My Magic Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22 END

My Magic Part 11

Start My Magic Part 11 | My Magic Part 11 Start

Cerita Sebelumnya…

“Lah yo pokoke kontole bapake di lebokne bae neng turuke mbokne!”

“Ayaaaang aaaaah! Omongannya njijiki ! gak sopan tauk!”

“Hahaha…Anjir, bener loe babe, jijik beneran aku jadinya sama diriku sendiri… hahahaha… Ooooggh…”

Ogh?

Yo mesthi!

Lha wong Vika sudah mulai lagi njilatin putingku…

1000 Alasan​

“Ahhhh….” Aku melenguh

Jilatan Vika kurasakan sangat panas menelusuri dada, lalu turun ke arah perut, naik lagi sampai ke-leher lalu bermain-main di belakang telingaku. Sambil diiringi desahan-desahan ringan yang keluar dari mulut-nya, membuatku melayang, terbang…

Akupun melenguh…

KRUKKK…

Lho?

“Eh? Suara perut siapa itu?” Vika sepontan menghentikan aktifitasnya

“Nepermen, Lanjuttt….” Rengek ku dan Iblis bebarengan sambil merangsek maju untuk menyosor bibir ngggemesin-nya

“Hihihi… Atau kita makan dulu aja yuk babe? Ntar kemaleman…” kata Vika sambil menghindari percobaan ciumanku

“Aduhh… Kentang nih… “ kami masih protes

“Hihihi… kita maem dulu deh, baru entar kita lanjutin sogok-sogokan semaleman… ya? Ya? Ya?”

“Haaaiiiizzzz, ya wis, pokok’e ntar semaleman aku sogok-sogok memek’e mbok’e ya mbok!”

“Najis, nggilani babe… Ya wis, memeke mbok e yo wis jemek-jemek-gatel pengen di sogok pentungan’e bapake!” Vika membalas dengan aksen tegal yang gak kalah njijiki

“Najis!” jawab Iblis-ku sambil meremas selangkangan Vika dengan nakal

Lalu kami tertawa ngekek-ngekek…

Kami bercerita cerita sambil menikmati hidangan lezat di warung Pesta Keboen yang bernuansa Javanese etnic nan nyaman. Sambil berbincang, mataku seakan tak bisa lepas dari vika. Hmm, mata Iblisku, lebih tepatnya.

Walau hanya mengenakan kaos sederhana, masih di padu dengan rok jeans belel yang tadi dia pakai, Vika Nampak sangat cantik. Rambutnya di sanggul sederhana ke atas, mempertontonkan leher jenjang putih yang menggoda. Matanya seolah memancarkan kegembiraan yang benar-benar dapat dinikmati oleh pria yang ada di hadapannya, seolah semua kegembiraan yang terpancar itu benar-benar besasal dari kami.

Pria mana yang tidak merasa menjadi besar, dipertontonkan sebuah ekspresi kegembiraan oleh wanita yang ia sayangi, dan si wanita secara gamblang mengisyaratkan bahwa kebahagiaan itu memang dari si pria?

“AKU…” Vika dan Iblis-ku membuka suara bebarengan

“Eh?” kami masih bebarengan

“Hahahaha…”

“Yawdah, Vika dulu yang ngomong…”

“Enggak, kamu dulu aja deh…” Asli ini stereotype dialog pacaran lebay

“Enggak, Vika dulu deh..” Anyir nggilani, masih dilanjut

“Kamu aja deh yang duluan…” jancok kakeane, isih mekso di teruske…

“Yaw is lah” kata Iblis-ku mengalah, hufftt…akhirnya! Sekali lagi kata-kata ‘kamu duluan’ diperdebatkan, bisa beneran muntah aku saking jijiknya. Tapi raut muka iblis-ku tiba-tiba mejadi serius, entah apa yang dia pikirkan…

“Gini Vik, sebaiknya kamu besok segera balik ke Makassar deh…” Iblis-ku main tembak langsung

Eh? Maksudnya apa nih?

