My Magic Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22 END

My Magic Part 15

Start My Magic Part 15 | My Magic Part 15 Start

Love Hurt​

Huft, panasnya hari ini membuatku semakin malas untuk beraktifitas. Rentetan kejadian yang kacau-balau kemarin, membuatku betul-betul kehilangan minat untuk melanjutkan apapun. Kukira Iblis-ku sama aja, saat ini dia hanya duduk ogah-ogahan di depan komputerku sambil membaca novel Digital Fortress-nyaDan Brown yang sumpah, jalan ceritanya sama sekali kurang aku pahami. Rentetan huruf demi huruf itu hanya sekedar kubaca sebagai pengisi kekosongan otak yang semakin lama semakin parah.

Sang iblis pun sepertinya tak kalah enggan untuk menggerakkan badanku yang notabene saat ini sedang dalam kekuasaan dia untuk di gunakan. Botol Aqua yang isinya tinggal seperempat itu aku sahut dengan tangan kiri lalu dengan cuek aku tenggak seluruh isinya.

“Lho?!! Kok… aku bisa menggerakkan badanku lagi?” pikirku, mungkinkah si-iblis akan menghilang lagi seperti beberapa waktu kemarin, sampai dia kembali dan merusak lagi hubunganku dengan Rara?

“Haus, males gerak” jawabnya yang menggunakan mulut dan suaraku malah bikin aku kaget sendiri

“Sialan loe, bikin kaget aja!” bentakku dongkol

“Pa-an?”

“Lu kalo mo ngomong kasi tau dulu, kaget tauk!” jawabku asal kesel

“Hmm…”

“Trus gimana kelanjutan kejadian yang kemaren?”

“Yang mana?”

“Si Boss Djoko atau siapapun kemaren”

“Ow, ya gitu deh, lagian dah selesai kok urusannya…” jawabnya sekenanya

“Dia beneran mukulin tante Cristin?”

“Iya” Jawabnya pendek

“Urusan Apa? Dia siapa sih sebenernya?”

“Mau tau?”

“Enggak…” jawabku standar, aku memang males mengetahui urusan yang serem-serem gitu

“Silat Harimau… kok kamu bisa menguasainya?” tanyaku lagi

Tak ada jawaban

Aku mendengus. Lama kami membisu, aku yakin dia juga sama enggannya denganku untuk bicara. Tanganku bergerak untuk meraih mouse dan menggeser text yang sudah selesai kubaca sampai mentok bagian bawah layar.

“Hey…” pangilku lagi

“Hmm” jawabnya singkat

Lalu aku terdiam kembali, gamang sendiri dengan pertanyaan yang rencananya akan ku-utarakan.

“Ya pastinya apa yang ku-lakukan dan putuskan sejauh ini, tidak semua sesuai dengan keinginanmu. Aku tentu-saja memiliki pertimbangan sendiri, tapi semua yang kuputuskan dan kulakukan sejauh ini bukan ngawur tanpa pertimbangan, kalau-kalau kamu khawatir tentang itu. Aku pastinya gak ingin hidupku sendiri kacau kan?”

“Eh?” penjelasan nyerocos si-Iblis mengagetkanku. Iya juga, dia kan bisa membaca pikiranku, jadi mungkin dia menjawab pertanyaan yang ku pikirkan, walaupun tidak aku utarakan. Tetapi aku tetap diam.

“Hidupmu…” dia tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Mungkin dia ingin membuat sebuah statement yang pastinya juga tidak-akan kupedulikan.

Aku masih membisu

Lalu kuraih kembali mouse untuk mengeser text yang lagi-lagi sudah kubaca sampai dasar layar. Tapi alih-alih melanjutkan membaca, aku malah menundukkan kepala jauh-jauh ke bawah sampai menyentuh permukaan meja, lalu kusandarkan dengan enggan disana, tiba-tiba kepala ini terasa sangat berat. Sebuah sensasi yang familier.

Sensasi yang sebelumnya juga kualami saat…

Si-iblis pergi…

Mandi air hangat pastinya akan menyenangkan. Sedikit mengurangi sakit kepala, penat atau apapun yang sedang kurasakan ini. Lalu akupun beranjak ke kamar-mandi. Tak butuh waktu lama, akupun sudah berdiri mematung dibawah shower, dengan kepala kusenderkan ke dinding. Masih dengan pikiran kosong.

“Hoooaaffttt…” Aku menggeliat diranjang. Sudah agak lama aku tidak merasakan damainya tidur diatasnya. Kali ini aku benar-benar menikmatinya. Terbayang juga kenangan dengan Ine di ranjang ini. Kemana pula tu anak? My Gennie in the bottle. Si-hamil tanpa ayah yang mungkin sekarang perutnya udah semakin membuncit… kira-kira usia kandungannya udah6-7 bulanan? Gak kebayang kalau bisa ngento… Ahsudahlah!!! Bikin gila aja semua kejadian absurd ini…

Dengan malas, aku turun dari ranjang menuju ruang TV sambil garuk-garuk kepala. Yah, sebenernya Dual-Garuk sih, tangan kiri garuk pantat, tangan kanan garuk kepala, lalu di swing, gantian tangan kanan garuk pantat dan tangan kiri… Alaaahhh, masak harus kujelaskan sampai detail sih? Hal semacam ini adalah hal tabu-tabu-enak-mengenin, seperti halnya saling tukar pasangan sex – Swing sex. Halah!!

Tidak ada tanda-tanda si-Iblis, mungkin dia beneran menghilang seperti dalam pereode aku dijogja dan bangun kebingungan di kamar Ine temen Rara. Lalu bisa tiba-tiba muncul lagi dan mengacak-acak hidupku lagi. Aku menarik nafas panjang, sekilas kulirik jam dinding yang menempel di-dinding. Ya iyalah, Namanya juga jam dinding, lo arepin dia nempel di mana?

OK aku jelaskan lebih detail: Didinding, sebelah dua ekor cicak yang sedang pandang-pandangan, entah mau kelahi atau lagi negoisasi tawar-menawar DC buat BO. Yang pasti dua cicak lakhnat itu langsung kabur nyari tempat sepi dibelakang jam dindingku. Check-in, itu tebakan terbaik-ku.

