My Magic Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22 END

My Magic Part 4

Start My Magic Part 4 | My Magic Part 4 Start

Semar Mesem ​

“Achhh…”

Dan kami masih berciuman, mengungkapkan rasa apapun yang mungkin bergejolak di dalam dada dan hati kami. Namun tak memerlukan waktu lama, gairah mengambil alih keintiman curahan perasaan itu.

Ine mulai mendesah dan mejalarkan tangannya kembali ke-arah pusaka keramatku bersarang. Menjamahnya, mencoba meraba ujung-pangkal dari benda kalem yang sekarang beranjak nakal seiring dengan sentuhan tangan hangat Ine. Dia pun mulai melata ke pangkuanku. Lalu duduk di atas pahaku dalam posisi berhadapan

“iiihh, lepasin ah!” kataku sambil menyingkirkan tangan genitnya yang masih menjelajahi pusaka paku-bumi ku

Ine masih berusaha melawan tanganku yang berusaha menyingkirkan tanagannya yang mengkucel-kucel selangkanganku. Dia malah dengan genit menatapku sambil menjulurkan lidah-nya dan mengkerut-kerutkan hidung dengan ekspresi lucu

“Iiiiii…huft! Geli tau! Jangan pegang pegang!” kataku sambil melotot gemas dan tersenyum geli, saat berhasil membentangkan tangannya lurus ke samping

“Emang napa? Ga takut ama amcamanmu…weekk…”

“Awas, kalau masih nekat megang-megang…” nadaku mengancam lagi

“Mau apa? Heh!” tantangnya sambil melingkarkan tangannya yang sudah kulepaskan ke leherku

“Kalau kamu masih nekat pegang-pegang…Aku bales pegang!” ancamku dengan mimik genit

“hahahahaha…Lepaskan…! Oooohhh…!! Biadab! Iblis! Ooo…oooo…Oooo…hhhh…” Ine dengan gokil menirukan adegan pemerkosaan di film-film Indonesia Zaman mba Susana masih menjadi ratunya, lengkap dengan adegan menggigit bibir bawah sendiri, gelengan kepala dan membetot-betot leher baju…parah ni anak!

Ku gelitikin aja!

“Iiiiii…Uda… Uda… Uda… Uda… Uda… Uda… Uda… iiiiH! Perutku Kram tau!!” teriaknya sok histeris sambil memegangi perut buncitnya

“Aduuh, aduh…maaf…maaf…maaf…” kataku sepontan panik sambil mengelus-elus perutnya, maklum, aku memang belum berpengalaman memperlakukan wanita hamil…

Ine malah memandangiku yang dengan geli sambil haha-hihi. Sial, dikerjain gue…

“Jangan gitu dunk…takut beneran nih…” rajukku

“hihihi…takut apa care?” desis Ine lirih, meng-cooling-down becandaan kami sambil menegelus dan membelai rambut di atas telingaku. Sambil menggigit bibir bawahnya secara erotis, ia kembali mendekatkan mukanya ke mukaku. Memajukan duduknya sehingga membuat tubuh kami menempel. Tidak hanya empuk dadanya yang kurasakan, namun perut buncit yang juga menempel itu, mengalirkan hawa panas yang aneh…yang…semakin membakar libidoku. Aneh…

“Cuman takut…coz, I don’t care…” ucapku cepat sambil tersenyum sok misterius. Pandangan kami kembali bertemu

“Really?” Ine semakin maju dan menggesek-gesekkan ujung hidung kami. Senyumnya masih terlihat binal dengan variasi menggigit bibir bawah yang membuatnya semakin menggemaskan

“Coba bilang I don’t care lagi…” tantangnya

“I…” kata-kataku tidak selesai. Bibirnya keburu membekap bibirku, membuat kata itu terpotong. Padahal aku hanya ingin bilang… ‘I don’t care if I might fall in love with’ you…

Ah, Fall in Love? Kalimat ini, rasa ini, omong kosong, atau beneran? Atau hanyalah refleksi dari nafsu dangkal nan menjijikkan dari seorang jomblo menyedihkan yang termajinalkan sepertiku? – haiz…

Dan kami kembali berciuman. Kali ini kami saling berpelukan, kembali mencurahkan isi hati melalui sentuhan. Sentuhan bibir kami yang berpacu dalam keikhlasan…ikhlas dalam menjalani lika-liku hidup yang seolah mengombang-ambingkan langkah kecil kami dengan caranya sendiri…ikhlas dalam menerima cinta yang datang dan pergi…ikhlas dalam berbagi hati…

Dan birahi kembali mengambil alih kendali…

“Ahhh…” Desis Ine lirih saat aku mulai menciumi lehernya dan merabai kedua payudaranya dari balik Tank Top yang memang dari tadi melakukan tugas secara sia-sia dalam usahanya menyembunyikan aurat yang itu.

