Moon Story Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16

Cerita Sex Dewasa Moon Story Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Moon Story Part 4

Back Off!

Anget.

Embusan udara anget.

Embusan udara anget di pundak.

Harum.

Pernah cium harum ini sebelumnya.

Kapan?

Semalam. Waktu Bulan nangis di pelukan.

Bulan.

Harum rambut Bulan.

Astaga! Buru-buru buka mata. Bulan meluk tangan, sementara kakinya menyilang di atas kaki gue. Dia kira lagi meluk guling apa?

Kabur apa nikmatin aja?

Nikmatin aja. Ketawa jahat dalam hati.

Nikmatin kulit selembut mentega. Harum shampoo yang tertinggal di rambut. Embusan napas yang menghangatkan.

Damned! Dia melek. Cuma sebentar. Kayanya belom terlalu sadar. Setelah menggeliat sedikit lalu mengubah posisi jadi telentang dan tidur lagi.
Sial! Musti kabur sebelum dia bener-bener bangun.

***

Dia baru bangun waktu gue udah selesai mandi dan lain-lain. Gila ni cewek. Lagi berantakan gini aja masih keliatan cakep.

“Jam berapa sekarang?” tanyanya dalam suara serak seksi khas bangun tidur.

Gue nyalain layar hape.

“Lapan. Mandi, gih. Aku udah reserved satu meja di Captain’s Room.” Meski seluruh penghuni dek ini mendapatkan akses makan gratis sepuasnya di semua restoran yang ada di kapal, tetap saja harus melakukan reservasi agar tidak terhalang antrian.

Dia melenguh malas dan kembali meringkuk memeluk selimut.

Satu notifikasi muncul di ponsel. Dari Ratna. Sebuah video dengan caption, “Yang viral di anak IT sepagian ini.”

“Males, gue belom sarapan,” bales cepet trus lanjut ngambil baju dari koper.

“Woy! Bangun!”

Bulan gelagapan karena guncangan tepian ranjang yang gue tendang.

“Masih ngantuk, tauk!” Dia ngelempar bantal kesal.

Dasar ni anak. Ngajakin perang bantal lagi? Sebuah notifikasi dari Ratna masuk.

“Liat sebelum sarapan, biar ngga eneg.”

Jadi kepo. Gue download juga videonya.

Ternyata hasil rekaman CCTV. Setting-nya bikin jantung berdegup kencang. Ini area outbond yang ada di dek teratas. Seorang perempuan dengan seragam pelayan magang berjalan mondar-mandir sambil bersedekap. Tak lama kemudian muncul perempuan lain dengan jas kebesaran, setengah berlari menghampirinya. Sampai di sini tak terlalu bermasalah. Adegan yang terjadi selanjutnya melesatkan darah hingga ke ubun-ubun.

“Woy!” Gue banting hape ke bantal yang dipake Bulan.

“Liat tuh!”

“Apaan, sih?” Dia berbalik memunggungi.

Gue tendang lagi tepian ranjang.

“Ngapain aja semalem sama si banci kaleng?”

Diam.

“Semua kerekam CCTV, Mariyem!”

Dia berbalik, mengambil hape dan mulai menonton video. Tangan kirinya mengusap dahi panik.

“Puas sekarang? Kalo sampe dapet sama wartawan, abis kamu digoreng. Ngga cuma kamu, reputasi Purwaka Grup bisa langsung drop. Tahu sendiri kaya gimana netijen jaman sekarang.”

“Aaargh!” dibantingnya hape ke lantai hingga berderai jadi tiga bagian.

“Masih ngga mau nurut kataku? Padahal apa susahnya nunggu seminggu aja. Sekarang gimana kamu mau memperbaiki semua? Hah?”

***

Kasih, Sayang, dan Cinta

Bulan bergeming di depan pintu, menyungging senyum canggung ngajakin sarapan.

Ngga mungkin datang ke sini cuma buat ngajak makan. Udah dibilang tadi, cukup telepon, pasti dateng.

