Moon Story Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Tamat

Cerita Sex Dewasa Moon Story Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Moon Story Part 5

Tak Semudah Itu, Dok!

Setelah bersekoci demi sampai di pantai, kami pun harus berkendara sekitar tigapuluh menit untuk mencapai rumahsakit. Untung sempet minta nomor kontak Dream Travel cabang Surabaya buat pinjem mobil.

Sepuluh menit pertama dihabiskan Bulan dengan memandang ke luar jendela. Paling bosen kalo nyetir hening-heningan gini. Capeknya jadi berasa lima kali lipat.

“Kamu marah karena aku tonjok si banci itu?”

Ngga ada jawaban. Kepalanya masih aja disenderin di kaca jendela.

“Atau karena ayahmu?”

Ngga ada jawaban. Dari bangku driver, mukanya ngga keliatan jelas.

Aargh! Ngga konsen nyetir kaya gini. Liat jalan sambil lirik-lirik Bulan.

Nyaris putus asa gue.

“Please, Lan. Say something. I can’t see your face clearly.”

Terdengar Bulan mengembus napas lemah.

“Aku belom sempet ngomong apa pun sama Ayah,” katanya dalam suara serak.

“Gimana kalo aku ngga punya kesempatan lagi?” sekarang terdengar seperti keluhan putus asa.

“Dokter Ardan akan lakukan yang terbaik,” ini kalimat paling bagus yang bisa kepikiran.

Terdengar Bulan mengingsut ingus ke hidung. Gue harus fokus ke jalanan. Apa boleh buat, untuk tangisan kali ini, ngga ada bahu yang bisa ditawarkan.

***

Om Hendro baru aja dipindah ke ruang ICU ketika kami nyampe di rumahsakit. Dokter Ardan menyambut dengan muka lelah tapi tetap berusaha tersenyum untuk menguatkan.

Bulan tergopoh-gopoh menghampiri. Airmata udah kering dari wajahnya meski sembab di mata tak bisa disamarkan. “Ayah kenapa, Dok?”

Dokter Ardan tersenyum tipis.

“Alhamdulillah, sekarang udah stabil, meski masih koma. Sepertinya otaknya sempat kekurangan oksigen beberapa waktu. Kita beri stimulus terbaik, koma biasanya hanya berlangsung beberapa jam. Jadi 24 jam ini waktu kritisnya.”

“Maksudnya?” suara Bulan terdengar panik sekali.

Dokter Ardan menghela napas.

“Semoga Pak Hendro ngga lama-lama komanya.”

Bulan segera memburu masuk ke kamar sang ayah. Gue mau ngikutin tapi ditahan Dokter Ardan.

“Bisa kita bicara?” suaranya menekan.

Kayanya ngga ada pilihan lain. Lagipula, Bulan pasti membutuhkan waktu khusus berdua dengan ayahnya.

***

Dokter Ardan ngajakin ke lantai dasar, tempat berbagai gerai makanan menawarkan beragam alternatif sajian pengisi perut. Kami masuk ke salah satu kedai bakso yang menawarkan tempat duduk nyaman ala cafe. Tempat makan ini baru buka ketika Pak Dokter melangkahkan kaki masuk. Untung saja baso urat andalan kedai ini sudah siap untuk disajikan.

“Sudah baca chat saya tadi pagi?” Dokter Ardan membuka percakapan begitu kami duduk menghadap jendela kaca.

Dapet pertanyaan kaya gini, tangan langsung refleks ngambil hape di kantong.

“Maaf, belom sempet, Dok.” Buka aplikasi messenger dan cari pesan dari Dokter Ardan.

Ternyata memang ada pesan yang sudah diterima pukul delapan lebih sembilanbelas menit. Rasanya ini bersamaan dengan waktu ngobrol sama Om Hendro.

“Tolong jaga stabilitas emosi Pak Hendro,” begitu isinya.

Kepala gue mendadak puyeng, keinget ekspresi Om Hendro waktu berdebat hebat sama anaknya.

