My Magic Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22 END

My Magic Part 16

Start My Magic Part 16 | My Magic Part 16 Start

Live and Let Die​

Excelso, terutama yang di Ciputra, adalah tempat favorit keduaku setelah toko buku Gramedia Pandanaran. Disini, aku selalu merasakan sensasi rapuh-terekspose-tapi-nagih dalam racikan kontradiktif yang aneh, dimana disekeliling adalah hiruk pikuk mall, sedangkan di dalam café-nya lumayan hening dan cozy. Padahal tanpa dibatesi dinding lho. Aneh kan?

Kamu bisa melihat dan mengamati segala carut-marut disekelilingmu dalam keadaan yang setengah kasat mata. Aku tidak tahu pesona apa yang dibawa oleh warung kopi ini, tetapi, seakan-akan orang-orang yang melintas disekelilingnya juga tidak bisa melihat kami dengan ‘jelas’. Pemilihan lokasi dan penataan layout yang bagus, itu tebakan terbaik-ku

“Mas dede ya?” sapa seorang pemuda yang memang sudah kutunggu

“Iya! E… Mas Bintang?” jawabku sambil sepontan berdiri, menyalami pemuda itu, Namanya Bintang, kita memang janjian disini untuk COD-an buku. Sebuah novel yang sedikit susah dicari di Semarang. Makanya aku dapet online dari sebuah forum. Recananya sih, mau tak kasih ke Ine buat hadiah ultahnya yang tinggal menghitung hari.

Dua orang itu berjalan beriringan dengan pelan. Menyusuri jalan selasar selebar dua bahu – yang membuat mereka harus juga berhimpitan – dengan santai, seakan dunia ini akan menghentikan waktunya, khusus untuk menunggu mereka. Percakapan kecil yang terjadi diantara mereka-pun rupanya amat menarik. Senyuman dan kikikan kecil seakan menghiasi kata-kata bahagia – atau lucu – aku gak tau, tetapi rona kegembiraan yang terpancar dari mereka pagi itu benar-benar nyata. Bahkan auranya sampai mempengaruhiku yang hanya memperperhatikan mereka dari jauh. Menunggu langkah-langkah kecil itu membawa mereka mendekat kearahku. Haiz…

Manis! Itu definisiku kepada gadis yang berjalan di sebelah kiri. Piyama lengan Panjang bahan kaos warna pink bergambar kartun lucu, komplit dengan celana Panjang gombrong setelannya yang kelihatan kumel dan sepertiya ogah untuk bersentuhan dengan sinar matahari pagi itupun tidak mematikan pancaran aura kecantikan si pemakai.

Sedangkan gadis yang berjalan disebelah kanan…

“Ngapain pagi-pagi sudah sampe sini mas?” gadis yang berjalan disebelah kanan… baru saja mencecarku langsung dan tanpa basa-basi, pandangannya tajam menyelidik begitu sampai didepanku, walau kemudian diikuti dengan sebuah pelukan, dan kemudian aku menciumnya di kening – aku emang sayang sama anak ini – namun, pandangan itu tetap kurasakan sinis!

“Lah?! Kamu sendiri ngapain disini?” jawabku tak kalah ketus

“Aku bobo di kost mba Rara!” jawabnya songong

“Ngapain lo bobo di kost Rara? Kost lu sendiri napa?” tanyaku tak kalah songong

“Bawa apaan tuh?” tanya-nya malah gak nyambung

“Apaan sih?” aku segera menyembunyikannya di balik punggungku

“Liat!”

“Enggak!”

“Siniin!”

“Apaan sih? Cerewet ni anak, bukan masalah lu lagi!” hardik-ku

“Siniin gak?”

“Enggak!” jawabku masih ngeyel

Tiba-tiba mahluk tengil itu diem. Tepi bukan diem biasa lho bro! Ini diem dengan Qodam. Diem, sambil mengacungkan tangan tanda meminta, dan dengan pandangan mata tajam – lurus kearah matamu, Serasa seperti seorang permaisuri yang memerintahkanmu untuk bersujud di hadapannya. Hanya satu artinya, turuti, atau ini akan menjadi sangat tidak bagus. Terutama untuk hal-hal krusial seperti; mempertahankan posisi badan-leher-dan-kepala-mu tetap berada di tempat yang seharusnya

Dan aku mengulurkan tas kertas yang sebelumnya ku pertahankan dengan mati-matian itu.

Disampingnya, Ine si gadis manis yang tadi ku gambarkan cuman menatap dengan bingung adegan drama tak be-rima dan gak berujung pangkal itu. Seperti mendengarkan punchline tanpa set-up. Bingung, sedikit awkward tapi mostly gak ngerti aja. Gak ada sambungannya gitu

“Kado kah? – Untuk hati yang murni, untuk waktu yang belum berpihak, untuk kelahiran dan kematian yang berputar dalam kefanaan, aku bersyukur kita dipertemukan, HBD, All the pray; D… Apaan nih? Sapa yang ulang-tahun?” katanya songong sambil membaca kenceng-kenceng pesan kecil yang kutulis dan kutempel diatas kertas kado pembungkus

“Rese ih!” hardik-ku gemes sambil ngerebut benda itu dan berhasil

“Eh, sapa sih yang ultah? Mba Rara kan februari?” gumannya menyelidik

“Aku…? Mungkin…?” desis Ine lirih, menebak jawaban dari pertanyaan itu, dengan intonasi kalimat tanya juga…

Kami berdua sepontan menatap si manis yang irit omong namun ngademin ini…

“Kamu ulang tahun Say? Hari ini?” tanya nya dengan super-ceria pada Ine…. “Aseekk… makan-makan kita hari ini… hihihi…” lanjutnya girang, sambil memeluk Ine. Yang di peluk hanya tertawa kecut

“Eh, tunggu dulu…” katanya lagi dengan muka kembali ke ekspresi james bond kurang vitamin C. Sariawan! “Jangan bilang kalau kado itu buat…” katanya sambil menunjuk dan menatap aku dan Ine bergantian dengan sorot mata ala ibu tiri. Kejam!

