Nafsu Besar Citra Part 35

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48 END

Nafsu Besar Citra Part 35

Start Nafsu Besar Citra Part 35 | Nafsu Besar Citra Part 35 Start

Sebuah Perjumpaan

“Sudah sampai sejauh apa hubunganmu dengan istriku Klis…?” Tanya Marwan dengan wajah merah padam. Saking emosinya.

“Sejauh mana….? Nnggg……?” Bingung Muklis.

“Jawab aja Klis… Mas pengen tahu….”

“Nnggg… Aku juga bingung Mas….”

“Loh kok bingung….?”

“Aku bingung nyeritainnya ke Mas kaya gimana…”

Marwan segera mengambil pak rokok dari saku celananya. Dikeluarkan satu batang rokok kemudian dibakar. Setelah itu, Marwan menghirup nafas dalam-dalam melalui rokoknya.

“Muklis Arianto…. Aku… Masmu… Marwan Sudiro….” Sungut Marwan sambil menghembuskan asap rokoknya ke wajah pucat Muklis “Aku… Suami Citra Agustina… Kakak iparmu…”

“Aku… Mau nanya kamu sekali lagi Klis…. Dan aku harap… Kamu mau berkata jujur….” Geram Marwan, “Istriku… Sudah… Kamu… Apain aja…?”

“Nnggg…. Anu Mas….” Bingung Muklis.

“Istriku… Sudah kamu intipin….?”

“I… Iya Mas….” Jawab Muklis dengan nada ketakutan.

“Sudah kamu grepe-grepe…?”

“Nggg.. I… Iya….” Jawab Muklis makin belingsatan.

“Terus…. Apa lagi….?”

“Nnnngggg…. A.. Apa lagi ya….?” Jawab Muklis kebingungan. Karena rasa takut yang amat sangat, otaknya seolah menjadi pikun.

“Kamu…. ?” Sejenak Marwan menghentikan pertanyaannya, ia menatap adik kandungnya dengan penuh kebencian

“Apa kamu… sudah ngentotin memek Mbakmu Klis…?”

DEG

Mendengar pertanyaan Marwan, Muklis seolah tersiram bergalon-galon air es.

Tubuh Muklis mendadak menggigil. Mungkin karena rasa takutnya yang amat sangat, tubuh adik Marwan itu mulai bergetar. Lututnya mendadak lemas, dan iapun jatuh terduduk ke tanah.

“Muklis….?” Tanya Marwan

“Nnnnnggg…. Anu Mas…” Bingung Muklis dengan wajah yang sudah pucat pasi.

“Jawab yang jujur… ” Tanya Marwan tegas, “Apa kamu udah pernah ngentotin memek istriku Klis…?”

Tak berani menjawab, Muklis hanya bisa menggerak-gerakkan kakinya. Berusaha mengurangi rasa tegang di dadanya. Mirip orang yang terkena penyakit parkinson.

“MUKLIS….!” Gertak Marwan sambil menyepak lutut Muklis yang tak bisa ia diamkan, “JAWAB PERTANYAANKU BANGSAT….!”

“Eh… I… Iya Mas… Iya… Aku… Aku… Pe… Pernah….”

“BANGSAT LO LO YA KLIS….. BANGSAT… ! ” Tendang Marwan lagi dengan keras. Kali ini ia menendang pundak Muklis. Saking kerasnya, Muklis sampai terjungkal mundur beberapa meter kebelakang.

” DASAR ADIK ANJING…. ” Umpat Marwan sambil berjalan mendekat ke arah Muklis yang masih tergeletak di tanah.

Melihat kakak kandungnya mendekat, Muklis buru-buru bangun. Dan bersiap menghadapi siksaan dari Marwan. Namun, karena masih terlalu takut, lutut Muklis kembali lemas. Dan ia terjatuh lagi.

“BERAPA KALI KLIS…?” Tanya Marwan dengan tubuh bergetar hebat karena menahan emosinya yang sudah teramat tinggi. Tangannya mengepal kuat, sampai-sampai otot lengannya mulai bermunculan.

