Moon Story Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Tamat

Cerita Sex Dewasa Moon Story Part 36 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Moon Story Part 35

Tornado Dalam Kepala

Papa melorot di kursi yang didudukin. Jari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran nutupin mulut.

Hana menyentak bingung, “Maksudnya?” Gara-gara terlalu fokus nyiapin pisang goreng buat Bulan, jadi ga sadar dia udah duduk di kursi tepat di hadapan Papa.

Kayanya adek gue ini ngga tahu apa-apa soal kisah cinta kedua orangtuanya.

Bulan masih belom brenti ngunyah. Emang bener kata orang, bumil nafsu makannya ngga tanggung-tanggung. Biarin aja, dah. Ngga usah dikomentarin, mending bantuin dia ngerasa nyaman makan banyak-banyak.

Bunda dateng bawa sepiring pisang goreng lagi. Asap tipis masih keluar samar dari masing-masing potongannya. Setelah naro piring di meja, dia duduk di tangan kursi tempat Papa sedang bersandar.

“Maksudnya gimana, Pa?” Hana nanya lagi, kali ini suaranya kedengeran lebih mendesak meski dengan nada lebih rendah.

Yang ditanya malah meraih tangan Bunda lalu menggenggamnya erat. Mereka saling menatap seolah bicara dengan sinar mata.

Cih, bikin sakit ati! Gue alihin fokus dengan kembali nyiapin pisang goreng buat disantap Bulan.

Ngga dapet jawaban dari Papa, Hana beralih ke gue, “Mas?” desaknya, “maksudnya apa, sih?”

Gue angkat bahu. Ini urusan dia sama orangtuanya, biar Papa sendiri yang cerita.

“Ngga apa-apa. Ini cuma mirip sama cerita Papa,” kata Papa dengan suara tenang yang kedengeran dibuat-buat.

“Maksudnya Papa dulu nikah sama Bunda juga waktu Mama abis lahiran?”

Papa menggeleng.

“Ngga, bagian itunya ngga sama.”

Grrrr! Ngga sabar gue. Kenapa ga bilang semua sekalian? Jujur itu susah banget ternyata, ya?

“Trus?” Hana minta kejelasan.

Papa cuma narik napas. Tangannya masih menjalin erat dengan jemari Bunda. Jadi inget waktu konferensi pers dulu, tangan gue juga kaya gitu sama Bulan. Kita saling menguatkan, saling nawarin bantuan untuk jadi sandaran. Gue bisa ngerasain cinta mereka, di saat yang sama ngerasain sakitnya Mama.

“Pa?” Hana makin mendesak ngga sabaran, “Bun?”

Bunda menghela napas.

“Kalau harus menengok ke belakang sekarang, hanya bisa ngasih satu jawaban, semua karena cinta,” akhirnya dia angkat bicara, “semua karena Papa sama Bunda memilih untuk memperjuangkan cinta.”

Tangan Bulan terhenti beberapa senti dari atas pisang goreng. Wajahnya membeku, entah apa yang terlintas di pikirannya.

“Bunda akui, kami memulainya dengan cara yang tidak sepenuhnya benar,” kata Bunda langsung menatap Hana, “namun kita selalu berusaha agar dapat menjalaninya dengan cara yang benar. Karena itu, akhirnya menikah jadi keputusan,” Bunda lanjutin cerita dengan ati-ati banget.4

Huh! Ngerasa bersalah, tapi tetep aja dilakuin.

“Ya, ini adalah kesalahan yang ngga bisa dielakkan, namun kami selalu berusaha memperbaikinya setiap waktu,” Papa nimpalin, masih berusaha tenang.
Kening Hana berkerut.

“Maksudnya?”

Ngga ada jawaban. Ini adalah cerita yang sangat sulit diungkapkan. Dalam hati langsung bertekad, jangan sampe jadi kaya Papa. Ditanyain sama anak kaya gini rasanya lebih parah dari ngadepin kematian.

“Kami pernah melakukan kesalahan, dan selalu berusaha memperbaikinya,” kali ini Bunda yang jawab. “Bagaimanapun, cinta ini Allah yang ciptakan, Allah juga yang bisa menghentikannya.”

Hana makin ngga sabar, “Maksudnya apa, sih? Bunda sama Papa selingkuh?”

“Ngga bisa dibilang selingkuh. Bunda malah jadi pendukung utama Papa untuk membantu Mama keluar dari depresi,” potong Papa cepat.