Aku cuman mengangguk, sambil mengangkat bahu

“Buatku?” Ine malah dengan songong dan sok polos nanya hal-hal yang seharusnya sudah jelas. Cewek ya, cara mainnya… halus bener… ngeselin sih…

“Kado, plus lirik lagu dangdut, plus jam enem udah nyampe jogja, dari semarang jam berapa mas? Buat Ine? Ngapain? Ada apa… Ah? Kalian? Mas, kamu kebangetan banget sih? masa temen se-kost mba Rara kamu TP-TP-in juga? Playboy sih playboy, tapi… ah… Gitu banget sih kamu mas? Pikir deh!” cerocosnya dalam Tausiah beli-putus, karena abis nyablak gitu, langsung ngeloyor pergi gitu aja. Tipikal dia banget!

Dan cabut-nya pun dengan kepala di-geleng-gelengin dan ngibas-ngibasin tangan dalam gerakan ‘gua-gak-tau-dah’ plus dilakuin sok dramatis, macam adegan telenovela jadul

Aku menunduk dan mengambil nafas Panjang. Serius, malu buanget-buanget-buanget ama Ine

“Kamu… sama Icha…” akhirnya, walaupun lirih, Ine buka suara. Setelah beberapa lama keheningan memang melingkupi kami pasca status quo yang di tinggalkan secara semena-mena sama diktator cebol edan tadi.

“Hhhhh… Aku dan si cebol itu tadi kebetulan lahir dari Rahim yang sama, dengan bibit yang sama pula” desisku, selayaknya petinju yang kalah telak

“Ah, yang bener? Kamu sama Icha sodara kandung? Gak nyangka banget… aku tuh salah satu fans beratnya Icha lho, udah cantik, rajin, pinter, humble, pekerja keras, kuat lagi… Kayak disampingmu, aku selalu merasa aman kalau jalan sama Icha… hihihi… ih, gak nyangka banget deh…” jawab Ine. Satu kalimat Panjang pertama. Langsung cless… kayak punchline langsung gitu… Kali ini tanpa set-up ga papa deh, orangnya manis ini…

“Udah… udah… mual gue denger Ine bilang Icha bla-bla-bla…” aku masih berusaha protes

“Hihihi… Icha emang cantik kok… Eh, itu beneran kadonya buatku?”

“Ya iyalah buat siapa lagi?” kataku sambil mengulurkan tas kertas itu “Happy Birthday…” desisku lirih kemudian

“Ih, kamu kok tau sih ultah-ku? Makasih ya…” jawabnya manis sambil menerima kado naas itu, lalu dengan sok tekun membaca lagi notes kecil di bungkusnya. “Baidewai, puisinya bagus, aku suka…” desisnya lagi dengan mimik dan gestur sok shy-shy-cat yang tengil binti ngguateli

“Ah! Maksudmu lirik lagu dangdut-nya?” jawabku malu beneran sambil dengan kalap garuk-garuk kepala yang sumpah gak gatel sama sekali

“Hihihi… Icha emang suka becanda… tapi aku suka… liriknya… hehehe…” jawabnya masih sambil malu-malu-sok-lucu “Eh, kadonya boleh kubuka ga?”

Aku hanya tersenyum

“Ya Ampuunnn… Never Let Me Go… darimana kamu tau aku lagi nyari-nyari buku ini? Aku tuh abis baca juga bukunya Kazuo yang lain…” sorai-nya riang gitu, setelah berhasil membuka bungkus kado.

Aelah, berhasil buka bungkus kado, emang ada yang gagal gitu saat berusaha buka bungkus kado?

“The remains of the day…” desisku pendek, meneruskan kalimatnya, menebak judul buku yang dia maksud

“Ih, kok tau juga sih?”

Aku hanya tersenyum

“Makasih ya, aku seneng banget pagi ini… “

“Napa? Gini doang…”

“Kok gini doang sih? Ya… Seneng banget saat tau fakta kalau sahabatku sekaligus idolaku tuh ternyata adek kamu, dan lebih seneng lagi saat tau kalau kakak-nya ternyata juga…perha…ti… eh, anu… hehehe…” Ine menghentikan kalimatnya dan memeluk buku itu dengan erat didadanya

“Apaan sih? Aku justru malah ngerasa malu banget, maafin kami untuk insiden barusan ya?” jawabku memotong kalimatnya, yang kutahu bakalan absurd

“Apaan sih? Santai aja lagi. Icha emang gitu orangnya, meledak-ledak, ntar kuajak omong juga adem lagi… Icha kan baek…” lanjut Ine, sudah memakai jurus ngomong kalemnya. Adem…

Eh, apa aku udah pernah bilang kalau Ine yang ini orangnya tuh adem banget?

Haiz…

“Eh… De!”

