Moon Story Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16

Cerita Sex Dewasa Moon Story Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Moon Story Part 3

Aku Yang Salah

“Apa?” Binar matanya ngegemesin. Bikin pengen nyiumin satu-satu.

Wait! Jangan mulai ngebayangin yang iya-iya. Mending kabur ke balkon. No Love No Sex, perjanjian terkonyol abad ini.

Angin laut menghantam wajah begitu pintu dibuka. Beban pikiran yang tadi menggelayuti seolah ikut terbang entah ke mana.

Bulan mengikuti sambil menjinjing gamis putihnya. Angin memainkan rok, juga helaian rambut yang sudah terlepas dari ikatan. Binar matanya masih memancarkan keingintahuan. Seolah berkelip-kelip menandakan bahwa prosesor otaknya sedang bekerja keras.

“Apa alasannya?” dia masih mengejar.

Gue diemin. Ngga pengen jawab. Lagian ngga perlu dijawab.

“Kamu pernah menang main catur lawan ayahmu?” jelas, ini pengalihan pembicaraan. Kan udah dibilang, ngga mau jawab.

Binar matanya seketika pudar. Dia tertegun, kemudian berujar lemah, nyaris tak terdengar, “Pernah.” Perlahan ia memutar tubuh, melangkah menuju birai balkon.

Di sana Bulan menyandarkan perut.

Angin laut memaksa kelopak matanya menyipit. Susah payah ia menantang samudera di hadapan.

“Satu kali,” dia berkata lagi, “trus ngga pernah lagi.”

Ada nada sedih di sana. Nada yang bikin gue ragu untuk lanjut bertanya. Tapi udah telanjur kepo, jadi tetep aja nanya, “Kapan?”

Dia menunduk, menyembunyikan tawa pahit. “Waktu TK.”

“Hah?” Gue salah denger, kan? “Kamu ngalahin Om Hendro waktu TK? Pasti Om Hendro yang ngalah itu.”

“Eh, enak aja! Ayah tuh ngga pernah ngalah, biar pun sama anak sendiri.”

“Ngga mungkin! Kemaren aja aku maen tiga set sama Om Hendro, kalah semua. Masa bisa dikalahin sama anak TK.”

“Ngga usah minder hanya karena aku jenius. Hahaha!”

Huh! Sombong!

“Ibu ngga sempet tahu kalo aku akhirnya berhasil ngalahin Ayah.” Matanya menerawang jauh hingga batas horizon.

“Kenapa?”

“Malam itu, ibu ngga pulang,” suaranya lirih dihempas angin.

“Besoknya baru ibu datang,” air menggenang di pelupuk matanya, “dalam bentuk jenazah.”

Glek! Pantas saja, cerita kemenangan ini membangkitkan kesedihan yang mendalam.

Dia menghela napas panjang, kemudian menoleh seraya tersenyum.

“Pinter, ya ngalihin pembicaraan,” katanya dalam kerling jenaka.

Awan putih tipis berlapis-lapis di langit biru. Perasaan gue jadi ngga enak karena udah membawa naik kenangan lama yang mungkin udah susah payah dikubur dalam-dalam.

“Sorry.”

“Yah, itu masa lalu.” Dia membungkuk, menumpangkan dagu pada bilah birai balkon.

“Sejak itu, aku hampir ngga pernah ngobrol lagi sama Ayah.”

“Kenapa?” Ups. Kebiasaan nanya kenapa hampir setiap waktu. Dia menoleh, sedikit mendongak. Bikin gue ngerasa kaya subjek penelitian yang sedang diamati.

Bulan ketawa kecil. Bukan karena geli, karena yang terdengar justru kepahitan.

“Ayah sibuk. Aku ngga boleh deket-deket.”

Manggut-manggut, nahan lidah biar ngga tanya kenapa. Ganti pertanyaan mungkin bisa jadi lebih baik.

“Kehilangan istri bikin Om Hendro sibuk kerja, ya?”

Jadi ngerasa relate banget, karena inilah yang gue lakuin segera setelah mutusin ulet bulu. Untungnya ga ada anak yang perlu diperhatiin.

Dia ketawa lagi, lebih pahit dari sebelumnya.

“Sibuk ngerokok,” katanya,

“aku ngga boleh deket-deket kalo Ayah lagi ngerokok. Sialnya, Ayah ngerokok ngga brenti-brenti.”

Bengong. Akhirnya ngerti, kenapa Om Hendro kena kanker paru-paru sekarang.

“Itu sebabnya kamu jadi perokok juga sekarang?”

Dia tersenyum, menegakkan punggung.

“Aku ngga sedangkal itu,” katanya.