Ine semakin menggelinjang dan membelit kepalaku dengan erat saat ciumankupun melata semakin ke-bawah

PliP

<<Biarkanlah terjadi – Wajar apa adanya –

Walau harus menunggu – Seribu tahun lamanya>>

PliP

<<Biarkanlah terjadi – Wajar apa adanya –

Walau harus menunggu – Seribu tahun lamanya>>

PliP

<<Biarkanlah terjadi – Wajar apa adanya –

Walau harus menunggu – Seribu tahun lamanya>>

“Ahhh…ahh…” Ine masih mendesah-desah, lalu mendorong kepalaku “Ada telepon…”

“Biarin! Nanggung…” potongku pendek sambil kembali membenamkan mukaku ke belakan payudaranya

“Ahhh…iiihhhh…hihihihi…geli tauu…”

Cuimanku kembali melata ke-leher-nya dan berusaha menuju kembali ke bibirnya. Dan bibir kami kembali bertemu untuk mendaratkan ciuman yang…

PliP

<<Biarkanlah terjadi – Wajar apa adanya –

Walau harus menunggu – Seribu tahun lamanya>>

PliP

<<Biarkanlah terjadi – Wajar apa adanya –

Walau harus menunggu – Seribu tahun lamanya>>

PliP

<<Biarkanlah terjadi – Wajar apa adanya –

Walau harus menunggu – Seribu tahun lamanya>>​

CUPKLK…

Ine kembali melepaskan ciuman kami

“Ada telpon tuh lho…angkat dulu kali aja penting…” katanya geli sambil cengengesan dan melotot lucu

“Iiihh…siapa sih, rese amat, gak tau orang lagi…” potongku masih cuek, malas ngangkat telpon

“Lagi apa?” tanya Ine sambil berusaha meraih Nokia 9310i yang tergetak di meja samping sofa itu dengan tangan kiri

“Lagi gemezz…” jawabku sambil memencet hidungnya

“Hiihihi…” ine memegang pipiku, memaksa muka-ku memutar menghadapnya lalu mengecup bibirku kilat, namun mesra

Aku tersenyum geli

“Nih!” Ine menyerahkan telepon yang akhirnya berhasil di raihnya itu ke tanganku

<<Caller Unknown>>

0811692699​

HP pengganggu keasyikan itu masih meraung-raung dengan cuek. Walau enggan, akhirnya ku angkat juga panggilan itu

“Hola laho…seeeelamat sore menjelang tengah malam…” sapaku ndablek.

“Hi…” suara wanita di ujung terdengar lirih dan canggung

“Hi juga…sapa nih?” tanyaku pendek

“Ini Denny kan?” tidak menjawab pertanyaanku, dia malah kembali bertanya

“Yep, anda benar, dan ini mbak siapa ya? Kok suaranya bagus banget…” jawabku ngegombal sambil mengedip-ngedipkan mata dengan kegenitan tingkat om-om akut ke-arah Ine yang masih berada di pangkuanku

“Masa lupa sih sama aku?” jawabnya. Jujur aku mulai ill-feel dengan jawaban itu (1)

(1) You know mamen, kukira kamu dan aku setuju, kata-kata ‘masa kamu lupa sih?’ adalah kata-kata paling menjengkelkan yang ada di kolong langit bagi kita para cowok. Ayolah, kami para cowok mempunyai terlalu banyak hal yang jauh-jauh-jauh-jauh lebih penting untuk kami pikirkan daripada menghafalkan suara kalian para cewe satu-per-satu. Bilang aja nama kamu, apa sih susahnya? .

Ini belom menyangkut kata-kata ‘kamu memang gak ngerti perasaanku…!!’.

Ya, kalau kalian para cewe merasa cowo nya gak ngerti perasaan kalian, komunikasi dunk! Obrolkan! Bicara cara manusia!

Kami kan bukan om Romy Rafael atau om Dedy Corbizier yang konon katanya dapat membaca pikiran!

Baru telepon-nya pas saat gak tepat lagi…

“Maaf, aku memang kurang bagus dalam menghafalkan suara, apalagi via telepon yang sering kurang jelas sinyal-nya. Tapi kalau kamu mau bilang namamu, kemungkinan besar aku akan ingat…” itulah jawaban standarku yang lahir dari hasil kebijaksaan ribuan tahun bertapa dan pengerahan kebatinan tingkat dewa. Halah!