“Mau masuk?” Gue buka pintu lebih lebar, memberi ruang buat dia masuk.

Ragu-ragu Bulan melangkahkan kaki ke dalam kamar. Hanya selangkah. Om Hendro menatapnya, menanti langkah kedua.
Gue gandeng tangannya tak sabar. Anak ini ngga jelas. Ngomong ama bapak sendiri aja ribet amat.

Di tepi tempat tidur, badannya agak gue dorong biar duduk. Dia duduk dengan kedua kaki rapat dan tangan saling menggenggam di atas paha.
Apa-apaan, nih anak. Berhadapan sama bapak sendiri segitu formalnya.

“Ayah sakit?” suaranya nyaris tak terdengar.

“Kamu liat sendiri,” jawab Om Hendro dalam suara datar.

Hening.

Pegel ngeliat interaksi bapak sama anak ini, jadi ikutan duduk di pinggir ranjang, tepat di belakang punggung Bulan. Gue masukin jari ke dalam genggaman tangannya. Terdengar embusan napas pelan bersamaan dengan terbukanya genggaman jemari.

“Kenapa Ayah ngga cerita,” Bulan kembali berkata lirih.

“Apa ada bedanya buatmu?” ketus sekali Om Hendro membalas.

Hadeh! Padahal gue tahu dia sayang banget sama Bulan, tapi kenapa yang keluar malah sikap seperti ini. Apa maunya si bapak?

Genggaman tangan Bulan terasa makin erat di jari-jari.

“Ngga, ngga ada bedanya. Sejak dulu pun ngga ada bedanya.”

Hah? Apa-apaan dua orang ini? “Oya, Bulan kemarin cerita kalo dia pernah ngalahin Om Hendro main catur,” gue coba mengalihkan fokus.

Daripada memusatkan diri pada emosi negatif yang merusak, lebih baik mengingat kebahagiaan yang pernah dirasakan bersama.

Tapi Om Hendro bukan orang yang gampang disetir.

Dia kembali membicarakan hal yang mengesalkan, “Gimana kabarnya perempuan itu?”

Bulan mempererat genggaman tangannya. Jari gue rasanya mau patah.

“Aku berantem sama dia. Puas?”

Om Hendro menyeringai. Ya dia puas. Terlihat sekali dari sinar matanya.

“Tapi aku ngga akan ninggalin dia!”

Sekarang waktu untuk ngebales remasan tangan. Lebar telapaknya ngga seberapa dibanding telapak tangan gue. Dia melawan, tapi sia-sia, kekuatannya tak seberapa. Hati-hati bicara makanya.

“Kamu mau masuk neraka? Kamu mau dapat murka Allah? Sudah seberapa tebal kulitmu sampai sanggup melawan-Nya?” Om Hendro melanjutkan berapi-api.

Mulut Bulan sudah membuka hendak membantah. Tapi gue rangkul perutnya agar berhenti bicara.

“Manusia diciptakan berpasang-pasangan, Bulan. Dan yang namanya berpasangan, pasti berbeda, ngga mungkin sama. Begitu caranya kita hidup saling menyempurnakan.”

Bulan menghempaskan tangan gue dari perut dan genggamannya.

“Hidupku sempurna ketika bersamanya. Aku ngga butuh apa-apa lagi ketika bersamanya.”

Om Hendro tertawa sinis.

“Bagus! Pergi saja bersamanya dan tinggalkan semua yang berhubungan dengan Ayah!”

Bulan mendengkus lalu berbalik keluar kamar.

Jadi nyesel bawa tu anak masuk. Gue liat mata Om Hendro berkilat menahan marah.

“Saya tahu, Om sayang banget sama Bulan. Tapi kenapa di depan dia, yang Om tunjukkan hanya kemarahan?”

Gue tinggalin Om Hendro sendiri di kamar. Bulan udah berdiri di depan lift, menunggu kotak besi itu naik dari dek sepuluh.

