My Magic Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22 END

My Magic Part 18

Start My Magic Part 18 | My Magic Part 18 Start

Wind Of Change

– Pt.1 –

Aku tersentak kaget, terbangun dari tidurku. Keringat mengucur deras disekujur tubuhku. Dinginnya penyejuk ruangan di kamarkupun seakan tidak dapat menguraikan panasnya hawa yang kurasakan. Kepalaku seakan berputar-putar tidak menentu. Mimpi buruk itu seakan begitu nyata, walapun sedetik setelah ku-terbangunpun, aku sudah tidak dapat mengingat detailnya, namun, deguban jantung ini seakan menjadi landmark abadi betapa seram-nya mimpiku tadi

Dengan tertatih, aku terbangun. Perlahan berjalan menuju dapur. Aku perlu minum

04.30-an pagi

Air didalam botol air minum kemasan 1 liter itupun tiinggal separuh, setelah tadi dengan kalap ku teguk isinya sebisa mungkin. Aku termenung, entah apa yang kupikirkan setelah tadi dengan sisa tenaga bisa ku hempaskan tubuhku di sofa depan TV.

Studiku berantakan. Hidupku berantakan. Semuanya berantakan. Walapun – kupercaya – aku sudah mendapatkan kembali kendali penuh atas tubuh ini, namun, dalam hal kehidupan-ku, kendali itu terasa sama sekali tidak ada. Hadeh, bagaimana aku bisa menjelaskan semua ini kepada orang tuaku, terutama studiku. Adik perempuanku dengan mulus dapat menjalani studinya di UGM, dan siBungsu juga, Ah, lebih baik tidak bercerita tentang dia, dia lahir dengan segambreng kelebihan, bahkan kadang aku merasa dia tidak dilahirkan sebagai manusia. Hidup baginya – dari kaca mata ‘iri’ ku, hanyalah rangkaian hidangan demi hidangan nikmat yang bisa langsung di santap gratisan. Sedangkan aku?

Aku adalah kakak yang payah. Aku adalah anak yang payah. Dan lebih dari semua itu, aku adalah manusia yang payah!

Mungkin aku telah mengecewakan semua orang

“Halo…”

“Hei… Gimana kabar?” kataku sore itu, setelah melalui perdebatan yang cukup sengit dan alot dengan diriku sendiri. Dan mempertimbangkan berbagai macam aspek, baik dari segi sosial, politik maupun ekonomi. Melihat, menilik dan menimbang berbagai kajian dari data-data statistika. Membandingkan serta menghitung margin of error melalui sebuah metodologi penelitian limiah. Akhirnya kuputuskan!

“Kabar baik, kamu gimana? Kok lama gak kontak aku sih?” kata suara di seberang telefon itu

“Aku… maaf, akhir-akhir ini aku…eee… maaf, kalau jadinya malah jarang kontak kamu…”

“Iya gak papa, aku juga kok yang kurang pengertian, seharusnya aku lebih berani buat kontak kamu, tidak pasif seperti ini” jawabnya lagi

“Enggak kok, Ine udah baik banget, masih mau nerima telefon aku, Ine pastinya juga sibuk kan?”

“Apaan sih? Kalau mau telefon, telefon aja deh… aku selalu ada kok buat kamu…”

“Eh?”

“Eh, anu, maksudku… ya kita kan temenan, jadi kalau mau curhat, curhat aja…”

“Eee… iya, makasih ya… gimana skripsimu?”

Iya, itu Ine Jogja, temennya Rara. Aku memang kontak lagi dengannya, setelah sempat berjanji kepada diriku sendiri untuk menjauh, namun, entah kenapa, malah selalu keinget. Jadinya dengan nekat, aku beraniin diri untuk meneleponya lagi. Lagian Rara juga ngilang lagi. Terakhir kabarnya, setelah wisuda, dia langsung cabut ke Jakarta. Kerja di KFC atau apa gitu. Nah Ine ini adik kelas dia setahun. Angkatannya adik-ku. Makanaya sekarang masih Skripsi. Dan aku?

Pendidikan D3 Pelayaran-ku sudah memasuki smester ke-9. Dan aku sedang dalam mood yang jelek banget. Jadi, kuharap, kita tidak usah mengungkit-ungkit hal ini, atau…

Kamu ngerti kan maksudku?

