buru menjauh dari posisi Citra berada.

“Hehehe… Nggak kenaaa…” Ejek Seto.

“Iiiiihhss… Pulang sana gih… Jadi orang kok rese banget sih…”

“Ciee… Cieee…. Nesuuuu…. Ngambeeeekkkkk…. “Goda Seto sambil mendekat dan mencubit pipi Citra lagi dengan cepat-cepat.

“Owww…. Jadi gitu…?” Ucap Marwan sambil manggut-manggut, berpura-pura mengerti maksud perkataan Citra. “Pantesan aja.. Begitu Neng balik dari dapur… Badan Neng sampe keringetan semua gitu….”

“Gimana nggak keringetan Mas…? Wong Mbak Citra ini kalo ngulek… Hebohnya minta ampun…” Jelas Seto meneruskan keisengannya,”Bahkan…. Sampe teriak-teriak loh Mas…. Bikin pria manapun yang ngedenger teriakannya… Pasti minta diulek juga ama Mbak Citra…. Hehehe…”

“Emang ulekannya Neng Citra ini enak ya Set…?” Tanya Marwan tanpa menghiraukan raut cemas yang terlihat di wajah Citra..

“Waaaah… Jadi Mbak Citra belom pernah nawarin ngulekin anunya Mas…?”

“Belom…” Jawab Marwan singkat sambil menatap wajah Citra yang semakin memerah.

“Waaah…Mas Jupri kapan-kapan harus nyobain deh diulek ama punyanya Mbak Citra…. Dijamin deh Mas… mas Jupri bakal ketagihan.. Hehehe…”

“Hhmmmm….. Nyobain diulek ya Set…?” Heran Marwan sambil melirik kearah Citra. “Emang seenak apa sih Set…?”

“Waaaah….. Enak banget Mas… Top markotop…” Seru Seto sembari mengacungkan kedua jempolnya, “Enaknya tuh Mas… Sampe ke ubun-ubun… Apalagi empotannya…. Wuidiiihhh… Dijamin deh… Bikin anu Mas cenut cenut ngilu… Hahaha….” Puji Seto sambil mengedipkan sebelah matanya.

“SETOOO…. UDAH DEEEEHH….” Hardik Citra emosi sambil bergerak mendekat kearah Seto. Dengan tanpa basa-basi, Citra langsung melancarkan serangan cubitan mautnya.

Namun lagi-lagi, gerakan Citra kurang cepat. Karena belum juga cubitannya berhasil memberi pelajaran pada Seto, tetangganya itu sudah menangkap kedua tangan Citra erat-erat. Bahkan Seto dengan mudah memborgol kedua pergelangan tangan Citra dengan satu tangannya.

“Waduh… Mas Jupri… ” Panggil Seto dengan wajah panik “Sepertinya… Aku harus cabut dulu nih…”.

“Loh.. Kok buru-buru amat Set…?”

“Iya… Ada singa marah… Aku takut disembur ama tetanggaku yang super cantik dan bahenol ini… Hahaha… ” Jawab Seto iseng sambil mengusap lalu mencubit pantat bulat Citra dengan satu tangannya yang bebas.

“DASAR ORANG GILAAAA….” Teriak Citra emosi sambil berusaha melepaskan diri.

“Gila tapi Mbak cinta khan…? Hahahaha…” Ucap Seto kurang ajar tanpa mempedulikan tatapan tajam Marwan. Bahkan, Seto semakin berani dengan mengusapi dan mencubiti pantat semok Citra secara terang-terangan.

“IIHH… SETOOO….LEPASIN AAAHH…” Rutuk Citra yang terus berusaha melepaskan diri.

“Senyum dulu doooong…” Jawab Seto santai tanpa mengindahkan teriakan kencang Citra.

“HEEEHHHH…. SEEETOOOO… KAMU NGAPAIN DISITUUU…???” Seru sesosok wanita yang tiba-tiba muncul dari pintu rumah sebelah dan berjalan mendekat kearah rumah Citra.

“Ee…. Ehh… Sayang…” jawab Seto yang buru-buru melepas cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Citra, “Kok udah bangun…?”

“Ditungguin dari pagi nggak nongol-nongol… Eh begitu keliatan malah ngegangguin Mbak Citra…Sini Kamu…” teriak Anissa lantang sembari berkacak pinggang.

“Waduh… Ada Nenek Lampir marah…. ” Celetuk Seto sambil berlindung dibelakang tubuh hamil Citra yang masih berdiri diantara Anissa dan Seto.

“Ayo sini… Nggak usah sembunyi dibelakang badan Mbak Citra…” Seru Anissa yang kali ini langsung masuk keteras dan menjulurkan tangannya melewati tubuh Citra.

