My Magic Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22 END

My Magic Part 5

Start My Magic Part 5 | My Magic Part 5 Start

Genie in the Bottle​

“Hei…”

“Apaan sih…”

“Hei…”

“Ine ada apa sih Ine? Ini kan masih tengah malem…” jawabku sabar, walau masih dengan mata terpejam…

“HEI UDA…!!” Ine masih ngotot ngebangunin aku

Seminggu sudah berselang dari tragedi telepon mendadak Vika waktu itu. Semenjak itu, intensitas komunikasi kami memang sangat aktif, seperti mencoba membeli kembali waktu yang sempat tergadaikan kemarin. Aku juga sudah menemukan sebuah kost yang nyaman buatnya. Katanya, fix dia akan datang senin pagi minggu depan. Ini hari kamis.

Jujur, aku juga sangat menikmati hari-hari keberadaan Ine di Nest. Walau dia sering aku tinggal akhir-akhir ini untuk mengurusi persiapan Ujian Profesiku yang memang sudah semakin dekat. Aku belajar banyak dari Ine, mengenai hidup dan mengenai menerima takdir tanpa pasrah kepadanya.

Ine adalah wanita yang sangat menarik, dengan pemikiran yang menarik pula. Satu hal besar yang membuatku risau, bagaimana menceritakan tentang Ine kepada Vika. Ine adalah rahasia besar-ku yang menurutku harus ku simpan rapat-rapat saat ini. Keberadaan Ine bagaikan Jin-Dalam-Botol buat-ku. My Genie in the Bottle…

Dari kejadian yang terputus oleh telepon Vika malam itu, aku dan Ine seperti sama-sama sepakat menjaga jarak. Mulai malam itu, aku tidur di sofa sedangkan Ine tidur di ranjang-ku. Sarang-ku memang hanya mempunyai satu kamar tidur. Menghindari hal-hal yang di-inginkan terjadi. Maklum, laki-laki dengan mental Tripel-X bin Ngacengan(1) sepertiku memang mudah tergoda dan di-goda

(1) Walau postur dan gesture super kalem ala Mas-Karyo-Kualitas-Bibit-Unggul-Hibrida-Tahan-Hama selalu melekat pada-ku dan selalu membuatku stai-kul dalam setiap pergumulan dan pendakian, namun… Wis…wis… Cuk! Malah marakke nyesek dadaku binti mumet ndasku…

“UDAAAA!!!” Ine mengguncangku semakin keras

“Iya…iya…iya…iya…” aku akhirnya terbangun “Apaan sih Ine??”

“Perutku sakit banget…” desahnya manja. Ine jarang manja dan sangat mandiri sejak malam itu, jadi entah kesambet jin mana dia malam ini…kok jadi lenjeh gini. Kata orang sih sifat orang hamil tuh aneh, moody banget…Ember!

“Eh? Waduh…gimana dunk?” Jawabku sepontan panik langsung bangkit duduk sambil secara reflek mengelus-elus perut itu, rasa kantuk yang tadi setengah mati masih menggelayut di mata semerta-merta hilang

“Hihihi…seneng liat wajah kamu panik seperti itu Da…”

“Eh? Maksudlo? Sialan…” umpatku saat tau Ine hanya ngerjain aja

“Hush! Jangan ngumpat, gak baik di dengar dedek…” jawabnya sambil ngusap perut

“Maaf…kebiasaan…hehehe…maaf ya diikkk…mmmuahh…” jawabku sambil mencium perut Ine cepat

“Kebiasaan jelek papa-mu jangan di contoh ya dik…!” ujar Ine semakin ganjen masih sambil mengelus-elus perutnya

“Becanda loe jelek!” kataku sambil menyentil hidungnya

“Hehehe…ngetest, Uda masih care nggak sama Ine…”

“Maksudlo?”

“Hihihi…Nggak ding, lupain ajah…eh, aku mau ngomong…”

“Ngomong besok pagi ato pas siang kayak orang normal lain-lainnya napa? Kamu juga bukan kuntilanak kan?” kataku sambil menggeliat malas, bersiap rebahan lagi

“Aku besok pergi” ucapnya cepat.

Tiga kata yang sebenarnya aku tahu akan keluar dari mulutnya cepat atau lambat. Tiga kata yang benar-benar tidak ku harapkan untuk ku-dengar. Memang, sebentar lagi Vika akan datang, dan mungkin kita akan menjalin kembali kisah-kasih seperti yang selalu ku impikan. Namun entah kenapa, akhir-akhir ini aku benar-benar merasa ketakutan walau hanya memikirkan kalau Ine memutuskan untuk pergi.