“Paan?”

“Mukaku keliatan merah banget gak sih?”

“Ya ampun Ine… receh banget sih guyonan-mu?”

“Apaan sih? Aku serius tauk!” jawabnya beneran dengan mimik serius “Deg-deg-an gitu, soalnya baru kali ini kencan dinner di tempat kayak gini…” lanjutnya sambil setengah berbisik dan mencondongkan badannya ke depan, pakai acara tengok kanan-kiri lagi, macem diawasin ama agen rahasia yang duduk di meja seberang, berlebihan banget aktingnya. Kami memang duduk berseberangan di meja bunder itu

“Tempat kayak apa?” aku ikutan berbisik. Anjay!

“Romantis… hihihi…” jawabnya pendek sok malu-malu

“Romantis? Bukannya katanya Ine pernah ke sini sama Icha? Kan tadi kalian juga yang milih tempatnya”

“Ya beberapa kali sih, tapi kan sama Icha, gak sama kakaknya…” rajuknya lucu

“Trus kalau sama kakaknya Icha, tiba-tiba tempatnya jadi beda gitu?” tanyaku songong

“Ya beda lah…”

Aku tengak-tengok bego “Oya? Apanya?”

“Atmosfir romantisme-nya” bisiknya sok gajen, pakai ditutupin pake tangan segala

“Astagah anak ini!” aku garuk-garuk kepala yang tiba-tiba terasa…. Ah…

“Hihihi…”

Yep, malam itu memang kita maem di Gadjah Wong, sesuai rekomendasi Icha. Lebih tepatnya, hasil dialog Panjang kali Lebar antara Icha dengan Ine. Lebih ke monolog sih sebenernya, karena dalam dialog itu, Ine cuman bilang; *) Iya… iya… ho’oh… boleh tuh… setuju banget! – lalu kembali ke *) – emangnya lagu, back to reff?

Done

Dan disinilah kami, atas seizin Tuan Puteri Gusti Raden Ayu Ndoro Nawang Wulan, pastinya – Haiz!

Kesininya juga boncengan pake motor Ine. Modus aja sih sebenernya

Dan berhasil lho, pas udah bonceng, sebelum take-off, Ine nanya, boleh gak dia pegangan di pinggang-ku. Nah kan? Sukses bro! weleh-weleh

“Kamu… disemarang udah punya cewek lagi kah?” kata ine membuka pembicaraan, setelah kami memesan menu. Memesan makanan. Eh? Kalimatnya yang bener apa sih? Memesan menu atau memesan makanan? Dan minuman juga, kalau kamu mau detail sih

“Cewe?”

“Pacar” sahut Ine, memberikan penekanan langsung

Aku cuman tersenyum, sambil terus-terusan ngeliatin tingkah lucu-nya Ine, beneran acting kali ni anak, bisa belingsatan gitu

“Menurutmu?” tanyaku balik

“Ya, kayaknya kamu masih jomblo sih de” tebaknya

“Kok bisa?”

“Ya, muka kamu masih culun gitu, kayak masih ngarep banget Rara mau balikan lagi…”

“Astagah… gitu kah kamu liat aku?”

“She’s the one, isn’t she?”

“Why’d you think like that?”

Ine menatapku balik, lama dan menegangkan, kalau dari sudut pandangku sih…

“Its obvious” katanya pendek, sambil dengan cuek nyeruput minuman yang emang udah dianter ama mbak pramusaji dari sedotan

“Oh? On which part?”

Dan Ine tersenyum “Kausalitas dari apa yang kamu lakuin sejauh ini-tuh obvious banget, literal banget, sangking jalasnya, ngelihatnya kayak cukup di level reading comprehension aja, kayak gak perlu layer of assumption gitu untuk ngelihat kamu, maksudku, ngelihat kamu tuh kayak baca buku eksak gitu… apa adanya banget…”

“Astagah… anak psikologi ding ya…” Desisku pupus harapan untuk ngegombal malam ini, sambil garuk-garuk kepala – menyebutkan jurusan kuliah Ine. Bukan berarti aku pengen ngegombal sih, maksudnya, kali-kali aja perlu ngegombal gitu

“Apaan sih, gak gitu juga kali… setiap orang yang bisa ngeliat kamu dari dekat pun tau kok cara membaca kamu, Icha misalnya, dia tau bener tentang kamu kan?”

“Ya karena kita emang deket…”

“Nah, kan?”

“O… Astagah… tentu aja… kenapa aku gak kepikiran ya?”

Ine hanya tersenyum

“Is it a good thing?” tanyanku lebih lanjut

“Apanya?”

“To be so obvious?”

“Yah… disatu sisi, orang akan lebih mudah percaya sama kamu, karena mereka akan melihat bahwa kamu itu as it is. Orang-orang cenderung lebih gampang percaya sama orang yang apa adanya… Aku misalnya, aku… aku percaya sama kamu” jelasnya Panjang lebar.

Ndengerin Ine ini gak ngebosenin, selain emang nyambung, anaknya juga cerdas. Belum nyebutin kalau dia emang enak diliat. Manis gitu. Apalagi lesung pipi-nya, aduh. Gakuat. Apa aku udah bilang kalau dia tuh orangnya juga adem? Oh, udah ya…

“Ya, kalau gitu, itu hal yang bagus lah… makasih, terutama tentang percaya sama aku tadi…”

Ine kembali tersenyum

“Dan sisi lainnya?”