“Dangkal?” Jarak dari tempat kami berdiri hingga permukaan laut terlihat jauh sekali.

Buih-buih akibat irisan haluan pada muka samudera tampak berkejaran, bergulung-gulung menyatu lagi dengan lautan.

“Menurutmu, berapa dalamnya laut?”

“Nah!” Bulan berseru mengejutkan.

“Masih berusaha berkelit, ya?” Disodorkannya jari berbentuk pistol, menusuk langsung ke pinggang.

“Hei!” Gue paling ngga tahan digelitik. Dan sekarang dia tahu kelemahan satu itu.

Bulan kini menusuk-nusuk dengan penuh semangat sementara gue kelimpungan menghindari serangan pistol paling cantik sejagad.

“Heh! Woy!” Gue pegang tangannya, tapi dia malah pake mulut.

Mau menghindar ke mana lagi? Udah di pojok banget. Apa nyerah sekalian? Ngga dosa ini.

Tapi itu akan menodai perjanjian. Gue ngga mau dibilang pembohong hanya karena melanggar kata-kata sendiri. Jadi alihin perhatian lagi.

“Pernah bungee jumping?”

Dia berhenti menyasar perut dan pinggang dengan mulut.

“Bungee jumping?”

Hahaha! Gue tahu dia suka petualangan.

“Berani lompat dari sini? Ngga pake tali?”

“Itu free jumping namanya.”

“Whatever. Berani, ngga?”

Matanya berbinar lagi. Kali ini terlihat sangat nakal dan seksi sekaligus.

“Siapa takut?” Dia bersiap menaiki birai balkon.

“Bentar.” Gue tahan tangannya. Ni anak ngga sabaran banget.

“Kita siapin pelampung dulu.”

Gue ambil hape buat nelepon Dokter Ardan.

“Halo, Dokter. Tolong, ada yang terjun dari dek 14a.”

Bulan menutup mulutnya, menahan kikik yang mendesak keluar. Begitu sambungan telepon dimatiin, dia langsung melompat ke laut.

Roknya berkibar hingga menutupi kepala. Dasar cewek ngga pake mikir. Bakal bahaya berenang pake baju gamis gitu.

Gue lompat ketika dia belum menyentuh muka laut. Gravitasi menarik badan cepat. Langsung melesat entah berapa meter di bawah laut.
Air asin terasa hangat membasahi pori-pori kulit. Waktu sampe di permukaan, Bulan sama sekali ngga keliatan. Harusnya dia udah ada di sini dari tadi.

“Bulan?”

Gue mulai panik. Apa dia ngga bisa berenang? Apa dia tenggelam?

Cepet-cepet ngambil napas sepenuh paru-paru langsung menyelam mencari Bulan. Ngga jauh dari situ, dia megap-megap panik. Gamis putihnya membelit kaki hingga tak dapat bergerak. Tangannya menggapai-gapai dan gelembung dari hidungnya semakin mengecil.

Sialan! Siapa suruh terjun ngga pake mikir. Yang kaya gini bisa menang main catur sama Om Hendro? Ngga percaya gue.

Gue lepas gamis dari badannya hingga dua kaki yang terbelit bisa bergerak. Dengan cepat ia mengayuh, mencari udara ke permukaan.

“Huah! Kamal! Hahaha!” Gila! Dia ketawa! Ngga sadar barusan nyaris mati?

“Tengkyu! Aku tahu kamu bakal nolongin aku! Hahaha!”

Enak banget ngomong.

“Ganti baju dulu harusnya tadi….” kalimat ini ngga selese. Dia keburu ngebekep mulut gue pake mulutnya.

Cuma sebentar, lalu, “Udah, ngga usah ngomel. Ayo kita senang-senang!” katanya kembali membusurkan badan untuk menyelam.

Gue masih ngga percaya yang barusan. Bukannya dia sendiri yang bilang ciuman bibir itu sacred? Atau yang barusan ngga bisa dibilang ciuman?

Oke, bukan ciuman. Berarti kalo mau nambah lagi, boleh, nih? Bukan ciuman, berarti juga bukan termasuk sex. Ye kan? Ye kan?

Perahu karet datang beberapa saat setelah kami bermain air. Petugas langsung menyodorkan selimut untuk menutupi tubuh Bulan yang hanya mengenakan dua potong pakaian dalam. Untungnya gue masih pake singlet dan celana pendek, ngga terlihat terlalu telanjang.

Si petugas keliatan berkali-kali ngelirik ke arah Bulan. Mungkin berharap selimut yang menutupinya tersingkap sedikit saja. Jangan mimpi! Bakal gue kekepin sampe kamar.

Di kamar dia masih melepaskan tawa yang tertahan sejak naik ke atas perahu karet.