“Yah, dengan berduaan di rooftop sambil baca-baca kitab suci,” gue potong duluan sebelum Papa ngomong lagi.

Hana terkejut. Matanya membulat dan mulutnya membuka lebar.

“Bunda sama Papa ber-khalwat?” suaranya rendah sekali hampir seperti bisikan.

Papa sama Bunda masih mematung. Mereka seperti kerendem nitrogen cair, beku tiba-tiba.

“Sebenernya kalo Papa masih blom nikah, mungkin ngga terlalu ngeselin. Masalahnya ketika itu Mama lagi depresi, Papa bukannya bantuin malah refreshing sendiri sama cewek lain,” keluar juga sumber kekeselan gue.

Papa menegakkan punggung dan mulai membela diri, “Kamu ngga tahu gimana rasanya ngadepin orang depresi. Kalo ngga ada Bunda waktu itu, mungkin Papa udah ikut-ikutan gila! Papa butuh itu supaya bisa menghadapi Mama dengan waras lagi.”

Ck! Ngga sabar gue.

“Iya, maaf. Aku ngga tahu gimana caranya ngadepin orang depresi. Aku cuma tahu gimana rasanya depresi.”

Semua orang mengernyit natap gue. Sialan, keceplosan.

“No big deal! Udah lewat.” Lanjut motongin pisang goreng buat Bulan.

“Kapan kamu depresi?” Papa bertanya lirih.

“No big deal. Udah lewat.”

“Kamal?” Papa mendesak halus.

Fiuh!

“Aku ngga mau ngomongin ini sekarang, oke?” Gue liat satu-satu, semua orang yang duduk di ruangan ini kaya nunggu jawaban.

“Sekarang fokusnya soal lamaran Hana. Silakan dilanjutkan.”

Semua keliatan narik napas, kecuali Bulan. Dia natap gue dengan cara yang bikin salting.

Pembicaraan itu emang akhirnya ngga membuahkan hasil apa-apa. Papa sama Bunda cerita semua dari awal sampe akhir. Hana nyimak dengan ekspresi yang ngga keruan. Tau, kaya gimana perasaannya.

“Allah Maha Pengampun,” kata Bunda, “setiap hari, setiap waktu Bunda memohon ampunan dari Allah. Bunda tahu, pasti ada yang tersakiti dengan keputusan ini. Tapi di situasi itu, kita harus memilih, dan inilah adalah pilihan Bunda sama Papa.”

No comment, speechless gue. Kata-kata Bunda kaya menusuk langsung ke jantung.

Hana nyimak dengan bersandar di kursi. Ga tahu apa yang ada dia pikirin setelah tahu kaya gimana asal mula kisah cinta kedua orangtuanya.

“Karenanya, Bunda terima konsekuensi cuma bisa barengan seminggu dalam sebulan. Anggap aja sebagai penebusan dosa,” kata Bunda lagi, “alhamdulillah, akhirnya Mama mau memaafkan.”

Gue bergeming. Berapa tahun itu? Terpenjara dalam rasa bersalah? Menerima penderitaan sebagai penebusan dosa? Apa emang harus gitu?
Hana meraup muka dan narik napas.

“Penebusan dosa, ya?” katanya setelah mengembuskan udara pelan lewat mulut, “penebusan dosa yang harus kubayar juga.” Kemudian dia berdiri untuk beranjak menuju kamar.

Bunda ngikutin dengan mata berkaca-kaca. Suasana jadi ngga enak, gue ajakin Bulan buat pamit segera. Lagian kayanya dia juga udah kenyang ngabisin sepiring pisang goreng sendirian.

***

Suasana dingin di mobil mewah ini rasanya jadi makin dingin. Kepala gue dipenuhi dengan kata-kata Bunda yang di-rewind berkali-kali.

“Allah Maha Pengampun.”

“Anggap aja penebusan dosa.”

Pusing. Kaya ada tornado muter-muter, menghujam sampe ke inti otak. Gue butuh istirahat.

“Sayang?” suara Bulan bikin semua tornado itu ambyar. Tangannya meluk sandaran kepala hingga napasnya kerasa anget di kuping.

“Kamu ngga pernah cerita kalo pernah depresi,” ujarnya lembut, “apa itu yang akhirnya bikin kamu ngelepasin iman?”

Hhh! Kenapa musti ngomongin kaya ginian sekarang? Apa ngga bisa kangen-kangenan aja?

