My Magic Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22 END

My Magic Part 14

Start My Magic Part 14 | My Magic Part 14 Start

Sunset di tanah anarki​

Aku terhenyak, seperti ditampar oleh ribuan sengatan kesadaran yang dengan kasar menyeretku untuk kembali bangun dari sebuah lobang nyaman dimana aku meringkuk enggan, hibernasi. Hentakan-hentakan itu seakan mengguncang seluruh alam kecilku. Berputar dan memusar meruncing menuju suatu titik. Seperti angin puting beliung yang menggelegak, mengangkat lalu menghempaskan semua hal di sekelilingnya dengan acuh menggunakan kekuatannya yang mahadasyat.

“Aaaaahhh… ahhh… ahhh… terus sayang, ahhh… yess… ahhh….”

Desahan desahan itu…

Visualisasi-ku berkedip menyala, seperti sebuah layar computer yang telah menyelesaikan bootingnya. Processor yang ada di otakku semerta-merta dipaksa bekerja keras untuk mengolah perintah-perintah dan luapan informasi yang berlomba-lomba membuka.

UGH…

Ini…

Otakku masih dalam proses untuk mencerna itu semua. Random Access Memory otak-ku mendecit-decit. Mencoba membaca dan me-recovery recent file yang seakan berantakan, namun entah mengapa media pentimpanan dalam otakku seperti sebuah hardisk yang mengalami bad sector, kusadari, tidak semua data bisa aku pulihkan.

Terakhir kali yang kuingat, aku ada di nest, tertidur sambil memeluk Rara.

Lalu entah kenapa, kenyamanan tersebut memelukku balik dengan erat…

Terlalu erat…

Dan aku terlena…

Lalu tertidur…

Tertidur?

Sial!

Sudah berapa lama aku tertidur?

Sehari?

Dua hari?

Seminggu?

Dan iblis-ku?

Mengambil alih kembali tubuh ini?

“Akhhhh….”

Desahan itu mengantarkan sengatan sepontan yang menjalari seluruh tubuhku. Sensasi seperti dijamahi seribu tangan di seluruh tubuh menerpaku. Lalu semua seakan disedot ke satu titik. Sesaat, seluruh jaringan syarafku terasa membeku. Menyeretku ke dalam keadaan dormant, lalu menghisap seluruh daya jiwaku. Luluh, lemas, habis, terkuras…

Dan aku merasakan tubuhku terjatuh…

Dan suara melenking kecil itu terdengar, suara hampir seperti suara kelelawar…

Suara yang begitu familiar…

“Ah… tant… you are the best…” sebuah pujian mendesis dari mulutku, tapi bukan aku yang melontarkannnya. Iblis-ku, pasti…

Beberapa kecupan dilayangkan ke pipi halus itu, walaupun si empunya masih pasif menanggapi, tersenggal, mencoba mengatur nafas, kulihat juga matanya masih membeliak dan kedua tanggannya masih mencengkeram bed-cover dengan erat di kedua sisi kepalanya. Lalu setelah terlihat agak tenang, kepalanya tergolek ke samping, ke arah kami yang memang telah memposisikan tubuh disampingnya, memeluknya dengan mesra. Iya, aku memang sayang dengan orang ini. Dari cara iblisku membelainya, kuharap dia memiliki rasa sayang yang sama.

Karena, she’s simply the last person you want to have problem with…

“You are crazy…” desis-nya

“Salah sendiri, tant dicarinya susah, jadinya aku kangen berat… makanya… abis kangen banget sih…” gombal iblis-ku

“hihihi… bisa aja sih…”

Lalu kami kembali berpelukan.

“You know, kemanapun aku pergi, aku akan bisa menemukan kamu lagi honey…” desis tante Cristine lagi, sambil masih memain-mainkan jarinya di dadaku, setelah lebih dari 10 menit mencoba menenangkan nafasnya yang memburu tersenggal-senggal karena orgasme yang baru saja kita capai Bersama-sama.

“Ya, tapi tidak dua arah… “

“Itulah maksudnya, you don’t have to find me, I’ll find you…”

“Gak adil”

“hihihi….”