“Ini aku…Vika…”

“…aaa…Vi…Vika?…” Jawaban pendek itu tadi membuatku tergagap…di tambah timing ‘akhirnya-dia-menepon’-nya yang ah… Aduuhhh… (2)

Ine yang berada di pangkuanku tentunya mendengar pembicaraan itu, secara sepontan ia beringsut turun, mencium keningku lalu berjalan mundur menjauh sambil tersenyum, membuat tanda OK dengan kedua jempolnya dan mengedipkan sebelah mata. Yep, aku memang akhirnya curhat tentang Vika ke dia. Berhari-hari tinggal serumah, banyak yang kami sudah bicarakan

“Congratz…” sambil berjalan mundur, bibirnya berkata-tanpa-suara dengan mimik muka di buat se-riang dan se-excited mungkin, mungkin mencoba memberikan statement bahwa dia ikut seneng akhirnya Vika menelepon, namun kilatan lain kutemukan juga pada matanya. Mata tak pernah bohong, begitu kata pepatah

(2) Ya, sejujurnya aku hampir menyerah dengan Vika, setelah kepergiannya yang tanpa meninggalkan jejak, bahkan nomor HP-nya yang lama pun sudah tidak aktif, aku benar-benar hampir kehilangan harapan untuk dapat bertemu lagi dengannya. Belakangan ku ketahui, malam itu, entah kenapa dia seperti mempunyai intuisi; Vika menelepon kost. Kebetulan di terima oleh Dade. Dari Dade-lah Vika memperoleh nomorku. Dan langsung menelepon. Menelepon pada moment yang nantinya akan sangat

ku-syukuri?

Takdir berjalan secara misterius, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Karena saya yakin; God did not play dice with the universe…

“Vika…” desahku lemah

“Eh…kamu setahun ku tunggu tidak juga pulang…” jawabnya tak kalah lirih

“Maaf…dan saat akhirnya aku pulang…kamu…aku berusaha mencari info…”

“Kamu kira aku pergi?”

“Kamu memang pergi…”

“Maaf…aku tuh cuman nganterin bo-nyok balik…”

“Ooo…trus? …”

Dan kami berbicara, mencoba mengakrabkan diri lagi dan mencairkan kecanggungan…

“Jadinya gimana?” tanya Ine dengan canggung, saat aku menghampirinya yang kini duduk sambil memeluk lututnya sendiri di ranjang kamarku

“Dia akan balik kesini mungkin seminggu-dua minggu lagi dan mencoba mencari kerja di sini, aku di minta cariin kost…” akupun tak kalah canggung

“Napa gak tinggal di sini aja?”

“Dia gak tau rumah ini, dia bahkan belum tahu kalau aku mempunyainya…kamu adalah…”

“… satu satunya cewe yang tau sarangmu…” desisnya lirih… “you flattered me again…” sambungnya sambil mencoba tersenyum, masih tetap canggung

“Aku akan coba pergi secepatnya, biar…” lanjutnya lagi

“Enggak…enggak…Ine boleh tinggal di sini selama apapun Ine mau…” cegahku sepontan.

What the Hell?? Apa yang barusan aku katakan??

“Heeehh…thanks…” desisnya sambil membuang muka

“INE…” panggilku tegas, dan dia menoleh, mata kami kembali bertatapan. Jujur, memang jadi Canggung Banget. Banget. Benget. Banget…

Kedekatan kami yang terjalin beberapa hari ini seolah…runtuh…

Hanya karena satu telpon…

Telepon yang seharusnya ku-tunggu-tunggu dan harusnya dapat mencerahkan suramnya hariku akhir-akhir ini, tapi…

Kenapa aku malah merasa…

Entahlah…

“Ine boleh…Enggak, bukan boleh…tapi…Ine Harus tinggal di sini sampai… aku tidak mau Ine ada di jalanan dengan kondisi seperti ini… Ine ngerti? Ini bukan permintaan, Ini perintah!!”

“Heeehh…?!? Perintah?” Sahutnya hambar sambil tersenyum getir, memberi sinyal secara jelas bahwa dia tidak suka dengan kata ‘perintah’ yang barusan ku-ucapkan

“Please…” ujarku mempertegas kesungguhanku dalam kalimat sebelumnya sambil duduk di tepi ranjang, memegang lututnya dan memandang lekat wajahnya

Ine tersenyum getir, membelai pipiku dan memandangku aneh

“We’ll see…” jawabnya pendek

Caggung…

Aku tersenyum. Getir. Entah apa yang ada di dalam otak dan hati-ku saat itu. Jujur ini semua membuat aku gemetar. Apa udah aku bilang, kalau akhir-akhir ini nasibku dengan kaum hawa lagi jelek?

Duh Gusti…

Jangan biarkan aku jadi homo…. Haiyah!

Jujur, dengan Ine, aku merasa mulai tumbuh rasa…

Rasa…??

Rasa apa? Masa secepat ini? Ataukah…

Sial! Jangan-jangan aku terkena mantra Semar Mesem…

Huft…Ada-ada aja…

We’ll see…

– End of Semar Mendem –

Bersambung

END – My Magic Part 4 | My Magic Part 4 – END

(My Magic Part 3)Sebelumnya | Selanjutnya(My Magic Part 5)