“Kenapa kamu suruh aku masuk tadi?” katanya gusar.

“Karena itu yang kamu harapkan.”

Dia menoleh. Dari ujung mata, bisa keliatan tatapannya yang berusaha menusuk. Biarin. Bodo amat.

Suara denting menandai pintu elevator yang terbuka. Di dalam box besi ini sudah berdiri seseorang yang menyalakan api dendam. Si banci kaleng bersandar di pojokan sambil mainin hape. Dia terkesiap, tapi tak berkata apa-apa. Hanya matanya menatap Bulan penuh harap.

Gue rangkul pinggang Bulan, sengaja menetapkan batasan dengan si cewek berseragam trainee itu. Mereka berpandangan, hanya sebentar karena setelah itu gue sengaja pasang badan sebagai penghalang.

Suara notifikasi ponsel terdengar nyaring. Bulan mengambil gawai dari kantong celana. Sebaris pesan dari Lovely Wifey tampak di layar, “Babe?”

Shit! Gue rampas hapenya lalu berbisik langsung di telinganya, “Jangan hubungan lagi sama dia di kapal ini!”

Dia membalas dengan serangan tatapan mata. Gue ga takut.

“Aku bantu kamu ngapus jejak digital CCTV, tapi jangan pernah lagi berhubungan sama dia selama di kapal ini!” masih dalam bentuk bisikan di kupingnya.

Tatapannya melembut. Dengan cepat dia merampas hape dari tangan lalu sigap membuka aplikasi messenger.

Gue rebut balik hapenya. Langsung blokir kontak dan hapus nomor meski tangannya menggapai-gapai berusaha meraih ponsel yang sengaja gue pegang tinggi-tinggi.

Dia mendecak marah, menatap dengan murka. Denting elevator terdengar lagi. Pintunya membuka di dek sepuluh, tujuan kami. Gue rangkul pinggangnya keluar.

“Ngga berhubungan maksudnya bukan cuma berhubungan badan,” masih ngasih bisikan di kupingnya, “tapi semua jenis komunikasi sama dia. Ngerti?”

Dia mendengkus kesal. Gue tahu, Bulan bukan tipe orang yang suka diperintah. Tapi untuk kali ini, dia wajib nurut. Kasus CCTV semalam udah bisa buat jadi pelajaran biar ngga sembarangan bertingkah selama di kapal. Ngga lama, hanya sampai siang nanti, karena hari ini adalah jadwal untuk say goodbye sama kapal dan pindah ke yacht pribadi.

Captain’s Room adalah restoran besar dengan pemandangan laut lepas. Interiornya dibuat dengan tema ruang navigasi kapal. Para pelayannya pun berpakaian kelasi dengan topi khas yang punya penampakan kaya mangkok kebalik. Gue pesen meja untuk delapan orang, tapi yang tersisa hanya dua orang, Mama sama Papa. Om, Tante, dan dua anaknya udah jalan duluan, siap-siap buat keliling Surabaya.

“Lama banget, sih kalian,” sambut Mama pura-pura merajuk ketika kami sudah sampai di meja.

Bulan mencium tangan Mama dan Papa lalu menjawab dengan tenang, “Iya, tadi ada sedikit acara dulu pagi-pagi.”

“Ehem ehem, penganten baru ada acara apa nih?” Mama ngelirik penuh arti.

“Rahasia, dong Ma,” Bulan mengedip genit lalu mereka terkikik seperti dua sahabat sedang menertawakan seseorang di seberang meja.

Gue sama Papa cuma saling melempar pandang sambil mengangkat alis pasrah.

Mama keliatan bahagia sekali. Mungkin dia menemukan seorang anak perempuan yang lama dirindukan dalam diri Bulan. Entah bagaimana perasaannya kalau tahu menantu kesayangan ini ternyata adalah seorang lesbian. Saat itu terjadi, kira-kira Mama akan membela anaknya atau menantunya? Atau malah menangis sesenggukan karena udah ngejodohin anaknya sama lesbian.