“Tant, He’ll pay…” Iblis-ku membelai lebam samar di sudut bibir tante Cristine kami. Hampir saja luput dari perhatianku. Semerta-merta aku juga ikut marah dengan siapapun yang menyebabkannya.

“Sudahlah, aku sudah mengurus ini…”

“Aku belum!”

“No! I love you too much, I can’t let you got involve…”

“Nevermind… I’ll do whatever you told me to…” desah iblis-ku lirih, sambil membelai rambut tante Cristine yang saat itu sudah berubah warna menjadi pirang dengan model curly yang imut. Terakhir kali ketemu, kelihatannya masih hitam dengan sedikit highlight ungu…

Aku masih mengira-ngira apa gerangan terjadi selama aku tertidur. Berapa lama aku telah tertidur? Bagaimana aku bisa ketemu sama tante Cristine ku tercinta? Apa situasinya? Apa yang terjadi?

Sial, fakta bahwa aku tidak mampu megetahui apa yang Iblis-ku pikirkan sedangkan dia kelihatan bisa membaca pikiranku, serta kacaunya manifestasi waktu pada saat aku berada di dalam sini benar-benar membunuhku. Aku juga sedang ngambek, males menanyakan sesuatu ataupun menjalin komunikasi dengan Iblis gila yang dengan semena-mena menguasai tubuhku sewaktu-waktu ini.

Dua hal yang aku putuskan:

Satu; aku akan merebut kembali kedali atas tubuh ini sepenuhnya. Aku sudah mempelajari tentang alam diamana aku terperangkap. Dan aku mempunyai suatu rencana tentang itu. Aku tau dia tau rencanaku karena kempauannya mengetahui apapun yang aku pikirkan, tapi aku tidak peduli, karena aku juga tau, mau tidak mau, dia akan mengikuti scenario-ku.

Dua; apapun kerusakan yang telah, sedang, maupun akan dia perbuat dalam hidupku, aku akan menangani-nya nanti setelah hal pertama selesai.

Lalu aku kembali mundur…

Tertidur…

Melepaskan kendali atas tubuhku kepada sang Iblis…

“Ada perlu apa!!” bentakan itu mengagetkanku. Membangunkanku dari tidur panjang. Seorang bertubuh dempal serta seorang lagi gak kalah dempal, keduanya dengan wajah serem abis, macam barongsai salah lukis, dengan tidak sabar menanyai kami. Aku dan Iblis-ku.

Ah, sudah berapa lama lagi aku tertidur? Dimana pula ini?

Sial…

“Aku mau bertemu dengan boss Djoko, buka pintunya!” Iblisku menjawab kalem, dengan intonasi tegas, memerintah, seperti seorang yang sangat penting

“Ada perlu apa?”

“Keperluanku bukan urusan curut macam kalian, buka pintunya, aku membawa pesan dari ibu Cristine!”

“Bangsat! Apa kau bilang?!” jelas sekali si-dempal dikanan marah besar. Namun temannya dengan cepat mengangkat tangannya ke telinga, menekan sedikit headphone disana lalu membisikkan sesuatu. Lalu dengan mimik tidak senang menyenggol rekannya dengan siku.

Gerbang-pun berderit membuka dengan konstan. Rupanya ada mekanisme otamatis.

Iblis-ku melangkah masuk dengan kepercayaan diri yang tidak akan mungkin ku-punyai, mengingat keadaan sekelilingnya.

Rumah berdesain Medditteranean itu tampak megah dengan empat buah tiang raksasa yang menyangga atap terasnya, entah dimana lokasi-nya, aku terbangun saat sudah berada di depan gerbang. Jadi bagaimana aku bisa tau alamatnya? Aku hanya sekilas membaca nomor yang tertempel di gapuranya: H-75

Iblis-ku melirik, aku ikut menyaksikan. Dan kami menghitung ada sekitar 8 orang tersebar di setiap pojok bangunan itu. Belum termasuk dua orang yang mengawalku. Semuanya berwajah seperti badut setan difilm horror-porno yang pernah ku tonton. Serem gak sih?

