My Magic Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22 END

My Magic Part 19

Start My Magic Part 19 | My Magic Part 19 Start

Wind of Change

– Pt. 2 –

“Eee… Tante… Anu… boleh ngomong sebentar?” aku membuka pembicaraan secara canggung pagi itu di meja makan saat kita sarapan Bersama. Sayur bayem yang suweger plus tempe goreng jioss!

“Iya mas Denny, silahkan, mau bicara apa sih sama tante?” jawabnya kalem. Ine yang duduk di sampingnya tiba-tiba melotot

“Gini tante, semalam saya sudah bicara dengan Ine…” lanjutku

“HeH! Emang semalem kita bicara apa Da! Gak usah aneh-aneh!” potongnya

“Ine… wong mas Denny bicara baik-baik kok dipotong… gak sopan ah, emang mama ngajarin Ine begitu?” tanya mama-ine, sambil memegang tangan Ine

“Iya, pokoknya jangan didengerin mah! Pasti mau aneh-aneh ni orang! Awas lu ‘da! Jangan aneh-aneh!” solot-nya

“Apaan sih?!” aku gak kalah nyolot “Gini lho Tant, semalem kita sudah sepakat, saya dan Ine…”

“HEH !! Sepakat apaan?! Jangan aneh-aneh!” potong Ine lagi, kali ini sambil nunjuk-nunjuk

“Bentar to! Ada orang mau ngomong juga…” protes ku

“Iya nih ine, kok jadi tidak sopan gitu sih?” mama-nya menimpali

“Saya ingin melamar Ine tante!” kataku dengan cepat, to the point!!

Mama-Ine kaget, lalu menatapku dengan mata membelalak. Ine juga tidak kalah membelalak, tapi jatuhnya malah lucu. Hampir aja aku ngekek…

Tapi aku sendiri yang ngomong juga gak kalah kaget kepada diriku sendiri. Bangsad, kesambet jin mana nih aku sampe bisa nekad seperti ini? Ah, tapi ibarat pepatah, kepalang basah, mandi sekalian!

Mamanya-Ine berdehem “Tante… tidak tahu harus berkata apa…” katanya kemudian

Entah kenapa, aku tiba-tiba berdiri. Dan dengan sikap tegak seperti komendan upacara bendera yang laporan didepan inspektur upacara, aku bilang “Saya jatuh cinta dengan Ine, tante. Dan Ine juga tidak menolak saya. Saya merasa mampu menyayangi, melindungi dan menafkahi Ine secara layak. Sekarang saya memang belum seberapa, tetapi saya janji akan bisa berbuat lebih baik lagi, saya berjanji akan menjadi suami yang baik buat Ine dan menjadi ayah yang baik buat janin ine”

Mamanya Ine masih menatapku dengan pandangan kaget. Sedangkan Ine kali ini sudah tidak protes lagi, dia malah meundukkan kepalanya dalam-dalam. Setelah menghembuskan nafas yang Panjang, seolah ingin melepaskan himpitan beban di-dadaanya, Mamanya ine menyuruhku untuk duduk

“Begini nak Denny” katanya kemudian, setelah aku kembali duduk dan beliau menarik beberapa nafas Panjang. Ine semakin menunduk, dan samar-samar kulihat air mata malah menetes dipipi-nya. Apa aku menyakitinya? Menyakiti wanita yang kusayangi ini?

“Begini nak…” — Ulang mama Ine lagi — “Ine… bercerita banyak tentang nak Denny” — lanjutnya. Dan sekarang beliau memanggilku ‘nak’ setelah dari kemarin selalu memanggilku ‘mas’. Hal positif atau negatifkah? – “Ine, juga sebenarnya jatuh cinta kok dengan nak Denny, hampir tiap hari, yang dibicarain hanya nak Dennyyy… aja. Yang katanya bego lah, tolol lah, naif lah, apalah, tapi tiap malem cuman ngalamunin nak Dennyyy… aja. Nah, datang kesini ini juga –maaf- inisiatif saya. Saya bilang sama Ine; kalau ine mau menyelesaikan suatu masalah, hadapi masalah itu!” beliau berhenti untuk menelan ludah, atau mengambil nafas, atau mencari kata-kata, entahlah. Karena saat ini, selain aku mendengarkan petuahnya secara khusyuk, aku juga sudah menunduk, tidak berani metap matanya