Pusing gue mikirinnya. Mending ngambil sarapan di meja prasmanan. “Aku mau ambil salad buah. Kamu mau diambilin sekalian?”

“Aku mau roti bakar, dong Sayang,” balas Bulan sedikit manja.

Jiah! Sayang? Kenapa jadi mules gue?

“Menteganya banyakin, yah. Biar sedap,” pintanya lagi masih dalam nada manja. Tapi kenapa gue ngerasa lagi dikerjain?

Kembali ke meja dengan kedua tangan menating makanan. Tangan kanan berisi sepiring roti bakar yang menguarkan aroma harum mentega nan menggoda. Sementara di kiri semangkuk penuh salad buah bertopping plain yoghurt.

Bulan menerima pesanannya dengan senyum menggoda disertai dua kata sakti, “Makasih, Sayang.”

Makin eneg ngedenger Bulan pake sayang-sayangan. Apalagi inget message dari si banci kaleng tadi, yaks!

Mereka masih senyum-senyum tanpa sepatah kata pun sambil ngelirik gue. Apalagi Bulan, tatapannya aneh.

“Apa?” akhirnya ngga tahan buat ngga nanya.

“Ngga…” Dua orang perempuan beda usia itu kompak menggeleng.

Lalu dengan santainya Mama merobek roti bakar di piring Bulan dan melahapnya dengan anggun.

Astaga! Sudah sedekat itu mereka. Gue ngga tahu harus bahagia atau gusar.

Akhirnya Papa yang angkat bicara, “Tadi Mama cerita kalo dulu pipimu cukup tebel buat dicubit.”

Uhuk! Keselek jambu merah gue.

Secepat kilat, Mama membantah, “Ngga, Mama ngga bilang gitu, kok.”

“Iya,” Bulan mengajukan bantuan,

“tadi Mama cuma cerita kalo kamu tuh suka banget nyolek-nyolek mentega, keju, butter. Makanya dulu sempat melar.” Lalu mereka terkikik.

Kurang asem! Apa perlu gue lempar yoghurt ni anak?

Tapi, ngeliat Mama bahagia, semua rasa kesel jadi sirna. Kayanya Bulan udah melengkapi kehidupan perempuan yang paling gue sayang.
Lalu, cukupkah itu semua buat bikin gue bertahan? Mempertahankan dia?

***

Moonlight

Mama sama Papa kembali ke kamar duluan. Mereka sadar bahwa sepasang pengantin baru ini akan melanjutkan perjalanan dengan yacht pribadi. Yeah, perjalanan hanimun-hanimunan. Ngga kebayang gimana bakal ngejalaninnya. Mungkin akan diwarnai dengan berantem soal arah, atau yang penting ke tengah laut aja dua hari, trus pulang-pulang gosong.

“Gimana kamu mau ngapusin jejak digital CCTV?” Nah, si Bulan udah muncul aslinya. Mana tadi yang sayang-sayang? Pret!

“Ntar tanyain Ratna.”

Ambil hape dari kantong dan langsung telepon Ratna. Sebagai manajer di divisi IT, kali aja dia pegang kunci buat masuk server Dream Travel. Kalo ngga, nanti suruh U-Bay ngebobol lagi.

Bulan menggosok-gosokkan jari jempol dan telunjuk untuk membersihkan sisa remah roti. “Ratna itu lebih dari temen, kan?” tanyanya lugas sambil meneguk jus jeruk.

Nada dering terdengar nyaring di telinga, tapi tak juga diangkat sampai terhenti sendiri.

“Iya, kan?” desak Bulan lagi.

“Iya, kenapa?” Gue telepon Ratna sekali lagi.

Bulan mengulum senyum samar.

“Ngga apa-apa. Konfirmasi aja. Soalnya kamu keliatan cemburu banget sama suaminya itu.”

Glek! Untung ngga lagi ngunyah apa pun. Kalo ngga, bisa-bisa keselek gue.