Dipintu rumah, aku dijemput oleh dua orang yang lain. Total sudah 12 orang semi robot-jahat-serem yang kutahu menghuni bangunan mewah ini. Apa yang dilakukan Iblis-ku disini?

Aku terlibat apa lagi?

Sial!

Bagaimana aku akan membereskan hal-hal seperti ini nantinya?

Yeah, aku punya beberapa teman anak orang-orang jet-set dengan koneksi yang mungkin gak terbayangkan oleh kamu. Aku yakin, mereka bisa membantu mengatasi kesulitan-kesulitanku(1), tapi bukan berarti harus cari-cari masalah seperti ini kan?

(1) Yeah, aku sudah pernah cerita kan, kalau aku menjalani dua kehidupan? Nah, sebagian duniaku ada di zona ini. Sebenernya aku mau nyaranin lagi untuk nginget-inget masalah itu di cerita Reflection, tapi, males ah. Suka-suka elo aja sob. Ane mah asik aja. Anyway, sebagian dari mereka emang punya hutang yang bisa kutagih kapan saja aku mau. You know, dalam bentuk sedikit bantuan balik, sedikit bantuan finansial, advokasi, menenangkan pihak-pihak tertentu yang sengaja-atau-tidak sengaja bermasalah dengan ku, atau sekedar blow-job ringan pengantar bobo ciang…

Ruangan dimana orang yang kukira bernama boss Djoko itu menyambut kami benar-benar merefleksikan artinya kemewahan. Sebuah meja kerja mewah dari kayu jati tua dengan ukiran elegan menjadi sentralnya. Di belakangnya, si Boss duduk degan ekpresi berkuasa diatas kursi ber-sandaran tinggi keemasan ala raja-raja lalim di film Three Musketeer. Sebuah sofa kombinasi ukiran dan kulit yang mewah juga berada di ruangan itu. Diletakkan dengan keanggunan ber-cita-rasa tinggi diatas hamparan permadani mewah. Intinya, kalau kau menyebutkan arti kemewahan, ruangan itu adalah deskripsinya. Lantunan halus music saxophone juga menambah keangggunan ruangan, kalau-kalau aku lupa menyebutkan.

Dua orang mengapit tubuhku saat menghadap kepada si boss.

“Jadi, orangku bilang tadi kamu disuruh Cristine?” si Boss membuka pertanyaan

“Betul pak, mohon maaf kalau saya tadi kurang sopan” Iblis-ku berkata dengan suara rendah. Good Job! Siapaun yang mananya Boss Djoko ini, kukira sangat bijak untuk tidak membuat masalah dengannya.

“Apa lagi maunya?”

“Sebelumnya mohon maaf bapak, saya hanya sekedar menyampaikan pesan, sekaligus mengemban amanah dari Ibu Cristine, yang sudah mendapatkan restu dari Beliau yang berkuasa di…” Iblisku masih menjawab dengan sangat sopan. Good Job Boy! Keep it up!

“Alaaaaahhh, tidak usah berbasa-basi, apa maunya si Cristine?” Boss Djoko kelihatan tidak suka dan memotong kalimat iblisku, entah mengapa… Satu yang terlintas di pikiranku, nama siapapun yang akan disebutkan oleh iblis-ku menakutinya. Siapa? Aku tidak pernah punya kenalan dengan orang sebesar itu, bahkan dengan ‘kegiatan-ku’ yang itu… Ini gila…

“Ibu Cristine bilang, beliau hanya ingin menagih hutang bapak kepadanya, beliau hanya menginginkan beberapa lebam di muka bapak. Dan saya adalah orang yang diutus beliau untuk menagih, sekaligus membuat lebam itu, saya harap bapak tidak mempersulit saya”

What the fuck is this shit!!!? Are you fucking Insane?!!! Iblis keparat itu berbicara didepan boss besar seperti ini? Ini namanya cari mati!!!

Dan Boss Djoko tertawa keras

That’s right man, it just a joke…

Kau tau, orang ini, Iblis bego ini kurang waras pak, mohon maafnyaa…

Aku seperti gila rasanya berada di dalam sini tanpa bisa beruat apa-apa…

Sialllllll….