“Jadi kondisi Om Hendro hari ini dampak dari kondisi emosionalnya?”

Dokter Ardan ngga langsung jawab.

Tapi akhirnya dia bilang, “Bisa jadi. Mas Kamal ngobrolin apa sama beliau tadi pagi?”

Bukan obrolan sama gue yang jadi masalah. Obrolan dengan Bulan yang bikin emosi memuncak. “Ya sudahlah.” Kepala jadi makin nyut-nyutan. Migrain kambuh otomatis, dah.

“Ya kita fokus buat ke depannya,” Pak Dokter melanjutkan, “saya masih sangat berharap Pak Hendro bisa segera sadar. Semoga dalam beberapa hari ini.”

Dia berhenti di sini. Matanya menatap dalam, kaya lagi ngukur gue. Ngga tau apa yang diukur.

Dua mangkuk bakso datang dibawa pelayan. Aroma micin bercampur daging menguar, menguasai syaraf. Beneran enak banget baunya. Bikin auto-ngeces kalo ga cepet-cepet nutup mulut.

“Mas Kamal tahu, kan, kenapa dapat hadiah duapuluhlima prosen saham itu?”

Ah, itu lagi. Hadiah yang terasa seperti musibah.

Dokter Ardan narik napas dalam. “Tadinya ditawarkan pada saya.”

Lah? Ternyata.

“Tapi saya ngga mau. Berat. Saya ngga ngerti bisnis, dan ngga ngerasa cocok di bidang bisnis. Perusahaan bisa hancur kalo saya yang pegang. Dan kalo perusahaan sebesar Purwaka Grup hancur, ribuan karyawan yang akan kena dampaknya. Berarti ribuan keluarga juga yang bakal menderita.”

Gue tusuk bakso urat di mangkok pake garpu. Pak Dokter bener juga. Jadi salah satu orang yang punya kuasa tertinggi dalam pengambilan kebijakan di perusahaan berarti memegang amanah atas kehidupan ribuan orang yang menanggung keluarga masing-masing. Bukan urusan mudah.

“Saya pernah bertugas di pedalaman Papua. Di klinik yang dibiayai oleh Purwaka Grup. Klinik itu gratis, tapi layanannya lumayan lengkap. Setidaknya, yang bisa dilakukan di sana, kita lakukan di sana. Fasilitasnya juga sedikit demi sedikit dilengkapi hingga kami dapat melakukan SC di sana. Dan semua gratis, Mas. Bisa bayangkan berapa biayanya?” Dokter Ardan membungkukkan badannya ke muka gue pas lagi ngomongin ini.

Bikin risih sebenernya, seolah-olah semua jadi tanggung jawab gue. Sialan!

“Saya ngga ngerti itung-itungan bisnis, yang saya tahu, orang-orang di sana membutuhkan klinik itu. Kita ngga cuma melakukan tindakan kuratif tapi juga preventif dengan penyuluhan-penyuluhan melalui sekolah,” Dokter Ardan lanjut bercerita,

“dua lembaga ini, sekolah dan klinik, ngebantu banget ningkatin kualitas hidup orang-orang di sana.” Dia menyeruput jeruk hangat pelan-pelan.

“Saya ngga tahu kaya gimana di lokasi lain. Kabarnya ada tiga lokasi di Papua dan dua di Kalimantan. Tapi, kayanya sama aja. Mungkin beda tipis.”

Kepala jadi makin puyeng. Untung baksonya enak, lumayanlah buat bikin hidup lebih nikmat.

“Jadi, saya benar-benar berharap pada Mas Kamal. Dari cerita Pak Hendro, saya percaya, Mas Kamal adalah orang yang tepat untuk melanjutkan impian ini.”

Aaargh! Ini mengesalkan!

“Dokter tahu Bulan udah punya pacar?”

Pak Dokter sangat terkejut hingga ia mengurungkan niat menyuapkan sesendok pertama ke dalam mulut.