“Sok tau!”

Dia tergelak.

“Mukamu kaya open book, semua kebaca, hahaha.”

“Iya, aku emang ngga pinter tepu-tepu kaya kamu.”

Dia menoleh, memangku dagu dengan tangan.

“Itu sebabnya kamu ngga bisa menang main catur sama Ayah.”

Ck! Ngga diangkat lagi sama Ratna.

Bulan tertawa kecil.

“Kamu nyari alesan biar bisa ketemu lagi, ya?” ledeknya tajam.

Lanjut makan salad buah yang tinggal beberapa potong apel lagi. Males nanggepin kaya ginian. Jelas Ratna udah nikah, udah ngga bisa diganggu gugat. Dan dia kayanya dedicated banget sama Sandi.

Iya, rasanya iri. Mungkin jealous juga. Harusnya gue yang ada di posisi cowok culun itu.

Hhh! Cowok culun yang ngga ada culun-culunnya lagi. Mungkin jadian sama Ratna bikin dia jadi lelaki dewasa. Sama kaya gue dulu.

Yes! I miss her.

Tapi masa lalu udah berlalu. Kalo musti balik lagi ke masa ketika memutuskan untuk berpisah. Kayanya keputusan yang bakal diambil ngga akan berubah. Gue pasti bakal tetep putus dari dia.

Getar ponsel beresonansi dengan mangkok salad. Layar menampilkan nama Ratna. Dia nelepon balik!

Yes! Rasanya kaya ditelepon pacar yang lagi LDR-an di hutan susah sinyal.

***

Kamar Ratna ada di dek sembilan, bersama para manajer lain. Dia mengaku tak punya kunci untuk mengambil data di server, namun setidaknya punya akses melewati gate pertama.

“Gila! Emang ada berapa gate?” ujar U-Bay tak habis pikir ketika dimintai tolong via telepon.

“Kayanya kalo gue berhasil, lo musti ganti gate keeper, nih,” lanjutnya jumawa.

Berenam kita berkumpul di kamar Ratna. Ruangan berukuran dua kali lima meter itu terasa agak sesak. Gue duduk bareng Bulan dan istrinya U-Bay di sofabed.

Marini, istri sobat gue itu, keliatan ngga terlalu senang saat ini. Mungkin karena kegiatan liburan mereka jadi terganggu gara-gara suaminya dimintain tolong nge-hack lagi.

Jadi ngga enak hati.

“Sorry, ya Mar, U-Bay-nya gue pinjem dulu.”

Marini mengalihkan pandangan sebentar dari layar hape.

“Oh, ngga apa-apa,” jawabnya tersenyum manis. “Sorry, gue agak pusing dari pagi.”

“Oh, ngidam?”

Dia tersenyum lagi.

“Mudah-mudahan,” katanya penuh harap.

Ini tahun ketiga pernikahan mereka dan buah hati masih juga belum jelas rimbanya.

Ratna duduk di tepi ranjang sembari menyandarkan kepala di pundak suaminya. Pemandangan yang agak aneh buat gue. Seumur-umur, belom pernah liat dia gelendotan segitu manja sama cowok. Bahkan waktu dulu masih pacaran, perasaan gue yang sering ndusel-ndusel dan gelendotan. Mungkin itu sebabnya dia memutuskan buat putus. Dia butuh cowok buat digelendotin, bukan sebaliknya.

U-Bay duduk di meja rias yang dikosongin hingga muat diisi satu laptop limabelas inci milik Ratna. Kali ini si hacker benar-benar berniat liburan. Tak satu pun peralatan digital berisi kerjaan yang dibawa. Akibatnya beberapa software harus diunduh dulu dari drive di cloud.

Mulanya ia berusaha menginstall spyware, tapi ketahuan. Untung pengacak IP address sudah lebih dulu diaktifkan hingga selanjutnya mereka bertarung dengan waktu membobol dengan cara konvensional.