“Kamu liat ngga tadi? Kapalnya agak miring ke belakang, loh,” katanya di sela tawa, “orang-orang pada lari ke belakang buat ngeliatin kita.”

Gue ngangkat bahu. Ngga perhatiin. Lebih fokus ngawasin si petugas yang jelalatan.

“Tengkyu, yah.” Dia merangkul lagi.

Selimut yang bergantung di pundak terlepas. Seluruh tubuhnya terpapar jelas kecuali bagian yang tertutup pakaian dalam.

“Tadi itu pengalaman super banget!” Lalu dia masuk kamar mandi begitu saja.

Gila! Dia pikir gue gay apa? Ngga ngefek apa pun dikasih pemandangan kaya gitu.

“Knock knock!” Gue ngetok pintu kamar mandi.

“Who’s there?”

“Your husband, pengen ikutan mandi.”

“Dream on!” Yah, namanya juga usaha. Ditolak sudah biasa.

Namun kemudian suara ketukan asli terdengar dari pintu kamar.

“Who’s there?”

“Room service.” Lah? Ngapain? Perasaan ngga pesen apa pun.

Pas dibuka, keliatan jelas mukanya si banci kaleng mengenakan seragam hitam putih khas trainee. Yang aneh, dia pake rok! Gue melongo liatnya.

Dia masuk tanpa disuruh dan langsung nanya dengan songong, “Mana Bulan?”

“Lagi mandi,” gue ngejawab masih dalam mode bingung.

Seenaknya, dia ngegedor pintu kamar mandi.

“Yo, Beb!”

What? Beb, katanya? “Heh? Lo Adrian, kan?”

“Iya, kenapa?”

“Lo cowoknya Bulan, kan?” Gue masih susah percaya.

“Gue ceweknya, kenapa?”

Ceweknya? “Maksudnya…?” Bingung gue mau nerusin.

Pintu kamar mandi dibuka. Bulan muncul hanya dililit handuk dari dada hingga setengah paha. Keterkejutan terlihat nyata di wajahnya.

“Beb? Awww! Aku kangen!”

Dan mereka berpelukan. Lalu berciuman.

Dan gue…

Aaarrgh!

***

Pool Party

“Woy!” Enak banget pelukan, ciuman depan orang. Gue pisahin bahu mereka yang lengket kaya kesiram lem korea.

“Ngapain lo ke sini?” Gue tendang tulang kering si banci kaleng sampe dia jatoh bersimpuh. Teriakan Bulan melengking mengikuti erangan si cewek trainee room service ini.

“Gue udah bilang bakal jadi suami cewek lo setahun. Ini blom ada sehari lo udah gangguin.”

Dia berusaha bangkit, tapi memar di kakinya menghambat pergerakan. Bulan mengulurkan tangan buat membantu berdiri, tapi kalah cepet sama tangan gue. Banci kaleng menahan erangan waktu gue banting ke pintu kamar.

“Keluar lo!”

“Kamal!” Bulan nahan tangan gue biar ngga lanjut nonjok.

“Apa-apaan, sih?”

“Dia yang apa-apaan! Ini bahkan belom sehari, dan dia mau mengacaukan semuanya. Mana yang katanya ngga masalah?” Gue tantang mata Bulan.

“Inget, ya. Kita punya perjanjian soal pencitraan. Kamu tahu ada berapa wartawan gosip di kapal ini? Kamu mau nyerahin diri buat digoreng? Begitu ada yang notice sesuatu ngga beres di sini, investigasinya bisa ke mana-mana, tau?”

Bulan diem. Matanya masih nantangin tapi ngga bisa ngelawan.

“Lo yang apa-apaan! Gue udah bilang hati sama tubuhnya punya gue! Lo pikir bisa ngerebut segampang itu?” Si banci kaleng nyolot sambil berusaha berdiri pake satu kaki.

“Hah? Siapa yang mau ngerebut?” Sebenernya kalo Bulan mau ngga apa-apa juga, tapi mana mungkin.

“Bukannya kalian homo? Emangnya dia mau jadi hetero?”

Bulan melangkah cepat menengahi. Dengan memegang kedua pipi si banci kaleng dia bicara, “Iya, aku ngga mungkin mau sama dia. Plis percaya aku, Beb.”

Cih! Bucin! “Keluar lo! Sebelum gue bikin tambah bonyok!”

Si banci kaleng masih berusaha nyerang pake tatapan mata. Gue tarik tangan Bulan biar ada ruang buat ngebuka pintu.

Cewek rasa cowok itu keluar dengan terpincang-pincang. Bulan berbalik. Ada air menggenang di matanya.