“Apaan?”

“Sisi yang lain lah?”

“Maksudnya?”

“Ya, tadi Ine bilang, satu sisi, orang obvious sepertiku gampang di percaya… sisi lainnya?”

Ine memandangku geli sambi kayak berusaha menahan tawa “Gampang di manipulasi” kikiknya pendek dengan intonasi ngejek yang hiperbolik

Aku melotot

Dia malah tambah ngikik

“Eh? Enggak lah, enak aja gampang di manipulasi! Enggak mungkin lah… enggak-enggak! Gak mungkin!” aku membela diri sambil geleng-geleng gak terima

“Hihihi… iya… iya… enggak…. Becandaan kok….” Katanya kemudian sambil dengan berani meraih punggung tanganku dan mengelusnya lembut

Eh?

Dan seketika atmosfir berubah

Bener kata Ine, tempat ini emang ada atmosfir romantisnya

Dan aku membalik tanganku, meraih tangannya, sehingga kini kami saling menggenggam tangan. Dan mata kami bertemu. Senyum kami beradu. Yep, ini emang romantis…

“Bentar…” desisku

“Apaan?” balasnya pendek, sambil tersenyum manis banget

“Ini… bukan bagian dari manipulasi kah?”

Dan Ine tidak berusaha menyembunyikan gelinya, ngakak “Mukamu lucu banget tau ga sih? Hahaha…”

“Anjay!” Protesku pendek

Namun

Genggaman tangan itu, tidak juga kami lepaskan…

—-

Kamu tau gak sih apa gambaran romantisme secara umum? Jalan-jalan di sela-sela atmosfir syahdunya malam sepanjang malioboro sambil gandengan tangan, atau tenggelam dalam pelukan nuansa etnis di Jok-Teng sambil bertatapan mata dan saling melempar senyum termasuk didalamnya?

Kalau ya, maka malam ini termasuk malam yang romantis, menurut deskripsi itu.

Entah sampai kapan hal-hal indah duniawi seperti ini bisa kunikmati. Biasanya apabila sedikit saja aroma seperti ini tercium oleh ruh dekilku, segera saja otak ini diskonek. Melantur lalu menampilkan frame-frame kelabu. Kilatan-kilatan memori buram yang saling tumpang tindih. Mengikis emosi melankolis apapun yang berusaha dipeluk oleh rapuhnya hatiku.

Tapi, sampai saat bunyi ‘bib’ dari jam tangan digital yang kupakai ini terdengar – yang menandakan waktu sudah beranjak tengah malam – rasa bahagia ini belum pupus dariku. Ademnya aura yang terpancar dari wanita disebelahku ini, membalutku dengan kenyamanan yang menenangkan

Dan senyuman manis yang sesekali terlempar, serta pancaran kebahagiaan yang menguar darinya, betul-betul melambungkanku diatas pusaran waktu. Pelukan hangat yang selalu melingkar dilenganku, juga seakan mengalunkan melody kasmaran yang terus menerus memaksaku untuk tersenyum bahagia.

Ah, malam ini, kurasa akan menjadi malam yang selalu melekat dalam ingatanku. Menetralisir frame-frame kelabu yang selama ini menggoreskan luka traumatis dalam nadi kehidupan asmaraku.

Halah…

“Aku seneng banget malam ini” celoteh wanita yang malam ini tiba-tiba menjadi sangat manja, sambil menatapku, masih bergelayutan manja tentunya

“Aku sangat bersyukur bisa membuat Ine bahagia…” jawabku sambil menatap balik wajahnya

“Ulang tahun terindah… hihihi…” desisnya lagi

“Lebay!” jawabku sambil mentowel hidung manisnya

“Serius!”

“Bukan salah satu jurus manipulasi ala anak psikologi kah?” nyinyirku

“Apaan sih!” jawabnya sambil nyubit mesra

“Hehehe… enggak, takutnya aku keburu GR, eh, ternyata cuman manipulasi… sedih kan?” lanjutku

“Eh, De… Eeee… kamu… eh, gak jadi ding…”

“Opo seh?”

“Enggak…”

“Apa sih?”

“Enggak kok, ga jadi… hehehe…” ngelesnya norak, macam anak labil yang sok malu-malu-nggragas pas lagi kasmaran

Aku hanya manyunin bibir, sebagai reaksi atas atraksi khas orang yang sok akting salah-tingkah itu. Untung mbak-nya imut nggemesin, kalau enggak, wah…

Ya, ga papa sih…

“Eh, jadi ding… tapi kamu gak boleh marah lho ya…” nah kan, labil?

“Iye, apaan sih In? Sengaja bikin penasaran ya? Trik manipulasi psikologis yang lain lagi kah?”

“Apaan sih? Kayaknya aku salah deh ngomong soal manipulasi, di jadiin senjata mlulu… kamu beneran sakit hati ya, karena omonganku yang itu?”

“Bukan karena omongan Ine, atau pilihan kata nya, tapi, kok ya kayak bener gitu lho, itu yang bikin aku ngerasa tertelanjangi banget…”

“Emang kamu selama ini merasa dimanipulasi, atau termanipulasi gitu?”