Walau keputusan pergi memang 100% hak dia. Walau kita memang tidak ada komitmen apapun, namun kata-kata tadi, entah kenapa mengaduk-aduk hampir seluruh perasaanku, membuatku sepontan kecewa, takut kehilangan sekaligus marah…

“Kenapa? Pergi kemana? Trus apa rencanamu? Aku tau saat ini situasi kamu gak enak, tapi jangan emosional gitu dong In, kita harus membicarakan ini dulu. Jangan egois sepihak gitu dong…aku…” entah kenapa, intonasi bicaraku meninggi

“Sttt…” Ine membungkam mulutku dengan jarinya

“In… please…aku…”

“Sttt… dengerin aku dulu…”

“Nggak! Kamu yang dengerin aku!”

“Uda!”

“Ine!”

“Uda denger! Apa Yang Ingin Kamu Buktikan Lagi?!?” Suara Ine meninggi

“Buktiin?!? Maksudlo Apa?!?”… HOh! Dia kira suaraku tidak bisa meninggi?

“Uda, Liat Dirimu! Kamu laki-laki baik, dalam usiamu yang segini sudah bisa mempunyai ini-itu, dan masa depanmu pun tak kalah cerah! Studimu, impianmu, semuanya sudah hampir kau raih! Dan liat aku…aku cuman wanita yang kebetulan kamu temukan pingsan di halte, aku bukan siapa-siapamu dan AKU HAMIL !! Aku…”

“In, Kamu Mau Hamil, Mau Kagak Terserah !!! Aku gak peduli…!! Aku…aku gak bisa kehilangan kamu In…” Aku pun ikut emosi, sepontan mengungkapkan perasaanku

“Heh! Kau jangan gila ya!” tiba-tiba Ine berkata marah sambil menunjuk mukaku, air mata menetes deras dari matanya. Keliahatan kalau dia sudah tidak dapat membendung apapun yang ia rasakan saat ini. Jujur, begitu-pula denganku

“Apa Kamu Bilang?!? Fine! Kalau Aku Gila Emang Kamu Mau Apa?!” tantangku sambil menepis tangan kecilnya tak kalah emosi

“Kamu pikir pakai otak Da! ADA seorang wanita, PACARMU!! Datang dari jauh, hanya demi janji kalian! Hanya demi harapan dan cintanya! Dan kau… Da, aku juga wanita ‘Da! Walaupun aku kayak gini, hamil tanpa tau siapa bapak dari janinku! Tapi aku juga wanita… Aku juga punya hati ‘Da! aku gak mungkin menyakiti hati wanita lain…” Matanya semakin memerah dan air-mata itu semakin membuncah

“In…”

“Dan…please Da!!! Kau Mau Jadiin Aku Apa? GUNDIK-mu? SIMPENAN-mu? APA?!?”

“INE!!”

“Hamil Tanpa Tahu Bapak Dari Janin-ku Tidak Membuatku Menjadi PELACUR DA! INGAT ITU !!” Jeritnya lagi, hampir histeris

“INE CUKUP!!!”

Dan Ine tiba-tiba tertunduk sambil menangis tersengal-sengal

“In…” desisku lirih sambil beringsut maju mendekatinya. Kubelai rambutnya. Punggungnya. Dan aku mencoba untuk memeluknya

“Sttt…Udah…udah…sttt… Ine jangan ngomong gitu lagi ya? Ine gak boleh ngomong gitu lagi…aku…minta maaf, aku yang salah… maafin aku ya In… sssttt…udah…udah… Everything gonna be allright… kita akan hadapi ini bersama… Ok?” aku berujar sekalem mungkin, mencoba menenangkan Ine

“Goblek! Bodo! Bego!” Ine masih mencoba meluapkan emosi sambil memukul-mukul dada-ku dari pelukan. Kurasa, kami berdua faham isi hati masing-masing…andaikan kami bertemu dalam waktu dan keadaan yang sedikit lebih baik…

“Ssttt…Iya…iya…aku tau Ine sedikit bego…ntar les di Bim-Bel biar jadi pinter…” kataku masih berusaha menenangkan sambil sedikit mengajaknya becanda

“Kamu itu yang Goblek! BEgooooooo!!” jawabnya gemes, sambil mencubit perutku sekuat-kuatnya

“Owww… Oww… Oww… Aduuhhh… iya…iya, aku bego, abis gimana lagi, bawaan lahir…hihihi…”

“Gak Lucu!”