Persetan! Gue ga bakal kasian.

“Kamu lagi! Emang di Semarang ngga ada cowok sama sekali, sampe maennya sama cewek juga?”

Dia berbalik. Satu galur air terlihat nyata di pipi.

Sekelumit rasa tak tega menyusup di hati. Paling ga tahan gue liat cewek nangis.

Tapi matanya nyalang natap gue, memupus semua rasa kasihan.

“Ngga ada cowok yang berkualitas,” datar dia menjawab.

“Ngga ada?” jelas gue ngga terima.

“Iya, ngga ada! Semua cowok cuma mikirin dirinya sendiri. Mereka cuma ngeliat tubuhku. Yang mereka mau cuma badanku!” dia meradang.

Ga ada yang bisa dibantah. Ngeliat dia polosan cuma dililit handuk gini, dalam hati hanya bisa ngomong, siapa suruh cakep banget.

“Iya, kan?!” suaranya udah jadi teriakan di kuping.

“Ngga.” Harus jawab ngga biarpun ngga bisa kasih alasannya.

Dia tertawa sinis, menarik lilitan handuk hingga melorot ke lantai.

Damned! Badan spontan panas dingin. Jantung berdegup seperti sedang berlari.

Seringainya makin lebar.

“Jangan bilang kamu ngga tertarik,” ejeknya memamerkan tubuh tanpa penutup seutas benang pun.

Sialan! Gue lampang dinding di samping kupingnya sampe dia terjengit merapat ke belakang.

“Iya aku tertarik. Bahkan kalo sekarang aku pake badanmu buat memuaskan nafsu, itu bakal dibilang sebagai nafkah batin dari suami untuk istrinya. Lalu, kamu mau apa?”

Sekilas, ketakutan berkilat di matanya. Tak ada napas dikeluarkan Bulan, meski jarak kita tak lagi sampai sesenti.

Dia membeku, menempel bugil di dinding. Sementara gue masuk ke kamar mandi. Ngebalurin lotion demi mengurai ketegangan.

***

Bulan tak bicara lagi sejak insiden siang tadi. Mukanya kusut meski dilapis riasan mulus tanpa cela.

“Ini pesta kita,” di dalam elevator, gue coba buka suara, “apa kata orang-orang kalo mukamu kelipet-lipet gitu?”

Dia mendengkus lalu langsung keluar begitu pintu lift kebuka. Punggungnya yang tanpa penutup bergerak menjauh menuju area kolam renang.

Malam ini, resepsi pernikahan dihelat dengan konsep pool party. Kolam renang di dek 16 diubah menjadi area pesta. Lilin-lilin aromaterapi dibakar dan diapungkan di permukaan kolam. Hasilnya adalah udara hangat yang dipenuhi aroma kayumanis.

Panitia menghampiri, bertanya apa ada lagu khusus yang ingin didengarkan oleh kedua mempelai. Ngga ada satu lagu pun mampir di otak. Sampe gue liat lagi muka kusut Bulan memandangi kolam sambil memegang segelas sirup merah.

“Come As You Are, Nirvana.”

Ada yang lebih besar dari ego ketika mengharapkan kebahagiaan orang lain. Gue marah semarah-marahnya, tapi bukan pada Bulan. Dia sendiri korban.

Andai boleh memilih, dia pasti lebih suka tak pernah menikah daripada harus terjebak sama gue. Sayangnya, hidup kadang hanya memberi pilihan menderita atau tidak bahagia. Dia memilih tidak bahagia. Sementara gue bikin pilihan ketiga, membahagiakannya.

Kayanya membahagiakan orang lain adalah jalan ninja gue. Makanya semua orang yang datang dalam hidup, selalu hadir buat ngambil manfaat doang. Hidup macam apa ini?

Apa boleh buat. Ngeliat orang lain menderita di saat gue bisa bikin dia bahagia itu lebih menyakitkan daripada menanggung penderitaan seorang diri.

“The next song is especially for the bride and the groom,” suara vokalis menarik perhatian para undangan. Sontak lampu sorot mengarah pada Bulan.

“May they live happily everafter!”

Cih! Mana ada yang disebut hidup bahagia selamanya. Ini bukan dunia dongeng Cinderella. Bahkan sekarang pun, masih ga yakin sedang berbahagia.

Bulan tampak terkejut menyadari disorot lampu besar. Sekali lagi dia harus berpura-pura bahagia. Senyum palsu menghias bibir. Tatapannya mencari-cari. Gue tahu siapa yang dicari.

Sekeliling telah gelap gulita. Hanya ada kelip cahaya dari lilin aromaterapi. Lampu sorot kedua menari-nari di antara undangan. Kemudian berhenti dan menyorot gue. Nasib jadi seleb dadakan.