Ah, biar ku ingatkan lagi!

Kamu tau kan, kemampuan beladiriku?

Aku adalah Karateka Shotokan dengan level Yondan – Dan Empat, salah satu atlet yang di perhitungkan di Popda Jateng, saat itu aku mendapatkan dua Medali Perunggu di dua kelas yang berbeda. Satu-satunya alasan aku tidak mendapatkan Emas, atau tidak masuk Nasional adalah karena aku tidak ingin jadi Juara. Aku juga adalah Master Pencak Silat. Pewaris tunggal silat Tejokusuman aliran Ponosoemarto.

Jadi, kamu tau kan kemampuanku?

Jadi sekali lagi, janganlan ungkit-ungkit masalah kuliah di depanku, terutama kalau mood-ku lagi jelek, atau…

Atau…

Atau…

Atau…

Atau… aku akan mulai menangis!

Huaaa…

Bunda, pak Dosen nakal, aku nggak di lulus-lulusin…

Huft!

Ah, akhirnya, aku curhatin semua ke Ine malam itu. Enak banget curhat sama dia. Apa aku udah pernah cerita kalau Ine ini orangnya adem? Hadeh…

TOK…TOK…TOK…

“Assalamualaikum… Assalamualaikum….”

TOK…TOK…TOK…

“Waalakumsalam… Iya bentar…” Siapa sih? Pikirku sambil segera bangkit dari tempat duduk-ku. Aku tuh sedang berhitung, mengkalkulasi, berapa jumlah sisa tabunganku, dan rencananya mau mencoba usaha.

Yah, dengan kenyataan website ‘Cara menjadi kaya lewat Internet’ – ku berpenghasilan payah, maka mau tidak mau aku harus membanting stir. Lagian website itu memang absurd banget. Intinya jualan e-book dan member-get-member, yang kukerjakan juga setengah hati. Apapun yang dikerjakan dengan setengah hati, hasilnya pastilah hanya setengah-setengah. Mungkin sih…

Ah, itu hanya alibiku, sebenernya, website itu memang payah!

“Hoi orang jelek! Aku datang lagi dalam kehidupanmu…hahaha…” Jin wanita menyeramkan itu langsung menerkamku begitu pintu kubuka. Aku hanya membelak tak percaya. Iya serius, dia adalah si-jin. Jin Dalam Botolku! My Genie int the Bottle

“I…Ine?”

“Kenapa? Kok ekspresimu gitu?”

“Aku kaget…”

“Yee… terpesona ya, sama kecantikanku? Eh, kenalin, ini mama-ku” katanya selebor sambil menggandeng seorang MILF, Ealah MILF… maksudku tante-tante setengah baya yang dari tadi ada disampingnya “Mah, Ini dede, yang kuceritakan nolongin aku pas pingsan di Halte…” tambahnya riang

“Selamat pagi, saya mama-nya Ine…” salamnya dengan canggung

“I… Iya tante, saya Denny…”

“Ine banyak cerita tentang mas Denny…”

“Eh? Eh, iya, monggo tante silahkan masuk…” jujur, aku masih gelagepan. Dari awal aku tidak pernah membayangkan bertemu dengan Ine yang ini lagi. Apalagi kenalan sama mama-nya. Tapi, disinilah mereka sekarang…

Hadeh…

Jadi ceritanya, Ine ini harus ke-semarang lagi buat ngurus cuti kuliahnya. Karena dia memang berencana menyelesaikan kuliah setelah melahirkan. Nah, karena kandungannya yang sudah mendekati meghitung hari, mama-nya tidak tega kalau membiarkan dia jalan sendirian. Makanya di anterin. Dan menurut Ine, demi menghemat biaya hotel, karena dia udah gak punya kost lagi, maka dia putuskan untuk nginep di Nest. Sekalian, katanya, mama-nya pengen kenalan sama aku

Kenapa harus kenalan ya?

Apa yang diceritain sama Ine tentang aku?

Hadeh…

Bikin sport jantung aja…

Jangan-jangan dia bilang, aku pula yang menghamilinya…

Eh, enggak mungkin juga ding…

Mana bawa oleh-olehnya banyak lagi, jadi gak enak…

“Hoi!!”