“BERAPA KALI LO UDAH NGENTOTIN MEMEK ISTRIKU…?”

Karena Muklis begitu takut, ia memilih tak menjawab pertanyaan Marwan. Ia hanya bisa pasrah sepenuhnya kepada kakak kandungnya. Mau dihina, mau dihajar, atau mau dibunuh, ia rela.

“MUKLIS….?” Gertak Marwan dengan mata merah menyala, “SUDAH… BERAPA…. KALI… LO… NGENTOTIN… MEMEK… ISTRIKU…? “

“U… Udah… Nggg…. Sering… Mas….”

“BANGKE LO BANGSAT….! ” Marwan tiba-tiba meraih tubuh lemas Muklis dan membantingnya kearah pintu mobil Citra kuat-kuat.

BLAAAAMMMMM… KRAK…KRAK… BLUGH….

Suara punggung Muklis terhempas kearah pintu mobil dengan kencang, sebelum pada akhirnya ia jatuh terduduk lagi. Hempasan tubuh Muklis membuat kaca pintu mobil itu retak dan pecah berhamburan.

“Ampun Masss.. Ampuuunn…. Hiks hiks…. Ampunnn….” Tangis Muklis pun pecah.

“GAK ADA AMPUN BAGI LO ANJING….!” Tendang Marwan kearah perut Muklis.

Sungguh, kemarahan Marwan benar-benar tak terbendung lagi.

BUGH… BUGH… BUGH… BUGH…

Muklis menerima tendangan Marwan dengan bertubi-tubi. Tanpa perlawanan, tanpa tedengan apapun. Ia hanya bisa menerima segala siksaan dan perlakuan kasar Marwan dengan pasrah. Satu-satunya hal yang bisa Muklis lakukan hanyalah mengiba. Meminta belas kasihan terhadap kakak kandungnya yang telah ia khianati.

“Hiks…Hikss…. Ampun Maas Marwaaan… Ampuuunnn… Hikss…Hiks…” Ronta Muklis sambil menangis sejadi-jadinya.

“Klisss…? Muklisss….?” Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar sayup-sayup suara wanita yang memanggil-manggil namanya. “Kliss…? Muklis…? Kamu dimana Klis….?”

“Mbak Citra….” Seru Muklis lirih.

Mendengar suara istrinya, Marwan buru-buru menghentikan siksaan pada adik kandungnya.

“Muklis…? Kamu dimana sih Klis….? Mbak udah selesai inih…” Panggil Citra lagi sambil berjalan kearah parkiran mobil.

“Itu bini gw udah selesai…. Buruan lo muter kebelakang…. Beresin baju lo di kamar mandi…” Perintah Marwan tegas, “Setelah itu lo kesini…”

“I…Iya Mas…” Jawab Muklis yang buru-buru bangun dan berjalan terseok-seok.

“Satu lagi….” Selak Marwan, “Jangan sampe Mbakmu tahu apa yang baru saja terjadi…”

“I…Iya Mas…” Ucap Muklis yang kemudian hilang berbelok ke belakang klinik.

“Loohh….? Mas….? Mobil saya kenapa…?” Tanya Citra yang tak lama kemudian sudah tiba di pelataran parkir. Wajah ayunya mendadak bingung ketika mendapati kondisi kaca pintu mobilnya yang pecah berantakan, “Mas siapa…? Dimana adik saya…?”

“Eh… Dek…? Muklis… Ke kamar Mandi….” Jawab Marwan spontan ketika mendengar pertanyaan Citra.

“Dek…? Dek siapa Mas…?” Bingung Citra ketika mendapati pria yang ada dihadapannya memanggil dirinya dengan sebutan ‘Dek’, “Mas siapa ya…?”

“Aku disini Mbak…” Seru Muklis yang sudah muncul dari arah belakang Citra.

“Eh… Klis…. Bajumu kok kucel gitu Klis…? Kamu habis ngapain…? Mas Marwan Mana….?” Bingung Citra memberondong Muklis dengan banyak pertanyaan.