Dia tersenyum. Tangannya terulur menyambut. Musik intro membahana di antero area kolam. Band pengiring pernikahan ini sepertinya beraliran jazz. Distorsi suara gitar ciri khas grunge lenyap sama sekali, berganti dengan lompatan-lompatan nada yang sangat jazzy. Musik yang membuat kepala auto-bergoyang, kini beralih menjadi alunan irama yang cukup lembut mengiringi dansa.

“Ini pasti kerjaanmu,” katanya mengalungkan lengan ke leher gue.

Ya iyalah, siapa lagi? “Come as you are, as you were, as anything you want to be…”

“Eh?” Dia menatap gue, bibirnya mengurai senyum lebar.

“Bukan gitu liriknya.”

“Hehehe, terserah. Ini bukan liriknya, ini suara hatiku buat kamu.” Hahaha, tepuk tangan buat gue yang tiba-tiba pandai merangkai kata.

“Oya?”

Apa pun-lah. Gue cuma mau, seenggaknya dia bisa bener-bener menikmati malam ini. Meski rasanya ngga akan semenyenangkan jika ini adalah pernikahan sungguhan.

“Trust me, I don’t have a gun. I only have a heart to accept you as anything you want to be.”

Dia tertawa. Ya seperti itu. Gue suka suara tawanya. Terdengar manis dan lepas.

“Jadi sekarang kamu nerima aku sebagai lesbian?”

Gue ngangguk.

“Apa ada pilihan lain?”

Dia tertawa lagi. Tangannya masih melingkar di leher, sementara di pinggangnya ada tangan gue. Siapa pun bakal ngeliat kami sebagai relationship goal abad ini.

“Jadi kamu ngedukung aku sama Adrian, kan?”

Kalo ini bisa dijawab mantap, “Ngga!”

“Kenapa?” Wajahnya agak kecewa.

“Kalian bikin jumlah populasi cewek cantik yang bisa kukawinin berkurang.”

Bulan ketawa. Gosh! Suara tawa itu renyah banget. Bikin pengen melumat bibir merahnya.

“Kalo gitu, kamu doain aku biar putus sama Adrian?” dia nanya lagi.

“Aku ngga yakin Tuhan mau ngedenger doaku.”

“Bukannya Tuhan pasti akan mengabulkan doa hamba-Nya?”

“Emang aku masih dianggap hamba-Nya? Perasaan udah lama banget ngga melayani-Nya.”

Dia tergelak lagi. Kali ini lebih lebar dan lebih lepas. Iya gini aja terus. Suara tawanya bikin hidup gue lebih ringan.

Suara musik berhenti. Kami sama-sama berbalik, menghadap band dan bertepuk tangan sebagai tanda terimakasih.

Kemudian orang-orang seperti bergantian datang mengucapkan selamat. Banyak yang ngga gue kenal. Ada yang mengenalkan diri sebagai kolega Papa, bawahan Om Hendro, rekan bisnis, dan entah apa lagi.

U-Bay juga dateng bareng istrinya. Beberapa temen yang berhasil meluangkan waktu untuk ikut liburan pun ikut ngasih selamat.

“Ngomong-ngomong, temen-temenmu ngga ada yang dateng?” gue jadi penasaran sama temen-temen Bulan.

“Ngga ada. Aku ngga ngundang-ngundang,” jawabnya asal sambil nyomot potongan macaroni schotel yang dibawa pelayan.

“Haha, bilang aja ngga punya temen.”

Dia menoleh tanpa berhenti mengunyah.

“Iya, kenapa?” balasnya setelah menelan isi mulut.

Kasian amat nih anak, temen aja ngga punya. Padahal masih kuliah, harusnya anak seangkatan bisa diangkut ke sini.

“Aku mau cari minum,” katanya lagi melangkah menuju meja prasmanan.

Dari arah berlawanan, ada pelayan menating nampan yang juga bergerak ke arah yang sama.

Sialan! Si banci kaleng lagi!

Buru-buru gue ngikutin Bulan. Tapi seseorang tiba-tiba nyetop langkah.

“Hai,” suaranya bulat penuh dan dalam, “slamet, ya Mal.”

“Ratna?” dalam keremangan, berusaha mengenali sosok perempuan bergaun marun di depan gue.

Dia tertawa. “Kirain lupa.”

Mana mungkin lupa sama partner praktek make kondom pertama kali.

“Kok kamu bisa di sini?”

***

Malam Pertama

“Aku kerja di sini,” jawabnya ditingkahi tawa.

“Di Golden Cruise?” Wadaw! Ini judulnya, Mantanku, Karyawanku, hahaha.