Mobil di depan udah brenti. Gue lirik peta online, semua jalur udah diblok merah. Jalur ini emang yang paling pendek area macetnya.

Gue tarik rem tangan lalu noleh supaya bisa natap matanya.

“Kita ngomongin yang enteng-enteng aja, gimana? Semacam gimana rasanya pisang goreng tadi?”

Mulutnya langsung mecucu. Dengan sedikit membanting diri, dihempaskannya badan ke sandaran jok.

“Ngga adil,” katanya menyilang tangan di dada. “Kamu tahu semua ceritaku dari awal sampe akhir. Sementara aku ngga tahu apa-apa tentang kamu.”

Halah, ngomong kaya gitu sekarang, apa gunanya?

“Emang kamu butuh tahu tentang aku? Bukannya hubungan kita cuma sebatas anak yang ada dalam perutmu aja? Selain itu, kamu ngga mau tahu, kan?”

Kedengeran Bulan mendecak kesal. Mobil di depan udah maju. Gue juga ngelepas rem tangan biar bisa ikut beringsut.

Dari kaca spion, bisa gue liat Bulan ngebuang pandang ke luar jendela. Bibir manisnya menggumam pelan, “Apa cinta kita ngga layak diperjuangkan?”

Heh? “Pardon?”

Sekarang kita bertatapan melalui cermin spion.

“Apa kamu ngga pengen memperjuangkan kita?”

“Maksudnya?”

Dia memajukan badan, mendekat ke kursi sopir.

“Liat Bunda sama Papa, mereka menghadapi banyak rintangan bertahun-tahun demi mewujudkan cinta. Segitunya mau memperjuangkan cinta. Kenapa kamu kayanya gampang banget ngelepas semua ini?”

Heh? Ngga salah? Bukannya dia yang ngga mau ngelanjutin lagi?

“Kenapa kamu ngga mau beriman aja, sih? Kalo kamu menerima Allah sebagai satu-satunya Tuhan, semua ini ngga akan terjadi, kan? Apa susahnya?”

“Wait!” Gue puter badan dikit biar bisa ngeliat dia utuh.

“Aku yang nerima kamu tanpa syarat. Kamu mau belok, mau lurus, mau beriman, mau ngga beriman, aku selalu cinta kamu. Tapi kamu mensyaratkan iman kepada Allah untuk bisa mewujudkan cinta. Siapa di sini yang ngga mau berjuang?”

Badannya terjengit beberapa mili ke belakang. Lalu ekspresinya berubah lagi, kembali dingin seperti tadi.

“Lagian, mana yang lebih gampang, membuang iman atau mengubah kepercayaan?”

Bulan mengelus perutnya dalam gerakan melingkar.

Haduh! Kayanya gue kelewatan barusan.

“Kenapa? Perut kamu sakit?”

Gerakan telapak tangannya terhenti di tengah perut.

“Bukan urusanmu,” katanya membuang muka ke arah jendela.

“Anak yang dalam perutmu masih jadi urusanku. Jadi kalo kamu sakit, masih jadi urusanku.”

Ngga ada jawaban. Suara klakson mengingatkan untuk kembali beringsut maju. Kepala gue yang tadi dikacaukan oleh tornado, sekarang terasa porak poranda.

Merapikan Pikiran

Matahari makin turun ke arah barat, semburat cahaya merahnya tumpah di angkasa. Bulan memandang jauh ke luar jendela. Matanya mengawang entah kemana.
Suara adzan Maghrib menggema dari hape.

“Mampir dulu ke masjid,” titahnya lembut.

Dia udah balik ke mode Presdir sementara gue sopirnya.

“Ok, Google. Masjid terdekat.” Peta online kemudian beralih mengarahkan ke masjid terdekat, sekitar satu kilo dari sini.

Gue sendirian di parkiran, dengan pikiran kacau ngga jelas. Suara iqamah nyuruh buat segera berdiri menunaikan shalat.

Whatever! Gue butuh ngerapihin pikiran sekarang. Keluar mobil dan mulai hidroterapi dengan prosedur wudhu.

Shalat udah jadi meditasi paling asik buat gue. Kita ngga perlu duduk diam, malah disuruh untuk terus bergerak sementara pikiran hanya fokus di satu titik. Buat umat Islam mungkin fokus pada Allah adalah tujuannya Buat gue sekarang, fokus pada tiap bacaan shalat yang didenger dan dilafalkan jadi pilihan.1

Fokus pada kata-kata bikin otak yang kacau jadi rapi. Ini kaya nyusun ulang berbagai pikiran sampe kembali pada tempatnya.