“Aiah kaget…kaget…!!”

“Kok malah ngalamun sih?” tereak Ine dengan songong, ni anak rese-ya memang ga sembuh-sembuh. Bawaan lahir kali. bener deh, kalau gak ada mama-nya udah tak koyor-koyor, abis kokoh gemes sama tu olang!

“Enggak ah, siapa yang ngalamun?” ah… kita sekarang duduk dimeja makan. Menyantap makan siang yang disiapkan sama mama-nya Ine. Tante itu, selain masih tergolong cantik dalam usianya, berbody slim-fit yang kelihatan masih kenceng, juga mempunyai masakan yang istimewa

“Sante aja lagi ‘da, kalau Vika sampai tau aku disini, aku akan ngaku kalau aku sodaramu, lagian kan ada mama juga, jadi dia gak bakalan curigation deh! Semua aman terkendali, trust me it works! Eh, dia udah Uda kasih tau kalau uda punya rumah sendiri?” cerocos Ine

“Aku… eh, belum… belum… dia belum tau… lagian… kita… putus…” jawabku terbata-bata. Entah kenapa juga aku harus terbata-bata… kenangan malam itu di warung Pesta Keboen… ah…

“Hah? Putus? Napa?” tanyanya lagi

“Gak gitu jelas, eh, kok jadi bahas aku sih, kamu gimana? Sehat-sehat saja kan? Dedek juga sehat kan?” jawabku mengalihkan pembicaaan. Sedangkan mama-nya Ine hanya memperhatikan kami dari sebelah Ine, diseberang ku dengan kalem

“Iyup, aku sehat, seperti yang kamu liat, dedek juga sehat, cuman kangen aja dia sama papa Denny…” jawabnya selebor

“Rese lu!” desisku lirih, serius, gemes bener ama ni Acha Septriasa KW

“Trus, maksudnya sekarang Uda Jones gitu?” tanya-nya lagi. Eh iya, sampe lupa, dia dulu kan panggil aku ‘Uda’ yak? Uda! Tambo ayam pop-nya ciek! Ah, macam pelayan rumah makan masakan padang aja…

“Beneran rese lu ya!” jawabku tengsin. Sama ni anak emang ke-gep mlulu dari dulu

“Hahahaha… Mah, tuh, mamah dah dapet calon mantu! Hahaha…” seloroh Ine tambah rese. Anak ini bener-bener…

Aku cuman tersenyum kecut…

Mamanya-Ine juga cuman tersenyum dengan muka memerah, mungkin jengah juga punya anak model kutukan seperti ini. Rese seribu rese

“Eh, baidewai, ntar malem kita tidur mana yak? Secara Uda punya rumah egois amat, rumah segini besarnya, kamar cuman atu…”

“Aelah neng, secara juga aku tinggal sendiri, kamar banyak-banyak siapa pula yang mau bantuin bersihin. Ya Ine sama Mama tidur di kamar, aku tidur di sofa, gitu aja kok repot…” jawabku diplomatis

“Bener lho ya! Awas kalau ntar malem ndusel-ndusel kita di kamar. Secara ada dua cewek seksi, awas kalau Uda sampe khilaf! Xixixi…”

“Emang rese lu ya!” rajuk-ku sambil ngelemparin gigitan tempe ke arah Ine

“Hahaha! Iya ding mah, kemarin dulu tuh pas aku dipaksanya nginep disini, awalnya aku juga disuruh bobo di kamar, katanya dia mau bobo di kursi. Sok pahlawan gitu deh mah, eh, malemnya maksa nyusul mo ikutan bobo di kamar, alasannya dingin di luar… padahal pikirannya mesum dia mam… dan aku dipaksa melayani-nya… aku…”

PLOK!

Kali ini potongan Tahu yang gue sambitin!