Udah punya seperempat porsi saham Purwaka Grup, bolehlah nyebut ini perusahaan milik sendiri. Ketawa culas dalam hati.

Dia tergelak.

“Aku di Dream Travel-nya. Divisi IT,” ujarnya menjelaskan.

“Oh.”

Baru sadar, tadi kan mau ngikutin Bulan biar ngga deket-deket lagi sama si banci kaleng. Di mana dia sekarang? Di meja udah ga keliatan. Apa dibawa kabur banci kaleng? Sialan, tuh anak.

“Eh, kenalin,” suara Ratna mengalihkan konsentrasi lagi. Seorang lelaki menghampiri dan langsung berdiri merangkulnya, “Mas Sandi, suamiku.”

“Hai. Selamet, ya,” lelaki itu nyodorin tangan buat salaman.

“Sandi?” Ga bisa nahan diri buat ngakak.

Ini cowok yang dulu bareng sama Ratna ngelanjutin S2 ke Jepang. Sekarang mereka beneran jadian. Asem!

“Jadi gue diputusin gara-gara lo?”

Sandi tergelak penuh kemenangan.

“Kurang ajar, lo!” Kenapa nasib gini-gini amat, yak? Mantan terbaik, sekarang malah nikah sama cowok culun yang dulu cuma menang pinter doang.

Sementara gue, diselingkuhin sebulan sebelum wedding day, dan nikah sama lesbian.

Salah gue apa?

“Hai,” Bulan tiba-tiba dateng entah dari mana dan langsung ngerangkul tangan gue.

Ngeliat wajah secantik dewi yang dia punya, rasanya ini waktu untuk bersyukur. Gimana pun semua orang cuma tahu kalo Kamal menikah dengan pewaris tunggal Purwaka Grup yang memiliki kecantikan setara bidadari dan sekarang punya seperempat saham salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Semua cowok pasti iri sampe langit ketujuh.

“Hai, kenalin ini temen kuliahku dulu. Ratna sama suaminya, Sandi.”

Seperti biasa, Bulan sangat pandai masuk dalam percakapan. Dia langsung terlihat akrab dengan Ratna sampe bikin gue ngerasa tersisih.

Pesta berlangsung meriah hingga hampir tengah malam. Akhirnya gue bisa ketemu sama anak songong yang bilangin gue ulatan. Bulan sampe ngakak puas banget waktu tahu cerita ini.

Dengan berjongkok hingga dapat menatap lurus mata si kriwil cantik, dia bertanya, “Ulatan kena ulat bulu, ya Dek?” Ini si Bulan nanya apa ikutan nyindir?
Anak itu malah seperti tak terima mendengar nada meledek dari Bulan.

“Ulat bulu kan cantik-cantik, Kak,” balasnya.

“Oh, tentu! Memang cantik-cantik, tapi bikin gatel,” Bulan makin semangat ngegodain. Terus aja, terus!

“Itu kalo kita jahatin. Ulat bulu itu baik dan cantik.”

Bulan terkikik menahan tawa.

“Iya, ya?” Puas banget kayanya ni anak berdua ngeledek gue.

“Dia suka banget sama ulat bulu,” Uminya menjelaskan dengan bangga.

“Di rumah, kita melihara ulat bulu sampe jadi kupu-kupu.”

“Kalo udah jadi kupu-kupu, jadi lebih cantik!” si anak kriwil itu menambahkan dengan mata berbinar semangat.

Bulan tergelak puas sambil ngelirik ngeledek. Kurang asem!

Ikutan senyum aja, dah. Kita lagi ngomongin ulat bulu yang berbeda.

“Dokter Ardan ngga ikut, Mbak?” ngalihin pembicaraan biar ngga baper.

“Iya, nemenin Pak Hendro tadi. Mungkin kecapekan, kondisinya jadi agak drop,” Uminya si kriwil menjawab dengan nada sedih. Pantas saja, tadi siang pun suara Om Hendro sudah terdengar serak dan putus-putus.

Bulan berdiri untuk ikut dalam pembicaraan orang dewasa.

“Ayah sakit?”

Istri Dokter Ardan ngelirik minta bantuan. Dia pasti udah diwanti-wanti supaya ngga ngasih tahu apa pun perihal penyakit Om Hendro pada Bulan.

“Biasalah, namanya juga orangtua,” gue gamit tangan si Bulan biar dia ngga nanya-nanya lagi.

Trus pamit sama istri Dokter Ardan buat balik ke kamar.

Area kolam mulai sepi dan rasanya udah capek pasang muka senyum semalaman. Bulan ngikutin dengan bahagia. Kayanya dia juga udah ngga sabar untuk menghempaskan diri ke kasur.