“Enggak sih, enggak pernah ngerasa gitu sama sekali. Hanya saja, pas Ine omongin, kayak… masa sih? Tapi, kok keliatannya iya deh… kayak baru nyadar gitu. Semacam wake up call. Dan itu telak banget. Kerasa naif aja aku selama ini…”

“Ooohh… ya, apapun perasaanmu setelah apa yang kamu sebut sebagai wake-up-call adalah hak kamu untuk menilai. Asal jangan biarkan personal judge mu, mengeliminasi arti ketulusan dari orang-orang yang memang bener-bener tulus ke kamu aja…” celoteh Ine lagi, sambil menatap sayu dan mengelus-elus lenganku yang masih ada dalam pelukannya

Aku meliriknya sekilas “Berbicara dengan Ine itu… nyaman banget ya?”

Ine tidak menjawab, hanya kembali menatapku sambil mengangkat bahu

“Trus?” tanyaku lagi

“Trus apa?”

“Yang tadi mau Ine omongin…”

“Oh, itu…” dan kalimatnya terhenti disana. Dan kulirik, pandangan mata Ine mulai menerawang jauh, seakan sedang mencari susunan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apapun yang ingin dia katakan kepadaku

“Aku bukan Rara… “ katanya tiba-tiba

“Eh? Maksudnya apa nih?” jujur aku kaget

“Maksudku, aku memang bukan orang yang pinter, tapi tak perlu jadi orang yang pinter untuk melihat keterikatan mu dengan Rara… maksudku… bohong jika tidak ada cewe lain yang melintas, bahkan mungkin sempet singgah di kehidupanmu, selain Rara… kamu sangat mudah di akrab-in, tapi kenyataan bahwa kamu selalu kesini, hanya sekedar ingin merasa deket dengan Rara… eh, semoga tebakanku salah…” putusnya ditengah kalimat yang nggantung

Dan sedihnya, walaupun kalimat itu nggantung banget, tapi sekali lagi tebakannya hampir bener. Tapi aku hanya diam. Nggak tau, apakah diamku ini diartikan sebagai sesuatu yang mengamini tebakannya atau apa

“Aku…” yup, aku memang gak tau kelanjutan dari apa yang ingin ku katakan sendiri

“Gak papa, aku juga gak menginginkanmu untuk membohongi perasaanmu sendiri kok… aku hanya ingin…” Ine menjeda omongannya

Aku meliriknya, dengan perasaan yang tidak bisa ku deskripsikan sendiri

“Aku hanya ingin, kalau boleh, memintamu untuk menerima kedekatan kita ini… apa adanya, tanpa… membandingkan dengan kedekatanmu dengan Rara… bolehkan?” lanjutnya sambil tertunduk

Dan aku hanya bisa membelai kepala belakangnya, lalu menariknya ke bahu-ku sebagai jawaban atas permintaannya.

Ine ini…

Entahlah…

“OK… aku… balik dulu…” pamitku dengan berat hati setelah memasukkan sepeda motor Ine ke garasi kost-nya

Ine hanya memandangku sayu sambil mengangguk ragu, gak lupa memainkan aksi gigit bibir sendiri yang gemesin. Aiih…

Aku berbalik, walau rasanya gak rela melepas pandangan dari Ine yang tiba-tiba berasa nggemesin banget ini

“De…” panggilnya singkat

Dan aku berbalik badan lagi

“Aku… nungguin kamu…” tembak-nya singkat

“Iya… aku…” entah kenapa aku tiba-tiba menjadi gagap

“Iya, kamu… selesein dulu apa yang harus kamu selesein, aku tungguin…” Jawabnya renyah, ngademin banget

Excelso – aku udah pernah cerita ya, kenapa aku suka banget sama ini café? Yup, nuansanya…

Baru tadi pagi aku balik dari Jakarta, nemuin Rara. Yup, dia memang waktu itu sedang ‘menenangkan diri’ disana, di rumah kakaknya, dan kepergianku kesana dalam rangka menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, terutama tentang apa yang dilakukan oleh iblisku padanya, setelah aku kehilangan kesadaran selepas peristiwa berkunjungnya Rara ke Nest. Ah, lebih tepatnya dia yang nelepon aku minta ditemui. Untuk yang terakhir kalinya – katanya dengan nada dramatis

Dan pertemuan itu sendiri, berjalan kurang menyenangkan. Setidaknya buatku. Atau mungkin buat dia juga ding. Aku masih menyayangi Rara, itu adalah hal yang belum bisa kulepaskan dariku sampai saat ini. Dan berlatar belakang dari pembicaraan Rara dengan Iblis-ku terakhir kali – yang aku sama sekali tidak tau itu apa, maka tercipta klausa-klausa perjanjian antara kami. Menyetujui sebuah perjanjian hati, tanpa mengetahui latar belakang-nya adalah gegabah, kalau kau tanya pendapatku.

Dan Rara, seorang wanita berhati rapuh dan paling kusayangi, kadang bisa menjelma menjadi makhluk mengerikan yang penuh tipu muslihat, membuatnya menjadi bahkan lebih kompleks. Dan kau tau? Rara mengaku menceritakan semua tentang kami kepada Ine. Termasuk kejadian seksual saat dia mampir di Nest. Dan entah kenapa, itu seperti membuatku hampir frustasi.