“Ma… Mas Marwan….?” Heran Muklis ketika mendapati kakak iparnya tak mengenali sosok pria yang ada di hadapannya.

“Iya… Tadi khan Mas Marwan ama kamu Klis…? Sekarang dia dimana….?” Tanya Citra lagi sambil menatap heran kearah pria berjambang yang ada didekatnya. “Dia siapa Klis…?”

“Haaaah…? Citra tak mengenaliku…?” Kaget Marwan dalam hati. Sejenak, Marwan menatap tajam kearah mata bulat Citra, mata yang selalu memancarkan kecantikan alami seorang wanita.

“ASTAGAA…. Tatapan matanya bening dan jujur….. ” Batin Marwan yang kemudian melempar sebuah senyuman ke istrinya.

“Klis… Kamu sedang sama siapa Klis…?” Tanya Citra membalas senyum Marwan yang tak ia kenali lagi.

“Dia khan….”

“Saya… Jupri Bu…. ” Potong Marwan sebelum Muklis berkata apa-apa lagi. “Saya orang suruhannya Pak Marwan….” Tambahnya lagi sambil menjulurkan tangan kearah Citra.

“Jupri….?” Heran Citra membalas jabat tangan Marwan dengan tatapan yang tajam. Menatap tubuh kekar lelaki yang sedang berada didepannya dari ujung rambut ke ujung kaki.

“WOOOWWW… Tangan ini… Aku lupa jika tanganmu semulus ini Dek…” Batin Marwan menjabat tangan putih Citra sambil mengamati segala perubahan yang terjadi pada diri istrinya.

Mata Marwan tak berkedip merekam setiap jengkal tubuh semok istrinya yang sudah lama tak ia lihat. Dengan pakaian yang relatif mini, Citra terlihat begitu menggoda. Membuat emosi Marwan yang semula meluap-luap, mendadak sirna. Tergantikan dengan gejolak nafsu yang perlahan muncul pada dirinya.

Dress biru tipis Citra terlihat begitu tipis dan memperlihatkan seluruh lekuk tubuh semoknya. Dengan belahan payudaranya yang cukup rendah, membuat Marwan dapat mengetahui keberanian istrinya yang sama sekali tak mengenakan bra.

“I… Iya Bu… Saya Jupri….” Jawab Marwan tak melepas jabatan erat tangannya.

“Kamu memang bener-bener cantik Dek….” kagum Marwan yang semakin kesulitan menahan gejolak birahinya.

“Si Mas Jupri… Suruhan Mas Marwan…?” Tanya Citra.

“I..Iya Bu….”

“Emang sekarang Mas Marwan kemana ya…?”

“Tadi Pak Marwan sudah kembali ke proyek Bu…”

“Looohhh… Kok udah kembali…. ?” Bingung Citra sambil menatap kearah Muklis yang juga terlihat kebingungan melihat tingkah kakak kandungnya yang berpura-pura menjadi orang lain.

Melihat kebingungan Muklis, Marwan buru-buru melotot tajam kearahnya. Seolah memberitahukan supaya Muklis tak membongkar sandiwaranya.

“Iya Mbak… Tadi Mas Marwan buru-buru Mbak….” Jelas Muklis mencoba menjelaskan.

Entah pemikiran darimana, melihat kebingungan Citra Marwan tiba-tiba ingin mengetes istri cantiknya. Selagi Citra tak mengenalinya sama sekali, ia ingin menggunakan kesempatan langka itu untuk mengorek segala macam kelakuan nakal Citra ketika ia tinggal keluar kota.

Mungkin karena penampilan Marwan yang menggunakan jambang panjang, membuat Citra tak mampu mengenalinya lagi. Ditambah dengan kulitnya yang menghitam dan otot tubuhnya yang terihat menggelembung, membuatnya terlihat begitu berbeda dengan Marwan yang dulu.

Marwan yang dulu gendut, berkulit putih dan lemah, sekarang sudah berubah menjadi Marwan yang kekar, berkulit gelap dan jantan.