Di dalam lift baru sadar, CCTV ada di mana-mana. Bahkan di ruang sempit tertutup begini pun kamera pengintai itu selalu mengawasi.

Bulan bersandar di dinding sambil mengembuskan napas. Gue tarik tangannya sambil menunjuk kamera dengan dagu. Dia tertawa dalam lelah, lalu menyandarkan kepala ke pundak.

“Yeah, ayo kita bikin pencitraan terbaik malam ini.”

Gue rangkul pinggang Bulan sehalus mungkin. Pencitraan ini harusnya bisa jadi menyenangkan andai saja dia bukan lesbian. Tapi sekarang, semua terasa hambar.

Sebuah dentingan menjadi penanda bahwa pintu elevator akan terbuka. Kami jalan bergandengan tangan keluar lift di dek 14a. “Aku mau jenguk Om Hendro dulu. Kamu duluan aja ke kamar,” kata gue ngasihin kartu kunci kamar pada Bulan.

Cewek itu bergeming, agak mendongak menatap mata gue.

“Sakit apa ayah?”

Hhhh! Harus dijawab, nih?

“Kenapa kayanya semua orang tahu kecuali aku?” dia merajuk dengan kesal.

“Mau ikut?” gue nanya biar ngga perlu masuk dalam lingkaran ngambeknya.

ia masih bergeming.

Gue udah capek. Pengen nyelesein semua urusan malam ini supaya bisa tidur dengan tenang sampe besok pagi.

“Oke,” dia menjawab dan langsung melangkah menuju kamar Om Hendro.

Di depan kamar Om Hendro, kami bertemu Dokter Ardan yang baru saja menutup pintu. Matanya terlihat lelah dan wajahnya tampak sedih. Dia menatap Bulan agak bingung, namun kemudian mengangguk untuk pamit sambil memberitahukan,

“Pak Hendro baru aja tidur. Baiknya ngga usah diganggu dulu, biar istirahatnya sempurna.”

“Ayah sakit apa, Dok?” Bulan bertanya tak sabar.

Bukannya jawab langsung, Dokter Ardan malah ngeliatin gue.

Asem! Kenapa kayanya semua tergantung gue? “Ok, makasih, Dok. Besok aja saya ke sini lagi,” langsung pamit sambil nyodorin tangan buat salaman.

“Ya, sama-sama,” kata Dokter Ardan lalu nepuk pundak gue.

“Bentar, Dok….” gue gamit tangan Bulan sebelum dia selesei ngomong.

Dokter Ardan menjawab dengan anggukan kemudian pamit.

Bulan meremas tangan gue gemas.

“Kamu tahu Ayah sakit apa?”

Balas meremas dengan lembut.

“Apa itu penting buatmu?”

Sambil mendecak, dihempaskannya tangan gue kasar. Lalu dengan gerakan menghentak, ia melangkah menuju kamar.

Gue harus berjalan cepat agar dapat menjajarkan diri lagi. Astaga! Dia sedang menggigit bibir, menahan tangis.

“Sini.” Gue arahin kepalanya ke pundak.

“Kalo mau nangis di sini aja.”

Mula-mula ga ada suara. Perlahan kemudian terdengar isaknya di antara bahu yang berguncang. Dia membalas rangkulan dengan sangat erat.

“Aku benci ayah! Benci!” dia memukul-mukul punggung gue. Ngga sakit, karena tangisnya terdengar lebih perih.

“Tapi kenapa kayanya cuma aku yang ngga tahu soal sakitnya?” suaranya meradang.

“Kenapa?! Kenapa!”

Raungan Bulan terdengar bergema di koridor sempit itu. Seiring airmata yang membanjir, tubuhnya pun makin lemas dalam lingkar tangan gue. Hampir aja dia melorot kalo ngga ditahan dengan kekuatan.

Tangisnya terhenti tak lama kemudian, menyisakan secuil isak yang mengiris hati.

“Kenapa dia malah ngasih tahu kamu? Padahal kalian kan baru aja ketemu. Kenapa?” tanyanya lirih bikin ngga enak hati.

“Aku juga ngga sengaja tahu,” akhirnya malah menyampaikan pembelaan.

Bulan mengangkat wajah, sedikit mendongak agar langsung menatap mata gue. Seluruh mukanya bersemu merah. Riasan tanpa cela yang tadi menempel sempurna, telah luntur tergerus airmata. “Ngga sengaja?”

Gue rangkul pinggangnya untuk melanjutkan langkah ke kamar.

“Maksudnya ngga sengaja?” Bulan mendesak tak sabar.

“Kamu beneran mau denger ceritanya?”