“Hahahaha…. Jadi ceritanya elo dateng kesini mo nggebukin aku? Hahahaa… Ini Sinting, Ini Gila… ini Lucu… hahahaha…!!!”

Yes! Itu benar, ini gila, come on man! Ini cukup, ayo lari… kalau dari tadi aku Cuma diam, kali ini aku berteriak-teriak gaduh di kepala-ku sendiri.

“Betul bapak, kira-kira begitu, jadi saya harap bapak tidak mencoba memberikan perlawanan yang percuma dan memperlambat pekerjaan saya” Iblis-ku masih menjawab dengan sopan-ngawur

Wajah Boss Djoko tiba-tiba berubah menjadi seram, dengan sebuah jentikan jari, pintu-pintu di ruangan itu terbuka. Sekilas kami melirik, mungkin ada sekitar 25 orang bertubuh dempal berotot, berwajah tak kalah seram dengan peranakan silang antara boneka Chucky dengan Teletubbies berdiri di sana.

Sial, tak kukira ruangan itu punya begitu banyak pintu…

Eh, maksudnya..

Anu…

Kok pintu sih?

Sorry bray, gugup nih…

Tapi sebaliknya, aku merasa raut muka Iblisku begitu tenang, bahkan dia tersenyum…

“Urusanku dengan Cristine sudah selesai, jadi ku-kira tidak perlu diperpanjang lagi!” Si-Boss berkata dengan keras sambil menggebrak meja. wow, statement yang sombong.

Brengsek, lama-lama aku jengkel juga dengan lagak sok dia. Tapi sedikit kulihat pancaran ketakutan di matanya. Takut padaku? Tidak mungkin, dilihat dari segi manapun, aku hanyalah seorang pemuda tanggung biasa. Aku bukan siapa-siapa. Lebih mungkin, takut sama orang yang tadi akan di sebutkan oleh Iblis-ku?

Sial, kalau beneran dia terlibat sama urusan beginian, runyam deh…

Runyam…

Dan semua orang tiba-tiba bergerak, serentak merangsek kami, memperkecil jarak

“Jadi…?” tanya Iblis-ku

“Jadi kamu mampus saja!” jawab si Boss dengan emosi

“Anda benar-benar bodoh…” desis Iblis-ku pendek

Aku hanya merasakan desiran angin, tubuhku serasa ringan, seperti terbang, aku terlenting kedepan. Tau-tau aku sudah hinggap diatas meja si Boss, berjongkok diatas mejanya, menghadap ke-muka jeleknya.

Kecepatan ini…

Benarkan aku mampu bergerak secepat ini?(2)

(2) Well, gue kasih tau sama elo, Aku, Mas Karyo kelas icik-kiwir ini memang bisa bergerak dengan cepat! Hasil latihan fisik secara bertahun-tahun, tehnik langkah kaki dan olah pernafasan yang tepat, serta bakat terpendamku dalam bidang ‘melarikan diri’ memang membuatku memiliki kecepatan yang bisa dibilang diatas rata-rata maling regional. Ya kurang lebih begitulah…

Tapi kecepatan tubuhku yang dibawa sama Iblis jelek ini memang non manusiawi.

Jujur, aku kaget-tergaget setengah mati.

Apakah ini asli, atau cuma halusinasi?

Ah, cukup kalimat ber-rima-nya, bisa-bisa jadi pendekar syair berdarah Arya Dwipangga aku nih…

Anjrit, Arya Dwipangga…

Hayo! Siapa yang tau Arya Dwipangga?

BAK-BUK-PRAK-PROK-JEBRET-JDUK-NGUIK!

Entah berapa kali tinjuku bersarang di wajah gendut si Boss itu. Yang pasti pukulan terakhir membuat kursinya yang ternyata beroda meluncur mundur dengan kecepatan yang konstan. Elo tau kan bro, kalau kecepatan adalah jarak dibagi waktu? Ah, sudah cukup pelajaran fisika-dasar-nya, karena kulihat semua orang telah mengepungku, setelah sesaat tadi terpana oleh atraksi badut-sirkus fenomenal yang di pertontonkan oleh Iblisku secara gratis.