“Nggg.. Gitu ya Klis…?”

“I.. Iya Mbak….”

“Trus…? Kenapa mobil aku ya Klis…?”

“Itu tadi dibanting Pak Marwan Bu…. Pak Marwan tadi emosi karena disuruh balik ke proyek….” Jelas Jupri alias Marwan.

“Ya Ampuuuunnn… Pasti suami aku kesal banget ya Mas…? Sampe hancur semua begini…”

“Iya Bu… Pak Marwan kesal sekali…”

“Yaaahh.. Jadi rusak deh mobil Mbak Klis…”

“Tenang aja Bu…. Nanti kerusakan mobil Ibu bakal saya bantu ajukan ke asuransi biar perbaiki…

“Hmmm… Yaudah deh kalo gitu…. Yuk Klis… Kita pulang aja sekarang…” Pinta Citra.

“Nggg… Periksanya sudah selesai Mbak…?” Tanya Muklis.

“Iya udah… Sekarang kita makan dulu yuk Klis… Mbak laper banget nih gara-gara tadi kalian berdua genjot habis-habisan… Hihihihi…”

“Hah…? DIGENJOT….?” Tanya Marwan kaget.

DEG….

Mendengar ucapan Citra, jantung Muklis terasa kembali berhenti berdetak. Mata Muklis tiba-tiba melotot kaget. Ia sama sekali tak menyangka jika perkataan Citra yang begitu vulgar bisa terucapkan begitu saja.

“Eeh… Bukan… Bukan digenjot Mas…Maksud saya… Saya lapar banget karena tadi saya baru diperiksa ama dokter… Mas… Hihihihi….” Elak Citra tertawa geli sambil berusaha berbohong.

“Kamu tak bisa berbohong Dek…” Batin Marwan yang sedikit banyak, mencium aroma aneh yang semerbak disekitaran tubuh istrinya. Walau sengaja ditutupi oleh wanginya parfum di tubuh Citra, Marwan masih dapat mengenali aroma anyir ini. Terlebih ketika Marwan melihat kilauan lendir dari sekitaran paha dalam Citra, membuat suami Citra itu seolah dapat langsung mengetahui apa yang baru saja istrinya lakukan didalam klinik tadi. “Bilang aja lo abis dientot Muklis ama dokter sialan itu Dek… Pake bilang diperiksa segala…”

“Ahhh… Si Ibu ini sepertinya pinter banget ya ngebuat orang berpikiran macem-macem saja…” Kata Marwan basa-basi.

“Hihihi… Orang emang abis diperiksa kok….” Jawab Citra sambil melemparkan senyuman yang mampu membuat semua pria di dunia ini luluh kepadanya.

“Owww.. Diperiksa….?” Ucap Marwan sambil kembali menatap tubuh Citra.

“Kenapa Mas…? Kok ngeliat saya seperti itu….?”

“Ngg… Maaf Bu kalo saya lancang… “

“Lancang kenapa…?”

“Saya cuman iri Bu….Beruntung banget Pak Marwan punya istri secantik Ibu…?” Goda Marwan.

“Halah… Si Mas bisa aja… ” Jawab Citra dengan wajah tersipu-sipu, “Yaudah yuk… Kita makan aja…. Eh iya Klis… Ajak Mas Jupri buat ikut makan ama kita aja sekalian… Dia pasti laper juga…?” Tambah Citra yang dengan tiba-tiba mengusap pipi Muklis dengan lembut di hadapan Marwan.

“Eeeh… Mbak…” Kaget Muklis sambil buru-buru menepis tangan Citra dari wajahnya.

“Looohh.. Tumben kamu malu Mbak usap pipimu Klis…? Gara-gara ada Mas Jupri ya…? Hihihi…” Goda Citra yang kemudian entah mengapa memeluk tubuh Muklis erat, “Mmmmppppphhhh….. Adek Mbak ini selalu bikin gemes dech…”

“Ehh… Udah-udah Mbak…Iya… Aku malu…. ” Jawab Muklis yang berusaha membebaskan diri dari pelukan kakak iparnya, “Ehh.. Nggg….Yuk ikut kita….Mas…”

“Kampret… Kelihatannya hubungan mereka sudah cukup jauh…” Batin Marwan ,”Rupanya istriku sudah tak malu-malu lagi bermesraan didepan suaminya….” Umpat Marwan dalam hati.