03.07 – atau sekitar itu. Dini hari…

Setelah menyambar air putih dan meminumnya dengan cepat, aku bergegas ke arah Dojo pribadiku. Ada sesuatu yang mesti aku lakukan disana. Sesuatu untuk si-Iblis…

Special pake telor!!!

Dan tanpa menunggu lama, aku sudah disana, melepas baju, menarik nafas panjang, mengumpulkan konsentrasi, memfokuskan energy, menajamkan indera, lalu bergerak…

“HOSH!” hembusan nafas disertai teriakan atau dalam Karate disebut juga dengan ‘Kiai’ itu mengakhiri latihanku. Kubiarkan tubuhku yang penuh keringat jatuh ke lantai bermatras, sejenak aku berbaring disana sambil tersenggal-senggal.

Satu hal yang kurasakan jauh berbeda, tubuhku terasa sangat ringan, gerakanku mempunyai kecepatan yang belum pernah bisa kucapai selama ini. Kekuatan serangan serta pertahananku juga meningkat drastis. Dan kuda-kuda ku, seakan-akan bisa menemukan pusat gravitasi dengan mudah. Aku tersenyum sendiri kalau inget cerita dibalik kuda-kuda dan gravitasi ini(1)

Kurasa, latihan demi latihan yang kemarin dilakukan secara gila-gilaan oleh iblis-ku menggunakan tubuh ini ada gunanya juga. Tapi level yang berhasil dia capai memang sedikit mengkhawatirkan. Betulkah dia sudah setingkat Master?

Kalau iya, mustahil bagi-ku dengan cara apapun mengalahkannya dalam sebuah pertarungan…

Ah, whatever!

I’m gonna fight him, no matter what…

“Arrgh…” Kupaksakan untuk menarik tubuhku bangun, aku butuh minum, haus banget…

Udah jam berapa sekarang? Aku memang sengaja tidak memasang jam di Dojo. Bukan biar lupa waktu saat latihan atau hal-hal aneh semacam itu, lebih ke: Biar Dojo keliatan Angker, Sangar dan Keren!!

Dan aku sering dongkol sendiri karenanya. Ngeribetin banget kalau mau liat waktu!

Melewati ruang tengah, sekilas kulirik jam dindingku, kali ini tu cicak-cicak ngaco udah gak ada di sana, tauk pada kemana, gak ngabarin ini…

09.47 – atau sekitar itu. Hei, ini jam dinding brad, lo mau gw ngitungin garis-garis kecil diantara angka jam buat ngasih tau elo waktu secara persis? Wani piro?

Ahh, berarti sudah lebih dari enam jam aku bergerak marathon dalam jurus-jurus acak antara Karate Shotokan dan Pencaksilat Tedjokusuman-ku. Dan staminaku masih mengcovernya? Ini tentu berbeda dalam pertandingan atau duel, karena dalam duel, saat terkena pukulan masuk, stamina pasti nge-drop dengan drastis. Atau bisa jadi drop karena tekanan hawa bertarung lawan, tetapi enam jam?

Kemajuan yang sangat signifikan. Sebelumnya, aku bahkan tidak bisa bertahan lebih dari 45 menit marathon jurus. Selain karena capek, lebih karena malas. Lagian, aku juga ga pernah sengaja pengen berkelahi, cari masalah atau apa gitu yang serem-serem.Dan bela-diriku juga sudah kuanggap sangat cukup untuk sekedar membela-diri, atau untuk kesehatan, atau yang paling penting: Cukup buat modal nyelinap kabur kalau ada masalah.

Aku gak pernah pengen menjadi ‘yang terkuat’ atau sekedar menjadi sangat kuat. Aku bahkan males menjadi juara. Jadi juara itu ribet, terlalu banyak mata yang melototin hidup kita, banyak mulut yang sok ngatur-ngatur hidup kita. Aku selalu ingin menjadi Anonymous. Jadi, gak ada alasan sebelumnya untuk memaksa diri. Terlebih setelah eyang-eyangku tersayang pada Gone With The Wind of Change on Stairway to Heaven…Hiks…

Gak ada yang maksa-maksa aku buat latihan, hehehe…

RIP Eyang…

Dasar aku emang pemalas!

Ngapunten nggih Eyang…

Tapi satu hal yang pasti: Aku juga Sangat Benci Kekalahan!!

“Kak dede… kak dede… kaaakkk…..” telinga-ku yang sensitive, terutama kalau di jilatin, eh? Bukan sensitive seperti itu maksudnya! mendengar erangan pendek yang seram menakutkan…

Seketika bulu kudukku merinding. Aku jelalatan mencari asal suara itu. Suara yang menyeramkan. Pintu depan! Itu tebakan terbaikku. Sial, masa siang-siang ada hantu? Pagi menjelang siang, lebih tepatnya! Mungkinkah hantu masih pada keluyuran jam segini? Hantu mo berangkat dugem kali… Kan siang di kita, malem di mereka? Kali-kali aja sih…

Dengan panik gelas yang isinya baru separuh ku minum itu aku letakkan sambil gemetaran. Lalu segera mencari Salib atau apapun yang biasa dipakai buat penangkal hantu seperti di film-film.

Shit! Baru inget!! Aku gak punya Salib!! Aku kan bukan Nasrani…

Aku Hindu dari Eyang-Bunda, dan Moslem dari Eyang-Ayah. Dan sayangnya aku juga bukan anak yang paling taat beragama… Jangankan Ayat Qursi atau Mahamantra Mrtyunjaya, yang konon katanya paling ampuh buat ngusir dedemit, do’a mau makan aja kadang aku belibet… Sial!!

Atau pakai Bawang putih? Menurut film manjur buat Vampire, ga tau kalau buat Memedi Semarangan, tapi aku jarang masak! Mungkin ada di dapur pas aku terakhir belanja karena pengen masak, tapi pasti semua sudah kisut. Udah lebih dari sebulan lalu sih… Lagian Bawang Putih kisut apa manjur buat penangkal Kuntilanak? Ya kalau Sist Kunti, kalau Neng Suster Ngesot? Eyang Wewe Gombel? Serem!!