Ah, seharusnya aku tadi menarik uang tiket, lumayan bisa jadi pamasukan, mengingat akhir-akhir ini semenjak tubuh ini di kuasai sama dia, aku praktis tanpa pemasukan sedangkan tabunganku semakin menipis, dan siapa tahu berapa yang sudah di hamburkan oleh iblis jelek itu. Oh, masa depanku benar-benar… Ahsudahlah, what can I do jal?

Lagian,kelihatannya situasinya sedang gaswat nih!

Salah satu anak buah si bos sudah dengan sigap menolongnya yang kini hanya bisa mengerang dan menggeliat-geliat lucu seperti ulat kepanasan dengan bonus cabut gigi gratis, berterimakasihlah pada bogem mentah-ku. Dia memapah si Boss dan membawanya menyelinap pergi dari ruangan itu, lalu meneriakkan perintah pendek

“Bunuh bangsat itu!”

“Huft… Job done…” kata iblisku ringan, seakan kepada dirinya sendiri, ato kepadaku, mungkin?

BRAK-BRAK-BRAK…

Pintu-pintu tertutup

SRET-SRET-SRET…

Senjata-senjata terhunus..

Ah, deskripsi situasi kok macam gini, kemalasan penulisan diksi macam apa ini?

Sudahlah…

Karena sekarang, entah dari mana datangnya, kulihat semua orang sudah memegang parang pendek.

Semua orang!!! Kecuali aku…

Bagi bagi parang, tapi aku gak di bagi…

Jahat gak sih?

Atau karena aku terlambat mengantre?

Ah…

Tapi kulihat Iblis-ku malah berdiri dengan congkak di atas meja mewah itu..

Turunlah brad, ntar kalau sampe meja ini rusak, pemuda miskin macam kita mana mampu mengganti?

Ah….

“Bajingan kecil, kau sudah terkurung! Mampus kau!” bentak salah seorang pengurung yang memang telah mengurung kami didalam kurungan gerombolan pengurung bersenjatakan parang… Serius man, situasi ini, sulit benar untuk mendiskripsikannya. Terlebih dengan degub jantung ketakutan seperti ini…

Degub jantung ketakutan?

Eh, tunggu sebentar…

Detak jantungku…

Sebentar, coba kurasa-rasa dulu bentar…

Normal?

Tenang?

Aku tenang???

Di dalam situasi seperti ini????!!!

Entah aku, ato si-Iblis, kurang jelas, tapi seseorang bener-bener udah gila kalau mempunyai detak jantung normal dalam kedaan seperti ini. Dengan begini mungkin aku harus cepat mengunjungi RSJ Terdekat. Periksa otak!

“hehehe… Coba ku luruskan; kalian-lah yang harus nyerah, bukan aku…” desis Iblis-ku menyeramkan. “Gerombolan ayam, tidak dapat mengurung serigala, kalian-lah yang terkurung disini denganku, bukan sebaliknya…”

Ok, ini baru!

Biasanya aku disebut tikus, curut, cacing, ulat, kecoa atau binatang lemah-gemulai sejenis. Kalau harus menyebut binatang yang sedikit lebih besar-pun, aku mentok di kasta primata kecil bernama monyet.

Tapi Serigala? Salah satu predator puncak? Ah, Iblis-ku memang terlalu narsis…

Saya suka… Saya Suka…

“Monyet belagu, mampus lo!” teriak salah satu pengepung

Nah kan, monyet? Apa ku bilang…

Desingan parang menderu, menuju satu arah

AKU!!

Sial !!

Dan tubuhku melenting, bersalto beberapa kali di udara, lalu mendarat dengan elegan jauh di belakang gerombolan itu. Dan untuk membuatmu lebih merasakan efek dramatis-nya, kurasakan sebuah senyuman di bibirku. Si Iblis tersenyum…

Gerombolan itu berbalik, berhamburan kearahku dengan parang terhunus, plus kemarahan yang semakin meluap. Nah, kugambarkan keadaannya dengan lebih baik kan? hanya berjaga-jaga kalau-kalau kamu ingin tau betapa emosionalnya situasi ini.