“Hehe. Ngga tahu, ya?” Ya iyalah. Aib banget itu. Mana mungkin Om Hendro cerita kalo anaknya lesbian.

“Iya, saya sama sekali ngga tahu. Selama jadi dokter pribadi, saya ga pernah liat Mbak Bulan sama cowok.” Dokter Ardan lalu menyuap potongan bakso beerta bihun masih dalam pose tertegun tak percaya.

Ketawain aja. Ya iyalah, pacarnya cewek, Dok!

Emang nasib gue yang sial sampe langit ketujuh.

“Nah, sekarang Dokter udah tau.”

Dokter Ardan mengunyah baksonya perlahan. Kedua alisnya hampir bertaut, bikin mukanya keliatan konyol.

Salah! Yang konyol itu gue. Mau aja dijodohin karena mengira nothing to lose, toh ceweknya cakep setara dewi Aphrodite. Padahal, mau setara tujuh kali Aphrodite juga percuma kalo ternyata lesbian. Cih!

“Jadi sekarang gimana?” suara Dokter Ardan terdengar bersimpati.

“Statusnya istri saya, tapi hatinya milik orang lain. Menurut Dokter gimana?”

“Tapi Mas Kamal, kan gimana pun tetap suaminya. Di hadapan Allah atau di mata negara, Mas Kamal suami sahnya Mbak Bulan. Siapa pun dia di luar sana, statusnya cuma pacar.”

“Trus kalo saya suaminya kenapa? Saya punya hak buat memperkosa dia, gitu?”

Paling kesel sama para lelaki yang mengira ketika mereka jadi suami, maka berhak melakukan apa pun tanpa mempedulikan perasaan istrinya. Padahal dia menikahi seorang perempuan, bukan boneka yang suka-suka mau diapain juga.

Dokter Ardan kaya yang kehabisan kata-kata. Matanya menatap kosong taman di seberang kedai ini.

“Harusnya, Mbak Bulan juga paham kalo dia udah jadi istri Mas Kamal. Dan cowok di luar sana, siapa pun dia, ngga punya arti apa-apa lagi dalam hidupnya.”

“Harusnya, ya Dok,” sinis gue.

Ya harusnya itu berarti idealnya. Tapi Bulan bukan cewek ideal. Dia cuma cewek lesbian.

“Sebenernya pengen ngajuin cerai saat ini juga…”

“Jangan!” Dokter Ardan memotong cepat.

Ck! Iya, gue tahu. Ngga segampang itu. Sekarang jadi banyak hal yang musti dipertimbangkan. Biarpun teriak sekenceng-kencengnya bahwa ini pernikahan gue, suka-suka gue mau dibawa ke mana. Tetep aja, akan ada banyak yang mungkin terluka kalo perceraian jadi jalan yang diambil saat ini.

Bulan ngga akan dapat dividen lagi tahun ini dan dia belum siap untuk itu. Anak manja itu harus diajarin dulu cara mempertahankan hidup, baru dilepas. Rasanya gue jadi penjagal kehidupan kalo ngebiarin tu cewek terlunta-lunta gitu aja.

Saham yang dalam penguasaan gue sekarang juga akan jadi milik yayasan. Berarti tigapuluhlima persen saham dimiliki yayasan. Itu adalah jumlah terbesar saat ini. Situasi seperti itu rawan menghasilkan konflik kepentingan di yayasan. Semua orang tahu, uang itu manis. Kemungkinan terburuk, yayasan yang tadinya fokus pada kegiatan sosial malah berubah jadi entitas bisnis. Ini jelas merusak keseluruhan visi dan misi yayasan.

Skenario lain, perusahaan jadi dipimpin oleh orang yang tidak paham bisnis. Akibat terburuknya adalah kebangkrutan yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja para karyawan. Seperti yang dikatakan Dokter Ardan, ribuan keluarga menjadi taruhannya.

“Eh, maaf,” lirih suara Dokter Ardan,

“saya paham, ini bukan keputusan mudah.”