Ah!!

Plan-B!!

Ngapain musti di adepin, lari aja!!

Baru ntar balik lagi bawa temen. Preman yang gagah perkasa dan gak takut apapun mungkin? Bang Diaz ada di urutan pertama dalam daftar singkatku soal ini. Atau sama Pak Uztad? Atau Dukun? Atau siapapun? Yang penting lari dulu! Aku cukup percaya diri dengan kecepatanku. Dijamin, kalau cuman Neng Suster ngesot mah, pake NOS juga bakalan megap-megap kalau nekat ngejar-ngejar… tapi gak tau kalau Sist Kunti… kan doi bisa terbang? Anjir, mikir apa sih aku??

Dengan berjingkat aku mendekati pintu depan. Pelan pelan kubuka…

“Kaakh deee deeee….. hik… hik… hik…” kali ini disertai tangisan, membuat suara itu semakin seram. Kubuka pintu sepelan mungkin…

KRIETTT…!!

Diamput!! Pintu sialan! Kenapa juga elo musti berderit? Protesku dalam hati!

“Kaaakkhh deeee deee….”

Dan pintu terbuka….

Dan tidak ada siapa-siapa di sana…

Tapi sesaat aku menunduk, terlihat disana…

Muka kusut dengan mata merah nanar menatapku seram…

“WAAA…. SETAAA….. Dea!?! Shit! Lo bikin aku jantungan aja!!” ngejongkok disana, Dea, tetangga ku satu RT di nest yang pernah kita eksekusi dengan komentator si Kembar.

“Kak dede…hik…hik…hik…” Dea malah mewek

“Eh, Dea kenapa? Ayo masuk! Gila loe ‘A!” katau ketus sambil memapah dia masuk

Aku keluar ke ruang TV lagi setelah mandi, Dea yang tadi kuduga, dan memang, sedang mabok berat masih mendengkur di sofa. Menekuk kaki, dan membiarkan paha serta pantat remajanya terekspose kemana-mana. Secara dia, lagi-lagi memakai rok “kodok” super pendek yang seksi, dipadu dengan tanktop hitam yang membuat tubuh padet semi chubby nya terdisplay dengan maksimal. Ah, kau tau lah maksudku…

“Ah, ada masalah apa pula dengan kehidupan remaja labil yang satu ini, dikit-dikit mabok… Apa gak kasihan dengan masa depannya sendiri?” Aku garuk-garuk kepala sambil mendengus dengan prihatin. Lalu kembali ke kamar untuk mengambil selimut dan menyelimutinya.

“Arrghhh…” aku menggeliat dengan enggan di depan PC ku. Iseng tadi online, ngecek blog marketingku. Ternyata kurang menghasilkan, dan saat buka BCA internet banking-ku pun pergerakan ekonomiku juga sangat memprihatinkan. Nyaris tanpa pemasukan, hanya beberapa transfer masuk secara random, yang kuyakin dari tante Cristine. Aku tidak pernah minta uang sama beliau, tapi kadang tante imut-ku itu iseng transferin. Walau saldonya masih lumayan, tetapi kalau tidak segera ada pergerakan yang menghasilkan, jadinya pasti negative…

Kulirik pojok kanan bawah PC, jam 18.55.

Padahal seharusnya aku mempunyai janjian makan malam dengan Ani, terpaksa ku batalkan karena ada wewe gombel mabokyang terdampar diteras rumah, yang sampai jam segini masih melingkar di sofa. Padahal udah sempet tak tinggal keluar nyari maem. Apa harus di banguni….

“…iiiinnn yyaaaaa…. Deaaa! Shit! Hampir aja jantungku berhenti!!” sumpah kaget setengah mati, apakah gambar asli atau Cuma halusinasi… Ah… Dea tiba-tiba sudah berdiri disampingku dengan masih sedikit limbung dan rambut yang acak-acakan

“Udah bangun lu?” nyolotku

“Kak dede…” Dea malah nubruk aku sambil nangis. Jadi deh, kepaksa mangku wewe gombel setengah mabok yang lagi mewek.

Mana pangkunya berhadapan lagi.

Mana dianya ngangkang lagi.

Mana Susunya yang bergerak-gerak seiring senggalan nafas tangisannya nempel erat di dada ku lagi.

Mana memeknya yang cuman terbalut celana dalam tipis nempel ke kontol-ku yang cuman ber-boxer-ria lagi…

Mana…

Ingusnya ku rasakan meleleh-leleh di leherku lagi…

Ahhh…

Kupeluk Dea sambil ku tepuk-tepuk punggungnya, menenangkan seperti layaknya seorang kakak yang baik. Terlepas dia pernah ng-ewe secara tak bermatabat dengan si Iblis, Dea kuanggap masih kanak-kanak dan masih hijau dalam kelam dan licinnya kancah dunia perlendiran eh, persilatan. Healah!

“Minum teh-nya, trus coba makan dikit!” perintahku pendek. Setelah tadi gak tau berapa lama dia mewek dengan posisi ‘miris’ di pangkuanku. Sekarang sudah bisa kugusur ke meja makan. Kusiapkan teh-tawar-hangat sama seporsi Nasi-Ayam. Ada juga Bubur-kacang-ijo hangat sebagai menu pilihan. Ah, kak dede ini emang baik…

“Makasih kak, kak dede memang baik…” desis Dea pelan. Nah, apa kubilang! Baik kan?

“Ya, mungkin kakak belum bisa ngasih solusi atas masalahmu, tapi setidaknya kakak bisa menjaga agar Dea gak sakit. Mbok ya mabuk-nya dikurangin…” tuturku prihatin

Dalam tangisnya, Dea bercerita, katanya barusan semalem di putusin sama pacarnya di Diskotek. Putus di Diskotek? Agak absurd sih, tapi OK, menurut versi Dea seperti itu. Nggak jelas alasan putusnya. Semacem si cowok dah gak cocok lagi atau gimana gitu. Egois sih, cowok kadang emang begitu. Menurutku paling dah ada cem-ceman baru. Padahal menurut Dea, dia sudah melakukan apapun demi si pacar. Termasuk men-tato dada-nya dengan nama tu cowo dan menggugurkan kandungan. Hadeh… miris gak sih?

