My Magic Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22 END

My Magic Part 20

Start My Magic Part 20 | My Magic Part 20 Start

Final Count Down

-Pt.1-​

Malam ini begitu hening, aku menunggu kedatangan Bang Iksan dengan perasaan yang tak menentu. Ini adalah waktu yang ditentukan oleh Bang Iksan untuk “pembayaran jasa” – sebuah perjanjian yang dulu kubuat dengannya waktu mencari keberadaan Vika yang diduga diculik- dan apapun yang dijanjikan Iblisku kepadanya saat… ah! (1)

(1) yeah, baca lagi dunk R.E.F.L.E.C.T.I.O.N eps Three Little Bird. Walau selain pembayaran untuk Vika, aku yakin seribu yakin iblisku melakukan perjanjian lain dengan setan satu itu. Iya, Bang Iksan pernah menemui kami beberapa kali. Fuck them both!

Gudang kosong di belakangku yang mencoba angkuh berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya melawan ganasnya karat yang mulai menggerogoti struktur besinya itu pun serasa amat mencekam, bahkan angin yang mengalir menembus sela-sela tubuh rapuhnya terdengar seperti erangan lirih seekor binatang yang sekarat. Kurapatkan resleting jaket hitamku, kutarik sampai pangkal leher.

Dari kejauhan kulihat temaram lampu mobil mendekat, lampu terangnya sengaja dimatikan, hanya mengandalkan redupnya lampu kota untuk menembus jalan rusak yang diselimuti kabut yang makin tebal malam itu.

“Akhirnya…” aku mendesis kecil sambil melirik jam casio sport yang melilit di pergelangan tangan kiriku. 23.45

“Sudah lama?” sapa Bang Iksan sambil berjalan mendekatiku, setelah turun dari mobil

“Belum bang” jawabku singkat

“OK” Bang Iksan menjawab tak kalah pendek, lalu ia melihat sekililing. Aku ikut melirik arah pandangannya, Bang Iksan mengangguk terhadap setiap isyarat tangan dari ke-dua anak buahnya yang tadi dengan sigap ikut meloncat turun dari mobil lalu berpencar menghilang di kegelapan. Kulihat si sopir masih standby di belakang kemudi, desis suara mesinpun masih terdengar.

“Hanya rutinitas, jangan peduliin kami” katanya sambil tersenyum kapadaku.

Rutinitas? Hmm, aku bukan anak kemarin sore bang, batinku. Saat seorang reserse narkoba menyuruhmu menemuinya di tempat antah berantah, tengah malam, lalu mensterilkan lokasi sebelum melakukan pembicaraan, coba tebak kenapa?

Hal buruk! Itu satu-satunya jawaban!

Bang iksan dengan cepat mengambil dokumen didalam amplop coklat berukuran A4 dari dalam jaketnya.

“Ini terlalu mahal bang, aku tidak bisa” Aku memotong gerakan bang Iksan dengan kalimatku, sesaat sebelum dia mengeluarkan dokumen apapun dari amplop itu.

Benar, untuk ‘membayar’ informasi tentang Vika waktu itu, aku menyetujuinya untuk melakukan satu ‘pekerjaan’ untuknya, tapi tidak dengan preambule sedramatis ini. Dilihat dari manapun, ongkos informasi ini ‘terlalu mahal’ betul kan?

“Hehehe, kalau begitu, jangan lakukan untukku, lakukan demi Negara” dia masih tersenyum

“Aku tak punya Negara bang” desisku sedih

“Kalau begitu, lakukan untuk dirimu sendiri, file itu masih aku pegang lho…” setan biadab satu itu masih juga tersenyum.

Aku mendesah, bang Iksan semakin lebar tersenyum. File keparat berisi daftar kesalahanku dimasa lalu itu memang duri didalam tempe. Seperti kerikil naas yang nyelip di lezatnya nasi liwet mbok ginem yang tidak sengaja ente kunyah. Nyebelin!

Aku diam seribu Bahasa, pasrah.

“Tang He Lim a.k.a Vincent Chandra a.ka. Vincent the Dragon” Bang Iksan menunjukkan kepadaku sebuah foto temaram yang dapat dipastikan diambil dari jarak yang sangat jauh, mungkin dari planet pluto? Siapa tau! Itupun kalau kalian masih mengakui Pluto sebagai sebuah Planet. Huft!

Aku menelan ludah

“Yang ini denah lokasi, ektraksi, jam, detail aktivitas rutin dan semua info yg kamu mungkin butuhkan” ia melanjutkan “Aku hanya perlu laptopnya”

“Laptop?”

“Ini detail laptop yang ku inginkan” bang Iksan menunjukkan sebuah dokumen lagi

“Situasinya bang?”

“Hanya dia dengan dua Timor-Medan”

“Senpi?”

“Kemungkinan besar tidak, Vincent tidak suka senpi, dia cukup rapi dengan tindakannya”

“Trus kenapa abang tidak mendobrak masuk saja dengan jajaran?”

“Tidak bisa, gembok nya terlalu besar – ya, itu masih kemungkinan sih”

“Kemungkinan?” Aku menghela nafas lagi “ada 10-200?”

“Nihil”

Begitulah kira-kira percakapan pendek kami, Bang Iksan hanya memberitahuku hal-hal yang menurutnya perlu saja. Dan aku juga hanya menanyakan hal-hal yang menurutku perlu saja.

Tidak usah banyak di jelaskanpun, kita semua tahu, bahwa ‘pekerjaan’ ini adalah sesuatu yang seharusnya kutolak. Sesuatu yang bahkan dari awal seharusnya tidak ditawarkan kepada ‘kontraktor lepas’ sepertiku.