“Enggak ding Tant, gak ada cerita seperti itu! Boong dia Tant, sumpah… aku gak mungkin gitu. Rese lu In!” jawabku kalap diantara gemes dan tengsin

“Hahaha… iya, tante sudah tau kok semua ceritanya. Dari yang mas Denny ngerawatin Ine di Rumah Sakit, sampai nganterin Ine pulang. Tante sangat berterima kasih. Maafin Ine ya mas, dia kalau becandaan memang suka gitu, kebablasan!” jawab Tante mama-nya-Ine dengan kalem, sambil menekankan kata terakhir dan memelototi Ine. Melotot becandaan ato enggak, gak tau juga sih. Imut juga ni Tante. Jadi kangen deh sama Tante Christine… eh, Apaan sih? Lho! Kok malah plagiatin cara ngomongnya Ine-Jogja sih?

“Becanda ‘da… uda kok sekarang ciusan banget geto sih? Tegang gitu…” kata Ine selebor

“Ya… kan becanda juga ada aturannya kan In!” jawabku sok tegas dengan mimik muka serius –“Apalagi didepan calon mertua…” candaku

“Aseekk…” jawab Ine, masih ngocol

“Hufttt… Seger abis mandi…” kata Ine yang dengan konyolnya menyusulku duduk di sofa depan TV, hanya memakai kaos putih-ku yang pastinya dia ambil sembarangan dari lemari yang kayaknya – aku hampir yakin – dia gak pake BH. Kaos itu menutup pahanya sampai hampir ke lutut, secara Ine ini memamg berpostur mini-maxi gitu. Jadi gak bisa ku-pastiin, memakai apa dia dibaliknya. Maksudku, dibagian bawah. Apakah hot pants super pendek, atau shorts, atau CD atau gapake-apa-apa. Hadeh…

Aku hanya meliriknya sekilas. Agak khawatir aja kalau memandangnya berlebihan, plus aroma shampoo ini dan kenangan-kenangan kami… Ah…

“Ngalamun lagi!” hardiknya ngalem

“Mama kemana?” tanyaku singkat

“Mandi” jawabnya gak kalah singkat

“Hmm…”

“Eh, Uda…” kata Ine sambil beringsut mendekatiku

“Paan?” jawabku singkat, tanpa menoleh ke arahnya

“Kok BH ama CD ku yang dulu masih ada di lemari Uda, sengaja Uda simpen ya? Biar inget terus sama aku ya? Hayoo… ngaku…” candanya songong

Aku memalingkan wajahku ke-arah Ine “Aku… tidak memerlukan benda apapun untuk inget sama kamu In… Kamu… adalah sesuatu yang tidak akan pernah mungkin kulupakan….” Jawabku dengan muka serius, dan aku memang serius dengan perkataanku

“Jangan gitu dong ‘da… Aku melting nih…” jawabnya ngawur

Aku hanya memencet hidung-Ine dengan gemes. Beneran gemes deh!

“Awas minggir! Mau minjem bahu! Udah lama gak nge-rental bahu ini, pasti udah dipake sandaran ama banyak cewek ya! Dasar Uda Playboy!” kata Ine selebor sambil beringsut mepet lalu mengapit lengan kiriku dan menyandarkan kepalanya di bahuku

“Ine yang terakhir memakai bahu ini…”

“Iya kah?”

Aku memandangnya, lalu tersenyum dan mengangguk.

“Boong!” ine masih nyolot

Aku menggeleng, sambil masih memandangi wajah pemilik beribu ekspresi aneh dan unik dari My Genie in The Bottle ini. OK, bukan Ine ini lebih tepatnya yang terakhir bersandar dibahuku. Tapi tetap Ine juga kan? Jadi aku gak bohong

“Uda…” kata Ine sambil sudah menyandarkan kepalanya ke-bahuku

“Hmm…”

“Pinjemin aku kekuatan ya… buat ngejalani semua ini…” katanya lagi. Kali ini aku merasakan beban yang selama ini berusaha dia sembunyikan seakan meluap keluar. Kasihan Ine-ku. Andaikan kemarin kamu mengucapkan kata itu… Kata ajaib itu… tentu saja beban ini sekarang sudah tidak akan ada di pundakmu…

Aku mengusap kepalanya. Lalu mencium keningnya. Dan memeluknya dengan lembut

Tanpa kami sadari, mama-nya Ine yang sudah selesai mandi dan keluar dari kamar, memperhatikan kami. Entah sejak kapan…

“Uda…” desisnya masih dengan nada ngalem

“Hmm…”

Ine menengadahkan wajahnya menatapku. Mata itu… mata yang tegar dan mengagumkan. Mata yang penuh semangat dan optimisme. Sekaligus mata yang sejuk dan meneduhkan. Ah, andaikata aku habiskan sisa hidupku dengan wanita ini-pun, rasanya pasti tidak akan begitu buruk… Aku… rasanya seperti tidak ingin berhenti memeluknya…

“Uda…”

“Iya, Ine cantik…” candaku sambil mentowel gemes hidungnya

“Kalau Uda pas kangen aku, Uda make dalemanku buat masturbasi ya?” tebaknya ngawur!