Ibu yang satu ini kuat sekali…

“Dan disinilah kita sekarang. Satu hal yang tante simpulkan; Kalian berdua saling jatuh cinta…” berhenti lagi. Namun, tidak ada diantara kami yang berani menyela

“Tetapi itu saja tidak cukup…” — beliau melanjutkan — “Ine, melakukan kesalahan yang fatal terhadap hidupnya sendiri, tante sudah berbicara dengannya Panjang-lebar, walaupun dimata Tante itu tidak mengurangi kepantasan Ine terhadap siapapun, tetapi kesalahan Ine ini adalah sebuah fakta. Lalu tante bilang sama Ine; Ayo temuin Denny, buktikan sangkaanmu kalau Denny memang benar-benar suka kepadamu dan sebaliknya. Dan memang, menurut tante terbukti, kalian saling suka…”

“Lalu Tante minta dua hal sama Ine sebagai bukti bahwa Ine memang benar-benar cinta sama nak Denny, pertama lepaskan dia, biarkan dia meraih mimpi-mimpinya, jangan membebani orang yang kamu sayang dengan kesalahanmu dimasa lalu. Dan yang ke-dua, tebus kesaalahanmu dengan merawat anak ini sebaik-baik nya. Sesayang-sayang-nya, sesayang Ine kepada Denny…” tambahnya, yang membuat Ine semakin terisak. Aku belum pernah melihatnya menangis seperti ini. Rasanya ingin kupeluk wanita yang begitu ku-puja dan kukagumi itu

Aku mendesah…

“Boleh bicara lagi tante?” tanyaku canggung sambil mengangkat tangan kayak anak SD mau jawab soal dari bugurunya “Gini tante, Ini… kehidupan nyata, bukan sinetron dengan cerita lebay-tragis yang pemeran utama-nya harus terpisah karena satu-dan-lain hal yang sebenarnya absurd… kenapa tidak memberi kesempatan saja bagi kami untuk Bersama?” kata-ku dengan songong

Lah, tapi bener kan?

“Enggak, ini bukan Sinetron, tapi Tante sudah memikirkan ini masak-masak, dan tante kira, apa yang tante utarakan tadi adalah yang terbaik bagi masa depan kalian berdua…”

“Tapi tante bukan peramal kan? Darimana tante tahu bahwa skenario tante ini adalah yang terbaik buat masa depan kami berdua?”

“Nak Denny benar-benar keras kepala, persis seperti yang di-ceritakan Ine…” desahnya

“Iya tante, saya memang keras kepala, dan saya menyayangi Ine, dan saya tidak akan membiarkan Ine melalui ini sendirian, saya akan menemani Ine, dengan atau tanpa restu tante…” entah darimana keberanian ini berasal. Dari cinta kah?

“Ine tidak sendiri kok, ada tente…”

“Maksudku bukan itu tante…”

“Tante tau maksud nak Denny”

“Trus?”

“Uda… percayalah, aku telah mikirin ini berulang-kali… dan menurutku… skenario mama memang yang terbaik buat kita berdua…” Ine akhirnya bicara diantara isak-tangisnya

“Ine, ine sedang dalam kondisi labil, biar aku yang memikirkan dan menyelesaikan hal ini dengan mama…” sergahku, dan memanggil mamanya Ine dangan panggilan mama juga. Kepalang tanggung! Maju sekalian!

“Uda!”

“In, please…”

Ine malah tambah menangis

“Nak Denny…” kali ini mamanya Ine menyela sambil tertawa ringan “Memang bener deskripsi Ine, susah untuk tidak jatuh cinta sama orang dengan ketulusan seperti yang dimiliki nak Denny…”

“Tulus? Enggak kok tante, aku tuh penuh tipu muslihat!” nah lo! Baru sekarang kan ada orang yang pengen dipandang jelek sama calon mertua, padahal orang itu cinta mati sama anaknya?

Mamanya Ine malah tertawa…

“Pilihanmu memang luar biasa nduk…” katanya sambil mengelus kepala Ine yang sekarang, keselip ketawa yang ditahan-tahan diantara tangisanya

“Gini nak Denny, ada satu ungkapan dalam agama kami; Sebelum kamu menyakiti orang lain, pikirkan apakah kamu juga mau kalau disakiti seperti itu, ini ungkapan umum, tetapi sebenarnya kalimatnya tidak berhenti disana, lanjutannya; dan sebelum kamu bisa melindungi dan berlaku adil kepada orang lain, lindungi dan berlakulah adil kepada dirimu sendiri dahulu… mengerti?”