Huh! Kalo gampang, gue udah cerai dari kemaren.

“Tapi, yang meletakkan Mas Kamal pada posisi ini adalah Allah,” katanya lagi, “Allah juga yang akan memberikan jalan keluarnya untuk Mas Kamal.”

Hadeh! Allah lagi. Kalo sampe Dia berhasil bikin gue keluar dari masalah ini. Gue sembah-sembah dah sampe mampus.

Masalahnya, gue aja ngga percaya Dia beneran ada. Gimana mungkin sesuatu yang ngga ada bisa nolongin sesuatu yang ada?

***

Laksana Cahaya Bulan

Asli, semua ini bikin gamang. Mau nanya ama siapa? Mau curhat ama siapa? Menggenggam rahasia itu menyesakkan dada, memberatkan kepala.

Di depan pintu kamar Om Hendro gue berhenti. Ga kuat rasanya untuk masuk.

Hangat kuah bakso dalam mangkuk kertas yang ditenteng, menjalar di kaki. Ini sudah jam makan siang dan Bulan belum makan apa pun selain roti bakar penuh mentega tadi pagi. Gue buka pintu. Bulan duduk di samping ranjang ayahnya.

Terdengar suaranya mengingsut lendir di hidung.

“Aku ceritain aja, ya Yah,” katanya, “aku udah nyari e-book-nya, ternyata ngga ada. Tapi aku apal banget ceritanya.” Dia menarik lendir di hidung sekali lagi.

Dia menoleh. Gue kasih senyum termanis sambil nunjukin bakso dalam mangkuk kertas. Bulan menyeka airmata di pipi dan membalas dengan anggukan disertai senyum supermanis. Hidungnya merah, pipinya merah, matanya juga merah. Tapi ketika semua disatukan dalam sebuah gambaran utuh, kecantikannya tetap mendapat nilai sempurna.

Bulan mendeham, membersihkan tenggorokan dari lendir-lendir yang mengganggu.

“Aku ngga inget bahasa Inggrisnya,” katanya lagi masih menggenggam tangan sang ayah,

“padahal ini aslinya in English, ya Yah?” Dia tertawa kecil.

“Tapi aku baru tahu setelah bisa baca,” lanjutnya ditingkahi tawa.

Gue taro di atas nakas, mangkuk kertas dalam tas kresek yang tadi dipesen di kedai bakso urat. Bulan menggenggam tangan Om Hendro lekat ke kening. Kemudian mengecup punggung tangan itu dan memeluk lengannya penuh sayang.

Mungkin dia emang pecinta lengan. Tadi pagi gue yang digituin. Apa jangan-jangan salah pegang, dikiranya punya ayahnya gitu?

“Pada suatu malam yang temaram di dalam Hutan Kelam.”

Wow! Ternyata dia mau mendongeng. Gue ambil bangku dan duduk di depannya. Bulan tersipu ngeliat gue menyimak serius. Tapi dia tetap melanjutkan cerita.

Tupai kecil terpesona melihat benda bundar bercahaya di angkasa. ‘Ibu,’ serunya semringah, ‘apa itu?’

Dia menyeka hidung dengan punggung jari.

Ibu Tupai melihat pada benda yang ditunjuk anaknya. ‘Oh, itu purnama.’

‘Purnama?’

‘Bulan yang terlihat bulat sempurna disebut purnama,’ jelas Ibu Tupai.

Bulan tertawa kecil, dan berhenti bercerita.

“Aku suka banget bagian ini.” Matanya menerawang.

“Pas bagian ini, ayah pasti bilang. ‘Bulan Purnama? Siapa, ya?'”

Jadi ikut ketawa gue.

“Bulan Purnama? Kek kenal?”

Dia tergelak.

“Kamu tahu?” tanyanya.

“Aku cuma tahu satu Cahaya Bulan Purnama. Apa ada yang lain?”

Tawanya terdengar berat.