“What the!!” dan inilah Ine. Pinter banget jadi rese ngegemesin buat ngerusak suasana!

“Oohh… Ine… I miss you soo much… gitu sambil ngocok di celana dalemku? Iiiiihh… jorok!” katanya cerewet sambil nyubit perutku.

Tebakan super absurd! Tuduhan tak berdasar! Justifikasi! Kriminalisasi! Character assassin!

Aku hanya menarik nafas Panjang, mencoba untuk tidak terprovokasi!

Sayangnya, dengan songongnya tangan Ine malah menjalar kemana-mana. Ah, bukan ke-mana-mana ding, lebih tepatnya hanya ke-sana!

“Apaan sih! Rese ah!” aku masih protes sambil mencoba menjauhkan tangan Ine dari pusaka-pasak-bumi-ku

“iiiiihhh! Pegang dikit ah! Napa sih, pelit! Orang kita juga udah pernah gituan lho ya! Kangen nih ama punya-mu…”

“Enggak!”

“Dikit”

“Enggak! Ine!”

“Haiz! Diem lah ‘da! Bentar doang!” kita masih otot-ototan

“Enggak! Ine! Kan ada mamah!”

“Halah, mama masih mandi, bentar doang!”

“Ine!”

“Diem ah ‘da!”

“EHEMMM!!” sebuah deheman dengan irama sedikit tercekat mengagetkan kami. Sepontan, macam anak SMP ketahuan pegangan tangan, kami terlonjak tegang

“Untuk makan malam mama rencananya mau numis kacang Panjang, kalau memang kalian gak ada kegiatan, kalian boleh bantu mama di dapur” kata mama-nya Ine dengan datar

“Nggih Ma….” Jawab kami kompakan

“Errrgh…” Aku menggeliat didepan PC ku, browsing-browsing sambil mencari informasi lebih tentang jenis usaha yang pengen aku geluti. Ceritanya saat kapal kita sandar di Paramaribo – Suriname, waktu aku jadi kadet pas manjalani Project Laut, bagian dari studiku, aku ketemu dengan seorang WNI yang menjalani bisnis eksport-import handycraft dan Furniture. Sebagian besar furniturenya di Import dari Indonesia. Aku tertarik dengan usaha itu. Trus aku beberapa waktu ini memang melakukan penelusuran disini.

Ternyata KBRI juga memfasilitasi hal itu. Banyak program exhibition yang ditawarkan oleh kedutaan Indonesia untuk bisa memasarkan produk dalam negeri di berbagai negara. Bahkan banyak juga BUMN yang bersedia jadi sponsor. Dari dinas Pariwisata sampai PLN maupun PGN ada program untuk itu. Bahkan terakhir, aku dikenalkan oleh temen kepada pak Budi, beliau adalah salah satu pemilih pabrik Handycraft di Jogja yang rutin dapat sponsorship untuk pameran di berbagai negara. Informasinya, tahun ini malah ada program untuk buka stan gratis di Festival Tong-Tong di Belanda untuk produk-produk Indonesia.

“Serius banget…” kata seseorang sambil dengan selebor memeluk leherku dari belakang

Aku menghela nafas Panjang untuk menetralisir rasa kaget “Belum tidur kamu In?” jawabku pendek

“Lom, mama dah tidur kek-nya. Festival Tong-Tong, Namanya lucu, apaan tuh?”

“Ah ini…”

“Mau kubikinin minuman hangat? Teh? Kopi?” tawarnya memutus penjelasanku

“Awas minggir tangannya!” kata Ine sambil ndusel ke pangkuanku di depan PC. Setelah tadi menyerahkan teh hangat yang dia bikin yang langsung ku minum sedikit

“Iiih… rese deh! Cari kursi ndiri napa?”