Kontraktor lepas? Gaya banget ya kedengarannya?

Atau gini, kita bilang saja, aku adalah anak tersesat dengan sedikit bakat dan banyak sekali masalah yang bisa diexploitasi oleh bang Iksan

Atau kita bikin lebih simple; aku gak mau tau hal-hal yang nakutin. Makanya aku gak pernah banyak bertanya atau membantah kalau disuruh-suruh kayak gini. Serem tau!

Sebagai kesimpulannya, bisa kukatakan disini; Pekerjaanku adalah untuk mengambil sebuah laptop dari seorang yang bernama Vincent, Alamat dan data tinggal dia sementara di Kotaku ada di dokumen tipis itu. Si Vincent ini cuman punya dua Timor-Medan (TeMan / Body Guard) yang kemungkinan tidak membawa SenPi (SENjata aPI).

Kenapa mereka tidak melakukan hal itu sendiri? Karena ada gembok (Backing) yang diperkirakan besar. Dan untuk melengkapinya, tidak ada 10-200 (Back-up dari aparat) buatku. Kode bicara aparat yang memuakkan memang.

Berita bagus kan?

Dan untuk membuatmu lebih menganggap ini keren, kupastikan kalau ada hal-hal yang salah dengan ‘pekerjaan-ku’ ini, maka mereka akan menyangkal segala jenis keterlibatan mereka dengan ku. Bisa kalian lihat kan, dari sudut pandang ini, kedudukanku selevel dengan Ethan Hunt, si agen Mission Impossible yang maha hebat binti jos guandhos itu!

Keren buat lo, buatku ini tak lebih baik dari tai anjing, serius, tak lebih dari itu. Maafin kalau aku berkata kasar…

Maklumlah…

Dengan situasi seperti ini, aku seperti benar-benar ingin melarikan diri ke bulan…

Para Polisi itu… Entah bagaimana aku harus mengatakannya, mereka ribet…

Ah, sudahlah ngapain juga mikirin mereka?Nasibku sendiri berada di ujung tanduk, entah bagaimana caranya aku bisa lolos kali ini, terakhir kali aku menjalankan ‘pekerjaan mudah’ untuk Bang Iksan, aku harus di ‘sterilisasi’ selama hampir dua bulan. Dan bekas luka tusukan yang pinggul kiriku ini… bye-bye kontes L-Man. Tapi pada saat itu ‘imbalan’ yang aku peroleh memang sepadan.

Hari berlalu, pada pereode ini, ruang dan waktu seakan menyisihkanku dari perputaran rutin mereka.

Aku melirik singkat Swiss Army yang melilit di pergelangan tanganku, setelah menyingkap sarung tangan latex ketat yang menutupinya. Jam 02.56. Persis di hari yang ditentukan sesuai dengan informasi dari bang Iksan.

Sambil membetulkan kembali balaclava kain yang melilit wajahku dan hanya menyisakan lobang kecil untuk kedua mataku, aku mendengus pendek. Serius, feelingku mengatakan aku harus melarikan diri aja kali ini.

Sebuah rompi ketat juga sudah menempel ditubuhku, tipis, ringan dan mampu menahan laju proyektilkaliber 5,7’. Membuatku merasa sedikit aman. Dibaliknya sebuah underarmor panjang ketat melilit tubuhku, disertai dengan pelindung siku dan sarung tangan dari bahan serupa rompiku. Semua serba hitam, tentu saja. Klise.

Sumberku sedikit memaksa-ku untuk memakai cosplay yang berlebihan ini. Untuk kebaikanku sendiri, katanya. Yah, aku sih nurut aja, lagian takut kualat kalau membantah sama orang yang lebih tua

Aku meraba dua buah Karambit kecil yang kutempatkan secara tersembunyi di balik punggungku. Dua Asuransi kecilku. Lalu mengecek kembali ‘barang bawaanku’ yang lain. Check!

“I got Fed-up with this” batinku, rencana hidupku sebenarnya simple, selesaikan kuliah pelayaran, lalu berlayar sejauh jauhnya dari Negara Para Maniak Gila ini. Pergi sejauh-jauhnya, selama mungkin.

Maaf Indonesia-ku, maksudku, penghunimu yang maniak, Kamu, selalu kucintai…. Hehehe…

“Tarik mang….” Aku mendesis lalu meloncat pelan dari atas pagar yang kupanjat. Mendarat dengan kedua kaki lalu melakukan sekali gulingan kedepan yang mulus. Se-senyap laba-laba. Aku mengawasi keadaan sekeliling.

Rumah megah itu berdiri dengan angkuh di tengah daerah para Penguasa, Raja-Raja dan Dewa-Dewa Lokal di kotaku. Berjarak hanya beberapa kilometer dari Akademi Kepolisian. Ironis memang. Berpagar tinggi dan terisolasi secara exclusive dari dunia kalian, para manusia jelata. Temaram dan angker.

Sebuah MPV Lexus hitam terparkir standby di halamannya. Klasik sekali…

Aku menyelinap masuk dari jendela yang terbuka, sebuah teralis yang di pasang di sana tidak dapat menahanku, tentu saja, aku mempunyai segudang tipuan untuk mengatasi hal kecil itu.

Aku melangkah pelan, sepatu yang terpasang di kaki-ku mempunyai sol yang didesain khusus untuk menyelinap. Sumberku memperolehnya dari tempat yang mungkin tidak pernah terbayangkan olehmu, membuat suara langkahku hanya sedikit lebih ramai daripada hantu di atas Granite mahal ini.