Bulan mengangguk yakin.

Di kamar, gue ceritain semuanya. Bulan duduk di tepi tempat tidur, menyimak dengan konsentrasi penuh. Om Hendro pasti ngga bakal suka Bulan tahu penyakit yang ia derita. Tapi, bagaimana pun, gadis ini wajib tau. Akan ada banyak hal yang perlu dia persiapkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.

“Kanker paru-paru?” dia balik bertanya tak percaya. “Berarti rumor itu bener, ya?”

Dering telepon memutus pembicaraan kami. Bulan bergegas ke meja rias, tempat ponselnya berada.

“Iya, otewe,” hanya itu yang dikatakan setelah panggilan diterima.

Kemudian cepat-cepat dia berganti pakaian seenaknya di depan mata.

“Woy! Ngga bisa ganti baju di kamar mandi napa?”

“Ah, ribet. Lagian cuma ada kamu ini di sini.”

What? Dia kira gue apa? “Heh! Yang homo itu kamu. Aku seratus prosen hetero, tau!”

“Ya udah, ngga usah liat. Susah amat.”

Hah? Seenaknya!

Oke, kalo itu maunya, gue jabanin! Mumpung dikasih pemandangan bagus, mana boleh disia-siain.

Bulan mengganti gaun pengantin dengan kaus ketat tanpa lengan berleher rendah. Sebagai bawahan, dia mengenakan celana tiga perempat yang cukup pas membalut kaki. Secepat kilat ia membersihkan wajah dari sisa-sisa riasan dan airmata lalu memulas bedak beserta lipstik tipis-tipis.

“Jangan bilang, kamu mau pacaran?”

Dia tersenyum melalui pantulan cermin.

“Kamu beneran mau ketemu sama si banci itu?”

Masih melalui pantulan cermin, dia menghujamkan tatapan.

“Adrian, namanya Adrian. Dan dia bukan banci,” satu pembelaan tajam dilontarkan.

Bener-bener ngeselin.

“Kamu lagi waras, kan? Tahu sendiri CCTV di mana-mana. Kamu mau ketangkep kamera lagi pacaran sama cewek?”

“Aku akan hati-hati,” katanya, kali ini langsung menoleh biar kita berhadapan.

Gue berdiri, menghalangi langkahnya mengambil alas kaki di rak sepatu.

“Jangan!”

Dia mendecak kesal.

“Apa, sih?”

“Tunggu sampe balik ke Semarang. Aku ngga akan ganggu kalian di sana. Tapi di sini, kapal ini penuh wartawan gosip, Lan!”

“Hhh! Ngeselin banget, sih? Minggir!”

“Ngga!”

Dia menantang dengan pandangan mata. Hanya sesaat. Kemudian ekspresinya berubah memelas.

“Aku butuh ketemu sama dia. Hari ini melelahkan banget. Aku butuh ketemu dia, Mal. Plisssss?” Gila! Anak ini bener-bener aktris.

Sialan! Paling susah nolak cewek kalo udah gini. Tapi mengingat gimana mereka tadi ketika baru aja ketemu, ngelepasin anak ini ketemuan sama si banci kaleng mungkin bakal nyusahin nantinya.

“Kamu butuh dia buat apa? Aku bisa gantiin dia malam ini.”

Bulan mendecih.

“Dia ngga tergantikan!” Dengan keras mendorong gue ke dinding lalu membuka rak sepatu.

Dasar kepala batu.

“Ketemuan di mana?”

“Area outbond. Ngga bakal ada orang di sana tengah malem gini,” katanya sambil memasukkan kaki kiri ke dalam sneakers.

Gue lepas jas dan sampirin ke bahunya.

“Pake, nih!”

Dia menatap bingung.

“Area outbond, daerah paling tinggi di kapal. Angin di sana pasti kenceng banget. Jangan sampe kamu masuk berita dengan headline Pewaris Purwaka Grup Masuk Angin di Malam Pertama.”

Dia ketawa.

“Makasih,” katanya membuka pintu kamar.

“Balik sini sebelum subuh. Jangan sampe ada yang liat kalian keluar dari kamar yang sama besok pagi.” Gue cabut kartu kunci buat dia bawa.
Seluruh lampu di kamar padam seketika.

“Jadi gelap, dong.”

“Aku mau tidur, ngga butuh lampu.” Yang penting pendingin ruangan tetap menyala karena menggunakan AC central.

“Terserah.” Dia mengambil kartu kunci dan menutup pintu dari luar.

Tinggal gue sendirian. Malam pertama dalam imajinasi ngga pernah sesepi ini. Yah, kalo realita seindah imajinasi, jangan-jangan ini adalah dunia komik.

Bersambung