Beberapa waktu lalu, terpaksa ngulang-ngulang hafalan karena Bulan seneng banget dengerin gue murottal. Banyak surat yang akhirnya kembali ke dalam memori. Salah satunya yang dibacain imam ini, al-Mulk.

Ayat pertamanya menohok, bikin nahan napas dan mikir. Ini yang dulu dibacain si Khalid waktu perang lawan gue. Ini yang dibacain Ustadz Abdurrahman waktu anaknya nangis. Ini yang gue dapet waktu pikiran kacau.

Di raka’at kedua, imam milih ayat yang lebih pendek, al-Insyirah. Ini yang dibahas khatib waktu gue akhirnya nyobain shalat Jum’at lagi. Gosh! Kenapa idup gue kaya muter-muter di dua ayat itu doang?

***

Gue masih ngiket tali sepatu, tiba-tiba Bulan udah muncul di hadapan.

“Kamu abis sholat?” tanyanya takjub.

Rambut masih basah kena air gini, apa dia masih harus nanya? “Ngga usah terlalu berharap,” gue kencengin tali sepatu dan berdiri, “ayo, pulang!”

Dia ngeduluin sambil ngasih perintah lagi, “Kita ke dokter.”

What? “Kenapa?”

Dia senyum dan buka pintu mobil dengan anggun. Gue masuk dan nanya lagi, “Ada masalah?”

“Ada bercak darah di CD tadi.”

Astaga! Bener feeling gue, pasti kenapa-kenapa tadi pas dia ngelus-elus perut. Ga pake nanya lagi, langsung tancap gas ke rumahsakit.

Untung Bu Dokter Kandungan praktik hari itu. Jadi bisa ketemu dengan dokter yang sama.

Kali ini Si Sweety diem aja di layar USG.

“Kok ngga berenang-renang kaya kemaren, Dok?” Bikin khawatir.

“Hmm, lagi capek kali,” jawab Bu Dokter disertai senyum, “tapi sehat, kok. Semua normal.”

Fiuh, lega gue.

“Cuma kita belom tahu penyebab fleknya, jadi observasi dulu tiga hari. Buat jaga-jaga, bedrest, ya.”

Bulan keliatan shock denger kata bedrest.

“Emang apa penyebabnya, Dok?” Kesian juga kalo Bu Presdir disuruh bedrest.

Bu Dokter menjawab masih dalam mode senyum, “Mungkin karena rahimnya lemah, tapi bisa juga karena kecapekan, bisa karena stress. Makanya, Pak, dijaga biar ibunya ngga stress, ya.”

Deg! Apa yang bikin dia stress? Apa karena menurutnya gue ga mau memperjuangkan cinta? Emangnya dia mau memperjuangkannya?

“Iya, Dok,” Bulan narik napas, menegakkan punggung, “berarti harus manajemen emosi biar ga stress, ya Dok?”

“Ya,” Bu Dokter senyum lagi setelah menyelesaikan isian rekam medis pasien,

“lakukan yang paling bikin Ibu bahagia dan tenang. Ada yang dengan nyanyi, ngerjain hobi. Ada juga yang dengan tilawah atau dengerin murottal, loh. Silakan digunakan semua resource yang ada, yang penting, don’t worry be happy, ya.”

Bulan tersenyum pahit. Dulu ini bukan hal sulit, tinggal bergelung sambil ngerangkul tangan gue. Sekarang….

Dia ngga ngomong-ngomong lagi setelah keluar dari ruang periksa. Gitu juga di mobil, ga ada suaranya.

Hmmpft!

“Sorry, Sayang. I was too harsh.” Salah ngga salah, yang penting minta maaf.

Dia mendesah pelan.

“Aku yang bodoh, masih berharap sama kamu.”

Udah, gitu aja. Ngga ada kata-kata lagi. Cuma dia kedengeran gelisah, berkali-kali ngubah posisi duduk.

“Kamu ngga apa-apa?”

Embusan napasnya kedengeran kasar dan berat. Dan gue ga tahu musti ngapain lagi.