Menurut data, kamar si Vincent ada di lantai dua, pojok sebelah kiri. Aku menuju ke sana. Mengendap sehening kucing.

Sebuah pintu sedikit terbuka di sebelah kanan lorong, hanya beberapa ruangan dari kamar yang akan ku tuju, aku merangkak ke sana. Seperti tikus kecil yang selalu waspada, ku-longok-kan kepalaku, dua orang terlihat terkantuk kantuk di sofa depan TV yang menyala hampir tanpa suara. Hanya kelebatan cahayanya yang memendar redup.

Aku meraba pinggulku, mengambil sebuah sumpit pendek. Setelah dua tiupan singkat, aku pastikan kedua orang itu telah nyenyak, terlelap dan bermimpi indah, bersama dua jarum kecil di leher mereka.

Stage-1 Save!!

Laptop itu berpendar sendirian di atas meja yang kelihatan mahal di depan jendela besar berteralis rapat.

Sekali lagi… Klasik sekali!

Mataku berputar dengan waspada, mengawasi, kukerahkan semua indraku untuk lebih meyakinkan diriku. Laptop itu, kelihatannya seseorang barusaja bekerja dengannya, tapi… kemana si Vincent? Kelihatannya kamar itu kosong, dan dengan inderaku yang super-peka pun, aku tidak merasakan kehadiran seseorang disana…

Aku beringsut masuk. Mengendap sepelan mungkin…

“Kedua orang tolol itu, sudah lu lumpuhin?”

Aku terperanjat. Langkahku terhenti tepat ditengah ruangan kamar yang ternyata sekarang kelihatan jauh lebih luas dari yang ku perkirakan.

Kau tau perasaan se-ekor hantu yang ke Gep? Bayangkan perasaanku!

Ada dua pilihan, menengok ke belakang, atau berlari langsung menuju barang yang ku incar, mengambilnya dan kabur secepatnya dari tempat itu. Aku menjatuhkan pilihanku ke opsi nomor dua.

Kecepatanku kukerahkan secara maksimal. Charge and Go!!

Itu sebelum aku merasakan sebuah sambaran tipis dibelakangku, langsung kearah leher. Cepat, Tajam dan Menyayat. Memaksaku untuk menghentikan langkah dan menarik tubuhku kebawah, melipatgandakan semua kecepatan yang kumiliki.

WUUUTTT!!!

Sambaran itu mungkin lewat hanya beberapa mili diatas kepalaku. Aku berguling ke-samping dengan cepat.

Sekarang, mau tidak mau aku berbalik

“Ai tanyai, kenapa tidak lu jawab?” Suara itu berasal dari seorang pria tanggung.

Tebakanku, orang itulah yang bernama Vincent. Dia kelihatan kurus, namun tegap, postur tubuh dan perkiraan usianya persis seperti yang di gambarkan dalam dokumen yang aku peroleh. Seorang warga Negara keturunan, matanya sangat tajam. Sangat waspada dan menyiratkan intelegensi yang sangat tinggi, aku mengamati sekilas. Orang itu berdiri elegan dengan kemeja putih rapi plus manset kuning mengkilat yang kelihatan mahal di kedua pergelangan tangannya. Ini bukan gambaran umum seorang gembong narkoba.

Dia kelihatan mempunyai level yang sama sekali berbeda. Seperti seorang agen rahasia pada film-film action. Atau sekeder asset, kalau tidak mau di katakan pembunuh bayarandari kelompok mafia tingkat tinggi. Semua gerak geriknya kelihatan Rapi, Terlatih dan Terstruktur. Aku sama sekali tidak bisa memastikan…

Dan kenapa dia bisa menyembunyikan diri dari sensor inderaku?

Dan kenapa ditangani oleh bang Iksan, seorang Reserse Narkoba?

Dan sabetan itu tadi, pasti berasal dari…

Eh?

Dari mana?

Senjata apa itu tadi?

Aku memeriksa lagi, dia kelihatan tidak memegang senjata apapun.

Sial !!

Hanya seorang Pe-Bela Diri kelas Master yang dapat menyembunyikan kehadiran beserta senjata-nya sedemikian rapinya. Dan karena senjata itu tersembunyi, membuatnya berlipat-lipat kali lebih berbahaya karena kau tidak tahu apa jenis senjata itu, dimana sisi tajamnya, berapa jangkauannya…

Menjelaskan kenapa si Vincent ini tidak suka Senjata Api. Bagi kami, pe-Bela-Diri, senjata api selain tabu, juga kurang rapi. Berisik, ribet dan terlalu banyak pasal yang mengaturnya. Kalau tertangkap bisa memberatkan hukumanmu berkali-lipat. Menyulitkan upaya pembelaanmu, bahkan bila kamu memakai pengacara kelas kakap sekalipun. Tidak sepadan dengan fungsinya yang dengan gampang bisa kami pecundangi dengan segudang tipuan yang kami kuasai.

Senjata Api hanya untuk teroris dan si lemah syahwat yang kurang percaya diri. Semacam fungsi Dildo buat kalian!

Aku mempersiapkan diri, karena yang terburuk barusaja datang!

Seorang Master Class!

Plus hawa membunuh yang tiba-tiba menguar dari Vincent membuat atmosfir ruangan ini sekarang terasa begitu pekat. Aku merasa seperti bernafas didalam jelly.(2)

(2)Hawa Membunuh, adalah sebuah atmosfir khas yang dapat dirasakan oleh kami para pebela-diri. Tidak melulu ekspresi dari kemarahan, tetapi lebih ke ekpresi ‘niat untuk menyakiti’. Kebanyakan hewan predator mempunyai insting untuk merasakan hal ini. Kucing, misalnya, adalah salah-satu yang bisa merasakan hawa membunuh. Coba kamu tatap mata kucing, dan saat dia balik menatapmu pikirkan hal-hal seperti kamu ingin membunuhnya, menyakitinya, mencincang tubuhnya. Dia pasti akan segera kaget lalu lari, tidak perlu kamu usir dengan suara, atau kamu sambit dengan sandal jepit buluk-mu.