Dea tuh baru 21 tahun lho!

Mahasiswi lho!

Jadi gatel pengen ketemu tu cowok, mungkin sedikit permak penampilan akan membuatnya lebih berhati-hati kalau mau semena-mena terhadap cewek…

“Eh, Dea, liat tattoo kamu dong, siapa nama cowoknya?”

“Halah kaka dede, ngomong aja kalau mau liat susu Dea…” Jawabnya ganjen

“Hizz!! Boleh ga?”

“Boleh lah, masa kak dede mau liat susu Dea gak boleh sih? Liat memek aja boleh… hihihi…”

“Anjir… Tattoo hoi!! Tatto… bukan…susu…”

“Nih…” kata Dea sambil memelorotkan tank top nya, memeperlihatkan dada remaja yang putih gembul, yang diatasnya ada tulisan… ‘Rendi’ – dengan huruf miring bersambung yang artistik… lol

“Rendi, pakai i?”

“iya”

“Orangnya tattoo-an juga?”

“Penuh kak, sebadan…”

“Ompong?”

“Enggak sih, tapi kelihatannya memang gigi palsu deh, beberapa…”

“Anak pejabat dari Jakarta?”

“Ih, kok kakak tau sih? Kakak kenal ya?”

Aku tertawa terbahak-bahak. Owalah, ternyata ungkapan dunia itu sempit benar-benar kenyataan! Atau yang nulis skenario hidupku aja yang kurang kreatif?

“Gak kenal juga sih, cuman tau nama aja… mungkin…” jawabku singkat sambil senyum.

Rendi, kalau ini memang Rendi yang sama, gara-gara nggebukin dia tuh, si iblis muncul dalam hidupku. Dan pertama kali si-iblis in-action, yang di-ewe Dea. Ah, padahal dulu pesanku sama si Rendi tuh agar pergi dari Jogja. Udah dia turutin. Eh, ke-Semarang dia. Trus sekarang, dia macarin Dea. Nyuruh Dea Men-tatoo tubuhnya, dihamilin, suruh gugurin kandungan trus diputusin, tanpa bertanggung jawab. Kalau ini memang Rendi yang sama lho ya…

Ah…

Dunia…

Apa kejadian Dea ini karena salahku yang ngusir si-Rendi dari Jogja atau memang tu anak dasar Bajingan pengecut? Satu hal yang pasti, kalau sampai nanti ketemu tu anak, bakalan ada humor lagi yang cukup menghibur…

Aku cuman geleng-gelang kepala…

“Dimana dia suka tongkrong?” tanyaku lagi ke Dea

“Mau apa kak? Gak usah lah cari gara-gara sama dia, temennya preman semua kak…”

“Enggak, gak mau cari gara-gara kok…”

“Enggak ah kak, Dea gak mau kakak kenapa-kenapa. Dea udah gak papa kok, beneran kak…” jawab Dea sok tegar. Sok protektif

“Yawis… Dea makan aja, trus balik kost. Mandi, trus istirahat, OK?”

“Ya kak…” Nah, demen nih ama cewek nurutan kayak gini…

Perasaan, semua cewe yang pernah deket sama aku, gak ada yang nurutan deh. Terutama Rara tuh, ngeyel-nya minta ampyun…

Lalu ine… huft…

Kenapa tiba-tiba jadi keinget Ine ya? Padahal sesaat kemarin, aku sempet berjanji kepada diriku sendiri buat ngelupain dia, demi agar tidak lebih menyakiti Rara. Tapi, kenapa rasanya kok malah aku yang sakit banget ya? Dan Ine… Semakin aku berusaha mengusirnya dari kepalaku, semakin kenceng keinget…

Satu hal yang pasti, aku merasa nyaman di-dekat dia.

Dengan Rara misalnya, aku nyaman sih, tapi diiringi dengan ketakutan. Dari takut kehilangan, sampai ketakutan akan keberadaan Rara itu sendiri, sampai takut kalau-kalau tidak bisa ngejagain dia. She’s the most special, yes. Tapi bikin paranoid…

Dengan Vika, aku juga nyaman, tapi kayak ada sesuatu yang tidak terungkapkan, sebuah rahasiatak terucap yang– dengan jengkel — harus kuakui; mengganjal!

Atau dengan Ine, my genie in the bottle, jelas aku nyaman, tapi… ah, kau tau sendiri kan ceritanya?

Tapi dengan Ine-Jogja, nyaman-ku, ya cuman nyaman aja, tanpa tapi…

Kalau aku boleh egois, dialah pilihan yang paling rasional saat ini. Ah, pilihan… memang siapa aku sampai merasa berhak memilih? Berkaca lah Dede…

Berkaca!!

“Huft…” desisku lirih

“Kakak juga lagi banyak masalah ya?” pertanyaan Dea mengagetkan-ku

“Dikit…” Desisku lirih, masih sambil setengah ngalamun

“Yawdah, Dea pulang dulu ya kak, mandi, trus bobo, seperti yang kakak suruh…” Lanjutnya. Tuh kan bener, nurutan beneran ni anak…

“Iya… Dea be Strong ya… Dea gak sendiri, ada kakak disini… dan jangan mabok lagi!” dan saat berpamitan, aku sepontan mencium keningnya. Membuat Dea tiba-tiba tersipu malu-malu. Macam anak SMP baru kenal pacaran aja…

<<BLIP>>

New Message:

Ani Si Anak Hilang

—-

“Kkgpp kn? Ani khwtir…”

Option | Back

================================

Reply:

“Enggak, Kk gpp kok… dah Ani istirahat dulu aj,

bsok ada kul kan?”

Send | Save

================================

<<BLIP>>

New Message:

Ani Si Anak Hilang

—-

“Ani bolh dengr suara kk?”