“Gak anget! Eh, apaan tuh Tong-Tong? Kayak Celana Dalem jorok deh Namanya”

“Itu Thong, rese! Hadeh…”

“Festival Thong-Thong adalah… hmmm…bla-bla-bla… Den Haag, Mei tahun depan ya? Uda mau ke Belanda?” tanya-nya, setelah sekilas ikutan baca website yang terbuka di PC

“Ya kalau dapat sponsor, aku pengen ajuin pabrik handycraft temen, trus ikutan ke sana sambil lihat-lihat peluang…” jelasku sekenanya

“Gimana dengan cita-cita Uda? Pelaut?”

“Haaahhh….” Aku menghela nafas Panjang “Menurutmu, kalau aku wiraswasta, cocok gak?”

“Uda? Wiraswasta?”

“He’e…”

“You’ll be great…. Serius, uda berbakat kok…”

“Darimana Ine tau kalau aku berbakat wiraswasta?” tanyaku

Ine malah rebahin kepalanya di bahuku, sambil ngusel-ngusel-in hidungnya di leherku

“Uda, memiliki ketertarikan yang aneh terhadap orang dan sosial. Berteman dengan Uda tuh gampang banget, lebih gampang lagi mempercayai Uda… So, you’ll be great kalau wiraswasta… I think sih…” kata ine, sambil masih ngusel-ngusel di bahuku

“Iya kah?” tanyaku datar, karena aku memang tidak melihat diriku sendiri seperti itu

“He’em… dunia wiraswasta sudah lama kugeluti, ya, nurun kali dari mama. Bahkan dari SMP aku udah coba-coba jualan sendiri, sambil bantu-bantu mama, jadi aku tau type-type orang yang kira-kira bisa sukses ber-wiraswasta, jiwanya…”

“Ah, moso sih? Jualan apa?”

“Batik” jawabnya singkat

“Dan menurut Ine aku cocok berwiraswasta?”

“Trust me, you’ll be great…”

“Apalagi kalau pendampingnya tuh cewek yang jagoan ber-wiraswasta ya?” canda-ku garing

“Ya, uda cari-lah, cewe yang jago ber-wiraswasta…”

“Lho lha ini yang ku pangku?”

“Ichh!!” dengusnya pendek, nyinyir! Sambil nyubit, tentu saja…

“Perut Ine udah Nampak gede banget… “ selorohku lagi, sambil mengelus lembut perutnya

“Kalo duhitung HPHT ama pas USG kemarin sih 36 minggu, tinggal menghitung hari…” jawabnya ringan

“Kamu bener-bener wanita yang sangat kuat In…” pujiku. Jujur dari lubuk hati

“Eeemmm… tapi rasanya aku jadi sangat lemah kalau deket-deket sama kamu Da… Jadi mending Uda jauh-jauh sana gih! Syuuh… Syuuh…!” katanya ngusir sambil malah memper-erat pelukan

Aku mengelus lembut punggung-nya. Lama juga Ine kubiarkan dalam posisi itu. Mungkin dia benar-benar butuh sandaran. Andaisaja dia bersedia, aku sama-sekali tidak keberatan berada di sana, dengannya, selamanya…

Lalu kelebatan frame-frame kelabu mulai terbayang di-benak-ku. Ayah, Bunda, Studiku, Rara, Vika, Ani, Dea, dan janji-janji ku dengan Rara mengenai Ine Jogja. Lalu aku tiba-tiba merasa sendiri. kesepian dan terombang ambing. Tetapi pelukan hangat wanita hamil ini seakan membuatnya tampak ringan. Apapun masalah dan kejadian yang telah terjadi dalam kehidupanku, hanyalah setitik debu dibandingkan dengan apa yang nantinya akan dia lalui.

Ine…

Hatiku tiba-tiba merasa tersayat. Kenapa kamu tidak mengijinkanku untuk menemanimu melalui semua ini?