“Enggak tante…” jawabku pendek. Emang aku gak ngerti beneran kok!

PLUK!

Tiba-tiba ada tempe nempel di jidat ku!

“Dasar Bego!” — Hardik Ine dengan gemes – “Sini tak peluk!” katanya lagi sambil membentangkan tangannya lebar-lebar

Memeluk seseorang yang tadi pagi baru saja menolak lamaranmu di sofa ruang tengah pada malam hari, sedangkan mama-nya sedang tidur – atau ngapain aku gak tau – di kamarmu bukanlah gambaran romantisme secara umum. Tapi disinlah kami berdua, berpelukan dalam diam. Saling mengungkapkan apapun yang kami rasakan dalam hati, melalui sebuah dekapan. Sekilas kulirik, mata Ine menerawang, pandangannya jauh dibelakang TV yang sengaja kami nyalakan untuk menemani lamunan tak berujung-pangkal kami

Ine mendesah lirih, nafasnya kurasakan begitu berat ditarik oleh paru-paru kecil-nya. Gadis mungil ini, andaikata tadi pagi berjalan sesuai harpanku, maka saat ini kami pasti sudah tidak ada di ruang tengahku. Kami pastinya sudah dalam perjalanan ke rumah Bunda, untuk meminta restu atau apapun yang akan diberikan Bunda, aku pasrah. Tetapi tidak, semua berjalan secara kacau-balau.

Lagian, mama Ine juga aneh, tadi pagi menolak lamaranku, malam ini membiarkan anaknya berduaan denganku. Maksud’e piye?

“Will we do it?” desis Ine tiba-tiba memecah kebisuan diantara kami

“Do what? Kawin lari?” Jawabku songong “Ayo aja lah!” tambahku

“Kawin disini aja, lebih enak, gak perlu lari-larian” jawabnya songong

“Maksudlo?!!”

“Hehehe… lupain…”

Aku memandang wajahnya “Dasar mesum!” candaku galak

Ine menelan ludah, aku masih memandanginya

“Uda lagi gak mood?” tanya Ine lagi

Jiah! Aku tidak menjawabnya, hanya memelototinya dengan mengerutkan alis

Ine balas menatapku. “Oke…” Katanya cuek sambil mengangkat bahu. Pandanganku kembali ke arah TV

“Beneran nih da?” gumannya lagi, masih sok cuek

“Apaan sih?” aku kembali menatap wajahnya, malah Ine menaik-naikkan alisnya dengan konyol

“Gimana mau jadi suami kalau dimintain nafkah batin aja ngasihnya ogah-ogahan?” gumannya lagi seolah pada diri-nya sendiri. Padahal tuh kita kan pelukan. Maksude piye?

“Gimana mau jadi suami kalau ngelamar aja ditolak” jawabku ketus

“Cie… masih baper ya? … udahlah lah ‘da, lupain aja, ntar cari yang lebih baik…” katanya sok nasehatin dengan intonasi yang di-bijak-bijak-in. Padahal isi omongannya enggak banget

“Haizz…” aku melenguh, hampir seperti hewan kesal yang kesakitan. Kebayang ga?

“Yuk?” Ajaknya lagi

“Apalagi??” tandasku agak kenceng

“Aaaahh… katanya mau ngelamar, pengertian aja gak ada gini…” candanya ngawur

Aku geleng-geleng kepala. Lalu menyandarkannya di sofa, seakan tidak percaya akan kejadian hari ini. Pas ngobrol, katanya dia juga sayang sama aku, juga cinta sama aku. Eh, ditembak langsung, ditolak. Nekad cari short-cut, langsung ngelamar sama orang-tuanya, ditolak juga sama mama-nya. Pas lagi baper patah hati, malah si cewek ngajakin kikuk-kikuk. Aku membentur-benturkan kepala ke sandaran sofa yang empuk sambil, entah pikiranku kemana. Pelukanku ketubuh Ine pun juga sudah terlepas.