Option | Back

================================​

Haizzz…

Ani… Ani…

Dan tak berselang lama, kami sudah terlibat dalam pembicaraan telepon…

Walaupun sudah sampai didepan gerbang rumah, aku masih termangu di belakang kemudi, mengingat kembali ‘kencan’ ku dengan Ani barusan.

Ya, setelah beberapa hari lalu sempet harus batal janjian ma’em malem bareng dengan Ani karena ngurusin Dea yang tiba-tiba terdampar di teras rumah dalam keadaan mabok berat, akhirnya malam ini bisa juga. Jam di dashboard juga sudah menunjukkan waktu yang cukup larut. Pukul 22.42, kami memang hanya maem aja, sambil ngobrol ngalor ngidul

Ah, gak juga ding…

Ada satu hal yang sempat terjadi tadi. Secara serampangan, dan loose control yang sangat memalukan, aku tiba-tiba mengakui kalau aku pengen deket sama Ani. Jelas, ini bukan gue-banget, aku sendiri juga gak abis pikir kenapa kalimat seperti itu bisa keluar dari mulutku yang biasanya bisa kujaga dengan sangat hati-hati

“An, boleh aku mengakui sesuatu sama Ani?” begitu seingatku tadi aku membuka percakapan

Dan Ani hanya menatapku dengan matanya yang bening dan tajam seperti biasanya, dengan raut muka yang seperti mengatakan: Aku tau kok!

Tapi menunggu lawan bicara untuk menyatakannya dalam bentuk verbal. Bisa ngebayangin kan?

“An, dari semenjak kita pertama kali ketemu, sampai akhirnya aku sedikit demi sedikit mengenal Ani, dengan kejadian-kejadian, dari yang biasa sampai yang paling memalukan…”

Ani tersenyum singkat

“Hehehe…” aku ikutan ketawa, mengingat kita membagi memory yang sama. Apalagi kalau bukan kejadian gila di Bandungan kala itu. Kalau lo mau lebih tau soal ini, bca dunk Reflection eps Bandungan, lo bisa donwnload PDF nya di Page one, ada link nya di sana, tapi ya seterah ding! Gak maksa ini…

Ani kembali tersenyum, kali ini kelihatan manis banget

Aku garuk-garuk kepala dan melanjutkan omonganku, fakta bahwa Ani tidak berusaha menyela apapun yang ingin kukatakan hanya membuatku semakin bulat untuk menyatakan apa yang ingin kukatakan saat itu…

“Aku… mengagumi Ani, aku mengagumi prinsip-prinsip Ani, cara berfikir Ani, Kedewasaan Ani, Pembawaan Ani, dan bohong kalau aku tidak mengagumi kecantikan Ani… Ani mempunyai mata yang sangat sulit untuk di lupakan… dan senyuman yang…”

Ani hanya semakin lebar tersenyum, tak lupa dengan keberaniannya menatap langsung mataku. Jarang wanita mempunyai insting dan keberanian semacam ini. Biasanya wanita akan memalingkan wajah, menunduk ataupun melakukan hal-hal lain untuk menyembunyikan ekspresi wajah apapun dari lawan bicaranya. Tapi tidak dengan Ani. Dia berani direct-eye-contact. Mengagumkan…

“Ehem… Maksudku, apakah boleh aku memohon, untuk dapat dibukakan pintu hati Ani, agar aku dapat menunjukkan kepada Ani siapa diriku yang sebenarnya, dan aku juga berjanji untuk selalu memperbaiki diri, karena obviously banyak sekali bagian dari diriku yang musti di renovasi, Eh… lalu, mempersembahkan apa yang terbaik dari diriku… hanya untuk Ani?” dan kita masih bertatapan mata

Ani menelan ludah, lalu kembali tersenyum. Dan dengan berani, tangannya maju untuk meraih tanganku yang duduk di seberang meja menghadap kearahnya.

Masih dengan menatap mataku ani menjawab “Kak, jujur, hanya dengan kakak aku berani selalu menatap mata, bukan berani sih, lebiih tepatnya, aku suka banget liatin mata kakak, jadi kayak sayang banget gitu kalau ketemu dan gak selalu ngeliatin mata kakak. Mata kakak lucu, mata kakak adalah mata cowo terlucu yang pernah aku lihat. Dan aku juga sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk selalu tampil apa adanya kepada kakak. Aku juga suka sama kakak, banget! Sampe kadang kebawa mimpi… hihihi… tapi… kayak ada yang mengganjal gitu, aku juga belum tau apa itu, ntar kalau aku dah tau, pasti kakak ku kasih tau deh….”

Aku menelan ludah, kelihatannya aku tau kemana arah orasi Panjang kali Lebar ini akan bermuara

“Kak, boleh gak kalau saat ini, kita tidak berpacaran dulu?” Nah, kata-kata Ani inilah muara yang kumaksud

Dan aku hanya tersenyum, getir…

“Tapi…” katanya lagi

“Tapi apa?” tanyaku singkat

“Tapi… Boleh gak tiap malem sebelum aku tidur aku denger suara kakak? Setiap pagi bangun tidur dapat SMS dari kakak? Kemana-mana sama kakak, kalau jalan gandeng tangan kakak, kalau aku lagi bahagia, maka bahagiaku itu sama kakak, kalau aku lagi sedih, bisa nangis di bahu kakak?”

“Kuanterin beli kucing aja yuk An… kliatanya Ani lebih butuh peliharaan deh dari pada pacar…” jawabku selebor

“Iiiiiihh… tuh kan kakak jahat…” rajuknya

HHAAAAIIIZZZ…

Ingatan yang memalukan! Sok PeDe nembak cewek, malah di minta jadi hewan piaraan… Hadeehh…

Ah, tapi gak juga ding, itung-itung ini pelajaran. Belajar untuk jujur ungkapin perasaan sama orang. Belajar untuk tidak menggantung. Coba aku memiliki keberanian seperti ini dari dulu… Ah…

Whatever!!