“Iya maaf, gak lucu…” kataku sambil masih terus memeluknya dan mengelus punggungnya

“Iiiiii…nyebeliiiinnnn…” Ine mencubit lagi perutku…

“Iya maaf, aku nyebelin…” ujarku sedikit melengking sambil menahan sakit dari cubitan Ine yang memang tidak tanggung-tanggung

“Arrrghh!!!” teriaknya tambah emosi sambil mencubit perutku semakin kuat…

“Aww…Awww… sakit beneran…Ampunnn…Ampunnnn…Ampunnn…!” namun aku tak juga melepas pelukan dan belaianku ke punggung dan rambut-nya…

“Rasain!” gerutunya dalam kemenangan, dia-pun kurasakan sedikit tenang sekarang

“Gimana sih gimana? Maksudmu gimana? Ine cantiikkk…” Tanyaku lagi sambil memegang dan membelai pipi-nya dengan kedua tanganku setelah semuanya mereda, dan setelah dengan ngawur Ine mengelapin ingus-nya ke lengan kaos-ku. Kurang-lebih hampir 45 menit Ine meringkuk dan terisak di pelukanku. Lama juga kucing kalau mewek…

“Kamu tuh emang gila ya ‘da! Sinting! Bego! Gak punya otak!” Ine masih nyinyir

“HEH! Halah! Gak usah ngulang-ulang info yang aku dah tau! Sekarang info-in aja sesuatu yang aku belum tau! Maksud-mu gimana? Itu aja pertanyaanku!”

Ine geleng-geleng kepala “Ealah…Gusti Pangerannnn! Ketemu Lanangan kok ya yang kaya gini to yaa…ya…! Gimana to ‘Da, caranya biar aku gak jatuh cinta ama kamu…” desahnya masih nyinyir

“Emang kamu jatuh cinta ama aku In?”

“Haiyah! Nggilani ding! Njijik’i !!” sahutnya lagi sambil ngetok-ngetok jidatnya sendiri, takut pamali kali…

“Heehh…piye, piye? Maksud kamu gimana?”

“Aku tuh kemaren minjem HP kamu ‘Da, buat nelpon mama-ku…”

“Ok, aku akan catat itu dan masukin ke total BON kamu…”

“Iiiihhh…mulai deh nyebelin lagi…”

“Gak ada yang gratis di dunia ini sayang, semua ini nanti akan timbul Invoice alias tagihan yang akan ku tagihkan ke kamu…”

“Pret! Tak bayar semua ntar, lunas! Ini tak beli sekalian…” jawabnya selebor, sambil dengan kurang ajar mentowel selangkanganku, singasana Sang Rajo Mudo Datok Bagindo Porno

“Oww…jadi begitu…” kataku setelah mendengarkan seluruh informasi dari nya. Kata Ine, mama-nya cuman minta satu; Ine pulang. Mereka akan menghadapi apapun yang terjadi bersama-sama, sebagai keluarga.

Katanya juga, mama-nya ini ini juga single parent, orang tua Ine bercerai bertahun-tahun yang lalu, lalu si-Ayah menghilang begitu saja tanpa bertanggung jawab. Dan sang mama dengan gagah-perkasa berjuang dan menghidupi keluarga sendirian. Wanita yang sangat hebat. Wajar saja anaknya juga sangat hebat…

“Lu olang omong baek-baek gak bisa apa In?” ujarku lagi dengan logat sok jadi ngkoh-ngkoh singkek sambil mentowel jidatnya, gemez!

“Koh, kalo Ine gak dramatis, gak dapet pelukan koh…udah berhari-hari di anggurin ni koh…” jawab Ine gak kalah selebor

“Haiyah! Sini engkoh peluk sambil tak koyor-koyor susu-mu!” becandaku dengan vulgar

“Halah! Berani po? Nih!” Ine malah menantang sambil membusungkan dadanya

Aku menelan ludah…Minder…

Saat itu jarum pendek jam dinding yang tercantol di kamarku sudah menunjuk angka dua. Sudah dini-hari. Aku memang jadi gak bisa tidur. Ine sudah meringkuk di pelukanku sambil sesekali aku ciumi kepalanya, seakan itu malam terakhirku dan besok aku akan kehilangan dia untuk selamanya. Tadi memang dengan berat-hati, aku memenuhi permintaan Ine untuk menemani bobo di kamar…

Dengan berat hati?

“Iiiihhhh…” kudengar Ine mendesis pelan

“Lhah? Kukira kamu uda bobo In… ada apa lagi? Perutmu sakit lagi?” tanyaku sambil berusaha mengelus perutnya

Ine tidak menjawab, hanya kembali mendesis-desis

“Ih, kamu kenapa sih In? jangan bikin takut deh!” desakku

“Iiiiihhh…Kamu cerewet banget sih?” jawabnya pendek

“Abis kamu…”

“Iiihh…cerewet…aku lagi sange tauu…”

“Eh?” aku garuk-garuk kepala

Dan Ine kembali mendesis-desis kacau

“Iiiiihhh… Stttt…Anjir…ngentot enak nih…aaaduuhh…memek-ku gatel banget sihhh…iiihhhhh…pengen di colokin kontol…”

“Anjir, vulgar banget sih loe? Pasti ngebayangi yang aneh-aneh…” lain di mulut, lain di bawah perut. Sebenarnya aku juga udah mulai berdiri… Sialan!