Setelah bisa dipastikan kehilangan Vika, lalu kepastian kehilaangan Rara, potensi kehilangan Ine sudah didepan mata, karena secara spesifik juga, dalam perjanjian yang aku sepakati dengan Rara, aku dibuatnya berjanji untuk menjauhi Ine-Jogja, minimal sampai dia lulus kuliah. Absurd, kalau kau tanya pendapatku, tapi begitulah Rara, dan apa yang bisa kulakukan selain menuruti permintaannya?

lalu hidupku sendiri secara keseluruhan juga acakadul – betul-betul membuatku seperti setengah gila

Ya, semua salah si-Iblis. Bangsad satu itu, aku akan membikin perhitungan dengannya, walau saat ini belum kutemukan caranya…

“Ayam tetanggaku mati setelah bengong hampir 30 menit…” Suara dari meja seberang mengagetkanku

“Eh?” jawabku bego

Sosok wanita itu berjalan dengan kalem mendekatiku, lalu dengan cuek menghempaskan dirinya di sofa depanku. Sosok wanita yang anggun, elegan dan cantik, kalau kau tanya pendapatku. Atasan model korea berwarna putih bergaris biru yang dia kenakan berpadu dengan sempurna sama rok span biru polos selutut dengan sedikit aksen bunga di bawah pinggul kanan, dan aksen kancing besar di bagian depannya. Semua dipadu dengan aksesoris anting, gelang dan jam feminim yang serasi. Rambutnya disanggul dengan cantik, bisa kukatakan disini, itu adalah nilai plus-plus yang menambah keanggunannya. Belum menyebutkan kalung emas tipis yang melilit leher putih jenjangnya. Membuatnya hampir sempurna dari semua sisi, kecuali satu sisi…

“Halo tukang berantem, gimana kabarmu?”

“Hi Jo, kabar baik, gimana kabarmu?” jawabku pada lelaki itu. Yup, hanya itulah sisi yang kumaksud, sosok wanita nan anggun itu adalah lelaki

“Lumayan” jawabnya singkat

“Darimana mau kemana?”

“Dari kampus, suntuk niatnya mo nonton, malah liat kamu. Bengong…”

“Masih inget aja kamu sama aku, jo…” desisku kecut

“Yah, aku tau mungkin aku gak berarti apa-apa buat kamu, tapi sebaliknya, kamu adalah satu dari sedikit banget orang yang pernah belain aku… jadi… ya aku selalu keinget… kamu gak keberatan kan aku inget?” tanyanya absurd

“Sebaliknya, aku merasa… seneng banget…” jawabku sambil tersenyum, dan aku jujur soal ini

“Mau cerita?” tembaknya langsung

“Maksudnya?”

“Seseorang yang dateng ke tempat favorit, memesan makanan favorit, by the way, aku suka ama Exelsso sandwich juga, dan kopi favorit juga, trus ngebiarin semuanya menjadi dingin karena ditinggal bengong… Hmm… mungkin kamu butuh bantuan… masalah hati?” jawabnya nyablak, sambil mencomot sandwich ku dan memakannya dengan cuek. Dan tindakan kecil itu bener-bener mencairkan suasana. Jadi kayak relax gitu, semacem ketemu temen lama

“Darimana kamu tau kalau semua-semua ini adalah favoritku?” tanyaku songong gak nyambung

“For God sake! Aku udah hampir setengah jam di sebelahmu, liatin mbaknya excelsso ngeladenin kamu seperti istri sendiri. Kamu pelanggan lama, rutin kesini kan? Dan tebakanku bener kan?” lalu dia mencomot sandwich kedua

“For God Sake! Kalau sampe kamu abisin semua Sandwich Favoritku ini, maka aku akan kelaperan! Hehehe…” balesku becanda sambil ikutan nyomot sandwich sialan yang udah mulai dingin ini – Jo ikutan ketawa geli, untuk ukuran cowok, Jo ini manis banget. Serius, gak ada bagian cowok yang tersisa. Manis, putih, bersih, unyu, kayak artis K-Pop beneran. Yang kelihatan dari luar sih. Tapi dalemnya… ah…

“So?” katanya lagi disela-sela upaya nelen sandwich

“So?” aku membeo

“Mau cerita?”

“Cerita? Yah, kenapa enggak? Cerita sama temen adalah exactly what I need right now…”

“Tapi gak sekarang, aku mo nonton film, lagi males mikir” sergahnya

“Heh?” aku bengong

“Mau ikutan?” tanyanya pendek

“Apa?”

“Serah kalau gak mau” katanya pendek sambil Nampak tergesa-gesa berdiri dan merogoh kantong kemejanya, mengeluarkan kartu nama dan mengulurkannya kepadaku – “Meet me in this address, I’m open week days up to 4 o’clock. Do make appointment, by the way. Ok? See you soon than. Got to run, belom beli tiket, waktuku abis ngeliatin elo bengong tadi… hehehe… see you…” dan Jo ngeloyor pergi

Geovanny Kim, S.Psi

Psikolog Klinis

Ph. 08112556969

She’s a psycolog? Desisku kaget…

Mungkin, konsultasi dengan psikolog adalah yang kubutuhkan saat ini…

“Kenapa kursinya di pojok belakang gini ya?” tanyaku songong

“Kursi favoritku, dari sini aku bisa ngeliatin semua orang…”

“Mau nonton film atau mo liatin orang yang nonton film sih?” yup, akhirnya aku nyusul Jo juga ngantri tiket, ikutan nonton Casino Royale

“It’s a habit, what can I say…”

“Yah, whatever makes you comfortable…” jawabku lagi

Jo malah memandangiku lekat-lekat “Been a long time, I didn’t watch a movie with a man” desisnya gak nyambung