Aku turun untuk mebuka pagar buat masukin mobil

“Kak dee…de…” tiba-tiba nggak tau dari mana wajah itu persis ada di depanku dari sisi gerbang rumahku sebelah dalam

“HuuuuAAAA… Bundaaaa… Kaget KagetKagetKagetKagetKaget!!!” hampir aja aku jantungan

“Kakkk…”

“DEA!! Kamu kira-kira dong kalau masuk rumah orang!! Bikin aku hampir koit jantungan! Lagian ngapain sih kamu ke sini malem-malem?”

“Dea cari kakak, kakak ga ada di rumah, trus Dea tunggu-lah disitu. Pas kakak dateng, lama gak turun-turun dari mobil, makanya mau Dea samperin…”

“Iya, trus ngapain malem-malem cari kakak?”

“Mau curhat…”

“Aelah, curhat besok siang aja nape? Pulang aja dulu gih, baru curhatnya besok siang aja, gak enak nih malem-malem dilihatin tetangga…”

Dea malah celingukan “Gak ada yang liat pun…”

“Haduuuhh…”

“Ya kak? Please….” Rajuknya…

“Nih!” kataku sambil menyodorkan secangkir coklat hangat ke Dea, saat kita sudah duduk di meja makanku

“Makasih kak…” jawab Dea pendek sambil menerima minuman hangat itu sambil ribet mbetulin Sweater Cardigan Biru-nya yang kuperhatikan dari tadi melorot melulu dibagian pundak. Didalemnya, kulirik sekilas, Dea memakai Baby Doll berbahan kaos tanpa lengan yang dengan konyol membalut badanya secara ketat karena memiliki ukuran sedikit kekecilan buat tubuh mini-cubby nya. Baru celananya pendek gak kira-kira lagi.

Akupun sudah berganti baju. Sebuah kaos nyantai putih merk Crocodile, dan kolor Panjang hitam gombrong favoritku. Hey, aku jarang lho ya deskripsiin bajuku. Nah, mumpung lagi mood, kutulis aja sekalian merknya… wkwkwk…

“Mo ngomong apa sih?” kataku lagi membuka pembicaraan

“Bingung kak, mo mulai dari mana…” mukanya Dea emang kelihatan bingung beneran

“Yawdah, nyantai aja dulu… tapi kakak seneng lho Dea udah gak dikit-dikit lari ke alkohol lagi…” imbuhku menyemangati, sekalian membesarkan hati cewek kacau ini

“Hehehe, hampir aja tadi Dea mau minum sebenernya, tapi gak jadi, Dea tahan-tahanin, kan gak boleh minum sama kakak, jadi Dea ga jadi minum…”

“Eh? Iya kah?”

Obrolan ringan memang menbuat suasana menjadi cair. Dea sudah mulai curhat. Dari soal Rendy, yang katanya dulunya kuliah di Jogja tapi terpaksa pindah karena ada kasus di sana; Si Rendi sang jagoan itu kelahi, nggebukin orang sampai orang itu hampir mati, katanya. Makanya hari itu juga dia harus ‘ngungsi’ sehingga bokapnya dapat ‘beresin’ kasus itu di Jogja. Aku cuman tertawa sinis… keliatannya ni Rendi yang sama deh… hamya ceritanya bisa dia bikin switch seperti ini, coba dia jadi penulis cerbung, pasti laku!

Trus Dea juga cerita, kalau papa-nya Dea adalah seorang Pejabat juga, tapi ibunya adalah istri simpanan. Nah, istri pertama papa-nya kebetulan dua tahun lalu meninggal dunia, dan papa-nya akhirnya menikahi mama-nya secara resmi. Tetapi, pas mereka pindah ke rumah papa-nya, ternyata disana juga tinggal Orang tua dari papa-nya, oma, yang sangat sinis dan menentang pernikahan itu.

Dea juga punya dua saudara perempuan dari papa-nya. Dan keduanya juga tidak welcome. Sering mereka (Dea sama Mama-nya) disebut sebagai duo mata duitan yang hanya mengincar harta. Itulah kenapa Dea jarang pulang semenjak kuliah dan nge-kost sendiri. Sinetron banget gak sih?

Aku tentunya tidak punya solusi tentang masalah ginian, tetapi itulah gunanya teman curhat. Walau mungkin belum ada solusi, tetapi saat uneg-uneg diutarain, pikiran menjadi lebih lega. Kuharap sih begitu.

Dea juga bilang, dirumah itu mama-nya diperlakukan seperti pembantu. Karena memang Dea dan mamanya bukan berasal dari keluarga mampu, malahan mama-nya dari SMP sudah jadi Yatim-Piatu dan di besarin oleh mbah yang akhirnya juga meninggal dunia tak lama setelah mama-nya tamat SMA.

Dea jengkel dan marah kepada mama-nya karena sebelum mereka tinggal di rumah papa-nya semua baik-baik saja. Mamanya bekerja sebagai penjahit yang lumayan laris di komplek tempat mereka tinggal. Dan Dea juga bisa bantu-bantu kerjaan mama-nya. Semua baik-baik saja, tetapi Dea gak habis pikir kenapa mama-nya mau pindah untuk tinggal dengan papa-nya di rumah yang sekarang hanya untuk dihina setiap kali papa-nya tidak berada di rumah.

Semenjak itulah Dea menjadi anak pembangkang. Hanya untuk menunjukkan aksi protesnya kepada sang Mama. Padahal dulu dia (ngakunya) cukup pintar dan berprestasi.

“Kak, pacaran yuk!”

“Apa?!!” aku gelagepan tiba-tiba di tembak seperti itu, pas lagi nyeruput teh lagi… hampir aja keselek

“Iya, Dea nyaman banget ama kakak… Kakak baik banget, kalau kita pacaran, Dea janji deh akan jadi anak baik, gak akan mabok lagi, kuliah lagi baik-baik, janji deh… “

Hadeehh, kenapa tiba-tiba aku jadi migrain ya? Barusan nembak Ani ditolak, sekarang malah di tembak ama wewe gombel…

“Dea yang cantiikk… harusnya Dea itu janji kayak gituan buat mama Dea, bukan buat orang lain, apalagi pacar… Apa Dea pernah berfikir, mungkin mama-nya Dea melakukan apa yang dia lakukan saat ini juga berat, juga sedih, tapi di tahan-tahanin demi masa depan Dea? Makanya harusnya Dea juga support mama-Dea dengan jadi anak baik…”

“Abis Dea jengkel ama mama”

“Ya, Dea harusnya ajak mama dong, omongin ini dari hati ke hati… coba deh…”

“Jadi kakak gak mau jadi pacar Dea?”