“Cerewet ah!! …Eh, kontolmu tak pegang ya?” omongan Ine masih vulgar bin nggilani

“Suka-suka kamu deh…” tantang-ku

“Tapi jangan bales megang ya…”

“Iya…iya…ndoro putri…”

“Tuhanku…Gilaaak…sstttt…ssssttt…” tanpa menunggu lagi, Ine langsung memegang dan mengkucel-kucel rudalku yang memang sekarang sudah berdiri sempurna

Tiba-tiba dengan menggeliat-geliat lucu, Ine sudah berhasil melepaskan celana boxer pendekku yang malam itu dia pakai. Lalu dengan cuek, menumpangkan satu kaki ke atas juniorku lalu mulai mengkucel-kucel rudalku dengan betisnya dan mulai masturbasi dengan menggesek-gesek dan mencolok-colok vaginanya dengan jari-nya sendiri sambil merem dan mendesah-desah erotis. Aku yang di suguhi live show seperti itu dengan sepontan ternganga…

Ya Ampun, Ini benar-benar Erotis

Kalau kaya gini caranya…

Tapi aku akan mencoba untuk bertahan!

Bertahan untuk apa?

Sial!

OK, aku gak tahan!

“Persetan!” gerutuku pendek sambil menyorongkan bibirku ke bibir Ine yang dari tadi mendesis, melenguh dan mengerang-erang dengan mimik dan gerakan yang betul-betul merangsang. Ditambah goyangan payudara dan perut buncitnya yang entah kenapa terlihat benar-benar erotis dan suara kecrapan dari vagian basah dan merekah-nya yang di kobel dengan nafsu…

Ine menyambut panas kecupanku, dan kami berpagutan. Panas. Membara…

PLAK!

Tiba-tiba ine menamparku… Telak!

“Eh? Ine?!?” jujur aku kaget… ku kira dia marah beneran

“Anjir…Goblek…aku gemeteran nih…gila…colok doooongg…colokin aku dooongg…” ujarnya masih memejamkan mata sambil gemeteran beneran. Ni anak emang aneh tapi nyata!

Kenthir ni anak! Lalu dengan cepat aku bangkit dan melepaskan celanaku. Mengeluarkan senjata pamungkas kebanggaanku

“In…In…liat nih…” desisku pendek menggoda setelah mengangkang di atas muka Ine yang berbaring terlentang sambil memejamkan mata dan masturbasi. Ku tampar-tamparkan batang penisku ke pipi-nya

“HAAAAHHHH…AMPUNNN TUHANNN!!” Ine menarik nafas lewat mulut dengan kaget sambil mengeluarkan ekspresi terbeliak yang lucu ketika membuka mata dan melihat batang-ku sudah berayun-ayun di depan mukanya. Batang kebanggaanku memang mempunyai ukuran yang sedikit berlebihan untuknya. Waktu batang itu dengan nakal ku-letakkan di mukanya, ia membentang dari dagu sampai dahi Ine

“Ohhh…Mampus gue dapet kontol hibrida…” desisnya excited dengan bahasa vulgar…

“Mau di tusuk sekarang…??” tanyaku ganjen-ganjen gokil

“Iiiiihhh…gak usah make nanya deh ah…Ayo cepetan!”

Aku emang tidak mau repot-repot menjawab kicauan cewe sange. Dengan cepat-tepat-dan-senyap, seperti prajurit pasukan khusus baret merah yang terlatih, aku beringsut turuh dan memposisikan pinggangku di depan vagina Ine yang sudah mengangkang. Vagina itu nampak basah dan membusung dengan lucu. Mungkin bentuk vagina wanita hamil memang kaya gini ya?

Segera ku gesekkan kepala penis-ku ke bibir vaginanya. Licin dan panas. Mungkin orang hamil memang memiliki suhu vagina yang lebih panas. Belum apa-apa, sensasi suhu itu telah memberikan rasa yang luar biasa pada sekujur tubuhku. Jujur, aku gemetaran antara sange berat dan takut-takut menusuk vagina wanita hamil…

Namun akhirnya…

BLESSS… OOOWWGGG….PARADISO !!!

<<My Genie in the Bottle…Finally Executed!>>

Bersambung

END – My Magic Part 5 | My Magic Part 5 – END

(My Magic Part 4)Sebelumnya | Selanjutnya(My Magic Part 6)