“Yeah, been a while I didn’t watch a movie with a girl too…” jawabku

“Yeah, but you know, I’m not…” jawabnya sambil mengangkat bahu

“Oh, you are…”

“What?” tanya-nya kaget

“Took me a little bit longer to realize, but you are a woman at many sides. And you are definitely a woman in the inside… as for me, took much time to realize that I’m actually not as good as I thought I am… I have a devil inside…” jawabku Panjang

“Care for a hug?” tawarnya

Aku mendekatkan badan lunglaiku, Jo dengan tenang menarik leherku dan memelukku dengan sayang. Seperti nyamannya pelukan seorang kakak, kalau kau mau aku mendeskripsikan rasa ini secara detail

“Every problem has it solution, we’ll figure it out… my friend…” desisnya lirih, tepat sebelum filmnya dimulai

Aku menuliskan namaku diatas secarik kertas yang dia sodorkan kepadaku. Ini hanyalah sebuah rutinitas. Yep, setelah konsultasiku yang ke dua dengan Jo, dan aku kurang lebih sudah menceritakan latar belakang masalahku, dia mengajakku untuk melakukan sebuah permainan.

Peraturannya: Aku harus secepatnya datang ke tempat praktik dia setelah dapat SMS pemberitahuan. Tidak boleh menunda. Dan waktu pengiriman SMS itu acak. Bisa besok hari setelah sesi konsultasi hari itu, atau bisa dua-tiga hari atau seminggu kemudian. Setelah datang, seperti biasa, sebelum sesi konsultasi – lebih ke ngobrol-ngobrol curhat sih, nyaman banget tau gak ngobrol sama seorang psikolog itu – dia memintaku untuk menuliskan namaku di atas secarik kertas dan tanggal hari itu, beserta tanda tangan. Lalu dia akan mengambil foto ku yang memegang kertas tadi di dada dengan kamera polaroid-nya, dan menyimpannya sebagai arsip.

“Sudah berapa kali kamu ke sini de?” Tanya nya kalem

“Lima sampai enam kali?” Jawabku kurang yakin

Geovanny tersenyum kembali

“Cuman lima sampai enam kali ya?” Tanya-nya lagi, masih dengan senyuman manisnya yang kalem “Kapan pertama kali ke sini?” Tanyanya lagi

“Nah kalau itu aku inget! 19 April, berarti satu setengah bulanan lalu ya?” Jawabku yakin

Geovanny tersenyum lagi

“Lima belas kali” katanya pendek, sambil mengeluarkan arsip foto polaroid-nya. Menyorongkannya kepadaku dengan dorongan lembut.

Aku menerima foto-foto itu dengan gemetar. Entah kenapa juga aku harus gemetar. Didalam foto tersebut, ada aku. Tentu saja itu kan fotoku. Semuanya fotoku. Memegang kertas yang tertulis namaku dan tanggal saat itu. Dua jenis tulisan yang berbeda. Dan tentu saja, beberapa foto, lima lebih tepatnya, aku ingat betul sesi itu. Selebihnya…

“Oh? Jadi kamu udah ketemu dengan…” Desisku lirih. Ya, aku memang sedikit lega, ternyata aku tidak gila atau hanya mengkhayalkan semua ini.

Bisa memikirkan cara seperti ini…

Jo ini, cerdas sekali…

Dia tersenyum lagi

“Keadaan yang kamu alami, banyak sekali sebutannya. Split personality, Sybil Syndrome, DID – Dissociative Identity Disorder, dan lain-lain” Jo mencoba menjelaskan dengan sederhana

“Tanda- tanda yang kamu tunjukkan, seperti Depersonalisasi – kamu seperti melihat dirimu sendiri melalui sebuah layar, Distorsi waktu – kadang kamu tidak bisa membedakan lama dan sebentar, lalu tiba-tiba tersadar di suatu tempat yang kamu tidak ingat proses perjalanan ke tempat itu, fluktuasi kemampuan dan lain-lain memperkuat diagnosa ku” lanjutnya

“Semua rekomendasi penanganan hal seperti ini dalam dunia psikologi masih dalam tahap eksperimen dan asumsi-asumsi. Tetapi dalam kasusmu, sedikit unik. Dirimu yang lain, memang memiliki sifat yang lain dari kamu, namun secara keseluruhan hampir mirip. Biasanya split personality merefleksikan kepribadian yang sama sekali berbeda. Sama sekali terpisah. Berupa refleksi traumatis masa lalu atau apapun. Saling terisolasi antara kepribadian satu dengan yang lain. Tetapi, dirimu yang lain, mengaku sering berkomunikasi denganmu dan pernah sadar dalam waktu bersamaan, betul?” terangnya lagi

“Iya…” Desisku pendek, sambil mencoba mencerna penjelasan Geovanny

Geovanny kembali tersenyum. Manis

Aku menelan ludah, bayangan waktu-waktu yang kulewatkan dengannya berkelebat sekilas. Ingatan ketika ketidak-berdayaanku dalam mengendalikan tubuh ini terpaksa membuatku harus menyaksikan dengan lemah saat keputusan-keputusan yang diambil si-Iblis kupikir benar-benar menghancurkan hidupku

“Kupikir, dia tidak seburuk yang selalu kamu deskripsikan deh De, kalau… Kamu bersedia kuminta untuk berdamai dengannya, mungkin kalian bisa membicarakan ini dengan baik-baik” lanjut Geovanny masih dengan senyum manisnya

Aku mengerutkan dahi, berdamai? Setelah semua ini? Entahlah!