“Ayo lanjut. Trus gimana Tupai Kecil?”

Bulan mendeham sedikit lalu mulai melanjutkan cerita.

Tupai Kecil bertanya, ‘Apa dia yang bikin hutan terlihat terang malam ini?’

Ibu Tupai tersenyum. ‘Iya,’ jawabnya, ‘cahayanya memancar sampai ke bumi lalu terpantul dan kembali lagi ke bulan. Terpantul, lalu kembali lagi ke bumi. Terpantul, lalu kembali lagi ke bulan. Terpantul, lalu kembali lagi ke bumi.’

Kami tertawa. Cara dia mengucapkan kata terpantul lucu sekali.

“Bagian ini suka diulang-ulang sampe mulut ayah pegel,” katanya. Rona sedih kemudian mengambang di wajah cantiknya.

“Kenapa?”

Dia menekuk bibir ke dalam lalu melanjutkan cerita.

‘Cahaya bulan, seperti sayangnya ibu padamu, tak pernah habis dan selalu ada untukmu.’

Air mengambang di pelupuk matanya.

“Trus ayah akan bilang, ‘Ayah sayang Bulan seperti cahaya bulan. Tak pernah habis dan selalu ada untukmu’.”

Speechless. Jadi ini yang dimaksud moonlight.

“Judul bukunya Moonlight. Tapi karena aku belom bisa bahasa Inggris, jadi diterjemahin langsung sama Ayah.”

Gue manggut-manggut.

“Aslinya, cuma I love you like the moonlight.” Airmata hampir menitik tapi cepat-cepat disekanya sebelum menyentuh pipi.

Sebegitu berharganya moonlight ternyata.

“Aku bawa bukunya ke mana-mana,” katanya lagi, merebahkan kepala di atas lengan sang ayah.

“Kalo pengen ngobrol sama Ayah, aku baca bukunya.” Disurukkannya kepala ke kasur. Samar isaknya terdengar.

Tolong jangan nangis lagi. Udah capek dari pagi ngadepin adegan nangis-nangis.

Gue ikutan rebahan kepala di samping Bulan. Rambut hitamnya terasa sejuk seperti air terjun di sela-sela jari.

Dia menoleh. Gue kumpulin rambut halusnya di belakang telinga biar ngga nutupin muka. Pipinya terasa lengket karena sisa airmata yang mengering. Tatapannya seolah bicara dalam bahasa yang sulit diterjemahkan.

“Aku beliin bakso tadi.”

Matanya membesar dalam binar. Kemudian mengangkat kepala melihat pada nakas. Gue berdiri menyiapkan bakso yang tadi memang dipisah dari kuahnya.

“Nih.”

Disodorin bakso, dia malah ngumpetin tangan di bawah paha.

“Suapin,” pintanya manja.

“He?” Kok, jadi kebalik? Biasanya juga gue yang minta disuapin sama pacar. Ternyata setelah punya istri malah dia yang minta disuapin. Apakah ini karma? Ya sudahlah, terima aja.

“Apa, sih yang ngga buat tuan putri?”

Dia memajukan kursi dengan gembira. Ya, gitu aja. Ngeliat senyum dan binar mata itu kayanya semua beban yang bikin berat kepala jadi ilang semua.

“Kurasa ayahmu juga lebih seneng liat kamu begini daripada nangis-nangis.”

Wadaw! Salah ngomong gue. Senyumnya malah langsung ilang. Dia ngunyah bakso sambil manyun.

“Aku bener-bener ngerasa bersalah,” katanya mandangin Om Hendro yang terhubung dengan kabel dan selang.

Sekarang gue yang ngerasa bersalah. Mustinya selesein makan dulu baru ngobrol lagi. Sodorin bakso lagi aja.

Tapi dia ngga mau buka mulut.

Malah lanjut curhat, “Aku kira Ayah benci sama aku.” Lagi-lagi dia gigit bibir.

Hela napas. Ternyata, kasih sayang bisa disalahpahami seperti ini.