Manusia, sebalikya, insting ini sudah lama terkubur oleh zaman dan gaya hidup. Manusia biasa seperti kalian, maksudku. Kalian menyia-nyiakan indera dan insting alami kalian. Itu yang membuat level kaliansekarang tidak lebih tinggi dari seekor cacing.

No offense bro, just my honest review!

Dengan mempertimbangkan keadaan ini, sesuai job description dan protokol keadaan darurat, juga sesuai dengan pikiran sehatku yang mempunyai kebijaksanaan dalam level yang sangat tinggi, maka tidak usah diragukan lagi, hanya ada satu hal yang harus dilakukan…

Lari!!

Mau apalagi jal, kalau gak lari?

Ini kan serem…

Lagipula ini bukan salahku, informasi mereka yang kurang akurat. Seingatku, didalam dokumen tidak disebutkan ada-nya kemampuan si Vencent tentang hal apapun yang bisa membahayakan keselamatan tokoh idola nan ganteng dan imut sepertiku. Dan itu fatal…

“Lu musti mati!” desisnya menyeramkan, dia bergerak, memutariku seperti gerakan seekor predator yang siap menerkam mangsanya, matanya menyorot dengan tajam, melihat celah sekecil apapun untuk memasukkan serangan mematikan.

Mati?

Perkara gini doank?

Please ah bang, jangan lebay cacad stadium koma deh!

Apa Alasannya?

Yeah, sebenernya aku paham betul sih alasannya. Ini adalah pesan!

Daripada repot-repot menangkapku hidup-hidup dan melakukan interogasi yang hasilnya belum tentu memuaskan;bukan karena aku gak mau ngaku, tapi lebih kepada; hal yang kuketahui memang hanya sedikit. Jangankan disiksa, dikasih rokok sebatang aja aku pasti akan ngoceh, mengatakan dengan terang siapa yang mengirimku, akan kuinformasikan juga ukuran celana dalamnya, kalau kau memang menanyakannya.

Percayalah, aku bukan militan bodoh dengan ideology ngawur. Jadi jauh lebih gampang kalau langsung membunuhku. Pesannya-pun akan tersampaikan dengan lebih jelas untuk siapapun majikan yang mengirimku.

<<Jangan Ganggu Aku!>>

Begitu kira kira bunyi pesan itu…

Simple dan Elegan, Gue banget!

Hanya saja, aku sekarang yang menjadi objek-nya!

Piye jal perasaanmu?

Vincent masih memutariku, aku mundur. Sedikit demi sedikit dia bergerak maju, menyudutkanku di lokasi yang paling membuat diriku sulit bertahan. Aku merasa seperti tikus kecil dihadapan kucing lapar.

Tapi tunggu dulu, tikus yang ini walaupun kecil, tapi kiyut, unyu-unyu, kalem, bersahaja dan gemar menabung. Apa aku sudah menyebutkan kata Ganteng? Ah, sudahlah. Waktu ujung punggungku menempel ke meja dimana laptop itu berada, Vincent menerkam, memupus semua ide nasrsisme-ku secara seketika. Ini kejam!

Sebuah tusukan cepat dan ganas mendesing langsung kearah jantung-ku. Aku melompat kesamping, membuat sebuah salto manis, melenting lagi dan mendarat di atas ranjang dengan kedua kakiku. Seperti mendarat di atas trampoline, aku gunakan bantuan lentingan dari springbed itu untuk meloncat lagi kearah dinding. Dengan menjejakkan kakiku di dinding, aku membuat gerakan memutar yang elegan. Kamu akan melihatku seperti berjalan di dinding dengan keanggunan seekor cicak. Segera ku lentingkan lagi badanku. Kali ini ke arah pintu. Kabur adalah prioritas utamaku.

Lari!!

Apa aku pernah bercerita kalau reflekku luar biasa terlatih?

Tentu saja! kali ini, dengan tergopoh-gopoh aku berusaha mengerem langkahku, melontarkan kepalaku secepatnya ke belakang dan jatuh terjengkang. Tidak keren memang, tapi setidaknya itu menyelamatkanku dari sebuah benda terbang yang barusaja melesat lurus mengarah ke keningku.

Pisau-kah? Shuriken?

Benda itu melabrak pintu kamar yang masih setengah tertutup dan menancap di sana. Hantaman-nya sekarang membuat pintu itu menutup dengan sempurna.

Sebuah Ballpoint!

Eh?

Ballpoint?!!

Dia melemparkan ballpoint yang mungkin dia sambar sembarangan dari atas meja seperti sebuah pisau.

WTF!

Aku bener-bener mengharapkan yang dilempar tadi adalah sebuah senjata rahasia. Sesuatu yang keren, seperti Pisau terbang, Kunai, Shuriken, Cakram terbang, Lempengan berbentuk kampret seperti punya-nya bos Bruce Wayne, atau apapun! Pokoknya sesuatu yang keren lah! Tapi ballpoint?! Fak! Siapa coba yang melemparkan ballpoint kepada lawan duelnya? Apakah ini manifestasi nyata dari pepatah tua yang mengatakan bahwa sebuah pena lebih mematikan daripada pedang?