“Eh?” seperti aku, Vika juga terlihat kaget

“Setelah kupikir, itu yang terbaik, orang tua-mu sudah menyiapkan semuanya di sana…” Iblis-ku melanjutkan bicara. Sumpah, aku gak ngerti apa maksudnya.

“Maksudmu?”

“Aku juga sudah menyiapkan tiket buat kamu”

“Tiket? Maksudmu? Kapan kamu beli?” sergah Vika agak emosi

“Bahkan sebelum kamu mendarat di sini” iblis-ku menjawab datar, sumpah lagi, aku bener-bener gak ngerti

“Maksudmu? Trus, semua ini? Kamar kost itu? Tunggu, kamu ngusir aku?” Vika sudah mulai terlihat berkaca-kaca

“Kami menyayangi kamu sungguh Vik, tapi dilihat dari segi manapun, Aku dan Kamu tidak akan bisa bersama. Misalkanpun dipaksakan, kita akan menyakiti orang-orang yang benar-benar kamu sayangi. Aku dan Kamu tahu betul itu kan? Mungkin ini memang harus kita selesaikan secepatnya, karena kalau semakin lama menunggu, hal ini akan lebih menyakitkan buat kami berdua… minimal buatku…”

“Kami berdua? Maksudnya apa ini? Jelasin sejelas jelasnya! Aku nuntut kejelasan! Kamu… Kami? Mengapa? Apakah..? ” mendengar kata-kata Vika yang sudah mulai tidak tersusun, mungkin menandakan dia kaget dan emosi, berampur menjadi satu.

Tapi, matanya… mata ini, adalah mata… dengan tatapan yang lebih ke upaya menyelidik? Yep, aku akrab dengan mata yang menyelidik, terutama saat berurusan dengan bang Iksan – bangsad satu itu, ah…

“HOI !! Maksudnya apa?” Aku ikut nyolot dari dalam, tapi tidak ada reaksi dari Iblis-ku.

Iblis-ku hanya menatap kosong kearah Vika. Tatapan yang aku tahu pasti dingin dan kejam.

Benarkah?

Eh, apa ini? Aku merasakan hawa panas yang menyengat di sekujur tubuhku, hawa panas yang malah membuatku menggigil. Menggigil? Benar, Kurasakan Iblis-ku juga menggigil, menahan apapun yang mungkin dia rasakan.

Benarkah?

Aku benar-benar bingung…

“Oiiiii !! Bajingan, apa-apa-an ini? Jawab Anjing!!” Aku berteriak lagi kepada Iblis-ku, masih tidak ada reaksi, aku bersiap untuk berteriak lagi. Bangsat, aku selalu merasa lemah dan tak berdaya semenjak aku terkurung di dalam tubuhku sendiri tanpa bisa apa-apa.

Didalam sini, alur waktu juga terasa kacau, kadang aku merasa waktu berjalan sangat lama dan benar-benar membuatku kelelahan, padahal sebentar, kadang aku seperti tertidur sejenak, padahal waktu sudah berlalu seharian.

Apa ada sesuatu yg terjadi saat aku tidak sadar?

Kapan?

Tapi…

“Hhhhaaaiizzz… Ini memalukan, baiklah, aku… aku paham…” desisan lirih yang keluar dari mulut Vika itu bak geledek yang menyambar langsung ke gendang telingaku

“Terimakasih…” Ucap Iblis-ku datar

“Kita makan dulu…?” suara Vika tiba-tiba terdengar kaku

Iblis-ku tersenyum

Bangsat, ini apa-apan? Aku masih tidak paham!

“Siapa yang ngasih tau? Mba Hita kah?”

Iblis-ku tersenyum

“Jam berapa Flight-ku besok?” Vika buka suara lagi, semakin canggung

“Jam 5 sore”

“Sampai waktu itu, bisakah kita masih pacaran?” Maksud omongan vika ini apaan sih? Tentu dong, kita pacaran… Aku sudah berbuat sejauh ini juga… Kita akan pacaran, lalu menikah, iya kan?