Ratna kemudian mengambil alih, membuka laman hingga tinggal satu password yang harus dibongkar. Kita hanya punya waktu tigapuluh detik agar laman tidak tertutup dan kembali ke awal lagi.

“Tiga belas digit,” seru U-Bay, “ada yang punya ide?”

Gue maju ke samping U-Bay.

“Siapa yang punya akses ke sini?”

“Mertua lo pasti punya akses ke sini. Jangan-jangan malah dia juga yang bikin password-nya,” U-Bay menjawab cepat.

“Ulang tahun Pak Hendro?” Ratna melontarkan ide.

“Ngga mungkin, itu terlalu gampang ditebak,” idenya gue tolak.

“Ulang tahun anaknya?” Ratna berkata lirih sambil melirik Bulan.

“Om Hendro terlalu pintar buat naro tanggal ulangtahun sebagai PIN,” gue berkilah dengan argumen.

“Sesuatu yang penting,” kata-kata ini buat Bulan, “yang penting buat kalian.”

Bulan berdiri ragu. “Moonlight,” ucapnya lirih.

“Moonlight?” Bisa jadi, ini adalah nama anaknya, Cahya Bulan Purnama.

“Cobain Moonlight!”

“Ini angka semua, Coy!”

“Enam…” Bulan maju ke deket laptop, berdiri pas di samping gue.

“nol-nol..enam-enam…empat-empat-empat…satu-sembilan…tiga-tiga…delapan,” lanjutnya.

U-Bay mengetikkan satu persatu. Dan…

“Yes! Masuk! Mau ambil yang mana? Cepetan!”

Tos dulu sama si U-Bay.

“Rekaman CCTV tadi malam, setelah jam 12, di area outbond.”

U-Bay menggerakkan jemarinya cepat dan langsung menemukan video yang dicari.

“Ada tiga, yang mana?” Ratna berdiri, memeriksa file yang terpampang di layar.

Bulan mematung, matanya berkaca-kaca. Gue rangkul pundaknya, tapi dia malah berbalik dan keluar.

“Bulan!” Refleks gue ngikutin.

“Eh, Ratna, tolong lanjutin, ya?” delegasiin tugas dulu sebelum nutup pintu dari luar.

Di luar, Bulan bersandar di dinding samping pintu. Mengatur napas sembari tengadah menghadap langit-langit rendah.

“Kenapa?”

“Ngga apa-apa.” Dia menyusut air di ujung mata.

Terserahlah. Kalo ngga mau ngomong, ngga masalah.

“Masuk lagi?”

Dia menggeleng.

“Liat laut?”

Dia menggigit bibir. Air menggenang lagi di pelupuk mata.

“Menurutmu, kenapa Ayah pake moonlight jadi PIN?”

Jiah! Meneketehe!

“Nama kamu?”

Dia menggeleng kuat-kuat. Airmata tak terbendung lagi. Ditutupinya muka dengan kedua tangan.

“Ayah kan benci sama aku,” keluhnya lirih di antara isak.

Hadeh! Ni anak drama banget dari pagi. Gue rangkul lagi kepalanya, isak pun tumpah di pundak.

“Ayahmu sayang banget sama kamu. Mungkin rasa sayangnya terlalu besar sampe kamu ngga bisa liat. Karena kamu melihatnya dari dekat. Karena hati kalian sesungguhnya sangat dekat.”

Guncangan tubuh Bulan makin keras. Gue harus mendekap lebih erat agar badannya tak terkulai jatuh. Leher gue jadi basah dan hangat karena dibanjiri airmata.

Kenapa cewek-cewek gampang banget nangis? Capek tau, nemenin nangis. Rasanya energi juga ikut terkuras. Beneran, mending nemenin makan daripada nemenin nangis.

Adegan nangis-nangis terpaksa kepotong karena hape gue bunyi. Ada telepon dari Dokter Ardan. “Pak Hendro collaps. Saya otewe ke helipad,” hanya itu yang dikatakannya setelah mengucap salam. Kemudian hanya bunyi tut-tut memenuhi ruang dengar.