Atau sekedar manifestasi dari tingginya ilmu yang dikuasai oleh si Vincent ini?

Shit!!

Aku melirik kembali kearah Vincent dengan kesal karena sudah membuatku terjatuh dengan memalukan, ini sama sekali tidak maskulin, dude!

Dengan santai dia masih berdiri dan menatapku dari arah meja. Mengarahkan sebuah pedang pendek lurus kepadaku. Tersenyum puas melihat pancaran ketakutan dari mataku. Dengan tidak terburu-buru melepaskan serangan susulan untuk memanfaatkan posisi tubuhku yang rentan pertahanan, hanya membuatnya terasa lebih buruk. Luapan kepercayaan dirinya luar-biasa.

Dan aku? Hmmm… Aku mencoba berdiri lagi…

Gemeteran luar biasa…

Pintu sekarang sudah tertutup, tidak ada lagi jalan keluar, karena apabila aku membalikkan badan untuk memutar handel pintu, saat itu pula aku yakin pedang pendek ditangannya akan menyate tubuhku.

Skak-mat!

Modiar aku disini!

“Sekarang lu mati!” desisnya menyeramkan, serak, hampir seperti suaranya Batman.

Ah, kenapa aku malah ingat hal-hal gak berguna seperti itu?

Dengan percaya diri, Vincent kembali merangsek, mengarahkan pedang pendeknya lagi-lagi ke-arah jantungku. Ada apa sih dengan jantungku? Keliatannya demen banget dia dengan jantungku!

Tapi kali ini agak lain, serangannya dikombinasikan dengan lengkungan yang aneh. Aku tahu, arah tusukan itu pasti akan bisa berubah arah kemanapun dan kapanpun dia mau, mengantisipasi gerakan menghindar-ku!

Tapi aku tidak menghindar…

Dan tusukkan itu dengan kecepatan tidak manusiawi datang!

CRANGGG!!!

Aku menangkis dan memutar tubuh dengan elegan!

Membelokkan arah tusukan hanya beberapa mili dari dadaku, sedangkan tanganku yang satu lagi meraih ke depan, lurus kearah lehernya. Mengarahkan Karambitku langsung untuk menggoroknya. Vincent mengelak kaget, menarik pedangnya dengan cepat lalu melancarkan lagi beberapa sabetan dan tusukan yang dengan susah payah berusaha kutangkis maupun ku hindari.

Kami terpisah jarak lagi

Memasang kuda-kuda lagi

Tapi kini, dikedua tanganku sudah tergenggam Karambit kembar. Asuransi kecil-ku!

“Ai tadi berencana untuk membunuh lu dengan cepat, biar lu gak kesakitan, tapi kini, Ai akan bunuh lu pelan-pelan, karena itu pasti akan menyenangkan hehehe…” Kepercayaan diri monster satu ini ku akui memang luar-biasa. Tapi, bagaimanapun ini adalah psy-war. Tekan mental lawanmu dengan kata-kata mengancam. Kalau lawan dalam keadaan tertekan, maka gerakannya akan kacau.

Tapi yang mungkin tidak dia perhitungkan adalah; yang dia hadapi ini aku!

Seorang Master(3) Karate Shotokan Dan IV plus, Aku adalah Pangeran Pewaris tunggal silat Tejokusuman aliran Ponosoemarto!

Sial, aku gemeteran…

Serasa mau kencing di celana saking takutnya…

Intimidasi mbok’ane-ancuk itu berhasil!

Kakeane !!

Dan dia menyerang lagi!

Kali ini mungkin berlipat-lipat kali lebih ganas dan cepat. Aku meloncat kesana kemari dengan panik, membuat gerakan memutar-mutar yang rumit, menangkis dengan Karambitku secara kalap. Bertahan habis-habisan. Aku terdesak secara menyedihkan. Tapi aku yakin, bagaimanapun lihay-nya seorang master, dia akan membutuhkan waktu untuk menarik nafas kalau menyerang dengan tempo segencar ini. Dan saat kesempatan itu datang… hehehe!

Dia akan terkejut dengan apa yang bisa aku lakukan! Dan kesempatan yang kutunggu itu akhirnya datang.

Vincent membuat sabetan, lalu meloncat mundur.

Kesempatan itu tidak ku sia-siakan!

Dengan satu bentakan pendek, aku melompat!

Melompat mundur juga!

Jauh sampai ke pojok ruangan!

Berusaha bersembunyi, atau minimal menjaga jarak.

Aku terengah dan berdarah.

Seluruh tubuhku terasa perih.

Walau tidak telak, tapi aku yakin, puluhan sabetan sudah bersarang di tubuhku.

Kamu terkejut kan?

Yes! Aku memang bisa lari dengan cepat!

Gak usah terkejut, santai aja…

Shit!

“Lu monyet yang cepat, tapi terlalu banyak gerak. Lu pasti sudah kehabisan tenaga. Saatnya untuk mati pelan-pelan!” Hari gini masih mengintimidasi?! Wake Up!! Ini sudah jamannya Reformasi bro! Basi tau!

Tapi dia benar, aku terlalu membuang tenaga dengan berloncatan kesana-kemari seperti seekor monyet yang panik. Padahal katanya tadi aku seperti tikus. Mo ngatain aku monyet apa tikus sih sebenarnya? Jangan plin-plan ah!

Tapi… Seperti seekor monyet huh?

Gimana dengan monyet yang ini?

Kali ini aku yang meluncur maju!