Dan senyum Iblisku semakin lebar…

Sabetan parang pertama datang, iblis-ku membawa tubuh kami mengelak, lalu sabetan kedua, mengelak lagi, lalu sabetan ke tiga, mengelak lagi, sabetan ke-empat, ke-lima, ke-enam, ke-tujuh…

Semua dia elak-kan

Ini…

Slipi Angin!

Ya ya ya ya… Aku menguasai jurus langkah itu, dengan jurus dari silat ku ini, tubuh kita memang bagaikan angin yang tak tersentuh. Berputar dan bergerak seperti layaknya sebuah hembusan angin. Benar-benar tak tersentuh. Tapi, yang namanya jurus itu adalah tatanan baku, pelakunya-lah yang menentukan kehebatan sebuah jurus.

Kamu, aku dan seorang petinju tentunya sama-sama bisa memukul menggunakan kepalan tangan kita, tetapi, pukulan seorang petinjulah juaranya. Kira-kira begitu gambarannya.

Sial…

Gilanya lagi, Iblisku menaruh kedua tanggan kami di saku celana…

Melenggang dengan santai…

Mengelakkan semua serangan…

Sabetan parang dari sekitar 25 orang-an…

Ini rapat sekali, hampir tanpa celah, tapi…

Mengelakkan semuanya?

Bahkan aku saja kagum…

Ini mah, gerakan tubuh Level Master…

Mungkin hampir setara dengan eyang-eyang ku…

Lalu…

Si Iblis tiba-tiba mengaum seperti Harimau…

Mengaum seperti Harimau…

Dan menyerang…

Ini…

Gerakan Silat Harimau? (3)

Silat itu…

Aku melawan seorang Datok Pendekar Silat Harimau sekali…

Dulu…

Dan si Iblis mampu meng-imitasi gerakannya sesempurna ini?

Bahkan dia tidak menggunakan silat kami sekalipun untuk menyerang?

Hanya satu artinya…

Dia menahan diri….

Melawan sekitar 25 orang bersenjata dan menahan diri?

Ah…

Tapi, si-iblis brengsek ini bagaimanapun inkonsisten, tadi ngakunya Serigala, kok memakai jurus Harimau?

Serigala atau Harimau?

Haizzz… jangan becanda ah…

Tapi, benarkah si-Iblis ini benar-benar sudah mencapai level master seperti eyang-eyang ku? (4)

Dan aku mundur, memejamkan mata dan menidurkan diriku kembali…

Untuk sekarang, aku bisa mempercayakan tubuh ini kepadanya…

Aku sudah cukup melihat ini, dan aku yakin benar bagaimana ini akan berakhir…

Lagian serem kalau harus liat kehebatan calon lawan…

Eh?

Tapi Silat Harimau?

Ah… rencanaku untuk menantangnya bertarung di alam kami, untuk memperebutkan tubuh ini… Sial…

Tapi aku tidak akan menyerah… Aku akan bertarung dengan iblis itu, menang, atau mati dalam usaha untuk menang…

Either way, aku sudah siap….

Karena aku sudah muak kalau harus hidup seperti ini…

Aku semakin dalam menarik diri…

Matahari kembali terbenam di dunia hampaku…

Seperti sebuah Sunset di Tanah Anarki…

End of Sunset di Tanah Anarki….

(3) Silek Harimau

Kalau memang si-Iblis menguasai silat harimau, aku bisa paham alasannya menggunakan ilmu itu daripada menggunakan silat kami. Kamu tau kenapa Silat harimau selama ini bertengger di jajaran kasta teratas ilmu silat bumi nusantara?

Yep, efektifitas gerakan!

Berbeda dengan silat kami yang memiliki banyak sekali variasi, bukaan, kuncian dan dorongan untuk melumpuhkan lawan, Gerakan silek harimau cenderung lebih Sedikit, namun efektif, cepat, tepat dan sangat-sangat mematikan

Masih inget dong, aku pernah cerita mengalahkan seorang pandika silek harimau saat sarasehan raja-raja nusantara di Siti Hinggil Ler?