Tiba tiba Ine menarik kepalanya, sehinggga wajah-nya jadi berhadapan dengan wajah-ku

“Kamu tuh ya ‘da…” katanya sambil membelai rambutku, seperti yang dulu sering dia lakukan saat menenangkanku

“kamu tuh ya In…” potongku, sebelum aku denger kalimat sarkastik apapun yang akan diucapkan oleh bibir cantik Ine

“Aku apa?!” nyinyirnya

“Cuman beberapa bulan gak ketemu kok jadi cantik benget gini…” gombalku sambil prengas-prenges

“Hooooeeekkk…!!” candanya niruin ekspresi muntah

Aku tertawa geli. Dan kita berpandangan lagi…

Dan tidak tau siapa yang memulai, kita sudah terlibat adu-mulut…

Dan lidah…

Dalam ciuman yang menghanyutkan…

“I miss you so much…” kataku disela engahan nafas kami

“Me too…” jawabnya singkat

“Ine…”

“Hmmm…??”

“Kenapa?” tanyaku sambil menempelkan dahuku ke dahinya

“Kenapa apanya?” tanyanya-nya balik

“Kenapa kamu gak ijininin aku untuk berjalan bersamamu melalui semua ini?”

“Karena…” desisnya dengan pandangan mata menerawang

“Karena waktu itu ada Vika? Sekarang tidak ada siapa-siapa, hanya aku… sendiri…”

“Ada Uda dan semua mimpi-mimpi uda kan?”

“Kita bisa wujudkan mimpi itu Bersama… Ine, please… akan kubuktikan kalau aku mampu menjagamu, menjaga anak kita… Ine hanya cukup memberikan aku kesempatan… “

“Anak kita?” tanya-nya heran

“Iya kan, kalau aku jadi suamimu, otomatis si-kecil ini jadi anak kita kan?” tanyaku-songong, sambil membelai perutnya

“Aku datang begitu saja dalam kehidupan uda, aku menghilang begitu saja saat uda minta aku tinggal dan aku datang lagi – mungkin – disaat yang paling-enggak uda harapkan banget… lalu di malam pertama kedatanganku, uda ‘nembak’ aku?” resume nya dengan cengar-cengir

“Ya… Kurang lebih begitu, Ine datang dengan dramatis, menghabiskan waktu denganku dalam salah satu episode hidupku yang paling dramatis, ine meninggalkan aku secara dramatis, dan hanya karena kepegecutan-ku yang mencegahku gentayangan di Kendal untuk mencari Ine, sekarang Ine datang lagi secara dramatis. Dan apa aku pernah bilang? Ine juga mempesonaku secara dramatis? Cara pandang ine terhadap kehidupan, cara ine melihat masalah, memetakannya dan menghadapinya… mata Ine mempunyai pancaran yang juga dramatis… dan bohong kalau aku bilang Ine tidak cantik. Dengan resume seperti itu, apa salah kalau aku mengagumi Ine? Apa salah kalau aku… “ — Aku menelan ludah – “ kalau aku… jatuh cinta dengan Ine?”

“Enggak, enggak salah… aku memang cantik, menarik, sexy, mandiri, mempunyai mata apalah itu dramatis atau apalah, makanya Uda… uda bukan satu-satunya yang jatuh cinta sama aku… jadi jangan GR gitu ah, mentang-mentang berani nembak, langsung aku terima gitu? Aku langsung terkintil-kintil gitu? Pake Antri keless!!” kata ine sambil memencet hidungku kuat-kuat

“In, aku serius…”

“Aku juga!”

“In!”

Ine hanya memandangiku dalam-dalam, sambil sesekali membelai rambutku

“Bohong kalau aku juga nggak punya rasa yang sama denganmu ‘da…”

“Nah kan? Jadi? OKE dong…”

“Sik to, diem dulu! Jangan potong omongan orang!” hardiknya “Ya, aku kesini memang sengaja buat ketemu Uda, ya sekalian ada urusan di kampus, lagin kemarin belum sempet pamitan secara proper sama Uda dan… OK lah, aku jujur aja… aku kangen… hehehe… tapi…” – Ine menelan ludah juga, dasar tidak original! – “Tapi, setiap kali aku mau membulatkan hati, mau egois, mau tutup mata terhadap dunia dan mencoba memilikimu… aku…”

“Lha kan aku yang menawarkan diri, trus, apa masalahnya?”