Begitu nyampe, Bulan langsung masuk rumah. Ngga ada kata perpisahan, ngga ada good bye kiss, dan gue cuma mandangin dia nutup pintu dengan merana.
Yah, sudahlah. Kalo jodoh ngga bakal ke mana. Gue muter ke halaman belakang, ke rumah Mang Salam buat ngambil motor.

Mang Salam beserta istrinya tinggal di guest house yang terpisah dari rumah utama. Isinya hanya dua ruangan besar plus kamar mandi, persis rumah petak, cuma gedean dikit. Pas nyampe sana, mereka lagi makan malem. Jadi inget, blom makan, auto-keroncongan perut gue.

“Eh, Mas, makan?” Mang Salam basa-basi.

“Iya, lanjut, Mang. Cuma mau ngambil motor.”

“Oh.”
Mang Salam menyentakkan jari-jarinya hingga butiran-butiran nasi yang nempel berjatuhan ke piring

“Ada di meja,” katanya menunjuk sebuah meja kopi di pojok. Di situ bertengger sebuah pesawat telepon dan jaket plus sarung tangan gue.

Pesawat telepon itu berdering pas gue lagi make jaket.

Ngeliat suami-istri itu lagi makan, gue inisiatif ngangkat, “Halo, selamat malam.”

“Loh, kok kamu?” suara Bulan di seberang sana. Ternyata ini pesawat interkom yang menghubungkan antar ruangan di rumah.

“Ya, lagi ngambil motor. Mang Salam sama Bi Rinah lagi makan. Ada pesen?”

“Oh, bilangin Bu Rinah, tolong bikinin susu jahe.”

“Siap, Nyah. Ada lagi?”

“Ngga ada.”

“Oke, night night, honey.”

Ga ada jawaban, sambungan langsung diputus.

“Dari Mbak Bulan?” tanya Bi Rinah.

Gue ngangguk. Bi Rinah buru-buru ngabisin makanannya.

“Pasti minta susu jahe, deh,” katanya cepat-cepat menyuap nasi, “akhir-akhir ini suka minta susu jahe, ngidam kali, ya?”

“Nyantai, Bi. Saya aja yang bikinin. Susu jahe doang, keciiiil.”

“Jangan, Mas. Ntar saya dimarahin lagi,” elak Bu Rinah.

“Biarin aja,” Mang Salam mencegah istrinya berdiri, “ada yang lagi mau PDKT ini,” candanya sambil tertawa.

“Yeah, namanya juga usaha, Mang, hehehe. Saya bikinin aja, nanti Bi Rinah yang ngasihin, ya.”

Bi Rinah ngangguk dan gue beranjak menuju dapur. Bikin susu jahe bukan hal sulit. Dulu Mama sering bikin kalo Papa udah mulai meriang-meriang.
Hhh, gue heran kenapa Mama masih setia aja sama Papa meski bertahun-tahun nyimpen dendam. Yeah, cinta mungkin emang se-engga-masuk-akal itu.

Ngga masuk akal, tapi nyata.

Astaga! Kenapa gue dikelilingi sama hal-hal kaya gini? Cauvade Syndrome, cinta? Gue sendiri mulai ngga masuk akal.

I still…

Nope!

I always
love her,
yet never reach her.

It just not make sense!

Fiuh! Gue seduh jahe dan susu anget. Menatanya di cangkir dengan secarik kertas post it dari tempelan kulkas. Tulisannya, “Jaga kesehatan, ya Sayang.”

Ah, terlalu bucin.

Gue remas kertas post it kecil itu, buang ke tempat sampah. Cinta emang ga pernah resiprokal, dia ngga perlu tahu siapa yang bikinin susu jahe.

Malam itu, sekali lagi gue ninggalin rumah besar ini. Rumah yang bakal jadi tempat anak gue dibesarkan. Semoga nanti rumah kosong ini akan dipenuhi kasih sayang setelah kelahirannya.

***

Ada urusan yang pengen gue selesein. Sesuatu yang harusnya dilakuin bertahun-tahun lalu. Tapi ga pernah terjadi karena takut sama azab Allah. Neraka itu mengerikan, kawan! Belum lagi siksa kubur, ngebayanginnya sekarang masih bikin gue bergidik. Ternyata sisa-sisa ketakutan itu masih ada, meski sekuat tenaga berusaha melupakan Dia.

Udara dingin meluncur melewati sisi kanan dan kiri. Angin terasa menghantam helm dan dada waktu kecepatan motor ditambah. Menguatkan hati, meredakan gentar, ya gue masih takut menghadapi kenyataan, mengakui kesalahan.