“Enggak kalau alasannya kayak gini. Tapi Kakak juga gak mau Dea mabok-mabokan lagi. Kakak maunya dea jadi anak baik! Titik!” jawabku tegas sebagai orang yang lebih dewasa

“Yaahh… yawdah deh kalau kakak maunya kayak gitu, Dea janji mau jadi anak baik dan gak pernah mabok lagi…”

“Eh?” nurut amat yak ni anak… tambah garuk-garuk kepala aja aku dibuatnya

“Kak!”

“Ya?”

“Ngewe yuk!”

“What the?”

“Abis Dea tiba-tiba jadi horny…”

Anjir… jadi tambah kenceng aku yang garuk-garuk kepala…

“Kak!”

“Apasih?”

“Entotin Dea dong, horny nih…” cerocosnya sambil bediri dan ngelepasin Cardigan-nya

“Apa sih lu? Rese!”

“Halah kak…”

“Diem!”

“Kak…”

“Shut Up!” hardikku tegas sambil nunjuk-nunjuk gemez

“Kak…”

“DEA! SIT!” kataku sambil nunjuk ke-arah kursi, macam bicara ama guguk piaraan

“Kak…” Dea malah jalan mendekatiku

“Dea Stop!!”

“Dea sepong dulu ya kontol-nya kakak!” Dea malah sudah jongkok didepan kursiku. Trus narik kakiku sehingga sekarang dia ada diantara pahaku yang masih duduk di kursi makan

“Engggak!” hardik ku lagi, eh malah dengan kurang ajar dia langsung pegang senjataku

“Nih kan, kontol kakak aja udah setengah ngaceng…”

“Anjir! Lepasin gak!” kataku lagi berusaha mendorong tangannya yang sekarang tambah kurang ajar ngucel-ngucel hard-ware ku. Eh, malah dengan tanpa konfirmasi lanjutan Dea merogohnya dari atas karet kolorku, trus menarik batang yang sekarang sudah 80% tegang itu keluar dari sarangnya.

Batang itu membentang dari dagu sampai dahinya

“Ssssttghh… Anjing!Kontol kakak gedeeehh…. Dea jadi horny banget iq, memek-ku pasti udah basah banget kak… gatel banget rasanya pengen dikontolin kakak…”

“Kakeamu….uugghh…..” Jelas aja aku melenguh, wong Dea udah mulai ngulum kok…

Cleck… Cleck… Cleck… Cleck… Cleck… Cleck… Cleck… Cleck…

Saat ini aku sudah gak protes lagi. Aku bersandar ke belakang dengan tangan memegangi headrest dari kursiku sambil melenguh. Sedangkan dibawah sana, Dea dengan aktif menggarap kontolku. Mengulum, menjilat, menciumi, dan mencumbuinya dengan segala expresi yang kubirkan lepas bebas semaunya…

“Ogghghgh….ooogghghgoghgh….ogghghg…. Aghgh…” Kurasakan sensasi yang tidak biasa, setelah kulihat kebawah Dea sambil megap-megap kayak mau muntah sedang berusaha memasukkan semua batang Kontolku ke mulutnya…

“Aaaggh… Shit…” Erangku

“AAgHH…. Gak bisa masuk semua kak, udah mentok sampai tenggorokan Dea…” Jawabnya sambil menatapku ngos-ngosan. Air mata yang kulihat mengalir dimatanya menandakan bahwa dia memang sudah berusaha maksimal buat menelan seluruh batang kontolku sampai akhirnya mentok di tenggorokan…

“Udah ah, Kamu tuh ya! Katanya mau nuru….ogh…” jawabku tak kalah ngos-ngosan

“Eagh Oba Owagi Ya Kloag!” katanya singkat sambil sudah memasukkan lagi kepala kontolku ke mulutnya. Membuat kata-kata; Dea Coba Lagi Ya kak, menjadi lucu karena lidahnya udah keganjel batangku. Aku cuman diem aja kali ini, gak protes pun, abis ennak buangeett…

OWAGHGHT…. ACGHAHT….. OGGAWAGHATOGT…. OWAGHGHT…. ACGHAHT….. OGGAWAGHATOGT….

Bunyi-bunyi erotis itu adalah suara mulut dan tenggorokannya Dea waktu berkali-kali masih mencoba nge-Deep-Throat kontolku…

Setelah berkali kali percobaan, akhirnya Dea bangkit, berdiri agak merunduk di depanku sambil bertopang pada pahaku, sehingga mukanya sejajar dengan mukaku yang masih duduk di kursi

“Gak bisah… masuk semuah… kontol kakak… ke mulut Dea… kebesarenn… mentokgh… di tenggorokan… Dea…” katanya dengan expesi lugu-lucu dengan masih ngos-ngosan didepan mukaku. Bikin gemes aja nih anak…

“Hehhh… masa sih?” Dengusku gak kalah ngos-ngosan abis di bombardier sama kenikmatan seperti itu

Dea malah ngikik-ngikik sambil tangannya mulai mainin kontolku lagi yang sudah basah kuyup sama ludahnya dan sedikit muntahan kliatannya….