“Eeh iya… Sekarang Citra khan tak mengenali penampilan baruku ini… ” Ingat Marwan.

“Sekarang aku khan bukan Marwan… Aku bukan suami Citra… “

“Kamu adalah Jupri Wan… Kamu adalah Jupri…”

“Mas…?” Ajak Citra sambil mengamit tangan Marwan dan membukakan pintu samping mobil untuknya, “Ayo ikut Mas…. Daripada disini sendirian…Saya bayarin kok…. Tenang aja… Hihihi….” Tambah Citra yang kemudian duduk di kursi depan, disamping Muklis.

“Ehh.. I.. Iya Bu….” Jawab Marwan kaget yang kemudian mengikuti Citra masuk kedalam mobilnya.

“Kita makan soto gedor aja ya Klis…” Pinta Citra sambil mengusap paha dalam Muklis perlahan.

“Eh.. I… Iya Mbak…. ” Jawab Muklis kikuk. Berulang kali ia menatap kaca spion tengah, berusaha meminta maaf atas kenakalan kakak iparnya itu.

“Mas Jupri udah pernah makan soto gedor belom…?” Tanya Citra yang tiba-tiba menengok kearah belakang dan mengusap lutut Marwan.

“Eeehh…? Belom Bu…” Jawab Marwan kaget.

“Waah… Enak banget Mas…. ” Kata Citra yang kali ini mengusap-usap lutut Marwan. Membuat suami Citra itu tiba-tiba merasa merinding enak karena usapan tangan lembut Citra. Walhasil, rasa geli itu merambat naik, kearah batang selangkangannya, “Mas pokoknya harus nyobain deh…. “

“Ooohh… Emang seenak itu ya Bu…?”

“Iya…. Sekalinya Mas Jupri makan… Pasti bakalan ketagihan deh… Sluurrpp….Uhh… Maaf… Baru ngebayangin aja…. Saya sampe ngiler… Hihihi….” Tawa Citra sambil menepuk-tepuk paha Marwan.

“Apakah Citra memang senakal ini ya…?” Tanya Marwan dalam hati.

Sebenarnya, Marwan tahu, Citra hanya berusaha ramah terhadap teman barunya. Namun, entah kenapa, Marwan merasa sepertinya ada yang salah dalam penyampaian kalimat dan gaya bicara istri cantiknya. Karena dengan hanya melihat tingkah laku dan cara bicara Citra, lagi-lagi membuat Marwan teringat akan video persetubuhan istrinya. Dan anehnya, hal itu membuat kejantanan Marwan, seketika menggeliat hebat.

“Hehehe… Okedeh Bu… Saya bakal nyobain apa yang enak menurut Ibu….” Ucap Marwan yang secara reflek, berusaha membetulkan batang penisnya yang terjepit oleh celana sempitnya.

“Ehh… ” Kaget Citra ketika melihat perbuatan Marwan dan mendapati tonjolan yang mendadak tumbuh di selangkangannya.

Sejenak, mata Citra dan Marwan bertemu. Mereka saling bertatapan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Yang ada, hanya senyuman manis Citra yang tiba-tiba tersungging lebar di wajahnya. Setelah itu, Citra kembali duduk menghadap depan dengan wajah yang lagi-lagi tersipu merah.

“Kita lihat saja… Apa yang bakal terjadi setelah ini Dek…” Batin Marwan sambil mengusap-usap area selangkangannya yang semakin menyembul keras.

Bersambung

END – Nafsu Besar Citra Part 35 | Nafsu Besar Citra Part 35 – END

(Nafsu Besar Citra Part 34)Sebelumnya | Selanjutnya(Nafsu Besar Citra Part 36)