“Makan dulu aja, Ayahmu pasti ngga suka kalo kamu kelaparan.” Gue suapin lagi sesendok bakso plus bihun.

Dia menyambut dengan senyum. Yes! Begitu aja terus.

Tiba-tiba hape di kantong bergetar. Bener-bener gangguin. Mana dari nomer ngga dikenal.

Mangkok bakso gue serahin ke Bulan supaya bisa keluar nerima telepon. Dari nomer ngga dikenal bisa aja dari calon klien dengan proyek besar. “Selamat siang, dengan Kamal Putra Ardinata, ada yang bisa saya bantu?”

Ngga ada jawaban.

“Halo?”

Masih ngga ada jawaban. Lalu bunyi tut berkali-kali tanda panggilan disudahi dari seberang.

Huh! Yang kaya gini, nih ngeselin. Udah gangguin, malah ngga ngomong apa-apa.

Bulan ngeliatin dengan pandang bertanya-tanya.

“Siapa?”

“Tauk!”

Dan hapenya bergetar lagi. Nomor yang sama.

“Selamat sore, dengan Kamal Putra Ardinata, ada yang bisa saya bantu?”

Hening.

“Halo?”

Bunyi tut lagi. Ni orang maunya apa, dah?

“Yang tadi lagi?” tanya Bulan.

“Hm.” Kesel gue.

“Makan dulu.” Dia nyumpelin sebulatan bakso pake garpu langsung ke mulut gue.

Ponsel bergetar lagi padahal mulut gue masih penuh.

“Sini.” Bulan mengambil ponsel dan tertegun memandang layar.

“Halo?” katanya ragu.

Entah apa yang terdengar di speaker. Dari matanya, gue tahu si penelepon mengucapkan sesuatu.

“Hm, ya,” Bulan menjawab lirih.

Siapa yang nelepon? Kenapa dari tadi diem aja, tapi pas Bulan yang angkat langsung ngomong?

“Hm, ya,” suaranya makin lirih.

Siapa yang telepon?

Gue rebut hape dari tangan Bulan. Dia terperangah dan langsung mempererat genggaman tangan.

Gila! Ini hape gue! Kenapa malah harus rebutan gini.

Dia berdiri, dia juga berdiri, dan mangkuk bakso berdebam di antara kaki kami. Kuahnya tumpah ruah hingga ke bawah tempat tidur, mengagetkan Bulan, mengalihkan perhatiannya. Secepat kilat, akhirnya berhasil ngerebut hape.

Terdengar suara dari seberang, “Halo, Babe?” Sialan! Si banci kaleng. Gue liat muka Bulan ketakutan.

“Bisa, ya nanti malem? Kangen banget.”

Eneg banget denger suaranya. Baru nyadar, ekspresi Bulan udah berubah. Ke mana perginya Bulan yang tadi minta disuapin bakso? Tiba-tiba gue kangen Bulan yang itu.

“Babe?”

Shit! Gue keluar kamar nyaris banting pintu.

“Mau apa lo?”

Jeda sebentar sebelum kedengeran jawaban, “Mau ngomong sama cewek gue! Mau apa lo?”

“Mau nonjokin muka lo ampe bonyok.” Kurang banyak tadi nonjoknya.

“Huh! Coba sini kalo berani. Di atas ring, biar kita sama-sama siap. Jangan beraninya pas orang lagi ngga konsen, kaya banci.”

Sembarangan!

“Heh! Yang banci itu elo! Sebut aja tempatnya kalo berani!”

“Tunggu WA gue!”

Telepon ditutup. Kurang ajar!

Gue masuk lagi, berhadapan dengan Bulan yang menantang dengan tatapan. Suara ventilator terdengar halus sekaligus mengiris.

Ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar. Balik lagi. Nutup pintu dari luar. Jadi mikir, si banci dapet nomer gue dari mana, yak?

Argh! Goblok! Gue yang ngasih kartu nama sendiri tadi!

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Tamat