“Sini lu!” bentaknya sadis

Aku melompat, persis sampai di depannya aku berhenti dengan mendadak lalu merunduk dan melompat ke samping, lalu seperti secara ‘tidak sengaja’ Karambitku kuseret, persis seperti gerakan monyet yang acuh, aku merobek pahanya. Dia mengeram marah, aku jungkir-balik lagi seperti seekor monyet. Menyerang lagi. Merunduk, meloncat, berputar-putar, mendecit-decit, mengikik dan berteriak-teriak dengan gaduh. Inilah salah satu gaya silat ‘daden’(4) dari Tejokusuman aliran Ponosoemarto!

Anoman Edan!

a.k.a

Jurus Kera Putih!

Seperti benar-benar kesurupan setan monyet, aku degan sebat menyerangnya. Disertai teriakan-teriakan gaduh, Karambitku seperti cakar; menyayat, mengait, merobek dan menusuk. Inilah kehebatan Karambit. Bentuknya yang kecil dan melengkung memungkinkannya untuk mempunyai variasi gerakan yang banyak; baik untuk pertahanan maupun penyerangan. Konon katanya kuku Pancanaka-nya Werkudara dalam cerita pewayangan jawa di ilhami dari bentuk senjata ini.

(3)OK… OK… aku mengaku deh, kata ‘Master’ yang sering ku sematkan pada diriku sendiri bukan-lah Master Bela-Diri dalam arti yang sebenarnya. Well, aku hanya berusaha membuat diriku sendiritampak sedikit keren. Itu sah-sah saja kan? Master Bela-Diri dalam arti sebenarnya, adalah bukan manusia. Mereka berada di-dalam dimensi yang sama sekali lain dengan manusia fana jelata seperti aku dan kamu. Mereka… Ah, susah menjelaskannya…

(4)Daden; artinya ‘seperti kerasukan’, memang untuk ‘memanggil’ jurus tertentu. Didalam silat jawa, ada beberapa tahapan pernafasan dan mantra-mantra. Hal ini sebenarnya lebih berfungsi untuk hipnotis diri, bertujuan agar dapat lebih menghayati jurus-jurus dasar yang sudah dilatih sebelumnya.Walau prosesnya bisa sedikit esoteris, tapi hasilnya sangat elegan.

Apalagi tentang jurus kera ini, semua tingkah laku-nya mempunyai makna, seperti pekikan gaduh misalnya, walau keliatan asal-asalan, tapi sangat berguna untuk mengacaukan konsentrasi lawan, terutama saat lawan berusaha untuk ‘membaca arah nafas’ mu.

Keren kan? Makanya hargai, pelajari dan lestarikan budaya sendiri…

Cintailah ploduk-ploduk Indonesia!

Aku masih menyerangnya dengan sebat, mengerahkan apapun yang kukuasai mengenai jurus ini. Vincent seperti kelabakan bertahan, pedangnya menangkis, berputar, mengayun, menebas dan menusuk kesana kemari dengan ganas, tapi aku benar-benar seperti hantu kera yang tak tersentuh apapun.

Tapi itu tak bertahan lama, tiba-tiba Vincent melemparkan pedangnya kearahku dengan asal. Dan disaat aku mengira pertarungan ini akan segera berakhir, aku dengan nekat menyerangnya. Menusukkan kedua karambitku lurus kearah dadanya, Vincent berteriak keras saat dua tusukan Karambit kembarku bersarang.

Selesai!!!

Tapi alih-alih menembus atau minimal merobek dadanya, Karambitku mental, seperti terpeleset.

Sial!!

Tapi aku tidak berhenti disitu aku masih mempunyai segudang gerakan untuk menusuk dan merobek menggunakan Karambit kembar tercintaku.

Tetapi semuanya seperti mengenai permukaan karet keras yang licin, jangankan melukai, menggorespun tidak. Dan setelah semua konsentrasiku kembali dari kalapnya menyerang, aku amati, ternyata satu-satunya luka yang dihadiahkan oleh Karambitku adalah sedikit luka robek di paha kirinya, hasil dari serangan mendadakku yang pertama.

Serangan yang lain, hanya mencabik kemeja rapi-nya, tidak satupun melukai, bahkan menggores kulitnya!

What in The Hell just happened?

Kaget, aku berusaha meloncat mundur untuk bertahan, menjaga jarak dan memikirkan apapun yang nanti sempat terpikirkan untuk mengalahkan monster ini, atau, lebih-tepat-nya lari darinya. Tapi naas, dengan cepat tangannya meraih maju, menggenggam kedua Karambit kembarku pada sisi tajamnya lalu membetot.

Gerakan yang tiba-tiba dan diluar perkiraanku itu membuatku ikut terbanting memutar. Naasnya lagi, kedua jari telunjukku masih berada di dalam cincin Karambit.

Aku berguling-guling di lantai lalu dengan sekuat tenaga meloncat mundur, sejauh mungkin. Sekilas kulihat, kedua telunjukku menekuk kearah yang tidak seharusnya.

Sendinya lepas!

Aku menggertakkan gigi menahan sakitnya.

Nyerinya Ngaudzubilahimindzalik, kalau kata temen Muslim…

Hal lainnya yang paling dasar untuk perang mental dalam sebuah perkelahian adalah; jangan biarkan lawan mengetahui kalau kamu kesakitan karena serangannya!

Aku meraih satu-per-satu telunjukku dengan tangan yang lain lalu

KRAK!

KREK!

Aku membetulkan posisi sendi telunjukku!

“Mengeranglah, Ai tau itu sakit! xixixixi…” Ledek Vincent dengan mimik muka memuakkan, mem-bully lawan yang sudah dalam posisi kalah memang asyik!

Bangsad, aku sering ngelakuin ini sejak kecil, hanya kalau biasanya aku bullier-nya, kali ini aku ada di posisi korban!