Seingatku, begitulah kemaren do’a Ine sebelum naik ke travel yang membawanya pulang ke rumah mama-nya. Salah satu yang mendorong kepergiannya dari sarangku adalah datangnya Vika

“Tentu!” Jawab Iblis-ku sembari meraih kedua telapak tangan Vika dari seberang meja, lalu menggamnya dengan erat

Vika mendesah lagi

“Padahal aku mempunyai waktu sekitar tiga bulanan… dan aku membawa seluruh buku-buku ku…” desisnya lagi canggung

Iblis-ku mengelus ringan punggung tangan Vika menggunakan ibu jari kami dan tersenyum dengan sabar

“Aku mempunyai niat yang benar-benar buruk ke kamu… aku… aku gak tau kalau aku bisa sejahat itu… Aku…” Vika mulai menunduk dan berkaca-kaca

“Its Ok…” Desis Iblis-ku menimpalinya dengan lembut, masih sambil mengelus ringan punggung tangan Vika menggunakan ibu jari kami

“Maafin aku ya De… Aku… Aku tau, aku gak akan pernah bisa memilikimu, tapi… aku…. aku juga gak tau gimana caranya melepasmu…”

“Its Ok…” Desis Iblis-ku lagi-lagi dengan intonasi pengertian yang memuakkan

Dan kami beradu pandang, Vika mulai menunduk, seakan merasa bersalah. Aneh…

“Eh, Ayam lilit sapi ini menu special di sini, cobain deh say, enak lho… Aaaaakk… “ Iblis-ku mengalihkan pembicaraan yang sumpah, aku gak tau arah dan tujuan-nya itu

Vika dengan enggan membuka mulut untuk menerima suapan

“Hmmm… dua jenis daging-nya melebur sempurna, ini baru mak-nyus…” kata-nya sok riang disela-sela kegiatan mengunyah

“Iya kan?”

Lalu mereka mengobrol biasa… Walaupun atmosfir canggung itu masih menggantung

“Eh, tadi kamu mau bilang sesuatu Vik?”

“Nevermind, sudah kamu duluin…”

“Maaf…”

“Gak kebalik tuh?… Makasih ya De untuk semuanya, aku… Aku sekali lagi minta maaf… Aku… sudah berniat untuk melakukan sesuatu yang sangat egois ke kamu”

“Nevermind, sempet pacaran sama kamu adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki kok beib…” desis Iblis-ku

“Sheila on Seven banget sih kamu say…”

“Guwe gitu loch… Hehehe…”

“Hihihi…”

Satu hal yang bisa kusimpulkan: Berakhir!

Ini sudah berakhir, hubunganku dengan Vika, entah apa alasannya, saat ini cuman dua mahluk jelek itu yang tau. Mengapa?

Ah…

Aku merasa lemas, aku pikir, butuh 1.000 Alasan untuk memisahkan aku dengan Vika setelah kami bertemu lagi, tapi kenyataannya?

Sebuah pembicaraan sederhana mengakhirinya. Dan, satu hal yang mungkin membuatku sedikit lega walaupun bingung, apapun yang kulihat di mata Vika melalui kedua mataku sendiri yang walaupun saat ini masih dikuasai oleh sang Iblis, dari kedua mata Vika terpancar Kelegaan…

Walau masih terbersit pancaran ketidak-relaan dan kesedihan

Tapi, pancaran kelegaan itu…

Tapi…

Tapi…

Tapi, bagaimanapun, aku akan membuat perhitungan dengan si Iblis!

Berharap bisa melenggang dengan semua kehancuran yang sudah ia perbuat dengan hidupku?

MIMPI!!!

Aku akan menagihnya, TOTAL JENDRAL BESERTA BUNGANYA!!

LIAT AJA NANTI!!!

IBLIS!!

Dan aku menutup diri, aku tak lagi ingin melihat apapun dari kedua mata ini

Aku terpejam

Dan menghilang…

End of 1000 Alasan

To be Conticrot

END – My Magic Part 11 | My Magic Part 11 – END

(My Magic Part 10)Sebelumnya | Selanjutnya(My Magic Part 12)