Seperti ikan lepas dari jala, setelah lepas dari pelukanku, Ine kurasakan menggeliat-geliat repot. Terserah lah, mau apa juga, terserah. Batinku. Dan benar saja, tak berapa lama, aku merasakan kolorku ditarik dengan ngawur. Dengan agresif, melakukan agresi untuk membebaskan Tunggul Ametung yang tadinya terkurung disana. Dan Ine mulai mengulum. Tanpa persetujuan tetapi juga tanpa penolakan. Aku emang males nolak sepongan dari cewek mungil-imut-hamil yang lagi horny. Elo?

Dan ya, malam itu kita memang berbuat di-sofa. Sayangnya, ine dengan songong teriak-teriak seiring sodokan demi sodokan kontolku kedalam vaginanya. Ntar kalau mama-nya denger gimana coba? Dan akupun juga pantas disalahkan ding, aku melepaskan semua-nya malam itu. All out! Kuguyur rahimnya dengan spermaku. Dua kali sih, lebih tepatnya. Abis, nanggung, mungkin besok hal ini tidak akan terjadi lagi. Lagian, siapa suruh main-main barang bahaya?

Lamat-lamat kudengar suara-suara sepereti aktifitas didapur. Aku menyeret tubuhku bangun. Shit, aku ketiduran sampe agak siang. Semalem, setelah enjot-enjotan, Ine pamit pindah tidur ke kamar nemenin mamanya, walaupun aku protes dan masih pengen memeluknya, dia cuek aja. Hadeh…. Dan aku – sesuai skenario yang disepakati sebelumnya – tidur di sofa.

“Oh, Nak Denny sudah bangun?” Sapa mama-nya Ine dengan riang saat melihatku terhuyung seperti Zombie, berjalan ke dapur. Rencananya sih mau cari air. Haus banget…

“Eh, iya tante… maaf kesiangan… ee… Ine kemana tante?” tanyaku songong

“Ke kampus” jawabnya pendek sambil melirik sekilas, seperti malu-malu. Napa malu? Karena penolakan lamaranku semalem kah?

“Eh, iya ding, dia katanya mau ngurus cuti, kenapa gak bangunin aku tant? Kan bisa kuanterin…” jawabku sambil garuk-garuk kepala, masih setengah tiang sambil berjalan ke arah kulkas, melewati tubuh harum dan singset mama-nya Ine didepan kompor yang kelihatannya barusan mandi. Seger banget cologne-nya. Shit, kenapa malah ngelantur pikiranku?

“Nak Denny klitanannya tidurnya pules banget, kasihan kalau di bangun… aahhh… nin” kata mama-nya Ine sambil membuang muka, setelah tadi sempet kupergoki melirik aneh ke…

O, Shit! My Morning Erection! Sial, ini memalukan!

Sepontan, uhuy! aku langsung Cikar Kanan Vaya Kondios! “Mau mandi dulu tante” kataku pendek sambil kabur secepatnya.

“Ah, nak Denny mau…” Sergahnya cepat

“Eh, apa tante?” jawabku gagap, karena pelarianku serasa di-sleding

“Anu… Nak Denny mau…” kata mamanya-Ine salah-tingkah, masih di selingi nelen ludah juga. Hadeh! Malu beneran nih gue…

Dan pandangannya sekarang… ah… Untung aku sigap, saat ini kedua tangan sudah melakukan double cover didepan Kopral Jono yang sedang melakukan rutinitas bangun pagi ini. Gak ada yang salah dengan Kopral Jono, lha wong bangun pagi memang sudah jadi rutinitas dia kok, masalahnya, aku hanya memakai boxer yang, jangankan memuat Kopral Jono tegang, menahan Kopral Jono tidur aja sudah molor kewalahan

“Mau… Anu… eehh… minum anget… teh? Ko… kopi?” ni tante kok jadi aneh gini sih ya?

“Ah, ndak usah repot-repot tante… makasih…” sahutku cepat, sambil bersiap memutar badan lagi

“Ah, nak Denny!” panggilnya tak kalah cepat saat melihatku bersiap kabur lagi

“I… Iya tante?” aku juga malah ikutan tambah grogi

“Tan… tante… bikini… bikinin… teh ya…” Tawarnya semakin aneh

“Makasih tante” jawabku singkat, kali ini aku beneran harus kabur

“Egh, nak Denny!” cagahnya lagi saat liat aku hampir aja nyelonong

“Eh, Iya Tante?” sambil nunduk, memastikan Kopral Jono aman terlindungi di bawah sana. Suwer, aku malu beneran

“Tol… tolong tante… bukain… anu-nya…”

“Eh?”