Karmakah ini?

Ah…

“Huh, Ini cuman hal kecil, jangan sok menang dulu” Jawabku sok kalem, sok datar, sok cuek, sok kuat. Padahal aku hampir aja nangis guling-guling sambil manggil-manggil Bunda-ku karena rasa sakitnya. Sial, seharusnya aku tahu dari tadi kalau dia adalah petarung tangan kosong. Aku tertipu lagi!

Berbeda dengan petarung bersenjata yang akan lebih lemah tanpa senjatanya, petarung tangan kosong menggunakan senjata justru untuk mengurangi tenaganya!

Dan kalau ‘mengurangi tenaga’ saja bisa membuatku setengah mati mengimbangi, bagaimana kalau dia bertarung sekuat tenaga?

Sial… Sial… Sial !!!

Kalau saja yang menggerakkan tubuh ini adalah si-Iblis-ku, maka mungkin ceritanya akan sedikit lain, mengingat level yang telah berhasil dia raih… Ah, Iblis sialan, kemana dia saat dibutuhin?

Brengsek!

Eh, tapi kalau di inget-inget, ini kali pertamanya aku menjawab kalimatnya.

“Oww, ternyata monyet kaya lu bisa ngomong!”

Aku cuma mendengus menjawab bully-annya

“Lu tau kenapa Ai di juluki The Dulagon?” Eh, malah nanya kokoh samin satu nih, emangnya celdas celmat koh?

“Maksud-loe the Dragon? Hmm… Lo penggemar Kris John? Ato apalah? Penting banget kah?” dengusku pendek sok gak peduli, menjawabnya dengan intonasi malas, supaya tidak terlalu kelihatan terkesan.

Lagian, serius nda, aku lagi gak pengen ngobrol. Bayangin posisi-ku dunk, aku lagi galau nih! Aku Teraniaya! Plus aku gak mau tau hal-hal yang pastinya nakutin, seperti reputasinya dan-lain-lain.

Serem tau!

“hahaha, lo lucu, Ai kasi tau, Ini karena tubuh Ai yang sekuat Naga, ndak mepan senjata, dan…” Monster-brengsek itu malah belagu sok macho kayak penyiar berita Patroli.

Aku ngelucu, padahal sebenernya gemeteran setengah mati. Orang yang ada di depanku ini, bagaimanapun, kelihatannya mustahil bisa ku-kalahkan, bahkan mungkin mustahil aku bisa sekedar melarikan diri dari-nya…

Sebenarnya aku juga sudah tahu dari tadi tentang kekebalan tubuhnya. Itu adalah salah satu tipuan jurus Kung-fu. Ada pendekar yang konon katanya, menggunakan metode latihan gila, bisa membuat tubuhnya kebal terhadap sejata tajam. Dan bahkan mungkin kebal senjata api. Setelah jurus itu di-aktifkan, tentu saja. Aktivasinya mudah kok, tinggal sms <aktif><spasi><kebal> ke nomor… ah, yang betul aja, malah guyon iq! Kakeamu!

Melihat gerakan dan kuda-kuda-nya, aku hampir yakin kalau dia menguasai Kungfu Naga dari Shaolin daerah selatan. Mungkin dari Changzhou atau Suzhou. Kung-fu Shaolin memang sangat berkembang di daerah itu sampai sekarang(5). Jurus mengeraskan tubuh memang menjadi salah satu andalannya, dan kusarankan, waspadai juga cakarnya, walau acara cakar-mencakar identik dengan pertarungan kimcil, tetapi cakar naga mereka kadang bisa melakukan hal-hal gila!

Tapi menjuluki diri sendiri ‘The Dragon’? Hmm… Itu terlalu Narsis, kalau kau tanya pendapatku!

(5) Oke! Aku memang ensiklopedia kalau untuk urusan seperti ini, ente gak usah kagum lah! Biasa bro! di otak cerdasku ini, informasi tertampung dari manapun! Bahkah, itu adalah salah-satu bakatku dalam bela diri. Aku mungkin tidak mempunyai insting bertarung yang cukup bagus, tapi aku mempunyai pengetahuan yang membuatku cukup bijak.

Bijak, terutama dalam memilih lawan, aku terkenal belum terkalahkan didunia bela-diri sampai sekarang, sebenarnya bukan karena aku kuat or whatsoever, tapi karena aku selalu bisa pura-pura lemah untuk dapat memilih lawan yang lebih lemah. Cukup adil kan? Sttt… Rahasia dab!

Anyway Bussway Baidewai, tolong pisahin antara Kung-fu Shaolin dan Para Biksu Budha dari Kuil Shaolin. Ini seperti Arab dan Islam, beda! Ngarti sob?

“… dan karena cakar ini!” Vincent menyerang!

Tuh kan bener?!

Sial!!

Aku benci kalau harus bener untuk hal-hal kayak gini!!!

Aku tergopoh-gopoh menghindar, mencoba lari ke samping, ke arah meja…

Time out!

Time out!

Sial, mana mungkin dia menggubris permintaanku saat ini, sabetan cakarnya yang memang setajam cakar Naga, kalau binatang itu memang ada, sudah berayun-ayun dengan kecepatan dan arah yang gila. Sangat susah menebak mana yang tipuan mana yang serangan. Kalau kamu lihat, mungkin jurusnya sangat indah dan elegan. Tapi dari kaca-mataku sekarang, sebagai korban bulliying jurus itu, semua hanya terlihat me-muak-kan!

Aku sudah meninggalkan jurus Kera-ku, maklum, suatu saat kita semua memang harus move-on kan?