“Ihhh…! Cah ki!! Kosik to! Bentar dulu, dengerin orang omong!”

“Iya iya! gitu aja sewot! Belom juga jadi bini, galaknya dah minta ampun…” desisku merajuk

“Uda sih, motong mlulu kalau ada orang bicara! Sampe mana tadi? Jadi lupa kan?”

“Iye maap, tadi sampe… Ine ku koyor-koyor sambil kuciumin, trus melenguh trus…” candaku yang diikuti dengan cewowo-an pada bibirku oleh tangan mungil Ine, komplet dengan pelototan matanya yang lucu

“Ahhh! Intinya… aku gak bisa!”

“Lha iya, kenapa gak bisa?”

“Arrrghhh!! Uda itu apa udah mikir, maksudku dipikir beneran, Uda tuh beneran naksir aku, Jatoh Cintrong gwetoo… ih, amit-amit…!!” – katanya, lalu nge-pause bentar omongannya sambil ngetok-ngetok jidat – “atau cuman kasihan, atau cuman… NAFSU !!… Oohhh…!” lanjutnya sok dramatis sambil menaik-naik-kan alis lucunya

Hampir aja aku ngakak. Toyor bathuke sisan!

“Omonganmu nduk… nduk!”

Dan kita saling berpandangan lagi

“I think I really falling in love with you!” desisku pendek tiba-tiba sambil memeluk pinggang Ine

“Me too…” jawab-nya sedikit mengagetkanku

“So??!!”

“So? What do you mean dengan ‘so?’?” tanyanya balik dengan songong

“So, what stop you? lets be together!”

“What stop me?”

“Yeah, what stop you!” ulangku dengan gemes

“Because we have to be realistic, Genius!!”

“Maksudlo?” tanyaku songong

“Shit! Either you’re the stupidest person in the world or the naivest! Gini, misalnya; lamaran fake Uda aku terima, trus, Uda harus bicara sama mama-Uda kan? Trus Uda mo ngomong apa jal?”

“Fake bathukmu ambrol” — terang aja aku melakukan protes keras atas kata itu, hampir aja demonstrasi! — “Bunda? Ya, ngomong apa adanya lah!” lanjutku

“Apa ada-nya gimana?”

“Ya… Bund, nih kenalin calon-ku, Namanya Ine”

“Ooohh, lho kok udah hamil sih De? Anak kamu? Dasar anak kurang ajar!! —- Aaahh, bukan bunda, dia kutemuin di halte udah mblendung kayak gini, gak tau deh siapa yang buntingin… —” jawab Ine sarkastik, niruin percakapan imajinernya antara aku dan Bunda

“So?”

“So bathukmu ambrol! Uda nih beneran gak mikir apa gimana sih?”

“Maksudlo?”

“Maksudlo?!! Uda nih! Ah… gini deh, apa Uda emang gak peduliin perasaan bunda-nya Uda? Gak peduli kalau dia sedih?”

“Oooh, jadi itu yang Ine takutin? Aku cukup paham Bundaku, dia pasti nerima kok, asal kita jelaskan baik-baik. Toh juga calon menantunya adalah wanita baik dan hebat… dan jangan bawa-bawa janin ini dalam pembicaraan kita, anak kita tidak tau apa-apa!”

“Siapa pula yang nyalahin dedek, gini lho ‘da, kalau wanita yang hamil di luar nikah, lalu sampai tidak tahu ayah dari janinnya, masih kamu anggap wanita baik-baik, maka standar wanita-baik mu benar-benar pantas direvisi!”

Aku ngakak… “Ooh, Ine… Itu kan pandangan orang dari luar! We make mistakes once a while, so what? Big deal! I see what’s inside!” — kataku sambil menempelkan telunjukku di pertengahan dada Ine – “I see you! The real you!”

“Ooooh My God!!… Gombalanmu bener-bener bisa bikin cewek melting! Dasar Playboyyyyy!!!” kata Ine songong sambil malah memeluk-ku

Ah, Ine…

End of Wind of Change Pt.1

Bersambung

END – My Magic Part 18 | My Magic Part 18 – END

(My Magic Part 17)Sebelumnya | Selanjutnya(My Magic Part 19)