Tapi Allah Maha Pengampun, kata-kata Bunda terngiang lagi. Harusnya gitu, gue harap gitu. Gue butuh itu.

Iya, gue butuh. Butuh memastikan anak gue hidup nyaman, aman, damai dalam kandungan ibunya. Tapi ngga bisa, karena ibunya ga mau gue deket-deket. Satu itu doang yang jadi tembok penghalang. Tembok yang terlalu tinggi buat dipanjat.

Tabārakallażī biyadihil-mulku wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr! Suara imam shalat Maghrib tadi menggedor-gedor kepala.

Apa iya Dia yang berkuasa atas segala sesuatu? Semua kebaikan, keburukan, kejahatan, keindahan? Semua rasa sakit, pedih, perih, luka Dia juga yang kuasai?

Sialnya, gue ga bisa bilang sebaliknya. Sekarang aja, tiap pagi dipaksa nyerah sama Cauvade Syndrome, sesuatu yang ngga masuk akal, tapi nyata. Gue ngga bisa ngendaliin dorongan buat muntah-muntah di pagi hari. Apa Dia bisa?

Gue parkir motor di depan gerbang TPU. Pintu kecil itu udah tertutup, digembok pula. Yeah, siapa juga yang mau ke kuburan malem-malem gini? Tapi harus malem ini, sebelum besok pagi muntah-muntah lagi lalu jadi mager.

Setelah tengok kanan-kiri, gue lompatin pager setinggi dada itu. Berbekal cahaya dari senter di hape, gue nyari kuburan dia. Musthafa Salman, ga mungkin lupa namanya, cowok yang terpaksa mati muda kena tendangan gue.

Kegelapan dan Cahaya

Tarik napas untuk menguatkan hati. Melawan gentar dengan segenap kekuatan. Degup jantung meningkahi desir angin yang berembus. Dingin menebas tengkuk seperti pisau algojo yang ngga bisa ditepis. Gemerisik daun seolah bicara, “Mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa.”

Terhuyung. Tersungkur. Hape hampir lepas dari tangan. Kaki baru aja nyandung kerikil kecil yang mencuat dari atas tanah. Apa ini hukuman karena dulu gue nendang sodaranya di tepi jalan tol?

Senyum Bulan di tepi jalan tol itu berkelebat di ruang kenangan. Angin yang sekencang ini juga memainkan rambutnya kala itu.

Sekarang rambut itu udah ketutup. Ga bisa lagi menghirup aromanya.

Namun suara lirih yang ia lontarkan ngasih kekuatan untuk bangun, “Apa kamu ngga pengen memperjuangkan kita?”

Ugh! Jatoh bangun gini, apa masih kurang berjuang?

Arghsht! Syaratmu terlalu berat, Sayang!

“Akhir-akhir ini suka minta susu jahe, ngidam kali, ya?”

Kayanya bukan. Gue khawatir dia nyari sensasi segar dan lega yang didapat setelah minum susu jahe. Kalo bener, berarti emang bukan ngidam. Dia hanya berusaha tidur.

Aarrgh! Dia stress sampe susah tidur, dan gue ga bisa ngapa-ngapain!

Ngarahin senter ke tiap nisan yang dilewati. Musthafa Salman, Musthafa Salman, Mus…

Aha! Ini dia!

Rumput liar tumbuh subur di atas kubur. Gue rapihin dikit, sekadar biar nisannya ngga ketutupan.

“Assalamu’alaikum, Man. Gimana kabar lo di dalem sana?”

Angin dingin berdesir nyapa telinga. Gemerisik dedaunan kaya ngasih jawaban. Kengerian meliputi udara.

“Sorry, baru berani ke sini.”

Berjongkok, gue rapetin tangan di depan dada. Udara dingin terasa makin menekan.

“Iya, gue emang pengecut. Ngga berani dateng buat minta maaf, ngga berani dateng buat ngaku salah. Sorry.”

Kerik jengkerik di antara desir angin kedengeran agak menenangkan. Bersama gemerisik daun seolah lagi konser nyanyiin lagu melow yang menyayat.

“Sorry. Gue tahu, tendangan di titik itu bakal menghentikan aliran darah ke otak. Lo bakal jatoh, beberapa detik kemudian kekurangan oksigen, trus mati. Gue tahu, tapi tetep nyari titik itu buat disasar. Sorry.”