Kini aku bergerak meliuk-liuk, menggunakan langkah bertahan yang dalam aliranku disebut langkah Slipi Angin, sambil menangkis dan membentengi diri dengan gerakan memutar kecil, jurus Kitiran Putih. Tapi serangan Cakar Naga itu ku-akui memang 100% diatas angin. Beberapa cakaran masuk, merobek rompi pelindungku yang teruji mampu menahan laju proyektil pistol standar, bahkan menggoreskan luka yang lumayan dalam di tubuhku.

Tidak mau jadi sansak hidup, aku juga berusaha memasukkan serangan. Terhitung puluhan kombinasi jurus coba kulancarkan. Dari tendangan kaki ala Gagak Rimang Dupak, Koro Setangkep, Sapu Jagad, Keluk Nyamber, Kidang Emas, sampai jurus-jurus membunuh seperti Nogo Angon Ganjaran, Jonggrang Waloka, Ombak Segoro Pitu, Lepen Pinaringan, Wungkal Selo, Gelar Langit Lipet Bumi, sampai jurus larangan yang namanya saja kurang pantas kalau kusebutkan disini. Semua aku coba, tapi kombinasi pertahanan dan seragan yang dinamakan Kung-fu Naga dari Shaolin ini memang di luar nalar.

Hampir semua jurusku dimentahkan olehnya.

Otakku ku-paksa bekerja lebih keras untuk keluar dari kondisi ini, disela-sela kesibukan baruku. Bertahan Hidup!

Soalnya kalau ada yang nanya ‘lagi apa beb?’ — pasti jawabanku ‘lagi sibuk mempertahankan nyawa, say’

Literally!

Vincent masih menyerangku dengan kecepatan yang dengan susah payah berusaha ku imbangi.

Cakarnya menyayat kesana-kemari, membuatku harus menuangkan semua konsentrasi yang ku miliki kepadanya. Mungkin ini adalah kali pertamanya aku dipakasa untuk bergerak secepat ini. Dalam waktu sesingkat itu, puluhan kombinasi dan jurus sama-sama kami kerahkan. Irama nafasku hampir berantakan karena mengimbangi gerakan monster itu. Walau sejauh ini aku masih bertahan, namun kukira tidak untuk waktu yang lama, karena perbedaan level, stamina dan kecepatan diantara kami semakin terasa.

Saat dia semakin tenang dalam menyerang, aku semakin kewalahan dalam bertahan. Tenagaku sudah kukerahkan sampai batas maksimal dan hampir terkuras. Kalau keadaan ini terus berlangsung, bisa dipastikan kesempatanku untuk menang atau lebih tepatnya kabur menyelamatkan diri bisa dibilang Nol !!

NOL BESAR!!

Anyway, kalau mau survive dari keadaan ini, ada dua hal yang kupikir urgent untuk segera dilakukan A.S.A.P – As Soon As Possible. Yaitu satu: Menariknya keluar dari Zona Nyamannya, yang kedua: membuka peluang, artinya aku harus bisa membuatnya lengah!

Zona nyaman itu terbentuk karena kepercayaan diri dan stabilnya emosi – Ketenangan Jurus, kalau dalam bahasa bela diri!

Karena kalau sebuah jurus dilancarkan dalam keadaan emosi, ketajamannya akan berkurang drastis!

Emosi…

Aku berfikir keras bagaimana caranya membuat dia emosi…

Disela-sela gerakan kacau bin kalang kabutku dalam rangka menghindari cakarnya, tentu saja…

Hmm, kalau sedikit lebih mengenalnya aku mungkin bisa membuatnya emosi dengan meledek nama bapaknya, ngata-ngatain emak-nya atau membully ukuran kelaminnya. Tapi orang ini, ketemu juga baru sekali, mana mugkin juga aku tau ukuran Peler-nya!

Seingetku, didokumen dari bang Iksan juga tidak ada data maupun foto konth….

BUKKK…

Sebuah jurus menumbuk dada-ku, jurus hantaman tubuh! Menerbangkanku. Membuatku melayang hampir setengah ruangan lalu terbanting keras menabrak meja kerjanya!

Aku sepontan mengenali jurus itu!

XIN-YI-LIU-HE-QUAN !!

Aku sama sekali melupakan jurus hantaman tubuh Khas Shaolin itu karena terlalu berkonsentrasi terhadap keganasan Cakar Naganya!

Suatu tindakan Bodoh!

Amat sangat Bodoh !!!!

Jurus Hantaman Badan adalah salah satu jurus paling terkenal dan mematikan dari Kung-fu Shaolin!

Dengan Begini, Selesai Sudah…

Kalah…

Sialan!

Bunda… Tolong aku…

Untuk sesaat, badanku seperti lumpuh dan hampir tidak bisa digerakkan. Jurus hantaman badan itu, benar-benar luar biasa, hantamannya meledak di dadaku se-demikian-rupa, mengacaukan jalannya nafasku. Aliran tenaga dalamnya menghentak-hentak di setiap pembuluh darahku. Kurasakan tenggorokanku asin, aku yakin barusan aku muntah darah! Rompi ini, mungkin alasan satu-satunya aku masih bisa bernafas.

Tapi kurang lebih ini sudah selesai, atau ini malah benar-benar sudah selesai!

Kalah…

Game over…

Mampus…

Bunda…

Anakmu pamit mendahuluimu… desisku lemah… menyerah…

End of Final Cunt Down Pt.1

To be Conticrot

END – My Magic Part 20 | My Magic Part 20 – END

(My Magic Part 19)Sebelumnya | Selanjutnya(My Magic Part 21)