“A…a…anu, bukain toples gula, tolong…” katanya tambah belibet, sambil celingukan cari toples gula. Ketemu, dia mengkeret di pojokan rak. Dengan sigap disambarnya trus diulurkan ke-arah ku

“I… iya…” kataku sambil nerima toples itu dengan tangan kanan, lalu mecoba membukanya dengan kedua tangan. Meninggalkan Kopral Jono yang sedang Apel-Pagi dibawah sana sedirian. Tanpa penjagaan

“Aahhh…. Kenceng banget…” gumannya lirih, sambil menelan ludah. Matanya entah kemana

“Eh?”

“Tu… tutup toplesnya…” jawabnya sambil malu-malu

Entah intuisiku bener apa enggak, tapi kurasakan, pandangan mamanya Ine dengan buas mengikutiku yang kalap melarikan diri ke kamar mandi

Sumpah, ini memalukan!

Atau…

Hadeh…

Akhirnya sore itu juga, aku mengantarkan mereka berdua ke pul bis Coyo di kalibanteng setelah semua urusan Ine dikampus selesai. Teriring dengan banyak helaian nafas Panjang, pandangan menerawang dan kata-kata yang tak terlontarkan, maka kulepaskan mereka pergi. Atau, mungkin lebih tepatnya, mereka yang melepaskanku pergi.

Jok gerobak ku serasa hambar dan menghimpit, kubiarkan kaca jendelaku terbuka lebar. Ingin ku melepas apapun yang sekarang berkecamuk didadaku ini, melepaskannya bersama angin yang masuk dari celah lebarnya. Namun hempasan Wind of Change yang kuharapkan membawa pergi gundah ini beserta kelebatan bayang-bayang jalan, seakan mengalir dengan gerakan lambat dan tak mampu mengikis apapun itu yang sedang berkecamuk dihatiku

Tetes air mata yang kadang kuharap turun dan membasuh lara-pun tak jua turun. Perasaan ini, kesalkah? Terpojokkah? tak dianggap? tak pantas dicinta? perih? atau sebuah kelegaan?

Huft…

Aku gagal mencintai Rara sepenuh hati… dan aku menyerah!

Aku gagal mencintai Vika sepenuh hati… dan aku juga menyerah!

Dan yang terbaru, aku gagal mencintai Ine – Jin dalam botol ku, sepenuh hati… haruskah aku juga menyerah?

Ah, bukannya hidup ini hanya akan kupakai untuk mengejar-ngejar cinta, pastinya aku ada rencana-rencana sisi kehidupan-ku yang lain, tapi… entah mengapa, soal cinta ini begitu…

Ah…

Menyiksa?

Kurasakan dadaku bergetar, bergetar dan terus bergetar

Begitu nyata-kah perasaanku padanya, sehingga getaran ini juga terasa begitu nyata? Begitu menghentak dan begitu…

Brengsek!

Ternyata yang getar adalah handphone-ku yang ku kantongin disaku depan. Ada telepun masuk!

Jiancuk, mengganggu lamunan puitisku aja…

Mana nomor gak dikenal lagi…

“Halo!” jawabku ketus setengah emosi (1)

“Dede?” jawab suara diseberang, pendek

“Ya” aku masih saja ketus

“Iksan” jawab suara itu diseberang mikrofon – masih inget beliau kan? Sang Reserse?

“Ya bang” Shit, ternyata bang Iksan…

“Sepuluh-dua?”

“Di Semarang bang” Damn, aku bener-bener benci kode-kode sialan ini

“Bisa Delapan-Delapan?”

“Iya bang…” jawabku lirih atas ajakan ketemuan langsungnya. Walaupun nada kalimatnya berupa pertanyaan, namun, aku tau itu adalah permintaan yang akan sangat sulit kutolak

Saatnya pembayaran hutang, keluh-ku. Dulu aku meminjam informasi tentang Vika saat kasus penculikannya. Dan aku yakin seribu yakin, Iblisku menggunakan jasa yang sama saat berurusan dengan bos Joko atau siapapun tempo hari. Huft, bener-bener hutang yang menumpuk

Kuharap, nilai pembayarannya tidak terlalu besar. Aku baru saja ingin menata hidup

Damn!

— End of Wind of Change —

To be Conticrot

END – My Magic Part 19 | My Magic Part 19 – END

(My Magic Part 18)Sebelumnya | Selanjutnya(My Magic Part 20)