Kerik jengkerik kedengeran makin rame. Angin kaya meliuk-meliuk mainin daun-daun kamboja.

Mata mulai kerasa panas. Gue matiin senter, ngebiasain mata dalam cahaya malam.

“Gilanya, malah banyak yang berterimakasih sama gue. Sorry, Man. Sumpah, gue ngerasa bersalah banget. Apalagi abis itu ternyata banyak yang diem-diem ngerayain kematian lo. Astaga, Man! Gue ga bisa ngelakuin apa-apa. Secara gue yang bikin lo jadi gini.”

Sialan! Airmata udah ga bisa dibendung lagi. Gue apus semampunya dengan lengan.

“Segitu gampangnya ngelupain kalo lo juga manusia. Harusnya gue ga nendang lo waktu itu. Sorry, Man.”

Idung mulai mampet. Gerakan lengan ternyata kalah cepet sama arus air dari mata.

“Tapi lo udah keterlaluan. Sorry, Man. Ngga gitu caranya ngajarin junior.”

Gosh! Airmata ini kelewatan, ngalir terus ngga brenti-brenti.

“Sorry, Man. Lo mau maafin gue?”

Gue tutup seluruh muka pake tangan. Jangan sampe nangis terisak-isak kaya orang gila.

“Gue berusaha ngelepasin diri dari semua ini. Berusaha ngelupain satu episode yang ngancurin diri. Tapi ngga bisa.”

Gosh! Tangan gue basah. Muka gue basah.

“Dosa mungkin bisa diabaikan, tapi rasa berdosa ngga pernah terkait dengan agama.”

Pertahanan gue ambyar. Meluk lutut buat nyembunyiin seluruh kepala, nahan tangis dalam lingkar lengan sendiri.

“Langit gue runtuh berkali-kali, Man.”

Gue angkat kepala sambil ngeraup muka.

“Tunangan gue selingkuh sebulan sebelum nikah. Gue nikah sama cewek tercantik sedunia, tapi belok. Biar pun akhirnya terbukti dia sebenernya lurus, tapi abis itu dia ninggalin gue karena lebih milih cinta sama Allah. Sakit ati gue.”

Kerik jengkerik kerasa agak berkurang. Liukan angin kaya tarian lembut menggesek dedaunan.

“Bokap nyokap yang selama ini gue kira relationship goals ternyata sama sekali ngga patut diteladani. Orang yang paling gue percaya kaya diri sendiri ternyata berkhianat. Sialan kuadrat! Ga tahu lagi apa yang bisa dipercaya sekarang. Bahkan diri sendiri aja gue ga ngerti sama sekali.”

Dingin yang dibawa angin kembali menyergap diri. Gue rapetin dua lutut di depan dada.

“Ga tahu berapa lapis langit lagi gue bisa bertahan. Lapis terakhir, pengen gue pertahanin. Tapi syaratnya berat. Seluruh keyakinan harus direvisi ulang.”

Angin menggerung di antara batang kamboja.

“Gue musti gimana, Man? Lo enak, ngga perlu ngerasain susahnya jadi orang dewasa. Kayanya mending gue mati aja, mungkin orang-orang juga bakal ngerayain kematian gue.”

Cabang-cabang batang kamboja ngangguk-angguk ngga berdaya diterpa angin.

“Gimana lo di dalem sana? Hepi?”

Jelas ngga mungkin ada jawaban. Gue ngomong sama benda mati mati tempat ngubur orang mati juga. Udah cukup jadi gila beberapa menit. Sekarang waktunya pergi.

“Sorry, jadi curhat. Tadinya ke sini cuma mau minta maaf. Gue udah minta maaf sama bokap lo, malah disuruh jagain Alqur’an. Gue minta maaf sama nyokap lo, dia bilang apa yang ditetapkan Allah adalah yang terbaik. Cuma sama lo, baru sekarang gue berani minta maaf. Maafin gue.”

Fix, emang gila beneran. Minta maaf sama orang mati, sebenernya cuma pengen bikin perasaan jadi lega. Lumayan, serasa satu beban berat berhasil terangkat.
Sekeliling gelap tanpa cahaya. Gue berdiri, bersiap kembali nyalain senter di hape. Tiba-tiba secercah cahaya muncul di dekat batu nisan. Berkelip-kelip kekuningan.