“Kenapa?” Bulan bertanya dalam nada cemas.

Gue geret tangannya, setengah berlari menuju elevator.

“Siapa yang nelpon barusan?” dengan terengah dia bertanya lagi.

Pikiran kalut, bersilang sengkarut seperti benang kusut. Gue ga sanggup jawab. Di kepala berbagai kemungkinan hadir silih berganti. Tapi kata collaps tak mungkin berarti baik-baik saja.

“Tolong lift-nya!” gue tereak sama cewek berseragam hitam putih yang baru aja masuk elevator.

Cewek itu menahan pintu lift. Cih! Si banci kaleng! Seumur-umur ga bakal rela minta tolong apa pun sama dia, tapi apa mau dikata, hidup emang gila. Musuh kita hari ini mungkin jadi teman keesokannya. Iya, segila itu kadang.

Si banci itu menatap Bulan lembut. Hanya sebentar, karena begitu masuk lift, gue langsung kekepin dia dalam rangkulan.

“Aku minta maaf soal semalam,” si banci ngomong dengan suara yang sangat rendah.

“Harusnya aku percaya sama kamu.”

Gue lirik Bulan. Digigitnya ujung bibir dengan mata berkaca-kaca.

“Maafin aku,” si banci itu ngomong lagi.

Ugh! Kenapa lift ini jalannya kaya siput?

“Aku dikuasai cemburu,” kata si banci lagi, “padahal kita punya tujuan yang lebih besar dari itu.”

Bangsat emang ni cewek setengah mateng. Bogem aja mukanya!

Bulan berteriak dalam keterkejutan. “Kamal?” suaranya lirih meminta penjelasan.

Si banci terhuyung di pojokan. Darah merah mengalir dari lubang hidungnya.

Gue keluarin kartu nama dari dompet.

“Kalo lo butuh ganti rugi, telepon gue langsung!” Kartu nama dilempar sampe mental di pipinya.

Pintu elevator berdenting ketika tiba di dek enambelas. Deru baling-baling helikopter menyambut kami begitu keluar ke area kolam renang.

“Ayah?!” Bulan berseru tak percaya begitu menyadari lambang palangmerah di badan helikopter.

Secepat kilat ia berlari menuju tangga. Elevator penumpang memang hanya sampai area kolam renang. Cuma lift dari klinik yang sampai ke helipad. Jadi dari sini ada dua tangga yang harus dinaiki. Pertama ke area outbond, lalu baru naik lagi ke area helipad.

Bulan melompati tangga dengan lincah, sementara gue agak kepayahan ngikutin dia dari belakang. Jelas banget butuh olahraga buat nambah stamina. Kalo kaya gini, baru kerasa dah beda usia kita emang jauh banget.

Dokter Ardan berada cukup jauh dari area pendaratan. Dia sudah siap dengan mengenakan kacamata aviator. Bulan mengguncang-guncang tubuh Om Hendro. Mulutnya terbuka lebar, namun suaranya tenggelam oleh deru baling-baling helikopter yang sedang mendarat.

Angin yang tersapu oleh baling-baling membuat kelopak mata tak kuat membuka. Gue berdiri membelakangi helikopter dan berbisik di telinga Dokter Ardan,

“Gimana kondisi Om Hendro, Dok?”

Dia tak menjawab. Gue ngga bisa mengira-ngira ekspresinya di balik kacamata gelap itu.

“Mas Kamal belom buka chat saya, ya?”

Chat? Mana sempet buka chat?

Helikopter telah sempurna mendarat. Dokter Ardan membisikkan nama rumah sakit sebelum mendorong brankar Om Hendro untuk dimasukkan ke dalam heli.

Bulan mengikuti sambil menangis keras.

Gue tarik badannya sembari menenangkan, “Kita ikutin lewat jalan darat.”

Gosh! Kenapa hidup gue makin aneh gini?

Bersambung