Baca kembali dong, Reflection eps Tree little bird!

Serah ding, anyway…

Adalah Datuk Mudo Chairul Malik Qodri, murid langsung dari Tuo Silek Datuk Karim Amarullah seorang Parik Para Dalam Nagari, yang konon kabarnya dipercaya sebagai pengawal saat Daulat Yang Dipertuan Sultan Muhammad Taufik Thaib Tuanku Maharajo Sakti masih berkuasa sebagai Raja Pagarruyung.

Datuk Chairul ini adalah seorang uztad yang taat sekaligus seekor monster harimau yang menakutkan saat mancak cantik-nya menjelma menjadi silek.

Ah, untuk lebih ngerti istilah-istilah silat Pagarruyung, silahkan tanya sendiri sama mbok Darmi, atau siapa kek, peduli amat!

Dan kemenangan tak berguna kala itu, sukses mengantarkanku langsung ke ICU RS. Dr Sardjito. Opname selama 10 hari plus serangkaian operasi hanya demi menyambung nafas hina-dina ini

Berbulan kemudian, saat aku nderekke eyang ke padepokan mereka di Pagarruyung, dan aku diberi kesempatan untuk ngobrol banyak dengan Datuk Chairul, baru kusadari ternyata beliau menahan diri saat melawanku. Beliau merasa sayang akan potensiku, katanya. Namun yang ku tangkap adalah; beliau hanya belum siap untuk menjadi seorang pembunuh

Yep, saat itu memang satu-satu nya cara untuk mengalahkanku hanyalah dengan membunuhku. Itu logis, karena kalau aku kalah malam itu, walau tetap hidup, maka Eyang juga akan menguburku detik itu juga

Tapi, fakta bahwa individu unggul titisan mas karyo, Bibit hibrida tahan hama ini pernah mengalahkan salah seorang pandika silek harimau terbaik, tetap tercatat dengan manis di notulen abdi dalem kasultanan.

Dan kalau diminta tanding ulang?

Huh!

Eyang sembah-sujud di bawah kakiku sampe ambeyen juga kagak gue peduliin!

Mampus aja lu sendiri eyang, tua bangka keparat!

Atau elo mo ngatain gw sebagai curut oportunis pengecut* juga gak gw peduliin!

Bodo amat!!

Menang ya menang!

Tanding ulang? Enak aja!

Serem tauk!!

Gue dijamin juga gak bakalan bisa menang ini!

*Eh, btw gw saranin buat siapin biaya pengobatan ekstra sebelum elo mutusin ngeledek gw dengan kata-kata itu. Gw tuh takutnya sama Datuk Chairul, bukan sama Ente, Njink!!

(4) Ah, Quote lagi ya?

Anu, seingetku aku belum pernah menceritakan sekalipun mengenai eyang-eyang-ku ya? Nah, coba aku gambarkan sekilas di sini. Perhatiin, terutama tentang Bela-Diri mereka. Keterangan lain, anggap aja latar belakang. Gak ngefek juga owg sama aku. Ok sob?

Eyang ku dari Ayah, selain tajir dari orok, dia juga seorang Perwira Polisi dengan jabatan komendan Polsek waktu itu. Dengan body yang terbilang mirip raksasa dibanding rata-rata orang asia, beliau juga seorang master Karete Shotokan. Dalam kesempatannya untuk ‘kongkow-kongkow’ ke Negeri Asal karate, Jepang – dari apa yang kuinget, beliau emang sering sekali bepergian gak jelas gitu. Konon katanya di Jepang sana beliau adalah seorang ‘Budo’ atau ‘Seseorang yang menekuni jalan Ksatria’di Kyoto Butokuden.

Bahkan didalam sertifikat beliau yang pernah kubaca, disana beliau dijuluki ‘Kikku No Yama’ atau ‘Tendangan Gunung’, mungkin karena ukuran tubuhnya yang gede, diibaratkan gunung, atau karena konon kekuatan tendangannya mampu menggeser sebuah gunung.

It’s a hellish crap, kalau kau tanya pendapatku! Omong-kosong yang berlebihan!