“Man?” Tangan gemeter seketika. Cahaya berkelip-kelio, perlahan naik. Tinggi, makin tinggi, sampe sedada. “Lo maafin gue?”

Cercah cahaya itu berkelip terbang dalam garis gelombang seolah menari, lalu menjauh. Ngga sadar, ternyata udah banyak cahaya lain di sekitar gue. Dua, lima, banyak.

Astaga! Jelas aja. Ini kunang-kunang. Bodoh banget udah ngira ini jawaban dari alam arwah. Mana mungkin yang udah mati masih bisa ngirim jawaban.3

Ngga pake ngomong lagi, gue pergi dari situ. Membawa perasaan yang lebih ringan, dengan bantuan cahaya dari puluhan, salah, mungkin ratusan kunang-kunang.

Hape di tangan tiba-tiba bergetar. Panggilan dari Hana.

“Hai, Han! Switch to vicall, ada yang bagus banget di sini.”

Begitu melihat tarian kelap-kelip kunang-kunang, Hana berseru dengan mata berkaca-kaca, “Ya Allah, masyaaAllah, bagus banget!”

“Hidupmu gelap, Han? Jangan khawatir, alam selalu punya cara mengisi kegelapan dengan cahaya.”

Dia tergugu.

“Kamu nangis?”

Hana ngangguk pelan.

“Aku nelepon kamu karena mau kabur, Mas. Tapi kamu malah ngomong gitu. Tertohok aku, Mas.”

“Kabur?”

“Aku ga tahu musti gimana. Bunda yang kupikir bijak banget, selalu bilang untuk meletakkan cinta sama Allah di atas cinta sama manusia, ternyata…”

kata-katanya terhenti berganti isak.

“Mau kabur ke mana?”

Hana terkejut mandang layar.

“Ngga tahu,” katanya lemah.

“Kamu masih di rumah, kan?”

Dia menjawab dengan anggukan.

“Tunggu aku.”

***

Malam itu, pertama kalinya gue bawa kabur anak orang. Salah, bawa kabur adek sendiri. Yeah, daripada dibawa kabur orang.

Gue ajak dia ke pantai. Sedikit lompat pager buat masuk Ancol lalu nyari spot enak buat nunggu matahari terbit.

Bintang-bintang bertaburan di angkasa. Debur ombak membelai pantai kedengeran kaya orkestra rock ‘n roll yang dimainkan dengan cello. Pemandangan ini terlihat sempurna, namun tetap saja ada yang kurang, ngga ada bulan. Ya, ngga ada Bulan.

Hana mengepitkan tangan di ketiak. Angin malam memainkan jilbabnya tak tentu arah. Dia pasti kedinginan hanya mengenakan sweater tipis seperti itu.

“Nih.” gue kasih jaket kulit buat jadi tambahan penahan angin.

“Jazakallah,” ujarnya, narik ritsleting jaket sampe leher.

Kalo dia ngomong gini kemaren-kemaren, gue pasti melengos males jawab. Tapi malem ini beda.

“Kenapa, bengong?” tanyanya menyintak lamunan.

“Ngga.” Gue alihin pandangan kembali ke ombak dan gelombang yang berkejaran di laut. Buih-buih terlihat putih kusam di bawah langit kelam.

Kami duduk di pembatas pantai yang dibangun dari batu kali. Ombak menghantam bagian bawah dinding, menggapai dua pasang kaki yang menjuntai, namun tak sampai.

“Menurutmu, kalo lompat ke laut, apa kita bisa langsung mati?”

Gue liat muka Hana yang dingin menatap laut dalam.

“Belom tentu.”

“Belom tentu?”

Narik napas. Keinget kejadian dulu, waktu gue berusaha buat mati, tapi malah orang lain yang patah-patah.

“Kita pasti mati, itu pasti. Tapi sebagus apa pun kita merencanakannya, tetep aja bukan kita yang nentuin.”

Hana terkekeh. “Yeah,” katanya, “menurutmu siapa yang bisa nentuin?”

Hahaha! Tricky question.

“Eh?” Hana tersentak, meraba dada kirinya.

“Hape-mu bergetar kayanya.”

Dikeluarkannya ponsel dari saku jaket bagian dalam. Sebuah notif dari Om Hendro.

Dia ngirim gambar kertas lecek bertuliskan, Jaga kesehatan, ya Sayang. Di bawahnya tertulis, “Peringatan terakhir: jangan dekati Bulan lagi.”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Tamat