Entahlah, bahkan untuk sekedar menerima kenyataan akan kehadirannya pun, aku belum bisa. Apalagi untuk berdamai maupun memaafkannya.

Entahlah

“Kamu kok belain dia sih jo?” Malah kalimat itu yang muncul dari mulut ku

Geovanny melirikku tajam, walau masih dengan senyuman

“You know that I’m not” jawabnya pendek

“Maaf… Aku…”

Geovanny mencondongkan tubuhnya ke arahku, lalu dengan lembut berkata “Kamu… Harus mulai memahami, bahwa dunia ini tidak bisa kamu kendalikan, bahwa dunia ini tidak bisa di kendalikan oleh manusia manapun. Bahwa dunia ini, berjalan dengan caranya sendiri. Apabila ada sesuatu yang menurutmu kurang pas atau sebaiknya tidak terjadi, itu bukan salahmu, bukan juga salah siapapun. Tugas kita hanyalah untuk menerima dan menjalani hidup ini sebaik mungkin…”

“Kamu orang baik De, jangan rusak itu dengan kebencian yang sama sekali tidak perlu…” Tegasnya

Aku menelan ludah lagi

“Dan kalau kamu sudah bisa menarik nafas, menenangkan diri, serta mengatur pikiranmu. Aku ada sesuatu untukmu” sambungnya tiba-tiba riang

Aku memandangnya kalem

“Surat cinta” candanya riang sambil mengeluarkan secarik kertas dari map arsipnya

Aku meraih kertas itu dengan canggung dan mulai membaca

“Dear My ‘Beloved’ Self,

Jangan tanyakan kenapa atau bagaimana hal ini bisa terjadi, karena aku juga tidak tau jawabannya

Yang aku tau, ada suatu masa dimana sebuah kesadaran menyentakkanku, mengisiku dengan kehangatan yang tidak pernah aku rasakan. Saat itu, untuk pertama kalinya aku merasa hidup dan dilahirkan

Sesaat aku merasa sendiri, namun tiba-tiba aku bisa melihat dunia, dari sebuah jendela jernih yang menyenangkan. Lalu, aku mulai mendengar. Harapan, pemikiran, sangkaan, dan semua emosi yang tidak bisa aku gambarkan. Dan aku merasa senang sekali. Pertama-kalinya sejak kesadaran itu datang, aku merasa tidak sendiri.

Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa semua yang aku lihat itu adalah aku. Adalah kamu. Adalah kita

Lalu jendela itu memburam, dunia yang menyenangkan tiba-tiba berubah kelabu. Aku sedih. Aku kesakitan. Aku tersiksa. Rumah, tubuh atau apapun kamu menyebutnya, terluka dan selalu terluka. Terbebani, dan reot.

Lalu tiba-tiba sebuah pintu terbuka dan kamu tahu kisah selanjutnya.

Kamu, menyia-nyiakan tubuh dan potensi kita dengan egoisme berbalut naifnya rasa kasihan-mu terhadap dunia. Kamu membiarkan rumah kita terkoyak. Kamu mulai melukai diri sendiri. Dan selalu dengan sengaja membiarkannya terluka

Aku semakin sedih, dan aku tidak bisa tinggal diam. Aku marah kepadamu. Aku marah kepada dunia. Dan aku berfikir kalau aku harus melakukan apapun yang harus aku lakukan untuk menyudahi hal ini

Lalu, aku merasa bodoh. Dengan kemarahanku, aku bahkan semakin melukai hal yang semestinya harus kujaga. Kamu, kita

Terlebih lagi, akhir-akhir ini, kamu selalu menghindariku

Kita harus bertemu untuk memutuskan akhir dari ini semua, untuk menyelamatkan rumah kita, tubuh kita, diri kita

Aku atau kamu

Live and let die

Aku, Kamu, Kita

Ps. Temui aku ditempat kita bisa bertemu. Aku percaya kamu sudah menemukan tempat itu” aku membaca surat itu, kata demi kata

Geovanny menungguku dengan sabar sambil tetap mempertahankan senyum manisnya

“This is it…” Katanya

Aku kembali menelan ludah. Sebagian kata-katanya benar. Namun, sebagian lagi membuatku semakin terluka. It’s my life! Who the fuck are you judging me?

Who the hell are you wanting my life?

Tetapi perasaan ini, lebih banyak sedihnya daripada marahnya…

“Terimakasih banyak Jo, mungkin ini kali terakhir aku menemuimu…” kataku getir

“Kamu sudah menemukan jawabannya?”

“Ooo ya… Aku tidak yakin itu yang terbaik buatku, namun aku yakin itu yang terbaik…”

“Temui aku lagi kalau begitu, setelah menurutmu sudah berakhir. Aku yakin, semua akan berakhir dengan baik” jawabnya ngademin

“Kuharap begitu…” Desisku lemah

“Ayolah, semangat dong… Lagian, tagihanku ini nanti harus kamu bayar kan? Hehehe…”

Aku tersenyum

Dan bersiap meninggalkan ruang praktek psikolog cantik ini

Semoga, kita bisa bertemu kembali

Walau aku kurang yakin…

.

.

.

.

— End of Live and Let Die —

Bersambung

END – My Magic Part 16 | My Magic Part 16 – END

(My Magic Part 15)Sebelumnya | Selanjutnya(My Magic Part 17)