“IIyahh…. Sampe Dea mo muntah, nyodok banget di tenggorokan Dea… hihihi…”

“Masa sih? Mana coba kakak mau liat tenggorokan Dea…”

“Einegh Kwagh…” bilangnya -Ini Kak-, sambil mangap nunjukin tenggorokannya yang memerah dan nafas yang masih ngos-ngosan. Karena gemes kusosor aja itu mulut mangap

Kami berciuman, saling membelit lidah, bertukar ludah. Dengan rakus, seperti emang seharusnya orang yang sange berat, Dea nyosor-nyosor tanpa kendali. Lidahku di isepnya kuat-kuat. Tanganku pun gak kalah aktif meremas-remas dadanya dari balik baby doll yang sengaja memang belum ku buka

Aku berdiri dan mendorong tubuh Dea sampai tertelungkup diatas meja makan. Dengan kasar ku renggut celana babyDoll gemesnya. Bokong putih gembul dan kedua paha sintal yang juga mulus itu langsung terpapar didepan mataku. Tak pake nunggu lama, aku meraih kontolku sendiri dan menggesek-gesekkan ke celah memek Dea yang sudah basah kuyup itu dari belakang. Kaki Dea kunaikkan satu ke meja

“Dea… memek kamu kakak kontolin ya…” Desisku iseng ke telinga Dea

“Iya kak… kontolin memek Dea kak… Kontolin memek lonte Dea sampai jebol kak, memek Dea pengen dijebolin kontol… Perkosa memek lonte Dea Kak…” Ooogh…. OK, erangan Dea ini emang agak terlalu vulgar berlebihan. Tapi, kenapa aku tambah sange ya?

Tak pake lama juga, Dea sudah kubuat kelojotan tengkurap diatas meja makan sambil tangannya meraih apapun yang bisa dia raih buat pegangan. Meja itu sendiri berderit derit dan bergeser gak karuan karena daya sodokanku yang memang kulakukan sekuat tenaga. Sisa minuman kami yang ada diatasnya-pun sudah tumpah gak karuan ke lantai

“AAHGG…AGGH… AGH.. MEMEK DEA…AGH…SIKSA… AGHK…KOONTOOOLGH….AKGGH….TEGGRUS KAKGH….AGHH…AGAGH GAK….KUATTT..TERUSS…AGH….KONTOOOLGH…”

Aku mengangkat Dea dari belakang sambil kontolku masih menancap di memek nya yang sekarang sudah berubah warna menjadi memar kemerahan. Kubopong dia kearah sofa lalu ku hempaskan Dea diatasnya. Kuputar dan kutarik tubuhnya sampai terlentang bersandar di backrest sofa sehingga kakinya menjuntai ke lantai dengan lemas

Oow, ini belum berakhir! Kuangkat kakinya, ku-kangkang-kan sampai lobang memeknya merekah terbuka. Dea nurut aja dengan lemas. Lalu dengan sengaja kutusukkan kontolku ke memeknya sedalam mungkin. Dea terlonjak ke belakang dan berteriak

Tanpa ampun Dea kugenjot dengan RPM setinggi mungkin

Tanpa perlawanan, Dea hanya mendongak-dongak terhempas sodokan seiring genjotanku dan mencengkeram head-rest-sofa se-erat yang dia bisa. Sialnya, mungkin karena ketahanan tubuhku yang meningkat karena latihan beladiri, aku tak kunjung dapat sinyal mau keluar

Padahal aku pengennnya mengakiri ini sesegera mungkin, kasihan Dea, mungkin sudah hampir 30 menitan dia terombang ambing genjotan RPM tinggiku. Sampai kelihatan lemas. Dan kerasa banget cairan vagiananya sudah membajir sampai menjadi busa putih di pangkal kontolku. Entah berapa kali dia sudah mengalami orgasme. Namun akhirnya dorongan itu datang juga…

“Arrrghhhh!!!!!” Aku sampai. Kutancapkan kontolku sedalam-dalamnya ke memek Dea dan menyemburkan spermaku banyak-banyak disana…

CROTTT…. CROTTT…. CROTTT…. CROTTT…. CROTTT….

Dea pun melenguh kencang…

Dan saat kucabut kontolku dari memeknya, lelehan sperma itu ikut melelh keluar…

Dengan terengah, aku merebahkan badan di samping Dea

“Maaf Dea, kakak tadi agak kasar ya?”

Dea malah meringis penuh kepuasan “Dea… Dea suka banget ngentot model tadi… Anjing kak… Dea lemes banget, gak tau tadi nyampe berapa kaliihh… hah…hah…”

Kulihat, Dea bener-bener ngos-ngosan karena lemes. Tapi anehnya, walau aku juga sedikit terengah-engah, tapi staminaku pulih dengan cepat. Dari dulu, karena latihan yang digembleng dari kecil, aku memang mempunyai stamina yang bisa pulih dengan cepat, tapi tidak secepat ini. Inikah rasanya tubuh yang sudah melewati batasan manusia? Karena latihan-latihan gila si-Iblis itu kah?

Kurang ajarnya, sangeku juga datang lagi dengan cepat…

Ini… Harus dikendalikan, Harus!

“Eee… Dea…”

“Iya kakh…” jawabnya masih terengah-engah

“Eee.. Dea… maafin kakak ya, kakak malah… Padahal seharusnya kakak ngejagain Dea”

“Enggak lah kak, Dea juga kok yang mulai… Dea Sayang Kakak… Gak peduli, kakak belum sayang Dea, Dea akan menunggu, Dea akan buktikan kalau Dea pantas buat kakak…” Desisnya lirih..

Eh?

BIsa runyam bin berabe kalau kayak gini ceritanya…

Entahlah, akhir-akhir ini, cerita cinta memang sedang tak berjalan dengan baik dalam kehidupanku. Bukannya hidupku hanya untuk mengejar itu. Tentu saja banyak target-target yang berusaha aku buat untuk kemudian kucoba untuk dicapai. Misalnya: Target pertama adalah menguasai tubuhku ini secara permanen lagi. Lalu memikirkan masa depan. Studiku misalnya, atau target ber-wiraswasta seperti yang akhir-akhir ini menjadi impian baruku, setelah study-ku di pelayaran berantakan. Walau tabungan yang rencananya kusiapkan sebagai modal malah tergerus kesana-kemari.

Tetapi mau tidak mau, masalah hati ini serasa mengganjal. Apa karena aku kurang kegiatan ya?

Entahlah, yang pasti malam ini aku lagi pengen mellow…

Pengen menghayati arti cinta, walaupun kadang itu menyakitkan…

Yes, sometimes, Love Hurt…

End of Love Hurt

Bersambung

END – My Magic Part 15 | My Magic Part 15 – END

(My Magic Part 14)Sebelumnya | Selanjutnya(My Magic Part 16)