Tapi tendangan tua-bangka keras-kepala itu memang pernah hampir saja membuatku mati perjaka!

Cukup gambarannya kan tentang Karatenya Eyangku dari Ayah?

Nah, Eyang dari Bunda, malah lebih gak jelas banget. Katanya, beliau adalah murid langsung dari RM Harimurti, si empunya Tejokusuman, tetapi menurutku, banyak sekali gerakan silat yang beliau ajarkan kepadaku keluar dari pakem Tejokusuman. Walaupun beliau mengambil nama Tejokusuman sebagai dasar nama bela-dirinya, tetapi beliau menambahkan Aliran Ponosoemarto, nama beliau sendiri di belakangnya – Narsis gak sih?

Satu hal yang pasti, beliau adalah pejuang gerilya yang pilih-tanding.

Di kampung kami, ada legenda mengenai ‘Seorang Raden Mas yangTerbuang’ yang dalam semalam menghabisi seluruh kavaleri pasukan jepang yang melintasi wilayah kami saat Pawai untuk mempertunjukkan Kekuatan Militer mereka dari Surakarta menuju Yogjakarta – Itu Kavaleri dibabat Sendirian Bro!!

Waktu aku masih kecil, kisah itu masih diceritakan didalam acara drama kesenian daerah kami yang disebut ‘Srandul’ – mungkin udah punah itu kesenian sekarang. Menurut bisik-bisik tetangga sih, katanya itu orang dalam legenda yang di ceritakan di dalam Srandul adalah Eyang. Aku sih kurang percaya kalau manusia itu adalah eyang, walaupun eyang memang seorang Raden Mas.

Itu-pun kalau beneran hanya seorang manusia yang melakukan-nya. Kebayang gak sih? Sepasukan dihabisi seorang diri? Ini hiperbolik… Berlebih-lebihan, Cenderung Hoax.

Gosip atau Fakta? Well, Bocah tua nakal itu sekarang udah ‘is dead’!

Thanks God – RIP Eyang!

Jadi kalau ente mo klarifikasi, tanya aja ama kuburannya!

Oya, satu lagi biar nggak menimbulkan kesalahpahaman umum:

Kalau kamu kurang paham tentang sebutan ‘Raden Mas’, Raden mas adalah sebutan buat Cucu sampai Cicit lelaki dari garis pria Kesultanan yang lahir dari seorang Selir. Pastinya jauh dari tahta kerajaan, kalau kamu mau lebih jelas mengenai keadaannya.

Jadi sebagai cucu eyang, aku juga seorang ‘waris’ – Ehem! Bisa dibilang aku adalah seorang ‘Raden Mas’ juga dari kesultanan Ngayogjokarto Hadiningrat. Tapi jangan harapkan aku bergandeng-gandengan tangan ato duduk ngopi atau wedangan uwuh bareng dengan Kanjeng Sultan Hamengkubuwono. Karena didalam trah kesultanan, kedudukan kami: Ibarat Beliau adalah Langit sedangkan aku adalah Tai Ayam yang barusan ente injek.

Sedih gak sih?

Ironisnya, Eyang-ku itu juga salah seorang pejabat dalam pemerintahan jepang, seorang kepala pertanian daerah atau disebut juga Gunseikan. Dan setelah Kemerdekaan, beliau menjadi Lurah Abadi di desa kami, sebelum beliau sendiri yang memutuskan untuk pensiun. Saat itu aku sudah masuk SMA.

Nah, udah kan?

However, dari apa yang kurasakan, dalam urusan bela-diri, mereka berdua adalah Master!

Maksudku benar-benar Master Bela-Diri dalam arti sesungguhnya…

Dan aku? Murid tunggal mereka?

Yeah, Aku adalah seorang murid murtad – Maafkan aku Eyang!!

Weeeekkk….

Aku kan paling gak bisa melukai sesuatu, apalagi seseorang… apalagi yang cantik…

Aku kan penyayang, bukan petarung…

I’m definitely a lover, not a fighter!

Mmmmuuuaaccchh….

Masuk pak eko!

Bersambung

END – My Magic Part 14 | My Magic Part 14 – END

(My Magic Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(My Magic Part 15)