Dengan secepat kilat, Anissa berhasil menangkap terlinga Seto. Dan dengan kekuatan penuh, wanita mungil itu langsung menarik telinga Seto kuat-kuat, membuat lelaki jangkung itu seketika meringis-ringis kesakitan.

“Aww… Aww… Aww… Ampun sayang… Aww… Aww…” Teriak Seto sambil terus berusaha bertahan sambil perlindungan dibelakang tubuh Citra.

Tak ingin mengganggu kesenangan Anissa yang memang sukanya marah-marah, buru-buru Citra berkelit dan segera duduk disamping Marwan. Membiarkan Seto mendapatkan eksekusi paginya dengan puas.

” RASAIN…Makanya… Punya istri tuh diperhatiin…Terus aja Niss.. Jewer yang kenceeeng… Hihihihi….” Kekeh Citra puas,” Kalo perlu… Jewer telinganya sampe sobek….Hihihiii….”

“Iya Mbak… Suami kurang ajar seperti ini memang harus dikasih pelajaran…. ” Jawab Anissa gemas, “Udah sering kelayapan… Jarang nengokin bini dirumah…. Eh… Begitu pulang… Mampir dulu kerumah tetangga….”

“Hihihihi… Hajar aja Niiisss… Haajaaaarrr….” Girang Citra sambil tertawa-tawa.

“Besok-besook… Bakal aku borgol itu kontolmu… Biar nggak kegatelan dan kaluyuran mulu….” Ancam Anissa sembari meremas selangkangan Seto, membuat rontaannya seketika lemas dan tak berdaya.

” Aawww… Aawww… Aawww… Ampun Saaayanggg… Aawww… “

“Ayo sekarang pulang…” Bentak Anissa kencang, ” Sekalian antar aku kepasar… Hari ini khan kamu gajian…”

“Yaaaaaah… Saaayanggg… Pagi ini aku capek sekali… Kamu aja ya yang berangkat sendiri.. Ini aku kasih duitnya…” Alasan Seto.

“Enggak… Kamu harus nemenin aku…” Bentak Anissa.

“Aaaaduuuhh… Aku beneran capek iniiihh… Ngantuk… Ntar kalo gara-gara aku nggak konsen dijalan terus kita kenapa-napa gimana…?”

“Ya makanya… JANGAN NGANTUK… Buruan cuci muka dulu sana…!” Murka Anissa lagi.

“Ogah aaaah… Kamu aja yang berangkat sendiri… Aku mau tidur…”

“Heeeehhh… Berani yaaa….?” Ancam Anissa, “Kalo kamu nolak…. Nggak bakal aku kasih jatah loh….”

“Yaaahh… Jangan dong Sayaaang….” Pinta Seto sambil melirik kearah Citra.

“Nnnngg… Mbak… Kalo Mbak mau… Saya bisa antar Mbak kepasa kok…” Celetuk Marwan tiba-tiba menawarkan diri, “Neng Citra…. Boleh khan Neng…? Saya minta ijin buat nganterin Mbak ini sebentar…”

“Ngggg…….” Ucap Citra yang entah kenapa merasa ragu untuk merestui permintaan Marwan. Namun karena Citra tak memiliki alasan yang kuat untuk menolak permintaan Marwan, akhirnya ia mengangguk.

“Beneran Neng…?” Tanya Marwan memastikan.

“Iya… ” Jawab Citra singkat, “Anissa…. Kamu kepasarnya ama Mas Jupri aja tuh…. Pake mobil aku aja…” Tambah Citra menyarankan

“Ngg.. Gimana ya….?” Jawab Anissa sungkan.

“Udah sana… Nggak apa-apa kok… Sekalian… Mas Jupri nanti cuci mobil sekalian yaaa…” Pinta Citra

“Beneran nggak apa-apa nih Mbak…? Ntar ngerepotin nih…” Ucap Anissa basa-basi.

“Iyaaa…. Enggak apaa-apaaa… Kita khan tetangga… Udah seharusnya kita saling tolong menolong… Udah sana Mas Jupri… Antar Anissa kepasar… Nanti malah keburu siang loh….”

“Iya…. Baik Neng… ” Jawab Marwan sopan, “Ayo Mbak saya antar…”

“Nggg… Yaudah deh… Aku ganti baju dulu ya…” Jawab Anissa singkat.

“Udaaah… Nggak usah ganti baju kali Nisss…. Daster kamu itu bagus kok buat kepasar….” Saran Citra.

“Ogah ahh… Daster kecil begini mana pantes dipake kepasar…?”

“Aaahh… Pantes-pantes aja kok…. Malahan… Badan kamu makin keliatan seksi loh….” Seru Citra lagi.

“Nggg…. Gitu ya….? Yaudah deh… Aku langsung jalan aja….” Ucap Anisa yang langsung berjalan balik kearah rumahnya sambil menyeret telinga Marwan, “Selagi aku kepasar… Kamu cuci baju ya Set… Jangan malas-malasan…”

“Aww… Aww… I… Iya Sayang… Aaduh… Aww… Aww…”

“Mas Jupri…. Nanti begitu selesai dari pasar…. Cepet pulang ya Mas…” Pinta Citra yang sudah kembali dari dalam kamarnya dan memberikan kunci mobilnya pada Marwan.

“Loh kenapa Neng….?” Heran Marwan melihat kecemasan diwajah Citra.

“Nggak kenapa-napa kok Mas…. Aku cuman pengen Mas cepet pulang aja….”

“Hmmmm… Baik deh kalo begitu….” Jawab Marwan yang kemudian mengambil kunci mobil Citra dan melangkah pergi.

***

“Mbak… Mbak Citra ada rasa ya dengan Mas Jupri….?” Tanya Muklis ketika Citra masuk membawa piring-piring kotor kedapur.

“Kenapa kamu berkata seperti itu Klis…?” Tanya Citra.

“Nggak tau Mbak… Aku nebak aja….” Jawab Muklis sambil memeluk tubuh Citra dari belakang, “Dari tatapan mata Mbak… Gaya bicara Mbak… Sampai ke permintaan Mbak barusan…. Aku ngerasa Mbak mulai ada feeling dengan Mas Jupri….”

“Ada feeling atau enggak… Itu bukan urusan kamu Klis… Itu urusan pribadi Mbak….” Ucap Citra sewot dan berusaha menepis pelukan tangan adik iparnya. “Kamu cemburu…?”

“Nggg… Iya Mbak…. Aku bener-bener cemburu….”

“Apa hakmu buat cemburu ama Mas Jupri Klis…? Emang kamu suami Mbak…?”

Muklis menggeleng.

“Lalu…? Apa alasannya kamu cemburu…?” Tanya Citra lagi.

“Aku cuman nggak suka kalo Mbak deket ama lelaki lain Mbak… Mbak itu milikku…” Jelas Muklis.

“Jangan ngarep terlalu tinggi deh Klis… Kamu tuh bukan apa-apa Mbak… Kamu nggak berhak minta macam-macam lagi dari Mbak… Terlebih meminta kenikmatan dari tubuh Mbak…”

“Yaaahhh… Mbaakk…? Trus… Gimana dengan hubungan kita Mbak…?” Ucap Muklis tak mengindahkan penolakan Citra, ia malah memeluk tubuh Citra lebih erat lagi.

“Hubungan gimana….? Hubungan kita yaa tetep Klis… Sebatas hubungan kakak ipar dan adiknya…” Jawab Citra yang akhirnya membiarkan pelukan Muklis pada tubuhnya.

“Trus yang kita omongin tadi…? Mbak udah nggak pengen aku entotin lagi…?”

“Udah ah… STOP…. Mbak nggak mau ngebahas tentang hal tadi…”

“Jadi…. Beneran nih Mbak…?” Tanya Muklis penasaran sembari mengendus dan mengecupi leher jenjang Citra.

“Beneran apa…?”

“Beneran aku nggak punya kesempatan lagi buat balik…?”

“Balik…?”

“Iya Mbak… Buat kembali jadi pemuas nafsu Mbak…” Ucap Muklis singkat sambil menurunkan celana kolornya dan mulai meremasi payudara besar Citra gemas.

“Aduuhh…. Kamu mau apa Klis…?” Heran Citra begitu mengetahui tingkah adik iparnya yang mulai kembali mesum seperti sedia kala.

“Ketika Mas Jupri pergi…. Jangan buat aku merana ya Mbak…. ” Kecup Muklis pada leher Citra dan menarik bawahan daster Citra naik. Kemudian, dengan gerakan super cepat, Muklis buru-buru nyelipkan batang penisnya yang sudah tegang ke belahan pantat bulat kakak iparnya dan mendorongnya maju, menyelinap ke belahan vagina Citra yang masih lembab.

“Bentar Klis… Bentar….”

“Hehehehe…. Selalu jadikan aku pemuas nafsu birahimu Mbak…..”

“Jangan masukin dulu Klis… Memek Mbak masih….”

CLEEP….

“Ooohh…. Muklisss…..”

Bersambung

END – Nafsu Besar Citra Part 37 | Nafsu Besar Citra Part 37 – END

(Nafsu Besar Citra Part 36)Sebelumnya | Selanjutnya(Nafsu Besar Citra Part 38)